
"Aku juga turut berduka cita dengan kematian Rion, Dia pria yang baik hanya saja takdirnya mungkin sedang buruk,"
"Kau tahu tentang kematiannya?"
"Dibunuh oleh sosok misterius, Tapi aku tidak bisa melihat gambaran sosok itu dengan jelas. Tidak banyak yang kuketahui tentangnya, Setahuku dia salah satu anggota Mafia," Holy menggeleng pelan.
"Kenapa kau tidak bilang padaku sebelumnya jika Rion akan mati ditangannya?! Jika saja saat itu kau memberitahuku lebih awal, Kami mungkin masih bisa menyelamatkan Rion!" Kata Chloe sedikit membentak, Kedua tangannya mengepal kuat melampiaskan emosinya.
Holy mendesah kecil, Pandangannya beralih menatap rimbunan hutan dihadapan mereka. "Awalnya aku juga tidak tahu kalau Rion akan dibunuh, Gambaran itu muncul secara tiba-tiba saat dia sudah menusuk jantung Rion. Wajahnya tidak terlihat jelas karna dia memakai topeng,"
"Jika saja aku tahu hal itu akan terjadi, Mungkin lebih baik aku hentikan saja misi mereka malam itu," Chloe menunduk sedih, Ia mencengkeram lengan bajunya pelan.
Holy diam memandang Chloe sejenak lalu ia menepuk pelan pundak sang gadis. "Tidak ada yang tahu masa depan akan jadi seperti apa. Kita tidak bisa menebaknya, Kurasa jalan yang terbaik adalah menerima semua yang sudah berlalu suka maupun duka,"
"Kau benar, Aku akan mencoba menerima semuanya. Semoga aku bisa segera menangkap Ketua dan para anggota mafia itu,"
"Yup! Aku mendukungmu dari sini Chloe. Jangan lupakan pedang dan mode yang sudah kuberikan padamu, Gunakan dengan baik!"
"Hu'um," Chloe mengangguk pelan sebagai jawaban disertai senyum tipis terukir di bibirnya.
Holy mendongak menatap langit cerah di atasnya, Beberapa burung terbang melintasi mereka dengan kicauan riang disertai semilir angin menerbangkan beberapa dedaunan sekitar mereka.
"Sepertinya sudah saatnya kau kembali, Seseorang menunggumu di luar sana,"
"Siapa?"
"Sudah pergi saja sana!"
Holy mendorong pelan pundak Chloe yang alhasil membuat Chloe terdorong kedepan, Disaat yang bersamaan cahaya putih bersinar terang menerangi tubuh Chloe hingga tak terlihat lagi.
*************
SREK!
Sinar mentari menerangi seisi kamar hingga membuat sang pemilik kamar merasa tidurnya terganggu dengan kehadiran sinar itu. Perlahan ia membuka kelopak matanya memperlihatkan netra sebiru samudra.
"Pagi, Sudah waktunya sarapan,"
Aiden mendekati sisi tempat tidur Chloe dan menarik selimut sang gadis bermaksud merapikan selimut itu. Chloe dengan lesu mendudukkan dirinya masih setengah mengantuk, Sesaat ia merapikan rambutnya yang acak-acakan khas bangun tidur.
"Pagi juga, Apa aku melewatkan makan malam kemarin?"
"Semuanya melewatkan makan malam kecuali Aku dan Devian, Kalian semua tidur seperti kebo. Terlalu pulas sampai-sampai aku membangunkan kalian satu persatu tidak ada satupun yang bangun,"
Entah kenapa kedengarannya Chloe merasa Aiden seperti mencurahkan kekesalan padanya atau sedang mengomelinya saat ini? Padahal ekspresi sang pria datar-datar saja namun yang Chloe dengar begitu.
"Hehehe, Semuanya mungkin lelah dan letih termasuk aku. Jadi kurasa wajar jika kami melewatkan makan malamnya," Sejenak Chloe mengusap pelan tengkuknya sembari terkekeh pelan yang mendapat dengusan kesal dari Aiden.
"Kalau begitu menyingkirlah! Aku harus merapikan kasurmu,"
"Heh! Tidak usah! Aku bisa merapikan sendiri. Kau bangunkan yang lain saja sana," Refleks Chloe mengambil alih selimutnya yang sudah dirapikan Aiden.
Sesaat Aiden menatap datar lalu melangkah keluar dari kamar Chloe, Sebelum pergi ia menoleh sebentar. "Aku sudah menyiapkan air hangatnya, Jadi kau tinggal mandi,"
BLAM!
"Heran deh, Padahal sudah kukunci pintu kamarnya dari dalam, Tapi dia tetap aja bisa leluasa masuk kamarku seenak jidat," Chloe menggeleng pelan sesaat.
Setelahnya ia bergegas merapikan kasurnya agar tak terlambat sarapan.
*************
[Di sisi lain]
Di sebuah ruangan terdapat sosok pemuda bersurai coklat sedang memasak sesuatu, Tangannya dengan lihai memotong sayur hingga kecil tanpa mengalihkan pandangan.
Hingga tak lama terdengar suara derit kursi menandakan seseorang baru saja datang.
"Masak sendiri? Dimana Aiden?"
Felix menoleh sebentar memandang lawan bicaranya dan kembali fokus dengan masakan. "Lagi bangunin anggota lain, Bentar lagi balik,"
"Oh," Justin menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sembari bersidekap. "Apa sudah kau cari posisi dimana jam tangan milik Rion jatuh?"
"Aku sudah mencarinya semampuku, Tidak ada tanda-tanda titik merah itu terlihat di layar laptopku. Bahkan aku sudah menghubungi polisi dan menanyai mereka apakah mereka menemukan bukti lain selain kristal dan bunga itu. Tapi mereka bilang tidak ada,"
"Sial! Sosok misterius itu sengaja menghilangkan jam tangannya. Padahal itu bukti kita yang lain, Semua pembicaraan mereka seharusnya terekam disana,"
Justin mendecih sembari memukul meja pelan, Merasa sangat jengkel atas hilangnya jam tangan Rion.
"Entah ini hanya perasaanku atau tidak, Tapi kurasa jam tangan itu hancur. Jika tidak hancur pasti kita akan tahu dimana titik lokasi jam tangan itu berada," Kata Felix menuangkan masakannya ke beberapa piring.
Justin tak menjawab ia hanya memijit keningnya sembari mendesah pelan.
"Bagaimana bisa jam tangan yang terbuat dari alumanium, perak, Dan baja itu bisa hancur begitu mudah? Semudah menghancurkan kertas," Pikir Justin tidak bisa menerima dengan logika.
TAK!
"Nanti setelah urusanku di cafe sudah selesai, Aku akan mencoba menyelidiki kematian Rion,"
Netra orangenya melirik sepiring mie yang sudah terhidang di hadapannya dengan kumpulan asap yang mengepul menandakan mie itu baru saja selesai dimasak. Sekilas kepalanya menangguk pelan sebagai jawaban.
Beberapa derap langkah kaki terdengar mendekat, Satu persatu dari mereka menempati tempat duduk masing-masing. Felix menghidangkan masakannya.
Setelah semuanya beres mereka mulai makan bersama tanpa ada obrolan lagi.
************
Sebuah mobil berhenti dihalaman depan kampus Chloe, Felix menoleh sebelum sang adik turun dari mobilnya.
"Belajar yang benar, Biar cepat lulus," Nasehat Felix sembari mengusap surai biru milik Chloe dengan senyum tipis.
"Iya kak, Makasih udah nganterin," Chloe membalas senyum Felix lalu mulai membuka seatbelt nya.
"Sama-sama," Felix diam sejenak, Tatapannya tiba-tiba berubah sendu seolah dirinya merasa akan kehilangan sesuatu yang berharga. Sesaat tangannya mencengkeram pakaiannya dimana letak jantungnya berada.
"Ini aneh, Entah kenapa tiba-tiba aku merasa sedih seperti akan kehilangan sesuatu. Apa karena aku masih kepikiran tentang Rion ya?"
"Kakak...Kakak! Halo!"
Felix tersentak dari lamunannya saat menyadari tangan Chloe malambai tepat didepan wajahnya. Netra nya mengerjap sesaat lalu memandang adiknya sambil tersenyum palsu. Menyadari ekspresi Chloe terlihat cemas.
"Ya, Kenapa?"
"Itu...Kakak gak apa-apa kan? Kenapa nangis?"
"Nangis?"
Chloe mengangguk mengiyakan, Refleks Felix langsung mengusap pipinya yang terasa basah. Seketika ia terdiam.
"Aku menangis? Sejak kapan? Aku tidak sadar kalau tadi nangis,"
Felix menggeleng pelan masih memasang senyum palsunya. "Oh, Tadi kakak kepikiran sama Rion. Makanya tiba-tiba nangis," Dustanya.
"Umm...gitu," Sejujurnya Chloe kurang yakin dengan alasan Felix, Namun ia membiarkan hal itu lantaran tak ingin ketinggalan waktu pelajaran yang sebentar lagi mulai. "Ya udah, Aku pergi dulu ya kak,"
"Tunggu!" Felix menahan tangan Chloe sebelum sang gadis pergi. Ia berucap lirih. "Tolong pejamkan matamu, Kakak mau kasih hadiah,"
"Hah, Hadiah?"
"Iya,"
Netra birunya mengerjap bingung meski heran hadiah apa yang akan diberikan Felix, Chloe tetap menuruti keinginan sang pemuda. Ia memejamkan mata.
Merasa mata Chloe sudah terpejam, Felix mendekatkan wajahnya dan mencium kening adiknya dengan lembut lalu beralih mencium kedua pipi. Sejenak netranya terpaku pada bibir sang gadis, namun ia tak bisa melakukannya meskipun ingin.
__ADS_1
Ia menjauhkan wajah disertai rona tipis menghiasi kedua pipinya. "Kau bisa membuka matamu sekarang,"
Chloe memilih diam usai membuka kedua kelopak matanya, Dalam hati dirinya speecheles.
"Itu hadiahnya?"
"I-Iya, penyemangat dari kakak,"
Sang gadis hanya bisa mengulum senyum dan membalas ciuman Felix di pipi sang pemuda.
CUP!
"Penyemangat dariku juga kak, Aku pergi dulu,"
BLAM!
TAP! TAP! TAP!
Felix terdiam membeku setelah Chloe sudah hilang dari pandangannya. Rona tipis masih menghiasi kedua pipinya sembari menunduk.
"Ah, Ada apa denganku? Padahal aku duluan yang mulai, Tapi rasanya aku jadi salting sendiri," Gumam Felix malu.
Ia segera menyalakan mesin mobilnya dan tancap gas meninggalkan area halaman depan kampus.
************
[Cafe]
KKRRIINNGG!
Lonceng pintu berbunyi nyaring saat Felix memasuki Cafe miliknya, Terlihat puluhan pelanggan memenuhi area Cafe sepanjang mata memandang. Begitu penuh ditambah para barista yang berlalu lalang menerima pesanan pelanggan.
Felix berjalan santai menuju ruangannya hingga berpapasan dengan Finnian yang baru saja keluar dari area dapur.
"Eh Felix, Akhirnya kau datang juga. Seperti biasa hari ini kita kekurangan barista nih," Canda Finni sembari terkekeh pelan. Felix tersenyum simpul menanggapi candaan sahabatnya itu, Paham akan kode dari Finni.
"Iya aku tahu kok, Kau urus pelanggan lain dulu. Nanti aku nyusul setelah ganti pakaian,"
"Hehehe, Oke. Cepat ya, Barista lain udah pada kewalahan soalnya,"
"Hm,"
Felix mengangguk dan segera menuju ruangannya untuk ganti pakaian sedangkan Finni kembali melanjutkan aktivitasnya menerima pesanan pelanggan.
*************
Beberapa jam kemudian...
Tak terasa hari semakin larut, Satu persatu pelanggan yang tersisa meninggalkan Cafe setelah bayar. Finni membukakan pintu untuk para pelanggan tersebut sambil membungkuk kecil disertai senyum ramah.
"Terima kasih atas kunjungannya, Datang lagi ya,"
Setelah para pelanggan hilang dari pandangannya, Finni menutup pintu dan menempelkan tanda 'Close' pada kaca Cafe. Setelahnya Ia mendekati Felix yang sedang membersihkan meja sekaligus membersihkan sisa-sisa makanan dibantu barista lain.
"Sini piringnya, Biar kucuci," Pinta Finni meraih piring dan gelas di tangan Felix.
"Oke, Habis itu jemurin kainnya,"
"Iya,"
Semua barista sibuk melakukan aktivitas masing-masing, Usai membersihkan Cafe satu persatu dari mereka pulang.
"Finni, Felix. Kami duluan ya," Kata salah satu teman mereka.
"Ya, Hati-hati," Balas Finni dan Felix bersamaan yang tengah sibuk menghitung penghasilan Cafe mereka.
Teman mereka pun pergi yang kini hanya tertinggal Finni dan Felix di Cafe, Sesekali Felix mencatat hasil hitungan mereka.
"Felix, penghasilan bulan lalu belum dijumlahkan,"
Finni segera mencatat sesuai perintah Felix, Hingga beberapa menit kemudian keduanya selesai dengan aktivitas masing-masing.
"Hah, Kelar juga akhirnya. Pegel banget tanganku," Keluh Finni sambil meletakkan pulpennya dan melemaskan jari-jari tangannya.
Felix hanya terkekeh pelan lalu netra aquanya menatap jam Cafe yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Gak kerasa udah mau tengah malam aja," Kata Finni yang ternyata ikut menatap jam Cafe. "Fel, Aku ikut nebeng mobilmu ya,"
"Tumben, Biasanya naik bis mulu,"
"Lagi males nunggu bisnya, Udah capek banget nih," Gerutu Finni dengan ekspresi memelasnya.
"Iya iya deh, Cepetan ganti sana!"
"Siap bos," Finni melakukan gerakan hormat ala tentara, Setelahnya ia berlari kecil menuju ruangan staff. Sedangkan Felix hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah sahabatnya itu, Ia pun melangkah menuju ruangan miliknya.
Usai berganti pakaian Felix menuju ruang staff menyusul Finni yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Ia mengetuk-ngetuk pintu sembari berteriak kecil.
"Finni cepetan! Cuma ganti pakaian doang lama amat,"
"Bentar napa, Kunci rumahku jatuh nih,"
Pemuda bersurai coklat itu mendesah lelah, Menyandarkan punggungnya di dinding sambil menunggu Finni.
KKRREEIITT!
Finni membuka pintu sambil menenteng kunci rumahnya yang sempat jatuh, Ia tersenyum lima jari saat ditatap jengkel oleh Felix.
"Nih udah dapet, Pulang yuk,"
"Untung aku sabar, Kalau enggak udah kutinggal kau dari tadi," Dengus Felix.
Finni menunjukkan jarinya yang membentuk peace, Tersenyum nyengir dengan wajah watados (wajah tanpa dosa).
Felix berniat mendahului Finni namun suara gaduh yang muncul secara tiba-tiba membuatnya mengurungkan niat.
PPRRAANNGG!
BBRRAAKK!
"Astaga suara apa itu?!" Finni tersentak kaget saat suara yang memekakkan telinga itu muncul.
Sedangkan Felix langsung memasang sikap waspada, Tangannya dengan siaga memegang ujung pistol yang tersimpan rapi dalam saku jaketnya.
"Suaranya berasal dari depan Cafe. Tetap dibelakangku," Bisik Felix pelan hanya Finni yang mendengar bisikan itu.
"Baik!"
Secara hati-hati Felix melangkah menuju depan Cafe tempat meja para pelanggan berada, Diikuti Finni yang ikut memasang sikap siaga. Keduanya sampai di depan cafe, Tidak ada tanda-tanda seorang pun disana selain mereka dan kaca Cafe yang retak dan pecah seolah habis dilempar sesuatu.
Netra aquanya memandang pecahan kaca yang berserakan dibawah kakinya, Lalu Felix menoleh pada Finnian dengan serius.
"Finni, Lebih baik kau pulang lebih dulu. Biar aku saja yang membereskan pecahan kaca ini,"
"Apa?! Apa kau sudah gila?! Mana mungkin aku meninggalkanmu dalam situasi aneh begini. Seseorang pasti sengaja melakukan ini untuk menakut-nakuti kita," Protes Finni tak terima.
Felix membuka mulutnya berniat menyahut perkataan Finni namun diurungkan ketika dirinya melihat sekelebat bayangan hitam tiba-tiba melintas dengan cepat disertai suara tawa mengerikan.
WWUUSSHH!
"Hahaha!"
Sontak Felix langsung mengambil pistolnya secepat kilat dan berteriak pada Finnian.
"FINNI MENUNDUK!"
__ADS_1
Refleks Finni langsung menunduk menuruti perintah Felix disaat bersamaan suara tembakan pistol terdengar ke seluruh penjuru Cafe.
Dor! Dor! Dor!
Felix sebisa mungkin berusaha menembak sosok misterius itu, Namun tembakannya selalu meleset dan malah mengenai benda-benda tak bersalah disana.
"Sial! Dia cepat sekali," Umpat Felix dalam hati.
"Hahaha, Kau tidak bisa mengenaiku,"
Felix menggeram marah mendengar ejekan sosok itu, Ia kembali mengancungkan pistolnya namun tiba-tiba beberapa rantai entah berasal dari mana bermunculan dan menyerang Felix hingga Felix terpental dan punggungnya menabrak salah satu meja.
BUAK!
BRUK!
"Felix!"
Finnian lantas berlari menghampiri Felix, Dirinya semakin panik saat tak sengaja melihat pipi Felix yang tergores dan berdarah akibat terbentur meja.
"Fel, Kita harus pergi dari sini,"
Felix mencoba menatap wajah Finni karna pandangannya agak sedikit buram akibat benturan tadi. Netranya tak sengaja melihat sosok misterius itu sudah berada dibelakang Finnian dan mencoba memukul sang pemuda. Refleks ia mendorong Finni kesamping dan kembali menembak sosok itu.
"Finni awas!"
BRUK!
Dor! Dor! Dor!
WWUUSSHH!
Sayangnya sosok itu kembali melesat cepat menghindari tembakan Felix dan hilang dalam sekejap, Felix lantas berdiri tertatih dan membantu Finnian berdiri.
"Kita harus cepat pergi dari sini Felix, Dia mungkin bisa kembali kapan saja,"
"Baiklah, Ayo," Felix mengangguk cepat sambil menyimpan pistolnya dan dipapah oleh Finni.
Baru beberapa langkah keduanya terdiam saat mendengar suara yang tak asing ditelinga mereka, Suara itu berada tak jauh dari posisi Felix dan Finnian saat ini.
TIT! TIT! TIT!
Sontak Felix menoleh cepat menatap sudut cafe menyadari suara itu berasal dari sana. Terdapat beberapa bom yang terpasang, Tinggal 5 detik lagi bom itu akan meledak. Sadar mereka tak punya banyak waktu, Felix lantas mendorong Finni menjauhinya hingga membuat Finni terjatuh.
"FINNI LARI!"
"FELIX!"
TIT!
DUUAAARRR!
PPRRAANNGG!
Ledakan besar pun terjadi Finni segera memejamkan mata dan menggunakan tangannya sebagai temeng walau ia tahu semua itu akan sia-sia disaat bersamaan gelombang udara besar berasal dari ledakan itu menghantam tubuh Finni disertai pecahan kaca yang bertebaran dimana-mana membuat tubuhnya terpental beberapa meter.
KKRRAAKK!
Finni mendongak saat tak sengaja mendengar suara retak dari atas kepalanya, Napasnya memburu tak beraturan, Dan tubuhnya seakan mati rasa akibat efek dari ledakan itu. Hingga tak lama bangunan Cafe itu pun perlahan roboh dan menimpa tubuh Finni hingga menutupi pandangan sang pemuda.
BRUK!
*************
Kobaran api kecil menyala terang dari beberapa bagian bangunan yang sudah tak berbentuk lagi, disisi lain sebuah kayu bergerak kesamping dan seseorang berusaha menyelamatkan diri dari tumpukan bangunan yang menimbunnya. Finni, Pemuda itu berusaha keluar dari sana sembari menjangkau benda didekatnya untuk membantunya keluar.
BRUK!
Usai berhasil keluar Finni terbatuk-batuk berusaha menghirup udara untuk mengisi oksigennya yang mulai menipis. Sesaat ia mengerang sakit mencoba menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya yang dipenuhi luka dan goresan wajahnya pun tak luput dari luka-luka itu. Kening dan kakinya juga berdarah akibat terkena benturan bangunan.
Ia berdiri perlahan dan berjalan menuju beberapa timbunan bangunan dengan tertatih mencari keberadaan Felix sambil menahan sakit.
"Felix, Kau dimana?!" Teriaknya Memastikan beberapa timbunan.
Hawa panas dari kobaran api kecil disekitarnya tidak ia hiraukan, Tujuannya hanya terpaku untuk mencari keberadaan Felix.
Hingga akhirnya setelah beberapa menit berkeliling, Finni tak sengaja mendengar suara erangan dari balik salah satu timbunan. Ia lantas mendekati timbunan itu dengan panik dan menjauhkan beberapa bata dan kayu.
"Felix, Bertahanlah!"
Prak!
Dengan sekuat tenaga ia menjauhkan bata dan kayu-kayu itu, Usahanya tak sia-sia Finni menemukan Felix yang terbaring lemah tak berdaya. Wajah pemuda bersurai coklat itu juga dipenuhi luka-luka bahkan lebih lebar dan dalam dari pada luka Finni, Hampir sebagian wajah Felix dipenuhi dengan darah.
"Aku akan membawamu keluar dari sini," Finni berusaha menarik tubuh Felix menjauh dari timbunan bangunan namun Felix terlihat kesakitan dan kembali mengerang.
"Cu-Cukup! Hentikan Finni!"
"Ta-Tapi Felix, Kau harus bertahan,"
Felix menggeleng lemah. "Tubuhku tidak bisa digerakkan, Rasanya aku tidak bisa merasakan kakiku lagi,"
Finni tersentak ia mengalihkan pandangannya pada kaki Felix dan menyadari kedua kaki sahabatnya tertimbun dinding bangunan yang lebih besar, Darah juga terlihat mengalir deras dari sela-sela dinding itu. Pandangannya beralih menatap dua buah besi kecil yang menancap tepat di perut Felix, Hampir semua pakaian pemuda bersurai coklat itu dipenuhi warna merah.
Tanpa sadar matanya meneteskan air mata, Finni menggigit bibir bawahnya tak bisa menerima kenyataan yang ia lihat. Ia memangku kepala Felix dan menggeleng pelan menangis dalam diam.
"Ja-Jangan pernah berkata begitu, Ka-Kau pasti bisa selamat Felix," Kata Finni dengan nada yang agak bergetar, Tangannya mencengkeram kerah pakaian Felix erat. "Percaya padaku, Kau pasti bisa selamat!"
Felix hanya tersenyum teduh sambil menahan rasa sakit di tubuhnya, Ia meraih tangan Finni dan menggenggamnya erat sembari menyelipkan jam tangan miliknya di tangan Finni.
"Selama ini aku senang memiliki sahabat setia sepertimu, Terima kasih sudah menjadi sahabatku selama bertahun-tahun dalam duka maupun suka,"
Finni semakin meneteskan air matanya, Bibirnya bergetar menahan isak tangis. Tangannya menggenggam tangan Felix balik.
"Aku juga ingin berterima kasih pada keluarga kandungku dan keluargaku di asrama, Tolong sampaikan rasa terima kasihku pada mereka ya dan tolong berikan jam tangan ini pada Chloe jika kau bertemu dengannya,"
"I-Iya pasti, Pasti akan kusampaikan dan kuberikan jam tangan ini pada Chloe," Kata Finni dengan nada yang masih bergetar, Air matanya tak kunjung berhenti mengalir.
"Kuharap...Uhuk-uhuk–" Kalimat Felix terpotong secara tiba-tiba ia terbatuk-batuk dan memutahkan seteguk darah segar, Mulutnya dipenuhi cairan merah.
"Felix?!" Finni tersentak saat merasakan genggaman tangan Felix mulai melemah dan suhu tubuh sang pemuda mulai dingin. Felix menatap langit malam yang dipenuhi bintang diatas mereka, Ia masih tersenyum teduh meski bibirnya hampir pucat.
"Ku-Kuharap...Kita bertemu...Lagi di kehidupan...Selanjutnya...."
Netra aqua nya perlahan meredup dan matanya menutup erat untuk selama-lamanya tanpa bersuara lagi. Senyum dibibirnya memudar dan perlahan tangan Felix yang digenggam Finni pun jatuh.
Air matanya semakin menetes dengan deras setelah kata-kata terakhir Felix, Finnian menggenggam erat jam tangan milik sahabatnya itu. Ia menunduk kecil sambil tersenyum penuh kesedihan.
"Bahkan disaat terakhir pun kau masih bisa tersenyum, Bodoh!"
Tes! Tes! Tes!
Finni memeluk kepala Felix meluapkan rasa kehilangannya, Ia menangis keras sekaligus berteriak memanggil nama sahabatnya itu.
"FELIXXXXX!"
Malam itu menjadi saksi bisu atas kematian Felix dan rasa kehilangan dan kesedihan dari Finnian.
Disisi lain sosok misterius dengan jubah hitam dan topeng menutupi seluruh wajahnya memandang timbunan bangunan dimana Finnian dan jasad Felix berada. Ia hanya diam dalam keheningan malam, Tak lama setangkai bunga lily tiba-tiba muncul dan terbentuk di tangannya.
Ia melempar bunga itu tepat menuju tempat Finnian berada. Membiarkan kelopak-kelopak bunga lily berterbangan mengikuti arah angin.
"Felix Edricson, Kau kalah telak. Nyawamu lah sebagai gantinya," Gumam sosok misterius itu dingin.
Ia berbalik dan menghilang dalam sekejap dalam kesunyian malam meninggalkan kelopak-kelopak bunga lily di sekitar tempatnya berdiri.
__ADS_1
TBC