
[Keesokan harinya]
Ezra terbangun saat merasakan cahaya matahari menyinari wajahnya, Perlahan kelopak matanya terbuka menampakkan netra beriris hijau emerland. Dengan pandangan sayu netranya menatap sekeliling sambil berusaha bangun dari tempat tidur. Pemandangan kamar dengan nuansa klasik lah yang dia lihat pertama kali.
Pria itu meranjak dari kasurnya, Menyibak selimut yang menghalangi jalannya. Kakinya melangkah pelan menuju luar kamar. Samar-samar dari ambang pintu suara berisik menyapu pendengarannya.
Ezra mengintip perlahan, Penasaran siapa yang membuat keributan di pagi hari. Sejenak netranya menangkap sosok seorang gadis bersurai biru yang sedang menghadap Raizel dan Ian. Sang gadis tampak kesal karna kedua pemuda itu menghalangi jalannya.
"Ayolah, Biarkan aku pergi. Aku harus bertemu Pak Justin," Rengek Chloe berusaha melewati kedua pemuda itu. Namun Raizel dan Ian menahan kedua pundaknya masing-masing.
Raizel terlihat tak senang, Dia mengerutkan alisnya. "Chloe, Kenapa sih kau malah milih tinggal sendiri? Lebih enak di Asrama, Ada yang masakin terus bisa main-main tanpa ada yang negur. Rame lagi, Masa kau menyia-nyiakan kesempatan ini?"
"Kali ini aku setuju, Kalau kau pergi lagi, Siapa yang akan jadi seksi kesehatan Asrama?" Sahut Ian ikut menimpali dengan ekspresi datarnya yang biasa.
"Kan ada Aiden, Dia juga bisa menggantikan posisiku sebagai seksi kesehatan Asrama selain jadi pengurus disini. Kurasa Aiden hampir sempurna dalam bidang apapun jadi kurasa aku tidak diperlukan disini," Chloe menggeleng, Membuat kedua pemuda itu semakin tak senang.
"Siapa yang bilang kau tidak dibutuhkan disini?! Apa Ezra yang bilang?! Sudah kubilang anggap saja dia tidak ada disini! Dia tidak penting, Kalaupun dia bilang begitu padamu. Kami akan membela mu," Sahut Raizel menggebu-gebu penuh emosi.
Chloe mengusap tengkuknya bingung, Padahal pembicaraan mereka tidak ada sangkut pautnya dengan Ezra. Namun Raizel sudah terlanjur salah paham dan malah melibatkan Ezra dalam obrolan mereka.
"Hah, Bukan begitu–"
"Tch!" Ian mendengus sinis, Memotong perkataan Chloe. "Padahal dia berusaha membunuhmu tapi kau malah tetap baik padanya, Kenapa kau tidak biarkan saja dia mati tenggelam kemarin?! Kenapa malah ditolong?! Dia sudah berulang kali mencelakaimu tau!"
Chloe berkacak pinggang, Alisnya mengerut sebal. "Ian! Jangan ngomong begitu! Aku tahu Pak Ezra hampir membunuhku berulang kali, Aku tahu dia membenciku. Tapi bagaimanapun juga dia tetap partnerku, Dia juga salah satu anggota keluarga ku di Asrama. Sebagai partner, Aku harus selalu membantunya dalam keadaan susah maupun senang,"
Netra hijau milik Ezra melebar setelah mendengar parkataan Chloe, Tersentak tak percaya saat sang gadis mengatakan ia adalah salah satu bagian dari keluarga Chloe di Asrama ini. Seketika kepalanya menunduk pelan, Perasaan aneh seakan menyentuh hatinya.
Berbeda dengan reaksi Ian dan Raizel, Kedua pemuda itu menghela napas berat. Bahkan Raizel sampai mencubit kedua pipi Chloe hingga sang gadis meringis sakit.
"nolongin sih nolongin, Tapi kalau sampai ngebiarin diri sendiri ditindas lain lagi ceritanya. Baik boleh bodoh jangan!" Kata Raizel datar masih nyubit-nyubit pipi cubby Chloe.
"i-iitai! Aku gak bodoh tau! Raizel, lepasin! Cubitanmu sakit," Ringis Chloe berusaha melepaskan cubitan Raizel dari pipinya.
Ian bersidekap sembari menyandarkan punggungnya pada tembok. "Tch! Keluarga? Memangnya kau anggap yang ada di Asrama ini apa? Sebuah keluarga? Kami adalah keluargamu maksudnya?"
"Iyalah! Aku kan dulu pernah tinggal disini, Jadi kalian tuh sudah aku anggap keluarga. Lagian kata Pak Justin anggap saja semua anggota Asrama ini bagian dari keluarga. Kita juga udah tinggal lama bersama, Jadi gak salah dong aku nganggap kalian begitu," Cerocos sang gadis setelah ia berhasil lepas dari cubitan Raizel.
"Ya udah, Kalau kau nganggap kami bagian dari keluargamu. Kalau begitu jangan pergi dari Asrama ini!" Raizel menunjukkan ekspresi memelasnya pada Chloe, Berharap sang gadis berubah pikiran.
"Idih maksa! Ogah, Gak mau! Udah ah, Kalian menyingkir dulu! Aku mau lewat, Aku harus bertemu Pak Justin. Ini sangat penting," Chloe kembali berusaha lewat, Namun Ian dan Raizel masih menahannya.
"Lebih enak tinggal disini," Bujuk Ian datar, Memegang salah satu pundak Chloe.
"Gak! Aku cewek sendirian disini, Gak ada teman cewek. Lebih baik aku tinggalnya pisah sendiri, Lebih bagus dan aman,"
"Minta anggota baru yang cewek sama Justin, Nanti juga kau ada temannya," Balas Raizel.
"Enggak mau!"
Sejak tadi Ezra memperhatikan interaksi antara Ian, Raizel, Dan Chloe dari ambang pintu. Mendengar semua yang mereka katakan, Pandangannya terus tertuju pada sang gadis, Berpikir kenapa Chloe tetap baik padanya meski dulu dia pernah berulang kali hampir membunuh sang gadis.
Ezra melamun dalam diam hingga dia merasakan sebuah tepukan di pundaknya, Membuatnya agak tersentak dan menoleh pada sang pelaku.
Tep!
"Apa yang kau lakukan disini Ezra?"
"Tidak ada, Aku tak sengaja terbangun karna keributan mereka," Ezra mengalihkan pandangannya pada Chloe yang masih berusaha lewat dari Ian dan Raizel. Menyadari kalau Felix lah yang menepuk pundaknya.
Felix terdiam ikut memandangi adiknya bersama Ian dan Raizel. Tak lama senyum kecil terbit dari bibir Felix setelah menyadari tingkah lucu ketiganya.
"Siapa yang membawaku ke Asrama ini?" Tanya Ezra memulai obrolan, Menyandarkan punggungnya pada ambang pintu.
"Chloe, Dia menelpon anggota lain dengan jam arlojimu. Dia bilang dia menemukanmu hampir tenggelam di danau. Jadi dia meminta kami menjemput mu," Jelas Felix sesaat melirik ekspresi Ezra yang tampak tak bisa ditebak.
__ADS_1
Perlahan kepala Ezra kembali tertunduk menatap lantai di bawahnya, Teringat kejadian kemarin malam dimana saat dia tenggelam, Chloe lah yang menolongnya saat itu. Dia bahkan juga sambil membentak dan menceritakan keluh kesahnya pada sang gadis. Namun Chloe saat itu hanya diam dan hanya menenangkannya dengan pelukan.
Mungkin itulah yang dibutuhkan Ezra saat itu, Pelukan hangat dari seseorang ketika dirinya sedang merasa sedih dan kacau. Mengingat kejadian itu entah kenapa rasanya membuat Ezra malu, Malu karna ketahuan nangis di depan seorang cewek. Seolah-olah dia malah menunjukkan kelemahannya pada Chloe.
Tanpa sadar salah satu tangannya naik menutupi wajah malunya, Ezra semakin menunduk pelan.
"Betapa sangat memalukan kejadian itu, Aku seolah-olah sangat terlihat lemah kemarin. Rasanya seperti rapuh dan parahnya kenapa juga harus di depan bocah tengil itu?!" Pikir Ezra tanpa sadar netranya menatap punggung Chloe yang masih menghadapi Ian dan Raizel.
"Sekarang kau menyadarinya kan? Sadar kalau Chloe itu anak yang baik, Bukan seperti yang kau pikirkan," Kata Felix tanpa mengalihkan pandangannya dari sang adik.
Sesaat Ezra hanya diam tak menjawab, Tatapannya terus tertuju pada Chloe. Hingga secara kebetulan, Chloe tiba-tiba menoleh kebelakang dan tak sengaja netra nya dengan netra biru milik sang gadis saling bertemu. Sejenak tatapan keduanya saling terkunci, Ezra baru menyadari kalau netra milik Chloe begitu jernih sebiru samudra.
Tak lama Chloe tersenyum sembari melambaikan tangannya pelan pada Ezra, Membuat tubuh Ezra diam membeku karna kaget. Seolah mengatakan sampai jumpa lagi padanya.
Entah apa yang Ezra pikirkan saat Chloe tersenyum dan melambai pelan padanya, Namun setelahnya sang pria memalingkan wajah mengalihkan pandangannya dari Chloe. Dia segera kembali masuk ke dalam kamarnya, Menutup pintu rapat-rapat tanpa menghiraukan tatapan heran dari Felix, Ian, Raizel, Dan Chloe yang tampak bingung.
BLAM!
Chloe menurunkan tangannya, Senyumnya pudar dari bibirnya. Tangannya beralih mengusap tengkuk dengan heran. Merasa bingung dengan perilaku Ezra.
"Apa aku melakukan kesalahan? Aku tadi hanya melambai saja pada Pak Ezra, Tapi kenapa dia seolah sedang menghindariku?" Tanya Chloe masih heran.
Ian melirik Chloe sesaat. Menjawab cuek. "Mungkin dia masih tidak suka padamu,"
"Sepertinya Ezra menganggap keberadaanmu masih jadi pengganggu baginya," Balas Raizel ikut menimpali.
Tap! Tap! Tap!
Felix melangkah mendekati Raizel, Ian, Dan Chloe dengan senyum ramahnya. Berhadapan dengan tiga orang itu.
"Tenang saja, Mungkin Ezra hanya perlu waktu untuk sendiri. Nanti dia juga pasti bakal bersikap seperti biasanya lagi," Jelas Felix menjawab keheranan sang adik.
"Oh gitu, Ya udah aku mau ke ruangan Pak Justin dulu,"
***************
[Ruangan Justin]
Tok! Tok! Tok!
"Masuklah,"
Mendengar sahutan dari dalam, Chloe segera memasuki ruangan Justin tak lupa mengucapkan kata permisi dan menutup pintunya lagi.
Justin menghembuskan napas sesaat, Netra orange nya beralih dari layar laptop menatap Chloe yang sudah berdiri tepat dihadapannya. Sesaat ia melepaskan kacamatanya, Menautkan jari-jarinya dengan ekspresi serius.
"Apa ada kabar baik soal misimu?"
"Sangat baik, Aku sudah menemukan satu petunjuk tentang penghianat itu,"
Chloe merogoh saku jaketnya, Menunjukkan sebuah memory card berisi rekaman obrolan Ethan bersama sosok misterius itu. Dia meletakkan memory tersebut di meja Justin.
"Aku merekam obrolan penghianat itu dengan rekan kerjanya. Dia bekerja di bawah perintah seseorang tapi aku tidak tahu siapa sosok misterius itu,"
Justin mengangkat satu alisnya heran sesaat, Tangannya terulur mengambil memory tersebut. Memastikan dari dekat.
"Dari suaranya, Apa kau mengenali sosok misterius itu?"
"Tidak, Yang kutahu dari suaranya dia seorang pria. Pria itu sepertinya punya ambisi besar ingin mengambil alih jabatanmu Pak Justin. Soalnya kudengar dia ingin reputasi Pak Justin dan Pak Ezra hancur di hadapan semua orang," Balas Chloe menggidikkan bahu tak tahu.
"Mengambil alih perusahaan ku?" Justin mengerut, Mencoba berpikir siapa sosok misterus itu selain si penghianat.
"Dia sengaja ingin reputasiku hancur dan dipandang rendah oleh orang lain termasuk para karyawanku. Lalu jika sampai berita itu tersebar ke para klien ku dari perusahaan lain, Bisa-bisa kerja sama kami akan berhenti di tengah jalan. Dan akan berdampak pada keuangan perusahaanku,"
__ADS_1
Sesaat jarinya mengetuk-ngetuk meja, memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika sampai perusahaannya bangkrut.
"Perusahaanku akan bangkrut, Dan disaat itulah kesempatan emas untuknya agar bisa mengambil alih perusahaanku dengan menjual perusahaanku padanya. Tch! Ini tidak bisa dibiarkan!"
Justin menghembuskan napas kasar, Satu tangannya mengepal di atas meja. Tatapannya terus tertuju pada layar laptop nya yang masih menyala.
"Satu-satunya cara adalah menangkap penghianat itu terlebih dulu, Lalu memaksanya untuk memberitahu siapa yang menyuruhnya untuk melakukan provokasi di perusahaanku. Hanya dengan cara itu aku bisa tahu siapa sosok misterius selain penghianat itu,"
Justin kemudian mendongak menatap Chloe, Meletakkan memory itu dalam flasdisk.
"Lalu apa hubungannya dengan Ezra? Yang diincar kan aku dan perusahaanku?"
"Hm...Yang saya dengar penghianat itu punya dendam sama Pak Ezra, Karna Pak Ezra dulu mengambil alih jabatannya di perusahaan," Jelas Chloe santai.
"Pantas saja para karyawanku sering menjelek-jelekkan Ezra, Ternyata ada yang memprovokasi mereka untuk ikut andil dalam masalah ini. Kalau perusahaanku terus bermasalah begini, Bisa-bisa reputasi perusahaanku cepat hancur," Justin menghembuskan napas berat, Menopang dagu dengan tangannya.
"Memang itulah yang diinginkan mereka," Chloe hanya mengangguk pelan, Menatap Justin yang tampak kacau. "Saya juga dengar dari penghianat itu kalau minggu depan Pak Justin akan melakukan presentasi di depan semua klien bapak. Dia berencana menghilangkan memory card berisi data perusahaan bapak dan menggantinya dengan memory berisi virus agar presentasi bapak kacau dan gagal,"
Sejenak Justin terdiam mulai menduga-duga pelaku penghiatan itu. "Dia ternyata sudah tahu tentang meeting itu, Apa jangan-jangan penghianat itu memiliki jabatan tinggi di perusahaanku sehingga dia tau tentang meeting itu?"
"Benar sekali,"
"Kau tahu kan pelaku nya Chloe? Sejak tadi kau sengaja bicara terbelit-belit kan?" Justin mendelik menyadari reaksi sang gadis tampak tenang-tenang saja.
Chloe tersentak sesaat lalu cecengesan kecil, Mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Hehehe, Iya. Kukira Pak Justin bisa nebak sendiri karna sudah kukasih clue,"
Sang pemuda kembali menghembuskan napas untuk kesekian kalinya, Dia hanya bisa elus-elus dada karna tingkah salah satu anak didiknya ini.
"Hah, Baiklah katakan siapa penghianat itu,"
"Pak Ethan yang menjabat sebagai General Manager di perusahaan bapak,"
Netra orange nya membulat setelah mendengar nama Ethan, Tak menyangka salah satu orang kepercayaannya selain Ezra ternyata adalah seorang penghianat.
Brak!
Hentakan pada meja membuat Chloe terkesiap kaget sesaat, Dia langsung elus-elus dada karna jantungnya hampir meloncat keluar dari tempatnya.
"Ya ampun, Pak Justin ngapain sampai gebrak meja segala sih?! Suka bener bikin kaget," Pikir Chloe menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau yakin pelakunya adalah Ethan?! Chloe jangan bohong padaku!" Kata Justin dengan nada yang agak meninggi, Rahangnya mengeras menahan emosi.
"Kalau bapak tak percaya, Bapak bisa langsung lihat buktinya," Chloe melirik tenang pada memory yang sebelumnya dia kasih. "Itu baru satu bukti, Saya perlu satu bukti lagi. Yaitu CCTV perusahaan. Saya akan buktikan kalau perkataan saya benar,"
Kembali Justin diam menenangkan emosinya yang sempat tak terkendali, Dia kembali duduk setelah merasa tenang. Berdehem kecil sesaat lalu bersidekap.
"Kau masih punya 4 hari sebelum presentasiku dimulai, Secepat mungkin dapatkan rekaman CCTV itu. Untuk sementara aku akan mengikuti permainan mereka. Kau paham kan Chloe?" Kata Justin dingin yang membuat Chloe mengangguk pelan.
"Aku paham Pak. Tapi selain itu aku merasa mencuriga dengan sosok misterius itu,"
Justin kembali mendongak, Mengalihkan perhatiannya dari layar laptop. Mulai kembali tertarik dengan obrolan mereka. "Apa kau tahu sesuatu tentang sosok misterius itu selain kerja samanya dengan Ethan?"
Sejenak sang gadis bersidekap memasang gaya ala detektif dengan ekspresi seriusnya. "Apa bapak gak berpikir kemungkinan besar sosok misterius yang memerintah Pak Ethan itu adalah salah satu klien bapak? Soalnya saya dengar sosok misterius itu ingin mengambil alih perusahaan bapak karna ingin memperluas saham perusahaannya. Artinya mungkin dia kenal dengan Pak Justin dan mungkin dia juga seorang Ceo sama seperti bapak. Ini menurut kecurigaanku saja sih,"
Justin manggut-manggut mulai menyadari apa yang dikatakan Chloe mungkin ada benarnya.
"Apa yang dikatakan Chloe ada benarnya, Kenapa aku tidak kepikiran sampai sana? Sepertinya mulai sekarang aku harus waspada pada para klienku, Beberapa dari mereka ada yang licik. Aku tidak boleh lengah begitu saja," Sesaat Justin melirik Chloe yang masih memasang ekspresi serius.
"Anak ini cerdik juga, Tidak salah aku memilihnya sebagai anggotaku," Justin tersenyum tipis, Menautkan jari-jarinya.
"Baiklah terima kasih atas semua info ini, Aku akan memikirkan soal itu nanti. Kau bisa pulang sekarang,"
"Oke, Sama-sama Pak. Aku permisi dulu,"
__ADS_1
Justin hanya mengangguk sebagai jawaban, Setelahnya Chloe meranjak keluar dari ruangan Justin.
TBC