
Pagi hari yang cerah Chloe menyiram tanaman di kebun setelah izin pada Aiden, Mulai sekarang setiap pagi dia yang akan bertugas menyiram tanaman. Dengan begitu Aiden tak perlu terbebani dengan banyak tugas.
Usai menyiram tanamannya, Chloe menuju dapur untuk meletakkan alat penyiram di sudut dapur. Tak lama dia tiba-tiba mendapat pesan dari Alice.
TING!
Chloe merogoh saku pakaiannya, Mengambil HP disana dan membaca pesan dari Alice.
From: Alice
To: Chloe
Chloe, Aku dan Evelyn sudah menemukan Universitas yang cocok untuk kita. Disana juga terdapat jurusan hukum yang kau inginkan. Jika ingin ikut mendaftar, Temui kami di Cafe besok jam 8.00 pagi. Akan kukirim alamatnya.
Jl.xxxxxxxx No.xx
Usai membaca pesan itu Chloe mengetik balasan untuk Evelyn.
From: Chloe
To: Alice
Oke, Besok aku akan kesana. Tunggu saja.
Chloe menyimpan HP nya, Tampak memikirkan sesuatu. Yang jadi masalahnya bagaimana cara nya dia pergi dari Asrama ini untuk menemui Alice dan Evelyn? Sehari-hari biasanya dia akan berangkat dengan naik bus. Tempat ini terpencil, Mana ada kendaraan Tranportasi yang mau lewat jalan Asrama ini kalau tempatnya saja seram.
"Oh, Mungkin aku bisa minta Kak Felix mengantarku," Gumam Chloe sambil berjalan keluar dari ruang makan, Mencari ke beradaan Felix.
***************
[Luar Asrama]
Chloe berjalan perlahan celingak-celinguk melewati area depan Asrama, Tak lama Netranya menangkap Raizel dan Devian yang sedang duduk santai di gazebo. Si Devian keliatan kesakitan pas Raizel terlihat sedang mengobati sang pemuda di bagian leher.
Dengan penasaran Chloe mendekati kedua pemuda itu, Sesaat kupingnya menangkap obrolan antara Raizel dan Devian.
"Ish...Pelan-pelan bodoh! Kau malah membuat leherku makin sakit," Kata Devian sesekali meringis saat Raizel menuangkan antiseptik di kapas dan mengobati luka nya.
"Ini sudah pelan-pelan! Kau pikir aku ahli dalam mengobati apa!?" Gerutu Raizel kesal, Dengan sengaja menekan luka di leher Devian.
"Aaawww! kau sengaja ya!" Devian mendelik pada Raizel di sampingnya. Yang dibalas tatapan acuh Raizel.
"Emang,"
"Mereka gak pernah akur ya? Berantem mulu kayaknya," Kata Holy sambil memakan permennya di pundak Chloe.
"Mungkin, Aku pun gak terlalu tahu hubungan mereka selama di Asrama. Kan aku masih baru disini," Chloe menggeleng pelan.
Langkah nya terhenti setelah dekat dengan Gazebo, Chloe menatap lekat kegiatan Raizel dan Devian sesaat.
"Raizel, Devian. Apa kalian berdua liat Kak Felix?"
Merasa terpanggil keduanya menoleh lalu Devian mengangkat kedua pundaknya acuh, Seolah bilang dia tak tahu keberadaan Felix.
"Hm...Cari aja di GYM, Mungkin dia disana. Kulihat tadi pagi dia sedang olahraga," Sahut Raizel masih fokus mengobati leher Devian.
"Oh, Oke," Netra biru Chloe beralih menatap Devian. "Terus leher Devian kenapa? Sampai diobati gitu,"
"Biasa, Ulah Aiden. Dia terlalu agresif kalau masalah jatah makannya. Untung aku kuat," Devian hanya menghela napas sesaat. Mendapat tepukan di pundak oleh Raizel.
Raizel sesaat menoleh pada Chloe. "Makanya Sweety, Orang-orang yang terpilih masuk ke Asrama ini biasanya bukan hanya harus kuat mental dan fisik dalam menjalankan misi. Tapi juga harus kuat menghadapi Aiden, Dia agak agresif dan menyeramkan saat menjelang tengah malam,"
Raizel berbisik di akhirnya kalimatnya takut kalau-kalau Aiden muncul secara Tiba-tiba dan memergoki mereka sedang menggosipi sang pemuda bersurai ungu itu.
"Bukannya sifat nya memang begitu ya? Aku masih tahan sih kalau soal menghadapi Aiden, Tapi gak tahu dengan Kak Chloe," Devian mendongak menatap Chloe yang sudah bergidik. "Dia suka dengan darah dan aroma yang manis, Kalau sewaktu-waktu dia minta darah punya Kak Chloe. Kasih saja bawang putih,"
Raizel meninju pelan pundak Devian, Bersungut jengkel. "Kau pikir dia Vampir!? Bawang putih gak akan mempan padanya. Kita saja tak tahu apa kelemahan Aiden, Masa lalu nya juga kita gak tahu selain pemilik Asrama dan No.1,"
"Hei! Aku kan cuma bercanda. Lagipula dia itu bukan Vampir tapi titisan Vampir!?" Devian mengusap pundaknya yang barusan di tinju kecil oleh Raizel.
"Bodoh!"
Sesaat Chloe hanya tertawa kecil ngeliat interaksi antara Raizel dan Devian. Dia pun segera pamit pada keduanya tak ingin mengganggu.
"Saran mu boleh juga Devian, Mungkin aku bisa mencobanya," Chloe nyengir sesaat. "Kalau begitu sampai nanti, Raizel dan Devian,"
"Sampai nanti," Balas keduanya serempak.
Chloe kembali melanjutkan perjalanannya menuju GYM, Untungnya dia sudah mengingat semua letak ruangan di Asrama ini.
******************
[GYM Asrama]
__ADS_1
KKRREEIITT!
Perlahan Chloe memasuki GYM, Dia melihat Felix dan Ian tengah berlatih tinju disana. Keduanya tampak serius dan fokus dengan kegiatan masing-masing. Chloe perlahan mendekati keduanya, Tak lupa dia membawakan dua botol air mineral yang sudah tersedia disana.
"Kak Felix, Ian,"
Felix dan Ian pun sejenak menghentikan latihan mereka, Sama-sama menoleh pada Chloe.
"Ada apa Chloe?" Tanya Felix mengusap keringat di keningnya dengan handuk kecil yang tersedia.
"Nih, Minum dulu,"
"Makasih," Keduanya menerima air mineral yang Chloe berikan, Meminum dalam diam.
"Kak Felix bisa mengantarku ke Cafe besok untuk menemui Alice dan Evelyn? Soalnya besok aku mau daftar ke Universitas pilihan kami," Kata Chloe agak gugup, Memilin ujung bajunya.
Usai minum dan mendengarkan penjelasan adiknya, Felix mengangguk kecil setelah menutup botol mineralnya.
"Boleh saja, Chloe yakin mau kuliah bareng Alice dan Evelyn?"
"Yakin kok, Mereka bilang disana juga ada jurusan yang kuinginkan," Chloe mengangguk mantap.
"Baiklah, Nanti kakak yang urus soal beasiswa Olimpiade tempo dulu," Netra aqua Felix beralih menatap Ian di sampingnya. "Bagaimana denganmu Ian? Apa kau tidak ingin kuliah juga? Kalau mau bisa langsung kuurus bersama pendaftaran Chloe,"
"Tidak perlu, Aku sudah mendaftar di Universitas pilihanku seminggu yang lalu," Balas Ian dingin, Kembali meminum mineralnya.
"Oh, Baiklah. Jadi besok ingin diantar jam berapa?" Felix kembali menatap Chloe.
"Jam 7 pagi, Soalnya perjalanan ke kota memakan waktu lama kan?"
"Iya, Baiklah besok jam 7. Jangan terlambat,"
"Tentu saja kak,"
Setelah perbincangan singkat itu, Chloe pamit dan keluar dari ruang gym. Tidak ada urusan lagi dia disana.
Selama berjalan santai di halaman depan Asrama, Chloe selalu memperhatikan Beberapa ruangan yang dia lewati. Bahkan sesaat dia melihat Rion sedang nongkrong santai di atas pohon apel sambil rebahan. Udah mirip monyet aja.
Gadis itu hanya menggeleng pelan, Lalu memasuki area Asrama. Mungkin dengan bersantai di kamar akan membuat pikirannya tenang.
*********************
[Lantai 2]
TAP! TAP! TAP!
"Ada apa Holy? Kau mau mengisi energi dulu? Mau ke tempat Program ya?" Tanya Chloe masih memandangi Holy yang lemas.
"Iya, Kayaknya Chloe. Aku merasa sebentar lagi energiku habis. Aku mau ngisi dulu ke tempat Program,"
"Hm...Yaudah jangan lama-lama,"
Holy mengangguk cepat lalu tak lama dia menghilang tepat di hadapan sang gadis, Chloe kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamar.
CLEK!
Dengan langkah tenang sang gadis memasuki kamarnya, Namun pemandangan kamarnya yang begitu rapi lah yang pertama kali Chloe lihat, Disana juga terdapat Aiden yang sedang merapikan kasur Chloe.
"Aiden!? Sedang apa kau dikamarku?" Tanya Chloe heran mendapati sang pemuda tampak membersihkan gordennya usai merapikan tempat tidur.
"Setiap hari kamis, Saya selalu membersihkan kamar setiap anggota saat pagi," Sahut Aiden datar, Tetap fokus dengan kegiatannya saat ini.
"Umm...Aiden kurasa ini sudah cukup, Biar aku bersihkan sisanya," Chloe tersenyum canggung, Dia ingin Aiden cepat-cepat pergi dari kamarnya.
Sejenak aktivitas Aiden terhenti, Dia menjauhkan kemoncengnya dari gorden. Tatapannya tetap datar tanpa emosi, Menatap Chloe sesaat.
"Yah, Jika Nona Chloe berkata begitu. Bisakah saya meminta imbalan saya? Anda sudah mengganggu kegiatan saya saat ini,"
GLEK!
Chloe meneguk seliva nya susah payah, Menyadari afmosfer di sekitar kamarnya tiba-tiba berubah menjadi dingin dan mencekam. Beberapa langkah gadis itu mundur menjauhi Aiden.
Seketika ingatan tentang peringatan dari Felix tadi malam terlintas di benak Chloe .
Chloe Memory On
"Chloe, Karna kamu adalah anggota baru disini. Kamu harus tahu peraturan di Asrama," Kata Felix serius saat itu sebelum mereka kembali ke kamar masing-masing, Tinggal mereka berdua yang berada di dapur.
"Apa saja peraturannya Kak?" Tanya Chloe penasaran.
Dengan ekspresi serius Felix menghitung setiap peraturan yang dia sebutkan.
"Pertama, Jangan coba-coba kabur dari sini setelah mendapat tanda itu. Kedua, Jangan pernah menentang misi yang diberikan oleh pemilik Asrama. Ketiga, Jangan berkeliaran di sekitar Asrama saat malam hari termasuk ke hutan. Keempat, Jangan pernah ingin tahu urusan anggota lain. Dan yang paling penting dan sangat dilarang adalah peraturan yang kelima, Jangan pernah mengusik kegiatan Aiden saat itu meski kau memintanya berhenti sekalipun atau kau akan mendapat hukuman langsung darinya,"
__ADS_1
Chloe terdiam membatu ketika Felix kembali melanjutkan kalimatnya, Larangan di Asrama yang tidak boleh dilanggar para anggota lain termasuk pemilik Asrama sekalipun.
"Karna Aiden tidak suka jika seseorang mengusik apa yang dia lakukan,"
Chloe Memory Off
"Ahhh! Aku melanggar peraturan yang terakhir dan itu peraturan yang paling mengerikan diantara peraturan lainnya. Aku lupa soal peraturan di Asrama ini. Chloe Bodoh! Aiden pasti akan menghukum ku," Chloe berteriak histeris dalam hati.
Dia mundur sampai punggungnya menyentuh daun pintu kamarnya, Dan Aiden terlihat berjalan mendekati Chloe dengan sorot Netra datarnya tanpa emosi.
"Ai-Aiden! Tu-Tunggu dulu, Aku tidak bermaksud mengusikmu," Dengan gelagapan Chloe berusaha membuka pintu kamarnya, Tentu saja dia panik.
Aiden tak mendengarkan penjelasan Chloe, Dia semakin mendekat dengan aura mencekam di sekitarnya.
"Ayo, Pintu. Terbukalah!" Pikir Chloe yang masih panik, Berulang kali dia mencoba membuka pintunya. Namun pintu itu tidak mau terbuka seolah ada yang menahannya.
CKLEK!
CKLEK!
CKLEK!
Aiden semakin mendekat, Tinggal beberapa meter lagi Chloe akan terpojok oleh sang pemuda.
Seketika Chloe langsung memejamkan matanya ingin menggunakan teleportnya.
"Ayo teleport, Kau harapanku satu-satunya. Ayo keluar dari kamar ini, Kemana saja asal diluar kamar. Pliss!'"
Dengan was-was Chloe membuka matanya namun yang dia lihat tetap sama, Aiden masih berdiri di depannya dengan raut datar. Refleks Chloe kembali memejamkan matanya.
"Njiir! Kenapa teleportnya gak mau!? Kalau begitu ke kebun Asrama!"
Pas Chloe buka mata lagi, Aiden masih berdiri di depannya. Salah satu tangan pemuda bersurai ungu itu tampak terangkat ke udara. Chloe makin panik, Kembali memejamkan mata.
"Woi! Kenapa teleportnya kagak mau! Holy! Dimana kau! Tolong aku! Program! Tolong Oi!" Chloe masih histeris dalam hati, Sampai tiba-tiba sesuatu tampak memukul pintu dibelakang Chloe dengan kencang.
BBRRAAKK!
KKRRIITT!
DEG!
Jantung Chloe hampir saja copot karna sesuatu yang tajam itu hampir mengenai kepalanya, Persis di sampingnya saat ini. Aiden memojokkan dirinya ke daun pintu.
Aiden mendekatkan wajahnya yang kini tinggal beberapa senti dengan wajah Chloe, Raut datar tanpa emosi itu menatap lekat sang gadis. Sesaat senjata di tangannya yang entah sejak kapan muncul mirip cakar itu menggores daun pintu yang berada di belakang sang gadis.
(Senjata Aiden 👆)
"Apa Nona Chloe takut pada saya?" Pertanyaan Aiden yang tiba-tiba membuat Chloe bungkam. Sejenak Aiden menatap lekat Netra biru milik sang gadis, Tidak terlihat ada keraguan atau rasa takut disana.
Tangan Aiden satunya perlahan menyingkirkan helai-helai rambut yang menutupi leher sang gadis, Mengusap pelan kulit leher sang gadis dengan jari telunjuknya. Mengusap dimana tanda hitam yang melingkar di leher Chloe berada.
"Anda adalah Anggota Favorit saya. Dibanding yang lain, Darah anda adalah yang paling manis dan saya menyukai hal itu," Aiden mendekatkan wajahnya ke leher sang gadis, Mengendus aroma manis disana.
Sumpah, Rasanya tangan Chloe udah gatal pengen nabok tuh muka Aiden. Pake diendus segala lagi! Dikira dia makanan apa!?
"Menjauh dariku! Geli tau!" Chloe dengan kesal, Chloe mendorong sang pemuda menjauh darinya. Namun hal itu sia-sia karna kini Aiden menahan kedua tangan Chloe menempel di daun pintu.
"Anda sama seperti mereka! Sama-sama menyusahkan. Mau memberontak bagaimana pun, Anda tidak akan bisa lepas dari saya. Karna saya lebih kuat dari anda,"
Chloe tentu saja sangat jengkel, Meski Aiden sangat dihindari oleh anggota lain dan sangat kuat. Tapi entah kenapa Chloe merasa Aiden itu egois.
"Ya! Aku tahu kau lebih kuat dari kami! Maka dari itu seharusnya kau melindungi yang lemah, Bukannya menindas yang lemah!" Kata Chloe agak emosi, Meski posisi nya saat ini sangat tidak memungkinkan untuk bergerak bebas. Tapi setidaknya dia masih bisa menggerakkan kakinya kalau Aiden macam-macam.
Sesaat Aiden terdiam memandang datar, Niat untuk mengambil darah Chloe hilang sudah. Tiba-tiba Aiden merasa tidak mood meladeni gadis di hadapannya. Pemuda itu melepas kunciannya terhadap sang gadis.
"Sekarang saya paham kenapa Pemilik Asrama memilih anda untuk ikut bergabung dengan anggota kami. Saya yakin dengan kemampuan Chemistry anda. Anda bisa membuat Asrama ini lebih baik dari sebelumnya,"
"Hah!? Apa maksudmu?" Chloe benar-benar tak paham apa yang dipikirkan Aiden saat ini.
"Suatu saat nanti, Anda akan menyadari kemampuan yang anda miliki akan sangat berguna disini,"
Aiden menjauhkan tubuhnya dari Chloe, Perlahan senjata di tangannya mulai menghilang. Dengan acuh Aiden mendorong pundak sang gadis ke samping, Menyingkirkan agar tidak menghalangi jalannya.
BLAM!
Pintu kamar itu tertutup rapat usai Aiden keluar dari sana, Chloe memegangi pundaknya yang barusan di dorong Aiden. Terdiam sibuk dengan pikirannya.
"Pantas saja anggota lain tak berani mengusiknya, Sikapnya sangat mengerikan," Gumam Chloe pelan, Menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat.
"Ish...Aku benar-benar tak paham apa yang dia maksud. Sikapnya aneh banget dah, Tapi untung aja kali ini selamat," Chloe mengusap-usap dadanya merasa lega.
__ADS_1
Kemudian tatapannya beralih memandang seisi kamarnya yang sudah rapi, Chloe memutuskan untuk tidur selagi menunggu jam makan siang tiba.
TBC