System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Justin dan Ezra (4)


__ADS_3

Chloe melangkah santai menelusuri sepanjang jalan trotoar, Merapatkan jaket serta ranselnya. Semilir angin menerbangkan beberapa helai rambutnya yang diikat pony tail, Dinginnya hawa angin malam tak membuatnya menggigil.


Untungnya jalanan yang Chloe lewati masih terdapat kendaraan transportasi yang lalu lalang meski sedikit setidaknya gak membuat Chloe takut jalan sendirian malam-malam. Disaat asyik memperhatikan sekelilingnya, tak lama netra biunya menangkap sebuah toko perbelanjaan yang bersebrangan dengan taman bermain.


Gadis itu memutuskan mampir sebentar ke toko perbelanjaan itu mengingat persediaan bahan makanannya hampir habis sekalian ingin membeli beberapa cemilan.


Usai selesai dari toko perbelanjaan dengan menenteng sekantong plastik besar berisi barang perbelanjaan, Sang gadis berniat kembali melanjutkan perjalanannya. Namun kali ini netranya menangkap sebuah mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh dari posisi taman bermain itu tepat bersebrangan dengan toko perbelanjaan.


Sesaat matanya menyipit sadar kalau dia sangat mengenali mobil hitam itu. Tak lama seseorang pria keluar dari mobil tersebut, Melangkah pergi menuju taman bermain disana. Pria itu juga memanjat pagar pembatas yang jelas-jelas bertuliskan dilarang masuk, Namun pria itu tetap nekat masuk kesana.


"Eh? Bukannya itu Pak Ezra?! Ngapain dia nekat masuk kesana?" Pikir Chloe terkejut menyadari sang pemilik mobil itu adalah Ezra.


Sang gadis buru-buru memasukkan semua barang perbelanjaannya dalam ransel walau akhirnya merasa ranselnya jadi berat, Tapi dia tak memperdulikan hal tersebut. Bergegas kakinya melangkah menuju taman itu, Melewati jalanan yang agak sunyi.


Setelah sampai di taman bermain, Sesaat Chloe menatap mobil sedan hitam yang berada tak jauh dari posisinya. Memastikan sekali lagi kalau mobil itu benar-benar milik orang yang dikenalnya.


"Beneran mobilnya Pak Justin, Tapi kenapa Pak Ezra yang bawa? Pak Justin juga gak ada di mobil itu. Aku ikutin Pak Ezra aja deh,"


Pandangannya beralih menatap pagar besi di depannya dengan papan bertuliskan dilarang masuk, Sejenak netra Chloe memperhatikan sekelilingnya. Memastikan bahwa tidak ada siapa-siapa yang akan memergoki tingkahnya nanti.


Tekad nya sudah bulat, Dengan perlahan Chloe memanjat pagar besi itu. Untung di atas pagar tidak ada yang namanya kawat pembatas, Sesaat Chloe melepas ranselnya setelah sampai di atas pagar lalu menjatuhkan ranselnya ke bawah tepat masuk ke dalam taman bermain itu. Setelahnya Chloe menjatuhkan diri dari atas pagar.


TEP!


Kakinya mendarat dengan sempurna di tanah, Segera sang gadis memakai kembali ranselnya dan bergegas mencari keberadaan Ezra.


Setelah berjalan agak lama mengitari taman itu, Netranya menemukan Ezra tengah berada di sebuah tempat bermain Skateboard. Ekspresi pemuda itu tampak muram dan sedih, Seperti tengah mengusap sesuatu. Lalu tak lama Ezra berjalan pergi dari sana entah kemana.


Chloe yang mengintip segera mendekati tempat bermain skateboard itu setelah kepergian Ezra. Dia menatap sebuah simbol yang menarik perhatiannya, Sang gadis berjongkok mengusap simbol berbentuk hati itu.


"Simbol ini sepertinya punya kenangan tersendiri untuk Pak Ezra," Pikir Chloe masih mengusap simbol itu.


Sejenak dirinya diam termenung disana, Menerka-nerka apa yang akan dilakukan Ezra di tengah taman bermain yang sudah lama ditinggalkan ini. Namun lamunannya buyar saat sebuah suara besar menyapu pendengarannya.


BBYYUURR!


Sontak Chloe berdiri kaget sambil menoleh ke sekitarnya, Menatap gelapnya taman bermain yang hanya disinari oleh beberapa lampu taman. Ia menajamkan pendengarannya sesaat.


"Suara apa itu?! Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Pak Ezra?!" Chloe dengan panik segera bergegas menuju asal suara, Melewati beberapa pohon rimbun di sekitar taman yang kebetulan berdekatan dengan sebuah danau besar.


TAP! TAP! TAP!


Sesampainya di sisi danau netra birunya segera mencari-cari keberadaan Ezra, Namun nihil Ezra tak berada disana. Pemuda itu hilang bak ditelan bumi, Hal itu semakin membuat Chloe cemas.


Langkah kakinya semakin cepat menelusuri sisi danau, Hingga akhirnya langkahnya terhenti saat kakinya merasa tak sengaja menginjak sesuatu. Refleks Chloe mengambil benda di bawah kakinya, Benda itu sesaat bersinar saat terkena cahaya bulan.

__ADS_1


"Apa ini?!" Netranya memincing memperhatikan dua benda yang digenggamnya dengan seksama, Hingga akhirnya Chloe menyadari bahwa dua benda itu adalah sebuah jam tangan dan HP milik Ezra.


"Ini jam tangan dan HP milik Pak Ezra, Kenapa dia meninggalkannya disini?" Gumam Chloe masih memperhatikan kedua benda itu, Perlahan pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi kepalanya.


"Gak mungkin kan...," Netra birunya melirik danau di sampingnya dengan pandangan gusar.


Chloe segera menyimpan jam tangan dan Hp milik Ezra di ranselnya bersamaan dengan Hp dan jaket miliknya. Setelahnya sang gadis menuju danau, Mencari-cari sesuatu disana.


Terdapat gelembung-gelembung yang terus muncul di permukaan danau, Chloe menatap lebih dalam danau itu tepat di sisi gelembungnya. Samar-samar netranya menangkap siluet seseorang yang tengah tenggelam disana, Dengan bantuan cahaya bulan akhirnya Chloe menemukan keberadaan Ezra.


"Pak Ezra!"


Refleks dengan panik Chloe melepaskan ransel dan sepatunya, Lalu meletakkan kedua benda itu di tanah. Tanpa menunggu lama gadis itu menceburkan diri dalam danau untuk menolong Ezra.


BBYYUURR!


Susah payah Chloe berenang agar bisa menggapai tangan Ezra, Tangannya terulur berusaha meraih tangan sang pemuda sebelum jarak mereka semakin jauh. Yang Chloe lihat Ezra sudah pingsan saat itu, Matanya pun tertutup rapat tanpa adanya pergerakan lagi.


Setelah berusaha sekuat tenaga, Akhirnya Chloe berhasil menggapai tangan Ezra. Dia segera menarik Ezra mendekat padanya, Menggenggam tangan sang pemuda erat-erat.


"Pak Ezra, Bertahanlah!"


Kepalanya mendongak menatap permukaan danau, Chloe kembali berenang sambil menarik Ezra di belakangnya tanpa melepaskan genggaman tangannya. Tatapannya terus fokus menuju permukaan danau.


Setelah berenang agak lama, Chloe sampai di permukaan danau. Dia segera mencengkeram tanah di dekatnya untuk membantunya keluar dari sana. Secara perlahan Chloe menarik tubuh Ezra hingga terbaring di tanah.


Sesaat Chloe merasa kedinginan karna suhu temperatur air lebih dingin saat malam hari, Netranya melirik Ezra yang terbaring di sampingnya. Chloe segera menepuk-nepuk kedua pipi Ezra.


"Pak! Pak Ezra!"


Pemuda itu terlihat tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun meski Chloe sudah menepuk-nepuk pipi Ezra. Tangannya refleks segera melonggarkan dasi Ezra agar sang pemuda lebih leluasa untuk bernapas nanti.


Tangannya segera menekan-nekan dada Ezra dengan kuat, Berharap air yang sempat terhirup oleh sang pemuda keluar. Cukup lama Chloe melakukan pertolongan pertama, Hingga akhirnya usahanya tak sia-sia.


Ezra akhirnya bangun sambil terbatuk-batuk, Mengeluarkan semua air yang sempat terhirup olehnya. Napas sang pemuda tampak berat, Tatapannya sayu seolah tak ada cahaya di matanya. Tubuhnya kembali terbaring di tanah, Menatap langit malam yang penuhi bintang.


"Pak Ezra! Akhirnya bapak bangun juga," Chloe tersenyum lega, Senang mengetahui Ezra selamat.


Ezra tak menyahut, Dia kembali terbatuk-batuk. Saat ini dia merasa tubuhnya sangat kedinginan dan lemas. Tak bisa melakukan apapun selain hanya terbaring di sana.


Melihat hal itu Chloe bergegas meraih jas Ezra yang sudah basah, Berniat melepaskan jas itu namun tiba-tiba Ezra menahan tangannya.


"K-Kau...Mau apa?" Nada suara Ezra tampak lirih hampir tak terdengar.


"Eh? Aku mau melepaskan jas Pak Ezra, Biar Pak Ezra gak kedinginan,"

__ADS_1


Perlahan Ezra menjauhkan tangannya, Membiarkan Chloe melepaskan jas nya. Tak ada yang bisa dia lakukan selain diam, Memikirkan semua tindakannya tadi.


Dengan hati-hati Chloe melepaskan jas Ezra, Dia meletakkan jas itu di rumput. Sejenak netranya melirik tubuh Ezra yang tampak gemetar kedinginan, Pemuda itu memejamkan mata sambil meletakkan tangan kanannya tepat di wajahnya. Sesaat tak lama samar-samar Chloe mendengar suara isak tangis kecil dari Ezra.


Tentunya pemuda itu menyembunyikan matanya dengan lengan tangannya agar Chloe tidak melihat kalau sebenarnya dia sedang merasa sedih sekarang, Melampiaskan perasaannya yang campur aduk itu dengan menangis kecil.


Tanpa melihat pun Chloe sudah tahu kalau Ezra sedang sedih, Dia tak bisa melakukan apapun selain diam. Chloe benar-benar merasa bersalah sekaligus prihatin dengan kondisi Ezra, Perlahan gadis itu mendekat lalu mendekap tubuh Ezra. Menyandarkan kepala sang pemuda di pundaknya. Memeluk dalam diam.


Walau awalnya Ezra merasa kaget tapi perlahan dia membiarkan Chloe memeluknya. Ezra menyembunyikan wajahnya di pundak sang gadis, Masih menangis kecil disana. Perasaannya benar-benar hancur sekarang, Pikirannya kacau.


Sedangkan Chloe masih memilih diam, Teringat dengan tindakkan Ezra tadi. Mulutnya terbuka, mengatakan sesuatu.


"Pak, Aku tahu kalau bapak ada masalah. Meski sekacau apapun masalah bapak, Bunuh diri bukanlah solusi yang bagus,"


Ezra masih diam, Tak bergeming dari tempatnya. Dia masih menyembunyikan wajahnya di pundak Chloe memilih diam mendengarkan.


"Kalau bapak bunuh diri seperti tadi yang ada bukannya menyelesaikan masalah, Malah nambah masalah nantinya," Sejenak Chloe terdiam, Kembali melanjutkan perkataannya. "Kenapa Pak Ezra malah ingin bunuh diri?"


Ezra mengepalkan kedua tangannya, Menjauhkan wajahnya dari pundak Chloe. Menatap netra biru sang gadis penuh amarah.


"Karna kau! Gara-gara kau, Justin membentakku! Gara-gara kau, Semua orang membenciku! Para anggota Asrama, Para Karyawan, Dan sekarang Justin. Mereka hanya peduli padamu!" Ezra menatap nyalang membuat Chloe terdiam membisu.


"Sedangkan aku?! Mereka tidak peduli padaku! Aku iri dan Cemburu padamu! Kau selalu mendapat perhatian mereka, Aku benci padamu Chloe! Aku sangat membencimu! Kau merebut semuanya dariku! Dan mereka akhirnya melupakanku karnamu!"


Netra hijau Ezra kembali berkaca-kaca, Pemuda itu menunduk hingga helai-helai rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Tangannya mencengkeram kain celananya.


"Dan sekarang kau juga ingin merebut Justin dariku?! Dia orang yang kusayangi, Dia sahabatku. Jangan ambil dia...,"


"Pak Ezra suka sama Pak Justin ya?"


Dari perkataan Ezra, Chloe mulai paham kenapa selama ini Ezra membencinya. Terlebih lagi Ezra selalu menyangkut pautkan Justin ketika mereka hanya bicara berdua. Jadi otomatis Chloe menebak kalau Ezra dan Justin punya hubungan yang tak biasa.


Ezra seketika diam, Tak menatap Chloe lagi. Kepalanya terus menunduk, Kini isak tangis kecil kembali terdengar dari Ezra. Chloe kembali diam lalu dia tersenyum lembut dan kembali mendekap tubuh Ezra, Mengusap surai hitam milik sang pemuda.


"Aku gak bakalan rebut Pak Justin kok, Lagipula Pak Justin bukan tipe ku. Pak Ezra tenang aja,"


Sesaat ada kelegaan di hati Ezra, Terlebih ketika Chloe mendekapnya. Perasaannya lebih lega sekarang saat dia sudah mencurahkan semua isi hatinya, Meski dengan emosi tadi. Namun sikap Chloe yang selalu tahan dengan semua perlakuannya dan sabar menghadapinya membuat Ezra perlahan mulai tenang. Tangannya sesaat memegang lengan baju Chloe.


"Aku akan selalu membencimu Chloe," Lirih Ezra sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Chloe. Perlahan kelopak matanya mulai menutup, Mengistirahatkan dirinya dalam dekapan sang gadis.


Hanya perkataan itulah yang Chloe dengar dari Ezra usai sang pemuda menutup mata. Tangannya perlahan mengusap surai milik Ezra, Membiarkan pemuda itu istirahat di pelukannya.


Sejenak netranya menatap bulan yang menyinari mereka berdua, Tersenyum tipis sesaat.


"Dan aku gak pernah merasa benci dengan Pak Ezra meski Pak Ezra selalu membenciku,"

__ADS_1


Setelah diam disana beberapa saat, Chloe memilih menghubungi salah satu anggota Asrama agar menjemput mereka berdua dengan jam arloji milik Ezra.


TBC


__ADS_2