
"Tapi bu, Apa bisa minta yang lain aja buat menggantikan saya partner dengan Ian? Soalnya Ian pasti juga gak mau Partner bareng saya. Iya kan Ian?" Chloe melirik Ian disampingnya, mengkode sang pemuda untuk mengatakan 'iya'.
Beberapa detik Ian masih diam, Netra merah darah itu tampak terlihat tajam.
"Saya mau ikut...Kalau dibayar," Perkataan Ian yang cukup singkat itu. Refleks membuat Chloe menoleh menatapnya.
Apa ini!? Kenapa Ian jadi perhitungan!? Apakah sang pemuda bekerja sama dengan kepala sekolah agar membuatnya terpojok dan tidak bisa mengelak lagi??? Chloe bahkan tidak percaya Ian akan mengatakan hal itu. Ternyata Ian selain terlihat dingin dan tidak banyak bicara, dia juga perhitungan. Benar-benar pemuda yang merepotkan.
Tiba-tiba suara tawa kecil terdengar dari kepala sekolah, tawa bahagia karna siswa nya setuju untuk ikut Olahraga Tenis itu. "Tentu, Tentu saja kalian akan mendapat hadiah dan dibayar meski kalian tidak menang saat perlombaan. Hadiah itu diberikan atas terima kasih dari seluruh warga sekolah karna sudah mewakili sekolah kita,"
"Kalian sudah ibu daftarkan jadi kalian tidak mungkin juga menolak atau mengoper tugas kalian pada siswa lain. Itu sama saja dengan sikap tidak bertanggung jawab," Tambah Kepala sekolah sambil tersenyum kecil.
Chloe yang mendengarnya hanya bisa menghela napas pasrah, Ian mungkin tidak akan keberatan karna tetap akan dibayar meski kalah dalam perlombaan. Tapi bagi Chloe mewakili sekolah sama saja harus mengharumkan nama sekolah, menjadi yang terbaik di antara yang lain. Dan dia harus berlatih keras agar menjadi juara Tingkat Nasional.
"Maka nya bu, sebelum memutuskan sesuatu diskusi dulu sama orangnya. Kalau sudah begini, aku juga yang harus extra berusaha. Semoga saja Ian bisa diandalkan sebagai Partner ku," Pikir Chloe melirik kepala sekolah dan Ian bergantian.
"Perlombaan itu akan dimulai 2 minggu lagi. Jadi ibu sudah berbicara dengan guru Olahraga kalian sebagai guru pembimbing, kalian akan berlatih di GYM setiap jam istirahat kedua bersama teman kalian dari kelas sebelah yang memenangkan Perlombaan Tenis setahun yang lalu. Kalian bersedia kan?"
"Saya bersedia," Kata Chloe dan Ian serempak.
"Bagus, Terima kasih sudah mau mewakili sekolah kita. Kalian bisa kembali ke kelas sekarang,"
"Kami permisi," Chloe membungkuk kecil diikuti Ian, lalu Ian keluar lebih dulu dari ruangan itu.
**************
__ADS_1
"Kenapa kau malah perhitungan sih!? Bukannya lebih bagus tugas itu di berikan pada yang lain saja!?" Protes Chloe usai mereka sedikit jauh dari ruangan kepala sekolah, berjalan di koridor yang sepi karna Jam pelajaran sudah dimulai.
Ian tidak menjawab, sang pemuda berjalan santai di depan Chloe dengan kedua tangan yang dimasukkan dalam kedua saku celana nya, mengabaikan pertanyaan gadis bersurai biru itu.
"Hm...Seperti biasa, dia selalu mengabaikan kau Chloe," Holy terbang disamping Chloe hanya mengangkat bahu.
"Argh...Tidak bisakah dia menjawab ketika ditanya!? Selalu saja diam seperti itu, lama-lama bisa ku lakban saja mulutnya biar gak bisa ngomong selamanya!?" Chloe jengkel setengah mati pada Ian, Sang pemuda selalu saja mengabaikannya ketika Chloe bertanya. Kadang pemuda bernetra merah itu cuma akan ngomong kalau sudah terusik ke tenangannya.
"Dia memang gak ingin banyak bicara Chloe, Terlalu irit ngomong,"
Chloe mendengus kasar, Jalannya sedikit dipercepat agar bisa menyusul Ian yang sudah agak jauh di depannya. Berniat kembali berbicara dengan sang pemuda.
"Ian! Aku bicara padamu! Kau itu manusia atau Tembok hah!? Kalau ditanya itu wajib dijawab Woi! Atau kau mau di anggap benda mati berjalan!?" Akhirnya Chloe mengeluarkan kata Sarkasme nya, saking jengkelnya dengan sikap Ian yang selalu diam dan mengabaikannya.
Ian tiba-tiba berhenti berjalan membuat Chloe yang berada di belakang sang pemuda tak sengaja menabrak punggung pemuda bernetra merah itu.
Ian masih diam tak bergeming, hingga suara sang pemuda mengalihkan perhatian Chloe dari hidungnya.
"Kalau tidak mau...lebih baik kau mundur," Kata Ian tanpa menoleh sedikit pun pada Chloe. Dia tetap berdiri tenang di tempatnya. "Karna aku juga tidak butuh Partner pengecut sepertimu!"
JJEEDDEERR!
Seakan ada petir di siang bolong yang menghantam jantung Chloe, Meski ini baru pertama kalinya Chloe mendengar kata-kata Ian melebihi 3 kata tapi semua perkataan itu begitu menusuk dan tajam ditujukan untuk Chloe. Beberapa detik Chloe diam membatu di tempat, terlalu syok karna disebut pengecut oleh sang pemuda.
Sedangkan Ian kembali melanjutkan perjalanannya santai, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Apa katanya!? Pengecut!? Aku? Dia pikir dia siapa!? Anak orang kaya yang hanya bisa merendahkan orang lain!? Dia sudah keterlaluan! Kali ini aku tidak bisa memaafkan nya lagi!" Kedua tangan Chloe terkepal erat masing-masing kanan kiri nya. Sesaat Chloe menatap tajam dan menyalang pada punggung Ian di depannya. Lalu tanpa banyak membuang waktu, Chloe menyusul Ian dengan langkah cepat.
"Chloe berhenti! Tenangkan dirimu! Jangan terbawa emosi!" Holy sangat panik ketika Chloe menyusul Ian dengan emosi yang menggebu-gebu, Sang System gigit jari saking paniknya. Dia tidak bisa mendekati Chloe kalau Chloe dalam mode marah begitu, Holy takut kena imbasnya juga.
"Ian Maxwell! Berhenti disana!"
Ian tetap mengacuhkan panggilan Chloe yang mencoba menghentikannya, lagipula Ian tidak peduli dengan sang gadis yang berada di sekitarnya. Hal itu membuat Chloe semakin geram dan emosi.
Pemuda bernetra merah itu masih berjalan santai sampai tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang menarik tangannya, lalu menarik dasi sekolahnya sampai sedikit membungkuk hingga langsung bertatapan mata dengan sang pelaku penarikan. Ya itu Chloe dengan ekspresi sangarnya bak preman jalanan yang mau malak orang.
"Dengar Sialan! Akan kubuktikan bahwa aku bukan seorang pengecut seperti yang kau bilang! Aku akan mengikuti perlombaan itu, dan menunjukkan kemampuanku yang sebenarnya. Disaat itulah aku akan mengalahkan mu!" Kata Chloe menatap tajam dan dalam Netra merah Ian yang tepat dihadapannya, begitu dekat hingga Chloe bisa melihat bayangannya sendiri di Netra sang pemuda.
"Satu lagi! Aku juga tidak butuh Partner sombong dan dingin sepertimu. Kau tidak bisa membantuku dan hanya akan menjadi beban buatku. Jadi lebih baik kau saja yang mundur! Sialan!"
Usai mengeluarkan semua unek-unek nya, Chloe dengan kencang mendorong Ian menjauhi nya. Beberapa saat Ian sempat terhuyung ke belakang akibat dorongan Chloe tapi untungnya tidak sampai jatuh. Sang pemuda bisa menjaga keseimbangannya dengan baik, hanya saja Netra merahnya tertuju pada Chloe dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tanpa bicara apa-apa lagi Chloe pergi menuju kelas dari hadapan sang pemuda, melewati Ian begitu saja. Sedangkan Ian masih diam di tempatnya, Netra merahnya mengikuti langkah Chloe yang sudah pergi tanpa bergeming sedikit pun. Sangat tidak percaya bahwa Chloe akan menantangnya seperti itu.
Kata-kata sang gadis juga tidak kalah menusuk dan tajam darinya, Sikap sang gadis mirip dengan seseorang yang selalu muncul di mimpi Ian. Tapi Ian tidak yakin apakah hanya kebetulan atau tidak.
Yang pastinya Ian tidak yakin bisa bekerja sama satu tim dengan baik sama Chloe, karna saat ini mereka sedang berselisih sekarang.
"Kita lihat saja, Siapa diantara kita yang paling hebat saat latihan dan perlombaan nanti," Kata Ian dingin, sedikit mendengus.
Dia kembali melanjutkan perjalanan nya menuju kelas dengan santai.
__ADS_1
TBC
Episode ini agak pendek karna Author sebisa mungkin Up hari ini, Gara-gara harus mengerjakan beberapa tugas.