
Ian membuka matanya saat merasakan Sebuah kain basah menempel di keningnya, Tangan seseorang seperti tengah mengusap rambut sang pemuda.
Beberapa detik Netra merahnya mencoba menyesuaikan dengan cahaya di sekitarnya, sampai Netra merahnya melihat Chloe sedang meletakkan segelas air mineral dan semangkuk makanan di nakas. Gadis bersurai biru itu terlihat duduk di kursi sampingnya.
Ian masih diam memperhatikan gerak-gerik Chloe, dia sudah sadar sepenuhnya. Netra nya melirik ruangan yang ditempatinya. Cat serba putih dengan dinding gorden dan beberapa aroma obat-obatan. Tidak salah lagi dia sekarang berada di UKS.
"Chloe, Ian sudah sadar tuh," Holy yang terbang di samping kepala Chloe langsung mendaratkan kakinya di nakas.
Segera Chloe menoleh menyadari Ian sudah sadar, agak merasa canggung karna Chloe teringat dengan kejadian kemarin dimana Dia dan Ian bertengkar gara-gara kerja sama mereka yang tidak kompak.
"Ian, apa kau masih merasa pusing?"
"Sedikit," Lirih Ian karna dia tidak bisa terlalu banyak bicara, masih merasa lemas.
"Lebih baik banyak-banyak lah beristirahat, Penjaga UKS bilang kau demam tinggi. Hah, aku tidak tahu apa yang membuatmu bisa demam begitu, tapi seharusnya kau menjaga kesehatanmu," Nasehat Chloe sedikit menggeleng. Ian hanya menatap sang gadis tanpa berniat menjawabnya.
"Kau juga sama Chloe, waktu itu kau juga pernah demam gara-gara hujan-hujanan," Balas Holy melirik malas pada gadis bersurai biru itu.
"Itu beda lagi ceritanya woi!" Chloe mendelik kecil dan dibalas cecengesan dari Holy.
"Apa kau yang membawaku ke sini?"
Suara Ian mengalihkan perhatian Chloe dari Holy. Sang gadis menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Tidak, Pak guru dan Siswa kelas sebelah tadi yang membawamu. Tiba-tiba kau langsung pingsan saat kutanya tadi, makanya aku memanggil mereka,"
Ian teringat saat Chloe menanyai nya di ruangan GYM, saat itu Ian sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Matanya juga sudah berkunang-kunang, dan akhirnya Ian pingsan karna tidak kuat menahan rasa pusing dan sakit di kepalanya. Walau begitu Ian tak ingin membahas nya lagi.
Netra merah itu kembali melirik Chloe sesaat. "Kau bolos?"
"Enggak lah, Aku baru aja datang. Sekalian membeli minum sama makanan buat mu tuh,"
"sudah jam berapa ini?"
"Jam 3.00 sudah waktunya pulang sekolah, Aku diminta penjaga UKS buat menjaga mu sebentar," Chloe mengambil semangkuk makanan berisi bubur lalu menyodorkannya pada Ian.
"Mau disuapin atau makan sendiri?"
Seketika Netra merah Ian menatap tajam Netra biru milik Chloe, tidak terlalu suka diperlakukan seperti anak kecil.
"Aku bisa makan sendiri," tolak Ian tajam. Sang pemuda lalu mengubah posisi nya, yang tadinya rebahan kini menjadi duduk dengan bantal di belakang punggungnya.
"Ya sudah, makan obatnya nanti di rumah aja. Yang penting sekarang makan dulu," Chloe menyodorkan mangkuk itu dihadapan sang pemuda.
Ian menerima nya dan melepaskan kain di keningnya lalu meletakkan di baskom yang tersedia. Mulai memakan perlahan bubur di mangkuknya. Sesaat Netra merah darah itu sempat terpejam karna rasa pusing masih menyerang kepalanya. Makannya pun menjadi lambat.
Chloe hanya diam, Suasana nya kembali hening. Sang gadis mengerti kalau Ian tidak suka dilihat saat makan, jadi Chloe langsung menatap ke arah lain.
"Aku pergi dulu ke kelas, mau ambil ransel sama ranselmu,"
Ian tidak menjawab, masih memejamkan mata sambil mengunyah makanannya. Tidak mendapat respon sama sekali, Chloe pun pergi dari sana menuju kelas.
*************
[Koridor Kelas]
__ADS_1
Usai mengambil ranselnya dengan ransel Ian, Chloe berniat kembali ke ruang UKS. Namun setengah perjalanan dia melihat Devian seperti sedang menelpon seseorang. Punggung sang pemuda menyandar pada tembok dengan ekspresi datar.
Bergegas Chloe bersembunyi di samping loker, posisi nya tidak jauh dari Devian jadi dia bisa mendengarkan percakapan itu.
"Iya, kami masih memantau nya. Tenang saja, pasti berhasil kok. Kau memberi kami waktu tapi tidak memberitahu sampai kapan. Jadi aku masih ingin bersantai dan bermain-main,"
"......"
"Ah soal itu, Tanya saja pada Raizel. Dia kan yang sering membuat keributan di daerah itu. Aku sih enggak, aku gak ikutan kok,"
"......"
"Hahaha benarkah? Dia pasti menjualnya untuk keuntungannya sendiri, aku tetap dengan rencanaku saja. Nanti pasti ada waktu yang tepat kok,"
"....."
"Hehehe, tunggu saja. Akan kupastikan kau tidak akan kecewa denganku. Yang lain pasti tidak akan menang,"
"...."
"Sampai jumpa,"
Sesaat Chloe bisa melihat senyum misterius milik Devian, Setelahnya pemuda bermarga Orlindo itu pergi dari sana.
"Apa maksud Devian? Kenapa dia bawa-bawa nama Raizel? Apa yang dia maksud Raizel Freymon?" Pikir Chloe sambil keluar dari persembunyiannya.
"Um...fix gak ada yang beres nih Chloe, mungkin saja yang dimaksud Raizel lain,"
"Raizel lain ya? Memangnya ada yang namanya Raizel selain Raizel Freymon? Btw Apa maksudnya memantau? Siapa yang mereka pantau?"
"Entahlah, masih menjadi mistery tuh,"
*************
TOK! TOK! TOK!
"Aku kembali Ian,"
Chloe membuka pintu UKS, Netra biru nya langsung membulat ketika mendapati Ian tengah berdiri sambil memakai jaket nya. Sang pemuda terlihat ingin cepat-cepat pulang, padahal dia belum sembuh sepenuhnya.
Beberapa kali sang pemuda terlihat sempoyongan menahan berat tubuhnya, melangkah tak beraturan.
BBRRUUKK!
"Ian!" Chloe bergegas mendekati Ian, tangan pemuda bernetra merah itu menyangga pada nakas, membuat nakas itu sedikit terguncang.
"Seharusnya jika kau ingin pulang, bilang padaku! Kau ini masih sakit," Protes Chloe ingin memegangi badan Ian agar tak jatuh, tapi langsung ditepis sang pemuda.
"Gak! Aku bisa pulang sendiri. Kau pergi duluan saja sana!" Usir Ian kembali mencoba berjalan, keningnya sedikit berkeringat menahan suhu tubuhnya yang panas. Napasnya pun mulai tak beraturan.
PPRRAANNGG!
Sang pemuda tak sengaja menyenggol gelas di dekat nakas hingga jatuh dan pecah. Dirinya bahkan terpeleset gara-gara terkena air dari pecahan gelas itu.
GREP!
__ADS_1
Dengan sigap Chloe menahan bahu Ian agar tak jatuh, Untungnya sang pemuda masih bisa menjaga keseimbangannya di bantu Chloe.
"Ish...kau ini keras kepala sekali, sudah kubilang jika ingin pulang bilang padaku. Bandel sekali, sudahlah biar aku yang akan mengantarmu pulang," Meski agak kesal karna Ian keras kepala, Chloe tetap berbaik hati mengantar sang pemuda.
Sekolah ini sudah sepi tidak ada Siswa lain lagi, Chloe merasa kasihan jika meninggalkan Ian sendiri di sekolah ini.
Dengan berlahan Chloe memapah tubuh Ian yang lebih berat darinya, di bahu Chloe yang lain terdapat ransel nya dan ransel Ian. Sedangkan Ian hanya diam saja tidak bisa menolak lagi, toh tubuhnya sudah terlalu lemas untuk dipakai berjalan.
Untungnya Chloe sudah memesan taksi sebelumnya, jadi saat mereka sampai di gerbang sekolah. Taksi itu sudah berada di sana, dan mengantar Chloe serta Ian menuju alamat sang pemuda.
***********
[Rumah Ian]
Usai membayar Chloe kembali memapah Ian memasuki rumah besar tersebut, rumah itu begitu luas dengan berbagai perabotan mewah menghiasi rumah tersebut.
"Dimana kamarmu Ian?"
"Di lantai 2, tinggal naik tangga nanti ketemu dengan kamarku,"
Chloe bergegas menuju lantai 2 yang dimaksud Ian, terlihat sebuah pintu bercat hitam dengan sisi berwarna emas. Pintu nya berukuran cukup besar.
Chloe segera membuka pintu tersebut dan berlahan membaringkan tubuh sang pria di tempat tidur, melepas sepatu yang dipakai Ian dan meletakkan di bawah tempat tidur sang pemuda.
"Dapur nya dimana?"
"Lantai dasar, belok kiri,"
Dengan segera Chloe menuju arah dapur sesuai intruksi sang pemuda. Selama berjalan ke arah dapur, Chloe lihat tidak ada seorang pun di rumah ini. Padahal rumah Ian sangat besar dan luas, Apakah sang pemuda tinggal sendirian di rumah sebesar dan seluas ini? Entahlah, Chloe pun tak tahu.
Sesampainya di dapur, Chloe segera mengambil segelas air mineral dan se baskom air untuk menurunkan deman sang pemuda, Tak lupa membawa sebuah kain bersih dari rak lemari.
Kembali ke kamar Ian dengan cepat dan meletakkan semuanya di nakas, Chloe segera mencari obat penurun demam dalam tas nya yang diberikan oleh penjaga UKS sebelum pergi dari sekolah.
"Ayo minum dulu, baru istirahat lagi,"
Ian menerima obat dan air mineral dari Chloe, meminumnya perlahan di bantu sang gadis. Usai dengan urusan obat, Chloe segera meletakkan kain di kening Ian yang sudah di basahi dengan air di baskom.
Akhirnya Sang pemuda bisa beristirahat dengan tenang, Napas sang pemuda pun sudah mulai teratur. Netra merah darah itu tampak terpejam.
Melihat wajah tenang Ian saat tidur membuat Chloe menghela napas lega, tugasnya sudah selesai sekarang. Dan Chloe harus pulang ke rumahnya.
Baru saja ingin meranjak dari duduknya, Satu Tangan Ian tiba-tiba menahan tangan Chloe yang hendak pergi. Meski mata sang pemuda masih terpejam.
"Jangan pergi!"
"Eh!? Kau belum tidur? Aku harus pulang Ian," Chloe pikir Ian sudah tidur tadi.
"Tetap disini, sampai aku baikkan,"
"Hm....Tapi–"
Gadis bersurai biru itu merasakan genggaman Ian pada tangannya semakin erat, seolah-olah tidak ingin membiarkan Chloe pergi. Chloe hanya bisa pasrah, dan duduk di sisi kasur.
Tangan satu nya mengusap rambut hitam milik Ian, Chloe bisa merasakan sang pemuda sudah terlihat tenang. Sesaat Chloe menyanyikan sebuah lagu yang pernah dinyanyikan ibu Chloe sewaktu Chloe di dunia aslinya dengan lirih.
__ADS_1
Hingga akhirnya Chloe merasa matanya menjadi berat dan kepalanya menyandar pada sandaran tempat tidur milik Ian, perlahan Netra biru itu mulai terpejam. Ikut tertidur di kamar sang pemuda bernetra merah itu.
TBC