
Herry dan Lian tidak pergi bekerja, ingin menghabiskan waktu bersama Freya katanya. Siang harinya Jenneth pulang, lebih tepatnya Lina meminta ia pulang.
Dari ekspresinya terlihat malas, orang tuanya selalu memanjakan Freya lebih dari anaknya sendiri. Wajar jika ia cemburu dan iri dengan Freya.
"Kak Jenneth, selamat datang," Freya menyambutnya dengan ceria.
"Ayah, ibu, kakak, apa kabar?" Jenneth mengacuhkan sapaan Freya.
"Kak Jenneth," Freya memanggilnya lagi dengan ceria, bahkan memeluk lengan Jenneth. Jenneth langsung memberikan ekspresi tak suka.
Entah bagaimana Freya memang tak peka atau sengaja, intinya Jenneth sejak kecil kurang menyukai gadis ini.
"Ibu kenapa memanggilku?" Jenneth sekali lagi mengacuhkan Freya. Melepaskan pelukan Freya berjalan kearah ibunya bertanya.
Freya yang baru sadar Jenneth menolak untuk berada didekatnya langsung berhenti mendekat. Mundur menjauh, menundukan kepalanya sedih.
Selain Jenneth, semua yang berada disana melihat Freya bersedih menjadi sedih juga.
"Jen, tak bisakah kau bersikap baik sedikit kepada Yaya, kamu membuatnya sedih," Lian yang ikut sedih membela Freya. Ia mendekati dan menarik tangan Freya untuk berada disampingnya, digenggamnya tangan itu.
Jenneth yang mendengar menatap Lian lalu beralih ke Freya.
"Huh! Dia memiliki mata kenapa masih bertanya? Aku tau dia sengaja melakukannya," Sarkas nya. Freya yang mendengar menjadi gemetar dan Lian merasakan itu.
"Hentikan. Dia hanya ingin bertanya saja," Lian kembali membela Freya. Kedua orang tuanya tak menghentikan Lian, karena Jenneth sudah berlebihan.
"Cih," Jenneth membuang mukanya kesal. Dia adalah adik kandungnya, tapi kenapa kakaknya lebih membela adik sepupunya itu.
"Cukup Jen. Bersikap baik lah pada Freya," Herry memutus percakapan adik kakak itu sebelum memanas. Jenneth dan yang lain langsung duduk di sofa setelah Herry angkat bicara.
"Dia akan bersekolah ditempat yang sama denganmu, jadi jaga dia baik-baik. Setidaknya dua minggu pertama kamu harus berada disampingnya. Dia tinggal di apartemen L'avenue tidak jauh dari apartemenmu," lanjutnya.
"Dia pindah sekolah? Kenapa aku yang harus menjaganya? Ayah pikir aku pengasuhnya?" ketus Jenneth.
"Jen, hanya kamu yang dikenal Freya disini. Kamu kan kakak sepupunya," Lina membujuk anak bungsunya.
"Ibu aku sibuk. Tak sempat untuk menjaganya, lagian dia sudah besar,"
"Tidak ada penolakan! Freya kan baru kali ini jauh dari rumah jadi kamu harus menemaninya. Kalau tidak kamu tak akan dapat uang saku," tegas Herry.
"Ck. Iya, hanya dua minggu setelah itu selesai," ucap Jenneth malas.
"Aku harus kembali. Cepatlah," Jenneth berdiri melihat Freya.
Freya yang mengerti segera ikut berdiri kemudian berpamitan dengan Herry, Lina, dan Lian yang memeluknya erat tanda perpisahan.
Freya mengikuti Jenneth dari belakang. "Kak Jen, kita akan naik apa?"
"Bis," singkat Jenneth tanpa melihat Freya.
"Itu... Kak Jen, aku akan memesan taksi. Bisakah kita memakai taksi saja?" tanya Freya pelan.
"Hm," deheman Jenneth membuatnya lega, segera memesan taksi.
Taksi berhenti di depan apartemen milik Freya. Mereka mengantar Freya terlebih dahulu. Freya membayar biaya taksi nya dan Jenneth. Toh, ia yang memesan taksi.
"Kalau begitu sampai jumpa lagi Kak Jen," ucapnya riang. Lagi-lagi Jenneth hanya berdehem malas menanggapi, mobil taksi langsung menjauh sebagai tanda perpisahan.
*
__ADS_1
*
Hari sudah sore. Freya tidak pulang ke apartemennya, malah berjalan ke supermarket terdekat. Dia akan membeli bahan-bahan makanan karena kemarin hanya membeli cemilan saja.
Sambil mendorong troli, ia mengelilingi supermarket. Dia hanya perlu mengisi kulkas karena beras sudah ada di apartnya.
Mengambil sayuran, buah, telur, daging, susu, yougurt, keju, sosis, dan banyak bahan lainnya. Tak lupa mengambil bahan-bahan untuk kue, berencana membuat kue. Terakhir dia mengambil minuman bersoda, berencana untuk berbeqyu, jadi soda sangat dibutuhkan. Kapan lagi makan bebas.
Setelah puas dengan kegiatannya, ia segera berjalan kearah kasir.
Saat berjalan, ia teringat cemilan yang kemarin tak ia beli karena kehabisan stok sudah diisi kembali. Hanya saja cemilan itu berada di rak paling tinggi.
Berjinjit untuk mengambil cemilan, tapi apalah daya dirinya yang pendek tidak bisa menggapainya walau harus melompat sekaligus.
Pasrah. Menurunkan tangannya kembali. Sebuah tangan lain terulur dari belakang, mengambil cemilan cemilan itu.
Freya berbalik, wajahnya sangat dekat dengan dada orang itu.
"Kak Agam?" Agam tersenyum dan memberikan itu pada Freya.
"Terima kasih,"
Agam mengangguk. "Kita bertemu lagi,"
Sekarang Freya yang mengangguk, tersenyum.
Agam membalas senyumannya, beralih ke troli milik Freya berisi banyak bahan-bahan lalu melihat tubuh mungil Freya.
"Kau membeli begitu banyak, apa bisa membawanya?"
"Mm, mungkin," jawab Freya ragu. Dia tak berpikir sejauh itu, yang dipikirkan hanya berbelanja.
"Eh? Tidak perlu, aku bisa sendiri," suara kecil Freya hanya seperti gumaman saja.
"Apa ada lagi yang ingin kau beli?" Agam menghiraukan penolakan Freya.
Freya menggeleng, tak ada yang ingin dibelinya lagi. Mengerti, Agam membawa troli menuju kasir.
Keluar dari supermarket setelah membayar, keduanya berjalan beriringan. Semua belanjaan dibawa Agam. Freya ingin membawa sebagian tapi ditolak.
Saat sudah dekat dengan apartemen, Freya segera membuka pintu. Ingin mengambil alih belanjaan, Agam lebih dulu memperhatikan tangan mungilnya. Tak yakin Freya bisa membawa semua barang ke dapur.
"Biarkan aku saja yang membawanya,"
Freya mengangguk saja, tak yakin juga bisa mengangkat semuanya. Ia memimpin jalan menuju dapur.
Setelah sampai Agam langsung menaruh barang di meja dapur dekat wastafel.
Freya memperhatikannya, sedang memikirkan apakah dia harus mengajak Agam makan malam. Biar bagaimanapun Agam sudah membantunya. Tapi akan sangat canggung bila mengajaknya. Apalagi keduanya baru berkenalan kemarin.
Bagaimana ini? Freya terlalu berpikir keras, bahkan tak menyadari kalau dia sedang di perhatikan.
*Gadis ini, pikirannya selalu dituangkan di ekspresi wajahnya,* pikir Agam gemas.
[Ding! Minat cinta Agam Savian Dhananjaya + 5%]
"Aku pulang dulu, sampai jumpa," lamunan Freya pecah. Dapat dilihat Agam berjalan menuju pintu dan keluar apartemen. Freya langsung mengikuti dari belakang.
Agam berbalik, tersenyum padanya sebelum memasuki apartemennya sendiri.
__ADS_1
Pintu tertutup. Freya kembali ke dapur menata barang-barang yang dibelinya.
[Host! Kenapa tidak mengundangnya makan malam? Gunakan kesempatan sebaik mungkin]
Ucapkan halo kepada Panpan yang di chapter sebelumnya gak muncul^^
Freya memutar bola matanya malas. "Bukankah minat cintanya bertambah?"
[Iya sih, tapi lebih baik lebih cepat] cerocos Panpan.
Freya memandang Panpan yang saat ini sedang duduk di meja makan dengan memakan cemilan. Ada ya panda makan cemilan bukan bambu?
"Bukankah kemarin kau sudah bilang begitu?" Panpan langsung kicep.
"Tenang saja. Kau tinggal tunggu saja, oke?" Freya teringat sejak kemarin belum melihat status. Apakah sudah bertambah atau belum.
"Status,"
[Nama : Freya (Alleya M)
Misi : Mengumpulkan minat cinta (Kehidupan kedua)
Karma: (.../100.000)
Poin : 300
Kecantikan : ?? (60% kecantikan) (85% keimutan)
Ketertarikan : ?? (92% ketertarikan)
Keberuntungan : 85%
Minat cinta : (Agam) 10% /100%
Shop>
Skill>
(Pengendalian emosi lv.2)
Inventory>
Quest>
(Quest utama : Rebut most wanted yang ada di hati sepupu)
(Quest dadakan : Menjadi siswa baru disekolah kedua tokoh utama dan batalkan pertemuan mereka yang akan membuat persentase tokoh utama laki-laki menurun padamu)
Batas waktu : 5 bulan (4 bulan : 2 minggu)
Waktu liburan : 100.000 tahun
Dunia : Dunia Modern]
Freya tersenyum melihat status nya.
"Walau belum banyak, tetapi aku bangga dengan diriku sendiri," Panpan yang melihat host nya begitu bangga hanya dapat menghela nafas lelah.
"Jenneth, tunggu tanggal mainnya. Hehehe,"
__ADS_1