
Hari itu menjadi hari yang menyenangkan bagi Chloe karna akhirnya dia mendapat pekerjaan (Meski harus memohon dan membuat kesepakatan dulu dengan si Ceo). Dia pulang dan membelikan sup jamur untuk keluarganya setelah selesai bekerja sekaligus untuk merayakan dirinya mendapat pekerjaan.
Angin sore menerpa wajah si gadis saat dirinya melewati area taman kota, Rasanya langkahnya agak ringan seolah beban di pundaknya berkurang. Dia senang dan begitu gembira, Merasa tak sabar menceritakan kebahagiannya hari ini pada orang tuanya.
Chloe berhenti melangkah dan mendudukkan diri di halte bus menunggu bus selanjutnya berhenti, Sejenak untuk menghilangkan rasa bosan, Dia memainkan handphonenya.
Suara decitan yang beradu dengan jalanan aspal terdengar didepannya, Sayup-sayup suara beberapa langkah kaki memenuhi pendengarannya. Chloe mendongak menemukan bus yang ditunggunya sudah datang, Ia berdiri menunggu para penumpang yang berlawanan arah dengannya untuk turun.
Setelah memastikan tidak ada lagi yang turun, Chloe melangkahkan kaki menaiki bus. Meninggalkan area halte bus.
...****************...
[Keesokan harinya]
Dengan langkah mantap, Chloe berjalan menuju ruang kerjanya. Melewati beberapa karyawan yang hilir mudik mengerjakan tugas masing-masing. Sesuai janji, Chloe membuatkan tiga bekal untuk si Ceo dan sekretarisnya, Satu bekal lagi untuk Chloe makan sendiri.
Yah, Dia harap tidak mengecewakan si Ceo dengan rasa masakannya. Chloe berjalan santai keluar dari lift, Dirinya tiba didepan pintu ruangan milik si Ceo.
Tangan Chloe terangkat berniat mengetuk pintu itu namun terhenti ketika dirinya tak sengaja mendengar suara ribut dari balik pintu.
BRAK!
"Aku tidak terima kalau aku diposisi kan dibagian leader! Kau pikir, Aku bisa menggunakan posisi itu untuk lebih terkenal dibanding yang lain?! Percuma saja!"
Si gadis diam mematung sejenak, Mendadak dirinya merasa ragu untuk masuk ke ruangan si Ceo. Terlebih setelah mendengar suara bentakan itu, Sepertinya sedang ada berdebatan besar yang sedang berlangsung.
"Mungkin lebih baik saat jam istirahat saja kuberikan bekalnya," Pikir Chloe meringsut mundur dari pintu, Dirinya berniat pergi sebelum merasa punggungnya menabrak sesuatu di belakang.
Duk!
"Eh?"
Chloe menoleh, Mencari tahu penyebab langkahnya terhenti. Sang gadis menemukan seorang pria berwajah datar di belakangnya, Pria bersurai hitam dengan netra merah semerah darah. Pandangan pria itu tampak kosong seolah tak ada cahaya di matanya.
"Maaf, Aku tidak sengaja menginjak kakimu tadi," Chloe sedikit menundukkan kepalanya sebagai permohonan maaf.
Si pria hanya diam tak menyahut, Dia mengalihkan pandangannya dari Chloe. Dan berjalanan menuju pintu.
Tok! Tok! Tok!
Cklek!
"Siapa?"
Ezra membuka pintu setelah mendengar suara ketukan, Netra hijaunya menatap pria bernetra merah dihadapannya. Sesaat melirik Chloe yang berada di belakang si pria.
"Aku ingin menemui Justin," Kata si pria to the point.
Ezra balik menatap dingin, Dia bersidekap. "Ini di perusahaan Ian Salvatore! Bersikap formal lah padanya!" Tegur nya.
Ian tidak menjawab, Dia memilih berjalan melewati Ezra. Membuat pria bernetra hijau itu mendelik kesal, Pandangannya beralih pada Chloe.
"Apa yang kau lakukan disini?!"
"Ini, Aku sudah buat bekalnya pak. Mau kukasih sekarang?" Chloe menunjukkan bekal di tangannya.
"Bawa bekalmu itu! Kami gak butuh bekal darimu, Lagian pasti rasanya tidak enak!" Ezra menatap sinis sesaat, Sebelum berbalik dan menutup pintu.
Blam!
Chloe diam tak bisa berkata-kata beberapa saat, Dia memeluk dua bekal di tangannya. Memandangi pintu yang sudah tertutup rapat tersebut.
"Kenapa gak ada ramah-ramahnya sih? Heran deh, Setiap beberapa orang yang kutemui di perusahaan ini pada ketus denganku," Keluh si gadis menghembuskan napas.
Dia berjalan menuju ruangannya dengan lesu, Pada akhirnya bekal itu dia juga yang makan. Ah, Padahal Chloe sudah membuatnya sepenuh hati, Tapi rasanya sia-sia saja.
...****************...
[Jam Istirahat]
Chloe menyandarkan punggungnya, Ia melemaskan jari-jari tangannya yang kaku sesaat. Matanya sedikit perih karna terlalu lama menatap layar monitor, Si gadis lantas meranjak dari duduknya dan mengambil dua bekal dalam ransel.
Disaat bersamaan pintu ruangannya terbuka secara tiba-tiba.
Cklek!
"Oi, Kau dipanggil tuan Justin ke ruangannya!"
Si gadis lantas menoleh mendengar suara di ambang pintu, Menemukan Ezra yang tampak malas menatapnya. Tanpa sadar dirinya menatap Ezra terlalu lama, Rasanya tak cukup melihat wajah itu sekali. Bagi Chloe seolah dia merindukan sesuatu dari sosok Ezra.
"Apa liat-liat? Mau kucolok matamu hah?!" Ezra mendelik tajam sadar bahwa Chloe menatapnya lama.
Chloe mengerjap sesaat, Lalu menggeleng pelan.
"Buset, Galak amat. Padahal cuma liat beberapa menit," Pikir Chloe speecheles. Menurut Chloe, Ezra ganteng sih tapi nilai minusnya pria itu galak dan akhlaknya di bawah standar.
Ezra mengernyit karna Chloe tidak berkata apapun dan hanya menggeleng sebagai jawaban. Merasa risih karna terus ditatap, Si pria lantas berjalan pergi.
"Cepat ke ruangan!"
Tap! Tap! Tap!
Chloe memeluk erat dua bekal di tangannya agar tidak jatuh, Dia keluar ruangan menyusul Ezra yang sudah pergi lebih dulu.
...**************...
"Ada apa pak?"
Sesampainya di ruangan Justin, Chloe berhenti tepat dihadapan si pria bernetra orange itu setelah mengajukan pertanyaan sebelumnya.
Justin meletakkan pulpennya usai mendengar suara Chloe, Pria itu sedikit mendongak. Sedangkan Ezra yang berdiri dibelakang Justin, Seperti biasa menatap tajam pada Chloe.
__ADS_1
"Mana bekal yang kuminta kemarin?"
"Ini, Sudah kubuat seperti yang bapak minta. Aku yakin rasanya enak," Kata Chloe ceria, Menyodorkan dua bekal di tangannya.
Senyum tipis tersungging di bibir Justin, Si pria menerima dua bekal itu. "Bagus, Kau menepati janjimu. Untuk seterusnya buatlah bekal lagi sampai aku merasa tidak memerlukan bekal buatanmu lagi,"
"Jadi aku harus terus membuat bekal untuk kalian berdua sampai kalian bosan dengan bekal buatan ku. Begitu?"
"Ya, Itu lah maksudku. Sampai kami bosan, Baru kau bisa berhenti membuat bekal untuk kami," Justin mengangguk pelan lalu menyerahkan satu kotak bekal pada Ezra. "Ezra, Ambil ini,"
"Terima kasih, Tuan Justin," Ezra sedikit menundukkan kepala sembari menerima bekal itu.
"Hm...,"
"Kalau begitu, Aku pergi dulu pak. Permisi," Pamit Chloe berjalan keluar ruangan.
"Ya," Justin mengangguk pelan sambil membuka tutup bekalnya.
Usai kepergian Chloe, Ezra memandang Justin sejenak. Memandangi pria bernetra orange yang tengah menyantap makan siang nya itu.
"Kenapa bekalnya tidak kau makan Ezra?" Tanya Justin setelah menelan makanannya, Sadar bahwa asistennya hanya diam tak bergerak ditempat.
"Tidak apa-apa tuan, Hanya saja aku penasaran alasan kenapa tuan meminta dibuatkan bekal sama anak itu? Padahal tuan bisa meminta ku membuatnya dibanding anak baru itu," Ezra menatap dalam netra Justin, Dari nada suaranya ia terdengar tidak suka.
Justin tertawa pelan membuat pandangan Ezra berubah heran. Justin mengambil tisu dan menyeka mulutnya sebelum menjawab perkataan Ezra. "Memangnya kau bisa masak?"
".....Tidak terlalu bisa. Hanya yang simpel saja," Terselip nada ragu dibagian akhir kalimatnya, Ezra juga tidak terlalu yakin dirinya bisa masak.
"Itu salah satu alasanku, Karna kau tidak bisa masak makanya aku minta bekal dari anak itu,"
Pandangan Ezra agak menggelap, Ekspresinya berubah muram. "Tuan, Aku hanya bilang tidak terlalu bisa masak. Bukannya tidak bisa masak. Aku tidak se ahli itu dalam hal memasak,"
"Yah, Sama saja kan. Intinya kau tidak bisa masak. Aku benar kan?" Celetuk Justin sambil menyuap makanannya.
Ezra merenung sejenak sebelum mengangguk pasrah membenarkan pertanyaan Justin. "Iya, Aku mengakuinya. Lalu alasan lainnya?"
"Pertama, Karna kau tidak bisa masak. Kedua, Karna aku ingin menguji anak itu. Apakah dia berhasil bertahan di perusahaan ini atau tidak, Dan juga aku ingin tahu apakah dia rajin, disiplin, dan jujur seperti kau atau tidak. Aku perlu memperhatikan setiap sikap dan pekerjaannya. Dan ketiga, Sebagai balas budi karna aku sudah memberinya kesempatan untuk bekerja di sini,"
"Hanya itu? Kalau begitu, Aku akan belajar masak agar tuan tidak perlu lagi menerima bekal darinya setiap hari," Ezra menatap serius yang membuat Justin mengernyit sesaat.
"Tidak usah, Sudah banyak tugas yang kau kerjakan. Kau tidak perlu memaksakan diri untuk mengerjakan hal-hal aneh, Aku tidak ingin semakin membebani mu," Tolak Justin.
"Aku tidak masalah, Selama untuk kebaikan tuan Justin. Sebagian hidupku dipenuhi perintah oleh orang lain, Dan orang itu adalah tuan Justin. Makanya akan kulakukan apapun selama yang memerintahku itu adalah kamu tuan Justin," Tatapan Ezra yang tampak serius dengan kilat ambisius dimatanya membuat Justin tertegun sejenak.
Justin tahu betul sikap Ezra dari kecil sampai sekarang, Pria itu selalu berada disisi nya, Selalu ada ketika dia butuhkan. Tapi rasanya semakin lama kedekatan mereka tidak wajar, Tentu saja Justin tidak ingin persahabatan mereka jadi kacau.
"Ezra, Kau bukan robot yang terus-menerus bisa kuperintah. Jangan terus bergantung dengan perintahku, Sekali-kali lakukan sesuatu sesuai keinginanmu," Justin tersenyum tipis, Menepuk pundak Ezra sesaat.
Ezra menatap dalam diam, Lalu menunduk kecil dan mengangguk. "Aku mengerti, Akan kuusahakan tuan,"
"Hm...Ngomong-ngomong, Setelah ini terus bimbing anak itu. Aku ingin tahu bagaimana caranya dia menangani klien nanti,"
Justin mengangguk kecil, Dia kembali memakan sarapannya. Sedangkan Ezra berjalan keluar ruangan, Sebelum pergi dia menghadap Justin.
"Tuan, Aku pergi dulu. Nanti aku akan kembali lagi setelah jam istirahat,"
"Oke,"
Setelahnya Ezra berjalan pergi dari sana, Tampak buru-buru pergi entah kemana.
...****************...
[Disisi lain]
Chloe berjalan santai menuju kantin, Berniat membeli minuman sebelum memakan bekalnya. Disaat bersamaan dia berpapasan dengan seorang karyawan pria yang baru saja keluar kantin. Ditangan pria itu terdapat sebuah kotak bekal yang coraknya mirip dengan kotak bekal Chloe, Otomatis si gadis menghentikan langkahnya. Memandangi kotak bekal yang dibawa karyawan pria itu.
"Kok warna kotak bekalnya sama kayak punyaku ya? Atau jangan-jangan itu memang punyaku?" Pikir Chloe curiga, Sesaat setelahnya dia menepis pikiran itu. Berpikir mungkin saja hanya kebetulan karna memang kotak bekal miliknya pasaran.
Sang gadis kembali melanjutkan langkah, Namun lagi-lagi dirinya berpapasan dengan seseorang. Kali ini Ezra Miracle, Pria itu terlihat memegang sebotol air mineral di tangan nya, Tampak habis dari kantin. Chloe sedikit mendekat, Berniat menyapa si pria.
"Selamat siang pak, Gimana rasa masakan saya tadi?" Chloe tersenyum ceria, Berdiri tepat dihadapan Ezra membuat langkah si pria tertahan.
Ezra mengernyit kesal, Entah mengapa setiap dirinya melihat gadis itu. Rasa kesal tiba-tiba muncul dari dalam dirinya. "Kalau kau penasaran. Kenapa tidak coba sendiri saja?!"
"Yah, Saya kan juga ingin tahu pendapat bapak kayak gimana?"
Ezra merotasikan matanya malas, Mendengus sinis. "Gak enak, Rasanya seperti ampas. Sudah puas? Minggir!"
Pria bernetra hijau itu mendorong pundak Chloe kesamping dengan kasar, Membuat si gadis terpaksa menyingkir dari jalan Ezra. Si pria lantas berjalan pergi melanjutkan langkahnya.
Chloe menunduk murung, Mendengar komentar Ezra tentang rasa masakannya tadi membuat hatinya merasa sakit. Apa iya seburuk itu rasanya? Seingat Chloe dia tidak memasukkan racun ke dalamnya.
"Pak Ezra, Mungkin tidak suka dengan menu masakanku hari ini. Baiklah, Besok aku akan membuat menu baru dan memasak lebih baik lagi dari hari ini. Kuharap pak Ezra menyukainya nanti," Chloe mengangguk kecil dengan senyum tipis mengembang di bibirnya. Ah, dia jadi tidak sabar untuk membuat menu baru nantinya.
Sang gadis kembali melanjutkan perjalanannya, Dengan suasana hati yang kembali ceria.
...****************...
[Rumah Chloe, Malam hari]
Seharian bekerja membuat tubuh Chloe merasa lelah, Dia langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur usai mandi dan mengenakan pakaian yang nyaman.
Netra berwarna merah darah itu memandangi langit-langit kamarnya sejenak, Teringat komentar Ezra tentang masakannya.
"Apa memang benar seburuk itu? Padahal saat kucicipi sebelum diberikan pada pak Justin dan pak Ezra, Rasanya biasa saja. Benar-benar harus buat menu baru biar pak Ezra suka dengan masakanku," Gumam Chloe masih memandangi langit-langit kamar.
Netra merahnya tak sengaja melirik sebuah pita berbentuk kupu-kupu di meja riasnya, Dia meranjak dan mengambil pita itu. Memperhatikan sejenak.
"Rasanya pita ini seperti mengingatkanku akan sesuatu yang kulupakan, Asing namun terasa dekat," Chloe mengikat rambutnya dengan pita itu, Seketika membuat penampilan rambutnya sedikit berubah.
Dia menatap pantulan wajahnya sendiri dalam diam di cermin, Mendadak kepalanya merasa pusing. Setetes air mata keluar dari matanya, Chloe memegangi kepalanya. Dan satu tangannya menyangga pada sisi kasur.
__ADS_1
Bagai terjangan ombak, Semua ingatan-ingatan asing yang hilang kini bermunculan dalam pikirannya. Kenapa dirinya merasa familiar dengan J.G Entertainment, Mengapa dirinya merasa familiar dengan barista bersurai coklat bernama Felix, dan mengapa dirinya merasa familiar dengan Ezra maupun Justin. Semuanya sudah terjawab dalam ingatan-ingatan yang muncul itu, Semuanya disebabkan karna dirinya memang pernah bertemu dengan mereka sebelumnya.
Bahkan dia melupakan sahabat masa kecilnya sendiri, Ian Salvatore. Pria bernetra merah yang dia temui tadi pagi. Chloe merasa sedih dan menyesal karna tidak mengingat mereka lebih awal, Sekarang dirinya paham mengapa Ian, Felix, Ezra, maupun Justin sama sekali tidak mengenalinya.
Chloe mendudukkan dirinya di lantai, Dia memeluk lututnya sendiri penuh kesedihan. Beberapa menit gadis itu menangis, Membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa sedih.
...****************...
[Keesokan paginya]
Tap! Tap! Tap!
Chloe mempercepat langkahnya menuju ruangan Justin, Dia memeluk erat dua kotak bekal di tangannya. Rasa lelah karna sedikit berlari tidak menghentikan langkahnya.
Sesampainya di ruangan Justin, Chloe lantas mengetuk dan membuka pintu bahkan sebelum Justin menyuruhnya masuk.
Blam!
Menyadari ketidaksopanan Chloe karna Justin belum menyuruhnya masuk membuat Ezra merasa kesal, Ia mendelik.
"Beraninya kau masuk bahkan sebelum tuan Justin menyuruhmu!" Kata Ezra berniat menyeret Chloe keluar, Namun dihentikan Justin sebelum Ezra melangkah.
"Ezra! Tenanglah!" Tegur Justin membuat Ezra mengurungkan niatnya untuk menyeret Chloe keluar, Pria itu lantas kembali diam di tempat dan sedikit menunduk.
"Kenapa buru-buru sekali? Aku tidak menyuruhmu untuk mengantarnya dengan cepat," Justin mengalihkan pandangannya pada Chloe yang meletakkan dua kotak bekal di mejanya.
Sang gadis tersenyum ceria. "Gak apa-apa pak Justin, Aku tidak ingin membuat bapak menunggu lama nanti. Oh iya, Hari ini aku buat menu baru. Kuharap bapak menyukainya,"
"Benarkah? Aku jadi tidak sabar mencicipinya saat jam istirahat nanti," Justin balas tersenyum, Mengambil satu kotak bekal miliknya. Dan satunya dia berikan pada Ezra.
Chloe mengangguk riang, Sejenak pandangannya beralih pada Ezra yang menunjukkan ekspresi muram dengan aura suram yang mengelilinginya. Sang gadis melihat dengan jelas Ezra tampak memegang erat kotak bekal di tangannya seolah ingin menghancurkan bekal itu.
"Pak Ezra masih gak suka dengan bekalku ya? Tapi dia belum memakannya," Chloe diam beberapa detik, Baru saja dia mengingat sesuatu yang dia lupakan tentang hubungan Ezra dan Justin. Pandangannya kini beralih pada Justin yang sibuk memeriksa dokumen.
"Aku lupa kalau pak Ezra tidak suka jika ada orang yang mendekati pak Justin," Chloe menggeleng pelan dan memutuskan untuk pergi dari ruangan itu setelah pamit pada Justin dan Ezra sebelumnya.
...****************...
Hari-hari telah berlalu, Tak terasa Chloe sudah bekerja selama 3 bulan di perusahaan Justin. Dan setiap hari juga Chloe selalu membuatkan bekal untuk Justin dan Ezra, Berharap mereka segera mengingat dirinya. Namun semua itu tidak membuahkan hasil apapun.
Faktanya setiap Chloe membuatkan bekal, Ezra selalu memberikan bekal itu pada karyawan lain tanpa mau memakannya, Tak terkecuali Justin. Bagi Ezra, Chloe hanyalah pengganggu yang hadir dalam hidupnya. Dan menjadi pengganggu diantara dirinya dan Justin.
Setiap dia pergi, Dia selalu bertemu dengan gadis bernetra merah itu. Meski gadis itu selalu bersikap baik dan ramah padanya, Tapi Ezra membenci senyum itu dan dia muak dengan setiap sikap yang Chloe tunjukkan padanya. Dia benci ketika Chloe berbicara santai pada Justin seolah mereka tampak terlihat akrab.
Dia sangat membenci gadis itu, Ezra membencinya. Sampai suatu hari, Dia memutuskan untuk melakukan hal nekat, Menyeret gadis itu ke ruangan gudang yang jarang dilewati para karyawan.
...****************...
BRAK!
Tubuh Chloe membentur tembok yang dingin, Sang gadis meringis ketika merasakan rasa sakit di punggungnya. Tak lama dirinya merasakan cengkeraman erat di kedua pundaknya.
Chloe mendongak, Menatap netra hijau emerland yang berada dihadapannya. Netra itu berkilat penuh amarah, Seolah memendam emosi sejak lama di dalamnya.
"Pak Ezra...,"
"Bisa tidak kau berhenti memberikan bekal itu padaku! Kau pikir aku akan luluh begitu saja dengan bekal pemberianmu yang rasanya tidak enak itu?!" Bentak Ezra marah, Memotong kalimat Chloe yang bahkan belum selesai diucapkan sang gadis.
"Apa seburuk itu masakanku?" Chloe menunduk sedih. "Aku tahu sejujurnya bapak tidak pernah sekali pun mencicipinya, Bapak selalu memberikan bekal itu pada karyawan lain. Pak Ezra gak akan bisa membohongiku!" Balas Chloe.
Ezra menatap tajam, Cengkeraman nya semakin kuat. "Kalau iya kau mau apa?! Aku tidak sudi memakannya, Terserah ku mau ku apakan bekal itu. Kau tidak berhak ikut campur!"
"Dan satu lagi! Ini peringatan untukmu. Jangan pernah coba-coba dekati tuan Justin lebih dari masalah pekerjaan, Jika sampai lebih dari itu. Akan kupastikan kau akan menyesalinya!" Ezra sedikit merendahkan nada suaranya, Dengan nada mengancam. Tatapan tajam pun masih tertuju pada Chloe.
Chloe diam sesaat, Dia menatap balik netra hijau milik Ezra. Ancaman seperti itu sudah sering dia dengar dari mulut si pria, Tentu Chloe tidak merasa takut lagi. Malah dia menunjukkan senyum manisnya.
"Aku tahu kok pak Ezra. Bapak tidak akan suka kalau orang lain mendekati pak Justin, Aku sudah tahu semua tentang bapak. Lagipula incaranku itu pak Ezra, Bukan pak Justin. Soalnya pak Ezra adalah orang yang kusukai," Chloe tersenyum manis, Yang seketika membuat Ezra menatap horror.
Apa dia tidak salah dengar tadi? Anak baru ini suka padanya? Ezra yakin Chloe mulai sinting.
Si pria lantas melepas cengkeramannya, Namun tatapan tajam itu masih melekat.
"Jangan ngaco! Apa kau mulai tidak waras? Aku saja tidak sudi bersamamu, Bagaimana mungkin kau seenaknya bilang suka padaku?! Dasar sinting!" Bentak Ezra marah.
"Aku tidak peduli pak Ezra mau mengatakan apa padaku, Yang pastinya aku akan berusaha membuat pak Ezra mengingatku lagi. Aku akan membuat pak Ezra mengingat janji kita! Pak Ezra adalah milikku, Jadi aku akan mengambil kembali apa yang sudah menjadi milikku sejak awal," Chloe menatap serius, Memberitahu bahwa dirinya tidak main-main dengan ucapannya.
Sejenak Ezra tertegun, Dia terpaku di tempat. Sedetik kemudian Ezra kembali melayangkan tatapan tajam dengan dengusan sinis. Dia berdecih kesal.
"Tch! Kau benar-benar sinting tengil! Coba saja kalau bisa! Kalau kau bisa membuatku jatuh cinta padamu, Aku akan merelakan diriku menjadi milikmu selamanya!" Tantang Ezra, Suaranya agak bergema di ruangan itu.
"Baiklah, Aku terima tantangan itu," Chloe menunduk muram, Sebenarnya dirinya tak ingin ada tantangan di antara mereka. Tapi Chloe terpaksa menerimanya karna dia tidak ingin kehilangan atau pun berpisah dengan Ezra untuk ke-2 kalinya.
Ezra menyerigai sinis, Dia membuka pintu ruangan sebelum pergi. "Aku yakin kau akan menyerah sebelum waktunya,"
Blam!
Pintu itu tertutup rapat setelah kepergian Ezra, Chloe hanya bisa menghembuskan napas lelah.
"Pak Ezra, Mengapa kau sulit sekali untuk digapai? Seperti langit dan bumi saja," Gumam Chloe sedih.
Bukannya Chloe sudah kehilangan harga dirinya sebagai perempuan, Tapi dia sudah terlanjur menyukai Ezra setelah kejadian di dunia dimensi itu. Meski aturan perempuan harusnya dikejar bukan mengejar, Namun Chloe rasa aturan itu bisa dikesampingkan selama dia berusaha untuk mendapatkan Ezra kembali.
"Yosh, Semangat Chloe. Kau pasti bisa mendapatkan pak Ezra kembali," Gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
Setelahnya Chloe bergegas keluar dari ruangan itu.
TBC
[Dapatkah Chloe membuat Ezra kembali mengingat dirinya? Ataukah Chloe akan menyerah untuk mendapatkan Ezra, Pria yang sudah membuatnya jatuh cinta pada sosok Ezra Miracle sejak berada di dunia dimensi itu.
Tunggu episode selanjutnya ya😉]
__ADS_1