System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Kabar buruk


__ADS_3

Di sebuah ruangan seseorang tampak sedang fokus menulis sesuatu di secarik kertas, Netranya tak pernah lepas dari tulisan miliknya. Setelah selesai ia menyimpan kertas itu dalam sebuah amplop dan menutupnya dengan rapat lalu menyimpannya dalam laci meja kerjanya.


Tok! Tok! Tok!


Mendengar suara ketukan pintu ia mendongak pelan sembari berseru. "Masuklah!"


CKLEK!


Tap! Tap! Tap!


Ezra mendekati meja Justin sambil menyerahkan setumpuk dokumen dan sepotong kue.


"Ini kue dari Aiden, Dan ini sisa dokumen dari kantor,"


"Baiklah, Makasih sudah mengantarnya Ezra," Balas Justin mengambil sepotong kue miliknya lalu melirik bodyguardnya itu. "Kau tidak ikut makan?"


"Aku sudah memakannya tadi," Ezra terdiam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. "Kalau begitu aku permisi,"


"Hm...Pergilah,"


Setelah mendapat izin dari Justin kakinya segera melangkah keluar dari ruangan itu.


BLAM!


CLEK!


"Aku pulang,"


Disaat bersamaan Ezra melihat Devian yang baru saja pulang dari arah ruang tamu, Pemuda bersurai hitam itu mendekati Devian yang baru selesai melepas sepatunya dan menggantinya dengan sendal asrama.


"Dari mana saja? Kenapa baru pulang jam segini?" Tanya Ezra datar sembari melirik jam arlojinya yang menunjukkan pukul 3 sore.


Devian yang mendapat pertanyaan tiba-tiba dari Ezra tersenyum lebar. "Aku cuma dari rumah keluargaku kok, Ayahku tiba-tiba menelpon dan meminta bantuanku jadi pulangnya agak lama,"


"Tumben kau menanyakan hal seperti itu padaku?," Sejenak Devian terdiam kemudian ia mengerling jahil sembari kembali tersenyum. "Oh aku tahu, Kau pasti rindu padaku kan? Hahaha sudah kuduga satu hari aku tidak berada di asrama, Kalian pasti sudah merindukanku termasuk kau Ezra,"


Seketika keningnya mengerut tak senang saat Devian tertawa dan dengan pedenya menyebut dirinya rindu dengan pemuda bersurai hitam kecoklatan itu. Alhasil Ezra mengangkat tangan kanannya dan langsung memberikan bogem mentah pada Devian.


BUAK!


"Sinting! Otakmu tuh miring. Siapa yang rindu padamu hah! pede sekali. Aku cuma bertanya, Tch!" Ezra mendengus sinis sembari belalu melewati Devian.


"Aduh! Aku cuma bercanda, Serius sekali," Cibir Devian memegangi kepalanya yang berdenyut habis dipukul Ezra, Ia hanya memandang kepergian pemuda bersurai hitam itu dalam diam.


Diam-diam dirinya bergumam pelan setelah Ezra hilang dari pandangannya. "Cih! Dia lebih galak dari yang kubayangkan,"


*****************


[Malam harinya]


Satu persatu anggota asrama berjalan menuju kursi masing-masing untuk makan malam. Devian berjalan beriringan bersama Ian, Ia mendekat pelan lalu merangkul leher pemuda bernetra merah itu.


"Hei Ian sahabat baikku," Sapa Devian dengan senyum lebarnya secara bersamaan mengeratkan rangkulannya.


Ian yang merasa risih dengan sikap Devian berusaha melepaskan rangkulan sang pemuda sambil mendengus sinis. "Kau ini kenapa sih?! Tidak biasanya begini,"


"Kok begitu? Aku kan cuma berusaha agar dekat dengan kalian. Lagipula aku jarang berada di Asrama ini,"


"Kau aneh," Cibir Ian kembali melepaskan rangkulan Devian secara paksa. "Lepaskan!"


Devian cemberut setelah terpaksa melepaskan rangkulannya, Ia mendudukkan dirinya di kursi tepat berhadapan dengan Chloe lalu menopang dagunya dengan tangan sambil tersenyum menatap sang gadis.


Chloe mengaduk mie nya agar bumbunya rata, Merasa diperhatikan ia menatap balik Devian dihadapannya dengan ekspresi bingung.


"Kenapa Devian menatapku begitu?"


"Bukan apa-apa, Pengen aja," Devian masih tersenyum hal itu membuat Felix disampingnya heran.


"Sepertinya hari ini kau begitu bahagia," Felix menyenggol pelan lengan Devian membuat sang empunya menoleh.


"Yah begitulah,"


"Kau aneh," Celetuk Raizel sambil mengunyah udangnya.


"Benar," Balas Rion ikut menyetujui.


"Aneh kenapa?" Perhatian Devian beralih memandang Raizel dan Rion bergantian.


"Ya...Kau tidak seceria ini biasanya," Balas Raizel ikut merasa aneh.


"Hahaha, Benarkah? Padahal aku cuma ingin terbuka dengan kalian,"


"Sudah kubilang otaknya sedang miring saat ini," Ezra mendengus kecil sembari mengunyah sayurnya.


Justin yang mendengar sindiran Ezra langsung menyenggol lengan bodyguardnya itu memberi peringatan.


"Ezra, Jangan memulai pertengkaran lagi!" peringat Justin lalu ia menoleh pada Devian sambil tersenyum tipis. "Begitu ya, Senang melihat perubahanmu yang lebih terbuka di banding dulu. Pertahankan ya,"


Ezra hanya mendengus kecil berbeda dengan Devian yang tersenyum lebar sembari mengangguk.


"Tentu saja,"


Chloe dan Aiden memilih diam menyimak pembicaraan itu, Setelahnya Chloe meletakkan sendok dan garpunya di piring menandakan dirinya sudah selesai makan. Ia berdiri meranjak dari kursinya.


"Aku sudah selesai,"

__ADS_1


"Cepet banget, itu laper atau rakus?" Ucap Raizel terkekeh pelan menatap ekspresi cemberut Chloe.


"Laper, Kalian aja yang makannya lama. Oh ya, Kalian mau coklat gak?" Tawar Chloe menatap teman-temannya satu persatu.


"Kalau coklatnya dari Chloe sih aku mau banget," Kata Devian dengan senyum lebar.


"Terserah," Balas Ian dan Ezra bersamaan usai selesai makan.


"Aku mau!" Rion dan Raizel dengan antusias mengangguk kecil.


"Boleh sih, Pas banget buat pencuci mulut," Felix ikut mengangguk.


"Ikut aja," Balas Justin dan Aiden bersamaan.


Chloe tersenyum senang setelahnya ia bergegas menuju kulkas lalu mengambil beberapa batang coklat dari freezer. Setelahnya ia meletakkan coklat itu satu persatu pada semua anggota termasuk dirinya.


"Coklat ini kau yang buat kan Chloe?" Raizel memegang batang coklat bagiannya sambil menunjukkan coklat itu pada Chloe.


"Gak, coklat-coklat ini dikasih sama Kak Ash. Kebetulan coklat-coklat ini dari Fans nya jadi karena lokernya penuh sama coklat dia kasih sebagian ke aku. Ya udah kuterima aja lumayan bisa dibuat kue coklat," Balas Chloe enteng memakan coklat bagiannya tanpa menyadari aura suram dari Raizel, Ian, Rion, dan Felix.


"Siapa Ash?" Tanya Aiden ikut memakan coklat bagiannya.


"Salah satu anggota HE@VEN selain Ian dan Raizel," Balas Justin melirik Ian dan Raizel yang masih berekspresi suram.


"Kalau kalian gak mau makan coklatnya, Mending kasih ke aku," Kata Devian melirik coklat di tangan Felix.


"Nih, Habiskan saja," Felix tanpa berselera menyerahkan coklat bagiannya pada Devian.


Chloe memutar bola matanya bosan, Melangkah pergi dari area dapur menuju kamarnya.


"Aku duluan, Selamat malam semuanya,"


"Selamat Malam,"


****************


TOK! TOK! TOK!


"Masuklah!"


CKLEK!


"Ada apa memanggil kami kesini?" Devian melangkah tenang menghadap meja kerja Justin diikuti Rion.


Jarinya dengan lihai menekan tombol-tombol keyboard dengan serius lalu mendongak ketika mendengar suara Devian.


"Aku mendapat info dari bawahan kalian kalau terjadi kerusuhan di dekat gedung J.G, Mereka memakai jubah merah dan mengaku-ngaku sebagai geng Black Devil yang asli. Kemunculan mereka meresahkan warga sekitar," Jelas Justin sembari menatap serius.


"Aku ingin kalian menyelesaikan masalah ini, Kemungkinan mereka adalah Black Devil gadungan," Tambah Justin sambil mengirimkan lokasi tempat kerusuhan itu terjadi ke jam arloji milik Devian dan Rion.


"Berani sekali mereka ngaku-ngaku sebagai Black Devil yang asli, Akan kuhajar mereka sampai memohon ampun padaku," Devian mengepalkan kedua tangannya tak terima gengnya dibuat main-main oleh kelompok lain yang tak tahu asal usulnya.


"Sudahlah ayo beraksi, Kau bisa menghajar mereka sampai puas setelah tiba disana," Rion menepuk pundak Devian pelan lalu kembali menatap Justin. "Kami pergi dulu,"


"Ya, Berhati-hatilah,"


Devian dan Rion mengangguk kecil lalu keduanya segera pergi dari ruangan Justin.


BLAM!


Disaat bersamaan mereka berpapasan dengan Chloe yang berniat menuju dapur untuk minum, Menyadari Rion dan Devian baru saja keluar dari ruangan Justin. Chloe segera mendekati keduanya.


"Kalian ingin kemana dengan pakaian seperti itu?" Chloe memperhatikan pakaian hitam dan jubah hitam milik Rion dan Devian.


"Biasa, Kami akan menjalankan misi sekarang," Balas Devian dengan senyum lebar menenteng kunci motornya.


"Ya, Malam ini sepertinya akan terjadi kerusuhan yang besar, Maka dari itu kami akan pergi untuk menyelesaikannya," Rion mengangguk kecil setuju dengan perkataan Devian.


"Begitu ya," Chloe menunduk kecil, Dirinya tak tenang setelah mendengar mereka akan pergi untuk menyelesaikan misi. "Kalau begitu hati-hatilah di sana, Kami menunggu kalian pulang,"


"Tentu saja kami akan kembali," Rion tersenyum senang mendapat perhatian dari sang gadis, Chloe ikut membalas senyum Rion.


Sedangkan Devian mengancungkan jempolnya lalu melangkah lebih dulu melewati keduanya. "Ayo Rion, Misi sudah menunggu kita,"


Rion mengangguk kecil setelah ia pamit pada Chloe, Dirinya segera menyusul Devian yang sudah pergi lebih dulu.


****************


Dua motor melaju dengan kecepatan tinggi melewati jalan raya membelah angin malam, Jalanan yang sunyi membuat keduanya lebih leluasa untuk saling mendahului. Hingga akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju.


Rion mematikan mesin motornya lalu melepas helm diikuti Devian, Setelahnya ia melangkah mendekati lokasi sesuai map dari jam arlojinya.


"Dimana kerusuhan itu terjadi? Titik lokasinya menunjukkan mereka berada disini tapi kenapa tempat ini kosong?" Tanya Rion heran menatap sekitar mereka yang begitu sepi tanpa ada seorang pun yang lewat.


"Mungkin kerusuhan itu sudah selesai," Balas Devian ikut menatap jam arloji Rion. "Bagaimana kalau kita berpencar? Kemungkinan jika titik lokasinya disini bisa saja mereka belum pergi terlalu jauh,"


"Ide bagus, Kita akan mematai-matai mereka dulu sebelum beraksi,"


"Ya, Kalau begitu aku akan ke arah sini dan kau kesana,"


"Oke,"


Keduanya segera berpencar menuju lokasi masing-masing mencari sekelompok orang-orang berjubah merah.


*************

__ADS_1


TAP! TAP! TAP!


Rion berlari meloncati pagar pembatas yang menghalangi jalannya, Ia sampai di sebuah lapangan kosong. Semilir angin malam menerbangkan ujung jubah hitam miliknya perlahan.



Netra beriris hijau itu menatap sekitarnya penuh teliti hingga kembali menatap posisinya yang sudah agak jauh dari posisi titik merah tempat tujuan mereka.


"Ck! Sial. Bisa-bisanya mereka kabur sebelum kami datang," Decih Rion sembari berjalan pelan memeriksa setiap sudut lapangan tersebut.


Tak lama netranya tak sengaja menangkap sebuah cairan merah kental berada di tanah, Ia mendekati cairan itu sembari berjongkok dan mencoba menebak aromanya.


"Amis sekali, Jangan-jangan darah?!" Gumam Rion terkejut menyadari ia mendapat satu petunjuk.


Rion berniat menghubungi Devian untuk memberitahukan petunjuk itu namun belum sempat menghubungi, Dari arah samping tiba-tiba seseorang menendang kepalanya begitu keras. Refleks Rion langsung menjauhkan tubuhnya dari tempatnya berdiri sambil memegangi kepalanya yang agak berdenyut.


"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau menyerangku?!" Bentak Rion marah menatap sosok bertopeng dengan jubah merah dihadapannya. Karna sosok itu memakai topeng membuat Rion tidak bisa melihat wajahnya secara jelas.


Seketika Rion terdiam menyadari jubah merah yang dipakai sosok tersebut, Ia teringat dengan sekelompok orang-orang berjubah merah yang ngaku-ngaku sebagai geng Black Devil yang diceritakan Justin.


"Dia...Mungkin salah satu dari sekelompok orang-orang berjubah merah itu, Aku tidak boleh lengah," Pikir Rion menatap penuh waspada.


Wuusshh!


Sosok itu hanya diam, Dia malah berlari gesit menuju Rion saking cepatnya membuat sang pemuda hampir tak melihat gerakan sosok tersebut dengan jelas.


Wuusshh!


Rion berkelit saat sebuah balok kayu hampir mengenai tubuhnya, Tak mau kalah ia juga menggunakan senjata miliknya yang berupa pipa besi, Dengan sekuat tenaga Rion memukul kepala sosok itu hingga balok kayu di tangannya terlempar jauh.


"Kuat juga ternyata," Kata sosok tersebut tersenyum dari balik topengnya, Ia mundur beberapa meter.


Tak lama tiba-tiba beberapa rantai besi muncul dari balik punggungnya dan bergerak seperti ular menuju arah Rion. Seketika netra hijaunya membulat kaget.


"Tidak mungkin! Dia...Bukan manusia biasa, Dia juga memiliki kekuatan sama seperti Aiden," Pikir Rion terkejut, Tangannya menggenggam pipa besi dengan erat.


Namun rantai-rantai itu sudah terlanjur mengikat kedua kakinya dengan kuat, Refleks Rion memukul rantai-rantai tersebut berusaha melepaskan diri sayangnya usahanya sia-sia. Rantai lainnya bergerak cepat menahan kedua tangan serta tubuhnya, Dan rantai-rantai itu juga mengambil sanjata Rion, Serta membelit leher sang pemuda hingga kesulitan bernapas. Rasa panas memenuhi seluruh tubuhnya yang berasal dari rantai-rantai tersebut.


Sosok dihadapannya tertawa kencang melihat Rion menderita. "Hahaha! Lihatlah, Kau seperti serangga yang tidak berguna saat sudah terjebak di jaring laba-laba,"


"S-Siapa Ka-u sebe-narnya?!" Kata Rion berbata-bata berusaha tetap mempertahankan oksigen dalam paru-parunya yang mulai menipis.


"Ssstt...Kau tidak perlu tahu, Nanti ada saatnya kau bebas," Sosok tersebut mengambil pipa besi milik Rion yang sudah dia ambil sebelumnya lalu perlahan ia mengubah ujung pipa itu menjadi runcing layaknya pensil.


TRING!


Bunyi rantai yang mengikatnya begitu memekakkan telinga, Rion memberontak berusaha melepaskan diri. Tapi apa daya rantai dilehernya semakin erat mencekiknya, Perlahan tubuh Rion mulai lemas.


"Percuma saja, Usahamu akan sia-sia," Sosok itu mendekati Rion lalu mengarahkan sudut runcing pipa besi di tangannya pada sang pemuda.


Rion menggeleng lemah, Berseru lirih karna ia tak punya tenaga lagi untuk memberontak. "Ja-Jangan..."


"Hahahaha!"


Sosok itu hanya tertawa, Ia merebut paksa jam arloji milik Rion lalu menghancurkannya dengan sekali genggaman hingga hancur berkeping-keping. Setelahnya pipa besi itu dia tusukkan pada dada sang pemuda tepat di jantung.


CRASS!


JLEB!


Rion memuntahkan seteguk darah segar, Perlahan cairan merah kental itu keluar dari mulutnya. Dia tak bisa lagi merasakan detak jantungnya, Yang Rion rasakan hanyalah rasa sakit dan panas di tubuhnya.


Sosok itu mendekatkan wajahnya tepat disamping kuping Rion dan berbisik pelan disana.


"Go to sleep forever,"


***************


[Keesokan paginya]


Justin menatap fokus layar laptopnya, Jari-jarinya dengan lihai menekan-nekan tombol keyboard sedang mengerjakan sesuatu. Sedangkan Ezra disampingnya sedang fokus mengerjakan beberapa dokumen kantor.


Tak lama Handphone milik Justin bergetar dan membuat sang empunya menghentikan aktivitasnya sementara. Justin menatap handphone nya sesaat menyadari ia mendapat telepon dari nomor tak dikenal.


Setelahnya ia mengangkat panggilan tersebut sembari menyeruput teh miliknya.


"Ya, Saya Justin Garfield. Bapak siapa?"


"......"


"Dari pihak kepolisian? Ada perlu apa dengan saya?"


"......"


Setelahnya Justin tidak menyahut lagi, Tangannya tiba-tiba gemetar. Ekspresinya terlihat sangat syok dan tak percaya.


Ezra menyadari ada yang tidak beres dengan tuannya langsung mendekati Justin dengan cemas, Memegang pundak Justin meminta penjelasan.


"Tuan anda tidak apa-apa–"


Belum sempat Ezra menyelesaikan kalimatnya, Tiba-tiba saja Justin menjatuhkan Handphone nya. Sontak Ezra menangkap Handphone Justin dengan gesit sebelum hancur mengenai lantai.


"Tuan–"


"Rion...," Tubuh Justin semakin gemetar sembari mencengkeram erat meja kerjanya, Membuat Ezra ikut terdiam syok setelah mendengar perkataan Justin selanjutnya. "Dia...Meninggal...?!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2