System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Awal baru 2


__ADS_3

Aku terdiam di tempat, Masih dalam posisi berdiri. Rasa kebimbangan dalam diriku masih bisa kurasakan dengan jelas dan nyata, Setelah pernyataan Cinta dari Ian beberapa menit yang lalu. Ruangan ini diliputi keheningan.


Bodohnya aku selama ini sama sekali tidak menyadari perasaannya, Segitu tidak peka nya kah aku? Kalau saja Ian tidak mengungkapkannya, Mungkin selamanya aku tidak akan menyadari perasaannya.


Kalau misalnya aku sudah kembali ke raga asliku, Mungkin aku tidak tahu harus bersikap seperti apa di depannya. Ini membuat suasana ruangan nya jadi canggung.


"Bodoh, Kenapa aku malah mengatakannya sekarang. Seharusnya aku menunggu mu sadar lebih dulu. Gara-gara perasaan ini, Aku jadi hilang kendali,"


Aku menatap Ian yang menghela napas, Kulihat dia menyentuh dada kiri nya dimana letak detak jantungnya berada. Sesaat dia mengusap wajahnya dengan sapu tangan.


"Sunshi, Seandainya kau melihatku memakai seragam kelulusan sekolah kita. Kau pasti bangga padaku kan? Lihatlah, Aku memakai seragam kelulusan ini. Kau bilang ingin melihatku memakai seragam ini? Dan bilang akan menyusulku setelah aku lulus,"


Ian tersenyum pedih, Dia menunduk kecil hingga helai-helai rambutnya sedikit menutupi wajah. "Tapi tampaknya tuhan lebih sayang padamu,"


"Moonshi, Jangan berkata begitu. Aku disini, Aku sudah melihatmu memakai seragam itu. Aku bangga kok padamu, Melihatmu lulus seperti ini saja sudah membuatku senang, Walau mungkin aku akan lama menyusulmu lulus, Tapi akan kuusahakan untuk ikut lulus bersamamu," Sahutku lembut.


"Hah, Apa yang kulakukan? Seperti aku sudah mulai gila karna bicara sendiri,"


"Iya, Yang orang lain lihat kau bicara sendiri Moonshi," Kataku sambil terkekeh kecil, Memandangnya yang meranjak berdiri dari duduknya.


Ian melangkah pergi dari ruang inapku, Tentu saja aku penasaran dia mau pergi kemana. Serta merta aku mengikuti arah perginya Ian, dengan melayang? Hohoho, Sepertinya aku memang benar-benar sudah mirip sekali dengan roh gentayangan. Kakiku tiba-tiba saja bisa melayang tanpa menyentuh lantai rumah sakit lagi. Bahkan kini tubuhku menembus tembok rumah sakit tanpa harus lewat pintu, Benar-benar keren.


Aku terus mengikuti Ian sepanjang perjalanan di koridor rumah sakit, Banyak pasien-pasien, para dokter, dan para suster lalu lalang menembus tubuhku. Well, Aku sih gak masalah karna sekarang kan aku udah jadi hantu:v , Canda hantu:v.


Tak lama tiba-tiba suara seorang anak kecil menarik perhatianku di tempat ruang tunggu pasien.


"Mama, Lihat deh. Kakak cowok itu diikuti sama kakak cewek yang rambut hitam disana," Kata anak kecil itu sambil menunjukku, Tentu aja aku heran dong.


"Gak ada kakak rambut hitam disini dek," jawab ibu dari anak itu heran.


Kuputuskan untuk mendekati anak kecil itu dengan senyum manis, Bermodal pengalamanku meladeni anak kecil seusia adik-adikku.


"Halo dek, Adek bisa lihat kakak ya?" Tanyaku masih tersenyum. Anak kecil itu diam sesaat lalu tiba-tiba memeluk kaki ibunya sambil menangis.


"Mama, Huuwaaa! Kakak rambut hitam nya bisa ngomong,"


Eh!? Eh!? Kok nih anak malah nangis sih pas kutanya? Ah, Bodo amat mending aku kabur aja, Daripada masalahnya makin runyam. Dengan segera aku melayang pergi dengan cepat meninggalkan anak kecil yang menangis itu. Kembali menyusul Ian yang hilang entah kemana.


Saat di luar area rumah sakit, Kutolehkan kepalaku kanan kiri untuk mencari keberadaan Ian. Namun nihil, Aku kehilangan jejaknya. Cepat sekali dia pergi?


"Ah, Sial! Aku tidak menemukannya dimana pun," Kataku masih melayang kesana kemari tanpa arah.


Tapi tiba-tiba saja setitik cahaya entah datang dari mana muncul di hadapanku, Cahaya itu semakin besar hingga membuat pandanganku silau. Refleks kupejamkan mataku demi menghindari cahaya silau itu.


****************


WWUUSSHHH!


Sesaat kurasakan rambutku sedikit berkibar pelan, Hawa dingin menyergap seakan menusuk tulang-tulangku, Semilir angin menerpa wajahku pelan.


Kubuka mataku perlahan, Mendapati tempat yang begitu sunyi dan tenang. Kakiku menapaki sesuatu yang lembut dibawah sana, Saat kutundukkan kepalaku ternyata itu hanya rumput. Aku memastikan sekitarku dengan teliti.


"Ini pemakaman!?" Kataku agak terkejut, Bagaimana aku tidak terkejut, Kalau saat ini aku sedang berdiri di tengah-tengah pemakaman super luas. Hei, Entah kenapa tiba-tiba aku merasakan hawa mistis disini.

__ADS_1


Kenapa tiba-tiba aku berada di pemakaman? Bukannya tadi aku masih berada di area rumah sakit? Aneh sekali. Lagipula aku kesini pakai apa, Teleport gitu? Atau jangan-jangan karna cahaya tadi yang berfungsi untuk pindah tempat?


Ah, Sudahlah. Terlalu banyak pertanyaan di benak ku. Tidak ada satu pun yang menjawab juga. Kuputuskan untuk melayang pergi menelusuri area pemakaman ini (Sejujurnya melayang tidak buruk juga, Aku jadi tidak perlu repot-repot memakai kakiku untuk berjalan-jalan plus gak menguras energi ku).


Netraku dengan jeli memperhatikan sekitarku, Pemakaman ini begitu sunyi dan tenang apalagi di sore hari begini. Untungnya belum menjelang malam, Kalau tidak mungkin aku sudah merinding.


Tak lama Netraku menemukan siluet sosok yang tidak asing tengah berdiam diri di samping sebuah makam, Dia terlihat begitu sedih. Oh, Seperti nya aku kenal seragam yang dia pakai. Bukankah dia adalah Ian? Sedang apa dia berada di pemakaman sore hari begini?


Dengan penasarang aku melayang mendekat ke arahnya, lalu ku turunkan kakiku menapak tanah. Ikut berjongkok di samping makam berhadapan dengan Ian.


"Ian, Sedang apa disini? Makam siapa ini?" Tanyaku yang tentu saja semua pertanyaan itu tidak di jawab oleh Ian, Dia kan tidak bisa mendengarkan suaraku.


Ian tampak menaburkan kelopak bunga di atas makam itu, Ekspresi nya sangat sedih terlihat jelas dari pancaran sorot Netra merah nya. Aku hanya memandangi tindakkannya dalam diam. Kemudian dengan penasaran aku mencari nama pemilik makam ini di batu nisannya.


Elviana Salvatore


Itu lah nama yang terdapat di batu nisan itu, Sejenak aku diam membeku tanpa bisa berkata-kata. Elviana Salvatore adalah ibu dari Ian Salvatore alias teman masa kecilku. Aku sering memanggil beliau Bibi Elvi. Itu artinya Bibi Elvi sekarang sudah.....


Netraku tanpa sadar mulai berkaca-kaca, Menyadari Ian di dunia asliku sekarang sendirian tanpa memiliki keluarga lagi. Dulu dia hanya tinggal dengan Bibi Elvi, Sedangkan ayahnya sudah meninggal duluan. Sekarang dia benar-benar sendiri.


Kulihat Ian tampak sedang berdoa dengan khusyuk. Aku ikut berdoa bersama Ian untuk ketenangan ibunya di alam sana. Setelah beberapa saat berdoa, Dia kembali memandangi makam ibunya.


"Ibu, Lihatlah. Aku sudah lulus sekarang. Aku sudah membuatmu bangga kan? Seperti yang kau inginkan dulu, Aku lulus dengan nilai akademik tertinggi di angkatanku. Terima kasih sudah berjuang untuk masa depanku selama ini," Lirih Ian yang tentu saja bisa kudengar.


"Dulu adalah Sunshi, Sekarang ibu ku. Kenapa dua orang wanita yang kucintai harus meninggalkanku sendiri," Setetes air mata kembali membasahi pipi Ian, Dia kembali menangis dalam diam sambil menutup wajahnya dengan lengan seragamnya. Mungkin dia tidak ingin dilihat saat dia nangis.


"Hei, Itu tidak benar! Aku hanya koma, Bukannya mati! Walau saat ini aku jadi Transparan tapi seenggaknya aku masih bisa bergerak kesana kemari," Protesku tak terima dengan perkataan Ian, Lalu aku memilih diam setelah melihatnya masih sedih.


****************


Tak terasa waktu berjalan cepat, Langit sudah mulai menunjukkan warna senja nya. Semilir angin berhembus lembut menggoyangkan pohon-pohon di sekitar pemakaman. Burung-burung pun mulai berkicau melintasi area ini.


Kulihat setelah tenang Ian berdiri dari jongkoknya sambil membawa keranjang bunga di tangan kirinya. Menatap sebentar pada makam Bibi Elvi. Aku pun ikut berdiri.


"Sampai jumpa lagi bu, Kapan-kapan aku akan kesini lagi,"


Ian berbalik pergi keluar dari area pemakaman, Kuikuti langkahnya keluar dari sini. Mungkin sekalian aku ingin berkunjung juga ke rumahnya setelah sekian lama dalam dunia game, Toh tidak ada yang bisa kulakukan lagi disini selain jadi roh gentayangan tanpa arah.


Kami sampai di trotoar jalan raya usai keluar dari area pemakaman, Aku masih setia mengikuti Ian dari belakang. Dia berhenti di lampu merah, Menunggu kendaraan transportasi untuk berhenti agar dia bisa menyebrang jalan. Tak memakan waktu lama, Semua kendaraan berhenti membiarkan para pejalan kaki untuk lewat.


Yah, Awalnya semua berjalan lancar tanpa hambatan hingga tiba-tiba terdengar suara klakson mobil yang begitu nyaring di sertai suara tabrakan yang cukup kencang.


TIN! TIN! TIN!


BBRRAAKK!


Para mobil dan kendaraan di lampu merah hancur lebur saat sebuah truk Trailer ( Diperkirakan membawa muatan 60 ton) menghantam dengan kecepatan tinggi, Para pejalan kaki berhamburan menyelamatkan diri namun semua nya terlambat. Mereka semua ikut menjadi korban kecelakaan maut itu tanpa terkecuali termasuk Ian yang tidak sempat menghindar karna kejadian itu terjadi sangat cepat.


"IAN!" Aku berteriak histeris sangat syok dengan apa yang kulihat di depan mataku sendiri. Teman masa kecilku, Ian dia....


Lututku menjadi lemas, Tubuhku ambruk menghantam jalanan aspal. Aku menangis tersedu-sedu, Di saat dia membutuhkan bantuanku, Kenapa aku tidak bisa membantunya!? Kenapa aku tidak bisa melindunginya!? Kenapa aku tidak bisa menyentuh orang-orang yang kusayangi!? Kenapa mereka tidak bisa melihatku!?


"MENGAPA HARUS IAN YANG MENGALAMINYA!? MENGAPA!? KENAPA TIDAK AKU SAJA!?" Teriakku frustasi, Aku menangis semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Suara sirene mobil polisi dan ambulan sayup-sayup terdengar di indra pendengaranku. Namun suara keriuhan itu perlahan menghilang seiring aku yang semakin menangis keras.


******************


TES! TES! TES!


Suara tetesan air kembali kudengar sama seperti waktu awal aku terbangun, Aku masih menangis sedih sambil menutup wajahku dengan tangan. Kini kurasakan rasa basah di kakiku, Seperti ada genangan air di bawahnya.


"Kau akhirnya datang,"


Sejenak aku mencoba menenangkan diri saat kudengar suara yang sangat ku kukenal, Walau masih agak sesegukan. Aku perlahan menurunkan kedua tanganku dari wajah, Mataku pasti bengkak karna kebanyakan menangis.


Sosok siluet seorang pria tengah berdiri di hadapanku beberapa meter, Dia terlihat menundukkan wajahnya hingga aku tidak tahu siapa sebenarnya yang ada di hadapanku ini. Setengah tubuhnya tertutupi oleh kegelapan di sekitar kami. Ya tempat ini adalah tempat gelap dimana aku pertama kali terbangun.


Aku berlahan berdiri dari dudukku, Menerka-nerka siapakah yang berada di hadapanku ini? Namun dari seragam kelulusan yang dipakainya, Sepertinya aku kenal.


"Kenapa kau meninggalkanku Sunshi?"


"Moonshi, Kau kah itu?" Aku mencoba mendekatinya, Agak was-was juga karna kini aura nya sangat suram.


"Kau bilang kita akan terus bersama, Tapi kenapa kau meninggalkanku hah!?"


Sejenak aku tertegun setelah berdiri di hadapannya menjaga jarak 1 meter, Apalagi kini aku bertatapan dengan Netra merah milik Ian yang terlihat penuh kebencian menatapku.


"Jawab aku! Kenapa kau meninggalkanku Sunshi!?" Netra merah Ian berkilat penuh amarah.


"Kau salah paham, Aku tidak meninggalkanmu! Itu sebuah kecelakaan karna kecerobohanku sendiri. Aku minta maaf karna tidak bisa berjanji padamu," Kataku menatap matanya dengan sedih.


Aku semakin melangkah mendekat, Dan memeluknya penuh haru. Akhirnya salah satu orang yang kusayang bisa kupeluk juga. Tapi Ian hanya diam tak bergeming maupun membalas pelukanku.


Tak lama dia melepaskan pelukanku begitu saja, Mencengkeram dengan erat kedua pundakku. Netra merahnya masih berkilat penuh amarah.


"Aku sangat membenci mu Sunshi, Kau tidak bisa menepati janji. Aku Sangat-Sangat membencimu," Katanya penuh penekanan dan kebencian terdengar dari nada suaranya.


DEG!


Seketika jantungku berhenti berdetak sesaat, Tubuhku seakan kaku dengan sendirinya. Hatiku langsung sakit seakan ada ribuan jarum yang menusukku, Apa yang membuat Ian berkata seperti itu padaku?


Tanpa sadar aku kembali menangis, Pipiku basah dengan air mata yang mengalir, Masih terlalu kelu dan syok untuk bicara. Bertepatan dengan diamku, Ian melangkah pergi dari hadapanku menuju setitik cahaya yang entah muncul dari mana.


Dia melangkah menjauh dariku, Refleks kakiku bergerak cepat mengejar Ian. Aku ikut menuju setitik cahaya itu ingin meraih pundaknya.


TAP! TAP! TAP!


"Ian, Jangan pergi! Kumohon jangan pergi!" teriakku dengan suara parau karna menangis, Memanggil namanya. Serta merta kupercepat lariku agar bisa menyusul Ian yang sudah mulai dekat dengan setitik cahaya itu.


"Ian, Tolong berhenti!"


Aku meraih pundaknya sekaligus memeluk punggung tegapnya, Bertepatan dengan itu silau cahaya menyinari kami berdua. Segera kututup mataku seerat mungkin. Setelahnya suasana disekitar kami menjadi gelap.


Chloe POV End


TBC

__ADS_1


__ADS_2