System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) She is mine


__ADS_3

Langkah kaki membawanya menuju dapur, Menemui sosok yang kini tengah memasak sesuatu. Sosok itu menoleh menyadari kehadiran seseorang di wilayahnya, Sesaat acara memasaknya terhenti kemudian kembali melanjutkan kagiatannya.


DDRRTT!


Chloe menarik kursinya, Mendudukkan dirinya disana sambil bertopang dagu. Dia melepaskan ranselnya lalu meletakkan di sampingnya. Sejenak terdengar suara helaan napas dari sang gadis.


Tak lama secangkir teh hangat dan sepiring roti bakar bersama sebotol selai anggur disodorkan kehadapannya. Sontak Chloe mendongak menatap Aiden sesaat lalu tatapannya beralih pada sepiring roti bakar.


TAK!


"Makanlah, Nona perlu energi sebelum pergi lagi,"


Aiden mendudukkan dirinya berhadapan dengan Chloe, Sedangkan Chloe kembali menghela napas, Sang gadis tampak gusar sambil mengacak pelan surai biru yang senada dengan warna matanya itu.


"Terima kasih,"


Ia meranjak dari tempatnya mencuci tangan di wastafel setelahnya Chloe kembali ke tempat duduknya sembari mencomot sepotong roti bakar, Mengoleskan selai pada roti itu sesaat lalu mulai memakannya perlahan. Pikirannya agak kacau memikirkan cara agar bisa melewati keamanan CCTV itu, Sedangkan dirinya sendiri belum tentu bisa melewatinya.


"Apa ada masalah? Nona tampaknya tidak menikmati masakan saya,"


Aiden tentu sejak tadi memperhatikan ekspresi gusar sang gadis, Dia memang tidak bisa membaca pikiran gadis itu tapi dari ekspresi sang gadis dia bisa menebaknya.


"Masakanmu enak kok, Tidak ada yang salah dengan masakanmu ini. Hanya saja aku masih kepikiran dengan misiku," Chloe melirik kecil pada ambang pintu yang terhubung dengan kebun, Terbayang dengan misinya yang belum selesai.


Pemuda dengan netra ungu tua itu hanya diam, Melirik kecil pada masakannya dia mencomot sepotong roti dan mengolesnya dengan selai. Perlahan dia memakan sarapannya sembari memandang jendela dalam diam.


"Aiden, Apa kau tahu cara melewati keamanan CCTV tanpa ketahuan?"


"Tidak, Coba tanya Tuan Devian. Biasanya dia ahli dalam hal begitu," Saran Aiden datar sambil mengunyah rotinya.


"Oh benar juga," Chloe mengangguk paham.


Sesaat terjadi keheningan diantara keduanya, Sibuk dengan sarapan masing-masing. Chloe sempat beberapa kali melirik Aiden, Seketika pikirannya teringat dengan mimpi yang dialaminya. Mimpi pernah bertemu Aiden sewaktu kecil, Entah mimpi itu nyata atau tidak.


Tangannya terulur mengambil teh hangat yang sebelumnya dibuat Aiden, Meneguk teh itu beberapa kali sekedar menghilangkan rasa canggungnya. Merasa lebih baik ekspresinya berubah serius.


"Aiden...Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Maksudku sebelum aku tinggal di Asrama ini,"


Pertanyaan Chloe sontak membuat aktivitas Aiden terhenti beberapa detik, Cangkir yang dipegangnya tertahan hampir menyentuh ujung bibirnya. Netra ungu tua itu menatap Chloe dengan tatapan yang sulit diartikan.


Dia meletakkan kembali cangkir yang dipegangnya ke meja. Mulutnya masih terkunci rapat sembari tatapannya terus tertuju pada Chloe, Kilasan-kilasan memory tiba-tiba terlintas di pikiran Aiden. Membuat sang pemuda diam termenung sesaat.


"Kalau saya bilang iya, Apa Nona Chloe akan percaya?"


Tubuhnya seketika tersentak kemudian diam beberapa detik, Chloe balik menatap netra ungu tua milik Aiden yang terlihat serius. Tidak ada kebohongan terlihat di netra ungu tua itu.

__ADS_1


"Dia serius?! Tidak ada kebohongan di matanya, Jadi kejadian itu bukan sekedar mimpi?!" Pikir Chloe dalam diam, Dia menunduk kecil sambil menautkan jari-jarinya.


"Aku akan percaya jika kau mengatakan kapan waktu kita ketemu," Kata Chloe tak kalah serius.


Aiden memejamkan mata beberapa detik, Mengingat kenangan lamanya dulu. Pertemuan pertamanya dengan Chloe Watson, Jiwa yang saat ini menempati tubuh Chloe Amberly. Kemudian matanya terbuka kembali.


"Saat anda berusia 5 tahun, Kita bertemu di taman. Pertemuan pertama sekaligus perpisahan kita. Anda memakai syal merah kan saat itu?"


"Semuanya benar, Berarti memang bukan mimpi. Aiden juga mengingat kejadian itu," Chloe kembali tersentak, Kepalanya kembali tertunduk.


"Benar, Semuanya benar. Aku memakai syal merah saat itu,"


"Apa anda mulai mengingatnya Nona? Kapan ingatan itu muncul?"


"Entahlah, Saat aku tidur. Kupikir cuma mimpi tapi ternyata kenangan masa kecilku," Sang gadis tersenyum kecut, Memilin ujung bajunya canggung. "Di mimpi aku juga melihat kenangan masa kecilmu bersama kakakmu Aiden, Dan aku turut sedih dengan apa yang menimpamu sewaktu kecil sebelum dijadikan objek penelitian,"


Aiden hanya diam, Sorot matanya tak menunjukkan cahaya apapun. Hanya tatapan kosong yang diberikan bersamaan dengan raut datar, Tak ada raut kesedihan di wajahnya meski kini kilasan memory tentang tragedi yang menimpanya dan keluarganya mulai muncul.


"Saya tahu itu,"


Mendengar nada datar dari Aiden membuat Chloe bungkam, Keheningan kembali melingkupi keduanya. Hingga suara Aiden kembali menyapu pendengaran Chloe.


"Karna sekarang anda sudah mengingat kenangan itu...," Aiden menjeda kata-katanya, Setangkai mawar biru tiba-tiba terbentuk di tangannya. Menyodorkan tepat di hadapan sang gadis.


"Chloe Watson, Maukah kau menjadi pendamping hidupku?"


Deg! Deg! Deg!


Jantung Chloe berdetak sangat kencang, raut terkejut dan kaget tertampang jelas di wajahnya. Tidak menyangka Aiden kembali melamarnya setelah bertahun-tahun tidak bertemu, Kenangan masa kecil kembali terlintas di pikiran sang gadis.


Tatapannya tertuju pada raut serius milik Aiden, Di tangan kiri sang pemuda terlihat setangkai mawar biru yang baru saja terbentuk. Sejenak bibirnya terkunci rapat tanpa ada sahutan lagi. Berpikir dua kali sebelum menjawab.


"Aiden, Apa kau baru saja melamarku?"


"Ya,"


Tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya sendiri, Merasa dilema dan gusar. Sejujurnya Chloe belum siap untuk menikah apalagi usianya masih 19 tahun belum lagi misi yang diterimanya belum selesai semua.


Sekarang pun Chloe lebih fokus mendahulukan misinya ketimbang masalah percintaan seperti ini, Untuk sekarang dia ingin egois dulu. Masalah percintaan ini bisa dia pikirkan nanti setelah semua misinya selesai.


Chloe menggeleng lemah, Dengan senyum palsu perlahan dia menarik tangannya dari genggaman Aiden, Mendorong balik tangkai mawar di tangan sang pemuda.


"Maaf, Untuk sekarang aku belum siap menikah Aiden. Meski aku sudah dewasa bukan berarti aku langsung terima lamaranmu. Masih banyak yang harus kulakukan sampai impianku tercapai," Jelas Chloe lembut, Dia tahu perkataan itu akan membuat Aiden sedih tapi Chloe tak punya pilihan lain selain menolak.


Nyut!

__ADS_1


Aiden diam membisu setelah mendengar penolakan Chloe, Tiba-tiba dadanya begitu sesak, Hampir membuatnya kesulitan bernapas. Sorot mata penuh pancaran harapan itu kini menjadi redup, Perasaan membara plus bahagia seketika sirna tak berbekas.


Perlahan mawar di tangannya layu seakan mengikuti perasaan yang Aiden rasakan, Netra ungu tua yang sejak tadi menatap Chloe serius kini beralih menatap meja di hadapannya. Aiden tak menunjukkan reaksi apapun namun dari sorot matanya yang redup bisa dipastikan kalau dia sedang merasa sedih dan muram.


"Aku...Tidak akan menyerah!"


Samar-samar Chloe mendengar suara Aiden yang kini lirih hampir tak terdengar, Pemuda itu juga terlihat mengepalkan satu tangannya di meja. Mawar di genggaman sang pemuda perlahan hilang menjadi abu tak berbekas. Kemudian netra ungu tua Aiden kembali menatap Chloe.


"Chloe Watson, Tunggulah saat hari itu tiba! Saat itulah aku akan kembali melamarmu di waktu yang tepat! Aku tidak akan menyerah!"


Sesaat tubuh sang gadis terdiam membatu, Menatap raut serius dari Aiden. Sejenak matanya mengerjap pelan, Namun entah sejak kapan Aiden sudah berada tepat dihadapannya tanpa terhalang meja ataupun kursi.


Aiden menangkup kedua pipi Chloe dengan kedua tangannya, Mengarahkan wajah Chloe hingga menghadapnya. Membuat kepala sang gadis harus mendongak karna perbedaan tinggi badan mereka.


"Meski bertahun-tahun pun, Aku akan tetap menunggumu," Lirih Aiden menempelkan keningnya dengan kening Chloe, Memejamkan matanya sesaat.


Seketika Chloe teringat dengan kenangan mereka berdua sewaktu dirinya kecil, Aiden juga memperlakukannya seperti ini dulu.


"Kenapa kau masih mau menungguku? Padahal aku sudah menolakmu," Ekspresi Chloe berubah muram, Kalau begini kan dia bakal merasa bersalah kalau sampai membuat Aiden menunggu.


"Karna Aku ingin, Tunggulah saatnya,"


Perlahan bibir Aiden mencium kening sang gadis, Lalu mulai turun menciumi kedua pipi hingga perlahan dia berniat mencium bibir sang gadis, Tinggal beberapa senti lagi bibir keduanya akan menyatu. Tentu saja Chloe sangat panik setengah mati, Tubuhnya agak gemetar dengan lututnya yang merasa lemas karna tidak siap dengan tindakan Aiden yang tiba-tiba. Terlebih kini Aiden memeluknya sangat erat.


Namun tindakkan Aiden terhenti karna tiba-tiba seseorang menahan pundaknya terlebih dulu. Chloe merasa seseorang memeluknya dari belakang, Membuat dirinya hampir tenggelam dalam pelukan sosok itu.


GREP!


"Jangan coba-coba mencuri kesempatan di saat kami tidak ada disini!" Desis seseorang di belakang Chloe, Memeluk erat sang gadis yang membuat Chloe hampir kesulitan bernapas.


Aiden yang memegang lengan Chloe menatap datar sosok yang menghentikan aktivitasnya itu, Menatap tajam sesaat.


"Raizel! Seharusnya kau tidak ikut campur urusanku!" Desis Aiden tajam dan dingin.


Raizel menatap tak kalah tajam. Berseru marah sembari memeluk Chloe posesif. "Aku tidak bisa membiarkan kau mencuri start duluan! She is Mine!"


Aiden mengerut tak senang, Dia ikut memeluk Chloe posesif sama seperti Raizel. "Tidak! She is mine!"



Aliran listrik terjadi diantara tatapan tajam keduanya, Saling menatap dengan aura suram dan permusuhan. Sedangkan Chloe yang berada di tengah-tengah kedua pemuda itu berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya akibat pelukan kedua lelaki itu.


"Mama! Tolong! Aku ingin pulang!" Pikir Chloe yang hanya bisa menangis dalam hati. Meratapi nasibnya yang kini berada di tengah-tengah kedua pemuda itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2