
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki terus menggema sepanjang jalan trotoar, Diantara kerumunan itu Chloe melangkah melewati para pejalan kaki yang berlawanan arah dengannya. Kepalanya terus tertunduk menatap kakinya sendiri, Ekspresinya terus-menerus muram tanpa ada semangat sama sekali.
Sejak tadi pagi Chloe terus memikirkan keputusan yang akan dia pilih. Rasa sedih, Kecewa, Dan sakit hati bercampur jadi satu dalam dirinya. Sesaat ia merasa pikirannya kacau, Bahkan saat pelajaran tadi dirinya juga tak fokus mendengarkan penjelasan dosennya. Sejujurnya Chloe juga tidak menyalahkan Ray sepenuhnya, Tidak ada yang salah disini. Memang hanya dirinya yang masih perlu memikirkan keputusan itu.
Sejenak kepalanya menggeleng pelan lalu menepuk kedua pipinya. Berusaha fokus dengan tujuannya sekarang "Sudahlah Chloe, Sekarang kau fokus dulu untuk menjemput Ivy. Urusan keputusan itu belakangan,"
Tak terasa dirinya sampai di gedung tempat Ivy bersekolah, Kepalanya mendongak sesaat sebelum memantapkan hatinya memasuki gedung itu.
**************
Cklek!
"Ivy, Aku datang," Chloe menyembulkan kepalanya, Memandang situasi kelas Ivy yang begitu sunyi.
Ia melangkah masuk sembari menolehkan kepalanya kanan-kiri, Kebingungan karna Ivy tidak berada disana. Hanya ransel gadis itu saja yang tertinggal di kursi bersama sebuah buku tulis.
Chloe mendekati meja Ivy berada, Mengambil buku tulis yang tergeletak disana. Sesaat ia membolak-balikkan buku tersebut hingga tak sengaja secarik kertas bersama sebuah foto tiba-tiba jatuh dari dalam buku itu, Ia mengambil kertas dan foto yang terjatuh.
Sesaat Chloe menatap foto ditangannya, Itu foto Ivy. Ia tidak menyangka akan menemukan foto Ivy terselip diantara lembar buku. Kemudian pandangannya beralih menatap secarik kertas ditangannya, Membaca beberapa kalimat yang tertulis disana dengan teliti.
...Mencari Ivy? Dia saat ini sedang bersamaku, Sayang sekali kau terlambat Chloe. Jika kau punya nyali, Datanglah ke alamat ini seorang diri. Datang dan temukanlah pengantinmu! Aku tidak akan menjamin keselamatannya jika kau nekat membawa seseorang untuk menyelamatkan pengantinmu ini....
...Ngomong-ngomong, Dia begitu lemah, Mudah sekali kena tipuanku. Kalau kau sudah berjanji menjadi bodyguard pelindungnya maka tepatilah janji itu, Pengantinmu ini menunggumu lho....
^^^Vivian Scarlett^^^
Usai membaca surat itu seketika Chloe merasa tertohok setelah menemukan kata 'Pengantin' terselip disana. Pandangannya berubah horror sekaligus panik disaat bersamaan.
"Apa-apaan wanita gila ini? Dia bilang Ivy pengantinku, Yang benar saja? Setidaknya aku masih normal secara fisik dan batin tau!" Pikir Chloe sebal karna Vivian seenaknya menyimpulkan bahwa Ivy adalah pengantinnya.
Tak berselang lama ia kembali menggeleng. "Ah sudahlah, Keselamatan Ivy lebih penting saat ini,"
Chloe membalikkan surat tersebut hingga ia menemukan alamat tempat dimana Vivian membawa Ivy. Tanpa pikir panjang Chloe segera menuju alamat itu sambil membawa ransel serta buku milik Ivy.
"Ivy, Bertahanlah. Aku akan menyelamatkanmu dari wanita gila itu!"
******************
[Di sebuah gedung kosong]
Tap! Tap! Tap!
"Hosh...Hosh...Hosh...,"
Chloe berhenti di depan gerbang sebuah gedung tak berpenghuni, Gedung itu menjulang tinggi hingga menutupi sinar mentari, Sesaat Chloe mendongak menatap gedung dihadapannya sembari menyeka keringat yang mengalir di keningnya. Berusaha mengisi paru-parunya yang kehabisan oksigen.
"Apa benar Ivy dibawa kesini? Bagaimana kalau dia menipuku?" Gumam Chloe ragu masih memandangi gedung dihadapannya.
Beberapa detik kemudian kedua tangannya terkepal, Sejenak ia memejamkan mata. Kata-kata ancaman Revan dan permintaan para Michelle bersaudara yang memintanya melindungi Ivy entah kenapa terlintas di pikirannya.
"Ivy itu meski dia lemah, Tapi dia sangat disayangi keluarganya. Jika terjadi sesuatu pada Ivy, Aku akan merasa sangat bersalah telah mengingkari janjiku pada Michelle bersaudara," Pikir Chloe murung, Kedua tangannya masih terkepal hingga ia kembali menatap gedung itu.
Sesaat Chloe menghembuskan napas, Dengan langkah mantab dia mendekati gedung tersebut. Memasuki dengan tekad kuat bahwa apapun yang terjadi dia harus membawa Ivy pulang.
***************
Tap! Tap! Tap!
Sunyi, Senyap, Lembab, Berantakan. Mungkin itulah yang Chloe gambarkan dari tempat tersebut. Suara lantai marmer yang menggema ketika ia menjejakkan kaki terdengar sampai langit-langit gedung. Sesaat gadis bersurai biru itu meneguk selivanya susah payah.
"Dilihat tinggi gedung ini dari luar tadi, Kutebak pasti mempunyai 3-5 lantai. Jika aku menaiki tangga pasti akan memakan banyak waktu," Pikir Chloe sembari memandang sekitarnya.
Pandangannya berhenti pada sebuah lift di ujung ruangan, Chloe perlahan mendekati lift tersebut dan menekan tombolnya beberapa kali.
Sayangnya tidak ada pergerakan apapun dari lift tersebut, Chloe kembali menghela napas.
"Daya listriknya tidak ada, Gedung ini sudah terlalu tua untuk beroperasi," Katanya pelan sambil menjauhi lift dan melangkah menaiki anak tangga di dekatnya.
Tap! Tap! Tap!
Chloe sudah memastikan di lantai 1 tidak ada apa-apa selain kekosongan, Sesampainya dilantai 2 kondisinya tidak jauh beda dari lantai 1 hanya saja disini terdapat beberapa barang kusam yang tertinggal. Entah itu meja, Kursi, ataupun tumpukan kayu patah.
Dia melangkah mengintari ruangan lantai 2. Bergumam kecil pada dirinya sendiri. "Tidak ada paku kan disini?"
Tak lama Chloe menghentikan langkahnya, Tiba-tiba bulu kuduknya meremang. Entah kenapa dia merasa seperti diawasi, Namun tidak ada siapa-siapa disana selain dirinya.
Gadis itu menggeleng cepat, Dan bergegas menaiki anak tangga menuju lantai 3. Sampai dilantai 3 bulu kuduknya semakin meremang, Bukan karena merasa diawasi lagi tapi karena kondisi lantai 3 yang begitu buruk dibanding lantai-lantai sebelumnya.
Banyak sampah dan lumut bertebaran dimana-mana, Belum lagi banyaknya sarang laba-laba dan tikus yang berkeliaran disana. Dengan ekspresi menahan mual karna tidak tahan dengan aroma busuk dari sampah-sampah yang bertebaran, Chloe bergegas menaiki tangga menuju lantai selanjutnya.
Mana mau dia berlama-lama dilantai 3 yang kondisinya sudah seperti tempat pembuangan sampah, Uh menjijikan sekali.
Chloe sampai di lantai 4, Napasnya mulai tak beraturan. Dengan pandangan lelah dia menatap kondisi lantai 4 yang cukup bersih namun kosong tidak ada benda apapun yang tertinggal disana. Tapi setidaknya lantai ini sedikit lebih baik dari lantai sebelumnya.
__ADS_1
Tanpa berkata apapun sang gadis melanjutkan langkahnya, Menaiki lantai terakhir dari gedung ini. Sesampainya di lantai 5, Chloe dikejutkan dengan keberadaan Vivian yang sedang merias seseorang entah itu patung atau orang asli.
Chloe menyipitkan matanya berusaha melihat sosok yang dirias Vivian lebih jelas, Sosok itu memakai gaun pengantin. Surai ungunya terlihat semakin indah ketika dipadukan dengan gaun itu, Namun sayang pandangan netra biru safir itu begitu redup, kosong, dan penuh kehampaan seperti sudah kehilangan jiwanya.
Tak lama kemudian Chloe tersentak setelah menyadari siapa sosok yang dirias oleh Vivian. Ia berseru kaget. "Ivy!"
Mendengar suara familiar didekatnya menarik perhatian Vivian dari Ivy, Netra merahnya menatap Chloe yang berdiri didekat anak tangga. Senyum simpul tersungging dari wanita itu.
"Akhirnya kau datang, Waktunya pas sekali," Vivian menoleh menatap Ivy disampingnya yang hanya diam tak bergerak. "Lihatlah maha karyaku, Indah sekali bukan? Kulitnya sangat mulus seperti kulit bayi, Lalu wajahnya juga sangat cantik. Cocok dipadukan dengan gaun pengantin ini kan,"
Chloe mengepalkan kedua tangannya, Netra birunya menatap tajam Vivian. "Apa yang kau lakukan pada Ivy?! Kau ingin menjadikannya patung pengantin?!"
Vivian menyerigai kemudian tertawa senang. "Hihihi, Tebakanmu benar sekali. Sayang kan kalau wajah cantik ini harus disia-siakan,"
"Kembalikan Ivy seperti sebelumnya!"
Tangan Vivian terulur mengusap sekilas pipi Ivy, Merasa kagum dengan hasil karyanya sendiri. Kemudian ia kembali menatap Chloe yang menahan amarah sembari menyerigai. "Oh benar, Dia kan Pengantinmu, Sudah sewajarnya kau marah,"
JJDDEERR!
Seakan ada petir disiang bolong yang muncul, Chloe kembali merasa tertohok ketika Vivian menyebut Ivy sebagai pengantinnya. Sungguh ia merasa sangat kesal sekarang.
"Wanita gila ini benar-benar menyulut emosi, Aku tidak tahu apa yang dia rencanakan. Tapi aku harus tetap berhati-hati agar tidak terkena jebakannya," Pikir Chloe masih menatap tajam Vivian.
Vivian melangkah mendekat beberapa meter dihadapan Chloe, Kini sebuah pedang muncul di tangan kanannya. "Jika kau ingin mengambilnya, Kau harus bisa melewatiku. Kalau tidak dia akan selamanya menjadi patung pengantin,"
Deg!
Pandangan Chloe beralih menatap Ivy sesaat, Sejak tadi tidak ada pergerakan sama sekali dari Ivy. Dia terus berdiri diam dengan pandangan kosong, Jika Ivy terlalu lama seperti itu bisa saja dia akan benar-benar berubah jadi patung tanpa jiwa.
"Ini tidak boleh dibiarkan, Kalau seperti ini terus bisa-bisa Ivy...," Chloe menggigit bibir bawahnya tanpa sadar, Rasa cemas dan khawatir muncul dalam dirinya. Kembali kata-kata Revan dan para Michelle bersaudara terlintas di pikirannya.
Tak berselang lama sebuah pedang muncul di tangan kanan Chloe, Gadis itu segera bersiaga sembari menatap tajam. "Akan kuladeni, Bahkan sampai kau memohon ampun,"
"Tch! Sombong sekali," Kata Vivian geram, Secepat kilat dia langsung menyerang Chloe.
TRANG! TRANG!
Pedang kedua seketika beradu cepat, Saling mencoba melukai satu sama lain. Vivian terus menyerang membabi buta, Berusaha mencari celah untuk melukai Chloe.
WWUUSSHH!
Chloe menggunakan teleport nya hingga berada dibelakang Vivian, Tanpa menunggu lama ia langsung mengayunkan pedangnya. Namun sayang Vivian menyadari hal itu, Dengan gesit dia menangkisnya.
TRING!
Chloe bersiaga kembali begitu pun Vivian, Selama ini Chloe tidak tahu kekuatan Chloe Amberly yang asli apa. Dia hanya mengandalkan pedang miliknya tanpa mengetahui kekuatan apa yang berada di pedang ini.
"Kalau begitu aku akan mencobanya sendiri," Pikir Chloe sambil berlari mendekati Vivian.
TRING! TRING!
"Ice shards,"
WOSSSHH!
Beberapa es runcing tiba-tiba muncul dari balik lantai yang dipijak mereka, Vivian yang masih menahan serangan Chloe terkejut karna tidak sempat menghindar dari es-es runcing itu. Alhasil beberapa bagian tubuhnya tertusuk es ketika es runcing terbang ke arahnya.
Tapi Vivian masih bertahan meski beberapa begian tubuhnya yang terkena es berdarah. Perlahan ia kembali berdiri.
"Aku tidak akan kalah!"
WWUUSSHH!
TRING!
"Akh...!"
BRUK!
Chloe terkena tusukan pedang Vivian dibagian pundaknya, Membuat darah mengalir mengenai pakaiannya. Perlahan Chloe merasa tenaganya terkuras.
"Padahal cuma terkena sedikit tusukan, Tapi entah kenapa tubuhku begitu sakit," Pikir Chloe menahan sakit di tubuhnya.
Begitu pun dengan Vivian, Napasnya terengah-engah. Perlahan Chloe mengulurkan tangannya tepat dihadapan Vivian, Fokus mengendalikan es yang masih menempel di tubuh gadis bersurai silver itu.
"Mass freeze,"
KKRRAAKK!
"AARRGGHH! Sialan kau!"
Vivian berteriak kesakitan saat es runcing yang menempel terserap ke dalam tubuhnya, Seketika membuat tulang di dalam tubuhnya seakan membeku. Membuat Vivian hampir tak bisa bergerak.
__ADS_1
Chloe mengambil pedangnya yang tergeletak, Perlahan mendekati Vivian bersiap mengayunkan pedangnya. Dengan langkah tertatih, Chloe berniat memenggal kepala Vivian.
WWUUSSHH!
Vivian hanya bisa pasrah saat pedang Chloe berayun ke arahnya, Tapi sebelum itu terjadi sebuah hembusan angin kencang menerjang Chloe hingga membuat tubuh gadis itu terpental sampai membentur tembok.
BRAK!
"Uhuk!...Uhuk...!"
Sang gadis memuntahkan darah segar dari mulutnya, Tubuhnya seakan remuk setelah mendapat hantaman yang cukup keras di punggungnya. Chloe mendongak menatap sosok yang melindungi Vivian.
Liam berdiri tepat dihadapan Vivian, Wajah datar tanpa ekspresi menatap dingin pada Chloe. Netranya yang berwarna merah terang menunjukkan tatapan marah sekaligus dendam.
Liam berjongkok disamping Vivian, Memeluk wanita itu. "Tuan, Biar saya saja yang melenyapkan gadis itu. Kondisi Tuan sangat tidak memungkinkan untuk bertarung dengannya,"
Sejenak Vivian mencengkeram pakaian Liam dengan napas yang tak beraturan, Kondisinya melemah setelah bertarung dengan Chloe.
"Tidak perlu Liam, Untuk hari ini kita mundur. Bawa aku pulang," Pinta Vivian dengan nada lemah.
"Baiklah...," Liam hanya menunduk kecil sesaat, Kemudian netra merahnya kembali menatap Chloe dengan tatapan tajam dan dingin.
"Awas saja kau! Setelah bertemu lagi aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" Kata Liam dingin bersama aura mencekam mengintari tubuhnya.
Setelah memberikan kata-kata ancaman, Liam lantas menggendong Vivian ala Bridel style lalu menghilang dari sana meninggalkan kelopak-kelopak bunga lily yang terbang terbawa angin.
Chloe hanya diam, Merasa luka diseluruh tubuhnya bertambah parah. Sesaat dia kembali batuk, Kemudian perlahan melangkah tertatih mendekati Ivy yang masih berdiri diam bak patung tanpa jiwa.
"Ivy...Sadarlah...," Pinta Chloe lirih setelah sampai dihadapan Ivy, Dia menepuk pelan pipi gadis bersurai ungu itu agar sadar.
Tak lama Chloe merasakan pergerakan dari Ivy, Namun setelahnya Ivy tiba-tiba terjatuh yang membuat Chloe refleks menangkap Ivy sebelum tubuh Ivy membentur lantai.
"Ivy!"
Bruk!
"Ivy...Sadarlah Ivy...," Chloe kembali menepuk pipi Ivy dengan panik, Berharap Ivy sadar secepatnya.
Perlahan Ivy mulai bergerak, Ia mengerjapkan matanya sembari menatap sekeliling mereka. Kemudian tatapan beralih pada Chloe yang menatapnya cemas, Sadar bahwa kini ia berada dalam pangkuan gadis bersurai biru itu. Tanpa peringatan Ivy tiba-tiba memeluk pinggang Chloe erat, Sambil terisak.
"Chloe...hiks...Aku takut sekali...,"
"Ivy, Tidak apa-apa. Aku disini," Perlahan Chloe memeluk Ivy balik, Mengusap punggung gadis itu menenangkan.
"Hiks...Wanita itu mengerikan," Ivy menenggelamkan wajahnya di pakaian Chloe, Tubuhnya gemetar takut, Tangannya berkeringat dingin saking takutnya.
"Wanita itu sudah pergi, Kau aman sekarang," Balas Chloe tersenyum tipis, Meski kini kepalanya mulai agak pusing karna luka yang didapatnya.
Ivy masih terus menangis tanpa melepas pelukannya, Dan Chloe hanya membiarkan hal itu sampai Ivy tenang. Setelah beberapa menit puas menangis. Ivy melepas pelukannya, Kini hanya tertinggal jejak tangisan dan mata bengkak di wajahnya.
Tangan Chloe terulur mengusap jejak sisa tangisan Ivy di wajah gadis bersurai ungu itu, Ia tersenyum tipis.
"Sekarang sudah lebih baik kan?"
"Iya, Maaf membuat pakaianmu basah Chloe," Kata Ivy malu menyadari pakaian Chloe basah karna tangisannya.
"Tidak masalah, Nanti bisa dicuci lagi," Chloe menggeleng pelan.
Sejenak Ivy memandang penampilan Chloe sampai akhirnya dia terkejut menyadari bercak darah yang menempel di pakaian sang gadis, Terlebih pundak Chloe yang tampaknya terluka cukup parah. Seketika Ivy menjadi panik.
"Chloe pundakmu berdarah! Kita harus ke rumah sakit, Nanti lukanya bisa infeksi!" Ivy bergegas merobek sebagian gaun pengantin yang dikenakannya lalu segera membalut luka Chloe dengan kain itu, Agar menekan darahnya untuk tidak keluar terus menerus.
"Nanti saja, Saat ini yang lebih penting adalah mengantarmu pulang,"
"Chloe tapi lukamu...,"
"Ivy, Dengarkan aku. Aku memiliki kekuatan healing, Jadi luka ini tidak seberapa bagiku. Lukanya bisa sembuh sendiri kok," Jelas Chloe sambil tersenyum, Berusaha meyakinkan Ivy.
"Ukh...!" Ivy tak bisa berkata apa-apa lagi, Pandangannya terus menatap cemas Chloe. Kemudian dengan pasrah ia mengangguk kecil. "Baiklah,"
"Tapi bagaimana caranya aku pulang dengan pakaian begini? Lagipula sejak kapan aku pakai gaun pengantin?!" Ivy menatap horror gaun pengantin yang dipakainya, Sedangkan Chloe hanya tertawa pelan.
"Ini ulah Vivian, Wanita yang kau temui tadi,"
"Kau mengenalnya?"
"Ya, Bukan sebagai teman tapi musuh. Tapi seperti kita pulang dulu, Akan kuceritakan nanti," Chloe mengambil ranselnya dan ransel Ivy, Kemudian mengambil sesuatu dalam ranselnya.
"Ini kau pakai dulu baju olahragaku, Kebetulan aku bawa baju olahraga. Karna hari ini jadwalku olahraga tadi, Jadi kau pakai dulu," Chloe menyodorkan pakaian olahraganya pada Ivy.
"Baiklah, Tapi bagaimana kau menutupi lukamu?"
"Tenang, Aku bawa jaket kok,"
Ivy hanya mengangguk setelahnya dia mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga milik Chloe, Selama Ivy berganti pakaian. Chloe hanya membalikkan badannya.
__ADS_1
Usai urusan ganti baju, Mereka berdua bergegas pergi dari gedung itu sebelum hari semakin gelap.
TBC