
ZZZRRAASS!
Ditengah guyuran hujan, Akhirnya sang pria menghentikan langkahnya, Ia tidak berbalik sama sekali. Chloe juga menghentikan langkah beberapa meter dari sang pria dengan napas yang tak beraturan.
"A-Aku minta waktumu sebentar!"
Sang Pria tidak bergeming sama sekali, Entah karna suara Chloe terendam suara hujan atau mungkin pria itu tidak peduli sama sekali dengan panggilannya.
Tak lama Chloe melihat dengan jelas Pria itu melepas topi merah marun yang dipakainya, Membiarkan rintik hujan membasahi puncak kepala serta wajahnya.
"Semuanya belum berakhir," Kata sang pria memandang langit hitam di atasnya.
Chloe terpaku dalam diam, Seakan seluruh tubuhnya membeku begitu saja. Raut terkejut tercetak jelas di wajahnya.
"Pak Ezra," Tanpa sadar Chloe memanggil nama pria dihadapannya, Membuat sang pria melirik sekilas tanpa ekspresi.
Beberapa detik kemudian Ezra menghadapkan dirinya pada Chloe, Membuat keduanya saling memandang dalam diam sesaat. Netra biru sang gadis berkaca-kaca, Tak lama ia refleks berlari ke arah Ezra kemudian mencengkeram kedua pundak sang pria.
"I-Ini beneran Pak Ezra kan?! Benar-benar bapak kan?" Kata Chloe menatap Ezra lekat, Air matanya mulai turun membasahi kedua pipinya bercampur dengan rintik hujan.
Kemudian ekspresinya berubah murung menyadari Ezra hanya diam saja. "Atau ini cuma ilusiku, Apa Pak Ezra bakal menghilang?"
"Bodoh! Apa kau berpikir ini juga ilusi?"
GREP!
Ezra memeluk Chloe erat, Menenggelamkan wajahnya di pundak sang gadis. Rasa rindu terhadap Chloe seketika menguar begitu saja, Dirinya senang pada akhirnya bisa bertemu Chloe lagi.
Chloe merasakan pelukan itu terasa nyata baginya, Benar Ezra dihadapannya adalah asli bukan ilusinya. Ia memeluk balik Ezra, Menumpahkan rasa sedihnya selama ini. Chloe menangis dalam pelukan pria bersurai hitam itu.
"Hiks...Pak jangan usir aku lagi...Sekarang bapak satu-satunya anggota asrama yang tersisa. Aku takut tidak bisa bertemu bapak lagi...hiks...," Racau Chloe disela-sela tangisnya meski mungkin suaranya akan terendam oleh suara hujan. Walau beradu dengan suara hujan, Ezra masih bisa mendengar apa yang dikatakan Chloe.
Ezra diam sejenak, Dia melonggarkan pelukannya. Menatap wajah Chloe yang kini agak kacau karna menangis, Perlahan ia mengusap sudut mata sang gadis dengan ibu jarinya. Ekspresi Ezra berubah murung.
"Aku membuatmu menangis lagi ya? Maaf...," Ia menunduk kecil lalu menempelkan keningnya dengan kening Chloe, Mempertemukan pandangan keduanya. "Aku tidak akan mengusirmu lagi, Setidaknya ini janji terakhirku padamu dan Tuan Justin serta anggota asrama lain,"
"Aku tidak memerlukan janji itu, Asalkan Pak Ezra selalu disisiku itu sudah cukup. Kita adalah partner, Sudah seharusnya kita selalu bersama dan saling melindungi," Jelas Chloe dengan tatapan seriusnya, Kini ia tidak menangis lagi meski masih terlihat jelas jejak tangis di wajahnya.
Ezra diam sejenak lalu menghembuskan napas pelan, Senyum sangat tipis terbit di bibirnya. Ia mengusap puncak rambut sang gadis. "Baiklah, Seperti yang kau inginkan,"
Chloe tersenyum cerah meski ia sempat menyesal sebelumnya karna telah datang ke tanjakkan 'S' namun ia tidak terlalu menyesalinya sekarang, Karna jika dirinya tidak datang maka ia tidak akan bertemu dengan Ezra. Partner sekaligus keluarga angkat baginya.
Ezra mendongak sembari menadahkan tangannya, Rintik hujan masih mengguyur keduanya hingga hampir basah kuyub.
"Sekarang lebih baik kau pulang, Hujan akan semakin deras. Aku akan mengantarmu," Kata Ezra menatap pakaian Chloe yang sudah basah sepenuhnya.
"Yah, Apa boleh buat. Sekalian aku akan memperkenalkan Pak Ezra dengan Michelle Family,"
"Buat apa? Aku tidak perlu berkenalan dengan mereka, Sudah cukup bertemu Elizabeth Michelle. Aku tidak ingin bertemu keluarganya yang lain juga," Ezra mendengus jengkel, Mengingat Elizabeth lah yang membuatnya berpisah dengan Chloe.
"Sepertinya Nona Michelle sudah membuat bapak kesal ya," Chloe tertawa pelan menyadari raut jengkel Ezra.
"Siapa bilang?!" Elak sang pemuda sembari mendengus.
Keduanya berjalan di bawah guyuran hujan, Namun baru beberapa langkah disaat bersamaan terdengar suara sirene mobil polisi disertai teriakan dari para anak-anak skate yang berkumpul disana tidak jauh dari posisi mereka.
Dor!
"BERHENTI KALIAN! TETAP DIAM DI TEMPAT!"
Suara tembakan disertai suara lantang salah satu anggota polisi membuat Chloe dan Ezra menoleh ke belakang mereka, Melihat para polisi sedang mengejar anak-anak skate yang berlarian tak tentu arah.
Ezra berdecak kesal, Mengingat posisi mereka tak jauh dari para polisi itu. Apalagi setelah para polisi mengancungkan pistol mereka.
"Pak, Ada apa dengan mereka? Kenapa para polisi itu mengejar anak-anak skate?" Tanya Chloe kebingungan yang dibalas raut kesal dari Ezra.
Pemuda bersurai hitam itu berbalik dan langsung menggenggam tangan Chloe, Mengajak sang gadis lari dengannya.
"Ayo pergi dulu, Nanti saja aku menjelaskan,"
"Eh?"
Tanpa protes plus kebingungan Chloe hanya mengikuti langkah Ezra yang menarik tangannya. Mereka berlari menuju sebuah mobil sedan hitam yang diketahui milik Justin.
Tap! Tap! Tap!
Blam!
__ADS_1
Ezra dan Chloe bergegas memasuki dalam mobil, Sang pemuda langsung menyalakan mesin mobil dan tanpa menunggu lama ia mengemudikan mobilnya keluar dari area tanjakan 'S'.
*************
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Jantung Chloe berdegup kencang akibat kejadian menegangkan tadi, Tangannya sampai agak gemetar karna takut.
"Kau tahu kan kalau tanjakkan itu ilegal?" Sahut Ezra menatap lurus jalanan yang mereka lewati.
"Ya,"
"Disana banyak memakan nyawa, Sudah banyak kejadian anak-anak skate yang jatuh dari tebing. Oleh karna itu pihak polisi melarang adanya aktivitas skate lagi disana, Tapi yang namanya anak skate mereka menganggap larangan itu hanya lelucon dan tetap memakai tempat itu sebagai perlombaan dan pelatihan,"
"Makanya selama tidak ketahuan pihak polisi mereka tetap memakai tempat itu, Tapi jika para polisi datang mereka akan berusaha kabur sama yang kita lakukan tadi," Jelas Ezra yang mendapat tatapan dari Chloe.
Sang gadis mengangguk-angguk mengerti. Ia tersenyum kecut. "Begitu, Rasanya seperti buronan ya. Menegangkan sekali tadi,"
"Mau bagaimana lagi, Kalau tidak ingin tertangkap kita harus kabur," Ezra melirik sesaat. "Ngomong-ngomong untuk apa kau kesana?"
"Aku bosan di mansion Michelle, Karna aku ditinggal sendiri jadi kuputuskan untuk pergi ke tempat itu. Niatnya sih ingin latihan, Tapi ngeliat tempatnya yang curam begitu. Rasanya aku tidak sanggup berlatih," Keluh Chloe sembari menempelkan kepalanya pada kaca mobil.
"Makanya jangan nekat! Kalau gak punya keberanian buat latihan di tempat kayak gitu. Lebih baik gak usah datang," Sindir Ezra tajam.
"Ya, Aku kan juga penasaran tempatnya kayak apa," Chloe menautkan jari-jari tangannya dengan ekspresi cemberut.
"Ngomong-ngomong, Bapak kenal orang yang bernama Black tadi ya? Kok bapak dipanggil Snake?"
"Itu cuma nama samaran, Black itu sahabatku dan Tuan Justin saat kami SMA. Kami bertiga saling mengenal, Nama aslinya bukan Black,"
"Lho? Terus yang dipanggil Legendary skate itu kalian?"
"Iya. Black, Aku, Dan Tuan Justin. Kami bertiga adalah Legendary Skate, Alasannya karna kami lah yang menemukan dan menamai tempat itu sebagai tanjakan 'S'. Setelah tempat itu terkenal, Banyak anak-anak skate dari berbagai kota mendatangi tempat itu dan menjadi markas dari anak-anak skate sampai sekarang,"
"Oh, Jadi begitu ya sejarah tanjakan 'S'. Gak nyangka kalau kalian yang menemukan tempat itu dan menjadi legendary sampai sekarang,"
"Hm, Sekarang aku tidak banyak waktu luang untuk berlatih. Mungkin kapan-kapan kita latihan bersama lagi," Balas Ezra.
"Boleh, Malah lebih bagus kalau latihan sama bapak,"
Chloe mengangguk setuju, Keduanya sejenak diam dalam keheningan setelah pembicaraan itu berakhir.
CCCKKEEIITT!
Napas Ezra tak beraturan, Wajahnya memucat menatap lurus sebuah mobil yang menghalangi jalan mereka. Situasi yang mengingatkan Ezra sewaktu dirinya dan Chloe diculik oleh anggota Red Devil.
"Pak, Kenapa?" Chloe menatap wajah Ezra, Dirinya merasa cemas sekaligus takut disaat yang bersamaan.
Dua orang keluar dari dalam mobil yang menghalangi jalan mereka, Keduanya mendekati mobil Ezra. Salah satu dari mereka mengetuk kaca mobil.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Bisa kalian keluar sebentar?"
Chloe meneguk selivanya kasar, Dirinya berkeringat dingin saat menyadari dua orang itu memakai seragam polisi. Ketukan di kaca semakin terdengar nyaring.
Chloe menatap Ezra gelisah, Menyadari kegelisahan Chloe, Ezra menepuk pundak sang gadis sesaat menatap tenang. "Tidak apa-apa, Kita ikuti mereka. Tetap tenang dan jangan gegabah,"
"Baik," Sahut Chloe lirih.
Mereka berdua keluar dari mobil menemui dua petugas polisi yang sudah menunggu mereka.
"Maaf mengganggu jalan kalian sebelumnya, Tapi bisakah ikut kami ke kantor polisi sebentar? Kami perlu mengintrogasi kalian," Kata polisi bersurai silver tenang.
"Untuk apa kami ikut? Aku rasa kami tidak melakukan hal mencurigakan disini," Balas Ezra dingin.
"Kalian memang tidak terlihat melakukan hal mencurigakan, Tapi kami melihat kalian berada di tempat ilegal itu. Bukankah kami pihak polisi sudah memberi peringatan pada kalian sebelumnya bahwa jangan memakai tempat itu lagi sebagai pelatihan?" Polisi bersurai coklat muda menyahut dengan senyum ramah.
"Sudah banyak berita tentang tempat itu yang memakan banyak korban, Letak kesalahan kalian adalah karna melanggar peringatan kami. Jadi mau tidak mau kalian harus tetap ikut kami ke kantor polisi," Tambahnya lagi.
Rahang Ezra mengeras, Ia menatap tajam dibalas senyum dari polisi bersurai coklat muda sedangkan polisi bersurai silver masih menatap tenang. Chloe yang merasa Ezra akan mengamuk memutuskan mengambil jalan aman.
"Baiklah, Kami akan ikut dengan kalian," Balas Chloe serius, Dibalas delikan tajam dari Ezra. Meski begitu sang gadis hanya mengacuhkan.
"Baguslah, Setidaknya kau lebih bisa diajak koperatif dibanding temanmu itu," Sindir polisi bersurai silver melirik Ezra sekilas.
Chloe hanya tersenyum kecut lalu menarik lengan pakaian Ezra pelan, Mengkode untuk segera mengikuti kedua polisi itu.
"Ambil mobil kalian, Jangan coba-coba berniat kabur," Kata polisi bersurai silver sembari berbalik menuju mobilnya diikuti polisi bersurai coklat muda.
Ezra berdecih pelan, Melangkah menuju mobilnya diikuti Chloe.
__ADS_1
*****************
[Kantor Polisi]
KKKRREEIITT!
Dalam ruangan yang sepi hanya terdiri 4 orang di dalamnya, Keempatnya saling diam dalam keheningan. Apalagi Ezra terus menatap tajam kedua polisi dihadapan mereka.
Situasi menegangkan sekaligus canggung menurut Chloe.
"Boleh aku tahu kenapa kalian memilih tempat itu sebagai tempat kalian bermain, Bukankah masih banyak tempat bermain skate yang lebih aman dibanding tempat itu?" Tanya polisi bersurai silver serius, Sedikit mencairkan keheningan yang ada.
"Tidak akan seru jika bermain skate tanpa tantangan," Balas Ezra tajam.
Kedua polisi dihadapan mereka mengernyit. "Tidak masuk akal! Apa kalian ingin mati?! Kalian rela mempertaruhkan nyawa kalian hanya untuk bermain di tempat seperti itu? Apa kalian bodoh?!"
Kali ini pun, Chloe rasa dirinya setuju dengan pemikiran dari Pak polisi dihadapan mereka.
"Aku tahu tempat itu berbahaya, Tapi apa kalian bisa menghentikan niat mereka untuk datang ke tempat itu?! Berapa kali pun kalian memberi peringatan, Mereka juga tidak mendengarkan kan?" Ezra tersenyum sinis.
Kedua polisi itu terdiam sejenak hingga polisi bersurai coklat muda menyahut.
"Memang benar kami sudah memberi peringatan berkali-kali. Ini peringatan terakhir kalian, Jika kalian tetap melanggar maka konsekuensi nya kalian terima sendiri. Kami pihak polisi tidak akan ikut campur lagi,"
"Hah~, Baiklah. Kali ini hukuman kalian kami ringankan," Kata polisi bersurai silver ikut menyahut sembari menghembuskan napas.
"Apa?! Ini tidak adil. Kami tidak melakukan sesuatu yang membahayakan tapi kenapa kami tetap dihukum?!" Ezra menggebrak meja dihadapannya tak terima, Rahangnya kembali mengeras geram sedangkan Chloe hanya bisa diam membisu.
Polisi bersurai silver dihadapan mereka mengernyitkan alis, Tatapannya yang tadinya serius kini berubah tajam. "Tidak sopan! Kau bisa bilang tidak terima, Tapi tidak perlu menggebrak meja segala. Seharusnya kau diam saja dan jangan protes! Lihatlah, Temanmu saja hanya diam tak membantah"
Ezra melirik Chloe tajam, Seolah mengatakan 'Kau-Juga-protes lah-Jangan-diam-saja!'. Sang gadis tersenyum kecut sembari menggeleng kecil dan menyilangkan jarinya, Menandakan dia tak ingin memperpanjang masalah mereka.
"Hukumanmu ditambah karna berani membentak polisi," Kata polisi bersurai silver lagi, Ia menyiapkan surat-surat untuk hukuman Ezra dan Chloe.
"Ugh!...Tidak adil!..." Desis Ezra marah, Mengepalkan kedua tangannya.
Chloe menunduk kecil, Mau bagaimana pun ia menyadari kalau dirinya juga salah karna datang ke tempat itu, Tapi setidaknya ia tidak sendiri terseret dalam masalah ini. Anak-anak skate yang berada di tempat itu pun juga tertangkap oleh pihak polisi. Jadi bukan hanya dirinya dan Ezra yang tertangkap. Entah hukuman apa nanti yang akan mereka jalani.
"Ngomong-ngomong, Saya sepertinya pernah melihat nona. Wajah Nona tampak familiar bagi saya,"
Suara salah satu polisi itu mengagetkan Chloe dari lamunannya, Mendongak memandang polisi bersurai coklat muda yang tersenyum ramah.
"Benarkah? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Ah, Maaf saya juga kurang tahu. Mungkin hanya perasaan saya," Polisi itu tertawa pelan, Ditanggapi Chloe dengan anggukannya.
Tak lama sang gadis merasakan hp nya bergetar, Ia melihat layar hpnya sesaat. Sebuah telepon dengan nama 'Ivy' tertera disana, Chloe segera meranjak.
"Maaf, Boleh saya mengangkat telepon sebentar?" Izin Chloe memandang polisi bersurai coklat muda.
"Silakan,"
Ia bergegas menuju sudut ruangan, Mendekatkan diri sebelum akhirnya mengangkat panggilan dari Ivy.
"Halo," Kata Chloe pelan agar suara tak terdengar oleh para polisi itu.
"Halo Chloe, Kau dimana? Ini sudah hampir larut malam lho, Kok gak pulang-pulang?"
"Aku ada di kantor polisi, Ceritanya panjang. Intinya aku terlibat masalah,"
"Eh? Kok Bisa? Emangnya masalah apa sampai tertangkap polisi?"
"Maaf Ivy, Aku gak bisa cerita dulu. Soalnya saat ini masih proses penerimaan hukuman, Jadi mereka bisa mencurigaiku,"
"Uh...Terus kamu sendirian disana?"
"Enggak sama temanku kok,"
"Kalau begitu kirim lokasinya!"
"Hah? Buat apa?"
"Pokoknya kirim aja, Kita selesai kan secara kekeluargaan,"
Chloe semakin bingung, Dirinya tak bermaksud meminta pertolongan pada Ivy. Tapi ia tetap berpikir positif thingking, Mungkin Ivy hanya ingin melihat keadaannya terakhir kali sebelum dirinya menerima hukuman yang masih rahasia.
"Um...Baiklah,"
Sambungan itu terputus secara sepihak, Chloe bergegas mengirimkan lokasi tempatnya berada sebelum kembali duduk disamping Ezra.
__ADS_1
TBC