System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Victor Garfield


__ADS_3

Justin Side Pov


Tes! Tes! Tes!


Gelap! Semuanya sangat gelap, Aku tidak bisa melihat apapun disini. Sesaat kudengar suara tetesan air entah berasal dari mana. Perlahan kubuka mataku sambil menyesuaikan cahaya sekitar.


Kurasakan tanganku agak basah dan lengket saat tak sengaja kusentuh genangan air di bawahku. Dengan susah payah aku bangun dari posisiku dan bertumpu pada tangan.


Kulihat lagi genangan air dibawahku, Namun aku menyadari satu hal yang aneh sekarang karna sesaat aku mencium aroma amis dari genangan itu. Netraku melebar setelah menyadari genangan itu bukanlah air melainkan genangan darah dengan warna merah pekat.


"Darah?!" Sontak aku refleks berdiri, Memperhatikan pakaianku yang kini tercampur dengan cairan merah kental itu.


Rasanya aku ingin mual saat aroma amis itu kembali tercium, Kulangkah kakiku menjauh dari sana. Sekitarku benar-benar sangat gelap tak ada pencahayaan satu pun disini, Hingga aku terpaksa melangkah tanpa arah.


"Tempat macam apa ini?! Gelap sekali," Gerutu pelan.


"HAHAHAHA!"


Langkahku terhenti saat samar-samar suara tawa yang mengerikan itu menyapu pendengaranku, Kutolehkan kepalaku mencari asal suara tersebut.


Kakiku melangkah menuju asal suara yang menarik perhatianku, Semakin kudekati suara tawa itu semakin kencang bahkan lebih tepatnya bergema memenuhi tempat ini.


Tak lama kulihat sosok asing tengah tertawa membelakangiku diantara hamparan mayat sekitarnya, Aku tak bisa melihat wajahnya karna hanya sedikit pencahayaan yang menerangi ditambah sosok itu membelakangiku.


Banyak tubuh-tubuh mayat berserakan disana bahkan ada yang anggota tubuhnya sudah terpisah bersama organ dalamnya. Tempat ini juga dipenuhi banyak genangan darah dimana-mana.


Tubuhku seakan terpaku tak bisa digerakkan, Tatapanku terus tertuju pada sosok yang masih tertawa itu. Tak lama sosok itu mengangkat kapak yang sudah penuh dengan noda darah di tangannya.


Dia mengayunkan pada salah satu mayat yang sudah tak bernyawa, Memotong kepala mayat itu sambil tertawa keras.


BBRRAAKK!


KKRRAAKK!


"HAHAHA! MATI KALIAN! MATI!"


Nada suaranya begitu seram, Dia terus memotong bagian anggota tubuh mayat itu layaknya daging cincang. Pemandangan itu membuatku tak tahan, Lantas kututup kedua kupingku dengan kedua tangan.


Kurasakan tubuhku gemetar, Rasa takut sekaligus ngeri menyelimuti tubuhku. Aku memejamkan mata, Tak sanggup lagi melihat pemandangan mengerikan itu.


Aku sangat ingin lari, Sangat ingin pergi dari tempat ini. Tapi kemana? Tempat ini begitu gelap dan tubuhku juga seakan tidak bisa digerakkan.


Suara tawa nya masih terdengar hingga memenuhi gendang telingaku, Kesabaranku mulai menipis secara perlahan.


"BERHENTI! DIAM! KUBILANG DIAM!"


Teriakanku bergema mengalahkan suara tawanya, Kulihat aktivitas sosok itu terhenti, Perlahan kujauhkan kedua tangan dari kupingku. Menatap sosok yang kini menoleh menatapku, Hanya bagian netra merahnya saja yang terlihat diantara kegelapan.


Kulihat sosok itu mulai menyerigai, Senyumnya begitu seram dipandang. Tubuhnya berbalik menghadapku meski wajahnya masih belum terlihat.


"Ternyata kau sudah disini ya. Justin Garfield," Kulihat seringainya semakin lebar, Sebisa mungkin aku bersikap tenang saat dia mulai mendekatiku perlahan.


"Siapa kau? Dari mana kau tahu namaku?" Sahutku dingin, Menatap tajam netra merahnya. Kini sosok itu sudah berada tepat di depanku.


"Siapa aku?" Dia tersenyum sinis, Netra merahnya semakin bercahaya membuatku hanya bisa menatap matanya. "Kukira kau cukup pintar untuk langsung mengenali diriku,"


Keningku berkerut mencoba memahami perkataannya. "Apa maksudmu?! Jangan main-main denganku!"


Seringainya melebar tak lama tangannya perlahan melepas tudung yang dipakainya, Memperlihatkan wajah yang sangat familiar bagiku. Sedikit cahaya menyinari wajahnya hingga terlihat jelas.


Sejenak tubuhku diam membeku tak percaya apa yang kulihat, Netraku melebar dan bibirku seakan bisu tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku sangat syok dan terkejut disaat bersamaan.



"Tidak mungkin...," Gumamku masih tak percaya.

__ADS_1


Wajahnya sangat mirip denganku, Hanya saja yang membedakan warna mata nya saja. Dia kembali tertawa kencang, Saat menatap ekspresi terkejutku.


"Hahaha lucu sekali! Lihatlah ekspresimu itu. Begitu terkejut campur takut bukan?!" Dia bertepuk tangan sambil masih tertawa. "Aku suka dengan ekspresimu itu, Sungguh unik sekali seorang Justin Garfield bisa berekspresi begitu,"


Kedua tanganku mengepal menahan amarah dalam diriku yang bergejolak saat mendengar suara tawanya kembali terdengar.


"Siapa kau sebenarnya?" Kataku pelan masih menatap matanya.


Dia mendekatiku dengan seringai lebarnya, Salah satu tangannya mencengkeram pundakku erat. Perlahan wajahnya mendekat beberapa cm.


"Aku adalah Kembaran sekaligus bagian dari dirimu Justin, Mulai sekarang namaku Victor Garfield. Ingat baik-baik namaku, Karna mungkin suatu saat nanti aku bisa saja mengambil semuanya darimu,"


DEG!


Kurasakan sesaat jantungku berhenti berdetak, Tubuhku masih membeku ditempat. Nada suaranya begitu berat dan seram. Refleks aku mendorong tubuhnya menjauhiku.


"Jangan bercanda! Aku tidak punya kembaran! Selama ini hanya aku satu-satunya anak tunggal di keluarga Garfield!" Bentakku marah, Dia kembali tertawa entah apa yang lucu dari ucapanku barusan.


"Heh! Anak tunggal ya, Apa mereka berhasil manipulasi pikiranmu?" Victor tersenyum remeh menatapku. "Kenyataan yang sebenarnya adalah kita hidup dalam satu tubuh yang sama. Kau dan aku adalah saudara, Itu artinya aku adalah kau dan kau adalah aku,"


"Itu tidak mungkin! Ayah dan ibu tidak pernah mengatakan aku memiliki saudara ataupun kembaran! Mereka hanya bilang kalau aku anak tunggal di keluarga ini dan memiliki kepribadian ganda," Elak ku masih tak mempercayai ucapannya.


Aku kadang memang merasa aneh dengan tubuhku sendiri, Seolah aku terjebak di dalamnya dan tubuhku seakan bergerak sendiri tidak seperti keinginanku. Namun aku tidak pernah bisa mengingat apa yang terjadi dengan tubuhku sebelumnya. Tapi aku masih tidak percaya bahwa sosok di hadapanku ini adalah kembaranku sekaligus sisi ku yang lain.


Kulihat senyum meremehkannya hilang dalam sekejap, Raut wajahnya berubah marah dengan netra yang melototiku.


"Mereka menyembunyikan fakta yang sebenarnya! Kalau saja kita tidak hidup bersama dalam satu tubuh, Maka orang-orang diluar sana tidak akan menganggapmu memiliki kepribadian ganda. Kau akan hidup normal seperti anak-anak lainnya," Kutatap netra merahnya yang berkilat penuh amarah.


"Kau yang asli sejujurnya memiliki mental yang lemah! Apa kau sadar siapa yang selama ini melindungi mu dari orang-orang jahat itu! Apa kau tahu siapa yang membunuh orang tua kita?!"


Aku diam membisu tak bisa menjawab semua pertanyaannya, Kulihat Victor menunjuk dirinya sendiri dengan tawanya yang menggema.


"Itu aku! Ya, Aku lah yang membunuh orang tua kita, Aku yang melindungimu dari orang-orang jahat itu. Hahaha! Siapa lagi yang peduli denganmu selain aku sebagai kembaranmu setelah mereka pergi,"


"Kenapa kau membunuh mereka?! Mereka punya salah apa padamu?"


"Sejak kecil sebisa mungkin aku bersikap layaknya anak normal lainnya sepertimu, Namun apa yang mereka lakukan padaku. Mereka memakiku, Dan bilang kalau aku tidak bisa bersikap normal maka aku akan dihukum. Sedangkan saat kau yang muncul, Kau malah dibanggakan oleh mereka karna kau bisa bersikap normal dan meraih banyak prestasi saat sekolah,"


Victor mencengkeran erat lengan pakaiannya, Seakan dia menyalurkan amarahnya dari sana.


"Karna itu mereka membuangku dan Mengabaikanku, Aku tidak bisa sepertimu Justin," Sesaat kulihat netra merah miliknya yang tadinya bercahaya kini agak redup. Netra merahnya kembali menatapku, Menyadari kalau aku tidak sepenuhnya paham dengan ceritanya.


"Sepertinya kau tidak terlalu paham dengan maksudku ya?" Dia tersenyum remeh, Memasukkan kedua tangannya dalam saku jaket.


"Aku memang tidak paham kenapa kita bisa kembar begini dan kenapa bisa satu tubuh juga," Sahutku datar.


"Baiklah, Akan kuceritakan sebuah kisah untukmu," Dia menghembuskan napas perlahan, Mulai menceritakan fakta yang ingin kudengar.


"Dulu seharusnya kita lahir di waktu yang sama, Tapi dari kita berdua bayi yang lahir prematur, yang bertahan hanya satu. Tapi, aku merasa, yang meninggal hanya raganya saja. Jadi, sederhananya...,"


"Kita berdua hidup dalam satu satu tubuh,"


Kami saling bertatapan, Aku masih diam mencoba mencerna ceritanya. Sampai akhirnya aku memahami semua alasan kenapa sejak kecil aku merasa tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri tidak seperti keinginanku.


"Jadi itu sebabnya dulu Aku hanya diberitahu di diagnosis mengalami gangguan kepribadian ganda oleh dokter. Bahkan kadang, aku juga dianggap delusional. Ternyata selama ini mereka menyembunyikan fakta sebenarnya dariku, Kalau aku ternyata memiliki kembaran,"


"Ya, Kau tidak bisa mengendalikan tubuhmu karna saat itu aku mengambil alih. Jadi aku bisa melakukan apapun sesukaku," Victor kembali tertawa keras, Dia menggenggam kapaknya erat lalu menunjukkan benda tajam itu tepat di depanku.


"Kau lihat kapak ini! Dia adalah temanku. Dan ini adalah darah dari korban-korban yang kubunuh di luar sana," Victor menunjuk noda darah yang menempel di kapaknya. Tampak tersenyum senang.


Keningku berkerut saat menatap kapak di tangannya, Aroma amis pekat sangat tercium dari kapak dan pakaian yang dia kenakan. Lantas aku mundur beberapa meter menjauhi Victor.


"Victor, Bisakah kau berhenti membunuh orang-orang di luar sana. Mereka tidak bersalah, Untuk apa kau melakukan hal itu?" Tanya ku datar, Memasukkan kedua tanganku dalam saku celana.


Senyumnya kembali luntur, Kini tatapannya berubah tajam seakan tatapan itu bisa menembus mataku.

__ADS_1


"Berhenti katamu?! Apa kau tidak tahu yang namanya hobi?! Membunuh mereka adalah kegiatan yang menyenangkan untukku," Victor kembali tertawa kencang. "Lagipula siapa yang akan melindungimu jika aku berhenti membunuh? Kau tidak akan sanggup melawan mereka sendiri,"


"Aku memiliki para anggota Black Shadow yang setia padaku, Tanpa bantuanmu pun kami akan saling melindungi sebagai keluarga," Jawabku mantab tanpa keraguan sedikit pun.


Victor tersenyum sinis sambil bersidekap. "Apa kau yakin mereka bisa dipercaya? Orang kepercayaanmu bisa saja berhianat sama seperti Ethan William,"


Aku tersentak mendengar ucapannya, Dia tahu kalau aku punya musuh penghianat di kantorku?


"Kau tahu soal itu?!"


"Cih! Sudah kubilang kita berdua hidup di raga yang sama. Tentu saja aku bisa melihat, Mendengar, Dan merasakan apa yang kau rasakan juga. Meski kita memegang kendali bergantian," Kutatap Victor yang berdecih, Dia melangkah mendekatiku.


Wajahnya kembali mendekat hingga berbisik pelan tepat disamping kupingku, Dia mencengkeram salah satu pundakku erat.


"Tenang saja, Kalau ada yang menyakitimu meski pun dia adalah salah satu anggota Black Shadow. Aku akan melindungimu Justin, Karna kita berdua adalah satu. Kau dan aku saling memiliki, Dan kita akan tetap bersama selamanya,"


Bisikkan nya membuat tubuhku mematung sesaat, Kutatap netra berwarna merah darah itu. Dia kembali menunjukkan seringainya setelah menjauhkan tubuhnya dariku.


Dia berbalik membelakangiku, Melangkah pergi dari hadapanku.


"Aku yakin mereka semua setia padaku, Dan aku tidak akan membiarkanmu menyakiti salah satu dari anak-anak didikku," Sahutku nyaring membalas perkataannya barusan.


Kulihat Victor berhenti melangkah, Dia hanya melirik pelan padaku dengan senyum remehnya.


"Dan aku akan mengambil apa yang sudah seharusnya menjadi milikku darimu Justin, Suatu saat nanti kau akan kalah dariku,"


Dia kembali melangkah pergi benar-benar meninggalkanku seorang diri di tempat gelap gulita ini.


Justin Side Pov End


***************


Pats!


Kelopak matanya terbuka menampakkan netra beriris orange itu, Keringat membasahi pakaian yang ia kenakan. Sesaat matanya mengerjap menyesuaikan cahaya sekitar, Hingga netranya menangkap wajah Ezra yang berdiri tak jauh dari posisinya.


"Tuan, Anda baik-baik saja? Anda berkeringat banyak sekali, Apa anda mimpi buruk lagi?" Tanya Ezra bertubi-tubi dengan ekspresi cemas menyadari kondisi tuannya.


Justin menggeleng pelan, Ia mendudukkan dirinya di kasur sembari memijit keningnya pelan.


"Entahlah, Mungkin memang hanya mimpi buruk," Kata Justin ragu teringat pertemuannya dengan sosok bernama Victor.


Ezra terdiam sejenak, Pemuda bernetra hijau emerland itu menghela napas. Lalu ia mengambil segelas mineral di nakas, Menyodorkan pada Justin.


Justin menerima gelas itu meminum isi nya perlahan, Setelahnya ia meletakkan gelas tersebut di nakas.


"Saya mendengar anda menyebut nama Victor dalam tidur anda, Siapa dia?" Ezra masih berdiri disamping tempat tidur Justin.


Tubuhnya menegang sesaat mendengar pertanyaan Ezra, Justin mengalihkan pandangannya tanpa menatap lawan bicaranya sembari menggeleng pelan.


"Bukan siapa-siapa, Mungkin kau hanya salah dengar," Elak pemuda bernetra orange itu.


Ezra terdiam bungkam, Tatapan nya berubah sendu meski masih menatap Justin.


"Sekarang Justin lebih tertutup padaku, Hah...Apa yang sebenarnya kuharapkan darinya? Perasaan ini konyol," Pikir Ezra sesaat tersenyum pahit, Tanpa sadar mencengkeram ujung lengan jas nya.


Netra Justin bertatapan dengan netra milik Ezra, Sesaat suasana canggung memenuhi ruangan itu. Ezra buru-buru sedikit membungkukkan badannya.


"Kalau anda tidak memerlukan apapun lagi. Saya permisi,"


Ezra berbalik berniat keluar dari kamar Justin, Namun langkahnya terhenti saat suara Justin kembali menyapu pendengarannya.


"Besok bersiaplah, Kita akan menangkap si penghianat itu. Jangan biarkan dia lolos sekecil apapun," Kata Justin dingin menatap punggung Ezra yang membelakanginya.


"Baiklah, Saya akan melakukannya semampu saya,"

__ADS_1


Setelahnya Ezra melangkah pergi dari kamar Justin tak lupa menutup kembali pintu kamarnya.


TBC


__ADS_2