System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Sebuah lamaran?


__ADS_3

Sempat terjadi keheningan beberapa detik, Tidak ada satupun yang membuka suara setelah pernyataan terakhir Chloe. Tatapan serius dan pancaran netra yang berkilat itu menandakan tidak ada satu pun kebohongan dari kata-katanya. Tapi hanya sesaat keheningan itu terjadi tiba-tiba terdengar suara tawa dari Ray dan Eli, Suara tawa itu memenuhi seisi ruangan.


"Hahaha! Ya ampun, Chloe kau bisa saja bercandanya. Kakak pikir tadi ada hal yang serius," Kata Eli mengusap sudut matanya yang berair karna tertawa.


"Astaga, Chloe kamu ini tidak memiliki marga lain lagi selain Maximillian sekarang. kakak akui kata-katamu tadi cukup menghibur, Kamu ternyata pintar bercanda," Kata Ray tertawa kecil.


Chloe hanya memandang datar. "Sudah kuduga mereka pasti tidak akan percaya,"


"Kau memang hanya bercanda kan Chloe?" Tawa Ray mereda, Begitu pun dengan Eli. Keduanya menatap wajah Chloe yang tanpa ekspresi.


Menyadari Chloe yang hanya diam, Perlahan membuat Ray cemas. Dia memegang pundak Chloe pelan.


"Kamu memang hanya bercanda kan?" Tanya Ray hati-hati, Oke sekarang dia mulai khawatir karna Chloe hanya diam saja.


"Ini memang sulit dipercaya, Aku tahu kak Ray dan kak Eli memang tidak mudah mempercayainya. Tapi aku berkata jujur, Aku bukan adik kandung kak Ray yang asli," Jawab Chloe tenang, Ray mulai gelisah namun dia menutupinya dengan senyum lembut.


Ray menyentuh kening Chloe dengan punggung tangannya. "Ah, Sepertinya kau kelelahan karna acara tadi. Lihatlah suhu tubuhmu agak tinggi, Makanya kau mulai bicara yang tidak-tidak. Istirahatlah, Besok kau ujian lagi kan? Persiapkan dirimu dengan baik,"


Mendengar hal itu membuat Chloe menghembuskan napas kecil, Dia sadar bahwa Ray sedang mengalihkan topik. Pria itu tampaknya sedang menepis pernyataan Chloe yang sebenarnya, Seolah memang tidak ingin mempercayai hal tersebut.


Sang gadis memutuskan mengikuti perkataan Ray, Biarlah mereka tidak percaya sekarang. Suatu saat nanti mungkin mereka akan melihat yang sebenarnya.


Dia menjauhkan tangan Ray dari keningnya. "Kakak benar, Mungkin aku memang kelelahan karna acara itu. Kalau begitu aku pergi dulu, Maaf mengganggu kalian,"


Chloe berdiri, Berjalan pelan keluar dari kamar Ray dan Eli sampai dia hilang dari pandangan mereka.


Blam!


Setelah Chloe pergi, Ray kembali mendudukkan diri. Dia mengusap sesaat wajahnya, Menatap kosong lantai dibawahnya.


Eli diam sesaat, Dia mengusap pundak suaminya itu. Sejujurnya dia merasa mulai ragu, Namun berusaha menepis pernyataan Chloe barusan di benaknya.


"Ray, Bagaimana kalau apa yang dikatakan Chloe benar?" Tanya Eli khawatir.


Ray menggeleng lemah, Dia tersenyum lembut sambil menggenggam tangan Eli yang berada di pundaknya.


"Tidak mungkin, Itu tidak akan terjadi Eli. Dia tetap adikku, Mau marganya berubah atau apa. Dia tetap adik kecilku, Aku yakin semua yang dikatakannya tadi hanya candaan,"


"Aku juga berharap begitu," Eli menyandarkan kepalanya di pundak Ray, Dia memeluk lengan suaminya sambil memejamkan mata.


Ray mengusap surai milik Eli, Ikut menyandarkan kepala di atas kepala istrinya.


Untuk sekarang Ray hanya ingin menghabiskan waktunya bersama istrinya tanpa ingin memikirkan apa pun dulu.


*****************


[Disisi lain]


Rafael, Azura, Xavier, dan Vallen yang sejak tadi mendengar pembicaraan antara Chloe (Meski si gadis sudah pergi sekarang), Ray, dan Eli dari balik pintu hanya saling pandang seolah sedang bertukar pikiran.


"Kalian dengar itu?" Bisik Rafael memandang para saudaranya.


"Fufufu, Kita dapat info terbaru lagi," Vallen tersenyum misterius.


"Chloe Watson? Apa kalian percaya dengan perkataannya barusan," Celetuk Azura ikut berbisik.


"Bukan berasal dari dunia ini? Jiwa yang terseret?" Kata Xavier mulai berpikir, Dia menatap serius tangga didekatnya hingga suaranya kembali terdengar. "Sekarang semuanya jadi masuk akal kenapa dia bisa mendapatkan kekuatan itu,"


"Apa yang bisa kau simpulkan?" Rafael menatap Xavier yang masih serius.


"Menurut kesimpulanku, Seseorang yang memberinya kekuatan tahu kalau dia bukan dari dunia ini. Makanya orang itu mewariskan kekuatannya pada Chloe, Dengan begitu bisa memudahkan Chloe untuk menyelesaikan misi yang diberikan. Tapi yang menjadi masalahnya adalah apa tujuan orang itu memberikan misi pada Chloe?" Jelas Xavier menarik kesimpulan.


"Wah, Penyelidikan ini semakin menarik. Aku tidak sabar bertemu musuh yang akan anak itu hadapi," Kata Vallen tertarik.


"Yah, Kesimpulan kak Xavier masuk logika juga. Aku pernah berpikir begitu beberapa saat yang lalu," Sahut Azura ikut berpikir.


"Yang pastinya kita terus awasi mereka, Jangan sampai lengah dan terus waspada jika musuh mereka muncul," Rafael mengutak-atik handphonenya tak lama kembali menyimpan.


"Kami paham itu,"


Xavier berjalan lebih dulu menuruni anak tangga disusul Vallen dan Michelle brother.


***************

__ADS_1


[Keesokan harinya]


Tap!


Chloe menghentikan langkahnya di sebuah taman, Taman itu begitu sunyi tanpa ada seorang disana selain Chloe. Taman dimana dia bermain skateboard bersama Ezra waktu itu.


Sang gadis mengutak-atik jam arlojinya, Melihat sebuah pesan yang dia terima beberapa jam lalu.


From: Ezra Miracle


To: Chloe Maximillian


...Jam 9 temui aku di taman tempat kita bermain skateboard dulu, Ada yang ingin kuberitahu dan ini penting....


...Note: [Jangan telat! Awas saja kalau kalau telat, Akan kuhukum!]...


Yah, Kata-kata terakhir Ezra selalu disertai ancaman menurut Chloe.


"Hm...Padahal bilangnya jangan telat, Tapi dirinya sendiri malah telat," Kata Chloe jengah sambil memandang jam arlojinya yang menunjukkan pukul 9 tepat.


Srek!


"Aku sudah disini sejak tadi,"


"Ggggyyaaa!"


Chloe refleks berbalik dan melompat mundur ketika sebuah suara menyahut perkataannya dari belakang. Chloe memegangi jantungnya yang berdegup kencang karna terkejut. Menatap Ezra yang memandangnya datar.


"Pak Ezra jangan ngagetin dong!" Protes Chloe setelah jantungnya mulai tenang, Untung saja jantungnya tidak melompat keluar.


Ezra menatap malas tanpa menyahut lalu dia mengambil sesuatu dari balik jasnya, Menyerahkan benda itu pada Chloe. Sebuah pistol perak dengan ukiran bunga.


"Nih ambil, Kita latihan,"


"Eh? Jadi maksudnya memberitahu hal yang penting itu...,"


"Iya, Kita latihan menembak. Kau sendiri yang minta," Potong Ezra masih menyerahkan pistol tersebut.


Chloe mengangguk paham, Dia mengambil pistol dari tangan Ezra lalu meletakkan tas selempangnya di kursi. Sedangkan Ezra melangkah maju mendekati sebuah pohon, Mengambil pistol lain dari saku jasnya. Dia membidik pohon itu.


Chloe memperhatikan arah bidikan Ezra dengan serius, Tak lama suara tembakan terdengar memenuhi udara dengan sedikit aroma bubuk mesiu tercium disana.


Dor!


Krak!


Sang gadis melihat sedikit retakan terbentuk di batang pohon yang menjadi target Ezra, Retakan itu agak berlubang. Lalu Ezra menoleh pada Chloe yang sejak tadi memperhatikan.


"Sekarang giliran kau!"


Gadis itu lantas mengangguk dan mulai membidikkan pistolnya pada batang pohon yang lain, Tangannya sedikit gemetar saat pistolnya terangkat ke udara.


"Pistolnya agak berat juga, Aduh jadi gugup. Kalau salah sasaran gimana ya?" Pikir Chloe merasa ragu.


Tidak lama beberapa saat kemudian Chloe merasakan sebuah tangan memegang tangannya dimana tangan Chloe masih memegang pistol, Bersiap untuk membidik. Kini gadis itu merasakan tubuh seseorang yang menempel di punggungnya, Suara detak jantung yang berpacu cepat itu pun Chloe bisa mendengarnya dengan jelas.



Perlahan wajah Chloe memanas ketika tangan itu menuntun tangannya untuk menarik pelatuk, Napas yang hangat itu seakan menggelitik leher Chloe.


"Kau harus fokus dengan targetmu, Jika tidak maka kau akan salah membidik,"


Suara Ezra yang lembut memasuki pendengar Chloe, Suara itu sangat dekat hampir membuat Chloe terpaku dan gemetar. Kini jantung Chloe ikut berdetak seirama dengan deru napasnya.


"P-Pak Ezra berada tepat dibelakangku, Kalau begini bagaimana mau fokus? Aku jadi makin gugup kan?!" Batin Chloe malu.


Menyadari Chloe tak mengatakan apapun membuat Ezra melirik, Dia sedikit menundukkan kepalanya memperhatikan wajah sang gadis.


"Hei, Fokus dengan arahanku. Kau harus tetap tenang dan bidik saja targetmu,"


"Tapi kalau posisi bapak begini, Bagaimana aku bisa fokus pak!" Chloe manatap Ezra balik, Wajahnya masih memanas.


Ezra mengernyitkan alisnya, Dia memperhatikan posisinya sesaat. "Lalu kau ingin aku mengajarimu bagaimana? Kalau kau merasa tidak nyaman bilang saja,"

__ADS_1


"B-Bukannya tidak nyaman, Aku hanya...," Chloe menjeda kata-katanya, Dia menunduk malu. Ah, Dia merasa malu kalau harus mengungkapkannya secara langsung.


Ezra memalingkan wajahnya kini rona tipis menghiasi kedua pipinya. "Aku tahu, Tanpa kau bilang pun aku sudah menyadarinya kok. Tapi untuk sekarang kau harus fokus dengan latihanmu, Abaikan saja apa yang kau rasa,"


"Aku mengerti, Ayo berlatih lagi," Chloe mendongak, Kini ia tersenyum ceria seperti biasa.


Ezra mengangguk kecil dan dia memposisikan dirinya seperti tadi. Berdiri dibelakang Chloe sambil menuntun tangan sang gadis membidik batang pohon. Chloe perlahan fokus dengan targetnya, Mengabaikan suara detak jantung nya yang berpacu cepat.


Dor!


Suara tembakan bergema, Aroma bubuk mesiu sedikit tercium ketika Chloe menarik pelatuknya sesuai arahan Ezra. Chloe memperhatikan retakan besar yang ada di batang pohon.


Si gadis memandang Ezra dengan senyum senang, Ezra mengangguk pelan dan tersenyum kecil. Dia mengusap surai biru Chloe sesaat.


"Terus lah berlatih, Aku akan mengawasimu dari sana,"


"Baik,"


Chloe kembali mengasah kemampuan menembaknya, Sedangkan Ezra mendudukkan diri di kursi taman tepat disamping tas selempang Chloe. Dia mengawasi latihan Chloe sambil memakan cemilan yang ia bawa. Ditemani suara tembakan hasil latihan Chloe.


**************


Beberapa saat kemudian, Chloe yang sudah lelah berlatih pun mendekati Ezra. Dia duduk disamping si pria sambil menyimpan pistolnya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Aduh, Aku udah capek pak. Udah berapa jam aku latihan?"


"4 jam," Sahut Ezra sambil memandangi langit senja di atas mereka.


"Lama juga ternyata, Pantas tubuhku lelah semua," Chloe memijit pundaknya sesaat, Merasa agak sakit.


"Hari ini latihan sampai disini dulu. Lalu bagaimana ujianmu?"


"Lancar kok, Setelah ujian ini aku bakalan lulus S1. Gak sabar sebentar lagi lulus. Plus tadi ujian terakhir tinggal nunggu keputusan dosennya lulus atau enggak," Sahut Chloe semangat, Dia tak sabar mendengar hasil ujiannya nanti.


"Oh, Semoga saja kau mendapat nilai terbaik diangkatanmu,"


"Iya, Semoga saja," Chloe tersenyum memandang langit senja di atas mereka, Saat ini seolah dia membayangkan wajah-wajah para anggota asrama termasuk Ezra.


Keheningan melingkupi keduanya, Ezra diam menunduk tampak seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Sebentar lagi dia bakal lulus kuliah, Kurasa ini waktu yang tepat. Tapi apa dia mau ya? Aku kan dulu pernah membuatnya menangis dan menderita," Pikir Ezra kalut, Perasaan ragu timbul di hatinya.


Ezra mengambil sebuah benda dari saku jasnya, Menatap sendu hingga suara Chloe memasuki pendengarannya.


"Pak, Selama kita jadi partner banyak lika-liku yang kita lalui ya. Entah karna penolakan, Permusuhan, dan lainnya. Dan aku selama berada disamping bapak, Aku sudah merasa kalau bapak enggak semenakutkan yang aku kira. Meski awalnya pertemuan pertama kita tidak berjalan baik, Tapi aku senang dengan perubahan sikap bapak yang sekarang," Chloe tersenyum lebar, Dia menggenggam salah satu tangan Ezra.


"Bapak itu banyak rahasia yang bikin aku ingin tahu terus soal bapak, Terus bapak itu kayak magnet berjalan, Membuatku selalu ingin nempel ke pak Ezra. Pak Ezra juga imut dan manis, Makanya aku suka," Chloe masih mempertahankan senyumannya yang seketika membuat wajah Ezra memanas.


DEG!


Astaga dia kena heart attack gara-gara senyuman gadis itu yang entah kenapa lebih manis dari biasanya terlebih ketika semua kalimat Chloe tertuju kepadanya.


Si pria lantas menarik tangannya dari genggaman Chloe lalu berkacak pinggang dengan pandangan tajam meski wajahnya masih memanas. Dia langsung menyentil kening Chloe tanpa berlama-lama.


Ctak!


"Aawww!"


"Kau ini lagi gombal atau apa hah?! Bisa-bisanya kau berkata seperti itu pada seorang pria!"


"Aduh, Apa salahku pak? Aku kan cuma mengatakan sejujurnya dari hatiku yang terdalam. Kenapa malah disentil lagi?" Chloe meringis sambil menatap memelas pada Ezra. Menurutnya tidak ada yang salah dari perkataannya barusan tapi mengapa Ezra malah terlihat tidak suka.


Ezra memalingkan wajahnya, Masih merasa kesal. "Kau mencuri kalimatku, Seharusnya aku yang mengatakan begitu!"


"O-Oh, Jadi aku salah lagi ya," Chloe mengusap tengkuknya kikuk, Dia jadi malu sendiri karna kalimatnya tadi.


Ezra menghembuskan napas, Kini rona merah masih menghiasi pipinya. Perlahan dia meraih tangan Chloe, Menggenggamnya sedikit erat.


"Lupakan saja yang tadi, Ada yang lebih penting yang harus kukatakan," Ezra menarik napas sejenak sebelum menghembuskan kembali. Chloe memilih diam mendengarkan perkataan Ezra dengan seksama.


"Aku mungkin tidak sebaik Felix, Tidak setenang Aiden, Tidak terlalu perhatian seperti Raizel, Dan tidak seromantis Ian. Tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik dimatamu, Dan akan membuatmu lebih bahagia dari yang sekarang. Maka dari itu....," Ezra menatap serius kemudian dia melepas genggamannya dan mengambil sebuah kotak beludru merah dari balik saku jasnya.


Perlahan dia membuka kotak itu memperlihatkan isinya pada si gadis, Sebuah cincin permata dengan sisinya yang terlihat keemasan.

__ADS_1


"Will you marry me and be mine forever?"


TBC


__ADS_2