System Prince Charming

System Prince Charming
Rahasia (18+)


__ADS_3

[Peringatan: Episode ini agak dark ya dan ada sedikit adegan pembunuhan, Jadi bijaklah dalam membaca. Author gak tahu ini masuk dalam 18+ ke atas atau bukan, Tapi bakal Author beri peringatan di episodenya untuk berjaga-jaga saja].


.


.


.


.


.


.


.


.


WUUSHHSS!


Sang pria terkejut menyadari Chloe tiba-tiba tidak ada di tempat, Padahal Pria itu sadar betul dia berada di belakang Chloe tapi sekarang gadis itu sudah menghilang dari hadapannya, Dan kini pisaunya hanya membelah udara kosong. Saat Chloe menghilang pun dia merasakan angin dingin menerpa tubuhnya.


"Sial! Dimana dia!? Tiba-tiba dia menghilang begitu saja," Pikir Pria bertopeng itu geram.


"Mencariku? Aku disini,"


Suara seseorang di belakang Pria itu membuat sang pria sontak menoleh, Tapi belum sempat menoleh dia ditendang dengan kencang di bagian punggung.


BBUUAAKK!


Sang pria terjatuh dengan wajah yang mendarat lebih dulu, Untungnya dia memakai topeng jadi hanya topengnya yang tergores lantai.


Chloe tersenyum miring usai menendang sang pria, Chloe tidak sebodoh itu dengan hanya diam di tempat dan menerima tusukan itu di lehernya. Dia memakai mode teleport dengan mamindahkan dirinya ke belakang sang pria, Jadi sekarang posisi mereka terbalik. Mana mungkin Chloe pasrah membiarkan dirinya mati sia-sia di saat tujuan nya belum tercapai.


"Chloe, Syukurlah. Kupikir kau akan benar-benar mati. Kau membuatku cemas," Holy mendekati Chloe, agak sesegukan habis menangis.


"Mana mungkin aku membiarkan diriku mati semudah itu, Untungnya aku ingat dengan mode teleport. Jadi kupakai saja," Balas Chloe sambil tersenyum.


Pria itu segera berdiri mengambil pisau nya, Lalu segera menyerang Chloe. Dengan sigap Chloe berusaha menangkis dan menghindar setiap serangan yang ditujukan padanya.


"Jangan cuma menghindar! Ayo lawan kalau bisa!" Kata Pria itu masih menyerang dengan gesit.


"Baiklah, kau yang minta,"


Sesaat Chloe memiringkan kepala nya kesamping saat pisau itu hampir mengenai kepalanya, Chloe segera menahan tangan sang pria yang memegang pisau. Lalu menahan tangan pria yang satunya lagi. Mereka berdua saling berusaha dorong-mendorong agar salah satunya terjatuh, Namun dengan cerdik Chloe menendang perut sang pria dengan lututnya sehingga pria itu terdorong mundur tapi masih berdiri kokoh.


Pria itu sempat memegangi perutnya, Menatap tajam pada Chloe sesaat. Kembali dia angkat tinggi-tinggi pisaunya, mengarah pada sang gadis. Sedangkan Chloe memasang kuda-kuda bersiap dengan serangan selanjutnya.


"Aku tidak akan memaafkan mu, Akan kubalas kau lebih dari ini!" Kata Pria bertopeng itu marah. Dia berlari dengan cepat ke arah Chloe, masih mengangkat pisau nya tinggi-tinggi.


Chloe segera mengambil sekop di belakangnya untuk bersiap, Pria itu memakai senjata. Masa dia lawan dengan tangan kosong sih?


"CHLOE!"


Entah sejak kapan Raizel mengetahui keberadaannya, Pemuda itu dengan gesit langsung menabrakkan tubuhnya pada Pria bertopeng itu. Hingga sang pria bertopeng langsung ambruk menghantam rak yang berisi kapak, gergaji, dan alat tajam lainnya. Rak itu pun terjatuh menindih tubuh sang pria bertopeng, bersamaan dengan jatuhnya alat-alat tajam. Untungnya gak sampai membunuh sang pria.


BBRRUUKK!


"AAARRGGHH!"


"Eh!?"


Chloe mengerjapkan matanya mendengar teriakan kesakitan dari sang pria bertopeng, Netra biru nya beralih pada Raizel yang mendekatinya.


"Kau baik-baik saja Sweetie?" Meski ekspresi Raizel tetap datar tapi terlihat sorot mata khawatir dari Netra ungu muda sang pemuda.


Chloe mendelik protes mendengar panggilan yang tidak biasa dari Raizel, Padahal dia sudah bilang tidak ingin berpacaran dengan sang pemuda. Hampir saja Chloe tersedak seliva nya sendiri. Mendengar panggilan itu. Holy bahkan sampai mengerling jahil pada Chloe.


"Apa-apaan panggilan itu!? Jangan panggil aku seolah-olah aku pacarmu!" Protes Chloe tak terima, Mengerutkan alisnya kesal.

__ADS_1


"Tidak bisa! Aku sudah memutuskan untuk tidak jauh-jauh darimu. Ayo kita keluar dari sini dulu Sweetie," Raizel segera menggenggam tangan Chloe dan menarik sang gadis keluar dari gudang.


"Tapi bagaimana dengan gadis itu? Dia terluka dan tidak bisa berdiri," Chloe menoleh sesaat pada gadis yang sempat ditolongnya, Gadis itu benar-benar tidak bisa berdiri karna kedua kakinya terluka begitu besar.


"Nanti aku akan mengurusnya, Untuk sekarang keselamatan Sweetie ku dulu yang terpenting,"


Chloe hanya bisa menatap dalam diam gadis yang masih berada dalam gudang itu, Dia pasrah di tarik oleh Raizel entah kemana. Tapi Chloe menyadari satu hal, Raizel dan keluarga Freymon sama-sama berbahaya seperti Justin.


***************


Mereka sampai di dekat pintu halaman belakang Mansion, Kedua penjaga pintu belakang tersentak saat melihat keadaan Raizel dan Chloe yang agak kacau.


"Tuan Raizel, Apa yang terjadi dengan anda?" Tanya salah satu penjaga dengan panik.


"Aku baik-baik saja, Kalian berdua tolong antarkan Sweetie pulang ke rumahnya. Jaga dia dengan baik, Dan jangan sampai dia terluka sedikit pun," Jelas Raizel dengan nada dinginnya.


"Baik tuan," Sahut kedua penjaga itu kompak.


"Raizel! Berhenti memanggilku begitu!" Gadis bersurai biru itu menatap tajam sang pemuda bersurai hitam campur coklat tersebut.


"Sweetie, Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa denganmu? Kali ini saja tolong dengarkan aku,"


Raizel menatap Chloe dengan sorot mata cemas dan khawatir, Tangan nya terangkat mengusap rambut biru Chloe lembut. Chloe menghela napas lelah, Susah bicara dengan seseorang yang sudah memiliki obsesi tinggi seperti Raizel. Padahal Chloe sudah mengatakan berulang kali bahwa dia bukan pacar sang pemuda.


"Hah, terserah mu sajalah," Chloe merasa tubuhnya sudah lelah, Yang dia pikirkan sekarang hanyalah kasur empuknya dan tidur.


Raizel mengangguk kecil lalu melepas jas hitam yang melekat di tubuhnya, Memasangkan jas itu di tubuh kecil Chloe. Sang gadis hanya diam menerima perlakuan tersebut.


"Hati-hati di jalan Sweetie, Telpon aku kalau ada apa-apa," Sesaat Raizel kembali mengusap rambut biru Chloe.


"Hm...iya,"


Setelahnya kedua penjaga Raizel mengantar Chloe masuk dalam mobil dan pergi meninggalkan area halaman Mansion Raizel. Raizel hanya diam menatap ke pergian Chloe dan kedua penjaga nya itu.


TAP! TAP! TAP!


"Kenapa kau malah melepasnya Raizel!?"


"Sudah cukup main-mainnya, Aku melarang kalian untuk mendekati Sweetie ku sedikit pun. Dan Justin, Aku melarangmu untuk membunuhnya," Sahut Raizel tajam.


"Ck! Kupikir sifat obsesi mu itu sudah hilang bertahun-tahun lalu Tapi kenapa saat bertemu anak itu malah muncul lagi? Bagaimana dengan mantan pacarmu Lea?," Justin menatap dingin Raizel yang berada di depannya.


"Jangan menyebut namanya lagi di depanku! Setidaknya Sweetie ku lebih baik dari pada Lea!" Nada Raizel sedikit meninggi.


"Hm...Jangan bilang kau jatuh cinta padanya karna dia sempat menolongmu dari kecelakaan itu? Huh, Kau itu jatuh cinta padanya atau sekedar Obsesi Raizel? Kau hanya akan membuatnya kecewa kalau itu hanya sekedar Obsesi semata,"


Raizel terdiam membisu, Tidak menyahut perkataan dari Justin. Pemuda bersurai hitam campur coklat itu menunduk kecil, merenungkan perasaannya saat itu. Dia tidak tahu dengan perasaannya, Entah dia benar-benar jatuh cinta pada Chloe atau hanya sekedar Obsesi semata. Semuanya campur aduk.


"Kupikir kau setia padaku Raizel, Padahal aku sudah memperingatkan kalian sebelum kalian menjalankan misi, Jangan ada yang jatuh cinta padanya. Tapi kau malah melanggar laranganku, Aku kecewa padamu Raizel," Justin menghela napas berat, Memandangi Raizel yang masih menunduk.


TAP! TAP! TAP!


Dari arah gudang, Pria bertopeng yang ingin membunuh Chloe tadi datang sambil mengusap tangannya yang sempat terkena goresan kapak yang jatuh mengenainya.


"Apa kau sudah mengurus gadis itu Devian?" Justin menoleh kecil pada Sang Pria bertopeng tadi.


Pria itu melepaskan topengnya, Yang ternyata dibalik topeng itu adalah Devian Orlindo. Teman sebangku dan sekelas Chloe. Devian masih mengusap kedua lengannya itu.


"Sudah, Aku sudah mengikatnya lagi seperti yang kau perintahkan Justin,"


Netra coklat muda Devian kemudian beralih pada Raizel yang menatapnya, Sesaat raut wajah Devian menjadi kesal dan marah. Dengan langkah lebar dan cepat, Devian mendekati Raizel lalu tanpa diduga dia memukul pipi Raizel hingga jatuh.


BBRRUUKK!


"Sialan kau Raizel! Kau memukul temanmu sendiri hah!" Dengan marah Devian meraih kerah pakaian milik Raizel dengan kasar, Meski saat itu Raizel terjatuh dengan memar di pipi nya akibat pukulan Devian sendiri.


"Aku tidak bisa membiarkan kau melukai Sweetie ku," Balas Raizel datar.


Mendengar kata Sweetie membuat Devian tertawa terbahak-bahak sesaat, Entah apa yang menurut sang pemuda lucu.

__ADS_1


"Sweetie!? Kau gila ya? Apa pikiranmu sudah diracuni olehnya? Dengar Raizel, Dia hanya gadis biasa yang tidak ada istimewanya. Gadis miskin yang tidak sebanding dengan derajat kita, Lebih baik kau lupakan saja Sweetie mu itu dan fokus saja pada misi utama kita," Kata Devian dengan nada dingin dan menusuk.


Raizel menatap tajam Netra coklat muda milik Devian, mengepalkan kedua tangannya di sisi kanan kirinya. Tanpa diduga Raizel balik menarik kerah pakaian milik Devian tak kalah menusuk, Netra ungu muda nya dipenuhi amarah meski wajahnya tetap datar.


"Devian, Aku tidak masalah kau memakiku dan memukulku. Tapi kalau kau sampai merendahkan Sweetie ku, Maka aku tidak akan tinggal diam dan kau akan berurusan denganku," Ancam Raizel tajam, Masih menarik kerah pakaian Devian.


Devian terdiam, Dia hanya menatap tajam Raizel. Keduanya saling menatap tajam dalam diam, Tidak ada yang bersuara sama sekali setelahnya.


Justin yang melihat perkelahian antara kedua anak didiknya hanya menghela napas berat, Tidak ingin ikut campur urusan keduanya. Kemudian Netra orange nya menatap ke arah gudang, Tempat dimana gadis yang di tolong Chloe masih berada di sana.


"Devian,"


Panggilan dari Justin mengalihkan perhatian Devian, Pemuda bersurai hitam kecoklatan itu melepaskan cengkeraman nya dari kerah Raizel, Begitu pun dengan Raizel.


"Ada apa?"


"Pinjam Pisau mu,"


Sesaat Devian merasa heran, Untuk apa Justin ingin meminjam pisaunya? Tapi tanpa bertanya sedikit pun, Devian menyerahkan pisau miliknya.


Justin menerima pisau itu lalu berjalan menuju gudang diikuti Devian dan Raizel yang penasaran dengan tindakkan Justin.


Mereka sampai di gudang dan melihat Gadis asing itu terduduk di lantai sambil menangis sesegukan, Justin berjongkok di samping sang gadis. Memperhatikan dalam diam.


Merasa ada seseorang di sampingnya, Membuat sang gadis menoleh. Dia terkejut Mendapati Justin lah yang ternyata berada di sampingnya. Seketika gadis asing itu menunjukkan raut takut, bulir-bulir air mata kembali turun dari mata nya. Perlahan gadis itu meringsut mundur menjauhi Justin sambil bergumam.


"J-Jangan bunuh aku, K-Kumohon," Katanya dengan terbata-bata disertai isak tangis.


Justin masih terdiam, menikmati raut takut dari sang gadis asing. Kemudian tangan nya terulur memegang dagu sang gadis dengan lembut.


"Tenang nona, Malam ini penderitaan mu akan berakhir. Jangan takut dan sedih, Kau akan segera menyusul teman-teman perempuanmu di sana," Perlahan Justin menunjukkan senyum smirk nya, Sesaat Netra orange nya berubah menjadi merah darah. Seringai kejam terpatri di bibirnya.


"T-Tidak kumohon, Jangan–" Justin segera membekap mulut sang gadis asing hingga perkataan gadis itu terpotong.


"Berisik! Menangislah sepuas mu. Tidak ada yang akan mendengarkan tangisan jelekmu itu," Tanpa belas kasih Justin segera membunuh sang gadis, Tatapannya begitu datar tanpa perasaan sama sekali.


"AAAAKKKHHH!"


Hanya suara memilukan itu yang terdengar memecah kesunyian malam, Tidak ada yang berbicara saat Justin menusuk berkali-kali wajah dan jantung sang gadis hingga hancur.


"Hahaha! Lihatlah wajahnya, Begitu cantik kan saat Justin menusuknya, Kau dengar suara kesakitan itu kan Raizel? Merdu sekali bukan?" Devian tertawa keras, Begitu menyukai saat korban mereka berteriak kesakitan.


"Aroma darah yang manis, Kalian menciumnya kan Devian, Raizel?" Justin ikut tertawa seperti orgil, Tangannya kini dipenuhi bercak darah dari gadis asing yang sudah tidak bernyawa itu.


"Benar, Aku mencium nya. Tusuk dia lagi, Biar gudang ini dipenuhi harum nya aroma dari darahnya. Hahaha," Devian masih tertawa puas, Tak terkendali.


Sedangkan Raizel hanya diam membisu dengan raut datar andalannya membiarkan Justin yang melakukannya, Dia sudah terbiasa melihat Justin membunuh para perempuan di luar sana kesekian kalinya. Jadi pemandangan ini sudah bukan hal yang menakutkan lagi bagi Raizel. Mendengar Devian dan Justin tertawa saat membunuh orang lain juga sudah biasa bagi Raizel.


Usai puas dengan maha karya nya, Justin Melepaskan tubuh gadis itu lalu memberikan pisau tersebut pada Devian yang tentunya di terima dengan baik oleh sang empunya.


"Semua nya sudah selesai, Bagaimana gudang nya? Indah bukan?" Justin memperhatikan gudang yang mereka tempati saat ini, Di gudang itu sudah dipenuhi banyak cairan merah kental di mana-mana. Bahkan sampai ke langit-langit gudang.


"Indah sekali, Aku jadi ingin melukis gudang ini dengan darahnya. Tapi sayangnya masih ada yang harus ku urus, Jadi aku tidak akan bisa menyempatkan waktu untuk melukis gudang ini," Jawab Devian ikut memperhatikan gudang mereka.


"Lain kali juga bisa Devian," Justin kemudian menoleh pada Raizel di sampingnya. "Nah sekarang giliranmu Raizel, Ambillah organ dalam nya dan jangan lupa ambil juga kulitnya untuk ku. Aku perlu lukisan kulit lainnya untuk ku awetkan,"


"Hm...Seperti biasa,"


Justin tersenyum kecil, Lalu melepas jas hitam nya yang terkena bercak darah dan memberikannya pada Raizel. Berjalan keluar dari gudang di ikuti oleh Devian.


"Karna kau melanggar aturan misi, Mulai sekarang pangkatmu di turunkan. Dan tugas mu selanjutnya hanya menculik para korban serta mengambil organ dalam mereka dan menjualnya ke pasar gelap. Kau mengerti kan Raizel!?" Kata Justin sebelum dia dan Devian pergi meninggalkan Raizel.


"Aku mengerti, Tapi aku tidak akan membiarkan kalian membunuh atau menyakiti Sweetie ku sedikit pun," Raizel menatap dingin Justin yang hanya di balas senyum kecil.


"Kita lihat saja nanti Raizel, Apa kau sanggup melindunginya atau tidak,"


Setelahnya Justin dan Devian pergi meninggalkan Raizel sendirian di gudang itu, Dengan jas hitam milik Justin yang dipegang oleh Raizel. Kemudian Netra ungu muda Raizel menatap korban mereka yang sudah tidak bernyawa, Dengan bercak darah di sekitarnya.


"Cih, Kalian yang berbuat, Aku yang harus membereskan semuanya,"

__ADS_1


Sesaat Raizel mendengus kasar, Lalu mulai melakukan tugas nya dalam gudang itu.


TBC


__ADS_2