
"Uh...Chloe, Kau yakin baik-baik saja?" Sejak perjalanan pulang Ivy terus memapah Chloe, Merasa cemas kalau sewaktu-waktu gadis bersurai biru itu akan jatuh.
"Iya, Aku gak apa-apa," Chloe memasang senyum tipis, Langkahnya agak tak beraturan karna menahan pusing di kepalanya.
Cklek!
Blam!
"Kami pulang," Kata Ivy usai menutup pintu mansionnya.
Mendengar suara Ivy, Revan yang sejak tadi cemas menunggu sontak berdiri dari duduknya. Ia menoleh cepat menatap Ivy bersama Chloe yang berdiri diambang pintu.
"Ivy! Kau kemana saja? Kenapa baru malam pulangnya?" Tanya Revan dengan alis mengerut, Bersiap akan menceramahi Chloe jika terjadi sesuatu pada Ivy.
"Ano...Tadi aku ada kerja kelompok, Jadi Chloe sekalian ikut denganku. Terus dijalan kami sempat mampir ke kedai ramen, Jadi agak telat pulangnya," Bohong Ivy tersenyum kikuk, Melirik Chloe yang ikut tersenyum. Ia tak tega jika memberitahukan hal yang sebenarnya pada Revan, Bisa-bisa Revan akan marah besar pada Chloe.
"Hah~, Lain kali bilang sama kakak kalau mau pulang telat, Bikin cemas saja," Revan mendesah kecil, Menepuk surai milik Ivy sesaat.
"Iya kak, Maaf,"
Perlahan Chloe melepas pegangan Ivy di lengannya, Membuat Ivy menatapnya khawatir. Namun Chloe hanya tersenyum tipis sembari menggeleng pelan, Mengkode bahwa ia merasa baik-baik saja.
Revan ikut menatap Chloe, Alisnya kembali mengerut melihat luka lebam di sudut bibir sang gadis. Sesaat ia mendengus.
"Kenapa dengan wajahmu? Habis berkelahi dengan seseorang?" Tebak Revan asal.
"Gak kok, Cuma gara-gara jatuh aja," Bohong Chloe sambil mengeratkan pegangannya pada ransel miliknya. "Kalau begitu aku duluan ya,"
Tanpa menunggu jawaban Revan dan Ivy, Chloe melangkah lebih dulu berniat menaiki anak tangga. Pandangannya tiba-tiba saja semakin buram, Kepalanya pun ikut berat seakan membawa berton-ton batu bata. Hingga Tak lama, Baru saja beberapa langkah. Chloe merasa ia tersandung kakinya sendiri sampai akhirnya ia terjatuh, Tubuhnya menghantam lantai cukup keras.
BRUK!
"Eh?!"
".....!"
****************
"Bagaimana keadaannya?"
"Lukanya sangat dalam, Kemungkinan besar akibat pertarungan. Dan juga di dalam tubuhnya sedikit racun yang tertinggal, Untunglah Racun itu tidak sampai membuat nyawanya melayang dan saya sudah mengeluarkan racun itu,"
"Sampai terkena racun?! Bagaimana bisa?"
"Saya tebak, Benda yang melukainya dilumuri racun terlebih dahulu sebelum ditusukkan padanya. Meski saya sudah mengeluarkan racunnya, Kemungkinan sisa racun masih bersarang di tubuhnya. Saya sarannya untuk meminum obat ini 2 kali seminggu untuk menetralkan racunnya,"
"Begitu ya, Terima kasih atas sarannya. Untunglah hari ini kau bisa meluangkan waktu untuk mengobati anak ini, Telat sedikit saja dia bisa-bisa tidak selamat,"
"Sama-sama, Lagipula saya kan juga dokter pribadi kalian,"
"Kau benar, Terima kasih,"
Samar-samar Chloe mendengar suara perbincangan disekitarnya, Perlahan tangan gadis itu sedikit bergerak menandakan dirinya sudah siuman. Kelopak matanya terbuka perlahan, Menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih polos.
"Ugh...," Ia melenguh kecil, Berusaha beradaptasi dengan sekitarnya. Tak lama Chloe mendengar suara langkah kaki mendekat.
Pandangannya tertuju pada seorang gadis yang baru saja menghampirinya, Elizabeth Michelle. Tidak tahu apa yang dipikirkan Eli, Namun sirat wajah penuh khawatiran terlihat jelas dari ekspresi gadis itu.
"Jangan terlalu banyak gerak, Kau baru saja siuman," Eli menarik kursi didekatnya, Duduk disamping Chloe. Sedangkan dokter pribadi Eli sudah pergi entah kemana.
"Apa yang terjadi? Seingatku aku masih berada di ruang tamu," Kata Chloe dengan suara agak serak, Pandangannya tampak sayu.
"Ivy bilang kau pingsan tiba-tiba, Jadi kami memanggil dokter pribadi kami untuk memeriksamu," Eli meraih segelas mineral di nakas dan menyerahkan pada Chloe.
Gadis bersurai biru itu menerimanya dan langsung meneguk hingga setengah, Setelahnya memberikan pada Eli.
"Gara-gara aku kelelahan, Jadi pingsan begini ya," Chloe tersenyum kikuk sembari mengusap tengkuknya yang tidak gatal, Ia merasa lebih baik setelah meminum segelas air.
Eli memejamkan matanya sejenak sebelum menatap Chloe serius. "Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku, Kau tidak bisa selalu berakting semuanya terlihat baik-baik saja!"
Seketika Chloe terdiam menatap ekspresi serius Eli, Gadis itu sedikit menunduk.
"Untuk sekarang aku tidak bisa menginterogasimu, Dengan keadaanmu yang seperti ini akan sulit mendapat kebenaran darimu," Eli meranjak dari duduknya, Ia bersidekap dengan pandangan angkuh. "Istirahatlah, Kita bicara lagi nanti,"
Eli berbalik melangkah pergi meninggalkan Chloe sendirian di kamar itu.
__ADS_1
Blam!
Sang gadis menghembuskan napas sejenak, Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kasur. Chloe meraba pundak kanannya yang mendapat luka tusukan, Merasakan perban membalut lukanya. Pakaiannya pun sudah berganti menjadi pakaian tidur.
Ia mengacak surai birunya sesaat, Merasa gusar sudah melibatkan Ivy dengan masalah diantara dirinya dan Vivian, Cepat atau lambat Elizabeth pasti juga akan tahu hubungan antara dirinya dan Vivian.
"Merepotkan, Kenapa dia datang disaat yang tidak tepat?! Aku juga masih belum menyelesaikan masalahku dengan keluarga Maximillian. Dan Pak Ezra," Chloe mengusap wajahnya sesaat.
Pandangannya tertuju pada laci nakas disampingnya, Sang gadis membuka laci itu. Mengambil sebuah dokumen di dalamnya.
Srak!
Perlahan ia membuka dokumen tersebut, Menatap penuh teliti tanpa melewatkan satupun informasi dari selembaran kertas tersebut.
Jantungnya seketika berdetak cepat, Netranya sedikit melebar setelah mengetahui informasi yang sebenarnya. Pandangannya kembali berubah muram.
"Pria itu, Ray Maximillian. Benar-benar kakak kandung Chloe Amberly?! Di dokumen ini tertulis bahwa mereka sedarah. Tapi keputusan tersulit adalah sebenarnya dia tahu aku dimana tapi tidak menemuiku secara langsung, Keputusan yang salah karna membiarkan Chloe Amberly mati terlebih dahulu tanpa sempat menemui dirinya yang asli,"
Chloe mencengkeram erat dokumen di tangannya, Dia menutup paksa dan membiarkan tergeletak di tempat tidur begitu saja. Chloe kembali membaringkan tubuhnya, Kepalanya mendadak sakit setelah teringat tawaran pilihan yang Ray berikan padanya.
Nyut!
"Ukh...Tidak seharusnya aku memikirkan tawaran dia disaat kondisiku lemah begini," Pikir Chloe mengusap keningnya yang berkeringat pelan.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan membuat Chloe menatap ke arah datangnya suara, Dirinya perlahan kembali mendudukkan diri.
"Siapa?"
"A-Aku...Ivy...,"
"Masuklah,"
Cklek!
Krreeiitt!
Ivy menyembulkan kepalanya takut-takut, Dia memasuki kamar Chloe perlahan. Ditangannya terdapat sepiring kue kering, Cukup banyak sehingga Chloe berpikir dirinya tidak akan sanggup menghabiskan kue sebanyak itu.
Keheningan melingkupi ruangan itu dengan canggung, Sesaat tidak ada pembicaraan diantara mereka. Hingga Chloe memutuskan mencairkan suasana dengan obrolannya.
"Ivy, Kenapa menatap lantai terus? Aku kan disini bukan di lantai," Chloe mengulum senyum, Terkekeh kecil meski ia rasa suasananya semakin akward saja.
"Ah..Um...Aku minta maaf telah melibatkanmu Chloe, Gara-gara aku kau jadi terluka," Kata Ivy murung, Tangannya semakin erat mencengkeram ujung pakaiannya.
Chloe diam sejenak senyum di bibirnya luntur, Kemudian hembusan napas terdengar dari gadis itu. "Tidak, Seharusnya aku yang minta maaf. Andai Vivian tidak membawamu, Kau pasti tidak akan terlibat,"
"Apakah sebelumnya kau ada masalah dengan wanita itu sehingga dia jadi terlihat membencimu?"
"Ya," Chloe menatap kedua tangannya yang tertaut, Pandangannya kosong sesaat. Teringat insiden penculikan yang dilakukan anggota Red Devil terhadap para anggota asrama. "Dia...Wanita yang sudah menghancurkan semuanya, Termasuk keluarga angkatku. Orang-orang yang sudah kuanggap keluarga sendiri. Tapi sepertinya target utamanya adalah aku, Jika aku menderita maka dia akan semakin senang. Mungkin itulah tujuan utamanya, Menghancurkanku lebih tepatnya,"
Ivy tersentak netranya membulat sesaat. "Astaga, Apa wanita itu sudah gila?! Kenapa dia ingin menghancurkanmu?! Apakah dia ingin bersenang-senang diatas penderitaanmu?!"
"Entahlah, Tapi sepertinya dimana pun aku tinggal. Dia pasti akan berusaha membuat hidupku tidak tenang,"
Ivy menatap prihatin gadis dihadapannya, Pandangannya beralih menatap tangan Chloe. Perlahan dengan wajah memerah, Ivy meraih tangan gadis bersurai biru itu dan memegangnya erat. Ia menunduk malu hingga helai-helai surai ungunya menutupi sebagian wajahnya.
"K-Kau tenang saja, A-Aku yakin mansion ini aman dari wanita gila itu. Selama kau berlindung disini, Dia pasti tidak akan bisa menyentuhmu seujung jari pun,"
Chloe melirik tangannya yang digenggam Ivy, Tawa pelan meluncur kecil dari bibirnya. Tangan satunya terangkat mengusap surai ungu milik Ivy, Mengacak pelan.
"Iya, Aku percaya padamu Ivy. Bahwa dia tidak akan pernah datang kesini. Terima kasih," Chloe tersenyum lembut membuat wajah Ivy semakin memanas, Wajahnya merona merah bagai tomat yang baru mateng.
Refleks Ivy melepas pegangan tangannya, Ia berbalik membelakangi Chloe. Menyembunyikan wajahnya yang memanas di balik kedua telapak tangannya.
"Aaaaa! Apa yang kau katakan Ivy?! Gawat, Chloe pasti bakal menganggapku aneh karna sudah mengatakan hal itu, Aku juga kan belum tahu wanita gila itu bisa datang kesini atau tidak. Aku malah berkata seperti itu seolah-olah aku sok tau," Batin Ivy menjerit dalam hati, Begitu malunya ia saat ini apalagi setelah melihat senyum lembut Chloe yang menurutnya adem.
Perlahan Ivy menurunkan tangannya yang menutupi wajah, Meski wajahnya masih memerah. Kini jantungnya ikut berdebar kencang, Seakan dirinya habis lari maraton.
"Huft...Tenanglah Ivy, Bersikaplah seperti biasa. Lagipula Chloe sepertinya tidak mempermasalahkan hal itu," Sejenak Ivy melirik Chloe yang bengong karna tingkahnya.
"Ivy,"
"Ah...Y-Ya...," Ivy agak tersentak karna panggilan Chloe, Ia sontak menoleh.
__ADS_1
Tangan Chloe terulur lalu meletakkannya di kening Ivy, Memeriksa suhu tubuh gadis itu.
"Wajahmu memerah secara tiba-tiba dan suhu tubuhmu meningkat, Apa kau merasa sakit juga? Jika begitu beristirahlah disini,"
"A-Apa? Ti-Tidak kok, Aku baik-baik saja. Aku hanya perlu istirahat di kamarku. Terima kasih tawarannya," Kata Ivy tergagap dengan cepat, Wajahnya semakin memerah setelah tangan Chloe berada di keningnya.
"Makanlah yang banyak agar cepat sembuh," Ivy melirik sepiring kue yang dibawanya tadi.
"Hahaha, Tentu saja," Chloe tertawa pelan, Lalu mengambil sepotong kue dan memakannya. "Kau tidak makan?"
"Etto, Aku sudah kenyang. Kau habiskan saja,"
Tok! Tok! Tok!
Di sela obrolan itu suara ketukan kembali terdengar membuat perhatian Ivy dan Chloe teralihkan.
"Masuklah,"
Cklek!
Pintu terbuka menimbulkan suara berderit, Disana Ash menyembulkan kepalanya memeriksa kondisi Chloe sebelum memutuskan melangkah masuk.
Blam!
Tap! Tap! Tap!
"Apa aku mengganggu kalian berdua?" Tanya Ash sesampainya di dekat Chloe.
"Tidak kok, Memangnya kenapa Kak Ash?" Tanya Chloe balik sembari mengunyah kuenya.
Ash tersenyum simpul dia mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia tepat disamping Ivy.
"Aku tidak tahu apa saja yang kau lakukan bersama Ivy, Tapi kulihat tadi Revan begitu marah besar. Dia selalu mengatakan 'Akan kubunuh anak itu' berulang kali," Ash mengusap tengkuknya merasa simpati dengan kondisi Chloe. "Hah~, Sepertinya dia serius dengan perkataannya,"
JEDDERR!
Seketika Chloe menatap horror begitu juga dengan Ivy, Keduanya bergidik ngeri.
"Ada masalah apa sih kak Revan sama aku?! Kenapa dia segitunya membenciku?!" Chloe meringis meratapi nasibnya, Rasanya nyawanya akan terancam mulai sekarang.
Ash ikut meringis. "Kurasa karna kabar mu yang terluka sudah terdengar ke seluruh Michelle family, Jadi mungkin dia berpikir Ivy ikut terluka karenamu,"
"I-Ini tak bisa dibiarkan, Chloe kan hanya membantuku. Aku akan berusaha membujuk Kak Revan dulu," Ivy bergegas meranjak dari tempatnya, Tanpa pamit ia langsung pergi meninggalkan ruangan.
Tap! Tap! Tap!
Blam!
"Ukh!...Kak Ash...," Chloe menatap memelas pada Ash, Berharap Ash ikut membantunya menghentikan kemurkaan Revan.
Ash hanya tertawa pelan, Dia mengambil sepotong kue dan mengunyahnya sebelum menjawab tatapan Chloe. "Jangan takut begitu, Aku yakin Revan tidak sungguh-sungguh dengan perkataannya. Dia hanya ingin menggertakmu, Kalau pun dia benar-benar melakukannya. Kak Eli pasti tidak akan tinggal diam," Jelas Ash.
"Meski begitu, Entah kenapa aku masih bisa merasakan aura membunuh itu dari Kak Revan walau dia tidak berada disini,"
"Mungkin hanya perasaanmu, Jangan di bawa ke hati," Tatapan Ash berubah teduh, Ia menopang dagunya dengan tangan.
"Ah, Begitu. Ngomong-ngomong sejak pertama kali bertemu dengan Ivy. Kulihat dia sangat cantik, Padahal kalau dia jadi idola sekolah pasti banyak yang jadi penggemarnya," Kata Chloe mengalihkan topik.
"Cantik?...Ppfftt!" Ash seketika menahan tawa, Ia menutup mulutnya dengan tangan. Pundaknya agar bergetar karna menahan tawa. Alhasil Chloe menatap heran karna berpikir apa dirinya salah bicara?
"Ah, Sepertinya kau belum tahu ya," Sesaat Ash mengusap sudut matanya yang berair karna tertawa lepas pada akhirnya.
"Heh? Aku salah bicara ya?"
"Bukan, Bukan itu," Ash menghembuskan napas untuk meredakan tawanya, Senyum tipis terbit dibibirnya. "Dia memang cantik, Bahkan mengalahkan kecantikan para wanita. Tapi sebenarnya dia bukan perempuan,"
"Eh? Maksudnya?"
Ash merendahkan tubuhnya, Berbisik pelan tepat disamping kuping sang gadis masih tersenyum. "Dia sebenarnya adalah Pria. Kau tertipu dengan penampilan luarnya selama ini,"
"Eh?" Seketika Chloe terdiam membeku, Dirinya antara speecheles sekaligus kaget.
"WHAT?!"
TBC
__ADS_1