
Sudah seminggu Freya di rawat, hari ini ia akan pulang. freya baru tahu bahwa pemilik tubuh sebelumnya mengalami kecelakan yang membuat dirinya mati tanpa diketahui siapa pun. Ditambah insiden penggebrakan pintu ruangan yang di sebabkan oleh ayahnya sendiri.
Freya akui, ayahnya sangat menyayangi pemilik tubuh. Dan beruntungnya ayahnya sangat kaya. Seorang miliarder. Kekayaan ayahnya jika dibandingkan dengan keluarga Jenneth jelas jauh berbeda. Jadi ia tak perlu khawatir masalah uang.
"Yaya beneran udah sembuh?" Freya yang sedang fokus membereskan baju-baju untuk dimasukkan ke dalam koper sontak menoleh ke arah samping menatap laki-laki paruh baya yang membantunya berberes.
Freya tersenyum cerah. "Iya, Dad. Yaya udah sembuh kok, buktinya udah bisa bantu beres-beres hehe,"
Lelaki paruh baya atau lebih tepatnya Daddy sang pemilik tubuh sebelumnya menghela nafas. Menatap kearah putri satu-satunya yang sangat ia sayangi. Sebenarnya ia belum memperbolehkan nya pulang hari ini tapi apalah daya karena ia tak tega melihat wajah manis putrinya ini menangis, jadi terpaksa harus menuruti keinginannya. Apalagi dokter mengatakan jantung putrinya itu mengalami cedera. Walau tak parah, tetap saja ia sangat mengkhawatirkan kondisi putrinya.
Mengingat itu, Rendi kembali menghela nafas.
Freya menatap takut-takut kearah Daddy nya yang menghela nafas. Freya tau Daddy nya mengkhawatirkannya, tapi ia tak betah untuk lebih lama di rumah sakit.
"Um, Da-Daddy. F-Freya minta maaf udah buat Daddy khawatir," cicictnya sambil meremas kedua telapak tangannya yang dingin.
Rendi menatap putrinya yang sedang ketakutan sontak tersenyum lembut sambil mengelus surai lembut Freya.
"Enggak usah minta maaf, Daddy hanya khawatir putri Daddy kenapa-napa," Freya yang mendengar langsung memeluk erat Daddy nya.
"Yaudah, yuk keluar," Ajak Rendi sambil menyuruh bodygard nya membawa koper Freya.
"Ayo!!" Freya yang semangat langsung menggenggam tangan Rendi dan berjalan keluar ruangan. Rendi terkekeh melihat betapa semangat putrinya untuk keluar rumah sakit.
Saat ini Freya berada di kamar pemilik sebelumnya di temani Panpan yang sedang rebahan di kasur. Kamarnya sangat luas dan semua hampir seluruh isinya berwarna putih. Sepertinya kepribadian pemilik sebelumnya selalu di tuangkan dalam ekspresi mengingat sifatnya yang lugu. Sama seperti warna putih yang artinya murni, gadis itu juga sama murninya. Beruntung belum ada yang merusaknya.
"Panpan, apa kau mempunyai skill yang dapat membuatku sama seperti dirinya yang dulu?" Freya berfikir, walaupun ia bisa berakting masih banyak celah yang terlihat. Kemungkinan akan ada yang menyadari kalau Freya yang sekarang berbeda dari sebelumnya. Jadi lebih baik memilih berjaga-jaga.
Panpan yang sedang rebahan langsung terduduk.
[Ada dong. Selama ada Panpan dan system semua keinginan host akan selalu ada walau yang tersulit sekalipun. Host hanya perlu mengucapkan skill dan pikirkan apa yang host butuhkan]
Freya mengangguk. "Skill,"
[Ding! Memulai pencarian...]
[Pengendalian emosi (Membuat yang memakainya mempunyai seluruh emosi manusia. Pengendalian emosi ini mempunyai 3 tingkatan yang semakin tinggi tingkatan akan terlihat natural juga emosi tersebut. Host bisa mengatur ingin menggunakan emosi seperti apa maka akan langsung terlihat seperti alami. Pemakaian: Selamanya) Harga : 1.400 poin (Diskon 50%)]
__ADS_1
[Bedak tipuan (Pemakai akan terlihat natural di mata orang lain walaupun banyak celah yang terlihat. Pemakaian : Satu kali selama sehari) Harga : 300 poin (Diskon 50%)]
[Pemerah pipi (Pemakai akan terlihat lemah lembut dan polos. Pemakaian : Satu kali selama sehari) Harga : 300 poin (Diskon 50%)]
Sebenarnya masih banyak, tetapi Freya lebih memilih yang akan membuat misi nya berhasil. Menurut Freya, ketiga skill itu adalah pilihan yang lebih meyakinkan. Sekarang ia tengah membaca penjelasan dari ketiga skill itu dimana ia akan membeli satu diantaranya.
Selagi berfikir, Freya bertanya pada Panpan. "Diskon 50%? Apakah selamanya harga skill akan di diskon?"
[Ding! Itu hanya karena pengguna baru. Karena host baru pertama kali membeli skill otomatis system men-diskon harga sebanyak 5 kali pembelian pertama]
Freya tercengang mendengar penjelasan Panpan. Ini kurang-lebih seperti otome game yang pernah ia mainkan saat masih hidup dulu.
"Baiklah aku ingin membeli skill pengendalian emosi," Setelah dipikirkan, hanya skill itu yang akan membantunya menyelesaikan misinya setiap berbeda karakter. Bisa mengendalikan emosi bukankah itu luar bisa. Batin Freya terkagum-kagum.
[Ding! Pembelian skill pengendalian emosi (Harga : 1.400) Diskon 50%]
[700 poin system akan diambil]
[Ding! Transaksi berhasil]
Freya tersenyum bahagia. Tak masalah poinnya berkurang, ia bisa mengerjakan quest dari system. Yang terpenting ia mempunyai skill yang hebat. Mengingat itu, senyuman bahagia Freya berubah menjadi seringaian membuat Panpan yang sejak tadi memperhatikan langsung menciut.
"Oh iya, system. Kapan plot pertama dimulai?" Freya mengingat bahwa ia berada di dunia ini sudah seminggu. Panpan dan system belum memberi tahu kapan plot pertama dimulai.
"Sekarang mereka kelas berapa?"
[Ding! Mereka sekarang kelas XI]
Freya mengangguk. Selama tokoh utama belum jatuh cinta pada Jenneth akan bagus. Selagi Freya berfikir bagaimana caranya membuat mereka tak bertemu, tiba-tiba sebuah layar hologram muncul dihadapannya.
[Ding! Quest dadakan : Menjadi siswa baru di sekolah kedua tokoh utama dan batalkan pertemuan mereka yang akan membuat persentase tokoh utama laki-laki menurun padamu]
[Hadiah : 600 poin, 200 karma, persentase tokoh utama laki-laki meningkat 15%]
[Hukuman : Tidak akan pernah bisa mendapatkan minat cinta tokoh utama laki-laki, merasakan sakit di bagian dada]
Mata Freya membaca dengan teliti Quest tersebut.
"Jadi aku harus sekolah disekolah para tokoh utama? Tapi benar juga, jika aku tidak bersekolah disana bagaimana aku menaikan persentase minat cintanya. Sementara untuk membatalkan pertemuan mereka masih sekitar seminggu, jadi aku akan merencanakannya dulu," gumam Freya kemudian menoleh menatap Panpan yang tengah berada di bahunya memainkan surai halusnya.
Imut.
__ADS_1
Lalu berbalik lagi menatap layar yang masih terlihat. "Status," ucapnya.
[Nama : Freya
Misi : Mengumpulkan minat cinta (Kehidupan kedua)
Karma: (.../100.000)
Poin : 300
Kecantikan : ??
Ketertarikan : ??
Keberuntungan : 85%
Minat cinta : (Agam) .../100%
Shop>
Skill>
(Pengendalian emosi lv.1)
Inventory>
Quest>
(Quest utama : Rebut most wanted yang ada di hati sepupu)
(Quest dadakan : Menjadi siswa baru di sekolah kedua tokoh utama dan batalkan mereka yang akan membuat persentase tokoh utama laki-laki menurun padamu)
Batas waktu : 4 bulan : 3 minggu (5 bulan)
Waktu liburan : 100.000 tahun
Dunia : Dunia Modern]
Freya berpikir akan meminta pada Daddy Freya sebelumnya, ralat sekarang sudah menjadi Daddy nya untuk memasukkan dia di sekolah sepupunya itu. Kalau pun mungkin tak boleh, ia akan membujuk Rendi.
"Baiklah. Sekarang waktunya Freya beraksi," Freya tersenyum iblis. Panpan untungnya tengah tertidur di bahu Freya, jadi dia tak melihat senyuman Freya yang bak psikopat.
__ADS_1
"Let's start this game,"