
BRAK!
"Ketemu!"
Chloe mendongak merasakan kehadiran seseorang didekatnya, Menatap sosok pemuda bersurai biru dengan netra ungu tuanya, Si Al. Sang pemuda tersenyum lebar, Mendekatkan sedikit wajahnya.
Sedangkan Chloe yang otaknya masih dalam proses seketika terperanjat kaget mendapati wajah Al yang begitu dekat dengannya, Alhasil dia tak sengaja mendorong kursi yang sedang didudukinya hingga terjatuh dan berakhir dengan tubuh mendarat lebih dulu dengan tidak elitnya.
"UUWAAA!"
BRUK!
"Chloe!"
Azura dan Ash berseru kaget, Sedangkan Revan hanya memandang datar, Lalu Ivy yang hanya kaget dalam diam dan Si kembar, Leo dan Leon yang seketika menoleh tapi tidak membantu sama sekali. Serta Al yang terdiam bengong.
"Chloe kau baik-baik saja?!" Tanya Azura membantu Chloe berdiri, Sang gadis hanya diam dengan kepala yang berkunang-kunang habis terbentur lantai.
"Ya, Sedikit," Jawab Chloe linglung, Rasanya kepalanya masih dilanda pusing dan sedikit sakit.
Ash yang melihat kejadian itu bersama yang lain lantas langsung menyenggol Al sembari menegur sang pemuda bersurai biru.
"Al!" Tegur Ash.
"Maaf, Chloe," Kata Al tergagap, Merasa bersalah telah mengagetkan sang gadis.
"Haha, Aku baik-baik saja," Setelah merasa pusingnya reda, Chloe tertawa garing. Merasa atmosfer ruangan itu menjadi dingin.
"Benar-benar seperti gadis bodoh! Aku jadi merasa tidak yakin dia dijadikan bodyguard Ivy," Pikir Revan datar sambil memilih duduk di kursi pilihannya.
Chloe kembali duduk dikursinya yang sudah berdiri seperti semula, Gadis itu menghembuskan napas pelan. Ekspresi Chloe yang terlihat seperti memiliki banyak beban pikiran itu ternyata disadari oleh Azura. Sang pemuda memutuskan untuk membuka percakapan diantara mereka.
"Jadi...Chloe, Bisakah ceritakan tentang dirimu?" Tanya Azura lembut.
"Cerita apa? Kurasa tidak ada yang bisa kuceritakan," Chloe menggidikkan kedua pundaknya bingung.
"Masa kecilmu mungkin?" Balas Revan acuh namun juga penasaran.
"Masa kecil ya...," Chloe menopang dagunya sembari berpikir. "Tapi masa kecilku suram lho,"
"A-Apa sesuram itu, Sampai-sampai kau ti-tidak mau menceritakannya?" Tanya Ivy tergagap, Pandangannya lurus menatap Chloe dengan wajah malu-malu.
"Hm...Gak juga sih, Cuma burem aja,"
"Hah?! Burem?" Seketika otak Al mendadak konslet, Gak habis pikir dengan ucapan Chloe.
"Tolong jangan bercanda Chloe," Ash tersenyum kalem, Masih setia menunggu cerita dari sang gadis selagi menunggu makanan mereka datang.
"Eh? Eh? Bukan itu, Maksudku aku gak terlalu ingat masa kecilku gimana. Jadi aku merasa sulit menceritakannya pada kalian," Jelas Chloe gelagapan. "Lagipula untuk apa kalian ingin tahu? Kalian ini sedang gabut atau apa?"
Tak!
"Kami perlu tahu latar belakang dari pekerja baru yang dipekerjakan oleh kak Eli, Bisa jadi kan kedatanganmu kesini mempunyai tujuan lain selain menjaga Ivy,"
Set!
Chloe terkesiap saat tiba-tiba Leon berada disampingnya sambil meletakkan makanan dihadapannya, Melirik dirinya dengan netra gold yang menatap tajam, Meski bibir sang pemuda masih menampilkan senyum kalem.
Tunggu! Jangan bilang mereka semua mencurigai dirinya? Seakan ia adalah penjahat yang akan menyerang mereka saat mereka lengah. Chloe memandang semua anggota keluarga Michelle satu persatu (Kecuali Elizabeth dan Rafael yang tidak berada disana). Semuanya terlihat sangat jelas, Tatapan mereka semua begitu dingin dan penuh kewaspadaan, Pandangan remeh dan mengintimidasi. Hanya Ivy, Ash, dan Al yang tidak memandangnya begitu.
Chloe menunduk mengalihkan pandangannya, Entah kenapa suhu ruangan ini tiba-tiba meningkat drastis, Semakin dingin saja.
"Tolong, Jangan pandang aku begitu. Jangan pandang aku seolah aku adalah penjahat yang perlu kalian waspadai," Kata Chloe lirih yang tentu saja didengar semua penghuni disana. Tangan sang gadis mencengkeram erat ujung bajunya.
"Chloe, Kenapa kamu berpikir begitu?" Ash tentu saja terkejut dengan perkataan Chloe yang tidak terduga.
"Tidak, Hanya saja...Tatapan kalian mengingatkanku dengan orang itu,"
Mendengar cerita dari Chloe membuat Leo memandang wajah muram gadis bersurai biru itu lekat, Memastikan apakah Chloe berbohong atau tidak.
"Dia tidak berbohong, Ekspresi itu tidak salah lagi karna trauma yang disebabkan kenangan buruknya. Mungkinkah kenangan buruk itu terjadi saat dia masih kecil?" Pikir Leo penasaran namun dirinya tak ingin bertanya lebih lanjut dan memilih diam.
Tidak ada sepatah kata pun lagi yang terucap, Semuanya larut dalam keheningan sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Azura yang memang pada dasarnya tidak suka dengan namanya kesunyian, Dia membuka suara lagi.
"Hei, Kalian jangan diam saja. Nanti keburu dingin lho," Kata Azura yang lebih menjurus ke ajakan. Dia mulai menyantap makanannya dengan tenang.
Satu-persatu dari mereka mulai menyantap sarapan masing-masing setelah tersadar dari lamunan, Memilih menyantap dalam diam diselingi beberapa canda tawa dari Al, Ash, Azura, Dan Leo.
****************
__ADS_1
Selesai makan malam mereka pergi mengurus aktivitas masing-masing, Menyisakan Chloe di ruang makan bersama Ash yang memilih menemani sang gadis meski Chloe sendiri tidak memintanya.
Ash menopang dagunya memandang Chloe yang termenung dalam diam, Sebagai senior yang baik mana mungkin Ash membiarkan adik kelas nya sendirian apalagi dalam keadaan sedih seperti ini.
Pemuda bersurai hijau itu meranjak dari duduknya, Mendekati Chloe dan duduk disamping sang gadis. Bahkan saat dirinya mendekat, Chloe sama sekali tidak bergeming.
"Maaf ya, Soalnya yang tadi," Kata Ash dengan senyum ramahnya, Membuat Chloe yang mendengar suara Ash lantas menoleh.
"Soal yang mana?"
"Soal mereka yang menatapmu sebagai ancaman," Ash menghembuskan napas pelan, Merasa tidak enak hati atas perilaku para saudaranya. "Dulu kami pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan dengan pekerja baru, Dia juga ditugaskan sebagai bodyguard Ivy. Tapi karna mengetahui Ivy yang paling lemah diantara kami, Dia memutuskan untuk menculiknya dan meminta uang tebusan pada kami,"
"Jadi sejak saat itu kami rasanya tidak bisa mempercayai orang lain termasuk pekerja baru begitu saja, Kami selalu bertindak waspada ketika ada tamu yang berkunjung ke mansion kami," Jelas Ash mengalihkan pandangannya menatap bingkai jendela.
"Begitu, Kupikir kalian tidak menyukai keberadanku disini tanpa alasan. Rupanya gara-gara kejadian itu ya," Chloe tersenyum hambar, Dirinya sempat berpikir kalau sikap keluarga Michelle padanya karna mereka ingin dia segera pergi dari sana.
"Haha, Tidak kok. Kau tenang saja, Setelah lama tinggal disini kau akan terbiasa," Ash tertawa kecil, Menepuk pelan pundak sang gadis.
"Iya, Makasih sudah cerita padaku kak Ash," Balas Chloe dengan senyum cerianya.
"Sama-sama, Kau cepatlah istirahat. Aku duluan ya," Ash meranjak dari duduknya.
"Ya, Selamat malam kak Ash,"
"Selamat malam,"
Ash pergi duluan meninggalkan Chloe sendiri dalam ruangan itu, Chloe memutuskan mencuci tangannya sebentar di wastafel sebelum akhirnya pergi dari sana.
****************
[Disisi lain]
Cklek!
Pintu ruangan terbuka memperlihatkan seorang wanita bersurai coklat memasuki ruangan seseorang, Dia mendekati seorang pria yang tampak sibuk dengan laptopnya. Sampai-sampai ketika wanita itu sudah berada disampingnya, Sang pria sama sekali tidak menoleh membuat si wanita mengembungkan pipinya kesal.
Dia mencubit pipi si pria dan menggoyangkannya pelan. "Sayang! Sampai kapan kau terus berkencan dengan laptopmu itu?! Masa aku datang tidak kau perhatikan sih?" Kata sang wanita gemas, Tak melepaskan cubitannya.
"Ugh!...Eli, Aku sedang mengerjakan tugasku. Lagipula kau kesini tidak bilang-bilang," Si pria sontak menghentikan aktivitasnya dan langsung menghadap Elizabeth yang berstatus sebagai kekasihnya itu.
Dia memegang tangan Elizabeth yang berada di pipinya dan menjauhkannya perlahan, Senyum teduh terpatri di bibir sang pria ketika melihat ekspresi kesal Eli padanya. Tangannya terulur mengusap pipi Eli dengan lembut.
Mendapat usapan di pipinya membuat Elizabeth tenang, Tak lama si pria meranjak dari kursinya dan mendudukkan Eli disana. Dia mengambil kursi baru lalu duduk disamping kekasihnya itu.
"Jadi, Apa yang membuatmu datang kemari Eli? Lalu dimana Rafael, Bukannya dia sering bersamamu?" Tanya si pria sambil menyuguhkan dua kaleng kopi dari mesin kopi diruangannya.
"Tadinya aku datang bersama Rafael tapi aku memintanya untuk menunggu di luar," Eli membuka penutup kaleng miliknya dan meminum isinya sesaat. "Ada info baru, Aku sudah membawanya tinggal di mansionku,"
"Benarkah? Itu artinya kau berhasil?!" Netra si pria membulat terkejut sesaat lalu tersenyum lembut.
"Ya, Tapi tidak secara cuma-cuma. Aku mempekerjakannya menjadi bodyguard Ivy. Tidak masalah kan?"
"Syukurlah, Tidak apa-apa selama dia baik-baik saja," Si pria tersenyum bahagia, Netra coklat mudanya menatap sendu. "Aku selalu mengawasinya selama ini, Berharap bisa menemukan waktu yang tepat untuk mengajaknya pulang. Tapi selama hampir setahun ini aku kehilangan jejaknya, Namun dengan bantuanmu. Akhirnya dia bisa ditemukan lagi, Terima kasih,"
Elizabeth tersenyum lembut dan menggenggam tangan kekasihnya itu. "Sama-sama, Jangan sungkan begitu. Bagaimana pun dia juga sudah kuanggap adikku sendiri sama sepertimu, Dan atas permintaan Tante Carmilia,"
"Ya, Bunda pasti senang kita sudah menemukannya," Sang pria menggenggam balik tangan Eli. "Tapi aku perlu waktu untuk bertemu dengannya kembali, Untuk sekarang dia tinggal bersamamu dulu ya Eli,"
"Tentu, Tidak masalah buatku. Kau hanya perlu menyiapkan dirimu untuk menceritakan semua yang terjadi padanya,"
"Ya, Aku mengerti,"
Keduanya saling pandang dalam diam, Menatap lekat masing-masing hingga keduanya saling menutup mata. Disaat wajah mereka berdekatan tinggal 5 senti lagi, Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka menampakkan sosok pengganggu yang baru saja datang dan tak sengaja melihat hal absurd yang seharusnya tidak ia lihat.
Cklek!
"Kakak, Apa sudah selesai–"
Rafael seketika bungkam, Matanya mengerjap sejenak memproses situasi dihadapannya. Sedangkan Sang pria dan Elizabeth sontak menjauhkan diri masing-masing dengan wajah memerah malu, Malu sudah ketahuan oleh Rafael.
"....."
Krik! Krik! Krik!
Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik, Bahkan atmosfer ruangan tiba-tiba berubah canggung. Hingga Rafael kembali bersuara dengan kikuk, Merasa tak enak karna sudah mengganggu dua sejoli yang sedang mesra-mesraan ini.
"Maaf mengganggu, Tapi aku cuma mau bilang aku akan menunggu di mobil saja,"
Tanpa menunggu jawaban keduanya, Rafael bergegas menutup pintu dengan hati-hati sebelum langkah kakinya membawanya pergi dari sana. Sebelum pergi dia sempat bergidik.
__ADS_1
"Hebat sekali kak Eli dan Kakak ipar, Aku bahkan tidak pernah melakukannya dengan pacarku," Pikir Rafael, Mungkin setelah ini ia berpikir akan mengajak pacarnya kencan.
Disisi Eli dan si Pria, Keduanya masih diam dalam keheningan. Lalu Eli melihat jam arlojinya yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya, Menunjukkan pukul 8 malam. Eli bersiap untuk pergi dari sana.
"Sayang, Aku pulang dulu ya," Kata Eli meranjak dari duduknya diikuti si pria.
"Iya, Hati-hati dijalan,"
Lalu si pria tiba-tiba memeluk Eli dan berbisik pelan tepat di kuping sang wanita.
"Kita lanjutkan yang tadi nanti," Bisik si pria dengan seringai kecil, Mendengar bisikan kekasihnya membuat wajah Eli merona malu, Dia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
Si pria melepaskan pelukannya dengan senyum tipis lalu mengacak pelan surai coklat milik sang wanita. "Dah, Hati-hati ya sayang,"
"Iya, Bye-bye,"
Sebelum pergi Eli mengecup pipi kekasihnya singkat lalu segera buru-buru pergi dari sana dengan wajah yang masih memerah.
Blam!
Sedangkan si pria yang mendapat kecupan di pipinya hanya tertawa pelan merasa gemas dengan tingkah kekasihnya yang sudah pergi dari sana.
"Imut sekali, Sayangnya hanya bertemu sebentar," Gumam sang pria masih tertawa kecil sebelum kembali fokus dengan pekerjaannya.
***************
[Keesokan harinya]
Matahari mulai menampakkan wujudnya dari ufuk timur, Menyinari bumi dengan malu-malu. Chloe yang merasakan sinar mentari yang mulai menyengat langsung membuka matanya perlahan, Menatap langit-langit kamarnya yang bergaya abad pertengahan Victoria. Dengan ekspresi sayu dirinya memaksakan tubuhnya untuk bangun, Mendudukkan diri sebelum mengusap wajahnya pelan.
Dengan langkah gontai, Chloe menuju kamar mandi sambil membawa handuk di pundaknya. Tak sampai 20 menit, Dirinya sudah segar bugar setelah keluar dari sana. Chloe mulai memakai pakaian semi-formal, Jaket, Ransel, Serta gelang dan kalung kesayangannya.
Setelah menyisir rambutnya sebentar dan mengikatnya menjadi pony tail serta memakai bedak tipis, Gadis bersurai biru itu buru-buru keluar kamar menuruni anak tangga menuju dapur.
****************
Tap! Tap! Tap!
"Selamat pagi semuanya," Sapa Chloe dengan ceria ketika langkahnya berhenti di ruang dapur.
"Pagi Chloe," Sapa Elizabeth balik dengan senyum lembutnya sedangkan sisanya hanya mengangguk tanpa menjawab sapaan sang gadis.
Semuanya sudah berkumpul hanya dirinya yang agak terlambat, Chloe bergegas duduk disamping Azura karna hanya disana tempat duduk yang kosong.
"Oh iya, Kudengar Chloe satu kampus dengan Ash ya?" Kata Eli membuka percakapan.
"Benar, Kak Ash adalah kakak tingkatku di kampus,"
"Haha, Tapi kami jarang ketemu karna sibuk dengan study masing-masing, Benar kan Chloe?" Ash menoleh pelan pada sang gadis dengan tawa garingnya.
"Hu'um, Iya benar. Aku bahkan lebih sering menghabiskan waktuku di kantin kampus atau kalau enggak pergi ke kampus jurusan kedokteran ketemu sama Alice dan Evelyn," Balas Chloe masih tersenyum ceria.
Mendengar nama Alice dan Evelyn sontak semua anggota Michelle yang duduk disana menatapnya serempak (Kecuali Leo dan Leon yang lagi masak). Mereka menatap dengan pandangan berbeda-beda.
"Kamu kenal Alice dan Evelyn?" Tanya Al agak kaget.
"Eh, Iya. Kami bertiga dulu satu SMA tapi sayangnya pas kuliah beda jurusan. Kenapa emangnya?" Mendapat tatapan berbeda-beda dari anggota keluarga Michelle membuat Chloe heran.
"Kalau kamu berteman dengan Alice pasti kamu tahu apa yang terjadi dengan Alice sewaktu kalian SMA kan?" Kata Azura penasaran.
"Kenapa kalian ingin tahu? Setahuku keluarga Michelle tidak ada kaitannya dengan keluarga Brisken,"
Elizabeth menghembuskan napas pelan, Dengan kesal dia mengetik sesuatu di handphonenya dan mengirim pesan itu pada semua adik-adiknya, Memperingatkan mereka agar tidak bertanya lebih jauh.
Ting!
Semua adik-adik Eli yang mendapat pesan dari Eli langsung membuka handphone masing-masing termasuk Al dan Azura yang bertanya tadi, Terkecuali Chloe yang menatap heran.
From: Elizabeth Michelle
Sudah cukup! Kalian jangan bertanya lebih jauh, Belum saatnya dia tahu! Tolong berikan dia waktu untuk mengetahui semuanya secara perlahan!
Mereka semua bungkam setelah mendapat pesan peringatan dari Elizabeth, Azura mengalihkan pandangannya lalu kembali menatap Chloe dengan senyum ramahnya.
"Ah, Tidak apa-apa Chloe. Kami hanya penasaran, Tidak perlu dijawab juga tidak apa-apa," Balas Azura, Dia menyimpan handphone dalam saku. Sedangkan Chloe mengangguk paham.
Tak lama Leo dan Leon pun datang membawa makanan mereka masing-masing, Mereka mulai menyantap makanan mereka kini dengan keheningan tanpa ada yang bersuara lagi.
TBC
__ADS_1