System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Perasaan Ezra (2)


__ADS_3

Sesampainya di lantai atas, Chloe bergegas menuju kamar Ezra sambil memeluk buket bunga dan sekantong cemilannya. Tangan gadis itu meraih gagang pintu lalu memasuki kamarnya begitu saja. Untuk menghindari kejaran Revan dia menutup pintu rapat-rapat.


Tap! Tap! Tap!


Suara langkah kaki terdengar mendekat dari balik pintu, Chloe menyandarkan tubuhnya dengan jantung yang berdegup kencang karna mendengar suara langkah itu. Keningnya dipenuhi keringat dingin dengan napas tersegal-segal.


Samar-samar suara Revan terdengar dari balik pintu. "Sial! Awas saja anak itu kalau ketemu!"


"Hiiyy, Kayak lagi dikejar hantu. Menakutkan," Pikir Chloe bergidik ngeri mendengar suara Revan. Tak lama langkah kaki itu terdengar menjauh, Chloe menghembuskan napas lega.


Pandangannya beralih ke tempat tidur Ezra, Netra birunya seketika membulat terkejut karna melihat Ezra yang sudah siuman. Ezra perlahan melepas kain yang menempel di keningnya, Meletakkan ke sembarangan tempat. Ia mengambil posisi duduk tak lama meranjak dari sana dengan tubuh lemah.


Ezra perlahan melangkah menuju pintu sambil menundukkan kepala hingga helai-helai rambutnya menutupi wajah, Tangan satunya bertumpu pada tembok untuk menopang dirinya agar tak jatuh saat berjalan. Samar-samar Chloe mendengar gumaman lirih dari Ezra.


"Aku..ingin pulang, Aku tidak...suka disini...,"


Chloe sontak berdiri, Ia menghalangi pintu dengan tubuhnya agar Ezra tidak bisa membukanya.


"Pak Ezra! Bapak ini lagi sakit, Jangan pulang dulu sebelum bapak sembuh!" Kata Chloe tegas, Merentangkan tangan menghalangi jalan Ezra setelah Ezra sampai dihadapannya.


Ezra hanya memandang Chloe dengan tatapan sayu nya, Dia berusaha mendorong dan menyingkirkan pundak Chloe dari pintu.


"Minggir!"


Chloe terdorong kesamping, Meski Ezra sedang sakit. Tenaganya masih kuat untuk menyingkirkan Chloe. Dia meraih gagang pintu dan membukanya.


Cklek!


"Pak! Berhenti! Bapak harus memikirkan kondisi bapak!" Chloe mengejar Ezra yang sudah keluar dari kamar, Dia menahan tangan Ezra agar tidak melangkah lebih jauh lagi. "Pak, Dengerin aku. Kalau bapak keras kepala kayak gini terus, Bapak gak bakalan bisa sembuh!"


Ezra menggeleng pelan. "Aku cuma...ingin pulang...,"


"Bapak bisa pulang nanti, Saat ini bapak fokus sembuhin diri dulu," Nada Chloe melunak, Berusaha membujuk Ezra.


Ezra diam sejenak, Rasa pusing dikepalanya semakin menjadi-jadi. Tenaganya melemah, Alhasil tubuhnya mendadak jatuh. Chloe tersentak dan refleks memegangi tubuh Ezra sebelum membentur lantai.


"Pak! Sini pegangan ke aku," Chloe memegangi tangan Ezra agar bisa membantunya berdiri.


Revan yang mendengar keributan tak jauh dari posisinya lantas segera menuju asal suara, Dia menemukan Chloe yang sedang memegangi tangan Ezra, Membantu berdiri. Sontak Revan menyembunyikan diri dari balik tembok agar tidak ketahuan Chloe dan Ezra.


"Apa yang barusan kulihat?! Mereka punya hubungan apa sebenarnya?" Pikir Revan dengan ekspresi terkejutnya, Dia mengintip memastikan Chloe dan Ezra masih disana.


Tak lama Ash dan Al muncul dengan napas tersegal-segal habis menaiki tangga hanya karna menyusul Revan, Keduanya tampak bingung memandang sikap Revan.


"Revan, Kau ngapain?" Tanya Ash bingung.


Mendengar suara Ash sontak Revan berjengit kaget, Lalu menoleh sambil mendelik tajam. Dia menarik Ash dan Al untuk ikut bersembunyi.


"Sssttt! Pelankan suara kalian!" Desis Revan meletakkan jari telunjuknya tepat didepan bibir.

__ADS_1


"Memangnya ada apa sih?" Bisik Al memelankan suaranya.


"Itu...," Revan menunjuk keberadaan Chloe dan Ezra yang masih disana tepat didepan ambang pintu. Raut wajah gadis itu tampak cemas. Al dan Ash refleka ikut mengintip, Mendengarkan interaksi antara Chloe dan Ezra.


"Sudahlah...Tidak perlu...," Ezra melepas pegangan Chloe darinya, Berniat berdiri sendiri. Namun tampaknya gadis itu tidak ingin melepasnya sama sekali, Raut wajahnya berubah kesal.


"Bapak jangan sok kuat! Lihat, Kepala bapak bahkan basah sama keringat!" Chloe menyentuh kening Ezra, Membuat pria bersurai hitam itu agak kaget. "Aku lap in ya pak? Sini,"


Chloe berniat mengelap keringat Ezra dengan sapu tangan yang dia bawa, Namun Ezra segera menepisnya sambil menggeleng.


Plak!


"Gak usah...Aku bisa sendiri," Ezra mengambil alih sapu tangan dari Chloe, Dia menyandarkan tubuhnya pada tembok. Napasnya masih terputus-putus, Perlahan dia mengelap keringatnya.


Disaat bersamaan Kenzo yang ingin memastikan keadaan Ezra, Melihat Ash, Revan, Dan Al sedang bersembunyi di balik tembok. Tengah mengintip interaksi antara Ezra dan Chloe. Dirinya datang bersama Xavier dan Vallen yang ingin memastikan keadaan Ezra dan Chloe yang memungkinkan untuk di proses hukum atau tidak.


"Ck! Apa yang kalian bertiga lakukan, Sudah berani menguping pembicaraan orang lain. Benar-benar tidak punya etika!" Sindir Xavier tajam.


Revan, Ash, dan Al seketika menoleh. Revan berdecih sinis sebelum membuka suara.


"Kalian yang gak punya etika! Tiba-tiba datang cari keributan terus sama kami. Kami ini sedang memastikan hubungan antara Pak Ceo dan anak itu!" Kata Revan dengan suara rendah agar tidak terdengar Ezra dan Chloe. Karna saat ini posisi mereka agak jauh, Meski begitu mereka masih bisa mendengar pembicaraan Ezra dan Chloe.


Xavier mengernyit sedangkan Vallen tampak tertarik.


"Sepertinya menarik, Aku juga jadi penasaran apa yang mereka lakukan," Vallen mengalihkan pandangannya.


"Kau juga penasaran dengan maksud perkataan pria itu tempo lalu kan Kenzo?" Vallen tersenyum misterius dan mendapat anggukan kecil dari Kenzo.


"Iya,"


Disisi Chloe dan Ezra. Gadis itu memandang diam, Membiarkan Ezra sendiri mengelap keringatnya.


"Ano, Kalau begitu aku pijitin kepalanya ya biar pusingnya berkurang, Setelah itu bapak minum obat,"


Tangan Chloe terulur berniat kembali menyentuh kening Ezra, Namun Ezra segera menahannya dengan tatapan kesal kali ini.


BATS!


"Kau gak perlu begitu padaku! Aku bukan anak kecil yang perlu perhatian! Dan juga Bisa gak jangan menatapku begitu, Aku benci ditatap seperti itu. Menyebalkan!" Bentak Ezra kesal, Yang membuat Chloe mematung seketika.


"Bukan begitu maksudku pak, Aku gak bermaksud memperlakukan bapak seperti anak kecil. Tapi bapak...Masih benci aku sampai sekarang?!" Kata Chloe menatap kaget.


"Iya! Aku masih benci padamu, Karna kau itu tengil menyebalkan dan suka mencampuri urusanku. Bahkan kau tidak memperbolehkanku pergi!" Chloe menatap wajah Ezra yang memerah antara demam dan marah.


Chloe melepas tangannya dari Ezra kini ia menjadi jengkel karena sikap keras kepala Ezra. "Bapak ini kenapa sih! Bapak lagi sakit, Tapi bapak masih mikir ingin pulang dari sini. Dalam keadaan begini bapak kayak gak mementingkan diri sendiri!"


"Aku begini karna dari tadi aku khawatir tapi rasanya selalu dihalang-halangi buat ngebantu. Aku cuma mau Pak Ezra gak sakit lho. Bisa gak kali ini bapak nurut sama aku?! Aku cuma minta satu itu aja dari bapak. Gitu doang kok repot!" Alhasil Chloe yang terlanjur jengkel mengeluarkan semua kekesalannya.


Ezra mengerjapkan matanya sesaat, Emosinya menguap entah kemana melihat Chloe yang kali ini menceramahinya panjang lebar.

__ADS_1


"Gitu doang? K-Kamu marah?"


Gadis itu masih menatap jengkel sambil berkacak pinggang. "Tentu saja iya! Kan dari tadi aku udah bilang aku khawatir sama bapak. Bapak aja yang dari tadi terus keras kepala gak mau nurut! Lagian aku gak akan mikir yang aneh-aneh tentang bapak dan aku gak akan bilang ke orang lain termasuk sahabat bapak dari Maximillian itu,"


Ezra menatap diam, Ia menggigit bibir bawahnya tanpa sadar. Netra hijaunya melirik ke arah lain menghindari tatapan Chloe. Perlahan ia meraih tangan Chloe dan menggenggamnya membuat Chloe kini memandang bingung.


"....?"


"Aku...Maaf sudah membuat kamu marah dan karena sudah menyakiti hatimu gara-gara aku yang egois ini. Maaf juga soal yang tadi, Aku hampir melewati batas. Kamu menyadarkanku, Terima kasih," Ezra menutup mulutnya dengan satu punggung tangannya, Wajahnya yang memerah kini semakin memerah mengingat kejadian sebelumnya.


"Iya, Gak apa-apa pak. Lagian aku juga yang sudah membuat bapak begini. Sekarang bapak mau kan minum obat dan tinggal disini sementara sampai bapak sembuh?" Chloe memegangi tangan Ezra.


Ezra mengangguk kecil sebagai persetujuan, Lalu Chloe membantunya berdiri. Gadis itu memapah Ezra sampai memasuki kamar dan membantu membaringkan sang pemuda di tempat tidur.


"Tapi kamu harus tanggung jawab merawatku sampai sembuh! Yang membawaku kesini kan kamu!" Delik Ezra yang dibalas kekehan dari Chloe. Gadis itu menarik selimut sampai sebatas dada Ezra.


"Bapak kan terpaksa kesini karna dibawa kak Ray dan saudaranya yang lain, Jadi gak sepenuhnya salahku kok. Tapi aku janji ngerawat bapak sampai sembuh," Chloe merendahkan tubuhnya.


"Sekarang bapak istirahat sebentar, Aku mau masak bubur dulu buat bapak. Nanti kubangunin kalau sudah jadi,"


"Hm...Nunduk sebentar!"


Chloe mengerutkan alisnya sesaat, Tanpa berkata apapun dirinya mengikuti perintah Ezra. Chloe menunduk hingga wajahnya berdekatan dengan Ezra. Kemudian Ezra berbisik pelan tepat disamping kuping Chloe.


"Mereka dari tadi memantau kita, Mungkin juga telah mendengarkan pembicaraan kita,"


"Siapa?"


"Michelle dan Maximillian, Pasti mereka sudah curiga dengan kita. Jangan lakukan hal yang mencurigakan, Tetap bersikap biasa dihadapan mereka,"


Chloe melirik diam-diam kebelakangnya, Memastikan apakah yang dikatakan Ezra benar atau tidak. Benar saja, Meski hanya sedikit yang terlihat namun Chloe bisa mengingat jelas pakaian yang dikenakan Revan, Dia bersembunyi di balik tembok bersama para saudaranya dan Maximillian brother.


Sontak kepalanya mengangguk kecil dengan ekspresi serius. "Aku mengerti,"


Tak lama Chloe menempelkan satu tangannya ke pipi Ezra, Dan mencium pipinya dengan lembut. Sontak wajah Ezra kembali memanas, Rona merah samar pun tak luput juga menghiasi kedua pipi Chloe.


Chloe menjauhkan wajahnya sembari tersenyum lebar. "Selamat beristirahat pak, Aku akan kembali lagi nanti,"


"Hei...K-Kau mencuri start duluan!"


Gadis itu tertawa pelan, Memeletkan lidahnya dengan pandangan mengejek. "Bapak tadi juga duluan, Aku belum siap malah main nyosor aja,"


"Seharusnya kau melakukannya disini," Ezra menunjuk bibirnya sendiri, Senyum tipis tertampang di wajah tampannya yang sontak membuat wajah Chloe memerah seperti tomat siap matang karna mengingat kejadian sebelumnya.


"Gak mau! Bapak lagi sakit, Nanti aku ketularan sakitnya. Dah pak," Chloe dengan wajah memerah lantas bergegas pergi keluar kamar, Meninggalkan Ezra yang tersenyum tipis.


"Dasar si tengil itu...," Ezra memandang langit-langit kamar. "Tapi yang tadi tidak buruk juga," Dia kembali tersenyum tipis sebelum perlahan matanya kembali menutup mengistirahatkan diri.


TBC

__ADS_1


__ADS_2