
Beberapa mobil melaju kencang melewati jalan raya yang ramai, Disalah satu mobil itu terdapat Ezra dan Chloe yang memilih diam sibuk dengan pikiran masing-masing. Tatapan sang gadis terus tertuju pada kaca mobil, Menatap indahnya kerlap-kerlip lampu malam.
Malam yang ramai meski hampir menjelang tengah malam, Sejenak Chloe menyandarkan kepalanya pada kaca mobil.
"Kak Ray itu adalah Kakak kandung Chloe Amberly yang asli. Aku baru bertemu dengannya dua hari yang lalu, Ternyata Chloe Amberly sebenarnya berasal dari kekuarga kaya Maximillian," Jelas Chloe membuka obrolan tanpa diminta.
"Jadi misimu sudah selesai berarti? Bukannya permintaan Chloe Amberly adalah menemukan keluarga kandungnya?" Tanya Ezra tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.
"Kalau sudah selesai, Aku pasti sudah kembali ke raga asliku. Sedangkan saat ini aku masih terjebak di raga Chloe Amberly. Artinya misiku masih belum sepenuhnya selesai, Aku ingat Chloe Amberly memintaku untuk mempertemukannya dengan keluarga kandungnya," Chloe menghembuskan napas kecil.
"Sepertinya permintaan yang dia maksud adalah mempertemukan jiwanya dengan Kak Ray. Jika benar begitu, Aku harus mengambil kembali jiwa Chloe Amberly dari Vivian dan harus membunuh Vivian," Keluh Chloe frustasi, Ia mengacak sesaat surai biru miliknya.
"Jika benar, Berarti kita harus menemukan tempat persembunyian Vivian dan Liam. Tapi kalau hanya kita berdua yang melawan, Pasti kekuatan kita tidak akan cukup mengalahkan mereka," Kata Ezra datar, Ia mencoba memikirkan cara yang lebih baik untuk mengalahkan Vivian dan Liam.
"Masalahnya aku tidak ingin melibatkan Michelle dan Maximillian Family," Chloe mengusap wajahnya gusar, Mulai bingung harus membuat rencana seperti apa.
"Siapa bilang kita harus melibatkan mereka?" Ezra memejamkan matanya sejenak sebelum kembali menatap jalan raya. Netra hijaunya tampak serius. "Mereka tidak tahu apapun tentang identitas anggota kita yang asli, Black Shadow tidak boleh diketahui oleh siapapun kecuali orang yang benar-benar sudah kita percayai sepenuhnya,"
"Ukh...Apa karna identitas anggota Black Shadow rata-rata adalah seorang pembunuh? Jadi kita harus menyembunyikan identitas ini dari mereka?" Chloe menoleh cemas, Meski dirinya tidak pernah membunuh orang (Kecuali saat penculikan Red Devil terjadi, Saat itu raganya diambil alih kembali oleh Chloe Amberly yang asli) entah kenapa semenjak dirinya masuk Asrama Black Shadow, Ia merasa seakan ikut terlibat dalam pembunuhan itu.
"Menurutmu?" Balas Ezra balik tanya. "Terlebih sepertinya di keluarga Maximillian terdapat dua anggota polisi, Mereka bisa saja mengungkap identitas kita yang sebenarnya kalau kita masih menjadi anggota Black Shadow yang tersisa, Saat itu terjadi bisa saja rahasia yang kita simpan rapat-rapat akan terbongkar bahwa Asrama kita sebenarnya menjadi tempat pembunuhan,"
Ezra mencengkeram erat kemudi ditangannya, Ia mendecih kesal. Chloe diam sejenak sebelum mengangguk paham.
"Bapak mengenal keluarga Michelle dan Maximillian?"
"Aku hanya pernah mendengar marga mereka tapi tidak pernah bertemu langsung dengan mereka selain Elizabeth Michelle dan anak ke-4 dari keluarga Maximillian, Lagipula aku tidak tertarik berurusan dengan orang-orang kaya yang pengaruh koneksinya sangat besar seperti mereka,"
"Hahaha begitu, Kupikir bapak tahu lebih banyak tentang latar belakang keluarga mereka," Chloe tertawa canggung sembari mengusap tengkuknya.
"Tidak, Hanya tuan Justin saja yang tahu karna salah satu dari keluarga Michelle dan Maximillian adalah koleganya,"
"Oh, Ngomong-ngomong Aku pernah tak sengaja menunjukkan kekuatan healingku pada Ivy Michelle, Anak bungsu terakhir. Saat itu aku merasa kasihan padanya jadi kutolong saja,"
Ezra mengerutkan alisnya, Ia melirik sesaat. "Ivy Michelle?"
"Itu anak laki-laki bersurai ungu potongan pendek yang memelukku tadi saat dikantor polisi," Jelas Chloe sembari menautkan jari-jari tangannya.
"Dia laki-laki? Kupikir saat melihatnya dia adalah perempuan," Ezra semakin mengerutkan alis, Tak habis pikir masih ada laki-laki yang berpenampilan layaknya perempuan seperti Ivy Michelle. Dunia ini semakin aneh saja menurutnya.
Chloe tertawa kecil, Menatap reaksi Ezra yang lucu menurutnya. "Itu hanya penampilan luarnya saja, Saat pertama kali melihat Ivy aku pun sempat mengira dia perempuan juga. Ternyata setelah diberitahu Kak Ash yang sebenarnya, Aku baru tahu kalau Ivy adalah laki-laki,"
"Dunia semakin aneh saja sekarang," Ezra meraih sekaleng kopi yang terletak di dashboard mobilnya, Meminum isinya sampai habis. "Ngomong-ngomong, Mau bagaimana pun kau tidak seharusnya menunjukkan kekuatanmu pada orang lain yang belum sepenuhnya bisa dipercaya. Sikap cerobohmu itu bisa-bisa malah mendatangkan malapetaka bagi dirimu sendiri,"
"Tapi Ivy bilang dia berjanji tidak akan memberitahukan kekuatanku ini pada siapapun, Soal ini hanya akan menjadi rahasia kami berdua,"
Ezra menghembuskan napas pelan, Ia meletakkan kaleng sisa minumannya dalam kantong plastik kosong. "Tetap saja kau seharusnya tidak boleh semudah itu percaya omongan dia, Bagaimana kalau dia tidak menepati janjinya? Dengar! Didunia ini sudah tidak ada lagi yang namanya kekuatan ataupun elemen, Orang-orang zaman sekarang hanya menganggap kekuatan itu sebatas mitos belaka, Hanya segelintir orang-orang saja yang percaya mitos itu nyata,"
"Kau tahu kenapa Aiden memutuskan lebih memilih berdiam diri di Asrama dibanding pergi keluar asrama?"
"Enggak tuh? Emang kenapa?"
"Tentu saja karna dia harus menyembunyikan diri orang-orang di luar sana, Kalau dia sampai ketahuan memiliki kekuatan maka akan disebut monster dan ditangkap oleh orang-orang itu karna dianggap berbahaya bagi mereka,"
Chloe menatap horror dirinya seketika agak merinding. "Lalu mereka akan membunuh Aiden jika tertangkap?"
"Iya, Makanya tidak seharusnya kau menunjukkan kekuatanmu sembarangan! Ini demi keselamatanmu dan juga identitas anggota asrama termasuk aku," Jelas Ezra datar.
"Ukh...Aku ceroboh ya, Terus aku harus bagaimana?" Chloe kembali mengusap wajahnya gusar, Menyadari kalau dirinya seceroboh itu.
"Kubunuh saja anak yang bernama Ivy itu, Dengan begitu rahasia kita masih akan tetap aman," Sahut Ezra enteng yang langsung ditatap horror oleh Chloe.
"Bapak jangan bercanda deh! Jangan langsung main bunuh anak orang, Kita kan bisa membicarakan hal ini baik-baik," Protes Chloe tak setuju.
"Oke! Kuberi satu kesempatan. Kalau dia tidak bisa diajak kerja sama. Aku tidak punya pilihan lain selain membunuhnya, Tidak peduli bagaimana nasib keluarga Michelle selanjutnya," Ezra menatap dingin jalanan yang ia lewati, Lebih tepatnya ia menatap mobil didepan mereka yang ditumpangi oleh Ray dan Ivy.
__ADS_1
Seketika Chloe langsung speecheles dengan keringat dingin mengalir di keningnya. "Pak Ezra mainnya serem banget, Senggol dikit auto langsung modar. Kadang gak bisa diajak ngomong baik-baik," Pikirnya sembari mengusap pelan kedua lengannya yang merinding.
"Ya, Kita bisa melanjutkan pembicaraan ini lagi setelah menyelesaikan pembicaraan tentang masalah keluarga Maximillian," Chloe tersenyum tipis, Menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Hm...,"
*****************
CKLEK!
BLAM!
"Kami pulang,"
Ray memasuki dalam mansion, Menatap Azura, Black, Dan Ash yang masih setia berada di ruang tamu. Mendengar kedatangan Ray dan yang lainnya, Azura langsung menyambut dengan senyum lembut disusul senyum dari Ash.
"Selamat datang Kak Ray, Ivy, Kak Xavier, Kak Vallen, Dan Chloe,"
"Selamat datang," Sahut Ash ikut menyambut.
"Hm...Apa yang lain sedang pergi?" Ray mendudukkan dirinya, Mengistirahatkan diri dari perjalanan yang cukup panjang. Sedangkan Ivy memilih pergi menuju kamarnya untuk beristirahat.
"Tidak, Mereka ada di kamar masing-masing," Ash menggeleng pelan sebagai jawaban.
Xavier dan Vallen langsung mendudukkan diri mereka disusul Chloe dan Ezra, Seketika Black yang melihat kehadiran Ezra sontak menatap terkejut.
"Oh Ezra, Kita bertemu lagi," Black tersenyum tipis. "Sepertinya kau sedang tidak beruntung jika bertemu denganku,"
Ezra menatap sinis lalu mengalihkan pandangannya sembari menurunkan sedikit topi merah maroon yang ia pakai hingga menutupi sebagian wajahnya. "Jangan bicara padaku!" Balasnya sinis.
Chloe disamping Ezra hanya tersenyum kecut dan sedikit menundukkan kepala seolah mewakili permintaan maaf atas sikap Ezra, Padahal ini pertama kalinya Ezra menjejakkan di Mansion Michelle namun sudah meninggalkan kesan buruk saja.
"Ketus seperti biasa," Komentar Black memaklumi sikap Ezra.
Ash sedikit memiringkan kepalanya, Menyadari wajah familiar Ezra dimatanya sebelum mengerjapkan mata beberapa kali. "Lho, Jadi teman Chloe yang dimaksud itu yang ikut tertangkap adalah Pak Ceo yang baru?! Pak Ezra?!"
"Jadi kau sudah mengenal Pak Ceo sejak kapan Chloe?" Ash mengalihkan padangannya pada Chloe yang tampak gugup.
"Ano baru hampir setahun ini, Kan aku dulu kerja di perusahaan Pak Justin sampai masa jabatan Pak Justin digantikan oleh Pak Ezra. Jadi...Umm...Aku sudah mengenal Pak Ezra dari sana...," Kata Chloe ragu, Dia hanya menyampaikan apa adanya tanpa memberitahu kalau dia sudah mengenal Ezra sejak tinggal di Asrama.
"Sepertinya aku terlambat selangkah lagi," Gumam Ray murung dan tentunya masih bisa di dengar Xavier yang duduk disampingnya walau tak terlalu jelas.
"Kau mengatakan sesuatu kak?" Bisik Xavier pelan yang langsung dibalas senyum palsu oleh Ray.
"Gak kok,"
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki mendekat bergema memenuhi ruangan mengalihkan perhatian beberapa orang-orang yang duduk di sofa. Elizabeth muncul bersama Rafael, Al, Dan Sosok pria berjubah kedokteran di belakangnya.
Sejenak Eli menatap angkuh orang-orang yang berkumpul sebelum memutuskan duduk di sofa yang tersedia diikuti Rafael, Al, Dan pria berjubah kedokteran.
"Senang bisa berkumpul lagi seperti ini," Kata Eli basa-basi sembari menatap satu-persatu orang-orang yang berkumpul.
Sang pria berjubah dokter tersenyum ramah sebelum pandangannya akhirnya jatuh pada Chloe dan Ezra.
"Eh? Nona yang terluka kemarin sudah sembuh ya? Apa pundak anda baik-baik saja? Apa masih terasa sakit?" Tanya dokter itu ramah, Sejenak Chloe diam dalam kebingungan sampai Eli ikut menyahut menyadari raut kebingungan sang gadis.
"Dia bertanya padamu Chloe,"
"Eh? Umm...Aku sudah merasa lebih baik, Meski masih agak sakit tapi kurasa aku baik-baik saja," Jawab Chloe tersenyum kikuk dan kembali menatap Eli meminta penjelasan.
"Dia adalah dokter yang menangani lukamu kemarin," Jelas Eli memahami tatapan Chloe.
"Oh maaf, Aku belum memperkenalkan diri. Namaku Kenzo Maximillian, Aku dokter pribadi keluarga Michelle dan Maximillian, Anak ke-3 Maximillian dan dokter yang menanganimu serta Tuan Miracle di rumah sakit waktu itu," Kata Kenzo dengan senyum ramahnya.
__ADS_1
Mendengar kata dokter sontak Ezra menoleh sembari menatap dingin, Ia melipat kedua lengannya. "Huh?! Jadi kau dokter yang menangani aku dan anak ini saat dirumah sakit waktu itu?! Bagaimana kau bisa mengenaliku secepat itu?!" Tanyanya ketus.
"Ah, Rasanya saya tak bisa melupakan wajah anda dan gadis ini. Makanya saya masih mengingat dengan jelas wajah kalian sampai sekarang," Kenzo masih tersenyum namun kini ia tersenyum misterius yang membuat Ezra semakin mendelik padanya.
Ezra berdecih kesal, Tanpa aba-aba ia meranjak dari duduknya yang membuat Chloe dan seisi ruangan menatap Ezra penuh tanda tanya.
"Cih! Aku pulang saja. Urus sendiri urusan keluarga kalian! Seenaknya saja melibatkanku!" Decih Ezra geram, Dirinya melangkah pergi dari ruang tamu menuju pintu keluar mansion.
"Pak Ezra!" Chloe berniat menyusul Ezra namun tangannya langsung dicekal oleh Ray. Otomatis Chloe melayangkan tatapan jengkel pada Ray.
"Kamu tetap disini, Jangan pergi kemana-mana!" Perintah Ray tenang.
CKLEK!
"Ehem! Tuan Miracle, Sepertinya anda melupakan kesepakatan kita hari itu. Jika anda menghindar maka kontrak kita sebagai kolega akan saya batalkan," Ancam Eli dengan senyum misteriusnya yang membuat langkah Ezra terhenti.
Ezra menggeram kesal dalam dirinya, Mengutuk kenapa ia harus berurusan dengan keluarga Michelle. Ia menggenggam erat gagang pintu ditangannya, Melampiaskan rasa kesalnya.
"Andai aku tidak berjanji pada Tuan Justin untuk meneruskan bisnis perusahaannya ini, Maka aku tidak perlu repot-repot berurusan dengan Michelle family yang licik. Ck! Kali ini demi janjiku pada Tuan Justin, Aku akan bertahan," Pikir Ezra, Ia menghembuskan napas berat. Mencoba menenangkan diri sebelum kembali menutup pintu mansion yang sempat ia buka.
BLAM!
Tap! Tap! Tap!
Ezra kembali mendudukkan diri disamping Chloe, Ia menatap Eli dengan tatapan nyalang bagai elang yang siap menerkam mangsanya. Auranya kini semakin suram membuat Chloe yang duduk disamping Ezra merasa hampir kehabisan napas.
"Apa yang kalian inginkan dariku? Sampai-sampai tidak membiarkanku pergi dari sini?" Kata Ezra dingin.
"Kau temannya Chloe? Aku sangat berterima kasih selama aku tidak ada kau sudah menjaga adik bungsu kami. Aku senang sekarang bisa bertemu Chloe lagi," Ray tersenyum cerah, Mengusap surai biru milik Chloe.
Ezra mengerutkan keningnya, Ia refleks menepis tangan Ray dari rambut Chloe. Memberikan tatapan tajam yang begitu sengit.
PLAK!
Ray berjengit kaget, Mengusap tangannya yang sempat ditepis oleh Ezra. Tidak menyangka akan mendapat perlakuan kasar yang selama ini tidak pernah ia terima.
"Ya, Karna aku sudah menjaganya tidak seharusnya kau menyentuh anak ini seenaknya. Lalu kenapa juga kau baru muncul setelah anak ini berjuang mati-matian untuk mencari keluarga kandungnya?! Kakak macam apa kalian, Sampai-sampai membiarkan adik kalian menderita seperti ini?!" Kata Ezra marah, Dirinya begitu kesal tanpa alasan yang jelas.
"Pak Ezra, Aku gak apa-apa kok. Tapi pada akhirnya aku bertemu keluarga kandungku juga kan?" Chloe tersenyum lembut, Mencoba menenangkan Ezra.
"Setelah apa yang terjadi, Kau masih membela pria ini?! Tengil! Bagaimana bisa kau langsung percaya bahwa dia kakak kandungmu?! Bagaimana kalau dia hanya pura-pura?!" Ezra mencengkeram pundak Chloe sedikit erat, Sedangkan Chloe meringis kecil.
BRAK!
"Apa maksudmu?! Jadi kau pikir aku berbohong?!" Sela Ray yang sudah tak bisa menahan emosinya, Tanpa sadar dirinya menggebrak meja dihadapannya.
"Tunggu dulu! Pak Ezra, Aku tidak bilang kalau aku percaya pada Kak Ray. Aku belum memutuskan sepenuhnya," Balas Chloe memegangi kedua tangan Ezra, Melepaskan diri secara perlahan.
DEG!
Seketika Ray merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat, Tiba-tiba ia merasa hatinya begitu sakit dan nyeri setelah mendengar pengakuan Chloe. Tubuhnya agak gemetar, Vallen refleks berdiri dan sontak memegangi pundak Ray agar tak jatuh.
"Chloe, Jadi kau pun masih belum percaya padaku sepenuhnya?! Aku kakakmu! Aku tahu kalau aku terlambat! Kalau aku datang tiba-tiba dan mengaku sebagai kakakmu! Tapi percayalah aku benar-benar kakak kandungmu Chloe!" Bentak Ray, Menahan emosinya yang hampir ingin keluar lagi.
"Aku tahu, Maaf tapi aku masih perlu waktu untuk mengenal dan percaya pada kak Ray sepenuhnya," Chloe menunduk kecil, Ia tersenyum tipis berusaha terlihat baik-baik saja. "Untuk sementara kita sudahi saja dulu pembicaraan ini, Kita lanjutkan nanti. Aku istirahat dulu,"
"Dan untuk malam ini, Tolong biarkan Pak Ezra menginap dulu semalaman ya disini. Lagipula ini sudah larut malam," Tambah Chloe sembari meraih tangan Ezra dan menariknya pergi dari sana. Mengantar Ezra menuju kamar tamu.
"Apa?! Chloe jangan pergi seenaknya! Dan Ezra Miracle kembali kesini!" Perintah Eli kesal karna Ezra dan Chloe memilih pergi dibanding kembali meluruskan kesalah pahaman mereka.
Ezra menghentikan langkahnya beberapa saat di anak tangga bersama Chloe, Ia menatap dingin dengan tatapan tajamnya seperti biasa. Menurunkan sedikit topi merah maroonnya. "Maaf saja, Aku lebih memilih percaya pada si tengil ini dibanding kalian. Bagiku hanya orang-orang terdekatku yang bisa kupercayai,"
"Maaf, Semuanya tapi apa yang dikatakan Pak Ezra benar. Aku juga merasa begitu, Aku masih belum bisa percaya pada kalian semua. Karna bagiku dan Pak Ezra butuh banyak usaha agar kami bisa mempercayai kalian," Sahut Chloe ikut menatap pada Michelle Family dan Maximillian Family yang berada di bawah mereka.
"Karna hanya anggota Asrama saja yang bisa kami percayai. Justin, Aiden, Ian, Devian, Felix, Raizel, Dan Rion," Pikir Ezra dan Chloe bersamaan.
__ADS_1
Setelahnya keduanya pergi kembali melanjutkan langkah mereka, Meninggalkan Michelle family dan Maximillian family yang tampak kebingungan sekaligus merasa hal janggal yang disembunyikan oleh Ezra dan Chloe.
TBC