
[Malam hari nya, Di suatu tempat]
TIK! TIK! TIK!
Seseorang terlihat sedang sibuk mencari sesuatu di layar Laptop nya, Jari-jarinya dengan lincah menari-nari di atas keyboard laptop. Netranya tak sedikit pun mengalihkan perhatiannya dari layar.
Sesekali Netra melirik-lirik sebuah bangunan yang lumayan besar tak jauh dari lokasi parkiran mobilnya, Hingga gerakan di atas keyboard itu terhenti. Sejenak Pria itu menghela napas lalu tak lama sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring.
KLIK!
Tangannya menekan sebuah tombol kecil dari alat komunikasi yang terpasang di salah satu telinga nya, Hingga alat komunikasi itu akhirnya terhubung dengan suara seseorang di seberang.
"Bagaimana? Apa kau sudah mendapat informasi di mana berkas itu berada?" Kata seseorang di seberang alat komunikasi itu.
"Sudah, Beri aba-aba padanya untuk mengalihkan perhatian mereka. Berkas itu sedang bersama salah satu tangan kanannya. Kau pergilah ke dermaga, Dan tunggu disana. Kemungkinan besar tangan kanannya akan berangkat ke dermaga malam ini," Kata Pria itu masih tersenyum miring. "Dan aku akan membantu menangkap orang itu,"
"Hm...Baiklah, Kau memang bisa diandalkan soal strategi. Aku akan segera berangkat ke dermaga. Kau bantu dia dan kelompoknya ya,"
"Serahkan padaku. Oh ya, Satu lagi. Bilang padanya jangan ragu untuk membunuh orang-orang itu. Mereka hanya pion-pion tidak berguna,"
"Ck! CK! Ck! Sampah buangan. Untuk apa orang itu membangun markas persembunyian jika orang-orang yang dipilihnya hanya menjadi sampah gak guna,"
Sesaat Pria itu tertawa kecil, Menyerigai dalam diam. "Mereka itu lemah, Sudahlah. Kau fokus saja dengan tugasmu dan jangan lupa memberi aba-aba padanya dan kelompoknya itu,"
"Baiklah, Kau tunggu saja di mobil,"
KLIK!
Tak lama sambungan komunikasi itu terputus secara sepihak, Sang pria menutup laptop nya dan kembali menatap bangunan tinggi yang tak berada jauh dari parkiran mobilnya.
"Setelah beberapa bulan mengawasi dan mencari informasi. Akhirnya salah satu markasmu akan hancur malam ini,"
Pria itu kembali tersenyum, Namun kali ini senyumnya tampak berbeda seperti menyembunyikan suatu rahasia di baliknya.
****************
[Di sisi lain, Daerah gedung yang sama]
"Hah~...Bosan, Kenapa mereka lama sekali sih!? Tanganku sudah gatal untuk beraksi," Dengus seseorang yang memakai topeng kucing dan jubah hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Dengan santai dia duduk menyandar pada sebuah batang pohon sambil bersidekap bersama beberapa orang lainnya yang juga memakai topeng dan jubah yang sama. Mereka saat ini sedang bersembunyi di balik semak-semak diantara kegelapan.
Mengawasi beberapa bodyguard yang tengah berjaga di sekitar gedung itu.
"Ketua, Bagaimana sekarang? Apakah kita harus menunggu aba-aba sedikit lebih lama atau langsung menyerang orang-orang itu?" Tanya salah satu orang disana, Yang tampaknya bawahan dari orang yang dipanggil ketua itu.
"Tunggu beberapa menit lagi, Kalau masih tidak ada aba-aba dari mereka. Kita akan bergerak sendiri," Kata sang ketua dingin. Mengawasi para bodyguard yang tengah menjaga gedung itu dengan tatapan tajam.
"Baik!" Kata beberapa anggota ketua itu.
Tak lama sang ketua mendengar suara berisik dari alat komunikasi yang dipakai di salah satu kupingnya, Seperti nya seseorang berusaha menyambungkan alat komunikasinya.
KLIK!
"Apa?" Kata sang ketua ketus, Setelah alat komunikasinya tersambung.
"Hoi! Dia sudah mendapat info nya. Kau cepatlah mengalihkan perhatian mereka bersama kelompokmu sebelum tangan kanan orang itu pergi membawa berkasnya ke dermaga,"
"Hoo...jadi berkas itu berada di tangan kanan orang itu," Sang ketua menyerigai sesaat. "Baiklah, Lihat saja aku dan kelompokku akan mengalahkan anak buahnya dalam sekejap,"
"Cepatlah, Sebelum terlambat!"
KLIK!
Sang ketua tersenyum miring lalu dia meloncat turun dari pohon itu tepat di hadapan kelompoknya.
"Yo, Siapkan semua senjata kalian. Kita akan menghancurkan markas mereka malam ini," Kata sang ketua sambil mengangkat tangan kanannya yang memegang sebuah pemukul Kasti.
"Yaaaa!"
Para anggota kelompoknya pun menunjukkan senjata masing-masing sambil ikut mengangkat tangan kanan mereka. Ada yang membawa kapak, Gergaji, Palu, Pemukul besbol, pisau, Dan senjata tajam lainnya.
"Para Black Devil. Serang mereka!" Sang ketua memberi aba-aba.
"Seeraaangg!"
Mereka mulai bergerak maju, Beberapa dari mereka ada yang berlari dengan lincah. Penyerangan pun terjadi.
__ADS_1
Para Bodyguard yang berada di sekitar Gedung langsung menoleh, Dan mereka langsung bersiaga.
"ADA PENYUSUP! PANGGIL BODYGUARD LAINNYA! CEPAT!" Teriak salah satu bodyguard nyaring.
KKRRRIIINNGGG!
Alarm penyusup pun berbunyi di sekitar gedung itu, Para Bodyguard yang berjaga di dalam langsung keluar semua menghadapi para anggota Black Devil.
Pertempuran, Perkelahian, Serta penyerangan tak terelakkan lagi. Banyak korban jiwa dari pihak Bodyguard berjatuhan dan sebagian anggota Black devil mengalami luka kecil.
******************
[Disisi lain]
Seorang pria berjalan mengendap-ngendap melewati pintu belakang gedung, Dia mengambil kesempatan di saat penyerangan itu terjadi. Dengan bergerak cepat dia mulai mencari tangan kanan orang itu.
Beberapa lantai menuju lantai gedung atas sudah dia lewati dengan berlari. Tak lama dia bertemu dengan seorang pria yang dijaga oleh 3 Bodyguard sekaligus, Di tangan pria itu terdapat sebuah berkas yang tertutup map.
Netra sang pria melirik berkas tersebut.
"Itu pasti berkasnya, Aku harus melawan pria ini dan bodyguardnya terlebih dulu," Pikir sang pria masih melirik berkas tersebut.
"Siapa kau!? Kau pasti salah satu dari penyusup itu kan? Cepat serang dia!" Kata pria yang membawa berkas tersebut.
Ke-3 Bodyguard itu langsung menyerang sang pria bersurai coklat, Namun dengan gesit pria itu menghindarinya.
Dengan waspada dia menatap tajam ke-3 bodyguard tersebut.
BBUAAKK!
KKRRAAKK!
Salah satu bodyguard itu ingin menghempaskan tubuh sang pria namun pria itu lebih cepat, Tanpa segan sang pria langsung menendang perut salah satu bodyguard, Dan langsung menginjak wajahnya hingga terdengar bunyi retakan.
"AARRGGHH!"
BUK!
Bodyguard lainnya mengambil kesempatan itu meninju wajah sang pria hingga pria itu sedikit terhuyung ke belakang. Dengan menjaga ke seimbangannya, Sang pria langsung mengambil sesuatu di balik jas hitamnya.
"Cih, Aku tak punya waktu untuk meladeni kalian," Kata sang pria sambil berlari dengan cepat menabrakkan dirinya pada kedua bodyguard itu.
Tak lama dia menempelkan sebuah benda kecil dengan lampu yang berkedip-kedip pada kedua pakaian bodyguard itu saat keduanya terjatuh.
"Adios (Selamat tinggal),"
Sang pria dengan gesit loncat dari jendela di dekatnya pada lantai 3 gedung tersebut, Bersamaan keluarnya sang pria. Tubuh kedua bodyguard itu meledak.
PPRRAANNGG!
DDUUAARR!
HUP!
Sang pria mendarat sempurna di tanah, Menekuk satu lututnya agar menahan beban tubuhnya. Dia kemudian berdecak kesal.
"Cih, Orang itu lolos dengan membawa berkas itu. Aku harus menghubungi dia di dermaga,"
Sang pria bersurai coklat itu segera berdiri tegap, Membersihkan kedua tangannya dari debu yang menempel. Lalu segera menghubungi seseorang dengan alat komunikasinya.
KLIK!
"Aku sudah bertemu orang itu, Tapi dia lolos karna para tikus pengganggu itu menghalangi jalanku. Tahan dia disana, Aku segera menyusul,"
"Hebat juga dia bisa melewatimu, Baiklah kali ini giliranku,"
KLIK!
"Ck! Seharusnya aku nembak kakinya dulu sebelum melawan tikus-tikus pengganggu itu," Decih sang pria kesal, Dia segera menuju mobil nya yang terparkir tak jauh dari lokasinya saat ini.
******************
[Malam hari, Dermaga kota]
SSWWUUSSHH!
Semilir angin laut dari dermaga menerbangkan helai-helai rambut seorang pria yang kini berdiri di samping mobilnya. Terlihat dia seperti sedang menunggu seseorang.
__ADS_1
Tak lama Netranya menangkap sebuah mobil sedan putih tengah melaju memasuki pintu dermaga, Sesaat pria itu menyerigai lalu memasang topeng menutupi wajahnya dengan jaket abu-abu dan tudung jaket yang menutupi kepalanya.
"Kita lihat, Bagaimana kau bisa lolos dariku," Kata pria itu masih menyerigai.
Dia mengeluarkan sebuah pistol dari balik jaketnya, dan langsung berlari mendekati mobil sedan putih itu secara sembunyi-sembunyi.
Tak lama pria yang membawa berkas tadi keluar dari mobil sedan putih tersebut, Dia berjalan dengan hati-hati ingin memasuki sebuah kapal. Namun langkahnya terhenti saat sebuah benda kecil menggelinding di depannya.
Pria itu kebingungan, Berniat mendekati benda tersebut karna benda itu berkedip-kedip. Sayangnya tiba-tiba benda tersebut meledak menimbulkan asap disekitarnya yang menghalangi pandangan sang pria.
"Uhuk...Uhuk...Ini bom asap!" Kata pria itu sambil terbatuk-batuk, Dia berusaha menjauh dari asap yang menghalangi pandangannya.
Tiba-tiba kaki Seseorang menjulur hingga kaki sang pria pembawa berkas itu tersandung, Dan jatuh menghantam tanah dengan wajah yang mendarat lebih dulu.
BBRRUUKK!
"Akh...,"
Berkas di tangannya terlempar beberapa meter dari posisi jatuhnya saat ini, Pria itu masih terbatuk-batuk. Dia mencoba berdiri ingin meraih berkas itu. Namun kaki seseorang menginjak punggungnya, Hingga tubuh pria itu tertahan di tanah.
"Arrrgghh! Siapa kau!?" Kata sang pria pembawa berkas menahan rasa sakit karna injakan seseorang di punggungnya.
Pria bertopeng itu hanya menunjukkan senyum sinis, Dia semakin keras menginjak punggung pria pembawa berkas.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, Yang kuinginkan hanya berkas itu. Jadi jangan coba-coba meraihnya atau kau akan mati disini," Kata pria bertopeng itu dingin.
Sang pria pembawa berkas meringis, Ekspresi wajahnya memucat layaknya kertas. Tangannya perlahan berusaha mengambil berkas yang jatuh beberapa meter di depannya. Tapi pria bertopeng yang melihat hal itu tidak tinggal diam, Tanpa belas kasih dia menginjak tangan pria pembawa berkas itu dengan kencang hingga menimbulkan suara patah.
KKRRAAKK!
"Arghhh! Tanganku..!!" Pria pembawa berkas meringis kesakitan, Tangannya yang lain berusaha melepaskan kaki pria bertopeng dari atas tangannya. Namun usaha pria pembawa berkas sia-sia. Mata pria pembawa berkas itu mulai berkaca-kaca.
Sedangkan sang pria bertopeng langsung berjongkok dan menarik rambut pria pembawa berkas dengan kasar hingga mendongak menatapnya.
"Hei, Pak tua! Katakan siapa yang menyuruhmu untuk menyelidiki berkas itu!?" Kata sang pria bertopeng dingin.
"T-Tidak, Aku tidak akan mengatakan siapa orangnya,"
"Jangan keras kepala, Kau akan kehilangan kepalamu itu jika masih tidak mengatakannya!" Ancam sang pria bertopeng, Mengarahkan pistolnya pada kepala sang pria pembawa berkas.
"Tidak, Aku tetap tidak akan mengatakannya!" Tubuh pria pembawa berkas itu mulai bergetar takut.
Sesaat Pria bertopeng menyerigai sinis, Lalu menunjukkan dua buah benda pada pria pembawa berkas.
"Oh ya? Bagaimana dengan kunci brangkas yang berada di villa mu saat ini dan Tablet antar pesanmu dengan orang itu. Semuanya ada disini lho, Jadi kau masih tidak ingin bicara juga pak tua?" Kata pria bertopeng menggoyangkan tablet dan kunci di tangannya.
Mata pria pembawa berkas membelalak kaget, Dia menggeleng cepat ketakutan.
"Tidak! Jangan kunci dan tablet itu!"
Pria pembawa berkas berusaha berdiri dengan cepat ingin meraih tablet dan kunci di tangan pria bertopeng, Namun belum sampai berhasil. Tiba-tiba seseorang menembak kepala si pria pembawa berkas hingga pecah dan semua isinya keluar.
DOR!
Suara tembakan itu memenuhi keheningan malam di dermaga, Sejenak Pria bertopeng menatap pria bersurai coklat di depannya yang baru saja datang.
"Ups! Tanganku licin," Kata Pria bersurai coklat tersenyum miring, Menatap tubuh pria pembawa berkas yang sudah tak bernyawa dengan isi kepalanya yang keluar.
"Ck! Apa yang kau lakukan!? Kau membuat pakaianku kotor dengan bercak darahnya. Cih, Darah dari sampah ini menjijikkan," Sungut pria bertopeng tak terima, Dia melepaskan jas hitamnya yang terkena percikan darah dari pria pembawa berkas, Membuangnya ke sembarangan arah.
"Masih mending aku membantumu, Sudahlah buang jasmu dan sarung tanganmu itu. Kita harus membakarnya untuk menghilangkan jejak," Kata pria bersurai coklat sambil menyimpan pistolnya dalam jas lalu melepaskan sarung tangannya dan membuangnya ke tanah.
Sedangkan Pria bertopeng itu hanya bersungut-sungut kesal, Dia melepaskan sarung tangannya. Mengambil korek api dari saku celananya, Lalu membakar jasad pria pembawa berkas bersama jas dan sarung tangan miliknya dan sarung tangan rekannya.
Sedangkan Pria bersurai coklat mengambil berkas yang terlempar tadi bersama tablet dan kunci tersebut. Dia memeriksa berkas tersebut sesaat.
"Semua yang berada dalam berkas ini asli, Kita tinggal melaporkan nya ke dia. Cepat telpon dia agar kembali bersama kelompoknya!" Pria bersurai coklat itu memandangi langit malam sesaat. "Sudah saatnya kita kembali ke Asrama,"
"Ya, Benar. Aku juga sudah lelah selama beberapa bulan ini mengawasi sampah-sampah itu. Aku Kangen sekali dengan kasurku di Asrama,"
"Hm...Ayo pulang, Jangan lupa hubungi dia dan kelompoknya dulu,"
"Iya, Iya. Bawel banget,"
Mereka pun melangkah pergi meninggalkan area dermaga dengan kebakaran yang berasal dari jasad si pria pembawa berkas. Tanpa seorang pun mengetahui kejadian malam itu di dermaga.
TBC
__ADS_1