System Prince Charming

System Prince Charming
Latihan terakhir


__ADS_3

Selama masa latihan dalam seminggu mereka terus berlatih dengan giat, Kerja sama antara Ian dan Chloe pun semakin kompak dan bagus. Tentu saja hal itu membuat Siswa dan guru olahraga yang melatih mereka sangat senang, Bahkan sampai ke telinga kepala sekolah.


Waktu yang tinggal seminggu itu mereka gunakan sebaik-baik nya untuk mendalami Teknik dan gerakan olahraga tenis.


Hari ini adalah hari terakhir Chloe berlatih, Hari sisa nya dia tinggal menunggu kapan perlombaan tenis itu dimulai. Pagi hari yang cerah tapi tidak akan terlihat karna Chloe berlatih dalam ruangan.


Suara decitan sepatu terus terdengar dalam Gym saat mereka mengejar arah jatuhnya bola, Chloe dengan tanggap mengopernya ke Ian dan bola itu di pukul sang pemuda hingga melewati garis lawan. Deru napas kedua nya tak beraturan, Sudah merasa lelah karna terus berlatih dari 1 jam yang lalu.


"Oke, Sudah cukup! Hari latihan terakhir kita hari ini sudah selesai, Menurut bapak kalian sudah cukup kompak dan siap untuk mengikuti perlombaan nanti. Kalian boleh pergi ke kelas kalian sekarang,"


"Baik pak," Chloe menyahut sambil mengangguk, Sedangkan Ian hanya mengangguk kecil tanpa menjawab sedikit pun.


Mereka berdua pun meletakkan raket mereka di kursi dan membiarkan Siswa yang melatih mereka untuk membereskan semua nya.


Ian mengambil dua botol mineral yang dikhususkan untuk mereka selesai latihan. Sedangkan Chloe sudah keluar dari Gym terlebih dahulu, Berjalan santai selama di koridor.


"Chloe, Seperti nya mulai sekarang kita tidak memerlukan poin hati ke-5 karakter utama pria lagi deh,"


"Kenapa? Bukannya poin hati itu perlu agar aku bisa tahu kapan misi ku selesai?" Balas Chloe masih fokus dengan jalannya.


"Entahlah, Aku merasa sekarang poin hati itu tidak berguna lagi. Program pun tidak pernah menghubungi kita lagi akhir-akhir ini," Holy seperti biasa duduk di pundak Chloe.


"Iya juga sih, Terus bagaimana dong!? Masa aku akan terjebak selama nya di game ini!? Aku gak mau!"


"Yah, Jalani saja dulu. Mungkin nanti ada jalan keluar yang lain,"


"Huh, Semoga saja ada jalan keluar lain selain menyelesaikan misi utama," Chloe menghela napas sesaat, Dia sejujurnya juga menyadari kalau akhir-akhir ini Program tidak memberikan informasi apapun lagi pada mereka. Entah apa alasannya, Chloe pun gak tahu.


"Chloe,"


Mendengar panggilan tersebut, Chloe lantas menoleh kebelakangnya. Telihat Ian berjalan santai menyusul Chloe, Kedua tangannya terdapat dua botol mineral masing-masing di genggam. Ian melempar satu air mineral pada sang gadis.


Chloe langsung berhenti berjalan dengan sigap menangkap air mineral itu, Lalu menunggu Ian agar berjalan sejajar dengan sang pemuda bersurai hitam.


"Makasih,"


"Hm,"


Mereka berdua menelusuri koridor bersama-sama, Chloe meminum air mineral yang diberikan Ian tadi.


"Akhirnya latihan kita selesai juga, Tinggal menunggu perlombaan itu. Iya kan Ian?" Kata Chloe setelah menutup botol mineralnya.


"Hm,"


"Btw, Apa kau selama ini punya sahabat atau teman?"


"Tidak!"


"Kenapa begitu? Lalu bagaimana dengan Devian dan anggota HE@VEN yang lainnya?" Chloe menoleh pada Ian di sampingnya, mengerutkan alisnya heran.


"Mereka bukan temanku!"

__ADS_1


"Kau tidak suka dengan mereka ya?"


"Iya,"


"Kenapa?"


Ian memilih diam, Netra merah nya sesaat melirik Chloe tajam tanpa berniat menyahut pertanyaan Chloe lagi. Tidak terlalu suka jika ada orang lain yang mencoba mencari tahu tentangnya.


"Bukan urusanmu!" Balas Ian ketus, Tanpa menoleh sama sekali pada Chloe dan tetap dengan raut datarnya.


Chloe memandang Ian sesaat, Menghela napas kecil. Yah mungkin Ian masih belum ingin memiliki teman sekarang. Kadang Chloe bertanya-tanya dalam hati, Apa yang membuat sikap Ian begitu dingin dan ketus, Apakah sang pemuda memiliki masa lalu yang kelam hingga membuatnya bersikap demikian? Entahlah, Chloe pun kadang pusing menghadapi sikap Ian ini.


Mereka sampai di kelas, Suara kelas yang gaduh sama sekali tidak mengganggu Chloe sendiri. Gadis bersurai biru itu segera duduk di kursinya, Di samping Devian yang tengah menggambar sesuatu di buku tulisnya.


"Apa yang kau gambar Devian?" Chloe melengokkan kepalanya penasaran, menatap gambar Devian.


"Oh, Hanya gambaran tentang keluarga kecil. Dari dulu aku ingin bahagia seperti keluarga kecil ini, Tapi ayah dan ibuku selalu sibuk bekerja hingga tidak punya waktu untuk berkumpul bersama," Kata Devian begitu tenang, Seolah-olah dia tidak merasa sedih karna orang tuanya selalu sibuk dan tidak memperhatikannya.


Tidak ada tanggapan dari Chloe, Sang gadis hanya menunjukkan rasa prihatin. Devian sama seperti dirinya di dunia asli, Sama-sama tidak diperhatikan orang tua tapi setelah dirinya koma. Orang tua Chloe mulai memperhatikan kedua adik Chloe, Yah setidaknya Chloe tidak perlu khawatir lagi karna sudah ada yang menjaga kedua adiknya disaat Chloe koma.


"Yah, Tapi setidaknya kau masih punya adik," Sahut Chloe masih memperhatikan gambaran Devian.


Gerakan tangan Devian di atas kertas itu terhenti sesaat, Pemuda bersurai coklat itu menoleh pada Chloe. Dengan sedikit menyipitkan matanya.


"Dari mana Kak Chloe tahu kalau aku punya adik? Seingatku aku tidak pernah bercerita tentang keluargaku padamu,"


Mendengarnya membuat Chloe tersentak, Dia lupa kalau Devian tidak pernah membicarakan keluarga nya pada Chloe, Chloe hanya tahu dari biodata Devian saja.


Sesaat Devian mengerutkan alis nya lalu terkekeh pelan dengan senyum kecil. "Oh, Benar juga. Aku lupa kalau aku adalah seorang idol. Pastinya informasi tentangku dan keluargaku sudah menyebar di berita,"


Diam-diam Chloe menghela napas lega, Untunglah sorot pancaran kecurigaan Devian padanya sudah hilang. Kalau sampai ketahuan bahwa Chloe sebenarnya tahu informasi Devian dari biodata, habislah sudah.


"Memang benar aku punya adik, Tapi orang tua ku lebih memperhatikan nya dari pada aku. Makanya aku berharap suatu saat aku dan keluargaku bisa bahagia seperti gambaran ini tanpa pilih kasih," Netra coklat muda Devian menatap gambarannya sendiri dengan tatapan yang sulit diartikan.


Chloe diam sesaat, Tak bisa berkomentar apa-apa lagi. Akhirnya sang gadis hanya mengeluarkan rasa simpatinya.


"Um...Pasti berat ya," Kata Chloe hati-hati, Tak ingin menyinggung sang pemuda.


"Hahaha, Tenang saja Kak Chloe. Aku sudah biasa, Sejak umurku 10 tahun mereka memang sudah pilih kasih, Jadi kurasa tidak ada yang perlu ku sedihkan," Devian tersenyum kecil, Walau sejujurnya di dalam hati kecil nya merasakan perasaan sakit mengingat masa kecilnya yang suram.


Chloe hanya mengangguk menanggapi, Membiarkan Devian kembali sibuk dengan aktivitas nya. Netra biru nya kemudian tak sengaja menangkap luka goresan memanjang di tangan kiri Devian, Seperti bekas terkena benda tajam?


"Devian tangan kirimu kenapa? Kok luka nya panjang gitu? Masih ada bekas darah nya juga, Sudah di obati belum?" Sesaat Chloe merasa prihatin dengan kondisi tangan kiri Devian yang terluka.


Sontak Devian menoleh, Dan segera menyembunyikan tangan kirinya itu di balik seragam sekolahnya.


"Ini hanya bekas kena besi tajam, Aku kemarin lewat tempat pembangunan gedung dan gak sengaja terkena besi tajam yang ada disana saat menghindari perbaikan saluran air, Tenang saja ini sudah diobati kok Kak Chloe," Bohong Devian sambil menjauhkan tangan kirinya dari meja.


"Oh begitu, Semoga lekas sembuh ya. Jangan terlalu banyak bergerak, Nanti luka nya terbuka kembali,"


"Iya, Dokter juga menyarankan begitu. Kak Chloe tak perlu khawatir, Aku cowok kuat kok,"

__ADS_1


"Baguslah," Chloe mengangguk kecil kembali lalu fokus pada materi yang akan dipelajari.


Devian sesaat tersenyum kecut, Memandangi buku tulisnya yang sudah dicoret-coret tak beraturan.


"Tanganku begini juga gara-gara kau Kak Chloe, Andai Raizel kemarin tidak menabrakku sampai aku jatuh ke rak berisi alat tajam. Tanganku gak akan luka begini, Cih luka nya bikin gatal lagi," Batin Devian kesal, Mengumpat dalam hati dan semua umpatan itu ditujukan untuk Chloe dan Raizel.


Ian sejak tadi mendengarkan obrolan Devian dan Chloe hanya diam, Tak ingin ikut campur dalam obrolan yang tidak penting menurutnya. Netra merahnya terfokus pada light novel yang dibaca nya selagi menunggu guru mereka datang.


"Kak Chloe,"


Diam-diam Netra merah Ian melirik Devian dan Chloe yang duduk di depannya. Mengawasi tindakkan Devian selanjutnya. Menatap tajam Devian ketika Devian melirik Ian balik dengan senyum sinis.


"Ada apa Devian?" Chloe menoleh sesaat pada sang pemuda yang memanggilnya.


"Itu poni mu berantakan, Aku benerin ya," Tanpa menunggu persetujuan Chloe, Devian mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya hanya tinggal beberapa senti lagi dengan wajah Chloe. Membenarkan poni sang gadis yang sebenarnya hanya akal-akalan Devian, Dia ingin melihat bagaimana reaksi Ian.


"Eh, gak usah. Aku bisa benerin sendiri," Chloe berusaha menjauhkan tangan Devian dari poninya, Merasa tidak nyaman karna wajah Devian terlalu dekat.


"Aduh, jantung. Jangan deg deg kan dong! Nanti Devian bisa dengar," Pikir Chloe agak malu, Karna saat ini jantungnya berdetak agak cepat akibat tindakkan Devian.


"Gak apa-apa, Nah ini sudah beres," Devian sudah menyelesaikan urusannya, Tapi sang pemuda masih mencondongkan tubuhnya tanpa berniat menjauh. Seolah-olah ingin mencium Chloe.


"Devian, Um...bisa menjauh sedikit?" tanya Chloe ragu.


"Kenapa, Kak Chloe gak suka ya?"


"Aku....," Chloe menggigit bibir bawahnya, Rasanya dia ingin mendorong Devian karna begitu dekat. Chloe tidak ingin kejadian beberapa bulan lalu terulang lagi. Sang gadis merasa gelisah kalau Devian sudah mencondongkan tubuh begini.


Tiba-tiba Chloe merasakan tepukan di pundaknya, Sang gadis menoleh begitu pun dengan Devian. Itu adalah Ian yang berdiri di samping kursinya, Tatapan pemuda bernetra merah itu begitu datar penuh kekosongan.


"Tukar tempat!"


Sesaat Chloe mengerjapkan matanya, Tidak paham maksud Ian. Tapi saat Netra merah Ian melirik Devian, barulah Chloe paham. Sang gadis buru-buru mengambil alat tulisnya dan bertukar tempat duduk dengan Ian. Sedangkan Pemuda bernetra merah itu lekas duduk di samping Devian.


Dalam hati, Chloe merasa lega untunglah ada Ian yang menolongnya. Kalau tidak, Mungkin Devian akan terus berada di posisi itu tanpa berniat menjauh sama sekali.


"Terima kasih Ian," Batin Chloe, Berterima kasih dalam hati sambil memandangi punggung Ian yang duduk di depannya.


Devian yang melihat pertukaran tempat duduk Ian dan Chloe hanya menyerigai kecil sesaat, Lalu pemuda dengan surai hitam kecoklatan itu menuliskan sesuatu di kertas kecil secara diam-diam. Setelahnya dia menyenggol kecil lengan Ian di sampingnya, Yang hanya di balas Ian dengan tatapan datar.


Devian menyodorkan kertas kecil itu agar tidak terlihat oleh Chloe, Ian hanya membaca nya sesaat.


...Aku tahu kau tidak akan senang saat aku mendekatinya....


Ian mendengus kecil, Membalas surat dari Devian. Lalu menyodorkan nya balik tanpa menoleh.


...Jangan salah paham! Kalau kau ingin bermesraan dengannya, Jangan di depanku. Kalian berdua merusak pemandangan....


Devian tertawa kecil sesaat, Usai membaca surat kecil dari Ian. Dia menuju jendela kelas lalu membakar surat tersebut dengan korek api yang entah dapat dari mana dan melemparnya ke lapangan olahraga.


Setelahnya Devian pergi kembali menuju kursinya dengan santai, Tidak akan ada orang yang akan tahu pembicaraannya dengan Ian di kertas kecil itu karna Devian sudah menghilangkan jejak nya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2