
"Jadi setiap Syair bersajak a-b-a-b, Atau a-a-b-b,"
Chloe berusaha fokus dengan penjelasan Felix yang duduk berhadapan dengannya, Netra biru Chloe terus menatap setiap baris Syair yang ditunjukkan oleh Felix dalam buku, Seharusnya dia mudah memahami apa yang dikatakan Felix. Namun Suara Felix seakan berdengung melewati kupingnya, Tidak ada satupun dari ucapan sang pria yang masuk ke otaknya.
Malah kini pikiran Chloe tengah melayang-layang mengingat obrolannya dengan Justin beberapa jam yang lalu.
Memory Chloe On
"Hooo...Ternyata Si Nona kecil, Ikut Olimpiade juga ya? Sudah lama tidak bertemu ya Nona kecil," Sapa pria itu masih tersenyum sinis, Netra orange nya menatap tajam Chloe.
Aura di ruangan itu benar-benar sangat mencekam, Chloe menatap balik Netra orange Justin. Berusaha terlihat tenang dan tidak takut.
"Lama tidak berjumpa juga Pak Direktur," Balas Chloe menatap dingin Justin.
Justin mengangkat sebelah alisnya, Tersenyum remeh sesaat. Dia memasukkan kedua tangannya dalam saku celana, Berjalan mendekat hingga tepat dihadapan Chloe.
"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan Si Nona kecil disini. Oh iya, Seingatku kau peringkat 3 dalam kelas ya? Kalau aku jadi kepala sekolah, Aku akan lebih memilih peringkat 4 karena dia laki-laki dibanding peringkat 3 tapi malah seorang perempuan seperti mu," Justin menatap lekat pada Chloe yang terkejut.
Gadis bersurai biru itu memberi tatapan menyalang pada Justin yang tersenyum remeh.
"Kau tahu kenapa perwakilan Olimpiade rata-rata adalah laki-laki? Karena kalau perempuan, Mereka hanya mengandalkan emosi dan perasaan. Bukan logika atau otak sekalipun, Perempuan itu lemah. Jadi lebih baik kau bekerja di dapur saja sana!" Justin memandang Chloe dengan tatapan merendahkan.
"What the–" Chloe melotot mendengar nada sarkasme dari Justin, Kedua tangannya mengepal penuh amarah. Kemudian dengan cepat tangan kanannya teracung menunjuk wajah Justin.
"Heh, Kucing Garfield! Jaga ucapanmu ya! Siapa yang kau bilang lemah!? Apa kau masih ingin merasakan pukulan ku seperti waktu di Bioskop itu, Hah!" Bentak Chloe marah, Tidak terima Justin mengatai nya lemah. Cih, Memang ya. Justin itu perlu diberi pelajaran agar gak bikin masalah sama Chloe.
Sejenak Justin mengerutkan alisnya mendengar julukan aneh dari sang gadis, Merasa risih dipanggil begitu.
"Kucing Garfield!?" Pikir Felix menahan tawa.
Begitu juga dengan Raizel yang memalingkan wajahnya dengan sudut bibir yang sedikit terangkat, Ian yang tersenyum sangat tipis, Dan Devian yang menutup mulut dengan punggung tangan ikut menahan tawa.
"Apa!? Mau bilang kau lebih kuat dariku begitu!? Cih, Waktu itu kau hanya beruntung karna aku tidak siap dengan pukulan mu. Kalau sekarang, Mau kau serang dari arah manapun tidak akan mempan untukku," Sindir Justin sinis, Bersidekap dengan aura mengerikan. Bahkan Netra orange nya sesaat berkilat khas Psikopat.
Felix yang sejak tadi berdiri dekat Justin dan Chloe memandang dalam diam sesaat, Dia mendekat mencoba menenangkan Chloe yang masih emosi. Menurunkan tangan Chloe yang teracung di depan wajah Justin.
"Sudahlah Chloe, Sopan lah sedikit. Bagaimana pun dia lebih tua 3 tahun darimu. Jangan hiraukan apa yang dikatakan Justin. Niat kau kesini kan ingin belajar untuk Olimpiade bukan untuk bertengkar dengannya," Jelas Felix dengan lembut, Memegangi kedua pundak Chloe. Sedikit menarik sang gadis agar menjauh dari Justin.
Namun Chloe diam tak bergeming, Menganggap suara Felix hanya angin lalu. Dia menurunkan kedua tangan Felix dari pundaknya, Masih dikuasai oleh emosi yang berada di ubun-ubun.
"Aku ingin Taruhan denganmu!" Kata Chloe tiba-tiba, Masih menatap menyalang Justin. Sedangkan Justin hanya mengangkat sebelah alisnya menunggu perkataan Chloe selanjutnya.
"Taruhan?" Pikir Devian yang sejak tadi hanya menyimak obrolan Chloe dengan Justin tanpa ingin ikut campur. Dia mendongakkan kepalanya, Merasa tertarik apa yang akan Chloe taruhkan pada pria bermarga Garfield itu.
"Chloe...," Felix memandang cemas, Merasa khawatir jika taruhan nya adalah Chloe sendiri. Mengingat Justin memiliki ambisi untuk membunuh Chloe.
"Aku bertaruh, Jika aku menang Olimpiade Sastra nanti. Kau harus membelikanku Playstation 5 lengkap dengan game nya," Kata Chloe dengan penuh percaya diri, Membuat Suasana ruangan itu kembali hening.
"Oke, Dan jika kau gagal dalam Olimpiade ini. Kau harus menjadi pelayanku selama sebulan dan semua perintahku adalah mutlak. Termasuk nyawa mu sebagai gantinya. Bagaimana?" Justin menyerigai iblis, Netra orange nya sesaat berubah menjadi merah darah tanpa disadari oleh Chloe.
Chloe seketika diam membeku, Ternyata Justin memang menginginkan nyawanya. Felix mendelik kesal menatap Justin, Dia sudah menduga Justin akan memanfaatkan kesempatan itu untuk menjebak Chloe.
"Kak Chloe, Taruhan mu terlalu biasa. Seharusnya kau memberikan taruhan yang anti mainstream sama seperti Kak Justin. Kalau cuma Playstation 5 aku juga bisa membelikannya untukmu, Sayangnya taruhan mu terlalu kekanakan," ledek Devian, Membuka suara.
BBRRAAKK!
Raizel tiba-tiba memukul meja dengan ekspresi begitu kesal, Mendelik tajam pada Devian.
__ADS_1
"Shut up! Jangan ikut campur Devian. Tidak ada yang akan mendengarkan pendapatmu!" Kata Raizel tajam, Yang mendapat lirikan sinis dari Devian.
Kemudian Netra ungu Raizel beralih pada Justin dan Chloe, Sorot matanya sangat cemas terhadap sang gadis.
"Jangan terima taruhan itu Chloe! Itu berbahaya untuk nyawa mu,"
Chloe menatap Raizel sejenak, Melihat bagaimana Sorot Netra yang cemas dari Raizel dan Felix. Lalu Netra biru nya beralih menatap Justin yang masih menunggu jawabannya.
"Bagaimana nona kecil? Apa jawaban mu?" Justin masih menyerigai sinis.
Menghela napas sesaat, Sang gadis kembali menatap Justin. Menyadari masih banyak yang khawatir terhadapnya.
"Seperti nya aku berubah pikiran, Aku tidak jadi bertaruh,"
"Hoo...Itu artinya kau pengecut, Padahal kau yang pertama memulai taruhan,"
"Terserah! Aku tidak peduli. Aku sadar bahwa nyawa ku lebih penting dari game sekalipun. Tapi ingat, Aku tidak akan tinggal diam jika kau kembali berulah," Ancam Chloe yang mendapat dengusan dari Justin.
"Kita lihat saja nanti, Kau bisa bertahan atau tidak,"
Justin dan Chloe saling pandang dalam diam dengan tatapan tajam masing-masing, Seakan ada aliran listrik di antara ke duanya. Sedangkan Felix yang masih berdiri hanya bisa menghela napas lelah, Dia memijit keningnya sesaat.
"Aku seperti menghadapi dua bocah sekaligus disini, Tingkah mereka benar-benar kekanakan," Pikir Felix yang merasa pusing tujuh keliling menghadapi tingkah Justin dan Chloe yang masih saling pandang.
Ruangan itu sesaat diliputi keheningan kembali sampai suara Ian menghentikan perkelahian tersebut.
"Bisakah kita mulai belajar nya sekarang? Jika kalian terus membuang-buang waktu ku, Aku akan pergi dari sini," Kata Ian datar, Memandang tajam Justin dan Chloe bergantian.
Felix tersenyum kikuk masih merasakan sisa-sisa Afmosfer pertengkaran Justin dan Chloe. Terlebih kini Justin dan Chloe saling membuang muka, Tidak ingin saling tatap lagi. Felix pun menyatukan kedua telapak tangannya, Bertepuk tangan sekali.
Felix merangkul pundak Chloe, Mengarahkan adik angkatnya menuju kursi yang tersedia, Agak jauh dari meja Devian dan Ian agar dia bisa mengajari Chloe sedikit tenang.
"Kenapa aku harus mengajari dia!? Aku tidak sudi mengajarinya, Felix kita tukar tempat saja," Protes Raizel tak terima.
"Siapa juga yang ingin diajari olehmu, Cih!" Balas Devian sinis.
Entah sejak kapan, Tiba-tiba saja sebuah gunting melayang diantara Raizel dan Devian. Menancap langsung di tembok hingga tembok itu sedikit retak. Hampir mengenai wajah Devian, Kalau saja Devian tidak sigap menghindarkan kepalanya dari layangan gunting itu. Raizel dan Devian sontak terdiam menatap Felix yang menunjukkan senyum suram dengan aura membunuh di sekitarnya.
"Protes sekali lagi, Lidah kalian berdua akan hilang," Sahut Felix masih tersenyum suram, Chloe sampai bergidik ngeri disamping Felix.
Alhasil Raizel dan Devian hanya bisa bersungut-sungut kesal, Melakukan apa yang Felix perintahkan.
"Buset, Sisi gelap Kak Felix seram juga ya," Pikir Chloe sesaat bergidik kecil.
Sedangkan Ian dengan santai kembali mempelajari rumus Fisikanya, Seakan tak terganggu dengan suasana yang sedikit berisik di sekitarnya. Dan Justin yang langsung mengambil gunting milik Felix, Memberikan kembali pada pemiliknya dengan raut datar.
Memory Chloe Off
"Chloe, Kenapa diam? Kau baik-baik saja kan?" Felix menyadari kalau sejak tadi Chloe tidak fokus dengan belajarnya. Melambaikan tangannya pelan di hadapan sang gadis.
Chloe tersentak mendengar suara Felix, Lamunan nya langsung buyar seketika. Dia mendongak tersenyum ceria.
"Iya, Aku baik-baik aja kak. Cuma kurang fokus aja," Sahut Chloe sebisa mungkin tersenyum.
Felix terdiam sejenak, Memandang Netra biru Chloe. Tentu saja untuk membaca mimik wajah sang gadis.
"Kau masih memikirkan kejadian tadi kan?" Tebak Felix, Masih menatap lekat sang adik.
__ADS_1
Senyum yang terpatri di bibir Chloe luntur, Gadis bersurai biru itu mengangguk lemah mengiyakan.
Pemuda bersurai coklat dengan Netra Aqua itu menghela napas kecil, Menutup buku Sastra milik Chloe. Lalu menggenggam tangan Chloe yang kebetulan berada di atas meja.
"Semua akan baik-baik saja, Kakak sudah berjanji akan melindungimu Chloe. Justin tidak akan bisa membunuhmu selama kakak berada disampingmu, Dengan diadakannya Olimpiade ini, Tentu kakak bisa mengawasimu agar tidak terjadi hal-hal buruk yang menimpamu. Kau mengerti kan?" Kata Felix lembut, Mengusap perlahan surai biru milik Chloe.
"Iya kak, Aku mengerti. Kalau begitu kakak jangan jauh-jauh dari ku selama tugas kakak belum selesai disini ya," Pinta Chloe dengan sorot mata penuh harap.
"Tentu saja, Kakak Berjanji," Felix menunjukkan jari kelingkingnya, Sebagai simbol perjanjian dengan Chloe.
"Janji harus ditepati ya," Chloe kembali tersenyum ceria, Melingkarkan jari kelingkingnya di jari Felix. Yang mendapat anggukan dan senyum dari sang pemuda.
Tak lama tiba-tiba sebuah gulungan kertas mengenai kepala Felix, Sontak membuat sang pemuda melepaskan jarinya, Begitu juga dengan Chloe.
Felix segera mengambil gulungan kertas tersebut, Dan membuka isinya. Ternyata kertas itu berisi tulisan.
...Bukannya ngajarin Chloe, Malah Mesra-Mesraan! Awas kalau nanti Chloe gak fokus belajarnya gara-gara kau Felix!...
Raizel
Netra Aqua Felix beralih membaca kalimat di bawah tulisan Raizel.
...Apaan tuh! Tangannya di kondisikan! Jangan pegang sana-sini, Aku mengawasimu Kak Felix....
Devian
Felix mengerutkan alisnya, Semakin bingung kenapa surat itu lebih bertujuan untuk mengancamnya. Dia membalikkan surat tersebut karna masih ada tulisan lainnya.
...Fokus saja ngajarin Chloe! Jangan sampai kupatahkan tanganmu nanti Felix....
Ian
Felix sesaat terdiam mulai mengerti situasi, Netra Aquanya beralih membaca di bawah tulisan Ian. Untuk kalimat terakhir.
...Kalau ingin mesra-mesraan, Jangan dilaboratorium! Kalian malah semakin membuat Afmosfer nya panas dingin....
Justin
Felix menggeleng pelan, Heran dengan tingkah temannya yang tiba-tiba saja berubah drastis gini.
"Ada apa kak Felix? Apa isi suratnya?" Tanya Chloe yang penasaran, Karna sejak tadi dia memperhatikan ekspresi berubah-udah dari Felix.
"Isinya gak penting. cuma berisi rumus Fisika," Bohong Felix dengan senyum. Menyembunyikan kertas itu di pangkuannya.
"Oh, Gitu," Chloe cuma manggut-manggut, Percaya-Percaya aja kata-kata Felix. Kemudian dia kembali melanjutkan belajarnya tanpa memperhatikan Felix lagi.
Sejenak Felix menghela napas lega, Kemudian menoleh ke tempat duduk Devian, Ian, Raizel, Dan Justin yang berada tak jauh dari tempat duduk Felix dan Chloe. Tidak disangka ke-4 pria itu ternyata menatapnya balik.
Tatapan tajam dan Aura menyeramkan ditujukan untuk Felix dari Devian, Ian, Dan Raizel. Sedangkan Justin hanya menatap datar namun sorot matanya sama tajamnya dengan yang lain.
Tanpa sadar keringat dingin mengalir di keningnya, Mendapat tatapan tajam seperti itu seakan mereka ingin menelan Felix bulat-bulat.
"Ada apa dengan tatapan mereka? Seakan mereka ingin menelanku hidup-hidup," Pikir Felix sesaat bergidik, Masih bisa merasakan tatapan itu seakan menembus jantungnya.
Padahal yang sejujurnya dirasakan oleh Raizel adalah perasaan cemburu karna dia melihat Felix memegang tangan Chloe, Lalu Ian yang merasa kesal karna Felix mengusap surai milik Chloe padahal Ian juga ingin berada di posisi Felix Meski Ian tidak menunjukkan ekspresi apapun tapi keinginan itu terlihat jelas dari sorot Netra merahnya. Lalu Devian yang jengkel karna Fokus nya terganggu dengan kedekatan Felix dan Chloe Bahkan Devian hampir mematahkan pulpen di tangannya saking jengkelnya. Dan terakhir Justin yang merasa tingkah Felix dan Chloe merusak pemandangan dan membuat Asmosfer ruangan ini menjadi suram dengan aura membunuh dari Raizel, Ian, Dan Devian.
TBC
__ADS_1