System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Michelle VS Maximillian (3)


__ADS_3

Alex memungut pecahan kaca yang berserakan di sekitar meja, Dia terus menggerutu dalam hati. Menyumpah serapah kepada kedua kakaknya si Xavier dan Vallen yang membuat kekacauan di mansion Michelle.


Para Michelle dan Maximillian brother yang lain pun juga mendapat hukuman yang sama, Mereka memunguti pecahan kaca sekaligus membereskan kekacauan yang dibuat Xavier dan Vallen.


Ray tampak duduk santai sembari meminum secangkir teh, Sedangkan Elizabeth disamping Ray sibuk mengutak-atik handphonenya sembari menunggu adik-adiknya selesai dari hukuman.


Selama beberapa menit mereka diam dalam keheningan, Usai menyelesaikan hukuman. Para Michelle dan Maximillian brother mengambil tempat duduk masing-masing, Menunggu Ray atau pun Eli membuka suara.


Tak!


Ray meletakkan cangkirnya, Hembusan napas pelan terdengar dari pria bersurai coklat muda itu. Kemudian pandangannya tertuju pada Michelle dan Maximillian brother. Membuka suara dengan nada kesal terselip disana.


"Kalian apakah tidak bisa akur sehari saja saat pertemuan? Kakak sudah lelah dengan tingkah kekanak-kanakan kalian," Kata Ray menatap lelah.


"Aku setuju dengan Ray," Elizabeth memejamkan mata sesaat, Sebelum membukanya kembali sambil bersidekap. "Aku mentoleransi kekacauan yang kalian buat sebelum-sebelumnya. Tapi sekarang kesabaranku sudah habis karna kalian uji terus-menerus, Kali ini tidak ada kata toleransi lagi untuk kalian!"


"Tapi mereka para Maximillian yang memulai duluan!" Seru Revan membela diri dan para saudaranya.


"Bukan kami, Tapi mereka yang menguji kesabaran kami," Xavier ikut membela diri, Menatap serius.


Eli memijit keningnya sesaat, Menghembuskan napas lelah. "Mau dari Michelle atau pun Maximillian, Kalian tetaplah salah. Siapa yang memulai lebih dulu tidak penting. Aku dan Ray sebagai kepala keluarga meminta kalian untuk tidak mengulangi kejadian seperti ini. Ingat, Sebentar lagi kita akan menjadi satu keluarga. Jadi kalian harus mulai berusaha akur dari sekarang,"


Alex menatap jengkel, Dia memalingkan pandangannya dengan aura kesal. "Satu keluarga dengan mereka? Cih! Gak sudi!"


"Mau kujahit mulutmu itu?! Dasar gak sopan!" Rafael mengepalkan tangannya sambil mendelik tajam, Menahan diri untuk tidak memukul Alex tepat dihadapan Ray dan Eli.


"Sudahlah! Jangan mancing emosi lagi! Kita berkumpul disini untuk mendiskusikan anggota baru di keluarga Maximillian, Bukan mendengar pertengkaran kalian!" Potong Ray cepat, Kesabarannya hampir habis karna terus-menerus mendengar pertengkaran para adik-adiknya dan adik-adik Eli.


Suasanya hening sesaat, Xavier mendengus kecil sebelum membuka suara.


"Kak Ray, Benar-benar berniat memasukkan anak itu sebagai anggota keluarga kita? Dia saja masih belum jelas asal usulnya, Mengapa kakak malah bersikeras memasukkannya?" Kening Xavier mengerut.


"Iya, Kakak yakin sekali dia adik kandung kakak yang hilang selama belasan tahun. Kami sedarah, Dia pantas mendapatkan apa yang menjadi hak nya. Karna dia satu-satunya adik kandung kakak," Ray menatap lembut yang membuat Xavier serta Maximillian brother lainnya tersentak.


Seketika tatapan Kenzo menjadi sendu. "Apakah selama ini Kak Ray tidak menganggap kami adik kandungnya dan hanya dianggap adik angkat? Kami memang berasal dari panti asuhan dan memang tidak sedarah dengan kak Ray tapi tetap saja entah mengapa aku merasa sedih hanya dianggap adik angkat,"


Ray membuka suaranya kembali setelah menjeda kalimatnya beberapa saat. "Dan sesuai tradisi dari keluarga Maximillian, anggota keluarga yang sedarah dengan kepala keluarga Maximillian akan mendapat 65% bagian saham perusahaan milik Maximillian dan akan memimpin perusahaan itu sendiri,"


Seketika para Michelle dan Maximillian brother terperangah mendengarnya, Masing-masing dari mereka merasa tak percaya.


"Maksudnya...Chloe yang akan memimpin perusahaan itu setelah dia mendapat 65% saham perusahaan milik Maximillian?" Tanya Ivy agak tergagap karna masih dalam keterkejutannya.


"Benar, Dia akan memimpin perusahaannya sendiri. Keluarga kami memiliki banyak saham dimana-mana, Jadi tidak masalah jika satu atau dua perusahaan diberikan pada penerus keluarga Maximillian. Hanya aku dan Chloe yang murni sedarah setelah ayah dan ibu kami. Mulai sekarang dia harus tahu bagaimana kehidupan di keluarga Maximillian," Jelas Ray sesaat menyesap tehnya kembali, Menyegarkan kerongkongannya yang agak kering.


"Lalu kami ber-4 kakak anggap apa, Jika hanya anak itu yang kakak anggap adik kandung?!" Vallen tak terima, Mencengkeram gelas di tangannya erat.


Tak!


Tatapan Ray melunak. "Maafkan aku, Tapi itu sudah tradisi keluarga kami. Kalian tetaplah adikku, Aku menyayangi kalian. Tapi hanya anggota keluarga murni dan sedarah yang bisa memiliki aset perusahaan milik Maximillian, Makanya waktu itu ayah berusaha keras mencarikan pekerjaan untuk kalian agar suatu saat nanti kalian bisa memenuhi kebutuhan kalian dengan kerja keras tanpa bergantung pada aset keluarga Maximillian,"


"Jadi...Kami tidak mendapat bagian sedikit pun dari keluarga ini," Kata Alex, Nadanya sedikit gemetar. Menatap terkejut.


Ray menundukkan kepalanya seolah membenarkan perkataan Alex. "Maaf, Sebagai gantinya kalian mendapat bagian dari pekerjaan dan hasil kerja keras kalian sendiri,"


Para Maximillian brother terdiam seketika, Jelas saat ini mereka merasa jengkel dan kesal. Pengakuan Ray yang baru diberitahu sekarang membuat rasa jengkel itu semakin memuncak dalam diri masing-masing.


"Kenapa hanya anak itu yang mendapat sebagian aset keluarga Maximillian, Anak yang tiba-tiba hadir di keluarga ini dan menyingkirkan kami ber-4. Padahal selama ini kami yang selalu bersama kak Ray, Bukan dia. Tapi sejak anak itu datang, Perhatian kak Ray jadi terus tertuju padanya," Pikir Alex merasa geram dan marah bercampur dalam dirinya.


"Kakak harap kalian bisa menerima Chloe setelah acara pernikahanku dan Eli berakhir," Tambah Ray masih tersenyum lembut.


Maximillian brother hanya diam tidak ada satu pun yang menjawab sedangkan sebagian Michelle brother mengangguk (Kecuali Revan dan Rafael).


"Ah, Dan satu lagi. Di keluarga Maximillian kami punya tradisi unik. Keluarga Maximillian sering melahirkan keturunan anak laki-laki dari berabad-abad dulu, Jarang melahirkan keturunan anak perempuan. Jadi setiap anak perempuan yang lahir di keluarga kami akan ditunangkan dengan keluarga lain, Statusnya sih masih menjadi kandidat pasangan. Maka anak perempuan itu akan dipasangkan dengan banyak anak laki-laki dari keluarga lain, Setelah mendapat pasangan yang cocok. Anak perempuan di keluarga kami dan pasangannya akan dilanjutkan ke tahap pertunangan sampai menikah," Ray tersenyum senang, Tampak terlihat semangat menjelaskan hal itu pada adiknya-adiknya.


"Apa maksudnya itu?" Azura memandang bingung tak mengerti, Begitu pun dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Keluarga Maximillian selalu melahirkan keturunan anak laki-laki, Ray salah satunya. Jarang melahirkan anak perempuan, Tapi beberapa tahun kemudian Chloe lahir setelah Ray, Karna Chloe anak perempuan, Dia harus mengikuti tradisi yang sudah dilakukan berabad-abad lalu di keluarga Maximillian yaitu mencarikannya kandidat pasangan yang cocok sebagai tunangan sampai tahap pernikahan," Kata Eli menjelaskan maksud dari perkataan Ray.


"Kami berdua, Sebagai kepala keluarga Michelle dan Maximillian sepakat menjadikan kalian. Michelle brother dan Maximillian brother sebagai kandidat pasangan Chloe, Kalian tidak boleh bermesraan dengan perempuan lain selain dia. Dan nantinya Chloe akan memilih salah satu diantara kalian jika merasa cocok," Elizabeth tersenyum penuh kemenangan.


Revan tersedak minuman yang diminumnya sedangkan Al hampir menyemburkan minumannya sendiri. Sisanya semakin terperangah dengan tradisi gila yang dilakukan di keluarga Maximillian.


"Apa-apaan itu?! Kalian pikir ini ajang pencarian jodoh?! Pakai acara kandidat tunangan segala!" Kata Revan tak terima, Dia menggebrak meja didepannya hingga meja itu sedikit terguncang.


"Aku menolak! Menjadi kandidat tunangan bocah sepertinya?! Jangankan menjadi kandidatnya, Melihat wajahnya saja sudah membuatku muak! Jangan menjadikan kami sebagai boneka kalian!" Bentak Alex ikut tak terima.


"Kurasa tradisi ini aneh, Aku juga tidak ingin menjadi kandidat tunangan. Bukannya aku tidak suka dengan kehadiran Chloe disini, Hanya saja dia bukan tipeku," Kata Azura lirih, Dengan canggung ia mencengkeram ujung syalnya.


"Kak Eli, Umurku dengannya terpaut jauh. Aku tidak ingin dipandang orang lain sebagai pedo, Jadi aku menolak menjadi kandidat tunangan," Rafael bersidekap sambil memandang dingin.


"Aku setuju dengan pendapat Azura, Dia juga bukan tipeku. Dan juga aku tidak suka dengan cewek bertubuh pendek dan kecil," Al ikut mengeluarkan pendapatnya sembari mengelap mulutnya dengan tisu.


"Tipeku adalah cewek imut bagai boneka, Dan anak itu jauh dari tipeku. Jadi aku tidak mau sama dia," Kata Leo menggeleng kecil.


"Aku suka cewek yang bisa masak, Selama tinggal disini, Aku tidak pernah melihatnya masak. Jadi aku juga tidak mau," Leon memalingkan wajahnya ke arah lain.


Ash memandang para saudaranya sesaat sebelum ikut menyahut. "Dia anak yang baik dan penurut, Aku tidak masalah jika menjadi kandidat tunangannya. Hanya saja aku tidak yakin Chloe setuju dengan tradisi ini,"


"Aku setuju dengan Kak Ash, Aku juga tidak keberatan jadi kandidat tunangan Chloe. Dia selalu melindungiku dari bahaya, Dia juga sangat baik dan pengertian. Aku juga ingin bisa melindunginya, Makanya aku menerima tradisi ini," Netra Ivy berbinar senang, Pipinya merona tipis dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.


Mendengar pendapat Ash dan Ivy sontak para saudaranya yang lain memandang keduanya.


"Ash, Ivy! Apa kalian berdua yakin?!" Tanya Al terkejut.


"Kalau tidak dicoba mana tahu kan? Lagipula belun tentu aku atau Ivy akan dipilih olehnya," Ash tersenyum simpul yang membuat Al diam seketika.


"Iya, Belum tentu juga yang penting usaha kan," Ivy menanggapinya dengan semangat.


Ray memandang heran setelah mendengar pendapat masing-masing dari adik-adik Eli, Tampaknya masih banyak diantara mereka yang tak setuju dengan tradisi keluarganya.


"Aku menolak! Aku lebih mementingkan pekerjaanku dibanding masalah percintaan seperti ini," Kata Xavier tegas dan serius.


"Aku juga sama," Alex ikut menyetujui.


Vallen sesaat diam memikirkan jawaban yang cocok untuk Ray, Dia memutar-mutar pistol di tangannya. "Hm...Aku tidak terpikirkan sampai sana, Kurasa tidak ada yang menarik darinya,"


Ray mengangguk paham atas perkataan Vallen, Artinya pemuda bersurai coklat muda itu ikut menolak sama seperti Xavier dan Alex.


"Bagitu, Jadi diantara kalian semua hanya Ash dan Ivy yang menerima. Tapi bagaimana dengan jawabanmu Kenzo, Hanya kau yang belum memberikan jawaban?" Ray mengalihkan pandangannya pada Kenzo yang hanya diam mendengarkan jawaban dari para saudaranya yang lain.


Mendengar pertanyaan Ray sesaat Kenzo tersentak, Kemudian ia balik memandang Ray sambil mengusap salah satu lengannya. Ekspresi wajahnya tak bisa ditebak.


"Aku tidak tahu, Keputusan ini sangat mendadak. Dan juga aku tidak yakin anak itu mau menerima keputusan ini. Ditambah keberadaan pria itu, Sepertinya aku menduga hubungan mereka sangat dekat. Jadi kau tidak bisa meminta kami menjadi kandidat tunangannya Kak Ray," Jelas Kenzo.


"Seperti yang kudengar, Anak itu menganggap temannya sebagai keluarga, Dia bahkan memohon padaku untuk menolong temannya yang sakit. Aku sudah berasumsi bahwa hubungan mereka tidak biasa, Maka dari itu aku tidak ingin hubungan anak itu merenggang hanya karna perkara kandidat tunangan ini!" Kenzo mencengkeram celananya, Sembari menunduk.


"Ah, Benar juga. Aku baru sadar setelah mendengar kata keluarga dari Chloe, Sepertinya keberadaan Pak Ceo sangat berharga baginya," Ash tersenyum hambar, Tatapannya berubah sendu. "Aku berubah pikiran, Kutolak tradisi itu. Rasanya aneh juga kalau Chloe harus mengikutinya,"


Ray mengerutkan alisnya, Tatapannya beralih pada Ash. "Mana bisa kau merubah keputusanmu begitu saja?! Ivy bagaimana denganmu, Apa kau berubah pikiran juga?"


Ivy menimbang-nimbang penjelasan dari Ash sebelum memutuskan, Ia bersidekap. "Um...Entahlah, Untuk sekarang aku tidak berubah pikiran. Aku akan usaha dulu, Tapi kalau memang benar apa yang dikatakan Kak Ash maka aku akan mundur,"


Ray mendengus. "Kalau hanya masalahnya karna kehadiran temannya itu, Aku bisa meminta Chloe menjauhi temannya kalau temannya sudah sembuh nanti. Dengan begitu Chloe hanya fokus dengan kalian yang berstatus kandidat tunangannya,"


"Jangan merusak hubungan orang lain! Coba kalau kak Ray atau kak Eli berada di posisi Chloe, Mengikuti tradisi dari keluarga Maximillian. Bagaimana perasaan kalian? Apa lagi saat itu jika kalian mencintai orang lain yang bukan dari pilihan kandidat tunangan kalian," Kata Rafael datar yang membuat Ray dan Eli seketika bungkam serta merenung.


Tap! Tap! Tap!


Ruangan beberapa detik kemudian dilanda keheningan setelah pertanyaan terakhir Rafael, Disaat bersamaan suara langkah kaki dan derit pintu terdengar mendekat.


Cklek!

__ADS_1


"Aku pulang,"


Chloe memasuki mansion Michelle, Gadis itu menenteng sekantong plastik berisi bahan makanan dan sebuket bunga mawar biru dan anggrek di tangannya masing-masing. Sejenak netra birunya memperhatikan Michelle dan Maximillian brother yang berkumpul bersama Ray dan Eli.


"Apa aku melewatkan pembicaraan penting?" Tanya Chloe menyadari raut wajah Ray dan Eli yang berbeda dari biasanya.


Menyadari suara Chloe dari ambang pintu membuat Ray dan Eli menoleh, Sesaat Ray tersenyum tipis.


"Iya, Ada beberapa obrolan penting yang kami bicarakan. Nanti Eli akan memberitahumu, Ngomong-ngomong kau habis dari mana?" Ray memperhatikan bahan makanan dan sebuket bunga yang Chloe bawa.


"Habis membeli obat sekalian membeli beberapa cemilan," Jawab Chloe mendekati tempat Ray dan Eli duduk.


"Oh, Bunganya cantik sekali. Buat siapa?" Eli mengalihkan topik, Menarik perhatian Chloe.


"Rencananya mau kutaruh di vas bunga kamar Pak Ezra, Aku ingin dia merasa lebih segar saat bangun nanti," Chloe mengambil beberapa tangkai bunga dari buketnya lalu menyodorkan setangkai bunga mawar biru pada Ray dan Eli.


"Untuk kak Ray dan Kak Eli, Aku tidak tahu kalian menyukainya atau tidak. Kuharap kalian tidak alergi pada bunga,"


"Eh?" Eli agak terkejut karna Chloe menyodorkan bunga mawar padanya sedangkan Ray memandang heran, Namun keduanya menerima bunga itu dengan senang hati.


"Terima kasih," Ray tersenyum lembut, Memegangi setangkai mawar dalam genggamannya.


"Sama-sama,"


"Untukku tidak ada Chloe?"


Suara Ash mengalihkan pandangan Chloe, Ivy bahkan menatapnya dengan netra berbinar penuh harap agar bisa mendapatkan bunga juga.


Chloe tersenyum simpul, Dia mematahkan salah satu tangkai bunga mawar lalu dan setangkai satunya ia berikan pada Ash. Chloe mendekati Ivy lalu menyelipkan setangkai mawar yang sudah ia patahkan batangnya di helai-helai rambut Ivy. Membuat penampilan Ivy semakin imut, Wajah Ivy merona karna wajah Chloe yang dekat dengannya.


"Hehehe, Kau jadi terlihat semakin manis Ivy," Chloe terkekeh kecil sembari menepuk pelan surai ungu milik pemuda itu.


"Manis...," Ivy tergagap, Wajahnya semakin memerah. Ia menunduk malu. "M-Makasih Chloe,"


Revan yang melihat reaksi malu Ivy apalagi wajah saudara bungsunya yang semakin memerah itu mulai merasa geram dengan Chloe, Dia sontak berdiri dan mengulurkan kedua tangannya berniat mencekik sang gadis.


"KEMARI KAU! KUBUNUH DENGAN TANGANKU SENDIRI!" Teriak Revan marah, Dia ingin mengejar Chloe yang refleks menjauhi Ivy karna melihat wajah marah Revan.


Alhasil dengan cepat Ash dan Al menahan tubuh Revan karna pemuda itu semakin mengamuk.


"Oi, Revan! Sadar diri, Chloe cuma ngasih bunga aja. Gak usah berlebihan," Kata Al panik, Berusaha keras agar Revan tak lepas dari cengkeramannya.


"Revan, Tenang dulu," Pinta Ash kalem, Masih memegangi lengan Revan.


Chloe mengerjapkan matanya karna Revan terus memandanginya tajam. Apalagi pemuda itu berusaha lepas dari tahanan Ash dan Al, Dengan santainya Chloe mengambil setangkai aggrek dari buket bunganya lalu mematahkan batangnya.


"Kak Revan kalau mau bunga bilang aja, Jangan ngamuk begitu. Pasti kukasih kok kalau Kak Revan minta baik-baik," Chloe mendekati Revan yang membuat Al dan Ash keringat dingin.


"Sebenarnya bunga anggrek khusus buat Pak Ezra, Tapi khusus Kak Revan kukasih satu," Chloe menyisipkan bunga itu di helai-helai rambut Revan, Membuat Revan semakin melotot karenanya. "Kutaruh disini biar kembaran sama Ivy,"


Melihat sikap santai Chloe, Membuat Azura dan yang lainnya speecheless (Kecuali Revan).


"Anak ini kelewatan gak peka atau bodoh?! Sudah kelihatan kalau Kak Revan cemburu. Dia malah ngasih bunga dengan santainya," Pikir Azura masih specheless.


Bukannya senang, Aura Revan semakin suram. Giginya bergemeletuk kesal dan geram. Dengan sekali sentakan tahanan Ash dan Al terlepas dari tangannya, Dia mengambil bunga yang terselip di rambutnya lalu membuangnya sembari menginjak-injak hingga bunga itu tak berbentuk lagi.


"Sialan kau! Kau pikir aku senang dikasih bunga murahan begini hah?!" Bentak Revan marah.


Merasa nyawanya tak aman, Tanpa membalas perkataan Revan. Chloe bergegas membawa bahan makanan dan buket bunganya lalu secepat kilat berlari pergi dari sana.


Revan yang sudah terlanjur geram langsung mengejar tanpa memperdulikan panggilan Ash dan Al yang memanggil namanya.


"Tak akan kubiarkan kau lolos kali ini!" Teriak Revan dengan cepat menaiki tangga menyusul Chloe yang sudah jauh didepannya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2