
Chloe mencuci peralatan makan usai mereka sarapan, Tentunya seorang diri karna Ezra sudah kembali ke kamarnya tanpa membantu Chloe.
Setelah selesai ia mengeringkan tangannya dan membersihkan meja makan yang sedikit berantakan.
SRET!
TAP!
Usai menyelesaikan pekerjaannya sang gadis melangkah pergi menuju kamarnya, Tak lupa ia menutup pintu dapur sebelum pergi.
**********
TAP!
Netra beriris biru samudra miliknya melirik pintu kamar Ian yang berhadapan dengan kamarnya, Sesaat ia mengurungkan niat untuk masuk ke kamarnya. Perlahan Chloe mendekati kamar Ian, Membuka pintu kamar tersebut dengan hati-hati.
Cklek!
Kkrreeiitt!
Langkah kakinya membawanya memasuki kamar itu, Chloe memandang sekeliling. Ruangannya agak berdebu dengan gorden yang menutupi jendela hingga cahaya matahari tak bisa memancarkan sinarnya memasuki kamar itu. Pandangannya tertuju pada sebuah lukisan yang terpasang di sudut ruangan, Chloe lantas mendekati lukisan itu. Memandangnya lebih dekat.
Seketika kilas balik tentang lukisan itu memasuki ingatannya, Ya Chloe mengingatnya itu adalah lukisan sewaktu mereka masih bersekolah di Guard High School saat pelajaran melukis. Chloe memberikan lukisan itu pada Ian saat mereka berdua belum saling mengenal satu sama lain, Karna saat itu Ian masih berstatus siswa baru.
Tangannya mengusap lukisan tersebut dengan lembut mengingat kenangannya bersama sahabat masa kecilnya itu. Senyum lembut tersungging di bibir sang gadis, Netra birunya memancarkan perasaan hangat saat menyentuh lukisan itu.
Sejenak ia menghembuskan napas, Chloe tak berniat mengambil lukisan itu kembali ia memilih membiarkan lukisannya terpasang di tempatnya. Chloe melangkah pergi meninggalkan kamar Ian, Menguncinya kembali.
Gadis bersurai biru itu memasuki kamarnya menuju sebuah laci yang tertutup rapat, Tangannya terulur tampak mencari sesuatu dalam laci tersebut. Setelah menemukan apa yang dia cari, Chloe segera mendudukkan dirinya di kasur.
Sebuah album foto berukuran sedang kini berada di tangannya, Sesaat ia mengusap album itu dan membukanya. Menampakkan foto-foto kenangan yang sengaja Chloe simpan disana.
Didalam foto-foto itu lebih banyak foto dirinya bersama anggota asrama termasuk foto saat mereka piknik bersama, Tidak ketinggalan foto Chloe bersama Alice dan Evelyn saat hari kelulusan mereka di Guard High School dan foto saat memasuki Universitas pilihan mereka.
Banyak kenangan yang menyenangkan bagi Chloe meski kenangan buruk juga ada. Puas melihat foto-foto itu, Chloe menutup buku album di tangannya lalu mendekapnya dengan erat. Kelopak matanya agak berat, Mungkin sudah jam tidurnya. Chloe menguap pelan sembari menutup mulutnya dengan punggung tangan, Netra birunya agak sayu.
Perlahan kelopak matanya terkatup rapat dan membaringkan tubuhnya di kasur, Tertidur nyenyak tanpa sadar membawa album foto itu dalam dekapannya.
**************
Tes! Tes! Tes!
Suara tetesan air menggema hingga penjuru ruangan, Chloe mengerjapkan matanya menyadari dirinya berada di tempat asing penuh dengan kegelapan. Kepalanya mendongak saat menyadari seseorang berdiri dihadapannya.
"Chloe, Aku ambil kembali ragaku sebentar. Ini penting, Kau serta teman-temanmu dalam bahaya!"
"Holy?! Tapi Pak Ezra dan Ian ada diluar sana. Aku harus menolong mereka!" Chloe berdiri hingga tingginya sejajar dengan Holy.
"Aku tahu, Maka dari itu aku muncul. Biar aku yang menghadapi Liam dan Vivian. Aku tahu kau kuat Chloe, Tapi kekuatanmu tidak akan cukup menghadapi mereka. Kau masih harus mengumpulkan kekuatanmu,"
"Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak bisa membiarkan mereka menghancurkan Ian dan Pak Ezra," Chloe sangat cemas dirinya benar-benar gelisah saat itu.
Holy berbalik membelakangi Chloe, Sebuah cahaya bersinar di tangannya membentuk sebuah bola kristal.
"Saat ini aku sedang mengendalikan ragaku, Aku akan berusaha sebisaku untuk menyelamatkan Ian dan Ezra," Holy memejamkan matanya, Tangannya tak lepas dari bola kristal yang ia pegang.
Sedangkan Chloe hanya berharap-harap cemas, Dia mendekati Holy untuk mengetahui situasi di luar sana. Sesaat netranya tak sengaja menangkap raut wajah Holy yang tampak menahan sakit meski matanya masih terpejam.
"Liam...Dia sangat kuat di luar dugaanku, Pedangku hampir tidak bisa menandinginya," Kata Holy memberitahu situasi di luar sana pada Chloe.
Jelas pemberitahuan itu semakin membuat Chloe kebingungan, Ia memandangi kedua tangannya.
"Apa yang harus kulakukan untuk membantu Holy? Kami hampir kalah menghadapi Liam," Pikir Chloe cemas melirik bola kristal di tangan Holy.
Kemudian dirinya teringat dengan setengah kekuatan Holy yang berada dalam dirinya, Segera Chloe meletakkan tangannya di pundak Holy.
__ADS_1
"Aku akan membantumu," Chloe ikut memejamkam matanya, Menyalurkan setengah kekuatannya pada Holy.
Awalnya Holy hampir kewalahan karna tenaga serta kekuatannya hampir menipis namun saat kekuatan Chloe tersalurkan padanya membuat tenaga serta kekuatan Holy kembali terisi. Senyum mengembang di bibir Holy.
"Terima kasih,"
Keduanya kemudian terfokus untuk mengalahkan Liam, Tidak ada yang bersuara lagi diantara keduanya. Kening Chloe mengerut dengan keringat dingin mengalir di keningnya, Kekuatannya hampir terkuras habis.
Disaat yang bersamaan sebuah gelombang magnet muncul secara tiba-tiba membuat Chloe terdorong beberapa meter dari Holy. Refleks Chloe memegangi dadanya dimana jantungnya berada, Rasa sakit itulah yang ia rasakan.
Sedangkan Holy refleks menjatuhkan bola kristal di tangannya hingga pecah saat gelombang itu muncul.
"Akh...!"
PPRRAANNGG!
Holy memberontak ketika sekujur tubuhnya mendadak sakit, Dia berteriak saat perlahan jiwanya menghilang menjadi serpihan-serpihan kecil.
"Holy!"
Chloe berdiri susah payah menghampiri Holy, Tangannya terulur berusaha menggapai tangan Holy.
"Chloe, Tolong–"
Tangan Holy ikut terulur ia memandang Chloe yang berusaha meraih tangannya, Namun terlambat jiwa Holy sepenuhnya menghilang meninggalkan Chloe sendiri disana.
BBRRUUKK!
"Holy.....Holy....!"
Chloe semakin mengeratkan cengkeramannya. Sesak, Napasnya begitu sesak tak terkendali. Rasa sakit yang tak tertahankan membuat tenaga Chloe semakin melemah, Pandangannya memburam sampai kegelapan menguasai sepenuhnya.
***********
WWUUSSHH!
Ia mendudukkan dirinya perlahan, Menggaruk tekuknya yang tidak gatal dengan kebingungan. Hamparan bunga yang sama saat dirinya berada di dalam dunia dimensi, Dimana tempat dirinya pertama kali bertarung dengan Aiden.
TAP! TAP! TAP!
SREK!
"Bagaimana keadaanmu?"
Mendengar suara langkah kaki dan sosok yang sudah berdiri dihadapannya membuat Chloe mendongak menatap sosok dengan netra ungu tua dihadapannya.
"Aku tidak tahu, Tapi kurasa aku baik-baik saja. Tadinya di sini sakit sekali, Sekarang sudah lebih baik," Chloe menepuk dadanya pelan.
Senyum tipis terukir di bibir pria bernetra ungu tua itu, Dia mendudukkan dirinya di hamparan bunga berhadapan dengan Chloe.
"Aku senang sekarang kau sudah baik-baik saja. Tadinya kau nyaris kehilangan nyawamu, Karna Holy diambil oleh Liam," Aiden menatap netra ruby Chloe lembut.
Tapi perkataan Aiden membuat Chloe terkejut. "Holy diambil oleh Liam?! Dia menghilang karna Liam memaksanya keluar dari ragaku. Jika seperti itu seharusnya aku sudah mati Aiden,"
Aiden menghembuskan napasnya, Netra ungunya agak meredup. Perlahan tangannya terulur mengusap surai hitam milik sang gadis, Mengacak pelan dengan senyum kecil tersungging di bibirnya.
"Memang tadinya kau seharusnya mati dan tidak akan pernah lagi bisa kembali ke dunia asalmu, Tapi aku sudah memutuskan yang terbaik untukmu," Aiden mengalihkan tangannya dari pucuk surai sang gadis, Ia meraih tangan Chloe dan menggenggamnya erat. "Kuputuskan untuk memberikan jantungku kepadamu, Dengan begitu kau masih mempunyai kesempatan untuk hidup dan menyelesaikan misimu,"
DEG!
"Setelah semuanya selesai kau bisa kembali ketempat asalmu," Senyum Aiden semakin mengembang namun berbeda dengan Chloe yang diam terpaku.
Seketika Chloe mencengkeram kerah pakaiannya, Tatapannya masih tertuju pada netra ungu Aiden. Suaranya tercekat nyaris tak bisa mengeluarkan pita suaranya. "Jadi...Jantung yang kugunakan ini...Milikmu Aiden?!"
Aiden mengangguk pelan sebagai jawaban, Tak mengeluarkan suara sepatah kata pun.
__ADS_1
"Dan kau menggantikanku?!"
Sang pria kembali mengangguk untuk ke-2 kalinya. Sunyi dan senyap seketika melingkupi keduanya hanya terdengar suara hembusan semilir angin.
Sontak Aiden mengusap sudut mata sang gadis ketika cairan bening hampir lolos dari sana, Kepalanya menggeleng pelan.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Ini keinginanku. Lagipula tanpa Tuan Justin aku tidak memiliki tujuan hidup lagi, Selama ini aku setia padanya karna dialah tempatku berlindung termasuk tujuan hidupku," Aiden menempelkan telapak tangannya pada pipi Chloe.
"Dan kau bilang setelah semua ini selesai kau ingin kembali bertemu keluarga aslimu di dunia asalmu kan? Jadi jangan menyerah hanya karna beberapa anggota asrama berkorban untuk anggota yang tersisa, Dan jangan membuat pengorbanan mereka sia-sia Chloe," Pria bernetra ungu tua itu menepuk sejenak pundak Chloe.
"Tapi untuk apa kalian berkorban kalau semuanya juga akan hampa tanpa kalian?!" Chloe terisak kecil, Ia menunduk hingga helai-helai rambutnya menutupi sebagian wajahnya menyembunyikan dari Aiden.
"Takdir, Kita tidak bisa menghindar dari yang namanya takdir," Aiden mengalihkan wajahnya memandang hamparan bunga. "Kita juga tidak tahu kapan harus berkorban, Jika adik-adikmu diambang kematian pasti kau juga akan melakukan hal yang sama seperti kami,"
"Apalagi jika hal itu untuk seseorang yang disayangi," Tambah Aiden lirih masih memandangi hamparan bunga.
Chloe kembali terdiam membiarkan semilir angin menyapu wajahnya, Tidak berniat menatap Aiden sama sekali. Suara Aiden kembali menyapu pendengarannya.
"Yang harus kau lakukan hanyalah meneruskan perjuangan kami bersama Ezra, Mengelola asrama dan peninggalan kami sebaik mungkin," Senyum tipis kembali tersungging di bibir Aiden, Dia menepuk pelan pundak Chloe. Tak lama cahaya hijau muncul dari telapak tangan Aiden ketika ia memegang pundak sang gadis.
"Sedikit hadiah untukmu, Tidak besar tapi akan sangat berguna ketika kau terluka,"
"Apa yang kau berikan padaku?" Chloe mendongak saat merasakan pundaknya agak hangat karna kekuatan Aiden.
"Healing (Penyembuhan), Kau bisa menggunakannya untuk menyembuhkan dirimu sendiri atau orang lain, Tapi ingatlah healing ini memiliki batasan. Tidak bisa digunakan saat bertarung, Butuh waktu lama jika digunakan saat mode bertarung,"
"Aku mengerti, Terima kasih atas pengorbananmu dan kekuatan ini. Aku tahu ucapan terima kasih saja tidak akan cukup, Seandainya ada yang bisa kulakukan untukmu Aiden,"
Aiden menjauhkan tangannya, Ia berdiri diikuti Chloe. Sejenak tatapannya tertuju pada netra ruby sang gadis. "Tidak perlu, Teruskan saja mengelola asrama itu sudah membuat ku senang. Aku tidak memerlukan timbal balik,"
Aiden berbalik membelakangi Chloe. "Waktunya habis, Aku harus pergi sekarang," Perlahan Aiden melangkah pergi menjauhi Chloe.
Chloe tersentak dia lantas mengejar Aiden yang semakin jauh dari jangkauannya. "Aiden! Aiden! Tunggu! Apa kita akan bertemu lagi?!"
TAP! TAP! TAP!
"Ini pertemuan terakhir kita. Aku hanya bayangan dalam dirimu saja Chloe. Dan periksalah laci dalam kamar Rion, Dia bilang dia meninggalkan sesuatu untukmu,"
Suara Aiden semakin samar, Bayangan pria itu hampir hilang ditelan kabut dalam pandangan Chloe. Sang gadis masih terus berlari mengejar tak tentu arah.
"Aiden!"
WWUUSSHH!
****************
PATS!
"Aiden!"
GUBRAK!
"Aduh!"
Chloe mengusap punggungnya yang membentur lantai kamar, Bisa-bisanya ia jatuh dari tempat tidur dengan tidak elitnya. Sejenak gadis bersurai biru itu meringis, Perlahan ia bangun dari jatuhnya sembari tangannya menyangga pada sisi tempat tidur.
pandangannya beralih menatap sebuah album foto yang tergeletak di lantai, Ah dirinya tak sadar telah membawa album foto itu dalam tidurnya. Chloe meraih album foto bersama selimut dibawahnya, Dia melipat selimut itu dan meletakkan album foto ke tempat semula.
Dengan lesu Chloe menyibak gorden di kamarnya membiarkan sinar mentari masuk melalui celah-celah jendela, Tak lupa ia juga membuka jendela agar udara segar memasuki kamarnya.
Sesaat Chloe menghirup udara segar dengan ceria. "Ah, Segarnya. Pagi hari memang waktu yang tepat untuk menikmati udara segar,"
Beberapa saat kemudian Chloe terdiam menyadari sesuatu yang janggal, Refleks netra birunya menatap jam dinding yang terpasang di sudut ruangan. Seketika dirinya langsung syok.
"Jam 7 pagi! Tidak, Aku melewatkan makan malam. Pak Ezra pasti bakalan marah padaku," Chloe bergidik ngeri membayangkan yang akan terjadi kedepannya ketika tahu dirinya melewatkan makan malam kemarin.
__ADS_1
Sontak kakinya berlari menuju kamar mandi melakukan ritual paginya seperti biasa, Berharap saja dia tak mendapat siraman rohani dari Ezra di pagi hari.
TBC