
Pagi yang cerah tak heran bisa membuat gadis bermarga Amberly itu bangun pagi-pagi, Dengan wajah segar bugar habis mandi dia membuka jendela nya membiarkan udara pagi masuk memenuhi kamarnya. Sesaat dia merenggangkan badannya tak lupa olahraga kecil.
Netra birunya melirik kecil Holy yang masih ngebo di nakas.
TOK! TOK! TOK!
Sebuah ketukan pintu menghentikan aktivitasnya, Bergegas Chloe menuju pintu kamar dan membukanya.
CKLEK!
"Ya?"
Ian berdiri di depannya seperti biasa memasang ekspresi datar, Di belakang Ian terdapat Felix yang sedang tersenyum tipis. Menunggu untuk pergi bersama.
"Sarapan," Kata Ian to the point.
Meski hanya perkataan singkat, Chloe langsung paham. Dia segera keluar kamar dan menutup pintunya.
"Oke, Ayo kak Felix, Ian"
Dengan suasana hati yang bagus Chloe melangkah lebih dulu menuruni tangga diikuti Felix dan Ian.
Akhirnya setelah menunggu beberapa hari di Asrama ini, Semua anggota nya sudah lengkap. Sekarang yang harus Chloe tanyakan adalah mengapa Justin memintanya menjadi anggota kelompok nya? Pasti ada hal lain yang diinginkan pemuda itu darinya. Padahal seingat Chloe dia tidak memiliki kelebihan apapun, Dia saja juga gak tahu bakatnya apa selain bela diri dan melukis (Walau sebenarnya lukisannya lebih mirip lukisan anak TK).
Disaat dia tengah melamun, Tanpa sadar tubuhnya menabrak kursi yang diduduki Devian. Chloe gak sadar dia udah sampai di dapur gara-gara melamun, Alhasil Chloe dan Devian sama-sama terkejut. Bahkan sampai menarik perhatian beberapa anggota yang sudah berada di sana.
GUBRAK!
"Anjim! Kak Chloe selow napa, Salah apa nih kursi sampe di tabrak segala? Pagi-pagi udah ngelamun," Kata Devian sambil memegangi kursi yang di dudukinya, Takut jatoh si Devian.
"Ya maaf, Kaki ku kesandung," Chloe yang hampir jatuh langsung menyangga tangannya ke kursi Devian, Dia memang sedikit kesandung tadi gara-gara nabrak kursi.
"Pfftt!" Felix tertawa kecil, Dia menoleh usai duduk di kursinya. "Makanya Chloe, Jangan melamun entar nabrak lagi,"
Chloe nyengir setelah menyeimbangkan tubuhnya, Berdiri tegak. "Hehehe, Iya kak,"
Setelahnya dia duduk di kursi biasanya disamping Rion, Di setiap kursi sudah tertera nomor anggota mereka jadi saat mereka ingin duduk tidak akan bingung lagi ingin duduk dimana. Sambil menunggu kedatangan Justin dan Ezra, Sesekali Chloe menatap Aiden yang tengah masak.
Pengen sih bantuin Aiden, Tapi takutnya Aiden gak suka kalau ada yang ganggu pekerjaannya. Ngomong-ngomong soal memasak, Chloe jadi teringat sesuatu. Felix si kakak angkatnya kan bisa masak, Kenapa Felix gak bantuin Aiden aja ya?
Chloe menoleh menatap sang kakak yang duduk tak jauh darinya, Pemuda bersurai coklat dengan netra aqua itu tampak sibuk dengan HP nya. Kayaknya gak mungkin Felix bakal bantuin Aiden, Boro-boro bantuin lah ini orangnya sibuk sama HP kok. Chloe jadi penasaran tugas anggota lain seperti apa selain Aiden yang jadi koki nya Asrama.
Setelah menunggu beberapa menit Justin dan Ezra muncul berjalan menuju kursi masing-masing. Justin tampak duduk di kursi yang sedikit lebih besar dibanding kursi anggota lainnya. Sedangkan Ezra duduk di samping kursi Aiden berdekatan dengan Justin.
Chloe memperhatikan gerak-gerik Justin dan Ezra dalam diam dari posisinya, Namun sayangnya Netra birunya bertabrakan dengan tatapan tajam Ezra, Membuat Chloe langsung kicep. Sangat terlihat jelas aura kebencian terpancar dari dalam diri Ezra ketika tatapan mereka bertemu.
"Fix Pak Ezra benci aku, Ampun dah. Tatapannya itu loh...setajam silet," Pikir Chloe sambil meringis kecil, Dia menunduk tak ingin memandang Ezra lagi.
"Setelah makan jangan ada yang pergi dulu, Aku ingin membicarakan tentang pembagian tugas," Suara Justin memecah keheningan yang ada.
Para anggota menoleh dan mengangguk kecil, Chloe harap dia tidak mendapatkan tugas atau misi yang sulit karna akan repot juga kalau berdekatan dengan waktu kuliahnya.
Tak lama Aiden selesai masak, Dia menghidangkan beberapa Seafood pada para anggota. Semuanya makan dalam diam, Tidak ada yang bersuara lagi setelah pengumuman dari Justin.
****************
Setelah makan semuanya masih berdiam diri menunggu pembagian tugas masing-masing, Sesaat Justin berdehem sebentar selagi menunggu Aiden selesai cuci piring.
"Baiklah, Sesuai janji aku akan memberikan tugas kalian masing-masing. Sebagian anggota lama sudah memiliki tugas, Dan untuk anggota baru...," Justin menjeda kata-katanya sebentar, Netra orange nya melirik Aiden yang kembali duduk.
Kemudian Netra beralih menatap Rion dan Devian. "Rion, Aku ingin kau menjadi Partner Devian dalam keamanan Asrama. Tugasmu mengawasi dan menjaga sekitar Asrama dari orang-orang mencurigakan yang berniat memasuki Asrama ini,"
Rion terdiam sejenak dia mengambil HP nya dan mengetik balasan untuk Justin.
TING!
[Hanya menjaga Asrama kan? Tapi kenapa harus partner dengan Devian?]
Justin melirik Devian sesaat. Sedangkan Devian sendiri memasang ekspresi cuek.
"Karna Devian juga bertugas menjadi Keamanan Asrama, Hanya saja dia kadang suka membuat keributan dan terlalu gegabah tanpa memikirkan konsekuensinya. Jadi kuharap dengan kau sebagai partnernya Rion, Kau bisa sekaligus mengawasi Devian jika dia berbuat ulah lagi," Sahut Justin tenang yang mendapat tatapan kesal dari Devian.
DUK!
"Hei! Aku gak butuh partner buat menjaga Asrama ini. Aku bisa melakukannya sendiri! Buktinya berkat aku, Gak ada orang asing yang berani kesini dan menganggap Asrama ini angker. Itu caraku buat menjaga Asrama, Jadi aku gak perlu partner lagi!" Protes Devian gak terima, Dia memukul pelan meja makan melampiaskan kekesalannya.
"Hah~...Memang cara itu berhasil untuk membuat orang lain takut kesini, Tapi Devian sikapmu terlalu spontan dan gegabah dalam bertindak. Jadi turuti saja perintahku dan jangan membantah! Aku tidak ingin kejadian beberapa tahun yang lalu terulang lagi karenamu," Kata Justin tegas dan serius, Sesaat dia menghela napas.
"Cih!" Devian berdecak kesal, Dia bersidekap lalu melirik Rion sesaat. "Jangan menyusahkanku nanti!"
__ADS_1
Rion hanya mendelik tajam ke Devian, Mengetik pesan dalam HP nya dan menunjukkan pesan tersebut pada Devian.
TING!
[Sejujurnya aku juga tak ingin memiliki partner sepertimu! Tapi Pemilik Asrama sudah menugaskanku begitu, Jadi lebih baik kau terima saja walau aku juga tak suka kau jadi partnerku]
"Huh!" Devian mengalihkan pandangannya ke arah lain usai membaca pesan Rion, Begitu pun dengan Rion yang terlihat kesal.
Tingkah keduanya tak luput dari tatapan para anggota disana termasuk Chloe sendiri, Sudah dipastikan Devian dan Rion akan terus saling berselisih kedepannya sebagai partner jika keduanya sama-sama tak suka.
"Hm...Sepertinya mereka tak cocok jadi partner, Mengingat sikap Devian agak gegabah dalam bertindak dan sikap Rion yang terlalu pendiam," Pikir Chloe yang terus memperhatikan Devian dan Rion dari posisinya.
Justin masih diam setelah perselisihan antara Devian dan Rion mereda berulah dia beralih menatap Chloe yang duduk agak jauh.
"Dan Chloe Amberly...,"
Merasa terpanggil Chloe memusatkan perhatiannya pada Justin, Dia mengubah ekspresinya menjadi serius. Mengangkat satu alisnya seolah sedang mengatakan 'Apa?' Pada Justin.
"Tugasmu adalah menjadi seksi kesehatan Asrama, Di Asrama ini tidak ada yang pandai dalam hal mengobati atau memeriksa kesehatan setiap anggota jadi aku ingin kau yang melakukan pekerjaan itu," Jelas Justin dingin, Bersidekap sambil memandang Chloe yang agak tersentak.
menjadi seksi kesehatan Asrama dadakan!? Chloe saja gak pernah memeriksa kesehatan orang lain apalagi dirinya sendiri. Dulu dia memang pernah ikut PMR di dunia asli saat masih duduk di bangku SMP tapi sekarang setelah SMA Chloe gak pernah lagi ikut kegiatan itu.
"Eh!? Jadi seksi kesehatan Asrama dadakan!?"
"Ya,"
"Tapi aku kan bukan dokter! Aku memang pernah ikut PMR saat SMP (di dunia asli) jadi aku cukup bisa dalam hal mengobati tapi kalau pemeriksaan kesehatan aku gak tau," Protes Chloe berusaha menolak tugas itu, Memeriksa kesehatan setiap anggota!? Yang benar saja, Masa Chloe harus mendalami yang namanya pengobatan sih!?
Justin menghela napas sesaat. "Itu artinya kau pernah pengalaman juga kan dalam hal mengobati? Kami sangat membutuhkan dokter di Asrama ini, Jadi kuharap kau bisa melakukan tugas itu. Hanya tugas itu satu-satunya yang belum dimiliki anggota Asrama,"
"Kenapa tidak Dokter asli saja? Chloe tidak memiliki pengalaman apapun soal pengobatan," Celetuk Ian dingin yang diangguki oleh Chloe.
"Kita tidak bisa percaya pada siapapun termasuk dokter yang bukan anggota Asrama, Bisa jadi mereka adalah mata-mata musuh yang menyamar jadi dokter atau yang lain. Itulah kenapa aku meminta Chloe mengambil posisi itu, Maksudku hanya jadi dokter untuk pertolongan pertama seperti mengobati luka kecil,"
"Maksudnya dokter standby Pak Justin?" Tanya Chloe balik yang diangguki sang pemilik Asrama.
"Benar,"
"owh...kalau itu sih aku bisa, Hanya untuk pertolongan pertama mah kecil. Kupikir tadi dokter yang bertugas membuat obat-obatan jika ada anggota yang sakit," Chloe cecengesan kecil, Mengusap tengkuknya malu.
"Tidak, Lagipula aku juga tidak yakin jika obat buatanmu aman untuk dimakan anggota lain. Bisa jadi kau berniat meracuni kami melalui obat buatanmu," Kata Justin acuh.
"Yah, Bisa jadi kau punya dendam sama kami atas apa yang terjadi di masa lalu," Justin melirik kecil Chloe yang terdiam. Entah apa yang sedang gadis itu pikirkan.
Sejenak suasana ruang makan menjadi hening setelah perkataan terakhir Justin. Ezra yang tidak tahu maksud perkataan Justin mengerutkan alisnya.
"Yang terjadi di masa lalu!? Apa Tuan Justin dulunya pernah berniat mencelakai cewek ini, Sampai-sampai dia mengira cewek ini punya dendam padanya?" Pikir Ezra memandang tajam Chloe yang masih diam. Dia semakin tidak suka dengan keberadaan Chloe di Asrama ini.
"Kalau benar cewek ini punya dendam sama Tuan Justin, Gak akan kubiarkan dia dekat-dekat dengan Tuan, Dia bisa saja berniat balas dendam. Mungkin karna itu dia menerima ajakan Tuan agar bisa membunuh Tuan disini," Ezra masih memandang Chloe dengan negatif thingkingnya sebelum akhirnya Chloe kembali ngomong.
"Tujuanku berada di Asrama ini cuma satu yaitu memenuhi kesepakatan kita, Jadi tolong Pak Justin jangan sangkut pautkan kejadian kita dimasa lalu, Anggap saja semua itu sudah berlalu. Aku cuma ingin memulai hidup yang baru disini dengan damai. Sejak awal aku tak berniat balas dendam, Aku hanya ingin kesepakatan kita sama-sama tercapai," Jelas Chloe dengan senyum tipis.
Dia tak ingin banyak musuh disekitarnya, Chloe sudah berusaha jadi anak baik dan tidak banyak tingkah namun entah mengapa masih ada saja yang tidak suka padanya meski Chloe tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan. Contohnya Ezra yang masih memandangnya tajam dengan aura tidak suka.
Seingat Chloe, Dia tak pernah mengusik pemuda yang berstatus tangan kanan Justin itu, Mereka pun baru saja bertemu kemarin. Ezra sendiri lah yang memulai obrolan dengan ancaman. Tapi yang pasti Chloe sepertinya gak bakalan mau dekat-dekat dengan Ezra karna aura kebencian yang dikeluarkan sang pemuda terlalu kental.
Sesaat Justin tersenyum tipis dan senyum itu tak luput dari tatapan Ezra.
"Hoo...Jadi begitu, Sepertinya kau sangat ingin kesepakatan itu tercapai. Baiklah, Apa kau bersedia menjadi Dokter dadakan disini?"
"Tentu saja, Selama hanya luka kecil aku masih bisa menanganinya," Chloe mengangguk mantab.
"Bagus, Semua tugas sudah terbagi. Kuharap kalian bisa menyelesaikan misi kalian masing-masing nanti," Justin meranjak dari duduknya.
Sebelum pergi Justin kembali memandang Chloe.
"Dan Chloe, Datang ke ruanganku nanti malam. Ada yang ingin kubicarakan tentang misimu,"
Setelahnya Justin berjalan pergi keluar dari ruang makan diikuti Ezra, Meninggalkan para anggota yang masih duduk disana.
"Yah, Akhirnya Asrama ini punya Dokter juga meski dadakan dan hanya khusus untuk pertolongan pertama. Tapi seenggaknya berguna lah," Kata Raizel menyandarkan punggungnya yang kaku pada sandaran kursi.
"Tugasnya tidak terlalu sulitkan Chloe?" Tanya Felix dengan senyum.
"Iya, Masih bisa kutangani yang kayak gitu," Chloe mengangguk kecil, Lalu dia teringat dengan misi yang barusan di sebutkan Justin. "Btw, Kalian pernah dapat misi apa aja dulu dari Pak Justin? Misinya sulit atau mudah?"
"Tergantung, Biasanya misi yang diberikan acak dan bersifat pribadi, Makanya Tuan Justin sering meminta setiap anggota yang bersangkutan untuk ke ruangannya. Misi yang diberikan pun entah mudah atau sulit tergantung pandangan masing-masing," Kata Aiden datar.
"Kurasa untuk anggota baru sepertimu, Misi yang diberikan nanti masih tergolong mudah," Jelas Ian membenarkan kancing di lengan bajunya yang hampir lepas.
__ADS_1
"Siap-siap dengan misi pertamamu kak Chloe," Devian tersenyum miring, Dan mendapat jitakan dari Felix.
PLETAK!
"Jangan menakut-nakuti adikku!" Sungut Felix mendelik pada Devian, Sedangkan Devian mengaduh kecil sambil mengusap kepalanya.
"Apaan sih!? Doyan bener mukul kepalaku," Sungut Devian.
Rion mengetik pesan lalu menunjukkannya ke Devian.
TING!
[Dari tampangmu yang mengesalkan itu memang pantas mendapat hukuman]
"Kali ini aku setuju dengan Rion," Raizel mengangguk membenarkan usai tak sengaja membaca balasan pemuda bersurai silver itu.
"Ck! Ikut-ikutan aja," Devian mendengus kecil masih mengusap kepalanya.
Chloe tertawa sesaat, Tingkah laku Devian dan Felix serta Raizel dan Rion memang bisa mencairkan suasana. Sampai tiba-tiba Aiden ikut nimbrung.
"Sekarang bisakah kalian keluar dari wilayahku? Aku ingin membersihkan ruangan ini dan jangan mengganggu aktivitasku,"
Perkataan Aiden yang tiba-tiba sontak membuat semua anggota lain saling pandang, Mereka segera meranjak dari kursi masing-masing dan keluar dari ruang makan. Berbeda dengan Chloe, Dia lebih memilih mengambil alat penyiram dan segera ke kebun. Yang penting keluar dari ruang makan daripada nanti Aiden merasa terusik.
****************
[Kebun]
Sudah beberapa menit yang lalu Chloe berada disana, Dia menyiram tanaman-tanaman itu dengan senang hati. Sesekali dia bersenandung riang. Dia senang besok sudah mulai kuliah, Tak sabar rasanya Chloe ingin bertemu dengan Alice dan Evelyn. Tak terasa juga dia sudah tinggal di Asrama ini lebih 2 minggu.
TAP! TAP! TAP!
Disaat Chloe asik menyiram, Dia mendengar suara langkah kaki. Refleks sang gadis menghentikan aktivitasnya. Dia menoleh ke belakangnya dan menemukan Ezra yang memandangnya sinis. Berjarak beberapa meter di hadapannya.
Dengan bingung Chloe meletakkan alat penyiram di tanah.
"Pak Ezra? Ada apa menemui saya?"
"Ada yang ingin kubicarakan," Ezra menatap Chloe datar dengan sorot mata tajam.
Dengan canggung Chloe menggaruk pipi kanannya yang tidak gatal dengan jari telunjuk. "Umm...soal apa Pak?"
Sesaat Ezra mendengus sinis, Dia bersidekap dengan aura benci dan mengintimidasi yang membuat Chloe sejenak meneguk seliva kasar.
"Sumpah...Rasanya kayak berhadapan dengan singa liar," Pikir Chloe sesaat bergidik.
"Ck! Dengar ya. Kau masih baru disini! Jadi jangan sok cari perhatian ke Tuan Justin. Hah~ Aku tidak tahu apa yang membuat Tuan Justin tertarik padamu hingga dia mengajakmu masuk Asrama ini," Ezra menghela napas kasar, Masih bersidekap lalu kembali memandang Chloe tajam dengan ekspresi datar.
"Lupakan soal itu, Yang ingin ku bicarakan bukan itu. Yang paling penting kau jangan pernah mengusik atau macam-macam pada Tuan Justin. Jika sampai kau memukul nya lagi seperti kejadian di Bioskop itu. Aku akan langsung mematahkan kedua kaki dan tanganmu itu," Kata Ezra tajam dengan aura berapi-api yang entah sejak kapan muncul.
Seketika Chloe langsung keringat dingin, Dia tidak menyangka kalau Ezra tahu dulu dia pernah memukul Justin di Bioskop. Tapi seingat Chloe, Ezra tidak berada di samping Justin saat kejadian itu.
"Tapi Pak Ezra, Yang salah duluan kan–"
"Dimataku kau lah yang salah," Potong Ezra dingin. "Kau masih selamat waktu itu, Andai waktu kejadian itu aku berada di sana. Akan kupastikan kepalamu hilang saat itu juga,"
JJDDEERR!
Bagai petir di siang bolong rasanya jantung Chloe langsung sakit seketika, Padahal jelas-jelas yang mulai perkara Justin duluan waktu itu karna mengancam akan mengawasinya. Ya Artinya bukan salah Chloe dong kalau pas mereka ketemu lagi Chloe langsung balas perbuatan Justin. Tapi Si Ezra malah menyalahkan Chloe.
Ezra melangkah sedikit dekat dengan Chloe masih dengan aura benci dan mengintimidasinya.
"Kau jangan kesenengan dulu karna bisa masuk dan berhasil jadi anggota Asrama ini berkat Tuan Justin," Kata Ezra tajam.
"Lha Siapa yang senang? Pak Ezra ngajak ribut ya?" Pikir Chloe yang udah mulai kesal, Ekspresinya berubah serius.
"Soalnya Asrama ini...," Ezra semakin mendekat, Hingga akhirnya dia dekat dengan Chloe. Ezra mencengkeram salah satu pundak sang gadis, Berbisik pelan disamping kuping Chloe. "Gak sebaik yang kamu pikirkan. Dan gak semua anggota Asrama senang ada anggota baru,"
"Yang kau pikir Asrama ini aman untuk tempat berlindung. Bisa saja tinggal disini nyawamu lah yang akan terancam, Dan satu lagi," Cengkeraman Ezra semakin kuat di pundaknya, Membuat Chloe harus menahan sakit saking kuatnya. "Jangan pernah dekati Tuan Justin, Karna aku adalah salah satu anggota yang tidak suka dengan keberadaanmu disini. Kalau kau melangkah lebih dari ini, Kau akan terima akibatnya,"
"Ukh...!" Sontak Chloe langsung memegangi pundaknya bekas cengkeraman Ezra setelah Ezra menjauh darinya. Chloe menatap Ezra.
"Jadilah anak penurut selama disini," Kata Ezra dingin. Dia berbalik dan melangkah pergi dari area kebun meninggalkan Chloe.
TAP! TAP! TAP!
Sesaat Chloe masih diam usai kepergian Ezra, Gadis bersurai biru itu mengusap pundaknya berupaya mengurangi rasa sakit disana. Chloe yakin pundaknya pasti bakal memar.
"Aku sudah menduganya, Pak Ezra pasti tidak suka aku berada di Asrama ini. Dia sangat terlihat jelas begitu membenciku," Pikir Chloe masih berdiri di tempatnya, Sampai akhirnya dia putuskan untuk memasuki Asrama setelah menyadari langit mulai mendung.
__ADS_1
TBC