
"Hah~...Sampai sekarang belum ada kemajuan ya. Aku belum menemukan penghianat itu," Gumam Chloe mendesah lelah, Dia keluar dari lift karna urusannya di kantin sudah selesai.
Kalau Chloe pikir-pikir lagi selama dia bekerja di J.G Entertainment, Tidak ada satu karyawan pun yang memiliki gelagat mencurigakan disini. Apalagi dengan Ethan, Dia sempat mengawasi Ethan namun pria itu juga tak menunjukkan gelagat mencurigakan sama sekali.
Sesaat Chloe memijit keningnya pusing. Kalau begini apa dia menyerah saja ya? Atau meminta Justin memberinya misi yang lain?.
"Entah kenapa aku merasa misi ini lebih sulit ketimbang misi yang diberikan oleh Program dan Holy," Pikir Chloe masih memijit keningnya, Dia berbelok menuju sebuah ruangan. Berniat mengambil kardus di ruangan tersebut.
Namun Chloe tak sengaja melihat Ezra berjalan menuju sebuah ruangan, Pemuda itu tampak melepas jasnya bekas noda tumpahan minum tadi. Ezra membuka ruangan tersebut dan masuk kedalamnya entah apa yang pemuda itu lakukan.
Chloe yang penasaran mengikuti Ezra dan mengintip sang pemuda dari balik pintu yang tidak terkunci. Disana Ezra tengah menatap jas nya yang kotor, Tampak kebingungan. Samar-samar sang gadis mendengar gumamam Ezra.
"Bagaimana caraku mencuci jas ini? Kalau Tuan Justin melihatnya, Dia pasti kecewa denganku," Gumam Ezra cemas.
"Hm...Pak Ezra kayaknya butuh bantuan," Pikir Chloe sambil keluar dari tempat persembunyiannya.
Gadis bersurai biru itu mengetuk pintu agar Ezra menyadari kehadirannya.
TOK! TOK! TOK!
"Pak Ezra, Apa bapak perlu bantuan?" Tanya Chloe menawarkan bantuan di ambang pintu sambil tersenyum.
Ezra menoleh menyadari kehadiran Chloe, Sesaat dia mengernyit. Tapi netra hijau emerlandnya melirik Jas di tangannya. Dia menghembuskan napas sesaat.
**************
TES! TES! TES!
Chloe menjemur jas Ezra di sebuah tiang penyangga, Tak lupa dia juga meletakkan ember kosong di bawah jas itu agar menampung tetesan air. Sang gadis juga menyalakan AC diruangan itu agar jas Ezra cepat kering.
Sedangkan Ezra sejak tadi memperhatikan aktivitas Chloe hanya diam di kursinya, Dia memang sengaja mengambil kursi dan meja dari ruangan sebelah sambil menunggu jas nya kering.
Usai selesai dengan tugasnya, Chloe mendekati Ezra yang masih diam. Pemuda bersurai hitam itu tampak kalem di tempatnya.
"Itu jas nya sudah selesai saya jemur Pak, Kalau sudah kering nanti tinggal angkat aja," Jelas Chloe menunjukkan senyum tipisnya.
"Hm...Aku tidak akan berterima kasih untuk ini," Kata Ezra dingin, Dia lebih memilih tidak memandang Chloe.
Gadis itu masih menampilkan senyumnya. "Saya anggap sebaliknya Pak,"
"Aneh," Cibir Ezra melirik sang gadis sesaat.
Chloe tak menjawab lagi, Dia masih tersenyum lalu sedikit membungkuk pada Ezra. "Kalau begitu saya permisi pak,"
Setelahnya Chloe pergi meninggalkan Ezra di ruangan itu, Dia berniat mengambilkan kardus untuk Gracia. Dan berniat akan kembali lagi ke ruangan itu untuk memastikan Jas Ezra sudah kering atau belum.
Kini Ezra tinggal sendirian, Dia memandang jemuran Jas nya yang masih basah. Sejenak netra hijaunya terus melirik jam arloji pemberian Justin yang terpasang manis di lengan kirinya.
"Mungkin 4-5 jam lagi akan kering, Lebih baik aku istirahat dulu," Pikir Ezra yang merasakan kantuk.
Dia melipat kedua tangannya di atas meja lalu menyembunyikan wajahnya diantara lipatan tangan. Perlahan mulai tertidur masuk ke alam mimpi. Membiarkan suara hembusan angin dari AC yang memenuhi ruangan.
Tak berselang lama setelah Ezra tertidur, Seorang karyawan laki-laki secara perlahan masuk ke ruangan tersebut dengan hati-hati agar tak membangunkan Ezra.
Dia dengan mengendap-endap mendekati jemuran jas Ezra yang masih basah, Dengan seringai licik laki-laki itu mengambil gunting yang tersebunyi di balik seragamnya lalu secara perlahan menggunting Jas Ezra secara asal dan terburu-buru sebelum Ezra bangun.
CKRES! CKRES! CKRES!
"Hehehe, Rasakan ini Ezra Miracle. Aku yakin setelah ini kau akan semakin hancur dan Pak Ceo (Justin) akan kecewa dengan sikapmu," Kekeh laki-laki itu pelan.
Dia segera meletakkan jas tersebut di ember dengan asal tanpa di jemur kembali lalu membiarkan gunting di tangannya tertinggal di ember itu.
Laki-laki misterius itu kembali mengendap-endap keluar dari ruangan tersebut, Meninggalkan Ezra yang masih tidur di mejanya tanpa mengetahui kalau Jas nya telah dirusak oleh seseorang.
*****************
CKLEK!
TAP! TAP! TAP!
Chloe kembali lagi sekedar memastikan apakah Jas Ezra sudah kering atau belum. Sesaat Netra birunya menemukan Ezra yang sedang tidur di meja.
"Pak Ezra kayaknya lelah banget, Lebih baik aku gak ganggu istirahatnya," Pikir Chloe memilih melewati meja Ezra menuju jemuran tempat Jas Ezra berada.
Gadis bersurai biru itu mengerutkan alisnya, Menyadari Jas Ezra tak berada di tempatnya. Kepalanya menunduk menemukan Jas Ezra berada dalam ember basah bersama gunting di atasnya.
"Lho, Gunting ini kenapa bisa disini?" Gumam Chloe heran sambil jongkok dan mengambil gunting dalam ember tersebut.
__ADS_1
Dia juga mengambil jas Ezra yang kembali basah karna direndam terlalu lama dalam ember, Sejenak sang gadis memandang kedua benda tersebut antara jas dan gunting di tangannya.
Terlebih lagi Chloe juga menemukan bekas guntingan dan robekan di jas Ezra. Kini Jas sang pemuda sudah gak berbentuk lagi. Chloe diam sesaat, Menyadari ada yang tidak beres dengan jas tersebut.
"Tunggu! Jangan-jangan Jas ini...,"
TAP! TAP! TAP!
"Apa...Yang kau lakukan pada...Jas ku?!"
DEG!
GLEK!
Chloe diam membeku, Tanpa sadar meneguk selivanya kasar. Jantungnya berdegup kencang setelah suara di belakangnya menyapu pendengarannya. Bahkan sang gadis juga merasakan aura suram di belakangnya.
Dengan agak panik Chloe menoleh, Menatap Ezra yang kini berdiri di belakangnya. Tatapan pemuda bernetra hijau itu tampak syok, Sekilas Chloe lihat tubuh Ezra gemetar kecil. Sang pemuda diam membeku, Tanpa aba-aba langsung merebut jas miliknya dari tangan Chloe.
BATS!
Aura kemarahan terpancar jelas dari tubuh sang pemuda, Tatapannya masih sama syok dan tidak percaya bahwa Jas miliknya kini sudah tak berbentuk lagi. Tangannya masih gemetar saat memegang jas tersebut.
"Jas berhargaku...Pemberian Justin, Sekarang sudah hancur?!" Pikir Ezra gemetar, Netra hijaunya agak berkaca-kaca menatap jas miliknya. Kemudian netra nya beralih menatap gunting di tangan Chloe.
Chloe sontak berdiri dengan panik, Dia langsung meletakkan gunting itu kembali dalam ember. Menggeleng pelan untuk membela dirinya sendiri.
"Pak Ezra, Saya tidak melakukannya–"
GREP!
BUAK!
Ezra dengan marah langsung membenturkan tubuh Chloe ke tembok dengan kencang, Dia mencekik leher sang gadis dengan satu tangan hingga tubuh Chloe benar-benar menempel dengan tembok.
"KAU APAKAN JAS BERHARGAKU HAH?!" Kata Ezra tajam, Dia semakin mengeratkan cekikannya membuat Chloe susah bernapas.
"Ukh...P-Pak Saya...," Chloe memegangi tangan Ezra dengan kedua tangannya, Berusaha melepaskan diri dari pemuda yang sedang mengamuk itu. Napasnya tersegal-segal.
"KAU TIDAK MENGERTI! JAS INI PEMBERIAN TUAN JUSTIN DAN KAU MERUSAKNYA?! KAU TIDAK TAHU APA YANG SEDANG KURASAKAN!"
"AKU TIDAK BUTUH BANTUANMU DAN TIDAK AKAN PERNAH MINTA BANTUANMU! PERGI DARI SINI!"
BBRRAAKK!
BLAM!
Tubuh Chloe dilempar keluar hingga menghantam tembok dari dalam ruangan oleh Ezra. Tak lama Ezra menutup pintu itu kencang. Sedangkan Chloe berusaha bangun dari jatuhnya, Dia terbatuk-batuk karna hampir saja mati akibat cekikan Ezra.
"Uhuk...Uhuk! Pak Ezra...," Chloe menyangga tangannya ke tembok untuk membantunya berdiri. Sang gadis menghirup oksigen dengan rakus.
Sesaat dia mengetuk pintu pelan, Namun tak ada sahutan lagi dari dalam. Dengan agak tertatih Chloe mengintip dari balik jendela kecil. Memeriksa kondisi Ezra, Yang dia lihat Ezra tengah menunduk sambil memeluk jas di tangannya, Tubuh pemuda itu juga agak gemetar. Sejenak Chloe mendengar Ezra meracau tak jelas kedengarannya seperti permintaan maaf namun Chloe tak tahu Ezra minta maaf untuk siapa.
Meski saat ini sang gadis merasakan tubuhnya hampir remuk karna benturan tadi, Tapi dia tetap memaksakan diri berjalan pergi dari sana. Meninggalkan ruangan dimana Ezra berada, Memberikan privasi untuk sang pemuda.
**************
[Pulang kantor]
"Chloe, Kau yakin pulang sendiri? Ini sudah hampir larut malam lho," Kata Gracia cemas.
Mereka saat ini berdiri depan gedung kantor karna sudah waktunya para karyawan pulang.
"Yakin kok kak, Tinggal naik bis aja nanti," Balas Chloe sambil tersenyum.
"Oh, Ya sudah. Kalau begitu kakak duluan ya," Kata Gracia sambil melambai pergi.
"Iya, Hati-hati kak,"
Usai kepergian Gracia, Kini Chloe kembali sendiri. Dia menunggu bis terakhir datang di halte, Sesaat sang gadis mengusap-usapkan kedua telapak tangannya agar sedikit hangat dari udara malam.
Pikirannya kembali mengingat kejadian tadi dimana Ezra sangat marah karna Jas berharganya di rusak. Sejujurnya Chloe tak tahu apapun mengenai Jas Ezra, Entah siapa yang tega merusaknya.
"Mengingat kemarahan Pak Ezra tadi, Sepertinya Jas itu benar-benar berharga baginya. Jas itu kayaknya pemberian dari orang yang dia sayangi," Pikir Chloe menundukkan kepalanya. Mencoba menebak siapa yang sengaja menggunting jas Ezra.
"Orang itu pasti sengaja melakukannya agar Reputasi Pak Ezra jatuh di hadapan semua karyawan, Apalagi mengingat sikap Pak Ezra yang gampang emosional membuat semua karyawan pasti membencinya dan menjelek-jelekkan Pak Ezra,"
Chloe menautkan jari-jarinya dengan ekspresi serius, Berpikir keras siapa orang yang sudah memprovokasi para karyawan lainnya untuk ikut menghancurkan Ezra.
__ADS_1
"Aku yakin pasti Si penghianat dan Provokator itu adalah orang yang sama. Dia ingin menghancurkan Pak Ezra sekaligus Pak Justin. Ini bukan tentang balas dendam lagi melainkan jabatan dan kekuasaan,"
"Kalau begitu, Inikah alasan kenapa Pak Justin ingin aku menjadi Partner Pak Ezra, Agar bisa melindungi sekaligus membantu Pak Ezra keluar dari masalahnya ini?"
TIN! TIN!
Suara klakson mobil yang entah berasal dari mana membuat lamunan serius Chloe buyar, Sang gadis sontak mendongak mencari asal suara klakson itu.
Dia menemukan mobil Felix yang terparkir di depannya, Lalu tak lama kaca mobil turun memperlihatkan Felix yang duduk di kursi kemudi dengan senyum ramahnya seperti biasa.
"Butuh tumpangan Chloe?"
Sang gadis terkesiap sesaat, Mengerjapkan matanya. Sedikit kaget karna Felix menjemputnya.
*****************
WWUUSSHH!
Sebuah mobil sedan coklat melaju di tengah gemerlap lampu malam Kota. Felix dan Chloe sama-sama memilih diam dengan pikiran masing-masing. Sesaat netra birunya melirik gedung-gedung pencakar langit melalui jendela kaca mobil.
"Tumben kakak menjemputku?" Kata Chloe memecah keheningan di antara mereka.
"Hanya kebetulan kakak pulang jam segini, Jadi sekalian aja kakak jemput kamu," Jelas Felix masih fokus dengan jalanan di depannya.
"Oh, Kirain emang sengaja. Biasanya kakak pulangnya lebih larut dari yang lain,"
Seketika Felix langsung bungkam, Melirik sang adik angkat sesaat.
"Kok dia tau kalau aku emang sengaja pulang cepat?" Pikir Felix heran.
"Kok ngomongnya gitu?"
"Nebak aja kak," Sahut Chloe dengan raut ngantuknya.
Felix cuma manggut-manggut tanpa menjawab lagi, Sesaat dia teringat dengan saran dari Finnian kalau ingin lebih dekat dengan Chloe, Dia harus mengajak adiknya jalan-jalan.Tapi mau jalan-jalan kemana kalau udah mau larut malam begini?
Kalau Felix ajak jalan akhir pekan dia gak ada waktu karna harus mengurusi perusahaan keluarganya. Kalau besok mereka masih pada sibuk.
"Hm...Kuajak jalan malam ini aja deh, Meski dadakan dan gak ada persiapan. Sekalian beli Stok bahan makanan buat Asrama, Mumpung lagi berdua," Pikir Felix kembali lirik adiknya.
Secara kebetulan Felix lihat toko perbelanjaan di perempatan jalan, Dia segera menepikan mobilnya tepat di depan toko perbelanjaan itu lalu mematikan mesin mobilnya.
"Chloe, Kita beli bahan stok makanan dulu ya buat Asrama. Kau mau ikut?" Tanya Felix sambil melepas seatbelt nya dan mengambil daftar belanja dari saku celananya.
Mendengar kata makanan, Chloe langsung bergegas melepas seatbelt nya dengan riang sambil berseru. "Ikut!"
Keduanya keluar dari dalam mobil tak lupa Felix mengunci mobilnya, Mereka segera memasuki area toko perbelanjaan.
**************
"ini, ini, Dan ini," Kata Chloe sambil mengambil beberapa barang yang mereka perlukan sesuai daftar. "Tambahan keripik kentang buat cemilan,"
"Hm...Kayaknya ini sudah cukup, Apa masih ada yang ingin di beli?" Felix melirik sesaat troli yang dibawanya, Menatap tumpukkan barang yang memenuhi dalam troli.
"Siapa yang minta dibeliin daging segar?" Tanya Chloe mengerutkan alisnya saat membaca nama salah satu barang dalam daftar.
"Kayaknya si Aiden deh,"
"Lalu detergen serbuk bunga lavender?"
"Oh, Itu Justin yang minta soalnya dia suka aromanya,"
"Emangnya siapa yang nyuciin pakaian kita di Asrama?"
"Gak ada, Kan nyuci nya sendiri-sendiri. Ya kali minta di cuci'in," Felix mendengus sesaat, Sedangkan Chloe terkekeh pelan.
"Terus Sereal with corn ini punya siapa?"
"Kayak nya Raizel sama Rion yang minta beliin,"
"Banyak juga pesanan mereka, Yang mana dulu nih kak?"
"Daging aja duluan, Nanti yang itu kelupaan,"
Akhirnya setelah muter-muter area toko perbelanjaan, Mereka membeli semua yang barang dalam daftar. Usai bayar di kasir, Felix dan Chloe pun pulang menuju Asrama.
TBC
__ADS_1