
[Ruang kesehatan]
Seorang perempuan yang sepertinya bertugas di ruang kesehatan tengah memeriksa Kaki kiri Chloe. Setelah diperiksa dia mengoleskan salep pada pergelangan kaki sang gadis yang terdapat memar secara perlahan.
"Kakimu baik-baik saja, Hanya sedikit memar dan keseleo. Untungnya kau cepat kesini sebelum bengkak," Kata perempuan itu ramah usai selesai mengoleskan obat salep.
"Berapa lama akan sembuh?" Tanya Chloe cemas.
"Hm...Sekitar 3-6 hari, Asal kau jangan terlalu banyak menggerakkan kakimu, Itu akan memperlambat proses penyembuhanmu. Oh iya, Dulu apakah kau pernah mengalami cidera di pergelangan kakimu?"
"Umm...Kurasa tidak pernah, Baru kali ini saja," Chloe juga tidak tahu apakah raga yang dipakainya ini dulunya pernah mengalami cidera di pergelangan kaki atau tidak.
"Benarkah? Soalnya kulihat di X-Ray pergelangan kakimu ada yang retak sedikit, Besar kemungkinan cidera itu adalah luka lama. Jadi karna pengaruh pergelangan kaki kirimu yang memar dan keseleo cidera itu kembali terbuka,"
Chloe tersentak kecil dia benar-benar tidak tahu kalau raga yang sedang digunakannya ini memiliki cidera masa lalu, Pantas saja pergelangan kakinya lebih sakit.
"Bisa jadi cidera itu muncul saat tragedi penculikan sewaktu kecil Chloe," Tebak Holy, Mendengarkan obrolan Chloe dan perempuan itu.
"Aku juga tidak tahu, Mungkin saja," Balas Chloe kemudian dia menatap perempuan di depannya.
"Apa cidera ini bisa pulih?"
Sesaat perempuan itu terdiam, Ekspresi nya tampak serius.
"Bisa asal kau terus makan-makanan yang memiliki kalsium tinggi, Aku yakin pasti cidera itu akan cepat pulih,"
"Oh baguslah, Kalau begitu aku permisi kak. Makasih atas waktunya," Kata Chloe senyum ceria.
"Sama-sama," Perempuan itu ikut tersenyum membalas senyum sang gadis.
Chloe secara perlahan meranjak dari kursinya dengan sedikit tertatih lalu keluar dari ruang kesehatan.
**************
[Ruang Staff OG]
CKLEK!
Mendengar suara pintu yang terbuka sontak membuat Gracia menoleh, Dia refleks berdiri dengan ekspresi cemas. Lalu segera mendekati Chloe yang baru masuk.
"Chloe! Kau kemana saja? Apa yang terjadi denganmu? Kenapa jalanmu pincang begitu? Apakah kakimu sakit?" Tanya Gracia bertubi-tubi sambil menguncang pelan kedua pundak Chloe, Yang bikin Chloe bingung mau jawab yang mana.
"Kak Gracia selow dulu dong, Satu-satu tanya nya. Baru juga dateng," Chloe terkekeh pelan menatap ekspresi cemas Gracia.
"Maaf, Habisnya aku panik banget saat kau pergi gitu aja dari kantin. Kirain ada masalah," Gerutu Gracia yang bikin Chloe senyum tipis.
"Hanya masalah kecil, Aku cuma ngerjain tugas di lantai lain kok Kak," Bohong Chloe sambil duduk secara perlahan di kursi yang sudah tersedia.
"Terus kakimu kenapa?" Gracia melirik kaki Chloe sambil ikutan duduk.
"Cuma kepeleset saat ngepel lantai," Sesaat Chloe tersenyum canggung, Dia berbohong lagi agar Gracia tidak khawatir padanya.
Gracia menatap senyum canggung Chloe merasa aneh, Namun dia tak bertanya lebih jauh dan hanya manggut-manggut.
"Oh ya udah, Kamu istirahat dulu. Nanti kerja lagi, Beberapa jam lagi kita bakal pulang kok,"
"Iya,"
Chloe hanya mengikuti saran Gracia, Lagipula dia sudah lelah karna beraktivitas terus seharian ini.
****************
[Pulang kerja]
Selesai dengan kerja hari ini, Chloe melangkah tenang bersama para karyawan lainnya yang keluar dari gedung. Berniat menuju halte bus.
Tak lama bus yang ditunggu-tunggu pun datang, Chloe masuk bersama beberapa penumpang. Dan duduk tenang disana.
Bus pun melaju meninggalkan area perusahaan.
***************
[Asrama]
Saat melewati area dapur Chloe teringat dengan misinya dari Holy, Gadis bersurai biru itu bergegas pergi menuju kamarnya. Setelah ganti pakaian dan istirahat sebentar. Chloe segera menuju dapur.
Sesampainya di dapur dia menemukan Aiden sedang mencuci piring disana, Dengan langkah tenang dia mendekati sang pemuda.
"Aiden," Panggil Chloe ragu.
Mendengar namanya dipanggil Aiden menoleh seperti biasa dengan ekspresi datarnya.
"Nona sudah pulang? Mau saya buatkan makan malam?" Tawar Aiden datar. Mengeringkan tangannya karna sudah selesai cuci piring.
"Tidak perlu, Aku cuma minta izin ingin gunain dapur. Sekali-sekali pengen masak sendiri," Chloe menggeleng pelan.
Aiden melirik peralatan masaknya sesaat dengan netra ungu tuanya lalu Kembali menatap Chloe.
"Boleh, Saya akan mantau anda dari sana," Kata Aiden melirik meja makan.
"Baiklah, Sekalian jadi pencicip masakanku ya,"
__ADS_1
Aiden hanya mengangguk lalu duduk di kursi sambil memandangi aktivitas Chloe.
Dengan semangat Chloe mulai masak kue tak lupa pakai celemek sebelumnya, Dia berniat buat kue Rasberry. Dengan cekatan dan lihai tangannya mengaduk-aduk tepung bersamaan dengan telur dan bahan lainnya.
Selama Chloe masak Aiden hanya memperhatikan dalam diam, Pemuda bersurai ungu itu teringat dulu dia sempat masak bareng Felix. Tapi sekarang dia masak sendiri untuk semua anggota Asrama.
Aroma harum kue menusuk indra penciumannya, Disana Chloe sedang memanggang adonan kue. Tak lama terdengar suara timer Oven, Menandakan kue itu sudah masak. Sang gadis tampak membuka oven dan memakai sarung tangan berniat mengambil kue tersebut.
Aiden meranjak dari duduknya lalu mengambil dua piring bersih di rak, Meletakkan piring tersebut di meja. Dia mendekati Chloe yang memegang loyang kue.
"Letakkan disana, Saya sudah mengambilkan piringnya,"
"Makasih Aiden, Aku cukup terbantu," Sesaat Chloe tersenyum sebelum menuju meja makan dimana piring yang dimaksud Aiden berada.
Setelahnya Aiden mengambil loyang kue lainnya dalam Oven tanpa sarung tangan seperti Chloe, Ekspresinya tetap datar seolah tidak merasakan panas sama sekali dari loyang yang dipegangnya. Padahal sudah terlihat jelas asap mengepul dari kue itu menandakan kue tersebut masih panas.
Chloe tersentak saat menyadari Aiden tidak pakai sarung tangan untuk memindahkan loyang dalam Oven, Pemuda itu dengan mudah memindahkan kue nya ke piring.
"Aiden, Kenapa gak pakai sarung tangan!? Loyang itu panas, Kau langsung mengambilnya dari Oven!? Lihatlah, Tanganmu melepuh," Chloe segera memegang kedua tangan pucat milik Aiden yang memerah bekas terkena loyang panas.
Buru-buru gadis bersurai biru itu menarik sang pemuda menuju wastafel, Dengan segera menyalakan air keran dan membasuh kedua tangan Aiden yang melepuh.
"Loyang itu tidak panas, Saya tidak bisa merasakan suhu panas maupun dingin. Tangan saya baik-baik saja," Kata Aiden datar, Menatap tangannya yang terkena air keran.
"Walaupun kau sekarang bukan manusia lagi, Tetap saja tubuhmu itu manusia. Pastinya masih bisa merasakan rasa sakit atau lainnya," Jelas Chloe serius, Dia masih fokus membasuh kedua tangan Aiden.
Sejenak Aiden hanya diam, Tidak berkata apa-apa lagi.
Merasa sudah cukup Chloe menutup air keran, Memperhatikan kedua tangan Aiden yang masih melepuh.
"Dimana P3K nya?"
"Disana," Aiden melirik sebuah lemari di sudut ruangan dapur, Tempat P3K berada.
Chloe menarik sang pemuda menuju kursi, Mendudukkannya disana. Lalu segera mengambil P3K tersebut. Tak lama Chloe kembali ke hadapan sang pemuda. Dia segera mengambil obat salep dalam P3K.
Dengan hati-hati Chloe mengoleskan salep tersebut di kedua tangan Aiden untuk mengurangi bekas melepuhnya. Setelah selesai dia mengembalikan P3K ke tempat semula.
"iishh...Kau ini ada-ada saja Aiden, Masa ngambil loyang yang masih dalam Oven gak pakai sarung tangan. Jadi melepuhkan tanganmu," sang gadis menggeleng pelan, Merasa heran dengan perilaku Aiden.
"Ini tidak sakit, Saya tidak merasakan apa-apa,"
"Hah~...Terserah kau saja," Sejenak Chloe menghela napas, Kemudian dia kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya yang sempat tertunda.
Dia mengambil buah Rasberry dalam kulkas bersama cream yang barusan dia buat lalu menghiasi kedua kue tersebut.
Setelah selesai Chloe tersenyum puas dengan hasil karyanya, Mengembalikan sisa buah rasberry ke tempat semula. Lalu dia mengambil piring kecil bersama pisau dan sendok.
"Coba cicipi, Dan beri tahu aku bagaimana rasanya," Kata Chloe semangat. Menatap Aiden dengan Netra birunya yang berbinar.
Aiden diam menatap sepotong kue tersebut, Dia mulai mengambil sendoknya dan mencicipi sedikit. Tanpa ekspresi Aiden membuka suaranya.
"Hambar, Gak ada rasanya,"
"Hah!? Yang bener? Masa hambar sih? Perasaan udah aku banyakin gulanya," Dengan heran, Chloe ikut mencicipi kue bagiannya. Membuktikan apakah perkataan Aiden itu benar atau tidak.
"Enggak hambar kok, Malah manisnya pas dan rasanya enak. Lidahmu kali yang bermasalah," Chloe mengerutkan alisnya usai mencicipi kue buatannya.
"Saya sudah bilang, Kalau saya tidak bisa merasakan apa pun. Kecuali rasa darah," Kata Aiden tenang yang bikin Chloe tepuk jidat sesaat.
"Ya ampun, Ternyata indra perasanya udah mati," Pikir Chloe sesaat meringis.
"Terus kenapa selama ini kau jadi juru masak Asrama kalau kau tidak bisa merasakan apapun lagi?"
"Saya hanya mengikuti sesuai resep masakan milik Tuan Felix, Jadi saya tidak perlu mencicipinya lagi,"
"Oh, Pantas aja rasanya sesuai dan enak. Ternyata resepnya dari Kak Felix," Chloe manggut-manggut, Dia kembali menghabiskan kuenya.
"Kalau gak dimakan biar aku aja yang habiskan," sang gadis menatap kue bagian Aiden. Sambil mengunyah makanannya.
"Gak, Biar rasanya hambar di lidah saya. Saya gak bisa ngebiarin makanan terbuang sia-sia begitu saja," Jawab Aiden kembali makan kuenya.
Chloe spcheless sesaat, Dia bergidik bahu lalu menghabiskan kuenya yang tersisa setengah.
Usai makan malam selesai meski hanya berdua, Chloe memutuskan untuk menyisakan sebagian kue untuk anggota lainnya. Dia menyimpannya di kulkas.
Saat hendak pergi dari area dapur tiba-tiba saja Aiden sudah berada di depannya, Mencegatnya pergi dari sana. Sejenak sebelah alisnya terangkat heran.
"Ada apa? Apakah kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Chloe heran.
Aiden mendekat tanpa menjawab pertanyaan Chloe, Sang gadis merasakan alarm bahaya di otak. Entah kenapa dia merasa Deja vu dengan situasi yang dialaminya sekarang.
"Umm...Aiden, Aku harus pergi ke toilet sekarang," Sang gadis pura-pura meringis. Memegangi perutnya dengan satu tangan. "Kebelet nih,"
Tanpa menunggu jawaban Chloe langsung lari secepat kilat menghindari Aiden padahal kakinya masih sakit, Namun dia kalah cepat dengan Aiden. Pemuda bersurai ungu itu menarik kerah baju bagian belakang Chloe dengan satu tangan.
"Aiden, Aku benar-benar kebelet sekarang. Jadi tolong lepaskan aku," Pinta Chloe masih berusaha lari meski saat ini kerah baju bagian belakangnya di tarik Aiden.
Aiden tak mendengarkan permintaan itu, Dia menarik tubuh Chloe dengan kencang ke arahnya hingga wajah sang gadis harus menabrak dada bidang sang pemuda.
__ADS_1
Aiden melingkarkan satu tangannya di pinggang Chloe, Menahan sang gadis untuk pergi. Dia mendekatkan wajahnya tepat di kuping sang gadis, Berbisik pelan disana.
"Nona kau tidak pandai berakting ya, Belajar lah lagi dari ahlinya. Malam ini giliran mu Nona Chloe," Bisik Aiden dengan nada datarnya itu yang bikin bulu kuduk Chloe meremang.
"Tunggu dulu! Kau tadi kan sudah makan. Masa masih kurang sih? Kue itu kan juga sumber energi," Kata Chloe sambil berusaha menjauhkan tubuh Aiden darinya, Mendorong-dorong sang pria. Namun pria itu tidak menunjukkan reaksi apapun, Bergeming dari tempatnya saja tidak.
"Makanan manusia tidak memberikan energi apapun pada saya, Hanya rasa hambar yang saya rasakan. Berhenti menyamakan makanan saya dengan makanan kalian!" Aiden menatap dingin, Sebelum mendekatkan wajahnya ke leher Chloe. Dimana luka bekas goresan itu berada.
Gadis itu histeris dalam hati, Dia cepat-cepat menggeleng. Mendorong Aiden dengan kuat.
"Tidak! Tidak! Tidak mau! Pergi kau! Menjauh dariku!"
DUK!
Alhasil Chloe gak sengaja mukul perut Aiden pakai lututnya. Membuat kuncian Aiden lepas, Pria bersurai ungu itu menatap tajam pada Chloe sambil memegangi perutnya.
"Nona anda...!"
"Gak! Aku gak mau!" Seru Chloe histeris dan panik, Mengambil kesempatan itu lari menjauhi Aiden keluar dari area dapur.
Saat ini Holy sedang tidur di kamarnya, Tapi Chloe masih bisa pakai mode yang di dapatnya selama Holy gak pergi ke tempat Program.
"Ah, Pakai teleport. Aku harus cepat pergi ke tempat yang aman," Pikir Chloe panik, Dia segera memejamkan matanya. Menuju tempat yang menurutnya aman dari Aiden.
*************
SYUTT!
Tak membutuhkan waktu lama Chloe sudah sampai di depan kamar Felix yang menurutnya aman dari Aiden, Chloe takut kalau berada di kamarnya sendirian maka Aiden bisa saja menerobos masuk.
"Kak Felix! Kak Felix! Buka pintunya!" Pinta Chloe masih panik dan takut, Dia mengetuk-ngetuk pintu kamar Felix cepat. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang guna memastikan apakah Aiden mengejarnya atau tidak.
TOK! TOK! TOK!
"Kakak! Buka!" Nada suara Chloe mulai bergetar, Bulu kuduknya meremang.
CKLEK!
Felix membuka pintu kamarnya, Ekspresinya tampak sayu dengan rambut yang sedikit acak-acakan. Sesaat pemuda itu menguap kecil seperti baru bangun tidur.
"Siapa?" Tanya Felix hanya menatap sayu.
"Kakak!"
GREP!
Chloe segera menubruk tubuh pemuda bersurai coklat itu, Memeluk erat dengan tubuh yang gemetar takut. Dia menyembunyikan wajahnya di dada sang pemuda.
Sedangkan Felix yang mendapat pelukan tiba-tiba dari Chloe tersentak hampir saja dia terjungkal bersama Chloe kalau saja dia tidak menjaga keseimbangannya, Seketika matanya langsung melek. Menatap sang adik yang memeluknya erat.
Perlahan Felix membalas pelukan sang adik, Mengusap pelan punggung Chloe. Mencoba menenangkan tubuh adiknya yang gemetar.
"Sssttt...Tenang, Tenang. Kakak disini, Tidak perlu takut," Bisik Felix pelan, Masih tidak melepaskan pelukannya.
Chloe hanya diam tak menjawab, Tubuhnya masih gemetar. Selama beberapa menit mereka pelukan, Setelah merasa tenang Chloe melepaskan pelukannya.
Felix memegangi kedua pundak Chloe tak terlalu erat.
"Sudah merasa tenangkan?"
Gadis bersurai biru itu mengangguk kecil sebagai jawaban. Felix menghela napas lega sesaat lalu dia menutup pintu kamarnya lebih dulu.
Dengan lembut dia menuntun sang adik duduk di sisi kasur, Lalu duduk di samping adiknya.
"Ceritakan apa yang terjadi? Kau sangat ketakutan tadi," Kata Felix cemas, Menatap wajah adiknya yang sedikit pucat.
"Aiden...Dia...Dia...Dia ingin mengambil darahku, Aku gak mau jadi aku pakai perlawanan. Kulihat sepertinya dia marah, Jadi aku lari kesini buat berlindung," Jelas Chloe takut.
Sejenak Felix terdiam, Kembali membuka suaranya. "Itu sebabnya kau sangat ketakutan tadi?"
"Iya," Chloe mengangguk mengiyakan.
Felix termenung, Teringat dia dulu juga pernah melakukan perlawanan sama seperti Chloe. Aiden gak bisa dilawan dengan cara apapun, Dia terlalu mengerikan untuk dilawan.
"Aiden itu kalau marah dia bisa menghancurkan apapun yang berada di sekitarnya, Bahkan hewan yang tak bersalah sekalipun. Dimana pun kau bersembunyi seorang diri, Dia tetap bisa menemukanmu,"
Felix menoleh menatap adiknya kembali, Tersenyum ramah seperti biasanya.
"Lebih baik kau tidur disini dulu sampai besok pagi, Kakak akan bicara baik-baik padanya besok," Saran Felix, Dia merasa kasihan dengan adiknya yang merasa takut dengan keberadaan Aiden.
"Apa tidak merepotkan kakak?"
"Tidak sama sekali, Tempat tidur kakak juga terlalu besar untuk tidur seorang diri. Kamu tidur di sebelah sana ya," Felix menunjuk kasur bagian kiri tempat Chloe duduk.
"Iya," Kalau Felix tidak merasa repot Chloe terima-terima aja, Lagipula sepertinya kamar Felix aman dari Aiden.
Chloe segera merebahkan tubuhnya di kasur bagiannya, Sedangkan Felix meletakkan guling di tengah-tengah mereka sebagai pembatas sebelum ikut merebahkan tubuhnya.
"Selamat malam Kak," Kata Chloe sambil menarik selimut sampai dada sebelum menutup matanya masuk ke alam mimpi.
"Selamat malam," Balas Felix ikut menarik selimut dan menutup mata.
__ADS_1
TBC