System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Justin dan Ezra (3)


__ADS_3

PATS!


Kelopak matanya sontak terbuka usai keluar dari alam mimpinya, Menatap langit-langit kamar yang dihiasi tanaman sulur mawar biru. Chloe mengerjap sesaat mencoba memastikan yang dilihatnya nyata atau tidak. Gadis itu terbangun berusaha mengenali sekitarnya.


Sejenak netra birunya memandang vas bunga di nakas, Mendapati mawar itu masih berada di sana namun sekarang entah sejak kapan sulur-sulur mawar itu mulai menjalar di berbagai sudut kamarnya bahkan hampir menutupi pintu kamar Chloe.


Sesaat sang gadis merenung dalam diam, Teringat mimpi yang dialaminya. Dia memijit keningnya sesaat.


"Mimpi itu...Aiden...Seperti nyata. Tapi kenapa aku tidak ingat pernah bertemu dengannya," Gumam Chloe pelan, Menatap kosong vas berisi mawar biru di nakas.


"Hm...Mungkin hanya mimpi, Belum tentu aku pernah bertemu dengannya saat kecil seperti di mimpi," Pikir Chloe menepis keraguannya itu, Dia meranjak dari kasur dan segera melakukan ritual mandi paginya.


Tak membutuhkan waktu lama, Chloe sudah siap dengan pakaian kasualnya khas anak kuliah. Dia segera memakai ranselnya lalu berjalan pergi menuju dapur berniat membuat sarapan.


Saat melewati ruang tamu netra birunya tak sengaja menangkap sebuah figura berukuran besar dengan lukisan Aiden di dalamnya. Refleks langkah sang gadis terhenti, Mendekati Figura tersebut dengan heran dan syok.



"What?! Sejak kapan di rumahku ada figura Aiden?! nongol dari mana nih figura?!" Chloe bergidik setelah memperhatikan figura itu lebih dekat, Dirinya merasa terawasi saat menatap figura tersebut.


Sejenak Chloe teringat kata-kata Felix saat tinggal di Asrama, Felix pernah bilang dimanapun dia bersembunyi. Aiden pasti akan menemukannya dengan mudah. Seketika Chloe kembali bergidik lalu buru-buru menuju dapur meninggalkan figura itu.


**************


Sesampainya di dapur Chloe menemukan beberapa makanan yang sudah tersedia di meja, Makanan-makanan itu mengepulkan asap seperti baru dimasak. Kembali sang gadis merasa heran, Padahal dia bahkan belum masak apa-apa sejak tadi. Namun tiba-tiba saja sudah terdapat beberapa makanan di mejanya.


Chloe mengusap tengkuknya bingung, Merasa setelah memimpikan masa lalu Aiden rumahnya jadi aneh dan penuh kejutan. Belum lagi beberapa sulur tanaman mawar biru kini menjalar di beberapa sudut rumahnya.


"Ini kenapa sih?! Kok rumahku jadi aneh, Terus ini siapa yang masak coba?! Datang dari mana makanan-makanan ini?" Sungguh Chloe merasa frustasi dengan kejadian aneh yang terjadi di rumahnya, Hilang sudah nafsu makannya.


Tanpa menyentuh sarapannya lagi, Sang gadis melangkah pergi meninggalkan dapur. Membiarkan sarapannya tidak dimakan, Dia hanya ingin cepat-cepat pergi ke kampusnya.


Setelah kepergian Chloe tiba-tiba figura yang berada di ruang tamu bergerak pelan, tak lama sebuah portal muncul di figura itu. Seseorang melangkah keluar dari sana, Dengan ekspresi datarnya. Tatapannya tertuju pada sudut rumah yang dihinggapi sulur tanaman.


"Sepertinya nona mulai mengingat kenangan itu," Netra ungunya menelusuri setiap jengkal sudut rumah, Tangannya terulur mengusap salah satu sulur berduri di sana.


Sesaat matanya menangkap makanan yang masih utuh tak tersentuh di meja makan, Dia mendekati makanan itu lalu memanaskannya untuk Chloe makan nanti.


*****************


[Pagi hari, Rumah sakit]


Ezra melangkah tenang melewati beberapa pasien dan perawat di sana, Di tangannya terdapat sebuket bunga lavender segar serta sekeranjang buah parsel.


Sesekali netra hijau emerland itu melirik beberapa nomor pintu pasien guna memastikan kalau dia tak salah kamar, Tak lama langkah nya terhenti di sebuah kamar bernomor 102. Tangannya meraih gagang pintu dan membukanya secara perlahan.


CKLEK!


Sejenak sang pemuda menyembulkan kepalanya menatap dalam kamar itu, Memastikan apakah sang pemilik kamar berada di dalam atau tidak. Menyadari kalau orang yang dicarinya masih berada di dalam, Ezra perlahan masuk tak lupa mengetuk pintu sesaat agar pemilik kamar menyadari kehadirannya.


"Permisi, Tuan Justin,"


Justin mengalihkan pandangannya dari buku setelah mendengar suara Ezra, Sesaat dia tersenyum tipis menyambut kedatangan bodyguardnya itu.


"Masuklah,"


Ezra dengan patuh mendekati sisi kasur Justin, Menutup pintu kamar sesaat. Dia meletakkan bunga yang digenggamnya dalam vas yang berada di sana. Merapikan bunga itu lalu menoleh dan meletakkan sekeranjang buah di nakas.


"Bagaimana keadaan anda sekarang Tuan?"


"Sudah lebih baik, Untungnya aku segera ditangani," Justin mengambil sebuah apel di keranjang itu dan menyerahkannya pada Ezra.


"Syukurlah penyakit anda segera ditangani, Saya sangat khawatir saat anda tiba-tiba pingsan begitu saja," Jelas Ezra lega, Menerima buah apel yang disodorkan padanya.


Dia menuju wastafel mencuci apel itu lalu segera mengupasnya dan memotongnya menjadi beberapa bagian, Ezra meletakkan potongan apel tersebut di piring setelahnya dia memberikan pada Justin.


Sang pemuda duduk di salah satu sofa ruangan itu, Menatap Tuannya dalam diam.


"Bagaimana pekerjaan di kantor? Apa kau sudah memantaunya?" Tanya Justin sambil melahap beberapa potongan apel.


"Sudah, Semuanya bekerja dengan baik. Tidak ada yang mencurigakan disana selama anda tidak ada,"


Justin mengangguk kecil, Mengalihkan pandangannya pada jendela kecil di sampingnya. Menatap dunia luar dengan tenang. Ia bertopang dagu sesaat.


"Ezra, Kurasa jika misalnya kita gagal mengungkap penghianat itu...," Justin menoleh lalu tersenyum pada Ezra. "Bisakah kau yang melanjutkan pencapaianku selama ini? Firasatku mengatakan entah akan ada kejadian buruk atau baik di masa yang akan datang,"


Deg!


Ezra tersentak mendengar permintaan Justin. Sesaat dia merasa jantungnya berhenti berdetak, Pemuda dengan surai hitam dan netra hijau emerland itu menatap tak percaya. Dia lantas meranjak dari duduknya dan mendekati Justin.


"Tuan! Apa maksud anda? Anda tidak mungkin menyerahkan jabatan anda begitu saja! Saya tidak mampu–"


"Aku yakin kau mampu meneruskan usahaku Ezra," Potong Justin cepat, Tatapannya tampak serius menatap netra hijau milik Ezra. "Aku sudah sangat percaya padamu, Kau sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Selama ini kau selalu disampingku dan selalu menjagaku,"


Justin memegang kedua pundak Ezra serius, Membuat Ezra menatap dalam netra Justin. "Ini bukan misi atau perintah tapi ini adalah permintaan, Jadi kuharap kau menerima jabatan ini sebagai balas budiku Ezra,"

__ADS_1


Ezra kembali bungkam, Tampak murung dan bimbang. "Tapi selama ini saya tidak mengharapkan balas budi dari anda Tuan,"


"Baiklah kalau begitu anggap saja kau ini penerusku, Lagipula selain kita bersahabat dari kecil. Kau juga adalah anak didikku seperti anggota lainnya. Jadi tidak ada perbedaan di antara kalian," Balas Justin cuek, Menyandarkan punggungnya pada sandaran kasur.


Ezra menghela napas lelah. Dia paham maksud Justin, Tidak ada penolakan dari permintaan tuannya. Namun dia merasa kalau menggantikan posisi Justin, Artinya dia juga harus siap dengan tugas yang akan dia pegang nanti. Tentu Ezra tak bisa menolak lagi karna bagaimana pun sikap Justin, Pemuda bernetra orange itu akan tetap keras kepala.


"Baiklah, Saya akan berusaha Tuan," Balas Ezra pelan, Menundukkan sedikit kepalanya menghormati permintaan tuannya.


Sedangkan Justin terkekeh kecil, Sejenak dia menatap jam dinding yang tersedia di ruangan itu.


"Ezra aku bosan, Ayo kita pulang. Aku sudah merasa lebih baik sekarang,"


"Tuan, Bukannya dokter belum memperbolehkan anda pulang?"


"Cepat segera cek out saja! Aku sudah tak tahan berada disini,"


"Baik!"


Alhasil Ezra bergegas pergi dari ruangan Justin menuju meja administrasi, Dia tak mau sampai membuat tuannya tak nyaman nantinya jika berlama-lama disana.


*************


[Asrama]


BLAM!


Kakinya melangkah mendekati sofa empuknya, Menghempaskan diri disana sambil melemaskan otot-otot tubuhnya yang agak kaku. Justin menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.


"Akhirnya pulang juga, Disini lebih enak dibanding rumah sakit," Kata Justin memeluk bantal sofanya dengan erat, Meresapi empuknya sofa yang didudukinya.


TAK!


Ezra meletakkan secangkir teh hangat di meja, Melirik tingkah tuannya sesaat. Pemuda itu hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum tipis, Melihat bagaimana Justin begitu senang setelah sampai di Asrama.


"Tuan, Minum dulu. Anda pasti lelah sehabis perjalanan jauh," Tawar Ezra ikut duduk di sofa berhadapan dengan Justin.


Justin mengangguk kecil, Dia meraih secangkir teh yang baru dibuat Ezra. Menyeruput pelan minumannya. "Minumanmu mana? Kau pasti juga lelah, Kau juga harus istirahat Ezra,"


"Saya baru saja selesai membuatnya," Ezra menunjukkan secangkir kopi panas dengan asap mengepul di tangannya, Sesaat dia menyesap kopinya.


Justin melirik sesaat, Berdehem pelan untuk menghilangkan keheningan di antara mereka. "Btw, Dimana Chloe? Aku tidak melihat anak itu berkeliaran disini selain anggota lain,"


Mendengar nama Chloe seketika membuat mood Ezra turun, Pemuda itu melirik ke arah lain dengan jengah. Merasa muak karna semua anggota Asrama lebih perhatian pada Chloe bahkan Justin sendiri menanyakan keberadaan gadis itu.


"Dia pergi dari Asrama ini, Lebih tepatnya kabur," Sahut Ezra acuh, Tak peduli dengan keberadaan sang gadis. Dia lebih memilih menyesap kembali kopinya, Bahkan tak memperhatikan ekspresi Justin yang kini berubah terkejut.


PRANG!


"Apa?! Bagaimana bisa?!"


"Dia terus menggangguku Tuan Justin, Entah di Asrama atau pun Kantor. Jadi akhirnya ku kurung saja dia di gudang saat malam hari, Sekalian aku juga ingin tahu seberapa berani dia disana. Tapi setelah kejadian itu dia kabur dari Asrama," Jelas Ezra singkat, Merasa tak bersalah setelah teringat dengan kejadian itu.


Aura Justin berubah suram dan mencekam, Dia mengepalkan kedua tangannya disisi kanan dan kiri. Netra orange nya berubah tajam menatap Ezra, Giginya bergemeletuk sesaat. Pemuda itu meranjak dari duduknya berdiri di hadapan Ezra.


"Ezra Miracle!"


Ezra mendongak usai mendengar namanya di panggil secara lengkap oleh Justin, Apalagi setelah nada suara Justin terdengar seram dan berat. Tanpa sadar ia berkeringat dingin menyadari tatapan elang oleh Justin tertuju padanya, Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Tuan...,"


GREP!


Justin mencengkeram rambut Ezra erat hingga kepala Ezra terangkat dan menatapnya. Meski sorot mata Ezra tetap datar seolah tak merasa sakit, Namun Justin tetap merasa marah dan tak terima dengan perlakuan Ezra pada Chloe.



"Ezra, Kau tahu. Yang memberikan undangan itu aku! Aku yang mengajaknya untuk bergabung menjadi anggota disini! Kau tahu itu kan?! Kau melihatnya kan!" Kata Justin penuh penekanan dan amarah.


"Ya, Saya tahu Tuan dan saya melihatnya," Balas Ezra tetap tenang meski kini rambutnya di tarik secara paksa oleh Justin.


"Lalu kenapa kau membuatnya pergi dari sini hah?! Aku juga membutuhkan bantuannya sesuai kesepakatan itu! Dan kau malah ingin membuat kesepakatan kami hancur!" Bentak Justin marah, Tak bisa mengontrol emosinya lagi.


Seketika Ezra merasa Broken Heart, Perasaannya hancur saat Justin membentaknya. Hatinya begitu sakit dan kini Ezra tak bisa memendam perasaannya lagi. Sorot netra hijaunya berubah menjadi kebencian yang mendalam. Merasa tak bisa menahan emosinya lagi.


"Aku sudah bilang kalau aku tidak suka padanya Tuan Justin! Aku membencinya, Aku benci sekali padanya! Dia merebut semua perhatian para anggota Asrama ini bahkan perhatian anda!" Balas Ezra tak kalah membentak, Amarah dalam dirinya tampak membara disertai kebencian yang mendalam.


Justin mendelik lalu melepaskan cengkeramannya pada Ezra. "Kau cemburu?!"


Ezra bungkam dia menggertakkan giginya sesaat, mengepalkan kedua tangannya penuh amarah. Sejenak dia mendongak menatap Justin dengan netra nya yang berkilat.


"Ya! Aku cemburu padanya! Dia mengambil semuanya dariku. Perhatian Tuan, Perhatian para anggota, parhatian para karyawan kantor. Semuanya dia ambil untuk dirinya sendiri! Sedangkan aku...Aku malah dibenci oleh mereka, Mereka menjelek-jelekkanku dibelakang!"


"Lalu Tuan...Selama ini aku selalu bersama anda, Disamping anda dan selalu memperhatikan anda. Tapi yang anda pikirkan hanya bocah tengil itu dan anggota lainnya. Lalu aku yang selama ini selalu disamping Tuan, Tuan anggap apa?! Patung atau hanya pesuruh?!" Bentak Ezra dengan senyum pedih, Tak bisa lagi menahan semua emosinya.


"Apa kata-kata sahabat yang Tuan lontarkan tadi hanya omong kosong? Apa selama ini aku hanya dianggap pesuruh olehmu?!"

__ADS_1


Justin menatap kaget, Tak menyangka bahwa Ezra akan berpikir semua yang dikatakannya hanya omong kosong. Ekspresinya kembali marah. "Apa maksudmu Ezra?! Kau salah paham! Selama ini aku memikirkan semua anggotaku termasuk dirimu. Aku memperlakukan semua anggotaku dengan adil. Kenapa kau malah bilang perkataanku hanya omong kosong?!"


"Salah paham?! Aku melihatnya sendiri, Mendengarnya sendiri, Semua sudah terekam jelas disini dan disini Tuan Justin!" Seru Ezra menunjuk kepalanya dan dadanya dimana tempat hatinya berada. Rasa sesak, Itulah yang dirasakan Ezra sekarang.


BRAK!


Sesaat Ezra menggebrak meja diantara mereka dengan amarah, Menatap Justin yang terdiam membisu.


"Selama ini aku selalu memendam perasaanku. Aku tahu ini tidak wajar dan terdengar aneh. Tapi sejujurnya aku suka padamu Justin, Aku menyukaimu sejak lama!"


Teriakan Ezra membuat Justin tak bisa berkata-kata lagi, Netra orangenya membulat sempurna. Syok dan terkejut itulah yang dirasakannya saat ini, Jantungnya berdetak tak terkendali. Situasi yang sama saat mereka dikantor hanya berdua saat itu. Tapi kini beda lagi ceritanya. Mulutnya seakan terkunci beberapa waktu.


"Ezra...Kau...Kau suka padaku?!" Masih dalam keterkejutannya, Membuat Justin hampir tak bisa mengeluarkan kata-katanya.


Ezra diam untuk beberapa saat, Dirinya masih dikendalikan oleh emosi. Pemuda bernetra hijau itu memejamkan mata sesaat, Semakin mengepalkan kedua tangannya.


"Hatiku sakit saat kau membentakku Justin. Aku tak bisa memendamnya lebih lama lagi. Untuk sekarang aku ingin sendiri," Kata Ezra lirih, Menghindari tatapan Justin.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Ezra melangkah pergi dari ruangan Justin. Meninggalkan tuannya disana.


BLAM!


Justin masih syok dengan apa yang terjadi meski pintu ruangannya sudah tertutup rapat, Membuat dirinya sendirian disana. Dia masih belum menerima kenyataan bahwa sahabat nya sekaligus orang yang sudah anggap sebagai saudara ternyata memiliki perasaan padanya.


Pemuda bernetra orange itu memegang kepalanya lalu duduk di sofa, Merasa frustasi dengan pernyataan Ezra.


"Ezra...Bagaimana mungkin dia bisa suka padaku?! Jadi selama ini dia gay?!" Justin merenung dalam keadaan syoknya, Kemudian netra orange nya perlahan meredup sedih.


"Ezra...Kenapa kau seperti ini?" Justin menatap kosong lantai di bawahnya, Tak bisa berpikir jernih. Dia hanya bisa diam mematung disana selama beberapa jam.


************


[Taman bermain, Malam hari]


BLAM!


Ezra keluar dari mobilnya atau lebih tepatnya mobil Justin, Dia melangkah pergi menuju sebuah taman bermain yang sudah lama ditinggalkan. Setelah kejadian pertikaiannya dengan Justin, Ezra memutuskan untuk jalan-jalan ke kota sekedar menghilangkan amarah dan emosinya sampai malam.


Dan akhirnya dia putuskan untuk mampir di taman bermain yang sudah lama ditinggalkan, Tempat dimana dia dan Justin sewaktu kecil sering bermain di sana. Secara perlahan Ezra mengendap-endap melewati pagar pembatas, Dia memanjatnya lalu akhirnya memasuki area taman bermain. Karna sudah lama ditinggalkan, Otomatis taman bermain itu ditutup dan dilarang di masuki orang luar. Namun Ezra tetap nekat masuk kesana.


Sesaat netra hijaunya menyapu sekeliling taman bermain untuk memperhatikan kondisi disana. Menatap satu persatu alat permainan anak-anak yang sudah usang, Bahkan mungkin sebagian alumaniumnya sudah berkarat.


"Taman ini tidak berubah sampai sekarang, Tetap seperti dulu," Pikir Ezra usai memperhatikan sekelilingnya.


Dengan langkah tenang Ezra berjalan melewati alat permainan anak-anak yang sudah usang, Hanya suara-suara hewan malam lah yang menemaninya disana. Tak lama netranya melihat tempat bermain skateboard.


Ezra menuju ke tempat itu, Dia mendekati sebuah simbol di tempat bermain skateboard. Sesaat dia berjongkok lalu mengusap simbol berbentuk hati itu.



Ekspresinya berubah muram dan sedih ketika tangannya menyentuh simbol tersebut, Teringat dulu dia pernah bermain skateboard disana bersama Justin. Mereka berdua lah yang membuat simbol berbentuk hati itu, Seolah mengatakan bahwa mereka tidak akan terpisahkan oleh apapun meski berbagai rintangan mereka hadapi.



Sang pemuda menghela napas, Memejamkan mata sesaat. Dia kembali berdiri tegap, Perhatiannya teralihkan menatap sebuah danau yang tak jauh dari posisi taman bermain itu.


Dengan langkah mantab dia menuju kesana, Ekspresinya tetap datar seakan tak memiliki emosi. Hingga akhirnya langkahnya terhenti tepat berada di sisi danau tersebut.


Sejenak Ezra menatap pantulan dirinya yang berada di atas danau bersamaan dengan cahaya bulan yang menyinari di atasnya. Entah apa yang dipikirkan sang pemuda.


Perlahan Ezra melepaskan jam tangan pemberian Justin, Dia juga mengambil HP nya. Meletakkan kedua benda itu di tanah, Tak lama Ezra merentangkan kedua tangannya. Menatap cahaya bulan yang bersinar di kegelapan malam.


"Aku tidak akan mengganggumu lagi, Selamanya sampai kapanpun. Maaf, Terima kasih, Dan Selamat tinggal Justin,"


Usai mengatakan semua yang berada di pikirannya, Ezra memejamkan mata. Membiarkan dirinya jatuh masuk ke dalam air danau.


BBYYUURR!


Perlahan tubuh Ezra semakin tenggelam bersama gaya gravitasi bumi, Membuat tubuhnya semakin tersedot menuju dasar danau yang dalam. Pemuda itu tidak berniat berenang atau menyelamatkan diri. Malahan dia membiarkan dirinya terbawa arus aliran danau.



Ya, Ezra memutuskan untuk bunuh diri. Dia sudah tak tahan dengan hidupnya yang kacau, Kebencian para karyawan kantor, Tatapan tak suka dari para anggota asrama, Dan Justin yang lebih memilih memberikan seluruh perhatiannya pada Chloe dibanding dirinya. Ezra sudah muak dengan semua itu, Rasa bencinya pada Chloe lebih besar dibandingkan rasa sukanya pada Justin.


Mungkin inilah jalan terbaik menurut Ezra, Pergi tanpa mengucapkan apapun lagi. Meninggalkan semua yang hanya akan menjadi kenangan untuknya.


Sesaat netra hijaunya menatap sayu permukaan danau yang terkena cahaya bulan, Tatapan redup dan kosong tanpa cahaya. Tersenyum lemah dan getir. Beberapa air bahkan sempat terhirup olehnya hingga hampir memenuhi rongga paru-parunya.


Perlahan tangannya terulur ke atas seolah ingin meraih cahaya bulan di atas permukaan danau.



"Sekarang kau senang kan Chloe? Aku lebih memilih mati bunuh diri. Sekarang aku tidak akan pernah mengganggumu lagi Chloe, Kau bisa mengambil semuanya dariku setelah aku pergi. Dengan begini Justin akan bahagia bersamamu dan anggota lainnya,"


Ezra masih tersenyum getir sesaat hingga akhirnya perlahan kelopak matanya tertutup rapat, Bersamaan dengan tubuhnya yang semakin tenggelam ke dasar danau yang dalam.

__ADS_1


TBC


__ADS_2