
Kring!
Suara bel kecil menyambut kedatangan Chloe dan Ivy, Mereka berdua melangkah memasuki dalam Cafe. Ivy terus memegangi ujung baju Chloe agar mereka tak terpisah.
Sesaat suara gaduh terdengar disana, Banyak pelanggan tampak mengerumuni sesuatu yang menarik perhatian Chloe dan Ivy. Mereka sejujurnya berniat mencari tempat duduk kosong namun niat mereka terhenti karena kerumunan itu.
"Disana ada apa ya?" Tanya Ivy memperhatikan kerumunan yang menarik perhatian mereka.
"Entahlah, Ayo lihat," Chloe yang ikut kepo langsung menarik Ivy mendekati kerumunan itu. Keduanya berusaha melihat diantara celah para pengunjung.
"Eh? Itu bukannya kak Azura dan kak Rafael," Kata Ivy terkejut setelah melihat kedua kakaknya dari dekat.
"Masa?" Chloe mempertajam pengliahatannya, Netra birunya membulat terkejut ketika Azura memukul Rafael.
BUAK!
BRUK!
Ivy tersentak takut, Ia Refleks memeluk Chloe disampingnya. Chloe yang merasakan pelukan Ivy agak kaget, Gadis itu pun membalas pelukan Ivy berusaha menenangkan.
"Chloe...Kak Azura dan kak Rafael...," Tubuh Ivy gemetar, Ia semakin mengeratkan pelukannya sekaligus mendekatkan diri pada Chloe.
"Jangan dilihat!" Chloe menutup mata Ivy dengan tangannya agar tak melihat pertengkaran antara Azura dan Rafael meski mungkin Ivy sudah melihatnya sekilas.
Ivy hanya bisa memejamkan matanya erat, Memeluk gadis disampingnya dengan tubuh gemetar takut. Suara gaduh itu masih berlanjut, Hingga akhirnya suara panggilan Rafael merendam bisikan-bisikan sekitar mereka.
"Azura!"
Rafael berusaha berdiri dibantu pacarnya, Ia memegangi pipi kirinya sembari menatap kepergian Azura. Sedangkan Azura berjalan pergi tanpa mendengarkan panggilan Rafael, Kerumunan orang-orang langsung menyingkir membiarkan Azura lewat.
Namun tanpa disengaja netra birunya melirik tempat dimana Chloe dan Ivy berada, Sejenak tatapannya tertuju pada Chloe dan Ivy yang memandangnya balik. Menatap bagaimana Ivy memeluk Chloe dengan pandangan takut ke arahnya, Berbeda dengan Chloe yang memandangnya iba sekaligus prihatin.
Azura hanya diam, Perasaannya sangat kacau saat ini. Ia kembali melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi. Menghiraukan semua perhatian publik yang tertuju padanya.
Tap! Tap! Tap!
"Rafael, Kau baik-baik saja?" Tanya gadis disamping Rafael dengan pandangan cemas, Menyadari lebam biru yang berada di pipi kiri Rafael akibat pukulan dari Azura.
Rafael diam sesaat, Netra biru laut nya meredup sedih. Perasaan bersalah seketika menyelimutinya saat tahu pacarnya saat ini adalah mantan pacar dari adiknya sendiri, Yaitu Azura. Tanpa ia sadari, Ia telah menusuk adiknya sendiri dari belakang.
Azura benar, Kakak macam apa dia? Membuat adiknya sendiri merasa terluka karna ulahnya?. Rafael mengusap wajahnya kasar, Mencoba berpikir jernih.
"Honey?"
Rafael merasakan pegangan seseorang ditangannya, Netra birunya mendelik tajam sebelum menyentak tangan pacarnya itu dengan kasar.
"Sudah cukup! Kau benar-benar keterlaluan sudah membuat hubunganku dengan adikku kacau! Mulai saat ini kita putus!" Kata Rafael marah, Dia bergegas mengambil tas kerjanya.
"Rafael! Rafael! Tunggu! Aku bisa jelaskan!" Gadis itu memohon-mohon sembari memegang tangan Rafael dan terisak kecil, Berharap Rafael berubah pikiran untuk meninggalkannya.
Namun tampaknya Rafael yang sudah dikuasai amarah sekaligus rasa kecewa, Mengabaikan permohonan gadis itu. Ia lantas bergegas pergi dari sana bahkan tidak menyadari kehadiran Chloe dan Ivy di Cafe itu.
Tap! Tap! Tap!
"Rafael!" Gadis itu hanya bisa menangis terisak menatap kepergian Rafael yang sudah menjadi mantan pacarnya. Orang-orang disana sebagian menatap iba si gadis namun sebagian lagi merasa puas karna Rafael memutuskan gadis itu.
Sedangkan diposisi Chloe dan Ivy, Ivy tampak sedih tanpa melepaskan pelukannya. Kemudian ia menarik pelan ujung pakaian Chloe, Bermaksud meminta perhatian gadis disampingnya.
"Chloe, Ayo pulang saja. Aku sudah tidak berselera lagi makan di tempat ini," Kata Ivy lirih, Pandangannya lesu menatap lantai dibawahnya.
"Baiklah, Kita akan makan dirumah saja," Chloe mengusap surai Ivy sesaat, Lalu membawa gadis bersurai ungu potongan pendek itu keluar dari Cafe.
****************
[Mansion Michelle's Family]
Blam!
Chloe menutup pintu perlahan setelahnya ia menatap wajah Ivy yang terlihat lesu, Mungkin ikut merasa sedih dengan rusaknya hubungan saudara antara Rafael dan Azura. Chloe menepuk pundak Ivy sesaat.
"Ivy, Kamu istirahat dulu ya. Nanti kalau sudah waktunya makan malam, Aku akan memanggilmu,"
Ivy hanya mengangguk lesu. "Iya, Aku istirahat dulu Chloe,"
Chloe mengangguk kecil, Melihat kepergian Ivy yang meninggalkannya sendiri di ruang tamu. Gadis bersurai biru itu menghembuskan napas lelah, Tanpa berlama-lama ia menghempaskan tubuhnya di sofa sambil menatap langit-langit ruang tamu.
"Hubungan keluarga Michelle ternyata sama rumit nya dengan hubungan kami di Asrama. Jika dibiarkan, Pasti akan terjadi perpecahan di keluarga ini," Gumam Chloe pelan, Teringat masalah yang sering dia hadapi selama tinggal di asrama.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki terdengar mendekat, Tapi Chloe yang asyik dengan dunianya sendiri tidak menghiraukan suara itu. Hingga tiba-tiba wajah Al muncul begitu saja tepat dihadapannya membuat Chloe terkejut setengah mati setelah sadar siapa pelakunya.
__ADS_1
"Ngapain disini?"
"Waaa!"
JEDUG!
"Akh!"
Chloe yang refleks bangun karna terkejut tidak sengaja kepalanya terbentur wajah Al, Alhasil keduanya meringis kesakitan sembari memegangi kepala masing-masing.
"Ngapain sih pakai jedukin jidat segala?!" Seru Al masih memegangi kepalanya.
"Kak Al yang ngagetin duluan tahu! Aku cuma refleks dan gak sengaja," Balas Chloe gak mau kalah, Ia mengusap keningnya yang terbentur dengan cemberut.
"Ck!" Al berdecak kesal, Usai merasa wajah tidak sakit lagi. Ia memperhatikan Chloe yang masih berusaha menghilangkan rasa sakit di keningnya. "Btw, Tadi Ivy kenapa? Mukanya kok rada sedih gitu?"
Sejenak Chloe bungkam lalu menggidikkan pundaknya, Menutupi pertikaian antara Azura dan Rafael yang ia lihat. "Mungkin merasa sedih karna tidak ada yang mau berteman dengannya," Bohong Chloe.
"Why?"
"Entahlah, Tanya saja pada Ivy,"
Al menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan pandangan bingung. "Lalu, Kenapa kau tiba-tiba menerima pekerjaan ini? Maksudku kenapa kau menerima permintaan Kak Eli?"
Sontak Chloe menoleh, Menghentikan aktivitasnya yang sebenarnya enggak sakit-sakit amat. "Kok tanya nya tiba-tiba begitu?"
"Hanya penasaran," Al menggidikkan pundaknya acuh. "Habisnya, Kulihat terakhir kali kau bekerja di perusahaan J.G Entertainment milik direktur sebelumnya. Jadi kupikir kau betah bekerja disana, Karna kau sudah memiliki pekerjaan,"
Al mengalihkan pandangannya menatap bingkai jendela. "Tapi secara tiba-tiba kau bekerja disini atas permintaan Kak Eli. Rasanya begitu mendadak, Bahkan aku baru tahu Kak Eli sudah mengenalmu saat dia mendonorkan darahnya padamu,"
"Kau tidak suka aku berada disini? Atau lebih tepatnya kalian semua tidak suka padaku?" Tanya Chloe memandang serius, Membuat atmoster ruangan itu menjadi canggung bagi Al.
"Kalau tidak suka, Untuk apa Kak Eli membawamu kesini repot-repot? Lalu untuk apa Ash perhatian padamu kalau tidak suka? Dan Aku untuk apa bicara padamu kalau aku tidak suka keberadaanmu disini?" Al menghembuskan napasnya.
"Tidak ada yang berpikir begitu, Tapi aku tidak tahu apakah Revan, Kak Rafael, Leon, dan Leo sepemikiran dengan kami sisanya. Tapi kurasa selama kau tidak menjadi ancaman bagi kami, Kau akan baik-baik saja," Senyum tipis terukir di bibir Al, Dia mendudukkan dirinya di sofa sambil menyandarkan diri.
"Aku disini juga tidak memaksa kalian untuk menyukaiku, Setidaknya aku sudah berusaha bersikap baik dengan kalian terutama Ivy," Chloe ikut tersenyum kecil.
"Ivy, Yah kurasa kau harus lebih utamakan dia. Soalnya dia itu tanggung jawabmu nona kecil," Al menoleh sekilas.
"Ya tentu saja, Ivy akan menjadi yang utama selama aku tinggal disini,"
"Kak Al kenapa tidur disini?"
"Pengen aja," Sahut Al dengan mata tertutup, Menggunakan lengannya untuk menutupi mata. "Btw, Tadi sebelum kesini. Aku melihat Azura di taman. Kurasa dia butuh hiburan kecil,"
"Lalu apa hubungannya denganku?"
"Yah, Siapa tahu kau bisa menghiburnya. Dia terlihat memprihatinkan,"
"Bukan urusanku kan, Aku tidak ingin ikut campur privasi kalian," Chloe melengos pergi meninggalkan Al yang tertidur di sofa tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
****************
Leon dan Leo, Si kembar yang hobinya masak. Semenjak Kakak pertama mereka sibuk dengan urusan perusahaan. Tugas bersih-bersih dan membuat masakan beralih menjadi tugas mereka berdua. Mereka selalu kompak melakukan pekerjaan mereka, Bahkan kemana-mana selalu berdua seolah tidak terpisahkan.
Meski memiliki sifat saling bertolak belakang. Leo yang ceria, supel, Dan mudah beradaptasi sedangkan Leon memiliki sifat kalem, Tidak banyak tingkah, dan agak pendiam. Yah walau begitu, Si kembar ini tetap terlihat kompak di mata para saudara mereka yang lain.
Seperti biasa saat ini keduanya sibuk menyiapkan makan siang yang akan dimulai beberapa jam lagi. Leon sibuk membuat beberapa dessert, Sedangkan Leo sibuk membuat menu masakan utama mereka.
Disaat yang bersamaan, Chloe memasuki ruang dapur. Netra birunya memperhatikan aktivitas Leo dan Leon sejenak sebelum memutuskan mendekati mereka.
Tap! Tap! Tap!
"Ada yang bisa kubantu?" Tanya sang gadis sembari melirik adonan yang berada ditangan Leon.
"Tolong ambil cetakan disana!" Pinta Leon tanpa menoleh.
Chloe bergegas mengambil cetakan yang dimaksud lalu menyerahkannya pada Leon.
"Ada lagi?"
"Tolong potong ini, Aku harus menjaga kuahnya tetap kental," Kata Leo sambil mengaduk masakannya di panci, Menunjuk sayuran yang berada di keranjang.
"Oke,"
Sang gadis mengerjakan tugasnya yang dipinta oleh Leo, Usai memotong beberapa sayuran, Chloe mencuci tangannya di wastafel sebelum kembali membuka suara.
"Ada lagi?"
"Udah gak ada, Kau pergilah," Leon mendekorasi dessert nya yang hampir selesai.
__ADS_1
"Um...Aku ambilkan piring saja,"
Chloe bergegas mengambil beberapa piring lalu menatanya di meja, Tak lupa dia juga meletakkan sebagian piring didekat Leo dan Leon. Setelah melakukan tugasnya, Chloe berlalu pergi dari sana.
*************
WWUUSSHH!
Semilir angin sore menerpa helai-helai surai hitam milik Azura, Pandangannya kosong menatap kebun dihadapannya. Hamparan bunga bergerak mengikuti arah angin ditemani langit sore berwarna jingga.
Sangat damai, Tapi tidak bagi Azura yang saat ini masih dikuasai amarah dan rasa kecewa. Menyedihkan? Memang benar saat ini dia terlihat menyedihkan, Nyatanya dia tidak pernah menyangka bahwa selama ini selingkuhan mantan pacarnya itu ternyata kakaknya sendiri, Rafael Michelle.
Azura benar-benar sakit hati, Baginya semua begitu hampa. Penuh amarah dan kecewa. Ia menunduk hingga helai-helai rambutnya menutupi wajah.
Menatap sebuah foto dalam genggamannya, Foto dirinya dan mantan pacarnya sewaktu mereka masih berstatus pacaran. Azura membuang napas sesaat, Dia bergumam kecil sebelum memutuskan membakar foto itu.
"Sungguh memuakkan!"
Ia menjatuhkan foto tersebut, Perlahan foto itu terbakar dilahap api hingga menjadi abu. Azura menginjak sisa-sisa abu foto tersebut penuh emosi.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki mendekat menyadarkan Azura dari rasa amarah yang menguasainya. Ia menoleh menatap sosok gadis bersurai biru yang sudah berada didekatnya. Gadis itu berseru panik sambil menginjak tanah tempat abu foto itu berada, Berusaha menghilangkan sisa-sisa api kecil yang menyala.
"Heh! Api?! Apa yang dibakar ini?!" Seru Chloe masih menginjak sisa-sisa api, Hingga lenyap sepenuhnya.
Azura hanya menatap dalam diam, Menatap abu yang masih diinjak oleh Chloe. "Bukan apa-apa," Bohongnya.
"Hah~..." Gadis bersurai biru itu menghembuskan napas lega. Netra birunya memperhatikan sebuah potongan foto yang tersisa setengah sedangkan sisanya habis terbakar. Sang gadis mengambil potongan itu sembari membersihkan bekas abu yang menempel.
"Ini...Fotomu dengan mantan pacarmu kan, Kak Azura?"
Azura mengalihkan pandangannya. "Iya, Buang saja foto itu. Aku tidak ingin melihatnya lagi,"
Chloe mengangguk paham kenapa Azura langsung membakar foto tersebut, Mungkin tidak ingin mengingat mantan pacarnya lagi.
Sang gadis membuang potongan foto itu ke tempat sampah terdekat dan menghampiri Azura yang sudah duduk kembali di bangku taman. Chloe memutuskan duduk disamping Azura.
"Kau...Pasti sudah melihat pertikaian antara aku dan Kak Rafael kan?" Ucap Azura tiba-tiba. Sontak Membuat Chloe menoleh.
"Um...Ya, Bersama Ivy. Tapi aku langsung menutup matanya agar tidak melihat kak Azura memukul Kak Rafael. Sebenarnya kalian berdua kenapa?" Tanya Chloe ragu, Takut membuat Azura tersinggung.
Azura tertawa sinis sesaat, Memasang senyum palsu. "Biasa, Pertengkaran kakak adik sudah sering terjadi. Kurasa tidak perlu kuceritakan masalahnya,"
Chloe menatap diam lalu pandangannya beralih menatap hamparan bunga, Tersenyum tipis. "Tidak masalah kalau Kak Azura belum ingin cerita, Lagipula aku masih menjadi orang asing disini. Tidak seharusnya langsung terbuka pada orang yang belum lama dikenal,"
Azura memilih diam. Menatap lurus sembari menikmati semilir angin sore. Tak lama Sebuah boneka rajutan milik Azura yang ia simpan terlintas di benak Chloe. Gadis itu langsung meranjak dari tempatnya, Berlari pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Azura.
Sedangkan Azura hanya memandang heran kepergian Chloe, Dia berdiam diri ditempat.
Hingga tak lama Chloe kembali membawa sebuah boneka rajutan di tangannya, Gadis itu lantas menyodorkan boneka itu tepat dihadapan sang pemuda.
"Kak Azura, Ini milikmu. Aku melihatmu membuangnya, Karna belum selesai dirajut. Aku melanjutkannya kembali,"
Tatapan Azura tertuju pada boneka kecil di tangan Chloe, Netra biru lautnya meredup sedih tanpa berniat menerima boneka itu.
"Kenapa kau ambil lagi? Kan sudah kubuang?"
"Sayang sekali, Padahal Boneka rajutan ini bagus lho. Jarang-jarang kulihat, Boneka rajutan sebagus ini. Jangan dibuang Kak Azura, Mending disimpan," Jelas Chloe tersenyum ceria, Ia meraih tangan Azura lalu meletakkan boneka itu disana. Memaksa Azura menggenggam boneka itu.
Netra biru lautnya memperhatikan setiap inchi dari boneka tersebut. Kemarin dia tidak merajut bonekanya sampai selesai, Kini Boneka itu sudah menjadi boneka yang lengkap setelah kembali ke tangannya.
"Awalnya, Aku membuat Boneka ini untuk Ivy. Tapi kurasa dia tidak akan menyukainya, Jadi kuputuskan untuk membuang ini," Azura menggerakkan tangan boneka tersebut.
"Sekarang jangan dibuang kak Azura, Susah-susah lho ngebuatnya," Chloe berkacak pinggang, Menggeleng pelan agar Azura tak berpikir membuang boneka itu.
Azura tertegun sejenak, Netra biru lautnya menatap tepat di netra milik Chloe. "Padahal aku yang membuat boneka ini, Tapi anak ini tidak ingin aku membuangnya,"
"Kau...Ingin menyimpan boneka ini?" Tanya Azura sembari menyodorkan boneka itu.
"Heh?! Apa? Tidak, Itu kan punya Kak Azura. Untuk apa aku menyimpannya," Chloe mengangkat satu alisnya heran.
"Kupikir kau ingin menyimpannya karna tidak memperbolehkanku membuang ini,"
Seketika Chloe tak bisa berkata-kata lagi, Gadis itu berbalik sesaat ia menoleh. "Aku kesini cuma mau ngasih boneka itu, Urusan Kak Azura ingin menyimpan atau membuangnya lagi itu terserah kakak,"
Usai menyelesaikan kalimatnya, Chloe melangkah pergi meninggalkan Azura sendirian disana. Azura hanya memandang kepergian Chloe dalam diam sembari memeluk boneka di tangannya.
"Terima kasih," Bisik pemuda bernetra biru laut itu pelan, Membiarkan kata-kata terakhirnya terbawa semilir angin.
TBC
__ADS_1