System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Manja


__ADS_3

Chloe yang menyadari suasananya mulai suram karna keberadaan Felix semakin panik, Apalagi saat Netra biru nya tak sengaja menangkap reaksi Felix yang tampak tak senang dengan posisi dia dan Raizel.


"Kak Felix, Tu-Tunggu dulu! Ini hanya salah paham!" Kata Chloe panik masih berusaha menyingkirkan Raizel yang masih memeluknya.


Felix hanya menunjukkan senyum palsu nya, Lalu memegang gagang pintu.


"Maaf mengganggu waktu kalian berdua, Silakan dilanjutkan,"


BLAM!


"Kak Felix! Tunggu!" Seru Chloe berusaha menghentikan Felix namun sayangnya pintu itu sudah tertutup rapat kembali.


Hanya terdengar suara langkah kaki yang berjalan menjauh di balik pintu, Sepertinya Chloe harus mengejar Felix untuk menghilangkan kesalah pahaman ini.


"Raizel, Menyingkirlah!"


Setelah beberapa saat akhirnya Chloe berhasil menyingkirkan Raizel yang berada di atasnya, Pemuda itu terguling ke sisi kasur yang satunya, Tampak tertidur nyenyak akibat demam yang dideritanya.


Tanpa menunggu lama Chloe bergegas pergi keluar kamar meninggalkan Raizel begitu saja di kasurnya. Dia berlari mengejar Felix yang pergi entah kemana.


**************


[Di sisi lain]


Ian baru saja selesai makan bersama Aiden, Rion, dan Devian. Dia keluar dapur berniat menaiki tangga menuju kamarnya.


Namun saat melewati ruang tamu dia berpapasan dengan Felix yang baru saja turun tangga. Ekspresi pemuda bersurai coklat itu tampak kesal dan muram, Aura nya pun tampak suram.


"Felix, Mau kemana?" Tanya Ian dingin.


"Ian, Kebetulan kita ketemu disini. Kalau kau ketemu Chloe dan dia bertanya dimana keberadaanku. Bilang saja aku pergi ke Cafe," Kata Felix menoleh dan menunjukkan senyum palsunya.


Sesaat Ian menaikkan satu alisnya heran, Merasa aneh dengan sikap Felix.


"Tumben dia berpesan begini padaku, Biasanya langsung kasih tahu ke Chloe," Pikir Ian heran.


"Hm...Baiklah, Apa terjadi sesuatu dengan kalian berdua? Tidak biasanya kau berpesan begini padaku,"


"Tidak," Felix menggeleng pelan. "Aku hanya sedang buru-buru jadi tidak sempat memberitahunya. Tolong ya Ian, Aku harus pergi sekarang,"


Felix pergi menjauh dari Ian, Bergegas pergi dari sana menuju parkiran Asrama.


Sedangkan Ian hanya menatap kepergian Felix sesaat sebelum dia kembali melangkahkan kakinya menaiki tangga, Tapi tiba-tiba dia berpapasan dengan Chloe yang terlihat buru-buru.


TAP! TAP! TAP!


"Ian! Kau melihat Kak Felix lewat sini?"


"Dia barusan pergi ke parkiran Asrama, Bilangnya ingin ke Cafe," Jelas Ian datar, Menatap netra biru Chloe yang terlihat panik.


"Oh tidak!"


Mendengar hal itu Chloe kembali lari menyusul Felix ke parkiran, Meninggalkan Ian yang hanya menatap heran dua orang yang barusan berpapasan dengannya.


"Mereka kenapa sih?! Kayak ada masalah?" Gumam sang pemuda bersurai hitam dengan netra merah itu bingung.


Namun setelahnya dia mengangkat kedua pundaknya acuh, Kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.


***************


TAP! TAP! TAP!


Sesampainya di parkiran Asrama, Chloe mendengar suara deru mesin mobil lalu tak lama sebuah mobil melaju keluar area Asrama.


"Kak Felix!" Teriak Chloe namun sayangnya dia terlambat, Mobil itu sudah pergi menjauhi area Asrama.


Sang gadis hanya bisa menghela napas lelah, Menatap kepergian mobil itu dalam diam.


"Ugh...Kak Felix marah ya? Dia benar-benar salah paham," Pikir Chloe sambil memijit keningnya pusing.


Dengan langkah lunglai Chloe kembali masuk dalam Asrama, Menuju kamarnya kembali. Sekarang dia harus merawat Raizel terlebih dulu sebelum memikirkan langkah selanjutnya.


Sebelum itu dia mampir sebentar ke dapur untuk mengambil baskom kecil dan kain bersih.


**************


[Kamar Chloe]


Chloe meletakkan baskom berisi air itu di nakas bersama kainnya, Lalu dia membenarkan posisi tidur Raizel yang berada di kasurnya. Tak lama Chloe duduk di sisi kasur.

__ADS_1


Dia memeras kain yang sudah dicelupkan dalam air sebelumnya, Lalu meletakkan kain tersebut di kening Raizel. Chloe juga menempelkan tangannya di salah satu pipi sang pria, Guna kembali memeriksa suhu tubuh Raizel.


"Badannya benar-benar panas, Habis ngapain sih sampai sakit begini?" Pikir Chloe heran, Menatap wajah Raizel yang masih merah. Mata sang pria juga tertutup rapat, Tengah tertidur nyenyak.


"Jadi dia meracau tadi karna sakit, Kukira terjadi apa-apa dengannya karna sikapnya sangat aneh hari ini. Tapi pernyataan tadi...Apa benar ya?"


Seketika Chloe merasakan pipinya ikut memanas mengingat pernyataan Raizel sebelumnya, Entah kenapa jantung Chloe kembali berdetak kencang mengingat pernyataan itu.


Sejenak Chloe menggeleng pelan guna menyingkirkan pikiran negatifnya, Dia kembali melirik Raizel.


Raizel itu sejujurnya sangat bucin menurut Chloe, Namun juga bisa agresif di saat-saat tertentu. Kadang suka bersikap manis tapi banyak bucinnya.


Ngomong-ngomong soal Raizel, Chloe jadi teringat dengan Ian yang juga pernah menyatakan perasaan padanya. Semua ini membuatnya bingung dan dilema, Belum lagi kesalahpahamannya dengan Felix yang belum selesai.


"Hah~...Aku harus gimana?" Keluh Chloe sambil menghela napas, Dia menyembunyikan wajahnya di antara lututnya. Dia benar-benar pusing dan bingung sekarang.


Sejenak Chloe kembali melirik Raizel, Berpikir untuk membuatkan bubur untuk makanan sang pemuda. Dia segera meranjak dan berjalan keluar kamar menuju dapur.


**************


CLEK!


Chloe membuka pintu kamarnya, Di tangannya terdapat sebuah nampan berisi semangkuk bubur, segelas air mineral, dan sebotol obat penurun demam yang Chloe minta dari Aiden. Tapi dia agak terkejut menyadari Raizel sudah siuman.


Pemuda bernetra ungu muda itu tampak menyandarkan punggungnya di dinding beralaskan bantal yang diletakkan di belakang punggungnya. Namun wajah sang pemuda masih merah dan sayu.


"Raizel, Sudah siuman ternyata," Kata Chloe sambil meletakkan nampan di nakas dan duduk di sisi kasur.


Dia mengambil kain yang tertempel di kening Raizel, Meletakkan kain tersebut di baskom. Lalu menempelkan punggung tangannya di kening sang pemuda.


"Masih panas, Kau makan dulu ya. Baru setelah itu makan obatnya dan istirahat kembali,"


Raizel hanya mengangguk lemas, Kemudian tangannya menggenggam tangan Chloe yang berada di keningnya.


"Maaf membuatmu repot Chloe," Kata Raizel pelan.


Sang gadis menggeleng sesaat, Tersenyum kecil. "Jangan minta maaf, Ini sudah tugasku sebagai seksi kesehatan Asrama. Sekarang kau makan ya,"


Chloe menarik tangannya dari genggaman Raizel lalu mengambil semangkuk bubur di nampan. Chloe berniat menyodorkan bubur itu untuk Raizel makan sendiri, Namun Raizel menggeleng pelan.


"Suapin~"


"Bilang 'aaa'..."


"Aaa..."


Satu suapan sudah masuk ke mulut sang pemuda, Dengan senang hati Raizel menelan bubur di mulutnya. Hatinya berbunga-bunga senang karna Chloe lah yang merawatnya.


"Indah sekali hari ini, Akhirnya aku bisa berduaan dengan Chloe. Berduaan dengan doi memang terbaik," Pikir Raizel senang.


Setelah beberapa suapan akhirnya bubur itu habis, Chloe segera menyerahkan obat dan segelas air pada sang pemuda. Yang tentu saja diminum Raizel dengan senang hati.


"Sekarang kau istirahat kembali ya, Aku harus pergi setelah ini," Kata Chloe sambil membantu Raizel merebahkan tubuhnya kembali.


"Kau mau pergi?"


Chloe menarik selimut sampai dada Raizel tak lupa meletakkan kembali kain yang sudah diperas sebelumnya ke kening sang pemuda. Dia mengangguk kecil.


"Ya, Aku mau ke dapur. Lupa sarapan tadi pagi,"


"Oh," Raizel hanya manggut-manggut, Dia segera menahan tangan sang gadis sebelum meranjak pergi. "Chloe, Boleh aku minta sesuatu?"


Merasa tangannya di tahan, Chloe menoleh menatap Raizel lalu mengangguk kecil. "Iya, Minta apa?"


Raizel menunjuk pipi kanannya dengan salah satu tangannya. Menunjukkan ekspresi memelas. "Ciuman sebelum pergi nya mana?"


Sejenak Chloe diam mematung, Dia gak salah dengar kan? Raizel minta cium? Tapi untungnya cuma dipipi.


"Cuma di pipi doang kan?" Tanya Chloe was-was.


Raizel menunjukkan seringai kecil sambil terkekeh pelan. "Di bibir juga boleh,"


Kontan wajah Chloe merona tipis, Sang gadis mendengus kecil walaupun agak malu. "Ngarep,"


Setelahnya Chloe agak membungkukkan badannya hingga wajahnya berdekatan dengan wajah sang pria. Dia dengan cepat mencium pipi Raizel, Setelahnya buru-buru menjauh.


CUP!


"Udah tuh, Selamat tidur Raizel," Kata Chloe sambil memalingkan wajahnya malu dan mengambil nampan, Lalu segera buru-buru keluar dari kamar.

__ADS_1


BLAM!


Raizel tersenyum tipis sesaat, Menatap kepergian Chloe yang menutup pintu kamar. Lalu dia menyentuh pipinya yang barusan di cium si doi.


"Tidak ada ruginya aku sakit. Hari ini sangat menyenangkan," Gumam Raizel berbunga-bunga, Dia menutup kelopak matanya. Sudah saatnya dia beristirahat seperti yang Chloe sarankan.


*************


[Dapur]


Chloe meletakkan nampan serta isinya ke wastafel, Dia juga mencucinya. Usai mencuci dan meletakkan di rak piring, Dia mengeringkan tangannya.


"Kayaknya tadi ada yang ingin kutanyakan ke Raizel, Ah sudahlah. Tunggu sampai dia sembuh aja," Gumam Chloe sambil membuka tudung saji yang berada di atas meja makan.


Untungnya mereka menyisakan sebagian makanan untuk Chloe, Chloe sampai gak sarapan pagi karna kejadian tadi.


"Sepiring Seafood, Lumayanlah,"


Sang gadis duduk di sana, Memakan sarapan bagiannya seorang diri.


***************


[Disisi lain]


KKRRIING!


Aroma kopi tercium saat Felix memasuki Cafe miliknya, Suara hiruk pikuk dari para pelanggan Cafe nya tidak dia hiraukan. Dia segera menuju ruang kerja nya, menghiraukan sapaan dari para barista Cafe serta Finnian.


CLEK!


Felix memasuki ruang kerja nya, Meletakkan jaket ke di atas meja lalu menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. Dia mendesah lelah sesaat.


"Ada apa denganku? Kenapa aku merasa tak senang saat melihat Raizel bersama Chloe di kamar saat itu? Entah kenapa saat mengingatnya aku merasa kesal dan marah," Pikir Felix sambil menutup wajahnya dengan lengan.


Tak lama pintu ruang kerjanya terbuka menampakkan Finnian yang baru masuk, Pemuda itu melangkah mendekati Felix tak lupa menutup kembali pintunya sesaat. Dia duduk berhadapan dengan sahabatnya itu. Dengan meletakkan dua cangkir kopi di meja.


TAK!


"Hei, Kau kenapa sih Felix? Enggak biasanya di sapa diam aja. Apa kau punya masalah?" Tanya Finnian heran, Menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil bersidekap.


"Aku juga gak tau, Aku gak ngerti," Kata Felix gusar, Ekspresinya tampak bingung dan kacau.


"Hah? Gak ngerti gimana maksudmu?" Finnian menyesap kopinya sesaat, Menatap sahabatnya keheranan.


"Maksudku...Finnian, Apa kau pernah tiba-tiba merasa kesal dan marah tanpa tahu penyebabnya saat melihat orang terdekatmu bersama orang lain?"


"Hah? Kau bicara apa?! Tentu saja aku pernah merasakannya dulu, Bahkan setiap orang juga pernah merasakan hal itu. Biasanya hal itu terjadi saat orang yang kita disukai dekat dengan orang lain. Itu namanya cemburu," Jelas Finnian.


"Cemburu?" Beo Felix tampak seperti anak kecil yang polos, Membuat Finnian gemas ingin nabok muka Felix.


"Iya, Tentu saja. Memangnya kenapa?" Sesaat Finnian terdiam, Mulai menyadari sesuatu yang janggal pada sahabatnya. "Oh, Jangan bilang ini tentang adik angkatmu itu. Kau ada masalah dengannya?"


Perkataan Finnian yang tepat sasaran membuat Felix tersentak sesaat, Ekspresi sang pemuda kembali gusar dan tak nyaman.


Sejenak Felix menghela napas, Dia kembali menyesap kopinya untuk mengurangi rasa bingung dan gusar di hatinya. Perlahan dia mulai menceritakan semua yang dia lihat di kamar Chloe pada Finnian, Felix tidak tahu lagi harus minta saran sama siapa selain sahabat terdekatnya alias Finnian sendiri.


Selama Felix cerita padanya, Finnian dengan sabar mendengarkan keluh kesah sahabatnya ini, Dia manggut-manggut sesaat sebelum akhirnya tergelak usai Felix selesai cerita.


"Hahaha! Ya ampun, Kau ini benar-benar polos atau pura-pura polos? Masa hal sekecil itu saja tidak tahu," Kata Finnian masih tergelak yang membuat Felix mendengus kesal.


"Kau niat kasih penjelasan atau gak sih?! Jangan bikin aku nyesal udah cerita ke kamu," Kata Felix kesal sambil bersidekap.


"Oke, Oke. Bentar...," Sesaat Finnian berdehem pelan untuk meredakan tawanya, Dia tersenyum jahil. "Sepertinya kau sudah mulai suka pada adik angkatmu sendiri, Kupikir selama ini kau hanya menganggap Chloe sekedar adik angkat doang,"


"Suka? Tidak mungkin! Kami ini hanya sekedar kakak adik, Gak lebih Finnian," Elak Felix sambil menggeleng tak percaya.


"Hei, Ingat! Kalian itu gak sedarah. Jadi wajar aja perasaan itu bisa timbul kapan saja, Apa kau lupa apa yang terjadi dengan teman sekelas kita semasa SMA dulu?"


Felix terdiam menatap Finnian, Dia merenung sesaat menyadari apa yang dia rasakan.


"Mereka juga kakak adik, Saudara kandung pula. Tapi malah saling suka dan nikah pas lulus SMA. Masih lebih baik saudara angkat ketimbang saudara kandung kan," Gerutu Finnian bersidekap, Sesaat dia melirik Felix yang tampak merenung.


DUK!


"Sekarang aku paham, Finnian beri aku saran agar bisa menarik perhatiannya," Kata Felix tiba-tiba dengan serius dan agak memukul meja kerjanya.


"Gak usah sampai mukul meja juga kali!" Dengus Finnian sesaat, Kemudian dia tampak memikirkan sesuatu. "Ah, Aku punya satu saran. Sini deh,"


Akhirnya Finnian membisikkan sesuatu pada Felix, Tentunya bersifat rahasia dan hanya mereka berdua saja yang tahu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2