System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Sisi Raizel


__ADS_3

Raizel POV


Kulihat pagi-pagi sekali setelah sarapan pagi, Felix dan Chloe terlihat berangkat buru-buru entah kemana. Yang kudengar dari Ian sih, Felix lagi mengantar Chloe buat daftar Universitas. Aku tidak tahu Universitas mana tapi kayaknya bukan di Universitasku deh. Agak kecewa sih tapi ya sudahlah, Itu pilihan Chloe sendiri.


Ah, Aku menyadari satu hal Sejak tadi tampaknya Aiden selalu memperhatikan Felix dan Chloe saat sarapan pagi. Kadang aku tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan.


"Aiden, Kenapa kau tidak menerima misi dari pemilik Asrama sekali-sekali? Kerjaanmu hanya berdiam diri di sini saja," Kataku penasaran, Hanya ada aku dan Aiden berdua di dapur ini.


"Ini sudah tugas saya, Lagipula saya sudah merasa nyaman di sini," Jawabnya sambil mencuci beberapa gelas dan piring.


Selama aku tinggal disini dia selalu berdiam diri seolah tak ingin melihat dunia luar lagi, Menutup diri dari pandangan orang-orang luar.


"Kau perlu keluar sekali-kali, Nikmati hidup. Jangan terlalu menutup diri, Kau bahkan sampai membuat Chloe takut padamu," Jelasku acuh, Kusandarkan punggungku di kursi sambil mengunyah buah apel.


Sesaat kulihat Aiden terdiam, Dia tidak mengalihkan pandangannya dari wastafel. Entah apa yang dia pikirkan.


"Si Anggota baru itu? Yang kulihat Nona Chloe memiliki Aura yang sama dengan pemilik Asrama. Saya curiga kalau dia menyembunyikan sesuatu, Karna yang saya lihat dia punya kemampuan teleport,"


"Hah!? Maksudmu apa Aiden!? Teleport!? Maksudmu Chloe punya kekuatan yang hampir setara denganmu? Dia kan manusia?" Aku sedikit terkejut tapi segera kunetralkan wajahku kembali datar.


TAK!


Aiden meletakan piring yang terakhir di rak piring, Dia mengelap tangannya. Lalu duduk berhadapan denganku.


"Bisa dibilang begitu, Tapi kekuatan yang dia miliki lebih lemah dari punya saya. Seolah ada seseorang yang memang sengaja memberikan Nona Chloe kekuatan itu. Aroma nya pun agak berbeda dari manusia lainnya di dunia ini,"


Kulihat dari tatapan Aiden sepertinya dia sangat serius, Apa artinya Chloe juga sama seperti Aiden? Tapi Aiden bilang Chloe itu manusia kan.


"Aiden kau bukan manusia, Jadi Kemampuan analisis mu lebih hebat dari pada kami," Aku menghela napas sesaat, Kembali menyandarkan punggungku.


"Nona Chloe pun, Pasti akan membuat Asrama ini lebih baik dari sebelumnya dengan kemampuan Chemistry nya. Saya yakin dia bisa bertahan menghadapi pemilik Asrama nanti meski banyak tantangan yang harus dia lewati,"


"Aku menantikan hal itu," Sesaat aku bersidekap, Teringat pertemuan pertamaku dengan gadis bersurai biru itu.


"Tuan Raizel sepertinya senang dengan keberadaan Nona Chloe disini, Saya pikir Sikap Tuan Raizel mulai berubah sejak bertemu dengan Nona Chloe bahkan sebelum Nona Chloe tinggal disini. Saya benarkan?"


Celetukan Aiden membuatku tersentak, Walau kurasa apa yang dikatakan Aiden ada benarnya. Sempat beberapa kali aku merasa nyaman dekat dengan gadis itu. Walau kadang dia bertingkah mengesalkan. Kupalingkan wajahku menatap ke arah lain, Aku tidak ingin Aiden tahu wajahku memanas kecil saat ini.


"Sepertinya tanpa anda iyakan pun, Wajah anda tidak bisa berbohong,"


Aku mendelik menatap raut datar Aiden yang duduk di depanku, Segera kuambil bawang putih yang tergeletak di meja dan kulempar padanya.


SHUT!


Tapi tampaknya tidak mempan karna kini dengan secepat kilat Aiden menangkap bawang putih itu sebelum jatuh mengenai lantai.


"Tolong anda jangan buang-buang bahan makanan Tuan Raizel, Saya bisa menghukum anda kalau main-main lagi," Peringatnya yang kuacuhkan.


"Sok tahu kau! Kau yang tidak punya emosi dan perasaan itu jangan ikut campur!" Sungutku kesal, Meranjak berdiri dari dudukku. Berniat keluar dari ruang dapur.


Namun entah sejak kapan Aiden sudah berada di depanku, Kali ini tatapannya begitu dingin dan seketika membuat bulu kudukku berdiri.


"Jangan anda kira saya tak paham perasaan manusia, Dulu saya juga pernah menjadi manusia sama seperti anda. Tapi karna suatu hal yang mengubah saya menjadi begini,"


Aku terdiam sesaat, Tentu saja aku tak pernah tahu kalau Aiden dulu pernah menjadi manusia sama seperti kami. Di Asrama ini kami punya masa lalu kelam masing-masing dan tidak pernah saling menceritakannya karna bersifat pribadi. Dan aku tahu, Aiden berada di Asrama ini juga pasti berhubungan dengan masa lalunya sebelum bertemu pemilik Asrama.


"Maaf kalau aku menyinggungmu sebelumnya," Kataku dingin, Aku tidak ingin mengganggu Aiden terlalu lama.


Aiden tidak menjawab, Dia hanya diam saja. Sampai tiba-tiba dia meraih lengan kananku dengan cepat, Sesaat aku mengerutkan alisku.


"Oi Aiden! Apa yang ingin kau lakukan!?" Kataku saat kulihat dia mendekatkan lenganku ke mulutnya.


"Menghukum anda, Anda masih perlu memahami aturan yang ada meski anda adalah anggota lama disini,"

__ADS_1


"Hei! Aku sudah paham, Dan aku sudah minta maaf sebelumnya. Jadi biarkan aku–Akh...!"


Aku langsung melotot saat kulihat Aiden menggigit lenganku, sedikit demi sedikit kurasakan darahku tersedot keluar. Inilah bagian yang paling menyebalkan dari Aiden, Salah sedikit akan mendapat hukuman darinya. Dia terlalu ketat dengan aturan di Asrama ini.


"Aiden! Berhenti! Oke, Aku paham dan aku akan mempelajarinya lagi! Berhenti mengambil darahku!" Bentakku yang mulai kesal. Semakin lama gigitan Aiden semakin sakit saja. Aku berusaha melepaskan lenganku darinya.


Tak lama gigitan itu terlepas, Aiden menjauhkan wajahnya dari lenganku tanpa merasa bersalah sedikit pun. Dengan cepat kutarikan lenganku kembali, Dan mundur menjauhinya. Sesaat Aiden menjilat sudut bibirnya bekas sisa darahku.


"Terima kasih, Saya rasa energi saya cukup bertahan sampai besok nanti,"


TAP! TAP! TAP!


Dia melangkah pergi keluar dari ruang makan, Meninggalkanku sendiri disini. Aku berdecak kesal, Kucuci lenganku di wastafel bekas gigitan Aiden.


"Aiden menyebalkan, Dikit dikit dihukum. Salah dikit dihukum, Bahkan dia tidak mendengarkan permintaan maafku," Gerutuku kesal. Usai ku cuci tanganku, Aku keluar dari ruang makan.


Raizel POV end


*******************


[Di sisi lain, Sore hari]


Saat ini Felix dan Chloe sedang menuju perjalanan pulang usai mendaftar di Universitas pilihan Chloe. Dengan gembira Chloe memegangi kartu beasiswa yang dia dapatkan sewaktu ikut olimpiade, Dengan syarat kartu itu tidak boleh hilang.


"Bagaimana? Sudah merasa senangkan?" Tanya Felix sesaat tersenyum meski saat ini dia masih fokus nyetir.


"Iya, Aku senang kak. Akhirnya aku resmi masuk Universitas juga. Minggu depan udah mulai MOS nya," Kata Chloe riang.


"Kakak senang kalau kau bisa masuk Universitas pilihanmu, Padahal tadi tes khusus beasiswa lebih sulit lho dibanding Tes masuk jalur biasa,"


"Gak apa-apa, Yang penting tadi kan udah lulus tes. Alice dan Evelyn juga lulus," Chloe menggeleng pelan, Menatap jalanan hutan yang mereka lewati.


"Hm...iya,"


Holy duduk di pundak Chloe sesekali memakan kue nya.


"Holy, Saat kau menghilang kemarin. Aiden berada di kamarku," Kata Chloe memulai obrolan dalam hati.


Sesaat Holy terkejut lalu memandangi Chloe tak percaya.


"Benarkah? Apa dia menyakitimu?"


"Tidak, Dia hanya mengancamku saja. Dan saat itu aku berusaha menggunakan teleport tapi tak bisa. Kenapa teleportnya gak bisa digunakan?" Chloe menoleh pada Holy yang terbang di samping kepalanya.


"Tentu saja kau tidak bisa menggunakan teleport, Aku kan gak ada disana buat mengaktifkan teleportnya. Kau hanya bisa menggunakan teleport saat aku berada di sisimu saja, Baru bisa digunakan," Jelas Holy nyengir.


Chloe langsung cemberut mendengarnya, Mendelik kesal pada Holy.


"Kenapa gak bilang Holy! Aku panik banget kemarin. Kau tahu kan kalau Aiden itu susah buat dihindari atau dilawan!? Untung aku masih selamat saat itu," Gerutu Chloe dalam hati, Sedangkan Holy terkekeh pelan.


"Ya maaf, Habisnya saat itu aku juga kepepet. Energi ku mau habis, Jadi kepaksa pergi dulu ke tempat Program,"


Chloe tak menyahut lagi, Dia memilih diam. Memandangi pemandangan hutan selama perjalanan. Setelah perjalanan ini mungkin dia akan segera istirahat dan tidur untuk energi esok hari.


*****************


[Perjalanan, Kota malam hari]


Sebuah mobil sedan hitam melaju di kesunyian sekitarnya, Hutan-hutan menjulang tinggi entah berapa meter membuat suasana perjalanan itu semakin mencekam. Terdapat dua orang pria dalam mobil itu, Sesaat seorang pria yang duduk di jok paling belakang menghela napas sambil menatap Tablet di tangannya.


"Anda terlihat lelah tuan, Lebih baik anda segera istirahat. Jangan memaksakan diri, Saya takutnya kesehatan anda terganggu," Kata sang supir yang mengemudikan mobil, Sesaat melirik ekspresi lelah tuannya dari kaca spion bagian atas.


"Sebentar lagi, Aku sedang memeriksa laporan yang diberikan oleh para anggota Asrama. Tampaknya selama aku tidak ada, Mereka baik-baik saja disana," Sesaat sang bos tersenyum kecil menatap Tabletnya yang menunjukkan rekaman CCTV para anggota Asrama yang sedang bercanda tawa.

__ADS_1


Sang supir hanya diam, Fokus dengan kemudinya. Yang dia khawatirkan adalah kesehatan tuannya saat ini.


"Oh iya, Kudengar cewek itu sudah masuk Asrama juga ya?" Si Bos sesaat menoleh pada Supirnya.


"Benar Tuan, Dia menerima ajakan anda. Saya dengar dari anggota lain. Dia pernah mencoba kabur dari sana, Tapi untungnya Aiden segera menangkapnya,"


"Ternyata cewek itu tidak berubah, Dia selalu keras kepala dan bar-bar," Sang bos tertawa kecil. "Kuharap mereka semua memiliki hubungan yang baik selama aku tidak ada,"


"Saya rasa hal itu sudah terwujud sedikit, Cewek itu sedikit mengubah suasana Asrama menjadi lebih terbuka dengan kehadirannya," Sahut sang supir dengan ekspresi datarnya.


Sang bos hanya tersenyum mendengarnya. Tak lama dia menyimpan Tabletnya dan mulai menyandarkan tubuhnya di sandaran mobil.


"Sudah lama aku tidak bertemu para anak didikku, Kita akan pulang ke Asrama. Bangunkan aku jika sudah sampai disana," Pinta sang bos yang diangguki oleh supirnya.


"Baik tuan,"


Setelahnya hanya terdengar keheningan hutan yang mereka lewati saja, Sang bos sudah tertidur di sandaran mobil. Sedangkan Netra sang supir sesaat melirik wajah damai bos nya.


Sang supir kembali menatap fokus ke jalanan, Sesaat dia larut dalam pikirannya.


"Melihat ekspresi tenang tuan saat tidur membuatku lega, Dia terlalu memaksakan diri untuk bekerja. Aku khawatir kalau kesehatan tuan terganggu karna terlalu tertekan dengan pekerjaannya, Rasanya aku jadi ingin melakukan sesuatu untuknya. Agar tuan merasa tidak terbebani dengan pekerjaannya," Pikir sang supir, Kembali melirik Tuannya yang tertidur.


"Tapi saat melihat ekspresi senang tuan tadi saat tahu akan kembali ke Asrama, Membuatku ikut senang. Namun...," Sesaat ekspresi sang supir berubah sedih. "Dia hanya memikirkan para anggotanya yang berada di Asrama saja, Apa Tuan tidak pernah memikirkanku? Padahal kan aku selama ini selalu berada di sisi Tuan dan menjaganya,"


Sang supir menggenggam erat kemudi, Melampiaskan rasa kesalnya.


"Apalagi saat melihat ekspresi senang Tuan saat tahu cewek itu menerima ajakannya menjadi anggota di Asrama, Rasanya aku tidak suka dengan kehadiran cewek itu. Cih sialan! Apa yang menarik dari cewek itu! Apa yang membuat Tuan tertarik untuk mengajaknya menjadi Anggota!?"


Ingin sekali Si Supir berteriak frustasi, Namun dia lebih memilih diam karna takut membangunkan Tuannya yang masih tidur.


"Huh! Lihat saja kau Chloe Amberly. Aku akan membuat hidupmu tak tenang selama di Asrama. Dan Kazuhara Rion, Kau anggota baru yang juga sama-sama membuat tuan tertarik padamu. Akan kupastikan kalian berdua mendapatkan hukuman dariku setelah kami sampai di Asrama,"


TBC


[Dibalik cerita]


Chloe: *Bersin* "Oi! Guys, Perasaan ku tiba-tiba gak enak. Kayak ada yang dendam kesumat gitu sama aku. Ada ya tau gak siapa orangnya?"


Ian: *Menggeleng* "Gak tau tuh,"


Raizel: "Halah, Cuma perasaan lo aja kali,"


Felix: "Positif thingking aja, Mungkin ada yang sedang fall in love sama dedek,"


Rion: "......" (2in sama kayak Felix)


Devian: "Yang pastinya bukan aku,"


Aiden: "Saya rasa, Dia iri sama Nona Chloe cuma belum diperlihatkan," (Ekspresi datar).


Devian: "Apaan tuh! Aiden gaje ah!"


Evelyn: "Mungkin dia sirik sama lo Chloe,"


Alice: "Sama'in aja kayak Evelyn,"


Chloe: "😑"


Felix: "Yang sabar, Pemeran utama akan selalu mendapat kesialan dari pemeran lain😈,"


Raizel, Ian, Rion, Devian, Aiden, Chloe, Evelyn, & Alice: "Kakak Gak ada Akhlak😠😤,"


Felix : "🙃😜😆,"

__ADS_1


Author: "Abaikan percakapan itu, See you next later🤗👋,"


__ADS_2