System Prince Charming

System Prince Charming
Masalah Lagi!?


__ADS_3

"Ian mau lukis apa?" Chloe memandang wajah Ian yang berhadapan dengannya sesaat.


Namun sang pemuda tidak menjawabnya, Pemuda bernetra merah itu memilih fokus dengan lukisannya. Entah apa yang dilukis sang pemuda.


Tidak mendapat respon sama sekali, Chloe pun mengalihkan perhatiannya pada lukisannya, mulai melukis dengan tenang.


Seisi kelas sibuk dengan lukisan masing-masing, beberapa dari mereka ada yang sudah selesai dengan cepat. Tanpa dirasa waktu terus berputar hingga akhirnya waktu pelajaran itu sudah habis.


KKRRIINNGG!


"Yak, waktunya sudah habis. Saat nya bapak nilai ya,"


Ian meletakkan peralatan lukisnya di tempat semula, begitu juga dengan Chloe. Chloe memperhatikan lukisan nya yang begitu jelek, Sang gadis hanya bisa meringis dalam hati. Bagaimana pun Chloe tidak pandai menggambar atau pun melukis.


Pak guru pun berkeliling untuk melihat lukisan dari murid-murid nya sekaligus menilai lukisan mereka, setelah selesai Pak guru kembali ke meja nya semula.


"Baiklah, kalian bisa saling bertukar lukisan sebagai kenang-kenangan pada teman sekelompok kalian. Silakan istirahat semuanya,"


Pak guru itu pun pergi dari Lab, Semua siswa-siswi bertukar lukisan seperti yang diminta guru mereka. Chloe masih memandangi dengan ragu lukisannya, kemudian beralih pada Ian yang sedang membereskan semua peralatan lukis.


"Nih!" Dengan dingin Ian melempar gulungan lukisannya pada Chloe, yang tentunya langsung di tangkap oleh sang gadis.


Pemuda bernetra merah itu langsung meranjak keluar Lab Seni.


Chloe membuka gulungan lukisan Ian, memandangi lukisan sang pemuda yang begitu bagus. Sebuah pemandangan air terjun dengan suasana yang asri, terlihat begitu tenang dan damai. Sangat cocok dengan kepribadian sang pemuda yang juga terlihat tenang dan pendiam.



(Visual Lukisannya Ian 👆)


Chloe membandingkan dengan lukisannya sendiri yang kayak anak Sd baru belajar menggambar, Sang gadis hanya bisa meringis kecil. Chloe tidak ingin berlama-lama dalam Lab, segera sang gadis meranjak dari duduk nya. Membereskan peralatan lukisan dan mengambil gulungan gambarnya dengan tergesa-gesa. Mengejar Ian yang sudah keluar kelas.


TAP! TAP! TAP!


Chloe lihat sang pemuda berjalan ke arah Rooftop, untungnya masih belum terlalu jauh dari Lab Seni.


"Ian, tunggu!"


Merasa namanya di panggil Ian sedikit menoleh, Pemuda bersurai hitam itu berbalik menghadap Chloe yang sudah berada di hadapannya. Sang gadis mengatur napasnya sebentar, lalu tiba-tiba Chloe menarik tangan sang pemuda. Memberikan lukisannya yang belum sempat dikasih.


"Ini lukisan dariku, Terserah kau ingin menyimpannya atau tidak. Yang penting aku sudah memberikannya padamu. Dan lukisanmu akan kusimpan Ian," Kata Chloe sambil memberikan lukisan nya tadi ke tangan sang pemuda.


Sedangkan Ian hanya diam menatap lukisan di tangannya, Netra merahnya beralih menatap sang gadis.


"Aku permisi," Chloe sedikit membungkuk, Kemudian berlalu dari hadapan sang pemuda. Meninggalkan Ian sendiri.


Ian mendekati tong sampah yang berada di dekatnya, berniat membuang lukisan dari Chloe. Tapi sebelum di buang, Sang pemuda membuka gulungan lukisan itu sesaat, dan memperhatikan lukisan di tangannya.



(Visual Lukisannya Chloe 👆)


DEG!


Sesaat Netra merah darah milik Ian melebar, meski lukisan Chloe tidak sebagus milik Ian tapi lukisan itu mirip sekali dengan yang ada di dalam mimpi sang pemuda. Dua orang anak kecil, laki-laki dan perempuan yang duduk bersama. Di tambah dengan nama mereka yang tertulis di atas kedua anak kecil tersebut.


Ian tidak mengerti kenapa Chloe melukis kedua anak kecil itu, entah memang imajinasi sang gadis atau memang hanya gambaran itu yang terlintas di pikiran Chloe? Dari sekian banyak gambaran, kenapa gambar ini yang harus dipilih oleh Chloe?


"Untuk apa dia memberikan nama ku di lukisannya? Aku tidak mengerti jalan pikiran gadis aneh itu," Pikir Ian sesaat sang pemuda mengernyitkan alisnya, masih memandangi lukisan tersebut.


Niat nya untuk membuang lukisan tersebut di urungkan sang pemuda. Ian memilih menyimpan lukisan itu kalau sewaktu-waktu dia bisa mendapatkan petunjuk dari lukisan tersebut.


****************


[Kantin]


"Chloe, mau pesan apa? Biar kutraktir," Kata Evelyn sambil meranjak dari duduknya.


"Gak usah–"


"Sekalian traktir aku dong Evelyn, aku juga mau di traktir," Potong Alice sambil mengangkat satu tangannya.


"Iya iya, kalian berdua pesan apa nih?"


"Ikan bakar dan jus anggur," pesan Alice, dengan semangat.


"Hm...Aku sandwich dan jus apel aja deh," Pesan Chloe.


"Oke, tunggu ya,"


Evelyn pun pergi dari sana, meninggalkan Alice dan Chloe.


"Untung, hari ini agak tenang ya Chloe. Setidaknya gak banyak masalah kayak minggu lalu," Holy memakan kue nya.


"Iya, aku jadi gak terlalu pusing memikirkan nya,"


"Chloe, kau dengar gak gosip dari siswi sebelah?"


Pertanyaan Alice membuyarkan lamunan Chloe, Gadis bersurai biru itu menggeleng pelan.


"Enggak, gosip apa memangnya?"

__ADS_1


"Tadi pagi ada yang bilang, ada kecelakaan mobil gak jauh dari area sekolah. Dan hampir saja menghilangkan nyawa salah satu anggota HE@VEN, yang saat itu sedang menyebrang...Um kalau tidak salah namanya Raizel Freymon," Jelas Alice sambil mengingat gosip yang di dengar nya.


"Terus apa bagusnya gosip itu?" Chloe menyikapinya setenang mungkin.


"Ih tentu saja itu berita heboh, soalnya orang-orang disana bilang. Ada salah satu siswi yang menyelamatkan Raizel Freymon, dan siswi itu berasal dari sekolah kita. Tapi gak ada yang ingat dengan wajah siswi itu, identitasnya pun gak diketahui,"


"Yah, pastinya siswi itu beruntung karna bisa bertemu salah satu anggota HE@VEN," Chloe gak ingin memberitahu pada Alice, bahwa siswi itu adalah dirinya.


"Iya sih, benar juga,"


PPRRAANNGG!


"APA YANG KAU LAKUKAN EVELYN!? LIHAT GARA-GARA KAU, SERAGAMKU JADI BASAH KAN!?"


Suara ribut dan nyaring itu, sontak membuat seisi kantin menoleh pada asal suara. Melihat Chelsia dan Evelyn yang tampak berdebat.


"SUDAH KUBILANG AKU GAK SENGAJA, AKU SUDAH MINTA MAAF. KENAPA KAU MAKIN NGELUNJAK SIH!?" Balas Evelyn gak kalah nyaring, menatap marah Chelsia di depannya.


"SERAGAMKU INI MAHAL, MINTA MAAF SAJA GAK CUKUP! CEPAT GANTI SERAGAMKU!"


"GAK MAU! KAU DULUAN YANG MENYENGGOLKU,"


Alice dan Chloe saling pandang, keduanya langsung bergegas berdiri dan mendekati kerumunan tersebut. Mencoba melihat apa yang terjadi dari dekat.


Chloe mengernyitkan alisnya, dilihatnya seragam Chelsia basah terkena tumpahan jus anggur pesanan Alice. Dan di bawah kaki mereka terdapat gelas yang pecah berserakan.


"Baru aja dibilang hari ini sedikit tenang, tapi muncul masalah baru lagi ya," Holy menatap perdebatan antara Chelsia dan Evelyn.


"Hm...setiap hari aja hidupku gak tenang," Balas Chloe malas dalam hati.


Semua orang di kerumunan itu terdiam hanya bisa melihat, tidak ada yang berani menengahi Chelsia maupun Evelyn.


"Sialan, Sudah berani padaku ternyata," Chelsia mengangkat satu tangannya, ekspresi sang gadis terlihat marah. melayangkan tamparan keras pada Evelyn.


GREP!


Chloe menahan tangan Chelsia dengan ekspresi datar, sebelum tamparan itu mengenai Evelyn. Chloe sudah menduga ini akan terjadi, karna yang Chloe tahu Chelsia adalah orang yang mudah tersulut emosi dan akan dengan mudah melakukan kekerasan ketika emosi.


"Sudahlah Chelsia, lebih baik kau maafkan Evelyn. Katanya anak orang kaya, beli seragam kayak gini lagi pasti gak akan masalah kan bagimu," Sahut Chloe dengan tenang, masih menahan tangan Chelsia.


Chelsia menggertakkan giginya, melotot pada Chloe. Dengan kasar dia melepaskan tangan Chloe dari tangannya.


"Cih! Anak Beasiswa kayak kamu tahu apa hah! Jangan ikut campur urusan ku, sok-sokkan ingin jadi pahlawan," Decih Chelsia dengan sinis.


"Aku gak ingin ikut campur urusanmu, tapi kalau kau mengganggu Alice dan Evelyn. Itu sama saja kau berurusan denganku!" Netra biru sang gadis menatap dingin Chlesia.


Chelsia ingin menjawab perkataan Chloe Namun terhenti karna tiba-tiba di ambang pintu, Seorang guru BK masuk dalam kantin sambil memandangi tajam seisi kantin.


"CHELSIA, CHLOE, DAN EVELYN. KALIAN BERTIGA IKUT SAYA MENGHADAP KEPALA SEKOLAH!"


**************


"Jadi saya dengar, tadi di kantin kalian ribut hanya karna terkena tumpahan minuman," Kepala sekolah memandangi anak muridnya satu persatu.


"Evelyn yang mulai duluan bu, terus Chloe ikut campur!" Tuduh Chelsia sambil menunjuk Evelyn dan Chloe.


Sedangkan Evelyn dan Chloe melotot pada Chelsia sambil menggeleng.


"Gak bu, Chelsia bohong! Dia yang mulai duluan, Chloe hanya membela saya," Jelas Evelyn tidak terima karna di tuduh. Chloe hanya mengangguk membenarkan.


"Apa benar itu Chloe?" Kepala sekolah menoleh pada Chloe.


"Benar, tadi saya lihat Chelsia ingin menampar Evelyn juga,"


Chelsia menggeram marah, sedikit menghentakkan kakinya.


"Gak benar! Mereka bohong bu!" Bela Chelsia kesal.


"CUKUP!"


BBRRAAKK!


Seketika semua orang yang ada disana terdiam membisu, tidak berani lagi saling membela.


"Saya gak mau dengar ada masalah lagi di sekolah ini! Ini peringatan untuk kalian bertiga, panggil Orang tua kalian besok!"


Chelsia, Chloe, dan Evelyn tersentak mendengarnya. Ini benar-benar masalah bagi Chloe, karna dalam game ini Chloe Amberly sebatang kara dan tidak memiliki keluarga lagi.


"Astaga, kenapa malah jadi begini!?" batin Chloe cemas.


*************


[Disisi lain...]


Terlihat seorang pria bersurai coklat tua tengah memasuki area sekolah tempat Chloe berada, Pria itu keluar dari mobilnya. Beberapa orang siswa-siswi yang berada di sekitar sang Pria hanya terbengong-bengong. Sebagian dari mereka ada yang berbisik, menatap kagum, dan lainnya.


"Eh, bukannya itu Felix Edricson ya?"


"Iya, benar. Ngapain dia ke sekolah kita?"


"Wih, dia keren banget. Ternyata Pewaris dari Edricson asli nya ganteng banget,"

__ADS_1


"Baru pertama kali, aku lihat pewaris dari Edricson sedekat ini,"


Dan masih banyak lagi gosip lainnya yang berasal dari siswa-siswi disana, kebanyakan dari mereka bertanya-tanya kenapa Felix mengunjungi sekolah mereka. Sedangkan sang pemuda hanya tersenyum tipis, menghiraukan bisikan-bisikan itu.


Di tangan pemuda bersurai coklat tua itu terdapat, sebuah topi berwarna biru milik Chloe dan sebuah kotak bekal berisi makanan. Dia mendekati salah satu siswa disana.


"Permisi, apa benar Chloe Amberly bersekolah disini?" Tanya Felix dengan senyumnya.


"Eh, iya benar. Kebetulan saya teman sekelasnya, ada perlu apa anda menemui Chloe?"


"Ah, saya hanya ingin mengantar. Topi nya yang ketinggalan sekaligus mengantar bekal untuknya,"


"Oh, begitu. Mari ikuti saya, tapi saat ini Chloe gak ada dikelas. Dia tadi ke kantor kepala sekolah," Siswa itu pun mengantar Felix menuju ruangan kepala sekolah.


"Untuk apa dia kesana?" Felix mengikuti pemuda di sampingnya itu.


"Gak tahu, tapi kata siswa lain Chloe terlibat masalah waktu di kantin,"


"Oh begitu," Felix hanya mengangguk kecil, Penasaran juga. Masalah apa sampai Chloe terlibat ke dalam nya.


Tak berapa lama, mereka sampai di depan ruangan kepala sekolah. Siswa itu Izin pamit pada Felix dan meninggalkan Felix sendiri disana.


Felix ingin mengetuk pintu di hadapannya tapi telinganya tak sengaja menangkap pembicaraan dari dalam ruangan.


"Saya gak mau dengar ada masalah lagi di sekolah ini! Ini peringatan untuk kalian bertiga, panggil Orang tua kalian besok!"


Felix terdiam sebentar usai tak sengaja mendengarkan perkataan kepala sekolah, Oh sepertinya Chloe terlibat masalah serius. Pemuda itu pun mengetuk pintu dan memasuki ruangan.


"Permisi, maaf mengganggu,"


Suara Felix membuat semua pasang mata menatapnya, terlebih Chloe yang terkejut karna kedatangan Felix yang tidak terduga.


"Maaf, anda siapa?" Kepala sekolah mengerutkan alisnya menatap Felix.


"Saya kakak dari Chloe Amberly, kebetulan saya kesini untuk memberikan Topi dan bekal untuknya. Apa adik saya melakukan kesalahan sampai di bawa ke kantor?" Tanya Felix dengan ramah.


"Ah, kebetulan sekali. Chelsia dan Evelyn kalian berdua bisa kembali ke kelas. Dan Chloe tetap disini,"


Walau bingung, Chelsia dan Evelyn keluar dari ruangan itu. Sebelum keluar Evelyn sempat menyemangati Chloe, yang hanya ditanggapi senyum dan anggukan dari Chloe.


Tinggal Kepala sekolah, Felix, dan Chloe disana. Kepala sekolah mempersilahkan Felix untuk duduk.


Kemudian kepala sekolah menceritakan semua yang terjadi di kantin sesuai apa yang dilihat salah satu siswa, yang menjadi saksi perdebatan Chelsia dan Evelyn termasuk Chloe yang ada disana. Felix mendengarkan dengan seksama, sedangkan Chloe duduk disamping Felix hanya menunduk.


"Jadi Pak, kalau Chloe terus terlibat masalah sampai 3x maka kami pihak sekolah terpaksa, mencabut beasiswa nya dan akan di keluarkan dari sekolah ini," Jelas kepala sekolah dengan ekspresi serius.


Chloe menggigit bibir bawahnya cemas, kalau benar-benar beasiswanya dicabut maka Chloe terpaksa putus sekolah. Dan Chloe tidak ingin itu terjadi.


"Hm...Kalau begitu, Chloe tidak memerlukan beasiswa lagi. Mulai sekarang semua kebutuhan sekolahnya, biar saya yang menanggungnya. Dia adalah adik saya dan sudah kewajiban saya untuk menanggung semua kebutuhan sekolahnya," Kata Felix dengan tersenyum tertampang di wajahnya.


Sontak Chloe dan Kepala sekolah terkejut, Sampai Chloe langsung memandang Felix saking gak percaya nya.


"Hah!? Kak Felix serius bilang begitu?" Pikir Chloe gak percaya.


"Kayaknya sih serius, soalnya Holy bisa mendeteksi kejujurannya tadi," Holy pun sebenarnya gak percaya, tapi Systemnya mengatakan kalau perkataan Felix itu serius.


"Bapak yakin?"


"Iya, saya yakin," jawab Felix dengan mantap.


"Baiklah, kalau begitu tolong tanda tangan disini dan disini,"


Semua berkas itu pun di tanda tangani oleh Felix, usai semua sudah selesai. Chloe dan Felix pamit keluar dari ruangan kepala sekolah.


"Maaf lagi-lagi Chloe merepotkan kak Felix," Chloe menunduk selama perjalanan mereka menuju kelas Chloe. Sang gadis memeluk erat Topi dan bekal yang barusan di berikan Felix.


"Tidak apa-apa Chloe, sekarang Chloe adalah adik kakak. Sudah sewajarnya kakak menanggung semua kebutuhan sekolah Chloe," Felix tersenyum tipis dan mengusap kecil rambut biru Chloe.


"Tapi aku gak enak hati, sebagai gantinya aku akan bekerja keras di Cafe agar Cafe semakin terkenal,"


Perkataan semangat dan ekspresi polos Chloe membuat Felix tertawa kecil.


"Boleh saja kalau Chloe mau, tapi jangan memaksakan diri, nanti Chloe sakit karna terlalu bekerja keras,"


"Hu'um baiklah," Chloe mengangguk patuh.


Mereka sampai di depan kelas Chloe, kembali sang pemuda mengusap sebentar rambut biru Chloe. Setelahnya Felix Izin pamit.


**************


[Lapangan sekolah...]


Felix dengan santai mendekati mobil nya, tapi Netra Aqua nya melihat Ian yang berjalan menuju kelas habis dari taman. Sang pemuda tersenyum ketika berpapasan dengan Ian.


Ian hanya melirik Felix sesaat, Felix berhenti di dekat Ian lalu menepuk pundak pemuda bersurai hitam dengan Netra merah itu.


"Tolong jaga Chloe ya Ian, aku percayakan adik angkatku padamu dibanding Devian. Jaga dia ya," Kata Felix masih tersenyum. Kemudian Felix berbisik tepat di kuping Ian.


"Aku tahu kau sedang mengawasi nya, Nikmati saja permainan kecil ini dulu. Setelah itu kau bisa membunuh nya, atas perintah Justin,"


Kemudian Felix menjauhkan wajahnya, kembali menepuk pelan bahu Ian dan berjalan melewati pemuda bernetra merah itu. Memasuki mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berada.

__ADS_1


Sedangkan Ian hanya diam saja, melirik Felix sesaat lalu melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda menuju kelas.


TBC


__ADS_2