
[Mansion Michelle]
Setelah perjalanan yang cukup panjang, Ezra menghentikan mobilnya tepat di halaman depan mansion michelle. Chloe melepas seatbelt nya dan keluar dari mobil di susul Ezra.
"Makasih sudah mengatarku pak. Kapan kita bisa ketemu lagi?" Chloe berbalik menghadap Ezra setelah beberapa langkah dari mobil.
"Entahlah, Tergantung waktu. Setelah ini aku akan sangat sibuk," Ezra memasukkan kedua tangannya dalam saku celana, Memandangi wajah Chloe.
"...."
Seketika situasi canggung melingkupi keduanya usai obrolan itu berakhir. Sesaat Chloe menunduk lalu tangannya terulur menyentuh rambut Ezra, Mengusapnya perlahan.
Ezra yang paham menundukkan kepalanya membiarkan rambutnya diusap sembari menatap dalam netra biru Chloe.
"Nanti kalau aku ada waktu, Aku akan mengajarimu menembak," Kata Ezra setelah usapan itu berakhir. Chloe mengangguk kecil.
"Iya, Tidak perlu buru-buru pak. Aku akan menunggu kok," Chloe tersenyum ceria membuat Ezra ikut tersenyum meski tipis.
Kemudian si pria mengambil sesuatu dari saku celananya, Memberikan pada Chloe.
"Nih, Jam tanganmu. Sekarang kau bisa menyalakannya,"
Chloe menerima jam tangannya itu lalu mengangguk pelan. "Oke, Makasih pak,"
"Iya, Kalau begitu aku pergi dulu," Ezra berbalik mendekati mobilnya.
"Tunggu pak!" Chloe bergegas menahan ujung pakaian Ezra sebelum pria itu memasuki mobil.
"Ada ap–"
Kalimat Ezra terpotong saat dirinya mendapat ciuman tiba-tiba di pipinya, Bahkan ia belum sempat menoleh. Seketika rona merah samar menghiasi pipinya, Sedangkan si gadis dengan tidak pekanya tersenyum lebar.
"Itu salam perpisahan dariku pak," Kata Chloe masih mempertahankan senyumnya itu.
Ezra memegangi pipinya yang barusan mendapat ciuman dari Chloe, Ekspresi pria itu berubah galak meski pipinya masih merona. Lalu ia menyentil kening si gadis dengan kencang.
CTAK!
"Aawww!" Chloe memegangi keningnya sambil meringis tak lama kedua pipinya mendapat cubitan dari Ezra.
"Apa-apaan itu! Kalau mau cium bilang-bilang dulu dong! Jangan ngagetin, Kau juga gak izin tau gak!" Ezra masih menatap galak, antara kesal dan senang tapi tak melepas cubitannya.
"Aduh, Aku tadi refleks pak. Sumpah!" Chloe memegangi tangan Ezra yang masih mencubit pipinya, Meringis kecil.
"Bohong! Mana ada refleks cium begitu!"
"Ish...Ya udah, Maaf maaf gak akan kuulangi lagi deh. Udah dong pak, Nanti pipiku melar," Chloe berusaha melepas tangan Ezra dari pipinya.
Meski masih kesal, Akhirnya Ezra melepas cubitannya. Ia memalingkan wajah sambil bersidekap.
"Huh! Lain kali jangan cium cowok sembarangan," Kata Ezra yang kini ekspresinya berubah jutek.
"Hahaha, Iya pak. Nanti izin dulu sebelum cium," Chloe tertawa melihat ekspresi jutek Ezra.
Seketika pria bernetra hijau emerland itu mendelik kesal. "Bukan itu maksudku! Ah, Sudahlah aku pulang saja,"
Chloe hanya terkekeh kecil sambil membatin dalam hati. "Pak Ezra ternyata Tsundere. Kalau mau bilang aja pak,"
Ezra masih dengan perasaan kesal, Melangkah pergi memasuki dalam mobil.
__ADS_1
Blam!
Ia menyalakan mesin mobil, Sejenak kepalanya menoleh menatap Chloe yang melambai sambil tersenyum.
"Hati-hati dijalan pak,"
Ezra diam sesaat sebelum mulutnya terbuka mengatakan sesuatu. "Bukannya aku peduli padamu atau apa, Hanya saja jaga diri saat aku tidak ada disampingmu,"
Usai mengatakan hal itu, Ezra melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan mansion Michelle. Meninggalkan Chloe yang terpaku menghentikan lambaian tangannya.
Matanya mengerjap beberapa saat menatap kepergian mobil Ezra yang semakin hilang dari pandangannya, Kemudian kepala gadis bersurai biru itu mengangguk kecil.
"Pasti,"
Kepalanya mendongak memandangi langit senja diatasnya yang sebentar lagi akan berganti menjadi malam, Gadis itu menghembuskan napas sejenak lalu membuka gagang pintu mansion. Masuk ke dalamnya.
Cklek!
*******************
Tap! Tap! Tap!
Kepala celingak-celinguk memastikan situasinya aman, Tidak ada seorang pun di sana selain ruang tamu yang sunyi dan sepi. Chloe menghembuskan napas lega, Ia pikir dia akan ditanyain para Michelle karna pergi tanpa bilang-bilang.
"Syukurlah kalau mereka tidak ada,"
Gadis itu melangkah tenang menuju anak tangga berniat ke kamarnya, Namun baru beberapa langkah dari pintu mansion. Tiba-tiba saja Elizabeth turun dari anak tangga berlawanan arah dengannya, Eli memandang angkuh padanya sambil bersidekap.
"Dari mana saja?" Kata Eli melepas kacamata hitamnya, Membuat Chloe terpaku sesaat.
"Mampus, Ada nona Michelle," Chloe keringat dingin lalu tersenyum kikuk.
Eli menatap dingin masih bersidekap. Gadis cantik itu berbalik berniat kembali ke lantai atas.
"Ikut ke ruanganku!" Katanya dingin sambil melangkah lebih dulu.
"Baiklah," Chloe pasrah saat Elizabeth pergi duluan, Sepertinya dia akan diintrogasi Elizabeth habis ini. Kakinya melangkah mengikuti langkah Eli.
*************
[Ruangan Elizabeth]
Blam!
Elizabeth menutup pintu setelah mempersilahkan Chloe duduk, Dirinya menuju tempat duduknya menyamankan diri sebelum memulai obrolan.
Dia meletakkan kacamatanya di meja, Memandang Chloe dihadapannya dengan serius.
"Bagaimana luka di pundakmu, Apakah sudah sembuh?" Tanya Eli bersidekap.
"Sudah nona Michelle, Luka ku sudah menutup sepenuhnya,"
"Bagus, Sekarang kita bisa fokus dengan kejadian yang menimpa Ivy terakhir kali," Eli menjeda kata-katanya sejenak, Menyesap teh yang sudah disediakan untuknya dan Chloe sebelum kembali membuka suara. "Kudengar dari Ivy dia waktu itu di culik oleh seorang wanita berpakaian merah dengan jubah merah. Wanita itu menghipnotisnya sehingga dia tidak ingat dibawa kemana. Jadi, Aku ingin tahu dari kesaksianmu, Apa semua itu benar?"
"Benar nona Michelle, Awalnya saat menjemput Ivy dia sudah tidak ada dikelas. Jadi aku mencarinya disana dan menemukan surat yang ditinggalkan wanita itu, Tanpa pikir panjang aku langsung pergi ke alamat yang diberikan,"
"Dimana tempatnya?"
"Gedung tua, Dia membawa Ivy ke lantai paling atas,"
__ADS_1
"Dan kau langsung menyelamatkan Ivy?"
"Iya, Ivy kan tanggung jawab ku sebagai bodyguardnya,"
"Jadi, Luka di pundakmu itu...," Eli melirik pundak Chloe tanpa melanjutkan kata-katanya dan dingguki oleh Chloe.
"Iya, Aku bertarung dengan wanita itu agar Ivy selamat. Aku tahu wanita itu tidak bisa dikalahkan dengan mudah, Tapi setidaknya aku berhasil membuatnya mundur," Jelas Chloe serius yang membuat Eli tak bisa berkata-kata.
"Kedengarnya kau seperti mengenali wanita itu, Siapa dia?"
Chloe tersenyum tipis sembari menautkan jari-jari tangannya. "Dia adalah orang yang sudah membuatku kehilangan keluarga angkatku, Bahkan sahabatku. Dia juga sebenarnya adalah musuhku dan temanku, Dia ingin kami berdua mati karna yang tersisa hanya kami berdua,"
"Aku minta maaf jika Ivy terlibat, Padahal dia tidak tahu apapun tentang masalah kami. Wanita itu sengaja melibatkan Ivy agar aku bertarung dengannya," Chloe menundukkan kepalanya meminta maaf pada Eli.
Eli menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Lagian kau tidak melupakan tanggung jawabmu untuk menjaga Ivy. Kuharap wanita itu tidak muncul lagi dan tidak membuat masalah,"
Sang gadis bermarga Michelle itu mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya, Lalu menyerahkan sebuah amplop coklat pada Chloe.
"Gaji mu bulan ini, Terima kasih telah bekerja keras. Tapi tingkatkan kewaspadaanmu ya," Pinta Eli sembari tersenyum tipis.
"Ah, Iya terima kasih kembali. Akan kulakukan semampuku," Chloe dengan senang hati menerima amplop coklat itu.
"Ngomong-ngomong ada obrolan yang lebih penting ingin kubicarakan, Ini menyangkut masa depanmu. Tapi entah kau mau menerimanya atau tidak," Eli berdehem kecil sesaat sebelum kembali buka suara. "Aku dan Ray berencana membuatmu memiliki kandidat tunangan, Terlebih kandidat tunangan ini adalah tradisi turun-temurun dari keluarga Ray karna kau adiknya jadi kau harus mengikuti tradisi ini,"
Chloe mengerjap mencoba memproses semua kalimat yang Eli lontarkan padanya, Setelah beberapa detik barulah gadis itu terkejut. "Hah? Kandidat tunangan seperti apa maksud nona Michelle, Kenapa juga harus aku yang mengikuti tradisi itu?"
"Ya, Lebih jelasnya. Kandidat tunangan dipilih dari dua keluarga yang memiliki koneksi baik satu sama lain. Dan untuk semakin mempererat hubungan baik itu dipilihkan metode kandidat tunangan, Setelah mendapat pasangan yang cocok maka akan dilanjutkan ke tahap pernikahan. Kau dipilih untuk mengikuti tradisi itu karna di keluarga Maximillian jarang mendapat keturunan anak perempuan, Jadi setiap anak perempuan yang lahir harus mengikuti tradisi itu sebagai syarat untuk menikah," Jelas Eli panjang kali lebar, Dia menyeruput tehnya usai menjelaskan.
"Tradisi konyol! Ini namanya maksa perjodohan secara tidak langsung!" Pikir Chloe kesal, Keningnya mengerut sesaat.
"Lalu siapa kandidat tunanganku?"
"Aku dan Ray sepakat menjadikan adik-adik kami sebagai kandidat tunanganmu. Pilihan dari keluarga Michelle ada Rafael, Revan, Ash, Al, Azura, Leo, Leon, dan Ivy. Lalu kandidat dari Maximillian ada Xavier, Vallen, Kenzo, Dan Alex. Mereka semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sih, Tapi kuharap kau tidak keberatan dengan hal itu,"
Chloe menatap horror dirinya merasa seperti berada dalam situasi perlombaan saja, Dengan sistem kandidat tunangan ini justru mereka pasti juga tak terima. Apalagi dengan sifat mereka yang rupa-rupa warna. Ada yang benci padanya lah, Muka dua lah, perhatian, pemalu tapi mau, Kalem tapi licik, Namun lebih banyak yang tidak suka padanya sih.
"Sebentar! Bukannya di keluarga Maximillian brother, Mereka ber-4 adalah kakakku selain kak Ray. Masa mereka juga dimasukkan dalam list kandidat tunangan?" Chloe mengernyitkan alisnya bingung.
"Oh tenang saja, Mereka hanya anak angkat. Tidak benar-benar murni dari keluarga Maximillian, Yang murni hanya kau dan Ray. Jadi kurasa tidak masalah kalau maximillian brother masuk dalam list kandidat tunangan," Jawab Eli tenang.
Chloe menggigit bibir bawahnya cemas, Dalam situasi ini dirinya tak ingin terlibat lebih dalam dengan keluarga Maximillian. Seharusnya dia hanya fokus untuk mencari dan mengalahkan Victor serta Red Devil. Dia tak ingin terlibat dengan masalah keluarga ini lebih jauh.
"Aku menolak! nona Michelle dan kak Ray tak bisa memaksaku untuk mengikuti tradisi konyol ini! Aku tak ingin terlibat lebih jauh! Lagipula mereka pasti juga menolaknya!" Tebak Chloe berdiri dari duduknya, Kini ekspresinya merasa kesal. Eli sampai mendongak karna Chloe berdiri.
"Kau menolak tradisi ini? Mengapa kau bisa tahu kalau mereka juga menolak?" Kening Eli mengerut bingung.
"Aku hanya menebaknya, Kalau mereka menolak aku juga menolak. Aku tidak ingin dipaksa buru-buru memilih pasangan, Pasangan itu dari hati bukan karna perjodohan!" Kata Chloe menyentuh dadanya sesaat letak hatinya berada, Sebelum ia menundukkan kepala.
"Aku permisi,"
Gadis itu melangkah pergi dari ruangan Eli, Meninggalkan Eli yang diam merenung.
"Kalau kandidat tunangan ini tetap berjalan, Aku terpaksa bersikap menyebalkan dihadapan mereka agar mereka tidak ada yang memilihku," Pikir Chloe serius sambil memegang gagang pintu ruangan Eli dan membukanya.
Disaat bersamaan setelah pintu terbuka, Revan dan Ash sudah berdiri disana. Chloe melihat tangan Ash yang terangkat ke udara, Sepertinya pria bersurai hijau itu berniat mengetuk pintu tadi. Keduanya menatap Chloe dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sadar menghalangi langkah keduanya, Chloe menunduk dan buru-buru pergi dari ambang pintu menuju kamarnya. Tidak menyadari tatapan Revan dan Ash masih tertuju padanya sampai Chloe masuk kamar.
TBC
__ADS_1