System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Apakah hanya sampai sini identitas kami?! Mereka mengetahuinya!


__ADS_3

Tak!


Chloe memutar keran, Membiarkan air mengalir membasahi tangannya. Dia meletakkan nampan serta mangkuk dan gelas kosong kedalam wastafel. Perlahan ia mulai mencuci mangkuk itu.


Selagi mencuci, Chloe hanyut dalam pikirannya.


"Pak Ezra apaan sih?! Godain mulu. Heran, Dia sengaja banget biar aku malu," Chloe menunduk, Merasakan pipinya kembali memanas. "Tapi aneh juga, Sebelumnya dia bilang mencintaiku, Sekarang bilang benci. Yang benar yang mana? Plin plan banget? Apa pak Ezra masih bimbang?"


Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk dalam pikiran Chloe. Hingga dirinya tak menyadari seseorang menghampirinya, Sosok itu menepuk pundak Chloe pelan membuat sang gadis agak tersentak.


"Hati-hati kelamaan melamun entar kesambet setan," Kata sosok di belakang Chloe, Refleks sang gadis menoleh mencari sumber suara.


"Lho, Kak Azura?!" Chloe tersenyum kikuk, Buru-buru dirinya menyelesaikan pekerjaannya. Usai meletakkan mangkuk terakhir ke tempatnya, Ia mematikan keran dan mengeringkan tangan sebelum memandangi Azura.


Azura tersenyum ramah. "Tadi kenapa kamu gak ikut makan disini?"


"oh itu, Aku sudah makan bareng temanku. Jadi gak ikut makan lagi disini deh," Chloe masih tersenyum kikuk, Mengusap tengkuknya sebagai bentuk kecanggungannya.


"Ah, Benar juga. Temanmu kan lagi sakit, Jadi pasti dia butuh bantuanmu," Azura mengambil sesuatu dari sakunya lalu menyodorkan pada sang gadis. "Ngomong-ngomong, Apa ini milikmu? Aku tidak sengaja menemukannya tepat dihadapan pintu kamarmu,"


Chloe menunduk memandangi dua benda di tangan Azura, Dua buah jam tangan dengan nama Ian dan Aiden tertera disana. Dua jam tangan yang Chloe simpan untuk mengenang Ian dan Aiden, Sedangkan sisa jam tangan lainnya disimpan oleh Ezra. Seketika netra birunya membulat terkejut.


"Ah, Bagaimana bisa jatuh?! Seingatku aku tidak menjatuhkannya, Aku bahkan menyimpannya di laci," Chloe diam mematung memandangi dua jam itu.


Menyadari Chloe diam tak bergeming membuat senyum Azura luntur, Keningnya agak mengerut sembari memandang heran. "Ada apa? Ini benar milikmu kan?"


Netra Azura melirik jam tangan yang Chloe pakai. "Dua jam tangan ini mirip dengan jam tangan yang kau pakai, Jadi aku yakin sekali ini milikmu. Sepertinya kau sangat menyukai model jam tangan ini sampai-sampai memiliki 3 jam tangan sekaligus,"


"Iya," Balas Chloe pelan, Segera tangannya mengambil alih kedua jam tangan tersebut dari Azura dan langsung menyimpannya dalam saku baju. Entah mengapa dirinya merasa sikap Azura agak aneh dimatanya.


Kini tatapan Azura berubah serius, Chloe yang melihatnya menatap waspada. Meski dirinya masih menutupi dengan sikap tenang.


"Aku ingin tahu...Apakah kau pernah bertemu Justin Garfield?"


Kening Chloe sedikit mengerut. "Aku hanya pernah mendengar namanya saja tapi tidak pernah bertemu langsung dengannya," Bohong Chloe sambil menggeleng.


"Oh, Sayang ya. Padahal dia cukup terkenal selain keluarga kami dan keluarga Maximillian," Terselip kecewa dari suara Azura, Tentu Chloe menyadarinya. Sesaat sang gadis menyipitkan mata.


"Apa Kak Azura kenal dengan orang yang bernama Justin Garfield itu?" Pancing Chloe mengintimidasi.


"Oh tentu tidak, Aku hanya penasaran dengannya. Habis sepertinya aku tertarik bekerja sama dengan perusahaannya, Rasanya ingin sekali bertemu secara langsung," Azura tersenyum lembut, Namun dimata Chloe. Azura seperti menyembunyikan sesuatu.


"Tapi sayangnya sekarang diberita awak media, Justin Garfield dikabarkan menghilang tanpa jejak. Sungguh aneh ya," Tambah Azura sambil memasang pose berpikir. "Kudengar jabatannya diambil alih oleh tangan kanannya yang kini menjabat sebagai Ceo pengganti Justin Garfeld. Apa menurutmu Ceo baru itu bisa sehebat Justin?"


Chloe menatap dalam diam ketika pertanyaan itu tertuju padanya, Tentu saja semua orang tahu bahwa Ezra lah yang menjadi pengganti Justin di perusahaan J.G Entertainment. Berita itu sudah tersebar dimana-mana bahkan sampai ke telinga Michelle dan Maximillian Family. Namun masalah apa Ezra bisa menangani perusahaan sehebat Justin atau tidak, Chloe sangat yakin Ezra pasti setara dengan Justin. Mengingat Ezra sudah sejak lama bekerja di bawah bimbingan Justin.


"Tentu saja, Pak Ezra itu sangat hebat. Dia pasti sehebat orang yang bernama Justin itu," Bela Chloe mengangguk mantap dengan ekspresi serius.


Azura mengangkat satu alisnya sesaat, Kemudian ia tersenyum kecil. "Tampaknya kau begitu dekat dengannya, Oh iya. Aku baru ingat, Kalau tidak salah yang menjadi tangan kanannya Justin Garfield itu bukannya Ezra Miracle ya?"


"Hahaha, Pantas saja aku merasa familiar dengan wajahnya saat pertama kali bertemu. Dia kan memang sering didekat Justin, Sudah pasti wajahnya sering muncul di awak media," Azura tertawa kecil, Lama-lama Chloe merasa gerah meladeni Azura. Perlahan pasti Azura menyadarinya.


"Kak Azura, Sebenarnya kenapa kau mengatakan hal ini? Apa tujuanmu?" Kata Chloe to the point, Dia yakin pasti Azura memiliki niat tersembunyi dengan memojokkannya bertanya seputar tentang Justin dan Ezra.


Tawa Azura mereda, Kini ia menundukkan kepalanya menatap Chloe lekat. Ia sedikit mendekatkan wajah dengan netra biru safirnya yang berkilat tajam, Ekspresi itu berubah dingin.


"Kau tidak pandai berbohong Chloe Amberly. Oh atau sekarang Chloe Maximillian," Azura mengambil sesuatu dari saku celananya dan menunjukkan sebuah amplop merah dengan nomor 8 yang tertera sangat besar disana tepat dihadapan wajah Chloe. Ia tersenyum remeh. Sedangkan Chloe diam mematung.


"Katakan sejujurnya dimana kau bertemu Justin? Kau tidak mungkin kan langsung mengenal si Ezra Miracle itu tanpa mengenal Justin Garfield lebih dulu? Kudengar Ezra Miracle orang yang susah didekati dan memiliki temperamen yang buruk di perusahaan Justin sebelum menjadi pengganti Justin, Dia bahkan memiliki skandal dengan banyak karyawan disana," Azura masih tersenyum remeh, Menepukkan amplop itu ke kepala Chloe.


"Tidak mungkin kau bisa menjinakkan anjing penjaga Justin begitu saja tanpa bantuan majikannya kan? Jadi katakan kebenarannya, Kau akan aman jika kooperatif padaku,"


"Untuk apa aku mengatakannya? Lagipula tujuan kak Azura mencari Pak Justin buat apa? Aku tidak akan mengatakannya jika kak Azura tidak mengatakan alasannya," Balas Chloe dengan tatapannya seriusnya.


"alasanku? Hm...Apa ya?" Azura menjauhkan wajahnya, Pura-pura berpikir. Senyum misterius mengembang di bibirnya sembari meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir. "Sssttt! Ini rahasia lho. Kalau kuberitahu nanti kau akan mengadu pada temanmu itu,"


Chloe mengerutkan kening, Tangannya mengepal menahan emosi. Dirinya sadar saat ini Azura sedang mempermainkan emosinya.


"Aku tidak punya waktu untuk main-main, Kalau kak Azura tidak serius lebih baik minggir dan jangan halangi jalanku!" Chloe menatap tajam, Ia kesal karna Azura hanya melakukan pembicaraan yang terbelit-belit.


Ia melangkah melewati Azura yang mendengus, Senyum pemuda itu luntur. Kini tatapannya berubah dingin ketika Chloe melewatinya.


"Heh! Ya ampun, Ternyata kau tidak bisa diajak bercanda ya Chloe Maximillian," Azura berbalik menyusul Chloe dan dengan sigap menahan tangan gadis itu.


Tap!


Grep!


Merasa tangannya ditahan membuat langkah Chloe terhenti, Ia menoleh dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Kak Azura, Kau sudah memasuki kamarku tanpa Izin dan memojokkanku dengan pertanyaan tentang Pak Justin dan Pak Ezra. Sekarang apa lagi yang kau inginkan?!" Bentak Chloe tajam. Meski dibentak Azura tak bergeming.


"Biar kuberitahu sebanyak apa yang kuketahui tentangmu," Kata Azura tanpa membalas perkataan Chloe sebelumnya. "Black Shadow, Kau pasti familiar dengan nama itu kan? Dari yang kubaca di amplop ini, Kau memiliki kesepakatan dengan seseorang dan sebagai gantinya kau menjadi bagian anggota itu,"


"Sebagai anggota kau pasti tahu apa saja pekerjaan yang harus dilakukan disana kan? Pasti bukan hanya kau, Siapa ketua kelompok itu?" Netra Azura kembali berkilat, Kini rasa ingin tahu itu semakin besar.


"Bagaimana kak Azura tahu tentang kelompok Black Shadow?! Dia juga tahu kalau aku anggotanya melalui surat itu," Pikir Chloe dalam keterkejutannya. "Di luar dia terlihat seperti pria baik namun ternyata didalamnya sangat berbahaya seperti kak Felix,"


Chloe membuka mulutnya ingin menjawab pertanyaan Azura, Namun suara seseorang selain mereka memotong pembicaraan itu.


"Cukup Azura! Semua pertanyaanmu itu hanya akan membuatnya tidak menjawab. Kau juga tidak memberi tahu alasanmu, Tentu saja dia tidak akan memberitahu juga,"


Suara itu menarik perhatian Azura dan Chloe, Mereka memandangi Rafael yang melangkah mendekat dengan pandangan tenang. Membawa secangkir gelas yang sudah kosong isinya.


"K-Kak Rafael mendengar semua pembicaraan kami?!" Tanya Chloe agak kaget. Dia melepas tangan Azura darinya.


"Hm...Sejak tadi, Aku sudah mendengar semuanya," Rafael meletakkan cangkir itu ke wastafel lalu menyadarkan punggungnya ke tembok sambil bersidekap.


"Hari itu, Saat kita bertama kali bertemu di perusahaan Justin. Kulihat kau dikejar seseorang, Sekarang aku paham alasanmu dikejar olehnya. Karna kau anggota black shadow pasti itu salah satu misimu,"


"Kalian jangan sok tau! Dapat informasi darimana hingga kalian bisa berasumsi begitu?!" Elak Chloe dengan pandangan tajam.


"Bukan asumsi lagi, Tapi memang kenyataannya," Balas Azura sambil menyerahkan amplop itu pada Chloe. "Kami akan menjaga rahasia ini, Kalau kau sebenarnya terlibat dengan anggota black shadow. Tapi kami tidak tahu apakah kau pernah membunuh atau tidak. Asal kau memberitahu dimana Justin,"


Emosi Chloe menurun, Dia mengambil amplop itu dari tangan Azura. Ekspresinya agak tertekuk. "Untuk masalah ini kalian perlu bicara dengan pak Ezra, Aku juga tidak bisa memberitahu tanpa persetujuan darinya,"


Gadis itu berbalik dan melangkah lebih dulu. "Ayo temui pak Ezra,"


Keduanya mengangguk paham dan memutuskan mengikuti langkah Chloe.


*****************


[Kamar Ezra]


Tok! Tok! Tok!


"Pak Ezra, Aku masuk,"


Clek!


Chloe membuka pintu dan memasuki kamar Ezra diikuti Azura dan Rafael. Namun langkah itu terhenti setelah menyadari ada orang lain dikamar Ezra. Terlebih Chloe melihat Ezra yang terbangun dengan ekspresi sayunya.


"Kalian bertiga, Sedang apa disini?" Kata Chloe mendekati sisi kasur.


"Aku hanya memeriksa keadaannya," Balas Kenzo menempelkan punggung tangannya pada kening Ezra, Merasa panas Ezra berkurang. Kenzo mengangguk kecil.


"Kami kembali lagi karna ingin membahas hukuman kalian, Kita perlu bicara soal itu," Kata Xavier datar, Menunggu hasil pemeriksaan dari Kenzo.


Vallen mengalihkan pandangannya, Dan menatap Azura serta Rafael yang berdiri tak jauh dari Chloe. Senyum sinis terpatri di bibirnya.


"Ternyata Michelle disini juga, Untuk apa kalian kesini?!" Kata Vallen sinis.


"Ck! Tentu saja untuk bicara dengan pria itu. Bukan untuk bertemu kalian," Rafael menunjuk Ezra dengan dagunya, Tak kalah sinis.


Merasa disebut Ezra hanya melirik kecil, Lalu memandang Kenzo datar. "Apa sudah selesai?"


"Sudah, Menurutku kau hanya perlu lebih banyak istirahat. Panasnya sudah berkurang, Tapi perbanyaklah makan-makanan sehat," Saran Kenzo sambil membereskan peralatan kesehatannya.


"Hm...,"


Tangan Chloe terulur, Mengusap surai hitam milik Ezra sambil tersenyum lembut. "Tuh dengerin kata kak Kenzo, Pak. Banyakin makan-makanan sehat, Terus jangan paksain diri mengurus pekerjaan bapak, Kalau merasa lelah lebih baik istirahat,"


Ezra yang merasakan usapan lembut di rambutnya hanya diam menyamankan diri, Dia menyandarkan kepalanya di perut Chloe sambil memejamkan mata.


"Aku tahu, Kau bahkan lebih cerewet dari ibuku,"


"Kan aku sudah bilang, Aku cuma gak ingin bapak sakit lagi,"


Ezra hanya mengangguk patuh, Sedangkan Rafael dan Azura yang melihat itu mengernyit.


"Dia benar-benar jadi jinak setelah jadi pengganti Justin," Pikir Azura.


"Apa-apaan ini? Mereka pacaran? Aku merasa kami jadi seperti obat nyamuk saja disini," Pikir Xavier mengernyit.


Kemudian pandangan Chloe jatuh pada Kenzo meski masih mengusap rambut Ezra. Dia tersenyum tipis.


"Kak Kenzo, Terima kasih sudah mau membantuku dan pak Ezra," Kata gadis itu ceria.


"Sama-sama, Aku harap kau tidak melupakan apa yang kuminta," Balas Kenzo tersenyum tipis.

__ADS_1


"Aku mengerti," Kata Chloe lirih yang membuat Ezra membuka matanya, Dia menjauhkan kepalanya.


"Setelah ini, Jangan datang lagi. Aku sudah tidak butuh diperiksa olehmu, Aku bisa sembuh sendiri," Kata Ezra datar dan dibalas senyum ramah dari Kenzo.


"Terserahmu, Lagian urusanku memang sudah selesai. Tinggal mereka saja," Kenzo melirik ke arah Xavier dan Vallen.


"Jadi soal hukuman itu–"


"Tunggu sebentar! Kami juga ingin bicara dengan pria itu!" Potong Rafael menyela perkataan Xavier.


"Kami datang lebih dulu, Jadi kalian mengantri lah," Balas Xavier dingin.


Sedangkan Ezra, Kenzo, Dan Chloe memilih diam menyimak. Lalu Ezra berbisik pelan disamping Chloe.


"Untuk apa para Michelle itu juga disini?"


"Mereka ingin membicarakan soal black shadow," Bisik Chloe agar tak terdengar oleh mereka.


Mendengar hal itu membuat Ezra terkejut, Ia memandangi Chloe selama beberapa menit seakan tak percaya bahwa kini identitas mereka terancam terbongkar.


"Aku serius," Kata Chloe lagi, Menyadari tatapan tak percaya dari Ezra.


Tidak ada pilihan lagi bagi Ezra, Tatapan hijau emerlandnya meredup sesaat. Sebelum bergumam lirih.


"Bunuh mereka semua," Bisiknya pelan dan hanya Chloe yang mendengar itu. Sejenak sang gadis diam tertegun.


Hingga tangan Ezra terulur berniat mengambil vas bunga di nakas namun Chloe segera menahannya agar tidak terjadi sesuatu yang buruk. Chloe menggenggam tangan Ezra dan mengusap pundak pemuda itu.


"Tidak apa-apa pak, Kita bicara dengan Michelle lebih dulu. Ini lebih penting karna menyangkut identitas kita," Bisik Chloe menenangkan yang membuat Ezra kembali diam.


Kemudian Chloe membuka suaranya sambil memandangi Michelle dan Maximillian brother yang berdebat tentang siapa lebih dulu yang akan berbicara dengan Ezra.


"Ano...Kak Xavier, Kak Vallen, dan kak Kenzo. Apakah kalian bisa keluar dulu? Pak Ezra ingin bicara dengan kak Rafael dan kak Azura lebih dulu," Kata Chloe yang seketika menghentikan perdebatan itu.


"Huh?! Tapi kami datang lebih dulu!" Vallen menatap tak terima.


"Ya, Tapi pak Ezra ingin bicara dengan kak Rafael dan kak Azura,"


"Tidak bisa begini!" Xavier angkat bicara.


Kenzo hanya memalingkan wajahnya, Dia tak ingin ikut campur dan membiarkan para saudaranya saja yang mengurus masalah itu.


Rafael dan Azura memilih diam mendengarkan pendapat Maximillian brother. Hingga tiba-tiba terlintas sebuah ide dipikiran Azura, Dia penasaran apakah Ezra memang benar memiliki temperamen yang buruk seperti rumor yang dia dengar? Karna sejauh ini selama tinggal di kediaman Michelle, Dia lihat Ezra tampak kalem terutama didekat Chloe.


"Aku jadi penasaran, Apa jadinya kalau dia benar-benar menunjukkan sisi temperamennya itu. Hm...Sepertinya aku perlu sesuatu yang bisa membuatnya emosi," Pikir Azura tersenyum misterius, Seketika netra biru safirnya melirik Chloe yang masih mengusap pundak Ezra.


Gadis itu hanya menatap diam sedangkan Ezra tampak memejamkan mata seperti ingin tidur.


Azura melangkah mendekati Chloe yang membuat Rafael bingung, Hingga tiba-tiba ia melepaskan genggaman Chloe dari tangan Ezra lalu memegang tangan Chloe erat. Senyum lembut terpatri di bibirnya.


Chloe yang merasa tangannya digenggam seketika menjadi panik karna tiba-tiba secara bersamaan Azura menarik tubuhnya untuk mendekat, Tatapan Azura menjadi lekat.


"Kenapa kau bersama pria lain? Padahalkan kakakmu tidak memperbolehkan kau bermesraan dengan pria lain selain kami para kandidat tunanganmu. Dia kan bukan termasuk kandidat tunangan," Kata Azura masih tersenyum lembut. Diam-diam melirik Ezra, Ingin melihat reaksi pria itu.


Rafael speecheles dengan pandangan horror. Membatin dalam hati. "Azura sinting! Kenapa malah cari mati?!"


"Oh tidak! Kenapa malah membicarakan soal kandidat tunangan itu?! Itu kan tidak disetujui semua pihak kecuali Ivy," Pikir Xavier melotot memandangi Azura.


"Apa-apaan dia?! Apakah dia sudah lupa bahwa kami semua tidak setuju soal kandidat tunangan itu?! Anak itu saja belum diberitahu kak Ray atau kak Eli," Pikir Vallen menatap kesal Azura.


"Aku menunggu akting terbaikmu Azura, Lakukan pertunjukkan yang menarik bagiku," Berbeda dengan yang lain, Tampaknya Kenzo mendukung perilaku Azura. Ia juga penasaran apa yang akan terjadi setelahnya, Senyum senang mengembang di bibirnya.


Sedangkan Chloe yang mendengar hal itu mengernyitnya kan alisnya, Dia mendorong tubuh Azura kencang hingga menjauh darinya dan genggaman itu terlepas.


"Kak Azura bicara apa sih?! Jangan bicara yang aneh-aneh. Kandidat tunangan apa? Dekat dengan kalian saja tidak, Bagaimana aku bisa paham dengan sistem kandidat tunangan?!" Bentak Chloe kesal.


Disaat bersamaan tubuhnya agak merinding, Merasakan aura suram dari belakang punggungnya. Gadis itu memandang Ezra yang berekspresi datar, Tampak tak bergeming sama sekali dari tempatnya.


"Pak Ezra, Aku sama sekali tidak tahu maksud kak Azura. Jangan dihiraukan," Jelas Chloe menggeleng pelan, Dirinya merasa takut kalau Ezra salah paham.


Menyadari situasi Ezra yang diam membuat Azura menyerigai senang, Dia memanas-manasi Ezra dengan langsung memeluk Chloe dari belakang membuat sang gadis tersentak kaget mendapat pelukan yang tiba-tiba, Azura mengeratkan tangannya di perut Chloe.


"Lihatlah, Bahkan dia saja tidak peduli denganmu Chloe. Jadi lebih baik lupakan dia dan pilih aku saja sebagai pasanganmu," Kata Azura masih menyerigai.


Rafael hanya membiarkan akting Azura, Dia menggeleng pelan, Tak habis pikir dengan perilaku adiknya itu. Kalau terjadi sesuatu pada Azura dia tidak akan membantu.


".....,"


TBC

__ADS_1


__ADS_2