
Disaat Chloe asyik memainkan handphone nya tiba-tiba dia teringat ingin membeli buket bunga untuk pernikahan Eli. Chloe langsung menyimpan telepon genggamnya itu dan beralih memandangi Eli serta Evelyn yang sudah keluar dari toko.
"Chloe, Kami sudah selesai. Ayo pulang," Ajak Alice ceria, Tampak menggenggam banyak tas belanja di kedua tangannya.
"Kalian duluan aja pulangnya,"
"Emangnya kenapa?" Evelyn menatap bingung.
"Aku mau ke toko bunga dulu buat pesan buket bunganya,"
"Mau kami temani?" tawar Alice sembari tersenyum.
"Gak usah, Aku bisa sendiri kok," Chloe membalas senyum Eli, Menolak halus. "Ngomong-ngomong, Kak Eli suka bunga apa?"
"Dia suka bunga lavender dan mawar merah kalau tidak salah," Kata Alice menerka-nerka.
"Oke, Makasih infonya. Aku pergi dulu ya," Chloe melambai dan bergegas pergi.
"Ya, Hati-hati," Balas Alice dan Evelyn bersamaan sambil ikut melambaikan tangan mereka.
*************
[Toko bunga]
Kriingg!
Bel kecil berbunyi ketika Chloe memasuk sebuah toko bunga, Aroma bunga langsung tercium saat Chloe semakin mendekati meja kasir. Toko itu tampak tenang dan damai, Sangat asri terlebih berbagai jenis bunga ada disana. Sungguh sangat memanjakan mata siapapun yang melihatnya.
"Selamat datang di toko kami, Ada yang bisa saya bantu nona?" Seorang pegawai wanita tampak berdiri di belakang kasir, Dia bertanya dengan ramah sambil tersenyum.
"Ya, Bisa saya pesan satu buket bunga lavender dicampur bunga mawar merah?" Pinta Chloe.
"Baiklah, Akan saya siapkan. Mohon ditunggu," Pegawai itu bergegas menuju sebuah ruangan, Mengambil satu-persatu tangkai bunga dan merangkainya dalam satu buket.
Chloe hanya mengangguk kecil, Sembari menunggu. Netra birunya memperhatikan berbagai jenis bunga yang dijual disana, Hingga tatapannya tertuju pada sebuah vas berisi berbagai mawar biru yang sangat indah.
Sekelebat ingatan tentang anggota asrama tiba-tiba terlintas di pikiran Chloe, Terlebih ingatan dia tentang Aiden yang sangat menyukai mawar biru. Pria itu seolah menggunakan mawar biru sebagai simbol keberadaannya.
Gadis itu menghela napas dan tersenyum tipis. "Bahkan setiap melihat mawar biru aku masih bisa mengingat tentang mereka, Benar-benar ciri-ciri khas Black Shadow dan Aiden. Seolah Black Shadow juga disimbolkan dengan mawar biru,"
"Nona?"
Lamunan Chloe buyar setelah mendengar suara pegawai wanita itu, Dia menoleh dan merogoh saku jaketnya.
"Tolong sebuket mawar biru yang disana juga,"
"Ah, Baiklah,"
Si pegawai segera mengambil beberapa tangkai mawar biru dan kembali merangkainya. Chloe hanya memperhatikan dari jauh, Dia pikir mungkin setelah ini dia harus mengunjungi suatu tempat sebelum pulang.
*****************
Wuuussshhh!
Semilir angin bertiup pelan menerbangkan helai-helai rambut Chloe, Ditemani langit senja yang membentang luas. Dia melangkah diantara banyaknya pemakaman, Membawa dua buket bunga yang kini dalam genggamannya.
Chloe berhenti di sebuah makam bertuliskan nama 'Ian Maxwell' di batu nisannya bukan hanya makam Ian namun juga makam Rion, Raizel, Aiden, Felix, Devian, dan Justin yang baru saja mati kemarin dimakamkan disana. Nisan-nisan itu berdampingan seolah memang ditakdirkan untuk tidak terpisahkan. Ya, Chloe sedang mengunjungi nisan para anggota asrama yang telah mati karna misi dan hal lainnya.
Chloe akui, Mereka para anggota asrama yang telah gugur. Sangat hebat karna rela menyerahkan nyawa mereka sebagai gantinya saat misi dan saat kejadian Red Devil demi menyelamatkan anggota yang tersisa. Bahkan Justin sendiri selaku pemilik asrama rela berkorban untuk menghentikan Red Devil meski usahanya sia-sia.
Chloe menebak-nebak, Mungkinkah Justin rela mengorbankan dirinya karna merasa bersalah atas semua perbuatan saudara kembarnya pada para anggota asrama? Sejujurnya Chloe tidak yakin tentang hal itu, Tapi dia menghargai usaha Justin untuk menghentikan red devil.
Bagaimana pun menurut Chloe, Justin termasuk salah satu ketua sekaligus pemimpin yang hebat baginya. Walau pun semuanya sekarang hanya akan menjadi kenangan saja.
Gadis bersurai biru itu menjajarkan dirinya dengan batu nisan Ian, Lalu menaburkan kelopak bunga di setiap makam anggota asrama. Dia juga meletakkan setangkai bunga mawar biru yang dibelinya tadi di atas makam Aiden dan anggota lainnya. Sang gadis mengatupkan tangannya, Mulai berdoa dalam hati berharap teman-temannya tenang disana.
Usai berdoa, Chloe mengusap batu nisan Ian yang dekat dengannya.
__ADS_1
"Hei, Maaf baru bisa mengunjungi kalian sekarang. Yah, Kalian tahu. Banyak hal yang harus kutangani di luar sana setelah kalian pergi," Curhat Chloe memandangi satu-persatu batu nisan para anggota dihadapannya.
"Bagaimana kabar kalian? Kuharap kalian tenang disana. Hm...Jangan marah padaku atau pak Ezra, Karna kami berdua belum bisa menemukan Red devil. Kami juga punya urusan masing-masing yang harus diselesaikan,"
Sesaat Chloe menghembuskan napas kecil, Netranya bergulir pelan. "Kuharap kalian mendengarnya dan berada disini. Sejujurnya aku juga lelah, Aku ingin kembali ke kehidupan asliku. Aku ingin berhenti tapi tidak bisa, Karna aku belum mengakhiri semuanya. Aku merindukan keluarga asliku. Ayah, Mama, Dan kedua adik kembarku,"
Setetes cairan bening menetes dari mata Chloe, Gadis itu sedikit mencengkeram batu nisan Ian sambil menahan tangis.
"Aku ingin pulang...hiks...Aku rindu keluarga asliku, Aku rindu kalian keluarga angkatku...hiks...Aku juga rindu pak Ezra...," Chloe menangis dalam sesegukan, Dia menyembunyikan wajahnya dengan tangan.
Sesaat gadis itu merasakan seseorang menepuk puncak rambutnya, Seperti mengusap pelan seolah menenangkan. Saat Chloe mendongak, Dia tidak menemukan siapa pun selain dirinya disana. Wajahnya kembali murung dengan mata yang agak sembab sehabis menangis.
Sang gadis mengusap wajahnya dengan tisu menghilangkan sisa-sisa jejak air matanya, Dia menghirup udara dengan rakus mencoba menenangkan diri meski masih sedikit sesegukan.
"Uh...Maafkan aku, Aku jadi terbawa perasaan dan menangis di pemakaman. Rasanya jadi tidak sopan," Chloe masih mengusap wajahnya, Dia tidak peduli dianggap gila atau tidak karna bicara sendiri di area pemakaman. Untuk saat ini Chloe hanya ingin mengeluarkan semua keluhan yang dia pendam sendiri.
SRAK!
Hingga suara langkah kaki yang mendekat membuat Chloe terkejut, Dan menemukan Michelle brother (Rafael, Ash, Al, Azura) dan Maximillian brother (Xavier, Vallen, Kenzo, dan Alex) berada disana. Tatapan mereka tampak bingung sekaligus tak percaya.
"Chloe, Apa yang kau lakukan disini?" Ash yang memegangi sebuket bunga mendekati Chloe dan berdiri di belakang si gadis.
Chloe hanya diam, Dia tak menjawab dan hanya menunduk. Memegangi nisan Ian di hadapannya.
Alex terpaku sesaat, Memandang batu nisan Justin. Dia menjajarkan dirinya dan mengusap batu nisan itu.
"Ini...Benarkah nisan Justin? Atau kembarannya?" Netra Alex berkilat menahan emosi yang bergejolak dalam dirinya. Dengan cepat pandangannya beralih pada Chloe. "Hei! Jawab aku! Ini benar-benar Justin atau bukan?!"
"Ya...,"
Pandangan Alex menajam, Dia mencengkeram kedua pundak gadis itu.
"Katakan yang keras! Jangan lesu begitu!" Ucapnya sembari mengguncang pundak si gadis.
"IYA! Ini benar-benar makam pak Justin! Pak Ezra terpaksa membunuh raga pak Justin karna yang mengambil alih raga itu adalah pak Victor. Kembaran sekaligus kepribadian lain pak Justin!" Chloe menaikkan nada suaranya hingga hampir berteriak saking kesalnya dengan Alex.
Netra Alex melebar kaget, Begitu pun dengan Michelle brother dan Maximillian brother. Ash menatap batu nisan Ian dengan terkejut.
"Mati...Ian, Raizel, Kak Felix, Aiden, Rion, Devian, dan Pak Justin. Mereka semua mati," Kata Chloe menatap batu nisan Ian yang diusap Ash.
"Hah? Bahkan Felix Edricson calon penerus pengusaha terkenal ke-3 di dunia itu juga mati?!" Kata Al kaget.
"Chloe! Kau serius?!" Kata Azura masih tak Percaya.
"Bohong kan?! Yang kudengar Raizel yang satu grup dengan Ash, Al, dan Revan juga tiada?!" Kenzo mendekat ikut menjajarkan dirinya disamping Chloe.
"Kalau tidak percaya kalian lihat sendiri!" Chloe berdiri, Mengusap matanya yang kembali berair dengan kasar.
Ash terdiam memandangi para batu nisan yang berdampingan itu, Sedangkan Vallen memandang Chloe sesaat yang berdiri, Gadis itu berniat pergi dari pemakaman. Namun pundaknya ditahan oleh Rafael.
"Jangan bilang mereka yang ada dipemakaman ini satu kelompok denganmu dan si Ezra itu," Kata Rafael serius tanpa menoleh sedikit pun dan hanya menahan pundak Chloe.
"Ya, Benar. Pak Justin adalah pendiri sekaligus pemimpin kami, Black Shadow. Sekarang kalian puas kan sudah mengetahui tentang kami," Chloe melirik Rafael, Menepis tangan itu dari pundaknya.
"Eh, Black Shadow?! Bukannya itu nama Gengster yang terkenal ditakuti di seluruh dunia itu?! What? Jadi kau salah satu anggotanya?! Pembunuh ya," Al menunjuk-nunjuk Chloe terkejut dan hanya ditatap tenang oleh si gadis.
"Aku memang anggotanya, Tapi tidak pernah membunuh. Aku hanya melakukan misi yang diperintahkan pak Justin," Jawab Chloe tenang.
"Mana mungkin pihak polisi percaya begitu saja," Balas Xavier serius. "Kau ikut membunuh si Justin itu kan kemarin?!"
"Tidak, Aku bunuh hewannya,"
"Apa yang sebenarnya kalian bicarakan?" Kenzo memandang bingung namun diacuhkan semuanya.
"Sama saja! Intinya kau juga ikut membunuh," Tuding Vallen dengan senyum palsu nya.
Netra Chloe bergulir memandang tanah yang dipijakinya, Menyadari Chloe yang diam setelah obrolan itu berakhir Ash memutuskan mendekati si gadis dan menepuk pundaknya.
__ADS_1
"Aku percaya kau tidak akan melakukannya Chloe, Aku pernah mendengar dari Ian kalau kau itu gadis yang baik dan meski menurutnya kau agak sinting. Tapi itulah yang dia lihat darimu," Ash tersenyum tipis.
"Sinting?" Kening Chloe mengerut kesal, Yang benar saja ternyata Ian pun diam-diam menganggapnya menyebalkan. Tapi Chloe maklumi karna dia sendiri pun juga menganggap dirinya aneh.
"Ash, Kenapa kau begitu percaya dengan anak ini?!" Kata Al mengernyit dia kembali menunjuk Chloe.
Ash tersenyum kecil dan menjauhkan tangannya dari pundak Chloe, Mengalihkan pandangannya pada Al.
"Karna aku pun sudah tahu dari Ian dan Raizel, Mereka masuk dalam kelompok Black Shadow bersama Chloe. Aku sudah tahu tentang itu, Makanya aku memilih diam dan membiarkan saja," Ash kembali memandang Chloe dan mengacak rambut gadis itu pelan. "Dan kau Chloe, Raizel selalu menceritakan tentang dirimu padaku. Sepertinya dia sangat menyukaimu apalagi setelah kau masuk kelompok Black Shadow,"
"Huh? Raizel dan Ian bilang begitu tentangku?" Chloe memiringkan kepalanya bingung, Sesaat membiarkan Ash mengacak rambutnya.
Ash mengangguk pelan masih tersenyum. "Ya, Sebelumnya mereka berdua bukan orang yang seperti itu. Sepertinya kau sangat berarti bagi mereka, Makanya aku percaya kau gadis yang baik. Soalnya aku pernah mengunjungi asrama Black Shadow sekali, Hanya melihat dari jauh saja,"
"Kau membuat para anggota asrama itu jadi lebih baik dari sebelumnya setelah kedatanganmu, Apalagi orang seperti pak Ezra. Aku salut padamu karna sabar menghadapi sikap kasarnya selama di asrama," Ash tertawa kecil membuat Chloe terkejut.
"Ja-Jadi kak Ash juga tahu soal para anggota asrama, Jangan-jangan dari Raizel atau Ian?!" Kata Chloe kaget.
"Yap benar, Tapi lebih banyak dari Raizel sih,"
"Hei! Curang! Kenapa hanya kau yang menjadi tempat curhat Raizel dan Ian?! Aku bahkan tidak tahu apapun soal Black Shadow!" Kata Al kesal.
"Kalau mereka memberitahumu, Bisa-bisa kau akan membongkar identitas mereka dan membuat mereka dalam masalah. Mulutmu kan ember," Ash kembali tertawa namun kini terselip nada mengejek dari nada suaranya.
Al menggerutu kesal sambil bersidekap, Sedangkan Xavier dan yang lainnya kembali memandang batu nisan yang berdampingan itu dihadapan mereka.
"Ngomong-ngomong apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Chloe memandangi Xavier dan yang lainnya.
"Kami berniat ziarah ke makam orang tua kami, Lebih tepatnya orang tua pihak keluarga Michelle dan pihak keluarga Maximillian. Tapi kami tidak sengaja menemukanmu disini," Jelas Kenzo.
"Kalian ziarah juga ya, Tidak seperti biasanya barengan?"
"Hah?! Kami hanya tidak sengaja bertemu dan kebetulan ingin ketujuan yang sama. Jangan salah paham ya!" Xavier mendelik yang mendapat tatapan tenang dari Chloe.
"Oh, Pantas saja," Si gadis kemudian melirik Alex yang masih mengusap batu nisan Justin, Pria bernetra orange itu tampak sedih dan mencoba menahan tangis. Chloe tahu Alex merasa sedih, Dia pun sebenarnya juga sedih saat berkunjung ke pemakaman ini.
"Setelah kematian teman-temanmu ini, Apa yang akan kau lakukan sekarang? Apa kau juga akan berniat balas dendam seperti temanmu yang bernama Ezra itu?" Azura berdiri setelah meletakkan setangkai bunga diatas batu nisan Justin dan Felix lalu memandangi Chloe.
"Aku tidak tahu, Sejujurnya aku lelah dan ingin berhenti. Tapi tidak bisa, Aku merasa harus mengakhiri semua masalah dulu baru bisa merasa tenang," Chloe menoleh memandangi batu nisan anggota asrama. "Karna aku sudah janji pada mereka akan menyelesaikan semuanya bersama pak Ezra, Barulah setelah itu aku akan...,"
Chloe diam sesaat menjeda kata-katanya, Memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah bisa mengalahkan Vivian dan Liam. Sungguh, Chloe sendiri tak memiliki rencana apapun selain berpikir untuk pulang ke dunianya, Dunia dimana dia bisa hidup tenang bersama keluarga kandungnya.
"Akan?" Sambung Rafael menaikkan satu alisnya menunggu Chloe melanjutkan kalimatnya.
"Akan hidup bahagia bersama keluarga kandungku," Gadis itu tersenyum lebar menyembunyikan kesedihannya.
Kening Xavier mengerut setelah mendengar ucapan Chloe. "Akan hidup bahagia bersama keluarga kandung? Maksudmu kami keluarga Maximillian?"
"Bisa jadi," Si gadis terkekeh kecil melihat raut kebingungan dari masing-masing Michelle dan Maximillian brother bahkan termasuk Alex yang sudah selesai dengan ziarahnya.
"Ck! Anak ini memang tidak jelas," Decak Alex bersidekap kesal.
Chloe hanya menanggapinya dengan tersenyum, Kemudian pandangannya tertuju pada langit senja di atas mereka. Matahari tampak semakin condong ke arah barat menandakan langit yang sebentar lagi malam. Tak lama entah datang dari mana, Semilir angin bertiup pelan menerbangkan helai-helai rambut Chloe termasuk kelopak-kelopak bunga mawar biru.
Kelopak-kelopak mawar biru itu seolah terbang mengelilingi mereka, Tangan Chloe terulur ketika sebuah kelopak bunga mendarat di tangannya. Chloe memandangi kelopak bunga itu sesaat, Perlahan senyum lembut tersungging di bibirnya.
Ah, Tangannya seakan merasa hangat saat kelopak bunga itu berada dalam genggamannya. Mungkinkah anggota asrama ada disini meski mereka tidak terlihat?
Chloe mendongak kembali memandang langit senja. "Teman-teman, Kalian disini ya? Aku senang meski tidak melihat kalian secara langsung tidak seperti dulu,"
Chloe membiarkan kelopak bunga di tangannya kembali terbang tertiup angin bersama kelopak bunga lainnya, Gadis itu membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan sejenak.
"Kalau begitu aku pulang duluan, Puas-puas lah kalian ziarah disini. Bye!" Gadis itu berbalik sesaat dan melambai pelan pada Michelle dan Maximillian brother.
Lalu dia melangkah pergi keluar dari area pemakaman. Sedangkan Michelle dan Maximillian brother yang ditinggal hanya menatap heran di raut wajah masing-masing.
"Sungguh kebetulan kita mengunjungi pemakaman secara bersamaan seperti ini," Kata Al memandangi kepergian Chloe.
__ADS_1
"Lebih baik kita segera ke makam orang tua kita sebelum gelap," Kata Rafael dingin sambil berjalan lebih dulu ke makam orang tua mereka diikuti adik-adiknya. Tak lama Maximillian brother ikut menyusul.
TBC