
Hari yang cerah, Membuat suasana hati gadis bernetra merah itu juga cerah. Dirinya berjalan santai menuju ruangannya, Membuka pintu perlahan dan menemukan Ezra yang sudah berada disana. Si pria tampak sibuk mengutak-atik sesuatu di laptopnya.
"Selamat pagi pak," Sapa Chloe ceria, Namun hanya mendapat lirikan dingin dari Ezra.
"Hm...,"
"Oh apa kita mulai sekarang akan bekerja dalam satu ruangan yang sama?" Chloe mendekati Ezra, Berdiri dibelakang si pria untuk melihat apa yang sedang dikerjakan Ezra.
"Ya, Dalam mimpi!" Balas Ezra sinis, Sebelum kembali fokus dengan pekerjaannya.
Chloe hanya tersenyum kecut mendengarnya, Lalu tak lama Ezra meranjak dan membawa laptopnya. Sesaat sebelum pergi, Pria itu menoleh.
"Tuh, Kerjakan proposal yang sudah kukirim. Jangan sampai salah!"
"Siap pak,"
Ezra mendengus lalu melengos pergi membawa laptopnya keluar ruangan, Meninggalkan Chloe sendiri disana.
Sejenak Chloe menatap dokumen yang tergeletak di mejanya sebelum mulai mengerjakan tugas.
...**************...
[Jam Istirahat]
Kali ini seperti biasa Chloe membawa dua bekal di tangannya, Memasuki ruangan Justin yang berada di samping ruangannya. Dia mengetuk sesaat sebelum melangkah masuk.
"Selamat siang pak Justin, Ini makan siangnya," Chloe menyodorkan dua bekal itu.
"Terima kasih," Justin menerimanya. "Ngomong-ngomong, Beberapa hari ini sepertinya orderan client mulai menumpuk. Kau bisa bantu bikin data-datanya tidak?"
"Bisa, Nanti kirim aja dokumennya pak. Bakal aku kerjain sebisa mungkin," Si gadis mengangguk semangat, Justin tersenyum tipis menanggapinya.
"Baiklah, Nanti kukirim,"
Chloe mengangguk semangat, Sesekali netra merahnya melirik Ezra yang berdiri di belakang Justin.
"Tapi pak, Boleh tidak kalau aku kerjanya bareng pak Ezra–"
"Tuan, Sepertinya bagian devisi 1 sudah mau mulai meetingnya. Aku harus kesana," Potong Ezra cepat, Dibalas tatapan Justin.
"Oke, Sekalian presentasikan project yang kubuat sebulan yang lalu ya,"
"Baiklah, Kalau begitu aku permisi," Ezra sedikit membungkukkan badannya lalu bergegas pergi keluar ruangan.
Blam!
Chloe hanya bisa memandangi kepergian Ezra, Raut kecewa dan sedih tergambar jelas di wajah sang gadis. Justin melirik sebentar, Lalu sedikit menggeser dua kotak bekal di hadapannya.
"Chloe Watson, Kita bicara serius sekarang,"
Chloe mengalihkan pandangan usai mendengar suara Justin, Si gadis terdiam saat memandangi raut serius yang Justin tunjukkan padanya.
"Selama ini aku sudah memperhatikan semua yang kau kerjakan dan memperhatikan semua sikapmu selama bekerja di perusahaanku," Justin menjeda kata-katanya sejenak, Dia melepas kacamata yang dipakainya. "Aku juga sudah memperhatikan sikapmu terhadap Ezra selama ini dari samping ruangan, Kau sangat perhatian padanya meski dia selalu ketus dan berkata kasar padamu. Kau tahan dengan sikapnya itu...Apa karena kau menyukai Ezra, Chloe Watson?"
Chloe tersentak ketika netra orange milik Justin menatap matanya, Dari netra orange itu tampak terlihat jelas sirat penasaran. Beberapa detik Chloe bungkam, Menatap balik hingga mengangguk membenarkan perkataan Justin.
"Iya, Aku menyukai pak Ezra. Aku sudah menyukainya sejak beberapa bulan yang lalu," Chloe tersenyum lembut. "Walau dia sulit kuraih, Aku sedang berusaha mendapatkannya,"
"Sudah kuduga, Sikap kalian beberapa bulan ini agak aneh," Justin tersenyum lalu terkekeh pelan.
"Pantas saja beberapa bulan ini Ezra seperti menghindari Chloe, Dan Chloe yang selalu menemui Ezra dimanapun Ezra berada. Menarik," Pikir Justin diam-diam tersenyum evil.
"Kenapa bapak tersenyum seperti itu?" Chloe mengerjapkan matanya bingung, Seketika Justin tersadar dan kembali bersikap biasa dengan senyum tipisnya.
"Bukan apa-apa. Aku tahu Ezra orang yang sulit didekati, Kami sudah saling mengenal sejak lama. Jadi aku juga tahu semua tentangnya, Kalau kau mau aku bisa memberi beberapa saran dan untuk infonya. Tapi ini tidak gratis," Justin memutar pulpen di tangannya.
Mendadak Chloe bergelut ria dengan pikirannya sendiri, Disisi lain dia ingin menerima penawaran itu walau tidak gratis tapi disisi lainnya rasanya dia agak takut menerimanya.
"Gak apa-apa Chloe, Terima aja. Demi pak Ezra!"
Setelah beberapa detik bergelut dengan pikirannya sendiri akhirnya Chloe memutuskan menerima tawaran itu. Sang gadis mengangguk mantap.
"Ya, Aku terima penawaran itu!"
"Oke, Kalau kau sudah setuju. Pertama dia anti dengan wanita, Sejauh yang kuingat dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Dia selalu bersamaku," Jelas Justin.
"Iya iyalah, Pak Ezra kan memang nempel terus sama pak Justin. Jadi gak ada cewe manapun yang berani dekat sama kalian berdua," Pikir Chloe sweetdrop.
"Kedua, Saranku lebih baik seminggu ini kau coba acuhkan dia, Mungkin dengan cara itu bisa membuatnya sadar. Ya kalau berhasil, Tapi kalau tidak berarti mungkin dia memang tidak suka padamu,"
"Tapi selama bekerja disini aku tidak pernah mengacuhkan pak Ezra," Chloe menunduk murung.
"Hanya seminggu kok," Justin menatap jengah lalu menopang dagunya. "Kau ingin mendapatkan Ezra kan? Lakukan sesuai saranku, Atau kau akan kehilangan dia,"
Chloe mendongak, Seketika dirinya merasa antusias sembari mengangguk. "Baiklah, Akan kucoba. Terima kasih atas sarannya. Lalu apa yang pak Justin inginkan dariku?"
Justin bersidekap tampak memikirkan sesuatu. "Beberapa bulan yang lalu, Aku bersitegang dengan salah satu grup idol didikanku. Salah satu diantara mereka bermasalah, Namanya Ian Salvatore. Aku ingin kau membujuknya berubah pikiran untuk tidak keluar dari grup HE@VEN,"
"Meski tugas ini tidak ada hubungannya dengan perusahaan, Aku harap kau mau membantuku yang satu ini. Dia meski tidak banyak bicara tapi kata-katanya sangat tajam, berhati-hati lah bicara dengannya,"
Justin memijit keningnya beberapa saat, Tampak masalah yang sedang dihadapinya ini tidak mudah. Chloe jadi merasa kasihan.
"Memangnya masalah apa yang membuat kalian bersitegang?"
"Dia mempunyai skandal dengan salah satu anggota HE@VEN, Revan Michelle. Karna saat itu Revan tidak terima Ian lebih populer dari anggota HE@VEN yang lain. Disaat bersamaan Ian juga sedang dalam keadaan terpuruk karna kehilangan kedua orang tuanya beberapa bulan lalu. Jadi mereka bertengkar dan berkelahi karna masalah itu, Dan akhirnya Ian bilang padaku dia ingin mengundurkan diri dari grup HE@VEN," Justin menghembuskan napas sejenak menyelesaikan ceritanya.
Chloe manggut-manggut paham, Jadi karna Revan yang egois tidak terima Ian lebih populer dibanding dirinya dan Ian yang terbawa emosi karna masih berduka atas kematian kedua orang tuanya. Menyebabkan pertengkaran itu terjadi. Well, Masalah yang agak rumit.
"Tapi kenapa pak Justin mempercayai aku untuk membujuk salah satu anggota HE@VEN ini?" Chloe memiringkan sedikit kepalanya kesamping dengan pandangan bingung.
Justin tersenyum geli lalu kembali menopang dagunya, Menatap dalam netra merah Chloe. "Memangnya aku semudah itu melupakan salah satu anggotaku yang mempunyai kemampuan chemistry yang positif terhadap orang-orang sekitar termasuk anggota asrama,"
"Bahkan dulu kau berhasil sedikit demi sedikit merubah sikap Ezra berkat chemistry positifmu itu, Aku benar kan Chloe Watson?" Tambah Justin masih menopang dagunya.
Chloe mengerjapkan matanya sesaat, Mendadak otaknya agak lemot mencoba mencerna perkataan Justin barusan. Hingga netra merah itu melebar terkejut.
"Tunggu! Jangan-jangan pak Justin mengingat semuanya?! Semua yang terjadi di dunia lain? Pak Justin juga ingat?! Kupikir pak Justin tidak mengingat apapun yang terjadi disana," Tanya Chloe bertubi-tubi tak percaya.
Pria bernetra orange itu kembali mendengus geli, Ia terkekeh pelan. "Aku tidak melupakan satu pun kejadian yang ada di disana. Aku ingat semuanya, Termasuk para anggotaku. Tapi mungkin mereka lah yang melupakannya termasuk Ezra, Saat ini pun aku tidak tahu keberadaan anggota lainnya dimana kecuali Ezra, Raizel, Ian, Dan Kau Chloe,"
"Syukurlah, Aku pikir cuma aku satu-satunya yang ingat. Rasanya sedih mengetahui kalau yang lain tidak mengingat apapun yang terjadi di dunia itu," Chloe menunduk murung.
"Semua butuh proses, Mereka pasti akan ingat kembali berlahan-lahan," Justin mengambil sebuah kertas lalu menulis sesuatu disana, Usai menulis dia memberikan selembar kertas itu pada Chloe.
"Ini ruangan yang biasa ditempati grup HE@VEN untuk beristirahat, Kalau Ian tidak ada disana kemungkinan besar dia berada di rooftop,"
"Aku mengerti, Kalau begitu aku permisi," Chloe mengangguk paham usai membaca tulisan milik Justin di kertas itu.
"Ya, Hati-hati lah,"
Sang gadis mengangguk pelan, Sebelum bergegas pergi dari sana.
...*****************...
Tap! Tap! Tap!
Cklek!
__ADS_1
Chloe menyembulkan kepalanya memperhatikan setiap sudut ruangan, Netra merahnya menangkap sosok seorang pria bersurai hitam yang sedang beristirahat di sudut ruangan. Perlahan langkah kakinya mambawa menuju pria itu, Tak lupa menutup pintunya kembali.
Tap! Tap! Tap!
Sesampainya didekat si pria, Chloe sedikit membungkukkan tubuhnya agar melihat wajah pria itu lebih jelas. Karna kepala si pria saat ini sedang menunduk.
"Apakah benar namamu Ian Salvatore?" Tanya Chloe hati-hati, Takut salah orang.
Mendengar suara asing dihadapannya membuat kepalanya mendongak perlahan, Tidak ada ekspresi apapun yang ditujukan pria itu selain tatapan dingin. Netra merahnya sekilas tampak berkilat.
"Apa yang kau inginkan?" Balasnya dingin tanpa menjawab pertanyaan Chloe sebelumnya.
Mendengar perkataan pria itu, Sepertinya Chloe cukup yakin tidak salah orang. Hanya saja sikap pria itu kembali ke awal dimana sikap dingin dan tajamnya muncul dibanding saat Chloe mengenal Ian yang dulu.
"Yah, Sifat nya balik lagi kaya awal. Ini terjadi karna pasti dia tidak mengingatku," Pikir Chloe cukup kecewa. Dia lantas segera menepis rasa kecewanya dan fokus dengan misinya.
"Pertama, Perkenalkan namaku Chloe Watson. Aku bekerja di bagian administrasi, Aku datang kesini ingin meminta beberapa informasi darimu, Aku tahu ini masalah pribadi, Tapi yang kudengar kau ingin mengundurkan diri dari grup HE@VEN. Apa itu benar dan apa alasannya?"
"Aduh, Apa aku terlalu to the point? Auranya jadi gak enak," Chloe sedikit menjauhkan tubuhnya, Melihat bagaimana Ian hanya menatapnya dalam diam.
"Untuk seorang yang bekerja di bagian administrasi, Kau terlalu ikut campur!" Chloe bisa melihat jelas netra merah milik Ian berkilat tajam. "Orang itu pasti yang menyuruhmu kesini,"
Ian berdiri, Menatap dingin penuh aura gelap. "Jangan pernah ikut campur urusanku dengannya. Chloe Watson!"
Chloe berkeringat dingin, Ian terlihat lebih menakutkan ketika sedang memendam emosinya. Pria itu berbalik, Tanpa berkata apapun lagi dia melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Sejenak Chloe memeluk dirinya sendiri mencoba menenangkan diri. "Apa-apaan itu barusan? Baru kali ini, Ian terlihat sedingin itu. Aku...Aku telah gagal," Gumam Chloe lesu.
Dengan langkah sayu, Chloe berjalan pergi keluar ruangan. Berniat memberitahukan hal ini pada Justin.
...*****************...
Chloe menekan lift, Perlahan pintu lift mulai terbuka. Disaat yang sama Ezra datang dan memasuki lift bersamaan dengan Chloe. Keduanya berdiri berdampingan, Sejenak keduanya bersitatap dan Ezra lebih dulu memutuskan kontak mata. Dia bersidekap sambil menghembuskan napas kecil, Sedangkan Chloe tanpa mengatakan apapun menekan tombol lift menuju lantai 20.
Hanya ada mereka berdua di dalam lift, Keheningan menyertai keduanya. Chloe mengusap pelan satu lengannya, Teringat dengan saran Justin untuk mengacuhkan Ezra selama seminggu. Tapi apa dia bisa bertahan? Atau malah semakin membuat Ezra menjauh darinya?
Chloe menunduk murung sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri, Sedangkan Ezra diam-diam melirik Chloe, Cukup merasa heran dengan sikap si gadis yang tiba-tiba berubah.
"Tumben diam? Biasanya kalau ketemu nyapa terus nih anak. Dimana-mana selalu menyapaku," Kemudian Ezra melirik ke tempat lain. "Ah, Bodo amat. Yang penting kali ini dia tidak menggangguku,"
Ting!
Ezra berjalan lebih dulu keluar lift saat pintu lift terbuka, Kemudian disusul oleh Chloe yang hanya diam. Ezra membuka pintu ruangan Justin, Tak lama suara bentakan terdengar dari sana.
"Ian! Kenapa kau keras kepala tetap ingin keluar dari grup ini?! Apa yang tidak memikirkan dampaknya?!"
Ezra diam sejenak memperhatikan perdebatan antara Justin dan Ian, Chloe yang penasaran ikut masuk dan berdiri disamping Ezra.
"Aku sudah tidak peduli lagi dengan grup ini, Revan sendiri yang ingin lebih menonjol dibanding yang lain. Dia juga sudah menghina keluargaku, Jadi tidak ada alasan lagi untukku berubah pikiran," Jelas Ian dingin, Dia meletakkan sebuah amplop di meja Justin.
"Ian! Apa kau tidak mendengarkan perkataan tuan Justin?! Kalau dia tidak ingin kau keluar dari grup, Ya jangan keluar!" Bentak Ezra yang ikut tersulut emosi.
Ian melirik dingin. "Jangan ikut campur kalian! Masalah ini hanya antara aku dan Justin," Tatapan Ian kembali memandang Justin yang menatap serius. "Dan sejak lama aku sudah tidak suka dengan sifatmu yang sok berkuasa Justin, Dulu aku berada di grup HE@VEN hanya terpaksa karna permintaan ibuku yang ingin melihatku menjadi idol. Sekarang aku keluar dari sini,"
Ian mengambil jaketnya yang berada di meja Justin dan melangkah pergi berniat keluar dari sana.
"Kenapa malah begini, Mengapa malah terjadi perpecahan di antara mereka?" Pikir Chloe sedih yang hanya bisa diam menyimak pembicaraan itu.
"Ian...," Justin menatap punggung Ian yang mulai menjauh. Pria bernetra orange itu menghembuskan napas berat.
Grep!
"Kau tidak bisa pergi sebelum mendapat surat resmi pengunduran diri dari tuan Justin!" Ezra mencekal tangan Ian, Menahan pria bernetra merah itu untuk pergi dari sana. Sejenak Ian melirik tajam.
BRAK!
"Dengar, Kau salah memilih lawan Ezra Miracle! Lain kali pilih lah lawan yang bisa kau kalahkan! Dan juga berhenti ikut campur urusanku, Urusi saja tuan mu itu!" Ian menatap tajam, Netra merahnya berkilat marah.
Ezra juga tak mau kalah, Dia balik mencengkeram kerah Ian. Balik menatap tajam. "Kalau bukan kau salah satu anggota grup HE@VEN didikan tuan Justin, Sudah kuhajar sampai babak belur kau Ian Salvatore!"
Brak!
"Ezra! Ian! Hentikan! Jangan berkelahi di ruanganku!" Bentak Justin berdiri dari duduknya, Sayangnya suaranya hanya dianggap angin lalu oleh Ezra dan Ian.
Chloe panik, Dia bergegas mendekati Ian dan Ezra yang masih saling melempar tatapan tajam.
"Ian, Lepaskan pak Ezra. Pak Ezra juga tahan emosi!" Chloe berusaha menenangkan keduanya, Bukannya tenang mereka malah melempar tatapan tajam ke arahnya.
"Diam! Jangan ikut campur!" Kata Ezra dan Ian bersamaan, Seketika membuat Chloe speecheles.
Kesal tidak didengar oleh keduanya, Chloe lantas menarik tangan Ian berusaha menjauhkan Ian dari Ezra sekuat tenaga. Usaha itu tidak sia-sia, Cengkeraman Ian terlepas dan Chloe segera menahan tubuh Ian agar tidak kembali mendekati Ezra.
Sedangkan Ezra berdecih dan merapikan kerah pakaiannya. Ian menatap dingin memandangi tangan Chloe yang menahan tubuhnya. Kini Chloe berdiri diantara Ian dan Ezra sebagai penghalang.
"Sudah kubilang–"
"Iya, Aku tahu! Jangan ikut campur kan?! Tapi aku tidak bisa membiarkan kalian berkelahi seperti ini, Aku tahu masalah yang kalian bicarakan tidak mudah, Tapi tolong lah bicara dengan kepala dingin tanpa kekerasan seperti ini," Chloe menunduk tanpa sadar mencengkeram pakaian Ian. Ia sedih melihat teman-teman yang dulunya akrab sekarang malah seperti musuh.
"Padahal dulu di asrama kalian akrab meski ada beberapa perselisihan tapi semua itu kembali terselesaikan berkat kerja sama dan kekompakan kita. Tapi sekarang kalian terlihat seperti musuh, Aku sedih melihat kalian seperti ini," Gadis bersurai hitam itu memejamkan matanya erat.
Justin terkejut mendengar perkataan Chloe. "Tidak kusangka dia akan memberitahu lebih dulu, Padahal aku masih perlu waktu untuk memberitahu mereka,"
Justin perlahan mendekati Ezra dan Ian, Sejenak dia masih diam memperhatikan situasi.
Grep!
"Akrab? Apa maksudmu dengan asrama?! Aku tidak pernah mengenalnya selain saat pertama kali menjejakkan kaki di perusahaan ini," Ian mencengkeram tangan Chloe yang memegang pakaiannya tadi, Nadanya terdengar dingin.
"Iya, Kita semua pernah bertemu dulu. Waktu itu di dimensi lain, Sekarang kita bertemu lagi di dunia ini. Kalian saja yang tidak mengingatnya, Ingatan kita sengaja dihapus jadi kita tidak mengenali satu sama lain," Chloe menatap serius, Menatap netra merah Ian.
"Jangan bercanda! Kau pasti berbohong soal itu!" Tuding Ezra marah, Memukul tembok di sampingnya.
Brak!
"Aku tidak bohong! Tanya saja pak Justin, Pak Justin mengingat semuanya!" Bela Chloe sambil menggeleng tegas.
Seketika pandangan Ezra dan Ian tertuju pada Justin. Raut wajah Ezra berubah muram sedangkan Ian mendelik tajam.
"Tuan, Apa yang dikatakan anak ini benar?"
Sejenak Justin membungkam mulutnya sebelum menatap balik penuh ketegasan di matanya. "Ya, Chloe benar. Dan aku tidak menyalahkan kalian, Kalau kalian tidak mengingatnya,"
Chloe kemudian kembali menatap Ian. "Aku benar kan, Lagipula Ian apa kau sama sekali tidak mengingatku? Aku Chloe Watson, Sahabat masa kecilmu,"
"Sahabat masa kecil, Chloe Watson?" Ezra menoleh mendengarnya, Ia diam membeku beberapa saat. Netra hijaunya menangkap sebuah pita kupu-kupu yang Chloe pakai, Seketika tubuhnya sedikit gemetar.
Jantungnya berdegup kencang, Netra hijaunya melebar terkejut. "Pita kupu-kupu itu...Rasanya tidak asing,"
Ezra menyandarkan tubuhnya ke tembok, Memegangi kepalanya yang agak sakit.
Bruk!
Mendengar suara jatuh sontak membuat Chloe, Ian, dan Justin menoleh. Justin bergegas mendekati Ezra yang tampak menahan sakit.
"Ezra!"
Chloe diam membeku begitu pun dengan Ian, Mereka tak bergerak sedikit pun dari tempatnya. Hingga Ian tiba-tiba menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Ikut aku!" Ian berbalik ingin keluar dari ruangan itu. Namun tampaknya Chloe sama sekali tidak merespon apapun, Gadis itu masih berdiri diam dengan pandangan tertuju pada Ezra.
Bagaimana bisa dirinya tega meninggalkan sosok yang dia cintai sedang menahan sakit, Sedangkan dirinya malah pergi dengan pria lain yang notabane nya juga sahabatnya? Chloe tidak sanggup jika cuek terhadap Ezra selama beberapa hari maupun seminggu. Ia tidak bisa melakukannya.
Chloe menoleh memandang Ian yang menunggunya untuk bergerak, Hingga perlahan Chloe melepas genggaman Ian membuat pria bernetra merah itu mengernyit.
"Dulu kau bilang akan memberikan jawabannya ketika kita bertemu lagi di dunia mu, Apa kau tidak ingin ikut denganku?"
"Maaf Ian," Chloe tersenyum lembut, Sedikit menjauhkan diri dari Ian. "Tapi aku tidak bisa meninggalkan pak Ezra dalam keadaan sakit begitu. Aku menyukainya, Jadi aku harus selalu berada di sisinya karna dia adalah partnerku sekaligus orang yang kusukai,"
Ian diam sejenak setelah pernyataan Chloe beberapa detik yang lalu, Hatinya seakan pecah berkeping-keping, Rasanya sakit tapi tidak berdarah. Dia telah menunggu bertahun-tahun hanya untuk Chloe Watson seorang, Sahabat sekaligus orang yang disukainya. Tapi hari ini dia telah mendengar jawaban langsung dari sang gadis, Jawaban yang mengutarakan perasaan si gadis sebenarnya sekaligus jawaban yang membuat hatinya sakit.
cahaya netra merahnya meredup, Pandangan sedikit kosong. Ian menatap balik, Kali ini suara nya merendah tanpa intonasi.
"Jadi dia pilihanmu," Ian sedikit mengepalkan tangan kanannya, Wajahnya kini tanpa ekspresi. "Baiklah, Artinya aku mundur. Aku tidak akan mengganggu kalian berdua,"
Ian memasang jaketnya lalu berbalik, Dia melangkah pergi menuju pintu, Sebelum memegang gagang pintu suara Chloe kembali terdengar.
"Ian, Terima kasih sudah menyukaiku. Semoga kau mendapat gadis yang lebih baik dariku,"
Ian menghentikan langkahnya beberapa saat, Tanpa menoleh dia membuka pintu. "Berbahagia lah. Chloe Watson,"
Blam!
Chloe memandang kepergian Ian hingga Ian hilang dari pandangannya, Setelah itu si gadis bergegas membawa Ezra bersama Justin ke UKS perusahaan.
...****************...
[Lantai 3]
Rasa gelisah menggerogoti hatinya, Gadis itu menunggu penuh cemas. Berharap Ezra baik-baik saja.
Blam!
Chloe seketika mendongak ketika mendengar suara pintu tertutup, Melihat Justin dan seorang penjaga uks yang baru saja keluar dari sana. Tampak Justin mengobrol dengan penjaga uks itu beberapa saat hingga penjaga uks itu pergi dari sana.
Sang gadis lantas bergegas mendekati Justin. "Pak Justin, Bagaimana keadaan pak Ezra?"
"Hei, Tenang dulu," Justin refleks memegangi kedua pundak Chloe ketika si gadis hampir menabraknya karna tergesa-gesa. "Ezra baik-baik saja, Dia hanya sakit kepala biasa,"
"Syukurlah," Chloe menghela napas lega.
"Sekarang dia ingin bicara empat mata dengan mu. Cepat temui dia,"
"Baiklah,"
Chloe dengan tak sabar bergegas pergi memasuki ruangan uks berada, Meninggalkan Justin yang hanya tersenyum tipis.
"Kupikir anak itu akan memilih Ian atau anggota lainnya, Ternyata tidak kusangka dia akan sangat tertarik pada Ezra. Dasar, Memang cinta itu bisa datang kapan saja ya," Gumamnya masih tersenyum tipis.
*******************
"Pak Ezra, Apa masih ada yang sakit?" Chloe mendekati perlahan tempat tidur uks dimana Ezra berada, Pria itu hanya menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur dalam posisi duduk.
"Hm...," Ezra diam tak bergeming, Netra hijaunya memandang pita kupu-kupu yang Chloe pakai di rambutnya. Sejenak tangannya terangkat menyentuh pita itu.
"Benda ini...Benda yang kuberikan padamu waktu di dimensi lain itu kan?"
"Iya, Aku menyukainya karna benda ini pemberian pak Ezra," Chloe mengangguk ceria.
Pandangan Ezra sedikit meredup. "Begitu. Aku sudah mengingat semua yang terjadi di sana, Tentang pertemuan kita pertama kali saat kecil, Dan tentang masuknya kau sebagai anggota Black Shadow, Maaf aku membuatmu sedih lagi," Ia menghembuskan napas hingga tiba-tiba merasakan genggaman seseorang di tangannya.
"Gak apa-apa pak, Bapak sudah mengingatku saja sudah membuatku senang. Hehehe, Yang penting sekarang pak Ezra kembali padaku," Chloe melepas genggamannya lalu memeluk Ezra yang seketika membuat pria bernetra hijau itu agak tersentak sebelum membalas pelukan Chloe.
"Ya, Sekarang aku kembali jadi milikmu dan kau kembali jadi milikku," Ezra tersenyum tipis, Dia melepas pelukannya.
"I love you pak Ezra,"
"I love you Chloe,"
Ezra menempelkan keningnya dengan kening Chloe, Perlahan Chloe memejamkan matanya begitu pun dengan Ezra. Wajah keduanya berdekatan, Tinggal beberapa senti lagi mereka akan berciuman hingga.....
BRAK!
"CHLOE!"
BBYYUURR!
Seketika Chloe merasakan air dingin membasahi seluruh tubuhnya, Tanpa menyisakan satu pun tempat kering di seluruh pakaiannya.
...*****************...
BBYYUURR!
GUBRAK!
"Aduh!" Chloe membuka matanya perlahan, Merasakan sekitarnya agak dingin. Bentar, Kayaknya ada yang aneh deh.
Sejenak gadis itu terdiam mencoba memproses sekitarnya, Dirinya sekarang berada di kamar bernuansa biru. Ini kamar miliknya. Dan ngomong-ngomong mengapa dirinya tiduran di lantai? Jatoh nya gak elit banget pula.
"Chloe! Kamu ini mama bangunin gak bangun-bangun. Udah pagi masih aja tidur kayak kebo!"
Chloe mendongak melihat seorang wanita paruh baya sedang menceramahinya sambil berkacak pinggang dan memegang gelas kosong di salah satu tangannya.
"Mama!" Chloe memekik kaget, Si gadis lantas buru-buru bangun dan berdiri tegak. "Kok Chloe disini, Bukannya Chloe udah kerja dan saat ini sedang berada di perusahaan? Terus Ian bagaimana kabarnya ma? Mama udah ketemu sama pak Justin dan pak Ezra?"
Mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari anaknya seketika membuat mama Chloe bengong, Dia memeriksa kening anaknya dengan punggung tangan.
"Chloe, Kamu sakit? Kok bicaranya malah ngelantur sih atau masih ngigau?" Mama Chloe menggeleng bingung. "Mana ada kamu kerja, Kamu aja baru lulus SMA setelah koma setahun yang lalu. Lalu Ian siapa? Pak Justin sama Pak Ezra mana lagi? Mama gak kenal sama mereka,"
"Lho masa mama gak kenal? Itu lho Ian Salvatore tetangga kita dulu, Dia juga sahabat aku. Masa mama gak ingat sih?" Chloe semakin heran dengan situasinya saat ini.
"Gak ada tetangga kita sekitar sini namanya Ian Salvatore. Udah deh jangan ngelantur lagi,"
"Serius ma, Aku ketemu mereka,"
"Mama juga serius, Udah deh cepetan mandi sana. Atau mama siram lagi nih?!"
"Iya ma, Chloe mandi,"
Karna takut disiram lagi, Chloe pun bergegas menuju kamar mandi.
...******************...
Usai makan dan membantu mamanya cuci piring, Chloe berjalan-jalan disekitar rumahnya. Sekaligus melihat-lihat pemandangan dan menyapa para tetangga yang lewat.
Sesampainya di area padang bunga, Chloe memutuskan untuk bersantai-santai sejenak disana. Dia duduk di sebuah bangku yang sudah disediakan khusus pengunjung. Gadis itu mengayun-ayunkan kedua kakinya sembari memandangi hamparan bunga.
Tak lama dia tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Masa sih yang kualami setelah koma itu cuma mimpi, Ketemu pak Justin, Pak Ezra, Ian, dan kak Felix di dunia ini cuma mimpi. Itu artinya mereka benar-benar gak ada dong sekarang,"
Chloe mendesah kecewa, Jika benar semua hanya mimpi. Sepertinya selama ini dia hanya berimajinasi seolah-olah anggota asrama itu nyata, Mungkin saja sebenarnya mereka memang benar-benar tidak ada. Dan semua itu berlanjut sampai masuk ke alam mimpinya.
"Benar-benar konyol, Mengapa aku malah berharap mereka nyata. Lagian kenapa mama tidak mengingat Ian, Padahal Ian sering mampir ke rumahku waktu kecil. Apa Ian ternyata cuma teman imajinasiku ya?" Chloe menunduk murung.
Dia mendongak memandangi langit cerah di atas, Senyum lembut tersungging di bibirnya.
Yah, Meskipun jika memang hanya mimpi atau imajinasinya, Ingatan tentang mereka akan terus melekat di hatinya. Tapi jika mereka benar-benar nyata, Ia harap bisa bertemu dengan anggota asrama lagi suatu hari nanti.
__ADS_1
...–TAMAT–...