System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Awal baru


__ADS_3

[Halo, Ketemu lagi sama Author. Pasti sudah pada kangen ya sama perjalanan Chloe dan kawan-kawan (Plak:v). Hohoho, Libur beberapa hari akhirnya Author mendapat inspirasi. Yah walaupun belum sampai selesai inspirasinya (Plak:v). Oke, Tanpa banyak bacot. Langsung saja baca. Happy reading😉]


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Chloe POV


TES! TES! TES!


Sayup-Sayup kudengar suara tetesan air, Aku tidak tahu sekarang aku berada dimana. Yang kurasakan hanyalah rasa dingin dan basah di tubuhku. Napasku masih terasa sesak bagai ribuan jarum yang menusukku, Kurasakan Jantungku berdetak lemah. Apa aku benar-benar sudah mati? Dan tidak bisa kembali lagi ke dunia asliku?


Perlahan kubuka kelopak mataku, Sepanjang penglihatanku hanyalah kegelapan yang tak berujung di sekitarku, Semuanya begitu gelap tanpa ada satu pun cahaya.


Sebisa mungkin kugerakkan tubuhku yang terasa kaku, Berlahan bangun dari posisi terbaringku. Rasanya aku menyentuh sesuatu yang basah dan dingin saat tanganku menyentuh lantai untuk menopang tubuhku. Aku menunduk untuk melihat apa yang kusentuh.


"Air!?" Kataku sedikit terkejut, Menyadari bahwa aku terbaring di antara genangan air.


Apa ini!? Sejak kapan disini ada genangan air setinggi mata kaki!? Pantas saja saat bangun aku merasakan basah dan dingin di tubuhku. Kuacuhkan rasa dingin yang menjalar, Secara berlahan aku mulai berdiri menatap sekitarku yang gelap gulita.


"Halo, Ada orang? Program? Holy?" Aku berteriak memanggil mereka, sedikit berputar untuk memanggil di segala arah.


Namun hanya kesunyian lah yang menyambut ku, Badanku sedikit bergetar menahan dingin. Ish...Padahal di bawah kakiku cuma genangan air biasa, Tapi kok suhu nya kayak habis dicampur sama es batu?


Aku menunduk menatap pantulan bayanganku sendiri dalam genangan air, Yah untungnya genangan air ini memiliki sedikit cahaya jadi aku masih bisa melihat sekitarku meskipun minim. Tapi tunggu dulu! Kayaknya aku ngeliat ada pantulan bayangan pintu deh di depanku.


Sontak kepalaku terangkat menatap sebuah pintu yang tiba-tiba saja sudah berada di depanku beberapa meter, Perasaan tadi gak ada pintu deh disana? Diantara kegelapan di sekitarku hanya pintu itu saja yang terlihat.


Aku cukup penasaran dengan pintu itu, Dengan keberanian yang cukup tinggi. Aku mendekat perlahan, Kupegang gagang pintunya setelah sampai disana. Secara was-was kubuka pintu itu.


Cahaya menyilaukan mengenai mataku saat pintunya kubuka, Refleks aku memejamkan mataku sekaligus menutup wajahku dengan kedua tangan. Menghalau cahaya yang menyilaukan itu. Wow rasanya kayak langsung berhadapan dengan matahari saking silaunya.


******************


"Ma, Kapan kakak bangun? Adek kangen main lagi sama kakak. Kakak masih tidur ya?"


"Iya dek, Yang sabar ya. Kita doa'in aja agar kakak cepat bangun,"


"Kakak bangun dong, Biar kita bisa main lagi,"


Sayup-Sayup kudengar suara tiga orang yang kukenal, Suara lembut itu jangan-jangan mama dan ke-2 adik kembarku!? Aku Refleks menurunkan kedua tanganku dari wajah, Seketika kerinduan dalam hatiku semakin tinggi saat kulihat Mama dan kedua adikku sedang duduk di dekat raga asliku yang masih koma.


Ini dirumah sakit tempat raga asliku di rawat, Kulihat selang infus terpasang ditubuhku. Kira-kira berapa lama ya ragaku di rawat disini selama aku menjalankan misi di dunia game?


Ah, Bodo amat. Aku ingin melepas kerinduanku dulu pada mama dan kedua adikku. Dengan mata berkaca-kaca menahan tangis, Aku belari mendekati tiga orang yang kusayangi ini.


"Mama! Adek!" Kataku dengan haru sekaligus gembira, Kurentangkan dua tanganku ingin memeluk mereka bertiga.

__ADS_1


Namun kejadian selanjutnya tidak sesuai ekspektasiku, Tubuhku menembus Mama dan adik-adikku saat aku sudah hampir memeluk mereka. Kini wajahku menabrak tembok di belakang Mama dengan tidak elitnya.


BBRRUUKK!


"Awww! Akh...wajahku," Kataku dengan histeris, Mengusap wajahku sambil sedikit menahan sakit karna hidungku menabrak tembok.


Kemudian aku menatap Mama dan kedua adikku yang masih duduk dengan aura sedih. Bagaimana bisa tubuhku menembus mereka!? Apa jangan-jangan aku jadi roh gentayangan!?


"Mama, Lihat aku ma! Chloe disini! Chloe ada di hadapan mama!" Aku melambaikan tanganku tepat di hadapan mama, Berusaha agar dia menyadari kehadiranku. Namun mama tetap diam tak bergeming, Masih menatap wajah ragaku dengan sendu.


Aku beralih mengganggu kedua adikku dengan cemas. "Dek ini kakak dek! Kakak disini! Kalian lihat kakak kan?"


Respon kedua adikku sama seperti mamaku, Mereka diam tak bergeming seakan menganggap keberadaanku hanya angin lalu. Aku menyentuh salah satu pundak adikku, Namun tanganku menembus pundaknya. Mataku kembali berkaca-kaca.


"Huuwaaa! Aku gak bisa sentuh mereka, Aku jadi roh gentayangan...hiks," Aku langsung menangis sedih, Kupikir saat bertemu mereka. Aku bisa memeluk mereka tapi nyata nya tidak sama sekali.


Sejenak aku terdiam mencoba meredakan tangisanku, Netraku beralih menatap raga asliku yang masih terbaring koma di tempat tidur rumah sakit dengan selang infus yang terpasang. Oh, Mungkin jika aku menyentuh raga asliku sendiri aku bisa kembali masuk ke dalamnya.


Dengan bersemangat aku mendekati sisi kasur raga asliku, Lalu kuletakkan satu tanganku di atas tangan raga asli. Tapi tanganku langsung tembus hingga bawah kasur.


"Bagaimana mungkin!? Masa tanganku juga bisa menembus raga asliku sendiri sih!?" Kataku tak percaya, Kuulangi gerakan itu beberapa kali pantang menyerah. Namun hasilnya tetap sama....Aku tidak bisa kembali.


"Huuwaaa! Aku tidak bisa kembali, Bagaimana ini!?" Aku kembali menangis, Semua usaha ku sia-sia. Kalau begini, Apa gunanya aku berada di rumah sakit ini? Kalau aku tetap tidak bisa kembali.


Melihat Mama dan adik-adikku yang sedih membuat hatiku sakit, Aku tak kuat harus melihat ekspresi sedih mereka dan malah membuatku semakin merasa bersalah. Pada akhirnya aku tidak bisa memeluk mereka.


"Apa jangan-jangan karna misiku gagal, Jadi aku tidak bisa kembali?" Gumamku menduga-duga, Benar juga. Terakhir kali yang kuingat sebelum mati adalah seseorang menusuk perutku saat terjadi kerusuhan di sekolah. Sayang sekali aku tidak bisa melihat wajahnya karna terhalang kabut, Kalau ketemu lagi dengan orang itu akan kuhajar dan kugentayangi dia.


Berani macam-macam sama Chloe Watson huh! Eh, Tapi Chloe Amberly gimana? Masa dia benar-benar mati sih? Aku kan menggunakan raga nya sebagai wadah untuk jiwaku, Lalu jiwa Chloe Amberly yang asli dimana? Sungguh membingungkan.


CKLEK!


Disaat aku tengah memikirkan dimana jiwa Chloe Amberly yang asli, Tiba-tiba pintu ruang inapku terbuka. Membuat Mama dan adik-adikku termasuk aku (Yang keberadaanku tidak di anggap oleh mereka) Menoleh. Oh, Si pelaku pembuka pintu itu ternyata Si Ian, Teman masa kecilku di dunia asli.


Wah, Ian di dunia asli ku dan Ian di dunia game benar-benar sangat mirip. Mulai dari segi pakaian, bentuk tubuh (Jangan anggap aku mesum, Aku hanya memperhatikan dari luar saja oke), potongan rambut, Dan warna matanya. Semuanya sangat mirip tanpa terkecuali.


Aku berdiri di sudut ruangan, Menyimak pembicaraan mama dan Ian. Kulihat tampaknya adik-adikku senang dengan kedatangan Ian yang membawa sebuket bunga dan sekantong makanan. Tapi pakaian nya seperti seragam kelulusan, Apa jangan-jangan Ian di dunia asli sudah lulus sekolah? Jika benar, berarti aku sudah koma selama setahun dong!?


"Enggak apa-apa tante, Ian sekalian ingin menjaga Chloe. Tante pasti lelah berjaga disini dari pagi sampai sore,"


Buh, Ian malah pake senyum tipis lagi. Seketika kegantengannya meningkat 50% Kalau para cewek-cewek lihat dia senyum begitu, Pasti pada klepek-klepek tuh. Untungnya aku udah kenal lama sama Ian, Jadi gak terpengaruh plus aku kenal banget sifatnya kayak gimana sama cewek. Waktu pertama kenal sih, Mulut nya tuh pedes kayak cabe terus ekspresinya selalu dingin.


Kadang suka jutek sama aku waktu pertama kali kenal, Yah sama kayak Ian dalam game. Tapi entah kenapa saat udah kenal lama sifatnya jadi sedikit romantis kayak berasa TTM (Teman Tapi Mesra) gitu. Eh, Udah ah, Kenapa malah jadi ngomongin Ian yah? Tuh kan aku jadi gak dengerin apa yang diomongin Mama sama Ian. Aku malah melamun, Oke aku akan fokus dulu dengerin mereka.


"Alvin, Reina. Lihat kakak Ian bawa apa untuk kalian," Ian menunjukkan sekantong makanan di tangannya pada kedua adik kembarku.


Yah, Aku memiliki dua adik kembar tapi gak identik, Soalnya yang satu laki-laki dan yang satunya lagi perempuan. Alvin dan Reina, itulah nama mereka.


"Wah, Makanan. Aku mau kak Ian," Pinta Alvin menyodorkan kedua tangannya. Alvin berumur 7 tahun.


"Aku juga kak," Reina ikut menyodorkan tangannya dengan semangat. Reina berumur 7 tahun sama kayak Alvin, Mereka cuma selisih 1 jam.


Kulihat Ian memberi kan sekantong makanan pada kedua adikku, Dia juga mengusap surai adik-adikku itu dengan sayang. Huhuhu, Aku terharu banget sama Ian teman masa kecilku ini. Jangan-jangan selama aku koma, Dia yang menggantikan posisiku sebagai kakak untuk memberikan kasih sayang pada kedua adikku itu? Kalau benar, Uwaah I Love You banget deh Ian. Kau benar-benar sahabat terbaikku.


"Nah, Bilang apa sama kakak Ian?" Mama tersenyum sambil menatap Alvin dan Reina.


"Makasih Kak Ian," Kata Alvin dan Reina barengan.


"Sama-sama," Ian menunjukkan senyum tipisnya.


Setelahnya kulihat kedua adikku itu pergi keluar dari ruang inapku usai pamit sama Mama dan Ian, Kini tinggal Mama dan Ian yang berada dalam ruang inapku (Termasuk aku yang gak dianggap ini). Kutebak seperti nya akan ada obrolan serius antara Mama dan Ian. Lalu aku pun mempertajam pendengaranku agar tidak melewatkan satu pun yang mereka bicarakan.


"Nak Ian, Mungkin lebih baik nak Ian tidak usah datang lagi kesini untuk menjenguk Chloe. Tante takut nak Ian nanti kecewa dengan apa yang terjadi di masa mendatang. Tante tau nak Ian sangat menyayangi Chloe, Tapi lebih baik nak Ian membuka lembaran baru dan memulai hidup yang baru,"


Eh? Maksud Mama apa nih? Kok Ian kayak disuruh menjauh gitu dari aku?


Kulihat dari Netra merah Ian, Dia tampak sedih. Tiba-tiba hatiku kok sakit ya pas ngeliat ekspresi sedihnya itu? Entah kenapa aku kayak ikut merasakan apa yang dirasakan Ian.

__ADS_1


"Maaf, Kalau perkataan saya ini agak tidak sopan tante, Tapi sampai kapanpun saya gak akan pernah berhenti untuk datang kesini sampai Chloe sadar dari komanya. Saya akan menjaganya semampu saya,"


"Ian...," Aku bergumam lirih dengan perasaan haru menatap teman masa kecilku itu. Dari nada suaranya yang tegas dan Netra merah darah miliknya yang serius, Aku tahu dia benar-benar tulus mengatakannya.


Mama terdiam sejenak, Lalu tersenyum lembut. "Begitu ya, Tante percayakan Chloe sama kamu Ian. Terima kasih selama ini selalu disamping Chloe dan menjaganya. Kalau begitu, Tante pergi dulu,"


"Iya, Hati-hati tante,"


Mama pun keluar dari ruang inapku, Kini tinggal Ian sendiri disana (Bersama aku yang masih memperhatikan dari sudut ruangan tentunya). Aku berjalan mendekati Ian yang sedang mengganti bunga mawar dalam vas di nakas dengan bunga mawar yang baru.


"Ian, Halo. Kau bisa melihatku?" Tanyaku sambil melambaikan satu tanganku di depan wajahnya, Namun dia hanya diam saja mengacuhkan keberadaanku.


"Aku benar-benar dikacangin sama orang-orang dalam ruangan ini dong," Pikirku ingin mewek lagi. Tapi tindakkan Ian selanjutnya menarik perhatianku.


Dia duduk di samping kasur tempat raga asliku terbaring, Memandangi wajah raga asliku dalam diam lalu tangannya menggenggam tanganku lembut. Entah kenapa saat Ian menggenggam tangan raga asliku, Rasanya tanganku ikut bisa merasakan kehangatan tangan Ian.


"Tangan kananku jadi hangat, Apa ini artinya kontak fisik secara tidak langsung?" Gumamku bingung, Kutatap tangan kananku yang agak transparan layaknya roh gentayangan. Lalu kutatap lagi tangan kanan raga asliku yang saat ini tengah di genggam Ian.


"Sunshi, Aku setiap hari kesini untuk menjengukmu. Setiap hari kusisihkan waktu sekolahku agar aku bisa tahu kau sudah sadar atau belum, Tapi tampaknya hari ini pun kau masih belum sadar ya,"


Aku terdiam memandangi sorot Netra merahnya yang sedih, Mendengarkan secara seksama. Hei, Ian. Kau mungkin tidak bisa melihatku tapi aku bisa melihatmu disini, Kita dalam satu ruangan yang sama. Jadi keluarkan lah semua keluh kesahmu, Kau bicara dengan raga asliku yang sedang koma tapi aku sebagai roh yang tidak terlihat akan mendengarkan semua perkataanmu.


"Maafkan aku karna tidak bisa menjagamu dengan baik,"


Aku mengerutkan alisku, Ini kan bukan salah dia. Kenapa malah minta maaf coba!? Aku kecelakaan waktu itu kan karna kesalahanku sendiri, Dia tidak ada sangkut pautnya. Ingin sekali ku jitak kepalanya itu karna sudah membuatku ikut merasa bersalah juga.


"Kau tidak salah! Jadi jangan minta maaf!" Sahutku menatap Ian, Meski aku tahu dia tidak akan bisa mendengar suaraku.


"Mulai sekarang aku janji akan menjagamu lebih baik lagi, Aku akan memberikan apapun yang kau minta, Aku akan melindungimu, Bahkan kau bisa memintaku untuk membelikan semua rasa ice cream kesukaanmu sampai tokonya pun bisa kubeli untukmu. Jadi kumohon...,"


Aku terlonjak kaget saat kulihat tubuh Ian mulai bergetar dan tak lama bulir-bulir air mata keluar dari Netra merahnya. Dia menangis!? Ian menangis karenaku!?


"Kumohon sadarlah, Tolong sadarlah Sunshi,"


Ian menangis pelan, Bibirnya dan tubuhnya agak bergetar. Genggaman tangannya pada tangan raga asliku semakin erat. Ini pertama kalinya aku melihatnya menangis seperti ini dengan kesedihan yang mendalam.


Tak lama aku kembali merasakan rasa nyeri di hatiku, Melihatnya menangis seperti ini membuatku akhirnya ikut menangis. Bulir-bulir air mata keluar dari Netraku, Sungguh ini menyakitkan, Napasku sangat sesak.


"Moonshi...Maafkan aku...Maafkan aku...," Sesalku sambil menangis, Aku mendekatinya. Memeluk tubuh yang terlihat kuat tapi aslinya rapuh itu.


Meski Ian mungkin tidak bisa merasakan pelukanku karna tubuhku menembus tubuhnya, Tapi sekali saja...Biarkan aku memeluknya seperti ini. Walau Dia tidak bisa melihatku tapi setidaknya menenangkannya dengan cara seperti ini saja sudah membuatku sedikit lebih baik.


"Selama ini aku selalu menyangkal perasaan ini, Aku tidak ingin merusak persahabatan kita. Tapi semakin lama kupendam, Aku semakin merasa sesak jika aku tidak mengungkapkannya sekarang. Aku tahu perasaan ini sudah timbul saat umurmu 6 tahun, Waktu kita pertama kali bertemu perasaan itu sudah ada,"


Kudengar nada Ian sedikit bergetar, Mungkin mencoba menetralkan suaranya agar terdengar jelas.


"Iya, Keluarkan saja semua keluh kesahmu Moonshi. Aku mendengarkanmu disini," Kataku lirih, Masih posisi memeluk punggungnya.


"Aku tahu kau tidak akan bisa mendengarkanku karna kau masih koma Sunshi, Tapi...,"


Aku menjauhkan tubuhku darinya, Penasaran kenapa dia menjeda kata-katanya. Lalu aku memilih berdiri di sisi kasur tempat raga asliku terbaring, Berhadapan dengan Ian yang masih duduk.


"Aku mencintaimu Sunshi, Benar-benar mencintaimu,"


DEG!


JDDEERRR!


Seketika kurasakan tubuhku langsung membeku di tempat, Tak tahu harus bereaksi seperti apa. Jadi selama ini dia menyukaiku!? Selama 11 tahun kami berteman, Aku baru menyadarinya!? Oh tuhan, Bahkan teman masa kecilku sendiri menyukaiku!?


Padahal selama ini aku selalu menganggapnya sebagai saudara, Tidak lebih dari itu. Dan sekarang aku sudah tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya.


"Haaa...Kenapa jadi begini!?" Kataku Frustasi, Membalikkan badanku membelakangi Ian yang masih duduk menatap wajah raga asliku.


Aku mengacak-acak rambutku kasar saking frustasi dan bingungnya diriku. Lengkap sudah kehidupanku yang jungkir balik, Mau sebagai Chloe Watson atau Chloe Amberly hidupku tetap akan penuh masalah.


TBC

__ADS_1


__ADS_2