
"Kalau kalian para Maximillian tidak suka ada anggota keluarga baru, Mengapa tidak serahkan ke kami saja? Aku malah lebih senang kalau Chloe jadi bagian dari Michelle," Perkataan Ivy sontak membuat semua pasang mata di ruangan itu memandangnya.
"....!"
Semuanya terperangah mendengar perkataan Ivy, Revan sampai mengepalkan tangannya. Berharap apa yang dia dengar tadi salah.
"Ivy! Apa maksudmu! Dia sudah dinyatakan sebagai bagian dari Maximillian, Bagaimana bisa kau memintanya menjadi bagian Michelle begitu saja, Lagian dia tidak punya hubungan darah dengan kita!" Bentak Revan tak setuju dengan pendapat Ivy.
"Kita juga kan, Apa kak Revan berpikir kita para Michelle punya hubungan darah juga?! Kita sama sekali tidak sedarah!" Balas Ivy balik membentak, Kini tatapannya menajam.
Para Michelle terdiam, Adik bungsu mereka. Ivy Michelle yang biasanya terlihat pemalu dan pendiam, Kini tampak berbeda di mata mereka. Azura menatap lembut.
"Ivy, Kita para Michelle masih sedarah karna kita memiliki ibu yang sama meski ayah kita berbeda-beda," Azura tersenyum lembut yang membuat Ivy menatapnya kaget.
Rafael dan yang lainnya tersentak, Al lantas memandang Azura.
"Azura! Kenapa kau malah memberitahukannya pada Ivy?!" Kata Al mendelik tajam.
Azura masih mempertahankan senyum lembutnya sebelum menjawab. "Sudah saatnya kita memberitahukan hal ini, Aku merasa kasihan hanya Ivy yang belum tahu kalau kita satu ibu tapi beda ayah,"
"Azura....," Ash menatap dari jauh dengan suara lirih, Tapi dia tak mengatakan apapun setelahnya.
Ivy masih menatap kaget, Kini kedua tangannya mencengkeram celana yang dia pakai dengan erat. Sesaat kepalanya tertunduk sedih hingga akhirnya membuka suara.
"Jadi begitu...Karna itu warna rambut dan mata kita berbeda-beda. Di keluarga Michelle tidak ada satu pun yang memiliki warna rambut ungu selain aku, Bahkan warna mata kak Azura dan Kak Rafael saja sama. Kenapa hanya warna mataku yang ungu?!"
"Ivy, Lihatlah warna mataku juga ungu sama sepertimu, Sedangkan warna rambutmu itu didapat dari ayah kandungmu," Jelas Al sambil menunjuk matanya sendiri.
"Tetap saja rasanya tidak sama!" Netra Ivy mulai berkaca-kaca, Para saudaranya menatap sedih tak bisa berbuat apa-apa.
Para Michelle memang memiliki satu ibu tapi mereka memiliki banyak ayah. Dan saat ini perasaan para Michelle brother mulai goyah karna merasa bingung mereka termasuk sedarah atau tidak.
"Wah, Drama kakak adik mulai lagi di keluarga Michelle ya," Vallen seperti biasa menunjukkan senyum ramahnya, Bertepuk tangan sekali seolah ingin menyadarkan para Michelle brother akan keberadaan mereka (Maximillian brother).
"Huh! Sungguh malang, Kalian para Michelle memiliki satu ibu tapi ternyata banyak ayah. Bukankah terdengar seperti aib keluarga? Ibu kalian berselingkuh dengan pria lain. Artinya kalian anak haram?" Xavier mendengus sembari menyilangkan tangannya, Dengan pandangan dingin.
Mendengar perkataan Xavier membuat darah dalam diri Rafael mendidih, Netra birunya menajam bagai elang. Sontak Rafael berdiri dengan mengepal tangannya. Kini ekspresinya dipenuhi amarah.
"Tarik kata-katamu sialan! Beraninya menyebut kami sebagai aib keluarga! Setidaknya kami masih lebih baik dan murni berasal dari keluarga Michelle dibanding kalian ber-4 yang berasal dari panti asuhan! Kalian hanya anak angkat dan lebih rendahan dari sampah!" Bentak Rafael penuh amarah.
Leo yang emosi ikut berdiri dan membenarkan perkataan Rafael. "Itu benar! Kalian tidak benar-benar murni berasal dari keluarga Maximillian, Andai waktu itu Ayah kak Ray tidak mengadopsi kalian dari panti asuhan, Kalian pasti sekarang menjadi gelandangan! Pekerjaan yang kalian dapat saat ini bukanlah kerja keras kalian yang sesungguhnya, Pekerjaan ini berkat Ayah kak Ray yang mencarikannya untuk kalian! Seharusnya kalian berterima kasih bukannya bersikap sombong!"
Senyum Vallen luntur, Ia menatap dengan pandangan yang sulit diartikan. Sedangkan Xavier mengeluarkan aura suram, Netra hijaunya berkilat penuh amarah. Berbeda dengan Alex yang sontak berdiri, Kedua tangannya mengepal dengan gigi yang bergemeletuk kecil. Dirinya melangkah berniat menghajar Leo atau pun Rafael namun langsung dicekal oleh Xavier yang berada di dekatnya tanpa berkata apapun.
Xavier menarik sebuah pistol yang tersimpan di balik jas coklatnya, Menodongkan tepat dihadapan Michelle brother dengan pandangan dingin.
"Kata-kata kalian kurasa sudah melewati batas, Cepat minta maaf! Aku tidak segan untuk menembak kalian satu-persatu jika kalian tidak segera melakukannya. Dan satu lagi, Aku tidak peduli dengan apa yang kalian katakan soal kami maupun soal anggota keluarga baru itu. Tidak ada yang mengharapkan kehadirannya diantara kami ber-4 kecuali kak Ray, Jadi berhenti membahas anak itu!" Kata Xavier masih menodongkan senjatanya yang membuat para Michelle brother terbelalak kaget.
BRAK!
"Kau sudah gila! Polisi macam apa kau?!" Bentak Leon marah sambil menggebrak meja di depannya.
"Leon, Tenanglah. Saat ini mereka tidak bisa diajak bicara dengan baik," Bisik Azura disampingnya, Pemuda bersyal biru dengan garis hitam itu menatap waspada.
Revan melindungi Ivy di belakang tubuhnya, Rafael serta Ash dan Al merapat saling melindungi. Vallen terkekeh kecil, Ia ikut mengambil pistol dari balik jasnya dan menodongkan tepat dihadapan Michelle brother.
"Hehehe, Kalian takut? Padahal hanya pistol tapi sudah setakut ini," Katanya mengejek.
Alex bersidekap sambil memandang remeh. "Meski kami keluarga Maximillian kalah jumlah dengan kalian, Kalian tidak bisa meremehkan kami seenaknya!"
Azura sedikit mengeratkan pegangannya pada lengan Leon, Menatap waspada dengan tatapan serius. "Mereka terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan mereka pada kami dengan senjata, Mereka sudah diluar kendali,"
Sadar tidak ada satupun tanggapan dari para Michelle brother membuat Xavier mengernyitkan alisnya, Tatapannya kembali serius. "Jadi kalian memilih diam? Benar-benar arogan! Baiklah, Ini yang kalian inginkan. Aku akan memberikannya,"
Xavier perlahan menarik pelatuknya bersamaan dengan Vallen, Sedangkan Alex hanya mendengus kecil sambil menyerigai sinis.
".....!"
DOR!
********************
__ADS_1
[Disisi lain]
Kenzo memeriksa suhu tubuh Ezra dengan peralatan kesehatan yang dia ambil dari kotak P3K yang tersedia di mansion Michelle lalu beralih memeriksa detak jantung serta nadi Ezra. Usai menyelesaikan pemeriksaannya, Ia menghembuskan napas kecil.
"Demamnya terlalu tinggi hingga membuatnya pingsan, Aku belum pernah menangani pasien dengan demam setinggi ini," Pikir Kenzo melirik wajah Ezra yang begitu pucat layaknya kertas putih, Keringat dingin tampak terus mengalir dari kening pemuda bernetra hijau itu.
Kenzo mengambil kain kecil yang sudah dicelupkan ke wadah air sebelumnya, Ia segera meletakkan di kening Ezra. Berharap dengan cara itu, Demamnya bisa berkurang.
Sesaat Kenzo memandangi tubuh Ezra yang terbaring lemah, Dirinya merenung dalam diam.
"Pria ini padahal memiliki sikap ketus dan galak saat pertemuan malam kemarin, Dia bahkan terang-terangan mengatakan lebih percaya anak itu dibanding Kak Eli. Dia bahkan juga bersikap ketus pada Alex, Tapi meski begitu, Anak itu tetap peduli pada pria ini," Kenzo melepas sarung tangannya dan meletakkan kembali di kotak P3K.
Tiba-tiba ingatan saat Chloe memohon padanya terlintas begitu saja. "Sampai memohon padaku agar aku membantu pria ini. Hubungan mereka berdua tampaknya dekat sekali,"
Kenzo mengambil secarik kertas dan pulpen yang dibawanya lalu menuliskan resep obat yang harus diminum Ezra nantinya. Setelah selesai ia melangkah keluar kamar sembari membawa kotak P3K itu.
BLAM!
Sedetik setelah keluar, Kenzo melihat Chloe yang berdiri di samping tembok. Gadis itu tampak menyandarkan tubuhnya sembari memandang ke bingkai jendela, Menatap pemandangan luar. Pakaiannya masih dipenuhi noda merah, Sejak tadi gadis itu tidak bergerak sama sekali dari tempatnya.
Kenzo melangkah mendekat sambil berdehem agar menyadarkan sang gadis dari lamunannya, Chloe tersentak kecil sebelum pandangannya beralih menatap Kenzo. Sontak ia berdiri tegap, Ekspresinya kembali cemas.
"Bagaimana keadaan teman saya?" Tanyanya memandang Kenzo.
"Demamnya sangat tinggi, Aku menduga akibat kelelahan ditambah dia sempat terkena hujan kemarin. Jantungnya pun berdetak lemah, Kondisinya benar-benar buruk. Kusarankan kau membeli obat ini agar dia bisa meminumnya saat sudah sadar nanti," Kenzo menyerahkan resep obat yang barusan dia tulis.
Raut wajah Chloe berubah murung, Dia menerima resep itu dengan rasa sedih. "Terima kasih, Sesuai janji saya. Anda bisa minta apapun,"
Kenzo diam sejenak, Memandang Chloe sesaat. Ia kembali melangkah melewati Chloe tanpa berkata apapun.
Sedetik kemudian dia menghentikan langkahnya. "Jauhi kak Ray dan Keluarga Maximillian, Meski kak Ray ingin kau kembali ke keluarga kami setelah sekian tahun menghilang. Aku dan para saudaraku yang lain memilih tidak! Kurasa ini terlalu cepat dan mendadak,"
"Kau yang entah berasal dari mana tiba-tiba hadir di keluarga kami. Kami tidak butuh anggota keluarga baru, Jadi lebih baik kau pergi saja dan jauhi kak Ray. Permintaanku hanya itu, Pikirkan baik-baik," Tambah Kenzo kembali melanjutkan langkahnya, Meninggalkan Chloe yang berdiri diambang pintu.
"....."
Chloe menunduk kecil, Menggenggam erat resep di tangannya. Ia berbalik membuka pintu kamar Ezra sebelum memasukinya.
Chloe melihat Ezra terbaring lemah, Wajah pemuda itu sangat pucat. Ia perlahan mengambil kursi didekatnya dan duduk disamping tempat tidur Ezra. Chloe kembali memeriksa suhu tubuh sang pemuda, Menggenggam tangannya yang bersuhu tinggi.
"Panas sekali, Baru kali ini aku melihat Pak Ezra sakit. Apa karena dia sekarang tinggal sendiri di asrama, Jadi tidak ada yang memperhatikan kesehatannya? Dasar pembohong, Bilangnya tanpa aku bisa jaga kesehatan sendiri. Tapi nyatanya tetap saja sakit," Chloe mendengus kecil, Dia menarik tangannya kembali. Memandangi wajah Ezra.
"Tidak kusangka kalau Pak Ezra sakit, Dia bisa hilang kendali seperti itu dan lebih jujur dengan perasaannya. Apa sakit bisa mempengaruhi seseorang? Raizel waktu sakit juga sama seperti Pak Ezra, Dia datang ke kamarku tiba-tiba dan seenaknya langsung memelukku begitu saja," Chloe teringat dengan Raizel sewaktu Raizel sakit di asrama, Dia bertingkah aneh dan meracau tidak jelas.
Ngomong-ngomong soal teman masa kecil, Nyatanya ia juga pernah bertemu dengan Ezra waktu kecil. Rasanya sulit dipercaya tapi Chloe baru mendapat ingatan tentang kenangannya bersama Ezra kemarin malam. Ditambah pertemuannya kembali dengan Aiden sewaktu bersama Ezra membuat Chloe merasa sedih, Ah lagi-lagi ia teringat dengan anggota asrama.
Netranya berkaca-kaca ingin menangis lagi namun ia segera menyekanya kasar dengan lengan bajunya, Pandangannya kembali tertuju pada Ezra yang masih pingsan.
"Pak, Aku pergi dulu. Tidak akan lama, Aku hanya mau membeli obat buat bapak," Kata Chloe lirih, Meski dia tahu Ezra tak bisa mendengarnya.
Gadis itu meranjak, Namun langkahnya terhenti setelah sadar pundaknya berdenyut sakit. Lantas Chloe memandang sebagian pakaiannya yang terkena noda darah. Ah, Dia lupa belum mengobati lukanya yang terbuka dan mengganti pakaian.
Buru-buru Chloe keluar dari kamar dan bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
***************
[Disisi lain]
PRANG!
".....!"
Rafael diam mematung setelah vas bunga disampingnya pecah berkeping-keping, Para Michelle brother menatap kejadian itu dengan terkejut. Seisi ruangan hening.
Kenzo yang baru saja sampai di lantai dasar ikut terdiam memandang kejadian tersebut, Pandangannya tertuju pada Xavier yang masih memegang pistol.
"Sayang sekali, Ternyata meleset. Sepertinya aku masih harus mengasah kemampuan menembakku," Kata Xavier terselip nada mengejek di suaranya. Dia menyimpan kembali pistolnya.
"Ah, Sayang sekali ya kak. Padahal sedikit lagi," Vallen menggeleng pelan, Diam-diam tersenyum dingin. "Sekarang giliranku,"
Tubuh Ivy bergetar hebat, Dengan kejadian tadi membuatnya semakin ketakutan. Dia mencengkeram pakaian Revan yang melindunginya dengan erat.
__ADS_1
"Kak Revan...," Lirih Ivy ketakutan.
"Tidak apa-apa, Tetap berlindung di belakang kakak," Bisik Revan pelan, Menjadikan tubuhnya sendiri sebagai temeng.
Leo yang berdiri di dekat meja langsung mengambil gelas bekas minum Al, Dan melempar sekuat tenaga ke arah Vallen. Dengan sigap Vallen mengarahkan pistolnya ke arah gelas tersebut, Menembak secepat kilat.
DOR!
PRANG!
DOR!
Tembakkan kedua di arahkan pada Leo, Yang seketika Azura langsung menarik Leo dan Leon untuk menunduk sehingga pelurunya kembali meleset. Begitu pun dengan Rafael, Ash, dan Al. Ketiganya refleks bersembunyi di belakang sofa, Sedangkan Revan langsung memeluk Ivy agar Ivy tidak terkena tembakan itu.
Vallen berniat kembali menembakkan pelurunya, Namun tiba-tiba saja angin kencang berhembus di sekitar mereka dan sebuah tendangan entah dari mana mengenai tangannya cukup keras membuat pistol ditangannya terlepas.
DUAK!
TRAK!
Vallen melebarkan matanya terkejut, Rasa nyeri seketika menjalar dari tangannya menuju lengan. Refleks ia memegang tangannya sendiri menahan sakit, Netra coklat mudanya mencari siapa dalang yang menendang tangannya tadi.
Kenzo bahkan sampai terdiam membeku karna hembusan angin kencang yang melewatinya tadi. Sedangkan Xavier langsung berdiri setelah melihat kejadian tersebut, Keningnya mengernyit menemukan sosok Chloe berdiri diam dihadapan mereka.
Merasa sudah aman, Para Michelle brother keluar dari persembunyian masing-masing. Ivy menatap tertegun setelah kehadiran Chloe disana.
"Apa gadis ini yang menendang tangan kak Vallen tadi? Gak mungkin kan, Mustahil?!" Pikir Alex menatap waspada.
Chloe mengambil pistol Vallen yang tergeletak tepat dibawah kakinya, Ekspresinya tampak murung sembari memandang pistol itu.
"Kau berani sekali menendangku! Dan kembalikan pistol itu!" Vallen dengan kesal merampas pistolnya dari tangan Chloe.
"Aku tidak sengaja," Balas Chloe lirih, Tapi sebenarnya dia memang sengaja agar Vallen tidak melakukan kekacauan lebih banyak.
"Benar-benar tidak tahu sopan santun! Apa kau tahu batasan untuk tidak ikut campur urusan orang lain!" Kata Xavier dingin.
"Siapa yang ikut campur? Dari pada mengurusi permusuhan kalian. Aku lebih baik pergi keluar membeli obat untuk Pak Ezra," Balas Chloe, Kini auranya berubah suram. Moodnya semakin buruk setelah mendengar kata-kata Xavier.
"Apakah sakitnya separah itu? Sakit apa dia?" Alex mendekati Chloe meminta jawaban, Kini tatapannya berubah cemas.
"Demam...,"
Setelah menjawab Chloe melangkah pergi melewati Alex, Michelle brother dan Maximillian brother. Dengan muram dia membuka pintu mansion.
"Chloe, Boleh aku ikut?" Pinta Ivy memandangi punggung Chloe.
"Ivy!" Tegur Revan tak setuju, Dia menatap kesal.
"Tetaplah disini, Akan berbahaya diluar jika kau ikut denganku. Tidak tahu kapan, Wanita itu akan muncul lagi," Tanpa menoleh Chloe melangkah keluar meninggalkan para Michelle dan Maximillian brother disana.
BLAM!
Sepetinggal Chloe, Suasana ruangan itu hening sesaat hingga Rafael memecah keheningan dengan raut datarnya.
"Anak itu jadi bersikap aneh semenjak temannya ada disini," Kata Rafael heran.
"Dia hanya perlu waktu sendiri, Kurasa akhir-akhir ini dia merasa lelah. Jangan terlalu mengganggunya," Ash menghela napas kecil, Sejujurnya dia merasa kasihan dengan Chloe yang seolah sedang memikul beban berat.
Tap! Tap! Tap!
"Apa yang terjadi disini? Kenapa semuanya berantakan?"
Suara yang familiar itu sontak membuat para Michelle dan Maximillian brother tersentak, Mereka serempak menoleh mencari asal sumber suara.
Ray dan Elizabeth berdiri didekat mereka, Raut wajah keduanya tampak terkejut sekaligus tak percaya.
"Sial! Kami belum sempat membereskan kekacauan ini," Pikir Alex merasa panik.
"Tamat sudah, Kak Ray dan Kak Eli disini," Pikir Ivy gemetar takut, Sepertinya setelah ini mereka akan dimarahi habis-habisan oleh kedua kepala keluarga dari Michelle dan Maximillian itu.
TBC
__ADS_1