
Hari kedua Chloe mengikuti latihan Olimpiade, Semuanya berjalan lancar dari pagi. Namun lama kelamaan Chloe merasa bosan dan suntuk, Apalagi Suara Felix yang sedang mencontohkan nada Syair lebih mirip lagu pengantar tidur baginya. Sesekali dia menguap kecil, Matanya pun hampir beberapa kali terpejam.
"Ah, Gara-gara efek begadang main game. Aku jadi ngantuk," Pikir Chloe, Memandang buku dihadapannya dengan malas.
"Jangan tidur Chloe, Nanti dimarahin Justin," Peringat Holy yang duduk di sisi meja sambil rebahan.
"Hmm...,"
Chloe menopang dagu dengan tangannya, Netra birunya masih memandangi buku. Perlahan suara Felix jadi samar-samar di kupingnya Chloe. Hingga akhirnya matanya benar-benar terpejam, Saking gak kuat menahan kantuk.
"Nah, Begitulah nada syair yang benar. Kau bisa memahaminya kan Chloe?" Felix mendongak usai mencontohkan pada sang gadis, Namun sejenak dia terdiam menyadari Chloe tidak mendengarkannya dan malah memejamkan mata.
"Anak ini...Dia malah tidur," Felix menggeleng kecil, Sesaat menghembuskan napas.
Tiba-tiba saja tangan Chloe yang menopang kepalanya tak kuat menahan beban, Mengakibatkan kepala Chloe hampir jatuh menghantam meja. Felix yang melihatnya, Refleks menahan kepala Chloe sebelum mengenai meja dan malah akan membuat kepala sang gadis sakit nantinya karna terbentur.
"Hampir saja," Dengan perlahan Felix meletakkan kepala Chloe di meja, Menggunakan tangannya sesaat sebagai bantal sang gadis.
KKRRIINNGG!
Justin berhenti menjelaskan materinya mendengar bunyi bel yang menandakan sudah masuk waktu istirahat.
"Silakan Istirahat, Kita lanjutkan lagi belajarnya saat bel kembali bunyi,"
Segera Justin pergi dari Laboratorium tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Lalu di susul Devian yang sudah menyalin rumusnya.
Raizel membereskan bukunya sebelum pergi, Namun Netra ungu muda nya tak sengaja menangkap perilaku Felix yang ikut membaringkan kepalanya di meja. Menggunakan tangannya sebagai bantal kepala Chloe, Dan menatap sang gadis dalam diam.
Raizel ingin protes dan mendekati Felix tapi sebuah gumpalan kertas lebih dulu mendarat dengan sempurna di kepala Felix. Membuat Raizel mengurungkan niatnya, Dan menoleh menatap si pelaku yang melempar kertas tersebut.
"Aduh! Siapa sih yang melempar kertas mulu!?" Kata Felix jengkel karna kepalanya menjadi sasaran pelempar kertas, Kemarin dia di lempari juga. Sekarang hari ini. Felix menegakkan tubuhnya, Mencari-cari sang pelaku.
"Bangunkan dia!" Suara tajam dan menusuk dari Ian, Membuat Felix memusatkan perhatiannya pada sang pemuda. Ya si pelaku pelempar itu adalah Ian.
"Iya, Cepat bangunkan! Nanti Chloe melewatkan jam istirahatnya," Raizel mengangguk kecil, Ikut mendukung perkataan Ian.
"Huh! Aku kan kakak nya. Kenapa jadi kalian yang asal main perintah-perintah aja!?" Gerutu Felix, Menarik satu tangannya yang digunakan sebagai bantal Chloe. Lalu menggoyangkan pundak sang gadis agar bangun.
Dengan acuh Ian pergi keluar dari Laboratorium. Sebenarnya dia mendengar gerutuan Felix, Hanya saja dia lebih memilih diam dibanding harus meladeni Pria bersurai coklat itu. Tak lama Raizel menyusul Ian setelah memastikan bahwa Felix benar-benar membangunkan Chloe.
"Chloe bangun, Sudah saatnya istirahat," Kata Felix ramah, Masih menggoyangkan pundak sang adik.
"Umm...," Chloe perlahan terbangun, Menegakkan tubuhnya di kursi. Setelah tidur sebentar, Rasanya tubuhnya kembali segar. Sesaat Chloe mengerjapkan matanya yang sedikit sayu, Menyesuaikan retina dengan cahaya di sekitarnya.
"Udah jam istirahat ya?"
"Udah, Kau duluan saja. Nanti kakak nyusul," Felix mengangguk pelan, Membereskan buku yang berantakan di meja.
Chloe hanya mengangguk mengiyakan, Meranjak dari duduknya dan keluar Laboratorium.
*****************
[Kantin]
"Wei! Akhirnya si perwakilan sekolah kita datang," Kata Evelyn sambil menepuk pundak Chloe, Dengan ekspresi berseri-seri.
"Biasa aja kali mukanya," Chloe tertawa kecil, Mendekat di samping Alice lalu duduk disana.
"Hohoho, Jadi perwakilan dua kali dalam 2 bulan adalah rekor yang membanggakan di sekolah ini. Bagaimana belajar mu di Laboratorium dengan cowok-cowok tampan disana? Kudengar kau satu-satu nya perempuan yang ikut Olimpiade di kelas," Kata Alice sambil menyenggol lengan Chloe disampingnya, Mengerling dengan tatapan penasaran.
"Tampan apanya, Yang ada aku malah depresi karna cuma aku satu-satu nya cewek disana. Mana lagi dosennya (Justin) Seram begitu," Cibir Chloe merengut, Sambil bersidekap.
"Ah masa? Padahal mereka sangat populer dan terkenal di dunia, Contoh nya Devian yang most wanted sekaligus idol, Lalu Ian dan Raizel yang merupakan anggota HE@VEN yang digilai hampir semua kaum hawa, Felix yang terkenal dengan kedermawanannya dalam menyumbang saham termasuk koneksi terbesar nya dengan perusahaan lain dari luar negeri. Dan si Justin CEO tampan dan mapan yang sangat terkenal di berbagai awak media," Jelas Evelyn dengan semangat menggebu-gebu.
Bahkan Chloe sampai ternganga karna Evelyn menjelaskannya dalam satu tarikan napas tanpa henti. Alice cuma manggut-manggut mendengarkan, Sambil sesekali memakan burgernya.
"Hehehe, Tidak mungkin kan kau tidak senang dikelilingi cowok tampan dalam satu ruangan. Good looking lagi, Aku sih juga mau begitu. Mayan bisa cuci mata kalau sudah lelah belajar," Tambah Evelyn dengan aura berbunga-bunga disekitarnya.
"Benar!" Alice ikut menimpali, Ekspresinya tampak berseri-seri. "Rasanya mirip drama romantis korea, Satu cewek yang dikeliling banyak lelaki. Senang nya,"
"Kkkyyaaaa! Beruntung sekali jadi Chloe," Kata Evelyn dan Alice kompak, Dengan gemas keduanya saling berpegangan tangan. Berteriak histeris kegirangan.
Sampai-sampai beberapa Siswa-Siswi menatap meja Chloe, Alice, Dan Evelyn dengan heran. Sementara Chloe hanya bisa tersenyum canggung dan kikuk karna diperhatikan seisi kantin.
__ADS_1
"Jangan delusi oi," Kata Chloe berusaha meredakan suara Alice dan Evelyn yang menarik perhatian seisi kantin.
Sejenak Chloe menghela napas, Lalu bertopang dagu dengan ekspresi sebal.
"Dikelilingi mereka pun, Bukan berarti aku merasa senang. Malah sebaliknya," Jelas Chloe masih sebal.
"Lagipula dibanding mirip drama romantis korea, Situasi ku saat ini lebih mirip gembel yang nyasar diantara penghuni istana," Tambah Chloe sambil meringis kecil. Membayangkan dia benar-benar berada di antara para pangeran (Pangerannya ke-5 karakter utama pria) tapi dirinya sendiri berpakaian serba pelayan dengan memegang kemonceng.
Seketika Alice dan Evelyn menghentikan aksi mereka, Keduanya saling pandang dengan ekspresi Speechles.
"Suram amat," Kata Evelyn masih Speechles.
"Aku mah apa atuh, cuma rakyat jelata. Gak sebanding dengan mereka," Chloe meletakkan kepala nya di meja dengan lesu dan murung.
"Jangan minder begitu dong Chloe, Kami yakin kau bisa menang di Olimpiade Sastra ini. Dan tunjukkan pada mereka bahwa kau juga bisa melampaui kecerdasan mereka," Alice menepuk pundak Chloe, Memberi motivasi dan semangat.
"Benar, Kami mendukung mu Chloe," Evelyn mengangguk membenarkan, Ikut menimpali.
"Terima kasih, Kalian benar-benar teman terbaikku," Chloe kembali tersenyum gembira yang dibalas senyum juga dari Alice dan Evelyn.
TAP! TAP! TAP!
"Ehem, Permisi. Bolehkan aku ikut bergabung disini nona-nona?"
Suara langkah kaki yang mendekat serta suara seorang lelaki membuat ketiganya menoleh, Seketika Netra Caramel Alice berbinar senang mengetahui bahwa pacarnya lah yang datang.
"Kak Leo! Tentu saja boleh. Iyakan teman-teman?" Netra Alice melirik Evelyn dan Chloe bergantian.
"Iya, Boleh saja. Tapi aku mau gabung ke meja temanku dulu yang ada disana, Ada yang ingin kubicarakan dengannya," Tanpa menunggu jawaban, Evelyn segera mengambil nampan berisi makanannya dan segera pergi menuju meja seorang cowok yang waktu itu pernah Evelyn ajak saat Universary sekolah yang ke-50.
"Iya boleh, Aku mau pesan makanan dulu. Gak mau ganggu kalian," Chloe tersenyum tipis, Lalu meranjak dari kursi menuju meja pesanan.
Sesaat pipi Alice merona tipis mendengar perkataan Chloe, Leo pun duduk berhadapan dengan Alice.
"Apa mereka terganggu dengan kehadiranku?" Tanya Leo heran, Meletakkan nampannya di meja.
"Oh enggak kok, Mereka cuma gak mau ganggu aja," Alice tersenyum manis, Yang langsung membuat Leo diabetes seketika. Saking manisnya Alice tersenyum.
Dasar pasangan bucin.
*****************
Usai membeli makanan, Chloe mencari-cari meja yang kosong diantara Siswa-Siswi. Dia gak mau mengganggu pasangan yang sedang bucin alias Leo dan Alice, Nanti malah jadi obat nyamuk kalau dia kembali duduk disana.
Hingga Netra birunya menangkap meja yang baru saja kosong tak jauh dari mesin minuman, Bergegas Chloe ke meja itu sebelum ditempati orang lain.
"Akhirnya sekarang bisa makan juga, Laper banget," Gumam Chloe usai duduk dan meletakkan nampannya di meja.
Holy segera turun dari pundak Chloe, Mendudukkan dirinya di meja sambil memakan kue dan permen.
"Tumben diem, Biasanya nyerocos aja kayak mesin jet," Chloe melirik Holy sambil menyuap ikan bakarnya.
"Lagi mager, Rasanya pengen tidur aja,"
"Ya udah, Tinggal tidur. Apa susahnya sih!" Sewot Chloe dalam hati.
"Holy gak bisa tidur, Perasaan Holy gak enak deh kayaknya,"
"Halah, Drama,"
"Beneran woi!"
TUK!
Tak lama tiba-tiba saja seseorang langsung duduk berhadapan dengan Chloe, Meletakkan nampannya di meja sambil tersenyum ramah.
"Kakak duduk disini ya Chloe, Meja lain sudah penuh soalnya,"
"Eh!? Kak Felix, Iya boleh aja. Btw kakak kemana aja tadi? Kok baru keliatan sekarang?"
"Tadi kakak ke ruang kepala sekolah sebentar, Laporin kegiatan kemarin," Jelas Felix sesekali menyuap sup nya.
Chloe cuma manggut-manggut kembali menikmati makanannya, Namun tiba-tiba saja Ian dan Raizel ikut bergabung di meja nya tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu. Keduanya duduk di sisi kanan kiri Chloe, Hampir membuat sang gadis tersedak.
__ADS_1
"Ya ampun, Datang dari mana Mereka? Datang tak dijemput, Pulang tak diantar," Pikir Chloe yang bingung karna kini dirinya berada di antara Ian dan Raizel. Sedangkan kedua cowok itu cuek bebek, Sibuk dengan makanan masing-masing.
TUK!
"Aku ikut gabung ya," Devian dengan sok akrabnya langsung duduk disamping Felix, Tersenyum ceria sesaat.
"Ngapain ikut gabung disini? Masih banyak meja yang lain tuh," Sahut Felix sewot, Melirik sebal Devian disampingnya.
"Ya, Ikut ngobrol sama makan lah. Masa gak boleh, Meja ini kan bukan milik kalian," Devian menoleh menatap Felix, Tak ingin kalah.
TUK!
"Ck! Kalian niat makan atau cuma bikin ribut hah! Cepat habiskan sarapan kalian! Biar cepat kembali belajar,"
Kedatangan Justin yang ikut bergabung di meja mereka membuat suasananya makin suram, Apalagi saat sifat bossy Justin muncul lagi. Malah bikin semuanya pada enek.
"Ish...Kenapa Devian sama Justin malah ikut gabung disini sih!? Kalau Kak Felix, Ian, Sama Raizel aku maklum aja. Tapi kalau mereka berdua...," Chloe frustasi sendiri, Kini dia duduk semeja dengan ke-5 Pria terkenal dan populer ini.
Apalagi kini seisi kantin menatapnya atau lebih tepat nya menatap Ke-5 pria populer ini. Samar-samar Chloe mendengar bisikan-bisikan dari Siswa-Siswi di sekitarnya.
"Wah, Beruntung banget Siswi itu ya. Dikelilingi sama orang-orang terkenal,"
"Iya, Aku jadi pengen berada di posisinya. Mana cowoknya good looking semua lagi,"
"Itu ada si Raizel sama Ian kan? Wah, Anggota HE@VEN berada di kantin ini juga,"
"Itu Kak Justin kan? Baru pertama kali aku lihat dia dari dekat. Ternyata aslinya ganteng juga ya,"
"Ih, Aku jadi naksir sama mereka ber-5,"
"Apa dia pacaran dengan ke-5 cowok itu?"
"Entahlah, Semua cowok nya cakep-cakep tapi kok Cewek nya kayak gembel nyasar ya?"
"Eh! Eh! Itu bukannya si Chloe ya? Dari kelas sebelah,"
"Iya kayaknya, Mirip sih. Pakai apa ya dia sampai-sampai tu 5 cowok disekitarnya,"
"Jangan-jangan pakai pelet,"
Begitulah gosip-gosip yang terdengar disekitar Chloe, Membuat kuping Chloe memanas saking kesalnya.
"Pelet endas mu, Jelas-Jelas aku anak baik-baik disini. Berasa jadi korban gosip njir," Pikir Chloe kesal, Mendelik pada Siswa-Siswi yang bergosip tentangnya.
Dirinya menjadi gelisah dan sangat tidak nyaman menjadi pusat perhatian, Apalagi mengingat kini dirinya duduk semeja dengan ke-5 Pria populer di dunia. Ditambah dengan gosip-gosip yang membuat kupingnya memanas.
Karna sudah tidak tahan dengan situasi itu, Chloe berdiri berniat pergi dari sana. Tapi sebelum Chloe benar-benar pergi, Tiba-tiba saja Ian dan Raizel memegangi masing-masing pundaknya. Netra kedua lelaki itu menatap tajam Chloe.
"Mau kemana?" Kata Raizel dingin, Masih memegangi pundak kiri Chloe. Sedikit mencengkeram erat pundak sang gadis.
"Pergi, Lagipula aku sudah selesai makan,"
"Duduk!" Perintah Ian datar. Tak melepaskan cengkeramannya dari pundak kanan Chloe.
Chloe mengerutkan alisnya, Merasa sebal karena Ian dan Raizel mencegatnya pergi.
"Apa sih!? Aku cuma mau pergi ke Lab.Olimpiade duluan,"
"Duduk Sweety!" Kali ini Raizel membuka suara, Tidak menggubris perkataan sang gadis.
Cengkeraman di kedua pundaknya semakin kuat, membuat Chloe terpaksa kembali duduk demi keselamatan tulang pundaknya yang dicengkeram oleh Ian dan Raizel. Bisa remuk tulang pundaknya nanti, Kalau di cengkeram lama-lama.
Setelah merasa Chloe sudah duduk kembali, Ian dan Raizel pun melepaskan cengkeraman mereka. Giliran Felix yang berdiri, Memandangi seisi kantin yang masih berbisik-bisik.
"Hentikan omong kosong kalian! Jangan bergosip tentang Chloe, Atau kalian semua akan dikeluarkan dari sekolah ini!" Ancam Felix dengan topeng senyum ramahnya yang membuat seisi kantin itu terdiam.
Kemudian para Siswa-Siswi di kantin itu langsung sibuk kembali dengan aktivitas masing-masing, Pura-pura tidak melihat kejadian tadi.
Chloe menghela napas lelah, Melihat Felix yang sudah duduk kembali dengan aura suram.
"Kenapa aku harus dikelilingi cowok-cowok Menyeramkan berkedok wajah tampan seperti mereka?" Pikir Chloe yang hanya bisa memijit keningnya dalam diam.
TBC
__ADS_1