System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Ulang Tahun Ezra


__ADS_3

Sinar mentari bersinar cerah menerangi bumi, Burung-burung berkicau ria terbang melintasi sebuah danau. Semilir angin berhembus pelan menerbangkan beberapa dedaunan sekitarnya. Di tepi danau terlihat seorang anak kecil bersurai hitam sedang duduk termenung disana.


Dia memeluk lututnya sembari memandang pantulan bayangannya di permukaan air, Raut wajahnya terlihat muram diselingi hembusan napas dari anak kecil itu. Sesaat pandangan matanya begitu kosong seolah tak memiliki semangat hidup.


Tap! Tap! Tap!


Mendengar suara langkah kaki mendekat membuat dia mengalihkan pandangannya, Netra hijau emerlandnya menangkap sosok seorang anak perempuan yang terlihat gugup, Anak perempuan itu sontak menghentikan langkahnya saat ditatap oleh anak bernetra hijau emerland.


"Ah, Ano...," Anak perempuan itu memilin ujung pakaiannya gugup, Menatap anak bernetra hijau emerland dengan ragu. "M-Maaf mengganggumu sebelumnya, Tapi bisakah kau membantuku?"


Anak kecil dengan netra hijau itu menghembuskan napas, Dia kembali memandang danau dihadapannya. "Pergilah, Aku tidak bisa membantumu!"


"B-Begitu ya," Sesaat terdengar nada kecewa dari anak perempuan dibelakangnya. Anak perempuan itu menunduk masih memilin ujung pakaiannya gugup. "Aku sedang mencari seseorang, Dan saat bertemu denganmu kupikir kau bisa membantuku. Karna aku tidak tahu seluk beluk tempat ini,"


Anak kecil bernetra hijau memilih diam mendengarkan meski dirinya tidak terlalu peduli dengan masalah anak perempuan itu. Sorot netra hijaunya tak lepas dari pantulan bayangannya.


"Lebih baik kau pulang, Orang tuamu pasti mencarimu," Kata anak bernetra hijau tanpa memandang anak perempuan itu.


Seketika sang anak perempuan kembali menunduk. "A-Aku tidak bisa pulang,"


"....."


"Aku bukan berasal dari tempat ini, Makanya aku tidak tahu ini dimana. Aku datang kesini cuma untuk mencari seseorang setelah beberapa bulan tidak bertemu," Tambah anak perempuan itu sedih.


Anak kecil bernetra hijau seketika mengalihkan pandangannya menatap anak perempuan itu, Dia tidak menjawab selama beberapa detik.


"Kau benar-benar tidak tahu ini dimana?"


"Iya,"


"Dari arah mana kau datang?"


"Itu disana, Tadinya ada portal besar tapi sekarang portal itu hilang," Anak perempuan itu menunjuk dua pohon besar yang berada tak jauh dari posisi mereka.


"Huh?! Portal?" Kening anak bernetra hijau mengerut bingung, Meyakini bahwa anak perempuan dihadapannya hanya berhalusinasi. "Aku sudah berada disini beberapa jam yang lalu, Dan aku yakin bahwa hanya ada aku seorang diri disini sebelum kau datang. Dari awal tidak ada portal di antara pohon itu,"


Anak bernetra hijau berdiri dari duduknya, Berjalan menghadap anak perempuan itu. "Kau berbohong soal portal itu, Atau memang sejak awal kau berhalusinasi untuk bermain-main. Aku tidak mengenalmu, Jadi aku tidak akan membantumu. Permisi,"


Anak bernetra hijau melangkah pergi meninggalkan anak perempuan dibelakangnya.


"Aku tidak berbohong soal portal itu, Tolong bantu aku!" Kata anak perempuan itu kencang, Berharap anak bernetra hijau tersebut menghentikan langkahnya dan menolongnya.


Sayangnya Anak bernetra hijau itu sama sekali tak memperdulikannya dan terus melangkah meninggalkan area taman.


*****************


"Ugh..."


Ezra terbangun dari tidurnya, Sedikit mengerang kecil. Netra hijaunya menatap langit-langit kamar dengan sayu. Sesaat tangannya terangkat sekedar menghalangi cahaya matahari yang menyelusup dari celah-celah gorden.


Dia mendudukkan diri berusaha mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya terkumpul, Dengan rambut acak-acakan khas bangun tidur tanpa menunggu lama Ezra melangkah menuju kamar mandi dengan selembar handuk di pundaknya.


Usai selesai dengan ritual paginya dan berpakaian kasual, Ezra keluar dari kamar menuju dapur. Dia harap Chloe tidak lupa membuat sarapan untuk mereka berdua, Kalau tidak mungkin dirinya akan kembali menjitak gadis itu.


**************


Cklek!


Tap! Tap! Tap!


Aroma masakan menguar memenuhi seisi ruangan saat Ezra menjejakkan kakinya disana, Dia mendudukkan dirinya di salah satu kursi. Dan tampaknya gadis bersurai biru itu menyadari kehadirannya.


"Oh,Selamat pagi Pak,"


"Pagi,"


Dia menangkap pemandangan Chloe yang sedang memasak sarapan untuk mereka berdua, Dengan malas dirinya memeriksa jadwal yang tertera di Handphonenya selagi menunggu Chloe selesai.


"Besok sudah mulai kerja kembali, Aku belum sempat memeriksa map yang ada dikantor," Pikir Ezra menatap satu-persatu jadwal untuk besok yang tertera di jam arlojinya.

__ADS_1


Tak!


Chloe meletakkan sarapan mereka dihadapan Ezra dan dirinya, Tak lupa menuangkan dua gelas jus jeruk yang barusan ia buat.


"Besok benar-benar udah mulai kerja lagi pak?"


"Hm..."


Ezra meraih garpu dan sendoknya lalu mulai menyantap sarapannya. Sesaat Chloe menyesap jus jeruknya sebelum ikut menyantap sarapan.


"Dan besok aku juga ada meeting dengan kolega lain," Tambah Ezra menyesap minumannya sesaat.


"Dengan?"


"Michelle Company Group,"


Mendengar marga 'Michelle' membuat aktivitas Chloe terhenti, Seketika tanpa sadar Chloe menggumamkan nama seseorang.


"Nona Michelle," Gumam Chloe pelan teringat pertemuannya dengan Nona Michelle di kantor.


Ezra mendongak setelah tak sengaja mendengar gumaman sang gadis, Namun dirinya tidak mendengar terlalu jelas apa yang digumamkan gadis itu.


"Apa kau mengatakan sesuatu?"


Chloe tersentak sesaat lalu tersenyum kikuk karna ketahuan. Berkilah cepat. "Ah, Tidak ada. Ngomong-ngomong kenapa bapak kerja sama dengan mereka?"


Ezra menggidikkan pundaknya acuh. "Untuk meningkatkan saham perusahaan tentunya, Lagipula yang memulai kerja sama dengan mereka itu adalah Tuan Justin. Jadi aku tinggal melanjutkan kerja kerasnya saja,"


"Oh," Chloe ber-oh ria menanggapi perkataan Ezra. Sang gadis kembali melanjutkan sarapannya setelah tak ada obrolan lagi diantara mereka berdua.


"Jika Nona Michelle yang datang, Apa dia akan menagih hutangku padanya ya?" Pikir Chloe termenung sejenak.


Tak!


"Aku selesai, Kalau tugasmu sudah selesai. Siram tanaman yang ada di kebun," Kata Ezra sembari meranjak dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan.


Chloe hanya mengangguk sambil memandangi kepergian Ezra, Dia kembali merenung dalam benaknya.


"Oh iya, Hari ini kan...," Netra birunya berbinar senang setelah mengingat hari yang ia tunggu-tunggu dan ia menduga Ezra pasti melupakan harinya.


"Aku harus membuat sesuatu untuk Pak Ezra," Dengan semangat Chloe bergegas menghabiskan sarapannya.


Setelah selesai dia membereskan peralatan makan Ezra dan dirinya, Chloe segera memasak sesuatu agar menjadi kejutan buat Ezra nantinya.


**************


Srek!


Netra beriris hijau itu menatap setiap baris kalimat tanpa terkecuali, Dia terus membalikkan halaman buku yang dipegangnya.


Hari ini adalah hari santainya, Tentu saja tanpa map-map dokumen itu karna dia sudah menyelesaikannya bersama Chloe kemarin. Jadi Ezra punya banyak waktu istirahat.


Setidaknya sampai suara ketukan itu datang membuat aktivitasnya terhenti sejenak.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!"


"Pak Ezra?" Chloe menyembulkan kepalanya dari balik pintu memandang Ezra yang balik menatapnya. Sang gadis mendekati meja Ezra setelah menutup pintu sebelumnya.


"Ada apa?" Kata Ezra setelah Chloe berdiri dihadapannya, Dia menutup bukunya hingga perhatiannya beralih pada Chloe sepenuhnya.


"Bapak hari ini senggangkan?" Chloe tersenyum ceria.


"Hm,"


"Kalau begitu, Bapak harus ikut denganku sebentar. Ada kejutan buat bapak menanti di dapur,"


Kening Ezra mengerut kesal, Dia meletakkan bukunya di meja sambil meranjak dari sana. "Kau berulah apa lagi? Jangan buang-buang waktuku ya,"

__ADS_1


"Enggak, Cuma sebentar. Ayo," Ajak Chloe masih ceria. Dia melangkah lebih dulu dengan semangat diikuti Ezra di belakangnya.


**************


Cklek!


"Taaadaaa!"


Usai membuka pintu dapur, Ezra dibuat terperangah dengan pemandangan dihadapannya. Dirinya bahkan sampai tak bisa berkata-kata saking terkejutnya.


Suasana dapur terlihat berbeda dari biasanya, Dengan taplak meja yang dihiasi berbagai macam dekorasi origami dan beberapa tali warna-warni. Tidak lupa sebuah kue berukuran sedang diletakkan ditengah-tengah meja dengan beberapa lilin di atasnya, Dan sebuah bingkisan cukup besar di samping kuenya.


Sebenarnya hanya dekorasi mejanya saja yang berbeda, Untuk suasana ruangannya sama seperti sebelumnya hanya saja lebih rapi dan kinclong tentunya.


Chloe berlari ke tengah ruangan, Berdiri disamping meja. Lalu kembali berseru ceria.


"Selamat ulang tahun Pak Ezra!"


Ezra masih diam tanpa berkata-kata, Seakan suaranya tercekat di kerongkongan. Pemuda itu melangkah mendekati sisi meja, Tatapannya tak lepas dari kue ulang tahun yang sudah tersedia disana.


"Semua ini...Kamu yang membuatnya?" Ezra mengalihkan pandangannya, Menatap sang gadis yang tampak terkekeh.


"Iya," Kemudian Chloe mengusap tengkuknya yang tidak gatal, Merasa kikuk karna hanya membuat dekorasi seadanya. "Maaf ya pak, Aku cuma bisa membuat dekorasi seadanya termasuk kuenya. Karna kupikir kita hanya merayakannya berdua saja, Jadi pestanya secara sederhana,"


Ezra mendudukkan dirinya tepat dihadapan kue tersebut, Dia menggeleng pelan sebagai jawaban. "Tidak masalah, Aku sendiri pun bahkan sudah lupa dengan hari ulang tahunku. Meski kita hanya merayakannya berdua saja, Kurasa ini sudah cukup,"


Netra hijaunya meredup sejenak, Ini pertama kalinya dirinya merayakan ulang tahunnya sendiri. Sejak kecil tidak ada yang merayakan ulang tahunnya termasuk orang tuanya sendiri, Mereka tidak pernah memenuhi permintaannya sekalipun, Dan tidak membiarkan Ezra berkata 'Tidak' pada mereka, Meskipun Ezra kecil berharap ulang tahunnya dirayakan bersama orang tuanya walau hanya sekali.


Tapi dia tahu semua itu tidak akan pernah terjadi, Semua hanya akan menjadi khayalannya semata. Maka dari itu Ezra selalu menganggap pesta ulang tahun itu hanya omong kosong, Jadi dirinya sudah terbiasa tidak dirayakan. Namun kali ini....


Menyadari arah pandangan Ezra yang kosong lantas membuat Chloe langsung memukul meja pelan agar sang pemuda tersadar.


Duk!


"Nah, Sekarang bapak harus tiup lilinnya. Sebelum ditiup, Buat permohonan ya," Seru Chloe ceria mengalihkan perhatian Ezra dari kue itu. Chloe segera menyalakan tiga lilin kecil di atas kue.


"Permohonan?" Ulang Ezra tak mengerti, Setahunya saat ada bintang jatuh saja bisa membuat permohonan. "Memang harus ya?"


"Ya harus dong, Agar keinginan bapak tercapai di tahun ini,"


Ezra kembali memandang kue tersebut, Berpikir sejenak permohonan apa yang dia inginkan. Sesaat ia memejamkan matanya bersiap meniup lilin.


"Aku tidak tahu apa yang kuinginkan, Karna ini pertama kalinya aku merayakan ulang tahunku sendiri. Terkesan agak kekanakan tapi ini membuatku seakan kembali ke masa lalu dimana aku masih kecil, Seperti nostalgia,"


Ezra membuka matanya menatap lilin yang masih menyala terang. "Aku mohon pertemukan aku dengan Teman-temanku. Dengan Aiden, Felix, Ian, Raizel, Devian, Rion, Dan Justin. Kali ini saja, Aku ingin melihat wajah mereka dan berbicara dengan mereka sekali lagi,"


Fuuuh!


Ketiga lilin itu seketika mati secara bersamaan usai Ezra meniupnya, Sesaat terdengar suara tepukan gembira dari Chloe sembari mengucapkan kalimat selamat pada sang pemuda.


"Sekali lagi, Selamat ulang tahun pak. Sekarang waktunya potong kue," Chloe meraih pisau yang sudah tersedia di samping kue lalu menyodorkannya pada sang pemuda.


Ezra menerimanya, Dia memotong seperempat dari kue tersebut. Dan meletakkan potongan kue itu ke piring, Setelahnya dia menyodorkan kue tersebut pada Chloe.


"Aku mencobanya pertama kali?" Chloe menatap kue yang disodorkan padanya.


"Tentu saja, Kau kan yang membuat kue ini," Balas Ezra sibuk memotong kue bagiannya.


Chloe akhirnya mencoba kue buatannya sendiri, Gadis itu tersenyum sumringah setelah mencobanya.


"Ah, Enak sekali. Tidak sia-sia aku mempelajari resepnya dari buku resep Kak Felix," Pikir Chloe senang, Menikmati kue buatannya.


"Bingkisan itu berisi apa?" Tatapan Ezra tertuju pada sebuah bingkisan cukup besar di samping kue. Sesekali ia mengunyah kue bagiannya.


"Oh itu, Rahasia dong," Chloe terkekeh pelan. "Kalau bapak ingin tahu buka aja, Lagian bingkisan itu memang hadiah buat bapak,"


Ezra meneguk air mineralnya sesaat, Usai menghabiskan makanannya. Dia menyapu bibirnya dengan tisu yang tersedia. Tangannya meraih bingkisan itu lalu membuka sedikit cepat.


Srek!

__ADS_1


"Lho? Ini kan...,"


TBC


__ADS_2