System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Pencarian Bukti


__ADS_3

"Hoam...," Devian menguap kecil sembari menutup mulutnya dengan punggung tangan. "Ngantuk banget, Lama-lama kalau begadang begini terus tubuhku bisa-bisa down. Jadi keamanan Asrama gak enak banget,"


"Derita mu, Tugas keamanan kan begitu. Resikonya ya bakalan ngantuk berat," Balas Raizel disamping Devian, Tatapannya fokus dengan layar TV dihadapannya.


"Lha? Terus kau ngapain bangun pagi-pagi begini cuma buat nonton TV?" Devian melirik jam arlojinya yang menunjukkan pukul 6 pagi.


"Gara-gara gak bisa tidur, Jadi sekalian aja begadang sampai pagi,"


"Awas lho, entar jadi kalong (Kelelawar) kalau begadang terus," Sahut Devian dengan jahil menusuk-nusuk pipi Raizel dengan jari telunjuknya sambil tertawa pelan.


"Kau tuh kalongnya!" Balas Raizel sewot sembari menepis tangan Devian karna merasa terganggu.


Devian hanya terkekeh pelan senang berhasil menjahili Raizel, Tak lama terdengar suara derap langkah kaki menuruni tangga. Keduanya menoleh dan menemukan Chloe dan Ian yang baru saja bangun.


"Pagi Devian, Pagi Raizel," Sapa Chloe ceria dengan wajah segar bugar sehabis mandi. Ia mendekati Sofa dimana Devian dan Raizel duduk.


"Pagi Kak Chloe, Pagi Ian," Balas Devian dengan senyum tipis dan dibalas anggukan kecil oleh Ian dan Chloe. Berbeda dengan Raizel yang sejak tadi sudah memandangi Chloe tanpa menjawab sapaan pagi itu. Ia hanya diam tak bersuara.


Chloe memiringkan kepalanya kesamping dengan pandangan heran menatap Raizel yang hanya diam tak bersuara. "Raizel, Ada apa? Kenapa diam?"


Masih tidak ada sahutan dari pemuda bersurai hitam campur coklat itu, Tatapannya masih tak lepas dari Chloe. Hingga tiba-tiba Raizel berdiri dari tempatnya dan melangkah perlahan mendekati sang gadis.


Chloe tanpa sadar berkeringat dingin memperhatikan tingkah aneh Raizel, Ia refleks mundur perlahan saat Raizel mendekatinya. Hingga akhirnya punggungnya menabrak dinding membuat Chloe terpojok dan agak panik.


"Akh...Kenapa Raizel selalu bertingkah aneh ketika aku di dekatnya sih?!" Pekik Chloe dalam hati panik.


Raizel meletakkan kedua tangannya di dinding tepat disamping kanan kiri Chloe disaat sang gadis sudah terpojok, Menahan sang gadis agar tidak bisa pergi kemana-mana dan tetap dalam kukungannya. Rona merah samar terlihat dari kedua pipinya ketika menatap wajah Chloe dalam jarak dekat.



Sedangkan Chloe masih berkeringat dingin, Tidak paham apa yang diinginkan Raizel sebenarnya.


"Raizel...Ini...," Chloe melirik Ian dan Devian meminta bantuan, Memberi kode agar keduanya bisa membantunya lolos dari Raizel.


Devian mengangkat kedua pundaknya tak bisa membantu sedangkan Ian menatap datar menahan rasa kesal.


"Dasar Raizel, Kalau sudah berada di dekat Chloe pasti bakal lupa segalanya," Pikir Ian menahan diri agar tak memberikan bogem mentah pada temannya itu.


Raizel masih menatap Chloe dalam diam tapi kini tatapannya tertuju pada bibir sang gadis, rona samar masih menghiasi kedua pipinya.


"Chloe, Boleh kah aku menciummu?" Raizel menunjuk bibir sang gadis dengan jari telunjuknya.


JJDDEERR!


"Hah?!" Devian, Ian, Dan Chloe serempak terkejut dengan pernyataan Raizel.


Bagai disambar petir disiang bolong, Seketika Ian menatap tajam posisi Raizel yang masih mengukung Chloe bahkan kini Raizel sudah menutup mata bersiap mencium sang gadis. Ian lantas segera menahan kerah baju Raizel dari belakang sebelum Raizel benar-benar mencium sang gadis yang bahkan Chloe belum menjawab permintaan Raizel.


"Cukup sampai disini Raizel! Jangan sampai melewati batas!" Desis Ian dingin masih menahan kerah baju milik Raizel. Membuat Raizel menghentikan tindakkannya.


Pemuda bersurai hitam campur coklat itu diam sejenak setelahnya ia melepaskan kukungannya dan menjauh beberapa langkah dari Chloe. Kepalanya tertunduk kecil.


"Maaf, Aku tidak bermaksud menakutimu Chloe,"


Chloe diam sesaat sembari menghela napas pelan dan mengangguk kecil sebagai jawaban. "Iya, Gak papa,"


Ian melepaskan kerah baju Raizel sambil mendengus kecil. "Tadi hampir saja, Jika aku tidak bergerak cepat menahannya. Mungkin dia benar-benar akan mencium Chloe, Huh! Aku tidak rela jika itu benar-benar terjadi,"


Berbeda dengan Devian yang hanya menghela napas saat melihat kejadian tadi, Kemudian ia menekan remot TV mencari acara yang menarik menurutnya. Tak lama ia berhenti di sebuah saluran berita yang memperlihatkan tumpukkan bangunan yang roboh dan banyak terpasang garis polisi disekitar bangunan yang sudah tak terbentuk lagi. Banyak para wartawan dan warga biasa berkerumun untuk melihat korban.


Kamera menyorot pada sesosok jasad yang sudah tak bernyawa diantara timbunan bangunan, Para tim SAR tampak sedang mengevakuasi jasad itu. Devian lantas menoleh pada Ian, Raizel, Dan Chloe yang sibuk berdebat tentang kejadian tadi lebih tepatnya hanya Ian dan Raizel yang berdebat.


"Hei, Teman-teman. Coba lihat ini," Pinta Devian sembari menunjuk layar TV.


Ketiganya segera menoleh setelah mendengar suara Devian, Mereka mendekati sofa tempat Devian duduk.


"Ada apa?" Sahut Ian dingin.


"Lihatlah!"


Chloe menatap layar TV sesuai permintaan Devian. Kamera tampak menyorot pada seorang laki-laki yang sedang duduk di mobil ambulan, Laki-laki itu terus menangis tanpa henti dan berusaha ditenangkan oleh salah satu petugas disana. Chloe tersentak sesaat setelah merasa familiar dengan wajah laki-laki itu.


"Lho, Itu bukannya Kak Finni ya. Kenapa dia bisa berada di ambulan?"


"Finni? Siapa dia?" Tanya Raizel heran.


"Temannya Kak Felix, Dia salah satu barista di Cafe Kak Felix yang kukenal. Aku tidak tahu kabar kak Finni lagi setelah berhenti kerja di Cafe Kak Felix,"


"Lalu dimana Felix? Dari kemarin malam dia tidak pulang," Sahut Ian.


"Entah," Chloe mengangkat kedua pundaknya tak tahu. Ia kembali memandang layar TV.


"....?!"


Seketika Devian, Raizel, Ian, Dan Chloe terkejut setengah mati. Netra mereka membulat sempurna setelah melihat wajah jasad yang sedang dievakuasi itu lebih jelas.


"FELIX/ KAK FELIX!" Kata Mereka serempak.


Raizel meneguk selivanya kasar, nada suaranya agak sedikit bergetar. "Te-Terulang lagi?!"


"Jadi sejak kemarin tidak pulang karna..." Ian tidak melanjutkan kata-katanya, Ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Dua hari yang lalu Rion, Dan Sekarang...," Devian tanpa sadar mencengkeram sofa yang di dudukinya. Menunduk tanpa bersuara lagi.

__ADS_1


".....," Hanya Chloe yang tidak berkata sepatah kata pun setelah melihat jasad Felix meski hanya lewat layar kaca. Hatinya begitu sakit dan sesak.


Tanpa berkata apa-apa ia melangkah pergi meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya. Chloe tak sanggup lagi melihat berita itu.


*************


Cckkeeiit!


Sebuah mobil sedan hitam dan sebuah motor sport berhenti di depan gerbang pemakaman, Tak lama kaca mobil itu turun memperlihatkan sang pengendara bersama para penumpangnya.


"Disini?" Tanya Ezra memastikan.


"Iya," Balas Raizel sambil memandang beberapa orang disekitar pemakaman dari jauh.


Tampak beberapa orang itu berdiri mengitari sebuah makam, Beberapa dari mereka terlihat menangis. Tak lama satu persatu orang-orang itu pergi meninggalkan area makam dan hanya meninggalkan satu orang disana yang masih tak meranjak dari tempatnya.


Aiden yang duduk disamping Chloe menyenggol pelan lengan sang gadis dengan siku nya, Mengkode agar mendekati laki-laki yang masih berdiri di sekitar makam.


Sesaat Chloe menghembuskan napas mencoba menetralkan jantungnya yang berdetak cepat, Perasaan sedih kembali menyelimuti hatinya. Chloe mulai keluar dari dalam mobil dengan membawa sekeranjang bunga, Ia melangkah melewati gerbang pemakaman menghampiri laki-laki yang masih berdiri disana.


Langkah kakinya terhenti saat sudah dekat, Netra berwarna biru itu memandang makam yang bertuliskan nama 'Felix Edricson' disana. Tatapannya berubah sendu, lalu pandangannya beralih pada laki-laki yang masih berdiri diam.


"Kak Finni,"


Finni, Pemuda itu menoleh setelah merasa namanya dipanggil. Tatapannya terlihat kosong seakan kehilangan cahayanya, netra orange nya tampak redup.


"Chloe...," Lirih Finni pelan, Ia merogoh saku jaketnya dan menyodorkan sebuah jam tangan pada Chloe. "Ini dari Felix, Dia bilang berikan jam tangan ini jika aku bertemu denganmu,"


Chloe memandang sejenak lalu meraih jam tangan itu sembari berkata pelan. "Jadi Kak Felix mengembalikan jam tangan ini ya,"


"Iya,"


Keheningan tercipta diantara keduanya, Finni kembali memandang makam Felix dengan tatapan sendu.


"Felix mati karenaku, Dia berusaha melindungiku dari ledakan bom itu. Dan aku malah tidak membantunya apa-apa agar dia tetap hidup, Aku...Aku salah sudah membuatnya begini," Nada suara Finni mulai bergetar, Air matanya kembali menetes.


Chloe hanya diam mendengarkan keluh kesah Finni, Sesaat ia mengusap pundak Finni untuk menenangkan sang pemuda.


"Kak Finni, Kak Felix pasti ikut sedih kalau kak Finni begini. Kak Felix pasti sangat menyayangi Kak Finni, Makanya Kak Felix rela berkorban untuk orang yang dia sayang,"


Finni terdiam ia mengusap matanya yang basah, Lalu tersenyum sendu. "Dia itu sejak Smp tidak pernah berubah, Selalu tersenyum untuk orang-orang terdekatnya. Kadang bisa jadi menyebalkan, Walau begitu kami saling melengkapi,"


Chloe ikut memandang makam Felix. "Pasti masa Smp kalian bahagia sekali ya,"


"Begitulah," Finni tersenyum kecut. "Apa dia bahagia disana?"


"Mungkin saja, Kak Felix mungkin bahagia jika orang yang disayanginya selamat,"


"Yah, Kuharap dia tidak mengeluh kesepian disana,"


Usai berdoa Chloe memandang langit diatas mereka yang sedikit mendung. "Sebenarnya apa yang terjadi dengan Cafe milik Kak Felix? Bagaimana bisa ada bom disana?"


"Aku yakin pasti ulah sosok misterius itu," Tangan Finni mengepal marah.


"Sosok Misterius?" Chloe teringat dengan perkataan Holy yang bilang Rion dibunuh sosok misterius lalu Felix mati karna ulah sosok misterius juga. Apakah sosok itu adalah orang yang sama?


"Iya, Sebelum kejadian itu terjadi. Kami diserang sosok itu secara tiba-tiba, Dia menghancurkan kaca Cafe sampai pecah. Aku tidak tahu sejak kapan dia meletakkan bom disana, Tapi gara-gara bom itu cafe Felix hancur dan roboh hingga menimpaku dan Felix,"


Finni menghela napas menjeda kata-katanya sesaat. "Aku masih bisa menyelamatkan diri dari reruntuhan itu tapi tidak dengan Felix,"


Chloe mengangguk paham. "Jadi Kak Felix mati karena tertimpa reruntuhan itu,"


"Tenang saja kak Finni, Aku dan teman-temanku akan membantu menyelidiki kasus kematian Kak Felix. Kami akan berusaha semampu kami," Kata Chloe dengan senyum mengembang di bibirnya.


Finni diam sejenak lalu terkekeh pelan merasa lucu dengan senyum Chloe, Tangannya terangkat mengusap surai milik sang gadis.


"Kau perhatian sekali, Pantas saja Felix bisa suka padamu,"


"Huh?!"


Finni tersentak setelah tanpa sadar membocorkan rahasia Felix, Refleks ia menarik tangannya kembali.


"Ups! Aku keceplosan. Maafkan aku Felix," Batin Finni agak panik.


"Ma-Maksudku pantas saja Felix sangat menyayangimu, Kau perhatian sekali sih," Finni tersenyum canggung setelah menangkap raut kebingungan dari Chloe.


Kemudian ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya. "Ini sudah hampir siang, Aku duluan ya. Dah!"


Tap! Tap! Tap!


Finni bergegas pergi dari sana meninggalkan Chloe seorang diri, Sedangkan Chloe menatap heran kepergian Finni padahal ia belum mengatakan apa-apa.


Kepalanya menggeleng pelan lalu pandangannya beralih menatap makam Felix. Chloe baru menyadari kalau makam Felix bersebelahan dengan makam Rion, Entah ini hanya kebetulan atau tidak.


"Kak Felix, Rion. Aku pulang dulu. Nanti kapan-kapan aku akan berkunjung lagi," Kata Chloe pelan setelahnya ia melangkah pergi meninggalkan area pemakaman menemui anggota lain yang sejak tadi menunggu di mobil.


BLAM!


"Apa informasi yang kau dapatkan darinya?" Tanya Justin melirik Chloe dari kaca spion setelah sang gadis memasuki mobil.


"Kak Finni bilang, Kak Felix mati karna melindunginya dari ledakan bom,"


"Bom? Siapa yang manaruh bom disana?" Raizel mengangkat satu alisnya heran.

__ADS_1


"Entahlah, Dia bilang mereka diserang sosok misterius secara tiba-tiba. Kemungkinan besar sosok itu yang meletakkan bom disana," Jelas Chloe sembari mengangkat kedua pundaknya tak tahu.


"Kau tahu kan jalan menuju Cafe milik Felix?" Justin melirik kecil.


"Iya tahu,"


"Bagus, Ezra kita akan menyelidiki kasus ini. Kita ketempat Cafe Felix,"


"Baik,"


Perlahan Ezra mulai melajukan mobil nya meninggalkan gerbang pemakaman diikuti motor sport yang dikendarai Devian.


************


Mereka sampai di sebuah bangunan yang runtuh dan tak berbentuk lagi suasana tempat itu tampak kosong tidak terlihat satu pun orang disana, Disekitar bangunan itu terpasang beberapa garis polisi menandakan tidak ada yang boleh melewati garis pembatas.


Devian melepas helm nya dan meletakkan di kaca spion motor, Ia meranjak dari sana mendekati reruntuhan. Justin bersama Raizel, Aiden, Ian, Dan Chloe turun dari mobil ikut mendekati reruntuhan. Hanya Ezra yang memilih tinggal di mobil untuk berjaga-jaga.


Justin melangkah melewati garis pembatas, Ia tak peduli meski dirinya melanggar larangan. Ia hanya terfokus untuk menyelidiki kasus Felix. Devian, Raizel, Ian, Dan Aiden ikut melewati garis pembatas. Sedangkan Chloe memilih memeriksa sisi reruntuhan lain.


Ian secara hati-hati melangkah melewati reruntuhan agar satu pun barang yang mungkin ikut tertimbun di reruntuhan itu tidak terinjak olehnya. Netra beriris merah itu memperhatikan sekitarnya dengan teliti, Hingga tak lama ia menemukan setangkai bunga lily yang tergeletak di antara reruntuhan.


Sang pemuda mengambil bunga itu dan kembali memperhatikannya dalam jarak dekat.


"Bunga lily? Bunga ini persis sama dengan bunga lily yang ditemukan di tempat Rion terbunuh," Pikir Ian curiga masih memperhatikan bunga itu.


Disisi lain Aiden menemukan beberapa potongan rantai yang terlepas, Ia meraih potongan rantai itu dalam diam.


"Rantai ini...Entah kenapa rasanya familiar bagiku, Aku pernah melihat rantai sejenis ini tapi...aku tidak bisa mengingatnya," Batin Aiden mencoba mengingat pemilik dari potongan rantai yang dipegangnya.


Disisi Raizel ia melihat-lihat beberapa reruntuhan, Namun tak lama kemudian ia merasa tak sengaja menginjak sesuatu dibawah kakinya. Sontak langkah Raizel terhenti dan ia menunduk kebawah menatap benda yang ia injak. Terlihat sebuah pistol yang sedikit hangus karena sempat terbakar.


Raizel mengambil pistol itu memastikan dengan seksama. "Ini kan pistolnya Felix, Jangan-jangan dia sempat menembak sosok itu," Gumam Raizel pelan, Ia memilih menyimpan pistol tersebut sebagai bukti.


Sedangkan di sisi Justin dia menemukan sebuah potongan note yang sisi-sisi nya sudah terlihat menguning habis dilahap api, Sesaat ia membolak-balikkan note itu untuk memeriksa tulisannya.


Netra orange nya menangkap beberapa tulisan tertulis disana. Ia bergumam pelan. "Catatan penghasilan cafe selama sebulan ya,"


"Hei, Semuanya! Lihat ini!" Seru Devian yang membuat semua anggota disana serempak menoleh. Mereka langsung berkumpul mengerumuni Devian.


Devian menunjuk sebuah catatan yang tertempel di salah satu tembok bangunan, Terlihat catatan itu sepertinya masih baru. Mereka membaca catatan itu dengan seksama.


...Setelah beberapa anggota kalian terbunuh, Apa yang akan kalian lakukan? Mencariku? Hahaha kalian tidak akan bisa menangkapku. Jika kalian ingin menangkapku cari aku dan bertarunglah denganku. Itu pun jika kalian tidak pengecut menghadapiku....


^^^R.D^^^


Kedua tangan Raizel terkepal kesal menahan amarah setelah membaca catatan itu. "Dia mengatai kita pengecut?! Dia benar-benar cari masalah dengan kita,"


"Hah~, Mencarinya dimana? Kita saja tidak tahu tempatnya berada," Devian mendesah lelah sambil mengangkat kedua pundaknya.


"Mungkin saat ini dia masih bersembunyi," Celetuk Chloe menegakkan tubuhnya kembali setelah membaca catatan itu.


"Sepertinya dia yang pengecut karna bersembunyi dari kita," Kata Ian datar.


"Kita tidak tahu apa tujuannya membunuh Rion dan Felix, Jadi selama kita belum menangkapnya aku tidak akan memperbolehkan kalian keluar dari area Asrama saat malam kecuali jika sedang keadaan terdesak. Kita harus terus waspada terhadapnya," Peringat Justin serius.


Mereka hanya mengangguk terpaksa mengikuti perintah Justin. Aiden yang memang sejak dulu lebih betah di Asrama hanya menyimak saja, Toh dia juga jarang keluar dari area Asrama kecuali saat terdesak saja.


Justin menghela napas pelan melihat raut terpaksa dari para anggotanya. "Aku juga sebenarnya tidak ingin mengekang kalian, Tapi ini demi keselamatan kita semua. Kalian bisa bebas keluar asrama saat pagi dan siang hari tapi tidak saat malam dan juga jangan pulang terlalu larut,"


"Kami mengerti," Balas Devian, Ian, Raizel, Dan Chloe serempak (Minus Aiden).


Disaat Justin memperingatkan para anggotanya mereka tiba-tiba mendengar suara teriakan yang cukup memekakkan telinga membuat mereka semua menoleh mencari asal suara. Sedangkan Chloe refleks menutup kepalanya dengan tudung jaketnya menyembunyikan wajah. Terdapat dua orang polisi yang menodongkan pistol mereka pada Justin dan anggota lainnya.


"Hei! Siapa kalian?! Berani-beraninya melewati garis polisi. Apa kalian tidak bisa baca tanda peringatan ini?! Tempat ini tidak boleh dimasuki siapa pun kecuali anggota polisi!" Bentak salah satu polisi disana masih menodongkan pistol.


Justin hanya menatap datar tanpa rasa takut begitu pun dengan Devian, Raizel, Ian, Dan Aiden (Minus Chloe yang udah komat kamit dalam hati berharap mereka tidak di tangkap oleh para polisi itu). Sesaat Justin menghubungi Ezra lewat handsfree miliknya mengacuhkan teriakan polisi tersebut.


"Ezra, Jemput kami!"


"Baik Tuan Justin,"


"Hei! Kalian dengar tidak?! Kalau tidak pergi dari sini, Kami akan menembak kalian!" Bentak polisi itu lagi.


Justin masih mengacuhkan kedua polisi itu setelah menghubungi Ezra ia menoleh pada Aiden yang berada di dekatnya. "Aiden, Urus mereka!"


"Berani-beraninya kalian mengacuhkan kami!" Salah satu polisi itu mengarahkan pistol nya pada Justin, Bersiap untuk menembak.


Namun belum sempat menarik pelatuk, Aiden tiba-tiba sudah berdiri di hadapan kedua polisi itu sembari menatap tajam dengan netra ungu tuanya. Membuat kedua polisi itu terkejut saking kagetnya. Dengan sekali cengkeraman pada pistol keduanya, Seketika pistol yang dipegang kedua polisi itu hancur lebur menjadi abu layaknya kertas.


Kedua polisi tersentak menatap tak percaya dengan apa yang mereka lihat, Badan mereka bergetar hebat dan berniat lari dari sana. Tapi Aiden lebih dulu menahan keduanya dengan memegang kepala mereka masing-masing.


"Lupakan apa yang kalian lihat tadi, Anggap saja kalian tidak melihat apa-apa atau pun bukti yang ada di reruntuhan ini," Bisik Aiden pelan dengan nada tajam. Kedua polisi itu diam membatu seakan mereka sudah terhipnotis keduanya mengangguk patuh tanpa mengatakan sepatah kata pun dengan tatapan kosong.


Setelahnya Aiden membenturkan kepala kedua polisi itu hingga pingsan dan jatuh menghantam tanah.


"Ternyata selain bisa mengendalikan tanaman, Membuka portal dimensi, dan Teleportasi. Aiden bisa mencuci otak seseorang juga. Banyak juga kekuatan yang dimiliki nya," Pikir Chloe yang melihat kemampuan Aiden sejak tadi.


Tak lama setelah kejadian tadi mobil sedan hitam muncul perlahan mendekat dan berhenti tepat dihadapan mereka. Justin lebih dulu memasuki mobil diikuti anggota lainnya termasuk Chloe, Sedangkan Devian menaiki motor sportnya.


Sesaat sebelum pergi dari sana Ezra melirik dua orang polisi yang tengah pingsan melalui kaca spion. "Kapan mereka akan bangun?"


"3 jam lagi," Balas Aiden datar.

__ADS_1


Ezra hanya mengangguk kecil setelahnya ia tancap gas meninggalkan area reruntuhan bangunan.


TBC


__ADS_2