
[Disisi lain]
"Aiden lepaskan! Aku harus menemui mereka!"
Aiden diam tak bergeming ia masih tidak melepaskan cengkeramannya, Sesaat netra ungu tua itu melirik hutan gelap yang entah sejak kapan sudah berkabut disana. Lalu ia menangkup kedua pipi sang gadis sembari menatap dalam.
"Chloe, Dengarkan aku. Bisa kau pikirkan bagaimana adik-adikmu bisa disini? Bukankah hanya kau dan Ian yang masuk ke dimensi ini?" Kata Aiden lirih yang membuat Chloe perlahan tak memberontak lagi, Sang gadis terdiam sejenak menyadari kejanggalan pada dirinya.
Netra beriris merah seperti batu ruby itu kembali memandang hutan dan kedua sosok adik-adiknya sudah hilang tak berbekas disana. Aiden menjauhkan tangannya setelah merasa Chloe tak memberontak lagi.
Benar juga, Chloe tak berpikir kesana. Ia saat itu hanya merasa adik-adiknya disana dan memanggilnya, Tapi kenyataannya hanya dia dan Ian yang masuk ke dimensi ini.
"Aku...Juga tidak paham kenapa tadi aku begitu keras kepala ingin kesana, Seolah panggilan tadi menjadi magnet bagiku untuk kesana,"
"Itu ilusi dari tempat ini, Beberapa tempat di pohon dimensi ini terkadang tidak menerima orang yang tidak berjiwa suci. Mungkin karena semua anggota Asrama mereka anggap 'Kotor',"
"Kotor?" Chloe sedikit memiringkan kepalanya, Tak mengerti dengan penjelasan Aiden.
Aiden menoleh ke arah danau. "Kami sebelum kedatangan mu ke Asrama, Kami sudah membunuh banyak orang. Justin, Ezra, Felix, Ian, Devian, Raizel,Aku, dan Rion. Kami sudah membunuh banyak orang diluar sana, Entah karena misi atau tidak kami tetap melakukannya,"
Aiden mengalihkan pandangnya menatap kedua tangan miliknya. "Karna itulah tempat ini terkadang tidak menerima orang-orang 'Kotor' seperti kami,"
"Jadi begitu ya," Chloe ikut memandang tangan Aiden. "Jika begitu, Mungkin kita tidak akan pernah kesini lagi. Mereka juga tidak menerima kita,"
"Aku juga inginnya begitu, Tapi aku tidak bisa melakukannya karna aku masih bergantung dengan pohon ini. Aku menyerap setengah kehidupan pohon ini, Jadi aku masih membutuhkannya. Maka sebagai gantinya aku berusaha menjaga pohon ini dari orang-orang diluar sana kecuali anggota asrama,"
Aiden melangkah pergi menelusuri sisi danau diikuti Chloe.
"Itukah sebabnya tadi kau tidak terpengaruh ilusi dari pohon ini? Kau berhutang budi dengan pohon ini begitu juga sebaliknya?"
"Bisa jadi, Mereka tak akan menggangguku selama aku masih menjaganya,"
"Um...Tapi kenapa tadi aku kena ilusinya ya?"
"Entahlah, Lebih baik kita cari Ezra dan Ian. Kurasa mereka juga kena ilusinya karna tempat ini akan lebih berbahaya jika terpisah,"
"Aku mengerti,"
Aiden dan Chloe mulai menelusuri area hutan mencari keberadaan Ezra dan Ian yang menghilang, Saat memasuki hutan asap berkabut sudah bermunculan di sekeliling mereka hingga menghalangi pandangan Chloe dan Aiden.
Kkraak!
Sesaat sang gadis agak tersentak ketika tak sengaja menginjak ranting pohon di bawahnya, Tak lama Chloe merasakan sebuah tangan bersuhu dingin menggenggam tangannya.
"Tempat ini berkabut, Aku akan menuntunmu agar kita tidak terpisah,"
"Ah, iya,"
Selama perjalanan yang cukup panjang itu hening tercipta diantara keduanya, Hanya suara-suara hewan liar yang terdengar disekitar mereka.
Samar-samar Chloe tak sengaja menangkap sosok bayangan yang terbaring di tanah, Sontak jari telunjuknya menunjuk sosok itu agar Aiden juga melihatnya.
"Hei, Aiden. Lihat! Ada seseorang disana,"
Aiden ikut menatap mengikuti arah telunjuk Chloe, Ia menarik tangan sang gadis perlahan menuju sosok bayangan itu. Setelah didekati barulah sosok tersebut terlihat dengan jelas.
"Pak Ezra?!" Chloe lantas menepuk-nepuk kedua pipi sang pemuda agar terbangun.
"Ternyata tempat ini lebih parah dari yang kukira," Aiden menghembuskan napas kecil lalu mengambil sesuatu dalam saku pakaiannya, Sebuah botol kecil berisi cairan berwarna ungu terlihat disana.
"Apa itu?" Chloe menatap botol yang dipegang Aiden.
"Aroma terapi, Ini bisa mengurangi ilusi yang didapat. Tapi tidak bisa menghilangkannya sebelum kita keluar dari sini,"
Aiden mengoleskan sedikit Aroma terapi itu di hidung Ezra dan menyimpannya kembali. Tak membutuhkan waktu lama Ezra akhirnya sadar, Ekspresi pemuda dengan netra hijau emerland itu terlihat linglung.
"Ugh...Kepalaku sakit sekali," Keluh Ezra sembari memegang kepalanya dan perlahan berdiri dibantu Chloe.
"Pelan-pelan pak,"
Ezra memijit keningnya sesaat untuk mengurangi rasa pusing di kepalanya, Merasa lebih baik tatapannya tertuju pada Chloe dan Aiden.
"Kalian kemana saja?! Aku sampai kehilangan jejak Ian dan dihantui bisikan-bisikan itu, Kupikir aku juga dikejar-kejar sosok bayangan," Ezra mengerutkan alisnya tak senang.
"Chloe juga terkena ilusinya bukan hanya kau dan Ian, Jadi aku harus menyadarkan kalian satu persatu lebih dulu," Netra ungu tua milik Aiden melirik sebuah jalan yang tak terhalang kabut. "Kau tahu kemana Ian pergi?"
"Tidak, Saat masuk hutan kabutnya sudah menghalangi pandanganku jadi aku kehilangan jejaknya," Ezra menggidikkan pundaknya tak tahu.
Chloe yang mendengarnya merasa cemas dan khawatir dengan kondisi sahabatnya itu. "Ayo, Cepat kita cari Ian. Aku takut dia kenapa-napa. Semoga saja dia belum terlalu jauh dari sini,"
Sejenak Aiden menatap ekspresi cemas dan khawatir Chloe. Ia jadi merasa iri dan kesal, Namun Aiden memilih memendamnya saja. Ia melangkah lebih dulu sebagai pemandu jalan tanpa ekspresi.
"Lewat sini, Kurasa kabutnya sudah mulai berkurang,"
Chloe mengangguk patuh mengikuti Aiden bersama Ezra disampingnya. Dan Ezra berharap Ian segera ditemukan agar mereka cepat pulang sebelum Justin menyadari kalau mereka tak berada di Asrama.
***************
[Disis lain]
__ADS_1
"Nak Ian, Ibu disini nak,"
"Ibu!"
Ian terus mencari asal suara itu entah sudah berapa lama ia disana, Terus mencari tak kenal lelah meski ia hanya mendengar suara tanpa wujud.
Kkrruusaakk!
Refleks Ian menghentikan langkahnya saat menyadari dirinya hampir terjatuh masuk kedalam jurang, Dan disanalah suara itu berasal tepat di dalam jurang yang kedalamannya tak diketahui.
Sesaat Ian menatap jurang dibawahnya sembari mengernyit heran. "Bercanda ya?! Dia ingin aku terjun ke jurang?"
Ian memilih mundur menjauhi area jurang meski suara ibunya terus memanggil dari bawah sana, Sesaat ia memijit keningnya yang terasa pusing.
"Ugh...Suara ibu terus memanggilku, Pusing sekali," Pikir Ian.
Ia masih berdiri disana selama beberapa menit hingga sebuah suara familiar memanggilnya disertai tarikan kuat tepat di pundaknya.
"Ian!"
Grep!
Ian hampir terjungkal ke belakang akibat tarikan itu tapi tak jadi karna tangan seseorang menahan tubuhnya. Chloe yang menahan tubuh Ian masih terlihat cemas disana, Tak lama disusul Aiden dan Ezra yang baru saja datang.
"Chloe?" Ian menoleh menatap sang gadis, Dirinya merasa linglung dan pusing mencoba memproses yang terjadi di sekitarnya.
"Ian, Kau tidak apa-apa kan? Apa ada yang terluka?" Chloe perlahan menyandarkan tubuh Ian di sebuah batang pohon.
"Tidak, Hanya saja aku merasa sangat pusing. Aku bingung kenapa aku bisa berada disini, Seingatku aku masih bersama kalian," Jelas Ian memegang kepalanya.
"Itu karena ilusinya," Kata Aiden sembari menyerahkan Aroma terapi di tangannya pada Chloe.
"Aku juga sama sepertimu Ian, Tiba-tiba saja aku sudah berada di hutan itu. Padahal aku sedang mengejarmu saat itu," Celetuk Ezra ikut menyahut.
"Memangnya aku kenapa?" Netra merahnya memandang satu persatu wajah Aiden, Chloe, dan Ezra.
"Kau memanggil nama ibumu terus menerus, Kau bilang karena kau mendengar suaranya jadi kau harus kesana untuk menyelamatkannya," Balas Ezra tenang.
Ian termenung setelah beberapa saat mendengarkan kata-kata Ezra. Chloe menyerahkan aroma terapi di tangannya.
"Ini, Oleskan ke hidungmu. Itu bisa mengurangi ilusinya, Kita harus cepat keluar dari sini sebelum ilusinya kembali lagi," Jelas Chloe.
Ian hanya mengangguk pelan dan menerima aroma terapi itu, Sesaat ia mengoleskan ke hidungnya lalu mengembalikan lagi botolnya ke Chloe.
"Tidak ada apa-apa lagi disini, Kabutnya juga sudah mulai berkurang. Ayo," Aiden melangkah lebih dulu disusul Ezra.
Sedangkan Chloe membantu Ian berdiri dan mereka segera menyusul Aiden sebelum jauh.
***********
Dalam sekejap mereka sudah berada di halaman depan Asrama dengan melewati portal. Chloe menguap pelan menandakan dirinya sudah lelah dan ingin beristirahat.
"Hm, Ngantuk. Aku istirahat duluan. Bye," Dengan langkah gontai Chloe pergi memasuki asrama, Tanpa menyadari diam-diam Ezra memperhatikan kepergiannya.
"Jiwanya kembali ke raga sebelumnya, Benar-benar aneh," Pikir Ezra masih memperhatikan kepergian Chloe.
"Masih ada lagi yang ingin kau buktikan Ezra?" Ian mendengus kecil.
"Tidak!"
"Kuharap ini terakhir kalinya kalian membuat permintaan seperti ini, Pohon itu tidak bisa menerima sembarangan orang, Sangat berbahaya di dalam sana," Aiden menatap Ezra dan Ian, Netra ungu tuanya menatap tajam.
"Anggota kita sudah semakin sedikit, Jangan membuat masalah yang akan membahayakan kita semua nantinya," Nasehat Aiden dengan ekspresi seriusnya.
"Ya, ya. Aku paham. Lagipula aku hanya penasaran," Balas Ezra acuh.
"Rasa penasaranmu hampir membuat kita semua celaka!" Ian mendelik tajam pada Ezra.
Ezra terlihat kesal dan tak mau kalah, Ia balik menatap Ian. "Maksudmu semua salahku?! Ingat yang terkena ilusi bukan hanya kau tau!"
"Tapi jika saja kau tak membawa Chloe dan pergi ke pohon itu, Mungkin kita tidak akan begini!"
Aiden menghembuskan napas lelah mendengar perdebatan antara Ezra dan Ian, Ia memijit keningnya sesaat merasa sedikit pusing.
"Yang satu pemancing emosi dan yang satunya lagi gampang emosi. Astaga, Rasanya seperti menjaga dua bocah nakal disini. Melelahkan,"
Sungguh Aiden benar-benar lelah mendengar perdebatan keduanya yang menurutnya tidak bermutu, Dia hanya ingin beristirahat dengan tenang tanpa harus mendengar keributan di malam hari. Dan lagi Istirahat semua anggota termasuk Justin bisa terganggu karna suara Ezra dan Ian.
"Cukup! Ini sudah malam, Suara kalian bisa mengganggu waktu istirahat Tuan Justin dan anggota lainnya. Sudahi saja sampai disini, Kembalilah ke kamar masing-masing,"
Suara Aiden yang terdengar tegas dan mencekam membuat Ezra dan Ian menghentikan perdebatan mereka, Keduanya memilih diam seketika saat menatap wajah Aiden.
Aiden kembali menghembuskan napas lalu berjalan pergi dari sana meninggalkan Ezra dan Ian. Sejenak Ezra mendelik pada Ian sembari menyusul Aiden, Ian hanya menatap datar tanpa berkata-kata ikut pergi memasuki asrama.
*************
[Keesokan paginya]
Pagi yang cerah di sebuah kampus, Sebagai mahasiswi yang teladan Chloe datang lebih pagi dibanding biasanya. Jelas karena ia mendapat jatah piket pagi itu. Usai meletakkan ranselnya ia segera mengerjakan tugasnya, Beberapa mahasiswa berdatangan namun mereka kembali pergi entah kemana setelah meletakkan ransel. Tertinggal lah Chloe sendirian di ruangan itu.
__ADS_1
Tak!
"Selesai!" Chloe tersenyum puas setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Disaat yang bersamaan seseorang memanggilnya dari ambang pintu, Sambil mengetuk pintu sekali agar Chloe menyadari kehadirannya.
Tok!
"Chloe,"
"Kak Ash, Ada apa?" Chloe tersenyum ramah mendekati Ash yang berdiri di ambang pintu.
"Apa kau sedang senggang? Bisa kita bicara sebentar?"
"Iya, Kebetulan tadi aku udah selesai piket. Kakak mau bicara dimana?"
"Ah, Kebetulan sekali. Bagaimana kalau kita ke taman di dekat sana? Biar obrolannya lebih rilex,"
"Boleh," Chloe mengangguk setuju dengan senyum cerianya.
Ash dan Chloe pun berjalan beriringan menuju taman yang tak jauh dari kampus mereka.
***************
"Ini, Sebagai tanda terima kasih karna sudah meluangkan waktu untuk ngobrol denganku," Ash datang dengan membawa dua kaleng soda dan menyodorkan salah satunya pada Chloe.
Chloe yang asyik menatap pemandangan di hadapannya menoleh saat mendengar suara Ash, Tatapannya tertuju pada kaleng soda di tangan Ash.
"Padahal Kak Ash gak perlu repot-repot beli minuman untukku,"
"Gak apa-apa, Ambil aja,"
Perlahan Chloe mengambil soda tersebut, Ash mendudukkan diri disamping Chloe dan meminum soda ditangannya. Chloe ikut minum setelah membuka tutupnya. Sejenak mereka diam dalam keheningan.
"Jadi...Kak Ash ingin bicara tentang apa?"
Ash menunduk kecil tanpa memandang Chloe. "Apa kau masih ingat dengan Raizel Freymon?"
"Raizel? Ingat kok, Kenapa emangnya kak?"
"Sudah seminggu ini dia tidak ikut latihan, Apa kau tahu dia kemana?"
Chloe merasa tubuhnya panas dingin mendengar pertanyaan Ash, Apalagi saat tatapan Ash tertuju padanya yang terlihat seperti tatapan mengintimidasi.
"Ukh...Pertanyaan kak Ash begitu tiba-tiba. Oh iya, Dia kan gak tahu kalau aku satu Asrama dengan Raizel. Seharusnya dia bertanya pada anggota idol yang dekat dengan Raizel, Ian misalnya. Kak Ash seolah sedang mencurigaiku saat ini," Pikir Chloe tanpa sadar berkeringat dingin.
"Um...Kenapa kak Ash bertanya padaku? Kan aku gak pernah lagi bertemu dengan Raizel setelah pertemuan terakhir di kantor J.G Entertainment," Bohong Chloe sembari tersenyum hambar, Nada suaranya terdengar sedikit gugup.
"Ah, Maaf. Kupikir kau sering bertemu dengannya setelah kejadian di J.G Entertainment. Habisnya kalian terlihat sangat akrab waktu itu," Ash tersenyum canggung sembari mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Ia kira Chloe dekat dengan Raizel.
"Tidak kok, Kalian kan sibuk sebagai idol termasuk Raizel. Jadi gak ada waktu buat bebas kan?"
"Iya kau benar," Ash menghembuskan napas kecil. "Jadi kau tidak tahu Raizel kemana ya?"
"Tidak, Coba kakak tanya Ian Maxwell mungkin dia tahu,"
"Kau kenal dengan Ian?"
"Um...Kami dulu satu sekolah dan sama-sama mengikuti Olimpiade waktu itu sama Raizel juga. Jadi aku sedikit kenal mereka,"
"Ah benar, Ian ikut Olimpiade bersama Raizel juga. Tidak heran kalau kau kenal mereka berdua. Yah, Mungkin aku memang harus tanya Ian nanti," Ash terkekeh kecil sedangkan Chloe hanya mengulum senyum.
Ash kembali menghela napas memandang kolam air mancur dihadapan mereka. "Kau tahu, Setelah Raizel tidak latihan lagi selama seminggu. Pak Direktur secara tiba-tiba memberikan jabatannya ke sekretarisnya,"
"Pak Direktur?" Chloe sedikit memiringkan kepalanya tak paham.
"Justin Garfield, Jika di J.G Entertainment dia memberikan jabatannya sebagai CEO ke Bodyguardnya, Ezra Miracle. Maka di Agensi dia memberikan jabatannya sebagai Head Manajer ke Sekretarisnya, Willy Herflilia," Jelas Ash.
"Ah, Aku paham," Chloe manggut-manggut mengerti.
"Alasan Pak Direktur melakukan itu katanya hanya ingin bekerja di balik layar tanpa harus repot-repot datang ke Agensi maupun Kantor. Jadi tugas mengawasi kantor CEO yang baru Ezra Miracle dan mengawasi para idol Head Manejer yang baru Willy Herflilia," Ash sedikit mendengus. "Meski gedung Agensi masih milik Pak direktur tapi aku lebih suka jika Head Manajernya tetap Pak direktur karna cara melatihnya lebih baik dibanding Pak Willy,"
"Um...Walaupun berganti Head Manajer secara tiba-tiba, Tapi kakak tetap semangat kan buat latihan dan jadi idol yang terkenal?"
"Iya, Sejujurnya grup kami sudah terkenal sih tapi aku ingin seluruh dunia mengenal kami. Meski rintangan apapun menghadang akan kuhadapi, Karna menjadi idol adalah cita-citaku sejak kecil,"
Entah ini hanya perasaan Chloe atau bukan, Namun Chloe sekilas melihat sosok Ash yang begitu bersemangat dan optimis saat membahas cita-citanya itu. Tanpa sadar sudut bibir Chloe tertarik membentuk senyuman.
KKKRRRIIINNGG!
Tanpa terasa bel berbunyi nyaring menandakan waktunya pelajaran dimulai, Mahasiswa dan Mahasiswi yang berlalu lalang di sekitar mereka terlihat bergegas menuju kelas masing-masing sebelum guru yang mengajar datang.
Ash meranjak dari duduknya sembari menepuk-nepuk celananya sesaat. Dan menoleh pada sang gadis dengan senyum menawan bak pangeran.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk ngobrol denganku, Tadi cukup membuat pikiranku lebih rilex. Sampai ketemu nanti," Ash melangkah pergi membelakangi Chloe sembari melambai pelan bahkan sebelum Chloe menjawab kata-kata Ash.
Tatapan netra sang gadis hanya memandangi punggung Ash yang semakin menjauh, Setelahnya ia menghembuskan napas lega.
"Untunglah Kak Ash tidak menanyakan lebih dalam, Tapi aku juga bingung. Apa Raizel benar-benar pergi ke paris untuk membantu ibunya?" Chloe menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan jari telunjuk, Menunjukkan ekspresi bingung.
__ADS_1
Tak lama ia menggidikkan pundaknya dan menghabiskan sisa soda tersebut. Usai membuang sampah ke tempatnya, Chloe bergegas kembali ke kelasnya.
TBC