System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Pernikahan Ray dan Elizabeth


__ADS_3

[Keesokan harinya]


Hari pernikahan Ray dan Eli pun tiba, Semua anggota keluarga termasuk wedding organizer yang sudah dipesan sebulan yang lalu sibuk hilir mudik menyiapkan acara pernikahan secepat mungkin sebelum acara sakral itu dimulai. Bahkan para penata rias mulai berdatangan untuk merias calon pengantin termasuk Alice.


Chloe pun juga bangun lebih pagi untuk ikut membantu mempersiapkan acara itu, Dia bertugas memasang beberapa hiasan bunga di sudut-sudut mansion. Usai melakukan pekerjaannya, Chloe berpapasan dengan Alice yang ingin ke kamar Eli untuk dirias.


"Eh, Chloe. Kamu belum siap-siap? Beberapa jam lagi acaranya mau mulai lho," Kata Alice sambil memandangi Chloe yang baru selesai memasang hiasan bunga.


"Aku gak ikut deh, Kau sama Evelyn aja yang jadi bressmaidnya kak Eli. Aku bagian bantu-bantu aja," Chloe tersenyum kikuk, Menolak halus.


"Eh kok gitu? Apa jangan-jangan karna kau gak punya gaunnya ya?"


Chloe diam tak menanggapi Alice, Si gadis hanya tersenyum hambar. Tak mendapat tanggapan dari Chloe membuat Alice mengulum senyum, Diamnya Chloe dia artikan sebagai 'iya'. Alice sudah menduga kalau Chloe tidak membeli gaun kemarin lantaran harganya yang sangat mahal, Alice memaklumi hal itu karna ia tahu kesederhanaan Chloe masih melekat hingga kini.


"Gak apa-apa Chloe, Bilang aja kali. Aku paham kok kalau kamu gak punya gaunnya," Alice mengambil sesuatu dari tas belanja yang dibawanya untuk dipakai membawa peralatan make up.


Setelah menemukan yang ia cari, Alice menyodorkan pada Chloe. Ia tersenyum ceria sedangkan Chloe menatap terkejut.


"Lho?! Ini bukannya gaun yang kuincar kemarin tapi gak jadi beli karna harganya mahal?" Pikir Chloe masih kaget lalu menatap Alice.


Alice masih tersenyum. "Ambil aja, Ini punyamu sekarang,"


"Tapi artinya aku berhutang padamu karna kau telah membelikannya?"


"Enggak kok, Siapa bilang. Aku belinya pakai uang mu juga lho,"


"Lah?"


Menyadari raut kebingungan dari Chloe, Alice hanya terkekeh pelan. "Kak Ray kemarin ingin memberimu black card, Soalnya kan kau sudah menjadi bagian dari Maximillian tapi kau tidak ada di mansion jadi kak Ray menitipkan black card nya padaku,"


Alice mengambil sebuah black card dari dalam saku pakaiannya lalu meletakkan black card dan gaun itu di tangan Chloe.


"E-Eh ini..." Chloe panik saat dia memegang black card dan gaun ditangannya.


"Dipakai ya Chloe, Sampai ketemu nanti," Alice melambaikan tangannya sambil tersenyum lalu berjalan pergi.


"Terima kasih!" Chloe meninggikan sedikit nada suaranya dan dibalas acungan jempol dari Alice sebelum akhirnya gadis bersurai coklat panjang itu benar-benar pergi.


Sesaat netra biru Chloe terpaku pada dua benda di tangannya dan memutuskan mengganti pakaiannya di kamar.


****************



Chloe memperhatikan gaun yang sekarang dia kenakan di pantulan cermin, Sedikit memutar tubuhnya.


"Apa ini tidak terlalu mewah ya?" Gumam Chloe canggung setelah memperhatikan penampilannya sendiri, Meski tak terbiasa memakai barang-barang mewah Chloe memutuskan berusaha beradaptasi.


Dia mengepang rambutnya dengan bentuk kepangan bunga mawar lalu menambahkan pita kupu-kupu di rambutnya, Senyum tipis terukir di bibir gadis bersurai biru itu.


"Pita kupu-kupu pemberian pak Ezra ternyata bisa mempercantik penampilan, Pita ini akan menjadi favoritku," Kata Chloe ceria.


Dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 9 pagi, Si gadis bergegas mengambil buket bunga yang dia beli kemarin di nakas dan melangkah cepat keluar kamar untuk menemui Alice dan Evelyn.


***************


"Hei, Chloe. Ayo sini, Lihat deh penampilan kak Eli," Evelyn memanggil Chloe setelah gadis itu masuk ke kamar Eli.


Tampak Alice masih merias Eli tak lama setelah make up itu selesai, Eli berdiri dan memperlihatkan penampilan dengan malu-malu. Alice berdiri disamping Eli menatap kagum, Bahkan Evelyn di buat takjub dengan penampilan Eli.



Sesaat Chloe tak bisa berkata-kata, Netra birunya berbinar takjub. Menunjukkan bahwa dia kagum dengan penampilan Eli.


"Kak Eli cantik sekali, Cocok banget pakai gaun pengantin itu," Kata Chloe masih kagum.


"Benarkah? Terima kasih penampilan kalian juga cantik," Eli tersenyum malu memandangi satu-persatu Alice, Chloe, dan Evelyn yang juga sudah siap dengan pakaian masing-masing. Ketiganya tersenyum senang mendengar pujian Eli.


"Eh, Udah jam segini. Kak Eli, Ayo kita keluar sekarang. Para tamu pasti sudah menunggu," Ajak Alice yang sudah membereskan peralatan make up nya.


Eli diam sejenak, Diam-diam dia menautkan jari-jari tangannya. Ekspresinya tampak cemas, Sejujurnya Eli merasa gugup. Meski sudah sering bertemu Ray namun entah kenapa dia malah merasa gugup di hari pernikahannya.

__ADS_1


Menyadari kegugupan Eli, Chloe yang melihatnya langsung mendekat dan meraih tangan kakak iparnya itu. Tersenyum ceria menenangkan.


"Gak apa-apa kak Eli, Kami akan menemani kak Eli kok. Jadi kak Eli gak perlu gugup. Aku yakin kakak bisa mengatasi rasa gugup kakak, Tersenyumlah dihari yang bahagia ini," Kata Chloe menenangkan, Menggenggam tangan Eli sesaat.


Eli merasakan tangannya digenggam, Mendengar semua kata-kata Chloe. Perlahan senyum manis terbit di bibirnya setelah kata-kata Chloe yang menenangkan.


"Terima kasih sudah menenangkanku, Sekarang rasa gugupku sudah berkurang,"


"Sama-sama kak Eli. Oh ya, Ini bawa juga buketnya," Chloe menyerahkan buket bunga yang dibawanya dan diterima oleh Eli dengan baik.


"Terima kasih,"


Chloe hanya mengangguk sambil tersenyum.


Tok! Tok! Tok!


Semua pasang mata memusatkan perhatian mereka pada daun pintu yang barusan diketuk oleh seseorang, Alice yang paling dekat dengan pintu lantas membukanya, Memperlihatkan seorang pria berpakaian tuxedo hitam berdiri di depan pintu.


Krriieett!


"Apa kak Eli sudah selesai di make up?" Tanya pria didepan Alice datar.


Alice memandang sejenak lalu membuka pintu lebar-lebar agar Eli juga terlihat oleh pria itu.


"Udah kak Rafael, Mau jemput kak Eli ya?"


"Iya,"


"Itu kak Eli nya,"


Rafael memusatkan perhatiannya pada kakak pertama nya itu, Sesaat mata nya mengerjap beberapa kali. Dia menjadi salah fokus, Jujur saja kakaknya dalam balutan gaun pengantin itu sangat cantik seperti dewi yunani, Namun bukan itu yang membuatnya salah fokus tapi kehadiran Chloe lah yang berdiri disamping Eli yang membuatnya salah fokus.


Keningnya mengernyit sejenak. "Dia Chloe Maximillian? Apa benar dia anak yang sering bersama si Ezra itu? Kenapa penampilannya sangat berbeda setelah dia memakai gaun itu, Dia terlihat lebih...Cantik dari biasanya," Pikir Rafael yang penuh pertanyaan dalam benaknya.


Eli yang sudah berdiri dihadapan adiknya Rafael, Menatap bingung karna tatapan adiknya hanya terfokus pada satu titik. Terlebih pandangan itu tampak kosong, Tidak lebih tepatnya tampak terpana akan sesuatu. Eli lantas melambai kan satu tangannya di depan wajah Rafael.


"Rafael? Kau baik-baik saja," Tanya Eli namun tak mendapat tanggapan apapun dari adiknya.


Eli langsung menepuk pundak Rafael keras hingga akhirnya membuat pria itu tersadar, Tak lama Rafael meringis dan mengusap pundaknya yang barusan ditepuk.


"Kenapa kakak menepuk pundakku?!" Kata Rafael kesal.


"Harusnya kakak yang bertanya, Kenapa malah bengong? Tadi bilangnya mau jemput kakak," Eli menatap sebal, Berkacak pinggang.


"Oh maaf,"


Alice dan Evelyn cekikikan kecil melihat interaksi antara Rafael dan Eli sedangkan Chloe hanya tertawa pelan.


Rafael menarik napas sejenak lalu menaruh tangannya di pinggang membentuk setengah lingkaran.


"Siap?"


"Ya, Kakak siap," Kata Eli mantap sambil memegang lengan Rafael.


Alice, Evelyn, dan Chloe bersiap di belakang Eli sebagai bressmaid lalu mereka pergi menuju tempat pernikahan.


***************


Acara itu berlangsung dengan lancar semua tamu undangan menjadi saksi atas pernikahan sepasang pengantin, Kini Ray dan Eli resmi menjadi sepasang suami istri, Banyak yang memberi selamat pada mereka termasuk dari pihak keluarga.


Kini para tamu undangan di persilahkan menikmati hidangan yang tersedia. Chloe yang pada dasarnya kalau pergi ke pesta apapun itu, Hal pertama yang dia cari adalah makanan. Tentu saja setelah acara itu selesai plus bersalaman dengan tamu lain, Chloe bergegas menuju meja hidangan, Dia langsung mengambil makanan apapun yang ada di depannya. Menikmati cita rasa satu-persatu dari makanan-makanan itu.


"Kue coklatnya enak," Pikir Chloe tersenyum kegirangan setelah kue coklat di mulutnya meleleh, Rasa manis memenuhi indra pengecapnya.


Disaat Chloe asyik-asyiknya menikmati hidangan, Netra birunya tak sengaja menangkap sosok yang sangat familiar diantara para tamu undangan. Sosok misterius berjaket hijau dengan topi merah maroon, Sesaat pandangan Chloe dan sosok itu bertemu membuat keduanya bersitatap.


Tak lama sosok itu mengalihkan pandangan dan bergegas pergi dari sana, Menyelinap diantara tamu yang hadir.


"Kayak kenal sama jaket dan topinya," Pikir Chloe, Tidak ingin kehilangan jejak. Gadis itu memutuskan menyudahi acara makan-makannya dan bergegas menyusul sosok misterius tersebut.


Dia mengangkat sedikit gaunnya dan berlari kecil mencari sosok misterius itu diantara para tamu.

__ADS_1


**************


Tap! Tap! Tap!


Chloe berhenti di taman belakang mansion milik keluarga Michelle, Tangannya bertumpu pada lututnya, Napas Chloe naik turun, Tampak kelelahan mengejar sosok tersebut saking cepatnya berlari.


"Kemana dia? Rasanya dia lari kesini tadi deh," Gumam Chloe sambil memandang sekitar taman hingga tiba-tiba mulutnya dibekap oleh seseorang.


Gadis itu terkejut dan meronta mencoba melepaskan diri, Bekapan itu semakin erat disusul suara yang familiar bagi Chloe.


"Sssttt! Ini aku tengil,"


Mendengar suara bisikan disampingnya sontak Chloe menoleh bersamaan dengan bekapan yang terlepas dari mulutnya.


"Pak Ezra?! Bikin kaget tau!" Protes Chloe menatap sebal Ezra, Jantungnya berdebar karna dia pikir tadinya ada yang ingin menculiknya.


Ezra hanya menatap datar lalu melepas topinya, Memperlihatkan wajah rupawan miliknya.


"Beberapa hari ini aku menghubungimu, Tapi kau tidak mengangkatnya. Kupikir terjadi sesuatu padamu, Ternyata kau sibuk dengan acara pernikahan nona Michelle itu ternyata," Ezra mengernyitkan alisnya kesal sedangkan Chloe terkekeh pelan sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal.


"Hehehe, Maaf pak. Aku sangat sibuk dengan acara dan persiapannya. Jadi tidak ada waktu untuk menghubungi bapak kembali," Chloe masih terkekeh, Kemudian kekehannya mereda. "Bapak kesini gak pakai undangan?"


"Aku pakai kok, Nona Michelle sendiri yang memberikan undangannya padaku," Ezra melepas jaketnya, Melipatnya serapi mungkin.


Tak lama netra hijaunya tertuju pada pita kupu-kupu yang Chloe pakai. "Kau masih memakai pita itu ya?"


"Iya, Aku suka pita nya dan pita ini menjadi favoritku. Makasih ya pak," Chloe tersenyum ceria, Menyentuh pita dirambutnya.


Ezra hanya tersenyum tipis, Dalam dirinya dia senang kalau Chloe menyukai pita itu. Tangannya terulur mengusap surai biru milik si gadis sesaat.


"Aku senang jika kau semakin menyukainya. Lagipula kau semakin cantik saat memakainya, Meski dalam penampilan biasa pun kau tetap cantik dimataku,"


Deg!


Chloe mendongak, Pipinya merona tipis mendapat usapan di rambutnya dan mendengar kata-kata manis Ezra. Chloe tersenyum ceria lalu dia melompat kecil ke arah si pria, Memeluk leher Ezra sambil mendekatkan kepalanya pada dada si pria. Membuat usapan di rambutnya terlepas.


"Huuaa! Kenapa pak Ezra manis banget sih? Aku kan jadi gak tahan buat peluk bapak!"


Sontak wajah Ezra memerah, Dia tersentak kecil mendapat pelukan dari Chloe secara tiba-tiba. Ezra refleks mencoba melepaskan pelukan erat Chloe darinya.


"S-Siapa yang kau sebut manis hah?! Jangan mengada-ngada tengil! Lepas!"


Ezra mendorong wajah Chloe agar tak menempel di dadanya, Wajah si pria masih memerah bak tomat matang. Namun bukannya lepas, Pelukan itu malah makin erat.


"Tentu saja pak Ezra, Siapa lagi yang bersikap manis dan imut selain bapak," Chloe tersenyum jahil mendongak memandangi wajah memerah Ezra.


Kening Ezra berkedut kesal karna Chloe masih tak melepas pelukannya, Terlebih senyum jahil yang terpatri di bibir gadis itu membuat Ezra semakin kesal. Satu-satunya cara agar si gadis mau melepas pelukan adalah kelemahannya. Tentu saja Ezra sudah tahu akan kelemahan Chloe, Tangannya terangkat ke udara tak lama suara sentilan terdengar nyaring memenuhi udara.


CTAK!


"Aaww! Sakit!"


Hal itu sukses membuat pelukan Chloe terlepas, Si gadis lantas memegangi keningnya sambil berjongkok. Netranya berkaca-kaca menahan sakit, Sentilan Ezra lebih kencang dari biasanya tentu saya membuat Chloe kesakitan.


"Gotcha, Akhirnya lepas juga. Kayak prangko aja nempel-nempel. Dasar tengil!" Pikir Ezra lega, Tanpa merasa bersalah dirinya lantas mengambil jaket dan topinya yang sempat jatuh karna pelukan Chloe yang tiba-tiba.


Ezra mengalihkan pandangannya pada Chloe yang masih kesakitan, Dia ikut berjongkok menjajarkan diri dihadapan si gadis. Kemudian dia mengusap kening Chloe yang barusan disentilnya.


"Makanya kalau dibilangin lepas, Ya lepas. Jangan bandel, Jadi cewek badung banget," Kata Ezra datar setelah mengusap kening Chloe. "Tuh udah hilang kan sakitnya?"


"Hilang? Ini masih sakit pak! Lihat tuh, Sampai merah gini keningku," Protes Chloe sambil menunjuk keningnya, Meski Ezra sudah bantu mengusap keningnya. Chloe masih merasa sakit, Dia menatap sebal.


"Udah, Gak bakal yang ngeliat juga. Lebih baik kau temani aku ke meja hidangan,"


"Gak mau!" Chloe berdiri dan bersidekap sambil memalingkan pandangannya, Sepertinya gadis itu ngambek.


Ezra kembali mengangkat satu tangannya, Menatap datar "Mau kutambahin lagi?"


Chloe langsung menoleh dan menutup keningnya cemberut, Takut kalau Ezra nyentil keningnya lagi. "Ish! Ya udah deh,"


Masih merasa kesal mau tak mau Chloe mengantar Ezra, Dia berjalan lebih dulu memasuki tempat acara pernikahan. Ezra sesaat tersenyum tipis memperhatikan tingkah si gadis sebelum memutuskan menyusulnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2