
[Note Author: Tetap baca tanggung sendiri akibatnya, Author gak maksa lho. Happy Reading😉]
.
.
.
.
.
.
TAP! TAP! TAP!
Suara langkah kaki terdengar di seluruh penjuru ruangan, Sesaat langkah itu terhenti di depan sebuah frezeer. Aiden, Pria yang memiliki surai ungu kehitaman dengan netra ungu tua itu melirik sebuah kertas berisi catatan yang tertempel di pintu kulkas.
Tangannya terulur mengambil catatan itu, Netra ungu tua nya menatap satu persatu tulisan yang tertera di sana.
...Untuk para anggota asrama dan Justin, Ibuku mengajakku pergi ke Paris untuk mengurusi bisnis milik Ayahku yang sudah lama ditinggalkan dan aku harus membantu ibuku mengurusinya. Jadi selama beberapa bulan aku tidak berada di Asrama, Jangan menungguku....
^^^Raizel Freymon^^^
Aiden mengerutkan alisnya usai membaca catatan itu, Sejenak dirinya terdiam. Kemudian bergumam pelan.
"Pergi secara mendadak dan tidak mengabarkan lebih awal sebelum pergi. Seharusnya dia memberitahukan hal ini juga pada manager nya,"
Kkriieett!
"Ada apa?"
Aiden melirik kecil pada seseorang yang baru saja memasuki dapur, Netranya kembali memandang catatan di tangannya lalu meletakkannya di meja. Ia melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
"Catatan dari Raizel, Dia bilang akan pergi dari asrama selama beberapa bulan untuk membantu ibunya mengurus bisnis ayahnya di paris," Sesaat Aiden menghentikan aktivitasnya memotong sayur, Melirik kecil Ian. "Kau tahu soal itu?"
"Tidak, Dia tidak memberitahukan apa-apa padaku soal ini. Mungkin saja ibunya mengabarkan secara mendadak, Jadi dia tidak sempat memberitahukan pada yang lain," Jelas Ian cuek sembari membolak balikkan catatan di tangannya.
Tak! Tak! Tak!
"Apa manejernya juga tahu?" Tanya Aiden sembari memotong beberapa Tofu.
"Entahlah, Aku tidak tahu apapun soal itu. Kau bisa tanya Revan atau Ash untuk lebih jelasnya,"
"Aku tidak mengenal mereka," Sahut Aiden dingin, Fokus dengan masakannya.
Ian hanya melirik datar dengan netra merahnya, Ia hanya diam setelah tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka berdua.
Sejujurnya meski ia adalah salah satu anggota HE@VEN Ian tidak terlalu peduli dengan Grup mereka, Dia bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain terlebih urusan Raizel atapun anggota lainnya. Itu juga berlaku untuk sahabatnya Chloe.
Netra merah darahnya memandang kursi milik Raizel yang bersebrangan dengan dirinya. "Kedepannya Asrama ini mulai sepi, Kami kehilangan dua anggota lain dan Sekarang Raizel pergi secara mendadak tanpa memberitahu lebih awal sebelum pergi. Rasanya ini...agak aneh,"
Krek!
"Hei, Apa masakannya sudah siap? Aku sudah lapar,"
Suara Devian yang tiba-tiba duduk disampingnya membuyarkan lamunan Ian, Pemuda dengan netra merah itu hanya melirik tajam sesaat.
"Belum, Tunggulah sebentar lagi," Sahut Aiden masih fokus dengan masakannya.
"Huft...Oke," Devian menghembuskan napas pelan, Kemudian ia menopang dagu dengan satu tangannya sembari menunggu Aiden selesai masak.
Satu persatu para anggota berdatangan, Mereka memilih duduk di kursi masing-masing. Netra orange Justin tak sengaja menangkap sebuah catatan di tangan Ian.
"Ian, Catatan siapa itu?"
"Dari Raizel," Ian menyodorkan catatan di tangannya.
Justin lantas meraih catatan tersebut dan membaca kalimat demi kalimat dengan serius. Sedangkan anggota lain sibuk dengan aktivitas masing-masing selagi menunggu Aiden.
Sesaat Chloe menatap tiga kursi kosong yang berjejer disampingnya tanpa ada sang pemilik yang menduduki kursi tersebut. Ia menghembuskan napas pelan.
"Pergi secara mendadak tanpa pamit? Seharusnya dia mengabarkan tentang ini lebih awal!"
Suara Justin menarik perhatian semua anggota (Minus Ian dan Aiden) untuk menatapnya. Tatapan bertanya-tanya mereka layangkan pada pemuda bernetra orange itu.
"Ada apa Tuan Justin?" Tanya Ezra yang merasa penasaran mengapa Justin terlihat kesal setelah membaca catatan itu.
__ADS_1
"Raizel, Dia pergi bersama ibunya ke paris untuk mengurus bisnis milik ayahnya. Dia belum meminta izin dariku sebelum pergi, Bagaimana bisa dia meninggalkan tugas dan Grup idolnya begitu saja?!" Jelas Justin kesal sembari meremas kertas itu hingga tak berbentuk lagi.
"Dia mungkin buru-buru pergi bersama ibunya jadi tidak sempat mengabarkan hal ini," Devian berusaha menenangkan Justin.
"Ian, Kau tahu tentang kabar ini?" Justin mengalihkan pandangannya pada Ian yang masih duduk dengan kalem.
"Tidak, Coba tanya Revan nanti. Aku tidak ingin ikut campur urusan siapa pun," Balas Ian dingin sembari mengalihkan pandangannya.
Setelahnya ruangan itu menjadi hening. Chloe, Ezra, Dan Aiden yang sejak tadi menyimak pembicaraan serius itu memilih tak berkomentar apa-apa.
Tak lama setelah keheningan beberapa menit itu, Aiden meletakkan masakannya di depan semua anggota yang hadir termasuk untuk dirinya sendiri. Mereka mulai menyantap sarapan masing-masing meski atmosfer ruangan itu sempat tegang sebelumnya.
**************
[Ruangan Justin]
Setelah selesai sarapan bersama tadi Justin langsung mengerjakan dokumen yang tersisa di ruangannya. Sama seperti hari biasa, Hari libur pun ia tetap bekerja sepanjang hari. Tidak pernah lepas dari pekerjaan kantornya, hanya di waktu-waktu tertentu saja ia akan beristirahat melepas lelah walau cuma sebentar.
Netra orange nya melirik sebentar tumpukkan dokumen yang berada di mejanya, Memperkirakan berapa lama lagi ia harus mengerjakan tumpukan dokumen itu.
"Tinggal sedikit lagi, Tapi entah kenapa aku rasa agak mengantuk,"
Justin menguap kecil menutup mulutnya dengan punggung tangan, Matanya tampak sayu menahan kantuk. Ia merasa sudah lelah dan letih. Sesaat aktivitasnya terhenti, Tak lama Justin melipat kedua tangannya di meja, Menyembunyikan wajahnya diantara lipatan tangan.
"Mungkin istirahat sebentar lebih baik, Aku...merasa lelah,"
Perlahan kelopak matanya menutup dengan wajah damai, Tertidur nyenyak karna rasa lelah yang menghampiri.
**************
[Beberapa menit kemudian....]
CKLEK!
"Permisi tuan, Saya ingin–"
Perkataan Ezra langsung terhenti saat netra hijau emerland nya tak sengaja menangkap pemandangan Justin yang sedang tidur. Bahkan layar laptop pemuda bernetra orange itu pun masih terlihat menyala.
Ezra melangkah mendekati meja Justin dengan hati-hati agar tak membangunkan tuan nya itu. Ia meletakkan dokumen di tangannya yang berniat ia serahkan pada Justin.
Sesaat Ezra memandang wajah damai tuannya itu, Ia hanya diam tanpa bersuara. Tangannya terulur ingin mengusap surai hitam milik Justin namun ia mengurungkan niatnya, Sesaat Ezra menggeleng pelan.
Sang pemuda buru-buru meletakkan bantal di sofa agar tidur Justin merasa nyaman nantinya, Setelahnya dengan hati-hati Ezra memperbaiki posisi tidur Justin dan mengangkatnya menuju sofa yang tersedia.
(Note Author: Bayangin dulu aja, kalo gak bisa jangan dibayangin nanti geli sendiri😂😅).
Ia membaringkan tuannya di sofa perlahan dan memperbaiki posisi tidur Justin tak lupa ia juga memakaikan selimut agar Justin tidak kedinginan. Setelah merasa tugasnya sudah selesai, Ezra diam memandang wajah tuannya sejenak. Ia menunduk kecil seakan memberi hormat pada Justin meski sang empunya masih tidur.
Perlahan Ezra melangkah pergi berniat menuju kamarnya, Namun langkahnya terhenti saat merasakan seseorang menahan tangannya seolah-olah tidak membiarkannya pergi dari tempat itu.
Grep!
"....!"
Ezra tidak berkata apa-apa ia hanya merasa terkejut merasakan genggaman hangat di tangannya, Sejenak ia menoleh dan menemukan Justin yang tampak bergerak dari tidurnya.
"Ck! Kau mengganggu tidurku!"
Perlahan kelopak matanya terbuka menampakkan netra berwarna merah seperti batu ruby, Justin melepaskan genggaman tangannya dan berdecak kecil. Ia memposisikan tubuhnya bersandar pada sofa melirik Ezra yang masih berada di tempat.
Menyadari sudah mengganggu istirahat tuannya, Sontak Ezra membungkuk dalam sebagai permintaan maaf. Merasa bersalah karna tak hati-hati.
"Maafkan saya tuan Justin, Saya tak bermaksud mengganggu istirahat anda. Saya hanya ingin memastikan tidur anda nyenyak," Balas Ezra cepat ia sedikit agak panik.
Justin mendengus sinis sembari bersidekap, Menatap Ezra dengan netra nya yang berkilat marah.
"Aku merasa kau tidak begitu memperhatikan ku Ezra, Bahkan kau lebih perhatian pada Justin dibanding aku," Justin mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan jengah.
"Bisakah kau tidak menyebut namanya sehari saja! Aku muak mendengarnya. Selalu nama dia yang dielu-elukan semua orang. Tidak pernah namaku disebut sekalipun dalam asrama ini!" Justin kembali memandang Ezra dalam emosi.
Ezra memilih diam mendengar semua keluhan tuannya, Memperhatikan Justin lebih dalam.
"Kenapa tiba-tiba tuan Justin marah seperti itu? Dia seolah membenci dirinya sendiri, Suara nya juga lebih berat dari biasanya," Pikir Ezra mencoba mengamati sikap Justin.
Tak lama Justin menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dengan kasar, Meranjak dari tempat nya duduk mendekati Ezra. Setelah sampai di hadapan pemuda bernetra hijau emerland itu ia mencengkeram pundak sang pemuda, Senyum miring tercetak jelas dari bibir Justin.
"Aku tahu semua tentangmu Ezra, Bahkan tentang perasaanmu pada Justin. Kau menyukai dia kan? Lebih dari sekedar sahabat. Aku benar kan?"
__ADS_1
Tubuh Ezra terdiam membeku mendengar bisikan berat dari Justin yang sangat dekat dengannya. Netranya menatap netra merah Justin dengan tercengang. Dihadapannya memang Justin namun Ezra merasa ia seolah sedang berhadapan dengan orang lain.
Justin tersenyum teduh tatapannya melembut, Sesaat ia mengusap pipi Ezra pelan yang membuat Ezra semakin terpaku sekaligus tak percaya dibuatnya.
"Apa dia benar-benar tuan Justin? Dia tidak pernah memperlakukanku seperti ini dari dulu," Sejenak Ezra melirik tangan Justin yang masih mengusap pipinya, ia akui dirinya mungkin masih sedikit memiliki perasaan pada tuannya namun ia masih tahu diri untuk tidak melewati batas sebagai sahabat.
Sesaat Ezra menunduk pelan meraih tangan Justin dari pipinya dan menjauhkan tangan itu, Ia menatap serius netra merah Justin.
"Dulu saya memang memiliki perasaan terhadap anda tapi sekarang saya ingin melupakan perasaan itu dan menjadi normal kembali. Tolong jangan membuat niat saya yang ingin kembali ke jalan yang benar jadi goyah karna sikap anda sekarang!" Balas Ezra tegas, Ekspresinya benar-benar serius menunjukkan ia tak main-main dengan ucapannya itu.
Justin mengerutkan alisnya sembari menatap sinis. "Apa? Kenapa? Apa kau merasa kecewa karna Justin tidak peka terhadap perasaanmu dan sering mengabaikan perasaan itu. Jika begitu pilih saja aku! Aku lebih baik dari Justin dan setidaknya perasaanmu tidak bertepuk sebelah tangan karna aku menerimamu,"
Justin menatap dalam netra hijau Ezra, Ia semakin dekat dengan sang pemuda hingga menyisakan jarak beberapa cm diantara mereka berdua. Sesaat ia menggenggam kedua tangan Ezra.
"Ezra, Jadilah milikku. Jika Justin mengabaikanmu maka aku akan terus memperhatikan mu, Selama ini kau selalu setia dengannya. Sekarang setia lah denganku, Dan tinggalkan dia,"
Ezra semakin terpaku pernyataan yang seharusnya selama ini tidak ia dengar dari Justin kini akhirnya ia mendengarnya. Jika Justin terus berkata seperti itu kemungkinan besar niatnya akan goyah karna kata-kata manis tuannya. Namun Ezra juga menyadari menemukan kejanggalan dari Justin setelah beberapa saat.
"Sejak tadi tuan terus menyebut namanya, Dia terlihat membenci namanya itu. Tuan juga tidak pernah mengatakan hal-hal seperti itu selama aku menjadi sahabatnya bahkan tangan kanannya, Lalu suaranya juga lebih berat dibanding biasanya," Ezra kembali fokus dengan netra ruby milik Justin. Ia curiga kalau sosok di depannya bukanlah Justin yang ia kenal.
"Warna matanya juga seharusnya orange dan bukan merah," Ezra seketika terdiam menyadari kecurigannya benar. "Jangan-jangan dia...,"
Plak!
Sontak Ezra menepis genggaman Justin dari tangannya dengan kasar, Netra hijaunya menatap tajam.
"Kau bukan tuan Justin! Kau adalah kepribadiannya yang lain!"
Justin terkekeh pelan menatap Ezra yang masih marah padanya. "Apa maksudmu Ezra? Ini aku Justin, Apakah kau tidak mengenali tuanmu sendiri?"
"Jangan membual! Jika kau tuan Justin pasti dia tidak akan pernah mengatakan hal seperti itu padaku, Lagipula warna matanya itu orange bukan merah!"
"Cih! Kupikir kau tidak akan menyadarinya," Justin berdecak kesal, Kemudian ia kembali tersenyum miring. "Oh, ngomong-ngomong ini ketiga kalinya kita bertemu. Sepertinya aku belum memperkenalkan diri dengan benar. Aku Victor Garfield, Kembaran sekaligus kepribadian lain Justin,"
"Aku tidak peduli dengan perkenalanmu! Dimana tuan Justin?!"
"Yah, Tentu saja dia sedang tidur. Disaat dia tidur aku terkadang keluar untuk menggantikannya, Aku juga ingin melihat dunia luar sekali-kali," Victor mendudukkan dirinya disofa sembari bersidekap. "Lagipula aku sudah memberimu kesempatan untuk bersama dengannya,"
Victor terdiam sesaat menjeda kata-katanya lalu tersenyum sinis. "Oh bukan~, Lebih tepatnya bersama denganku. Kau bisa menjadi asistenku dan kita akan bersama selamanya,"
Kedua tangan Ezra mengepal marah. "Aku tidak sudi bersama denganmu! Aku hanya setia dengan tuan Justin,"
Seketika senyum di bibir Victor luntur ia menatap dingin Ezra. Auranya berubah suram dengan afmosfer ruangannya yang mulai dingin. Suaranya penuh penekanan. "Sudah kubilang jangan sebut namanya di depanku! Kau membuatku marah Ezra. Aku sudah memberimu kesempatan dan kau menyia-nyiakan kesempatan itu?! Mengecewakan,"
"Tekadku sudah bulat, Kau tidak bisa mengubah keputusanku meski kau dan tuan Justin kembar tapi jelas sikap kalian berdua berbeda,"
Victor berdiri memandang tajam dengan netra yang berkilat penuh amarah. "Kau akan menyesal suatu saat nanti karna sudah menyia-nyiakan kesempatan ini! Jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu terhadapmu atau anggota asrama lain karna aku tidak akan menolong kalian!"
"Dan aku akan menghentikan semuanya sebelum terjadi sesuatu pada mereka,"
"Coba saja kalau kau bisa,"
Ezra tak berkata apa-apa lagi, Merasa muak karna perdebatan mereka tak kunjung selesai. Disisi lain ia merasa lega karna Justin baik-baik saja disana dan sisi lainnya ia merasa marah dan kesal karna kemunculan Victor yang hampir menggoyahkan niatnya menuju jalan yang benar. Dia memang pernah bertemu Victor beberapa kali namun hanya sebentar (Saat itu Ezra masih belum tahu nama kepribadian Justin yang lain) dan baru kali ini ia bertemu Victor dengan perdebatan yang lama dan panjang.
Tanpa permisi Ezra melangkah pergi meninggalkan ruangan Justin tanpa menyadari Victor terus menatapnya.
Victor menyerigai kecil setelah Ezra hilang dari pandangannya. "Untuk sekarang aku tak akan membunuhmu Ezra, Tapi lain kali setelah aku selesai bermain-main denganmu,"
Setelahnya ia tertawa kecil layaknya khas psikopat yang baru saja menemukan mangsa.
TBC
Penjelasan+Visual Victor:
..."Aku akan mengambil semuanya yang seharusnya menjadi milikku! Kalian tidak bisa kabur dariku!...Siapa...Selanjutnya yang ingin...Mati?! Hahahaha!"...
Nama: Victor Garfield
Umur: 22 tahun
Code:—
Status: —
About Him: Victor adalah kembaran sekaligus kepribadian Justin yang lain, Bisa dibilang dia penuh dengan sisi psikopat dan licik seperti ular. Seharusnya ia memiliki kehidupan seperti Justin namun karna raganya yang lemah akibatnya raganya meninggal dan jiwa Victor terpaksa berdampingan dengan jiwa Justin dalam satu tubuh. Sejak kecil ia selalu iri dan membenci Justin karna Justin lebih dibangga-banggakan oleh orang tua mereka dibandingkan dirinya. Itulah alasan mengapa ia membunuh kedua orang tua mereka sendiri.
__ADS_1
Kurangnya kasih sayang dan kebenciannya terhadap Justin yang tinggi membuat sikapnya menjadi pemberontak dan pembuat masalah. Jika Justin memiliki sifat kalem, Serius, Dan tenang maka Victor adalah kebalikan dari Justin.