
"Skateboard?" Ezra mengernyitkan alisnya lalu menoleh pada Chloe yang cengar-cengir tak jelas. "Bukannya ini Skateboard yang kukasih ke kamu kemarin? Kenapa kasih ke aku lagi, Kan kau yang minta?"
"Hehehe, Aku memang sengaja minta skateboard itu buat hadiah ulang tahun bapak. Lagipula kan bapak yang memenangkan permainan itu, Jadi sudah sepantasnya Skateboard ini milik Pak Ezra," Chloe tersenyum kikuk, Mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku juga gak tahu apa yang bapak inginkan, Jadi kukasih Skateboard aja sebagai hadiah. Aku ngasih Skateboard itu karna kudengar dulu bapak waktu kecil suka main skateboard sama Pak Justin, Jadi hadiah yang terpikir olehku cuma itu," Tambahnya gugup, Takut Ezra tak menyukai pemberiannya.
Ezra menghembuskan napas pelan, Memandang papan skateboard ditangannya. "Kenapa kau tidak bilang?"
"Bapak gak suka ya?" Ekspresi Chloe berubah murung, Mungkin dirinya memilih hadiah yang salah untuk Ezra. Yah, Bagaimana pun Ezra sudah dewasa. Mana mungkin dia mau memainkan permainan anak-anak seperti ini lagi.
"Aku suka kok, Sangat menyukainya,"
"Eh?" Chloe mendongak setelah suara Ezra menyapu pendengarannya. Binar kebahagiannya terpancar jelas dari netra hijau milik Ezra, Dan Chloe menyadari hal itu. Meski pandangan Ezra masih tertuju pada skateboard ditangannya.
Perlahan sudut bibir Chloe tertarik membentuk senyum lembut, Dirinya lega mengetahui Ezra ternyata menyukai pemberiannya.
Kemudian netra birunya bertemu dengan netra hijau Ezra. "Kau punya waktu luang juga kan hari ini?"
"Iya,"
"Kalau begitu, Mau pergi ke suatu tempat?"
"Boleh, Aku akan membuat makanan untuk makan siang nanti disana," Usul Chloe sembari membereskan peralatan mereka.
"Hm, Jangan lupa bawa juga sisa kuenya," Ezra melirik sisa kue yang masih banyak, Tentu saja kue sebesar itu tidak akan sanggup dihabiskan berdua saja.
"Iya,"
Ezra pun meranjak dari duduknya sambil membawa skateboard ditangannya, Sekaligus menyiapkan barang apa saja yang akan dibawanya.
***************
CKEEIITT!
Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan sebuah taman kosong, Tidak ada satupun orang berada di sana selain yang terlihat hanyalah pagar tertutup dengan kawat yang berkarat di sisinya.
Ezra keluar dari dalam mobil diikuti Chloe, Sang pria berjalan memutar ke bagasi mobil. Dia membuka bagasi mobil dan mengambil dua papan skateboard dari dalam sana.
Blam!
"Nih, Mulai sekarang skateboard yang ini milikmu," Ezra menyerahkan sebuah skateboard bercorak putih campur ungu setelah menutup bagasi mobil. Di tangan satunya dia memegang skateboard pemberian Chloe.
"Ini sekarang milikku?" Kata Chloe dengan netra yang berbinar cerah, Perlahan ia menerima skateboard pemberian Ezra.
"Ya, Ini skateboard lamaku. Sudah menemaniku sejak kecil dan skateboard ini pemberian Justin," Ezra tersenyum kecil, Tatapannya tak lepas dari skateboard yang dipegang Chloe. "Jadi skateboard ini sangat berharga bagiku,"
Ekspresi Chloe berubah murung, Perasaannya jadi tak enak karna menerima barang berharga milik Ezra, Entah kenapa tiba-tiba dia teringat dengas jas milik Ezra pemberian Justin yang dirusak oleh seseorang, Meski kejadian itu sudah berlalu. Tetap saja Chloe masih bisa mengingatnya sampai sekarang, Perasaan marah dari Ezra waktu itu masih teringat jelas di benaknya. Rasanya dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Sang gadis menyodorkan kembali skateboard di tangannya, Merasa tak pantas memiliki barang itu terlebih barang itu berharga bagi Ezra.
"Enggak usah deh pak, Jangan kasih ke aku. Mending skateboard ini bapak simpan aja, Kan ini kenangan-kenangan pak Ezra sama pak Justin," Chloe tersenyum hambar, Namun Ezra sama sekali tak meraihnya. Kening sang pemuda mengerut bingung.
"Kenapa kau menolaknya?"
Chloe menjawab ragu, Pandangannya beralih menatap ke arah lain. "Aku gak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Seperti jas milik bapak yang dikasih sama pak Justin," sang gadis memelankan suaranya di bagian akhir, Bagaimana pun Ezra masih bisa mendengarnya karna posisi mereka berhadapan.
Sejenak sang pemuda menghembuskan napasnya, Tangannya terangkat ke udara menepuk surai biru milik sang gadis pelan. "Kau ini! Itu hanya jas, Lagipula Tuan Justin tidak mempermasalahkan hal itu. Aku sudah bicara padanya, Kau tidak perlu merasa bersalah soal itu. Itu bukan salahmu tengil,"
Tapi ekspresi Chloe masih murung, Skateboard itu masih terulur dihadapan Ezra. "Tapi skateboard ini kan..."
"Tidak apa-apa, Sekarang ini milikmu. Tidak perlu sungkan menerimanya, Lagipula aku mengajakmu kesini kan untuk bersenang-senang main skateboard," Sela Ezra mendorong pelan skateboard itu kembali ke arah Chloe.
Sejenak Chloe kembali menatap skateboard ditangannya. "Makasih pak, Kalau bapak memang sudah merelakannya," Senyum ceria terpatri di bibir sang gadis. "Aku akan menjaganya dengan baik,"
"Ya, Aku juga," Yang dimaksud Ezra adalah skateboard pemberian Chloe.
"Tapi aku tidak bisa main skateboard,"
Sesaat Ezra tersenyum angkuh. "Kau akan belajar dari ahlinya,"
Ezra berbalik melangkah mendekati pagar pembatas, Sejenak dirinya memandang sebuah tulisan yang terpasang di pagar bertuliskan 'close'.
"Bagaimana caranya masuk ke sana? Taman ini ditutup," Chloe mendekati Ezra dengan menenteng barang bawaan mereka bersama skateboardnya, Kepalanya mendongak menatap atas pagar. "Apakah harus dipanjat lagi seperti dulu?"
"Tidak, Seingatku ada pintu rahasia disekitar sini untuk masuk kesana," Ezra menoleh mencari pintu rahasia yang dimaksud, Dia berjalan memutar di antara semak-semak untuk mencari pintunya.
"Hah?! Pintu rahasia? Terus kenapa harus susah-susah manjat dulu kalau disekitar sini ada pintu rahasia?!" Pekik Chloe dalam hati.
"Oi tengil! Kemari!"
Mendengar suara Ezra, Lantas sang gadis segera mendekati sang pemuda dan melihat beberapa kawat yang terbuka cukup lebar diantara semak-semak, Memudahkan siapa saja untuk masuk ke taman itu.
__ADS_1
"Sepertinya seseorang sudah lebih dulu membuka jalan ini sebelum kita," Ezra menundukkan sedikit tubuhnya agar bisa melewati jalan itu meski beberapa kain pakaiannya tergores pagar kawat.
Chloe ikut menunduk memasuki tempat itu, Karna ukuran tubuhnya agak mungil memudahkan Chloe melewati pagar pembatas dengan lincah.
Masih banyak permainan anak-anak yang tersisanya disana, Terlihat beberapa besi di permainan itu berkarat menunjukkan sudah berapa lama mereka ditinggalkan. Jelas Ezra sangat mengingat taman anak-anak ini, Karna dulu sewaktu dia kecil. Dia dan Justin selalu bermain disini bersama anak-anak lainnya, Tentunya hanya bermain berdua.
"Bukankah taman bermain ini sudah ditinggalkan, Lihatlah. Bahkan permainan seluncuran ini tidak layak dipakai lagi," Kata Chloe berjalan disamping Ezra, Ia menunjuk permainan seluncuran di dekatnya yang tampaknya sudah reyot dengan besi berkarat. Siap untuk ambruk kapan saja.
"Aku tahu, Suasananya tidak jauh berubah seperti terakhir kali kutinggalkan bersama Justin," Balas Ezra memandang satu-persatu permainan yang dia lewati.
"Apa taman ini salah satu kenang-kenangan kalian?"
"Ya, Kami selalu bermain disini. Hanya berdua dan kami selalu memainkan permainan yang sama setiap harinya,"
"Skateboard?" Tebak Chloe sembari memandang Ezra.
"Benar, Tiada hari tanpa skateboard. Itulah motto kami saat kami kecil,"
"Wow! Ternyata Pak Ezra dan Pak Justin anak skate sejati," Pikir Chloe kagum, Berbeda dengan dirinya yang hanya hobi memainkan otome game namun semenjak ia masuk dimensi ini. Chloe tidak pernah lagi memainkan permainan itu, Jelas saja karna tidak ada permainan itu di handphone nya.
"Disini!"
Ezra menghentikan langkahnya otomatis Chloe ikut berhenti, Netra birunya memandang sebuah kolam besar berbentuk bundar. Tampaknya air kolam itu sudah mengering untuk waktu yang cukup lama hingga tidak terlihat sisa air satupun di dalamnya, Dan jangan lupakan lumut-lumut kecil yang terlihat disisi-sisi kolam.
"Ini bukannya kolam untuk berenang ya?"
"Ya, Itu dulu. Sekarang kolam ini beralih fungsi sebagai tempat untuk bermain skateboard," Ezra meletakkan skateboard di tangannya lalu mengambil alih keranjang berisi makanan dari tangannya Chloe.
Dia meletakkan keranjang itu di atas seluncuran anak-anak tak jauh dari posisi mereka agar tidak mengganggu permainan mereka nantinya, Setelah selesai Ezra kembali mendekati Chloe yang masih memandang kolam.
"Tapi lumutnya..."
"Jangan hiraukan lumutnya, Itu hanya sedikit. Kolam ini biasanya kami gunakan sebagai pelatihan, Dan kurasa ini tempat yang cocok untuk melatihmu,"
"Apakah ada tempat yang lebih baik dari ini?"
"Ada, Tapi agak jauh dari kota. Tempat itu dekat pegunungan dan memiliki tebing yang curam. Anak-anak skate menyebutnya tanjakan 'S'. Biasanya mereka menggunakan tempat itu untuk berlatih atau berlomba dengan anak-anak skate lainnya," Ezra menjauh sembari mengambil skateboard miliknya, Tak lupa memakai sarung tangan hitam yang dia ambil dari saku celananya.
"Tempat itu ilegal," Tambah Ezra.
"Ilegal? Kenapa?" Entah kenapa Chloe merasa tertarik dengan dunia skate setelah mendengar cerita Ezra, Dia mulai penasaran dengan tempat yang disebut tanjakkan 'S' itu.
"Karna ditempat itu semua anak skate berkumpul, Biasanya mereka akan bertaruh dengan uang yang mereka miliki jika salah satu dari peserta lomba menang. Kau tahu semacam balap liar. Tidak ada aturan juga dalam lomba disana, Bahkan para pesertanya diperbolehkan untuk bermain curang,"
Seketika Chloe merinding sejenak membayangkan tebing-tebing curam di tempat itu. "Hei, Kenapa mereka masih mau saja main disana kalau sudah tahu tempat itu berbahaya?"
"Kau tahu kan, Larangan dibuat untuk apa?"
"Untuk dilanggar,"
Krik! Krik! Krik!
Seketika Chloe membekap mulutnya sendiri, Menyadari salah menjawab dari pertanyaan Ezra.
Ezra berdehem pelan. Dia kembali mengucapkan sesuatu. "Tidak salah, Tapi juga tidak benar. Sudahlah, Kita sekarang fokus ke latihannya,"
Chloe mengangguk setuju tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
"Kau perhatikan permainanku, Setelah itu aku akan mengajarimu. Paham kan?"
"Paham!"
Ezra mulai fokus dengan skateboardnya, Dia berlari kecil menuju kolam lalu setelahnya meluncur mengitari sisi kolam dengan cepat. Begitu cepat sampai Chloe hampir tak bisa melihat sosok Ezra.
Wuuussshhh!
Tak!
Selang beberapa menit Ezra berhenti di dasar kolam, Dia mendongak menatap Chloe yang berada di atas tepat di sisi kolam. "Ayo kemari!"
"Pak, Kalau jatuh gimana?" Chloe menatap ngeri, Takut dirinya tergelincir saat menghampiri Ezra. Kedalaman kolam itu sekitar 1,5 meter. Belum lagi banyaknya lumut kecil yang akan membuatnya jatuh nantinya.
"Gak akan! Cepat kemari! Bawa skateboardnya aja, Jangan dinaikin," Seru Ezra dari bawah, Lalu dia menunjuk sisi kolam. "Atau pakai tangga disana,"
Chloe menoleh menatap tangga yang dimaksud, Seketika dirinya speecheless. "Che! Gak bilang kalau disana ada tangga. Aku kan jadi sempat takut tadi kalau-kalau tergelincir saat turun,"
Alhasil Chloe membawa skateboardnya lalu menuruni tangga dengan hati-hati, Mendekati Ezra di dasar kolam.
Setelah Chloe sampai di dekatnya tanpa peringatan Ezra merampas skateboard milik Chloe lalu meletakkannya di bawah kaki sang gadis. "Naik!"
Dengan hati-hati Chloe menaiki skateboard miliknya meski sedikit gugup. Dirinya hampir jatuh karna kakinya agak gemetar.
__ADS_1
"Jaga keseimbanganmu, Jika tidak kau akan jatuh. Ikuti aku!" Ezra merentangkan kedua tangannya di atas skateboard, Chloe mengikuti gerakan Ezra.
"Duh, Kakiku masih gemetar. Kalau begini aku akan jatuh," Pikir Chloe berusaha menjaga keseimbangannya, Tak lama Chloe merasakan kedua tangannya dipegang.
"Jangan gugup, Kau harus rilex. Dengan begitu kau tidak akan jatuh," Ezra berdiri disamping Chloe, Masih memegangi kedua tangan sang gadis agar tak jatuh.
Chloe melakukan apa yang Ezra suruh, Bahkan dia menggoyangkan skateboardnya agar bisa menjaga keseimbangannya saat skate miliknya meluncur. Menurut Chloe menjaga keseimbangan di atas skateboard yang meluncur adalah hal tersulit baginya. Bahkan Chloe hampir jatuh beberapa kali, Untung saja Ezra selalu memegangi tangannya.
Latihan itu terjadi selama beberapa menit, Ezra juga mengajarkan beberapa gerakan dasar dalam dunia skate pada Chloe meski Chloe tidak menguasai gerakan itu sepenuhnya. Sampai akhirnya Ezra melepas pegangannya pada sang gadis, Membiarkan Chloe meluncur pelan memutari kolam.
"Pak, Aku bisa!" Seru Chloe senang karna berhasil menjaga keseimbangannya, Ketika skate miliknya meluncur ke sisi kolam. Meski tak secepat Ezra, keberhasilan ini sudah membawa kepuasan tersendiri bagi Chloe, Tentunya tanpa dipegangi Ezra lagi.
"Baguslah kau berhasil," Ezra menaiki skateboardnya, Tak lama dia ikut meluncur mengikuti sang gadis.
Bermain skateboard bersama ini seketika mengingatkan Ezra dengan masa lalunya bersama Justin, Bayangan-bayangan saat dirinya masih kecil terlintas di benaknya.
**************
[Memory Ezra On]
Kraasakk!
Ezra menoleh saat dirinya samar-samar mendengar suara gemerisik semak-semak tak jauh dari posisinya, Tak lama netra hijaunya menangkap sosok Justin yang mengintip dirinya dari balik semak-semak. Ezra tersenyum saat Justin melambai, Seolah menyuruhnya untuk mendekat.
Ia mengalihkan pandangannya menatap sosok ayahnya yang sedang memotong rumput, Saat itu Ezra bertugas memegangi tangga. "Ayah, Boleh aku bermain sekarang?"
"Ya, Tapi jangan lama-lama. Setelah itu bantu ibumu," Balas Ayah Ezra tanpa menatap Ezra sedikitpun.
"Baik ayah,"
Ezra mendekati Justin yang sudah menunggunya sedari tadi, Dengan netra berbinar Justin menggenggam tangan Ezra.
"Ezra, Ayo main skateboard lagi. Sekarang ajari aku gerakan lainnya ya," Pinta Justin dengan antusias.
Ezra masih tersenyum, Dirinya pun tak sabar bermain dengan Justin. "Tentu saja, Ayo kita kekolam itu,"
"Ya,"
Keduanya berlari pergi menuju kolam yang dimaksud sembari bergandengan tangan. Sesampainya di kolam tempat keluarga Justin, Ezra langsung mengambil skateboardnya yang tergeletak di dasar kolam.
"Ini, Naiklah!" Ezra memberikan skateboardnya dan langsung diterima Justin dengan senang hati.
Justin berlatih untuk menjaga keseimbangannya sedangkan Ezra mengawasi gerakan Justin.
"Woah!" Keseimbangan Justin mulai tak terkendali setelahnya dia terjatuh dan sontak Ezra menghampirinya dengan cemas.
"Tuan Justin, Kau baik-baik saja?" Ezra berusaha menyingkirkan beberapa daun kering yang menempel di rambut Justin.
Bukannya meringis sakit, Justin malah tertawa yang membuat Ezra keheranan beberapa detik tak lama Ezra ikut tertawa bersama Justin.
"Menyenangkan sekali, Sepertinya aku mulai menyukai permainan skateboard ini," Seru Justin tertawa lepas, Dia mengusap sudut matanya yang berair. "Aku akan meminta ayah untuk membelikan skateboard nanti,"
"Syukurlah Tuan Justin menyukainya," Tawa Ezra mereda, Namun masih terselip rasa cemas dalam dirinya. "Tuan Justin tidak apa-apa kan?"
"Iya, Aku kan kuat," Justin tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang tertata rapi.
Ezra ikut tersenyum, Merasa senang bahwa Justin baik-baik saja.
"Ezra, Berjanjilah akan menjadi teman sepermainan dan sahabatku. Detik ini, Hari ini, Dan selamanya serta selalu disisiku,"
Justin mengancungkan jari kelingkingnya, Meminta Ezra melakukan hal yang sama dengannya. Awalnya Ezra bingung namun setelahnya dia mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Justin, Tersenyum ceria.
"Iya, Aku janji akan menjadi teman sepermainan dan sahabat Tuan Justin. Detik ini, Hari ini, dan selamanya serta akan selalu setia berada di sisi Tuan Justin,"
[Memory Ezra Off]
*************
Raut wajah Ezra berubah muram, Ia berkata lirih. "Aku berjanji Tuan Justin, Aku tidak pernah mengikari janjiku,"
"Pak Ezra!"
Samar-samar suara Chloe menyapu pendengarannya, Ezra tersentak dari lamunannya. Saat arah pandangnya tertuju pada Chloe, Gadis itu sudah meluncur ke arahnya kian dekat.
"Pak! Hentikan skateboardnya!"
"Hentikan?" Ulang Ezra, entah kenapa kerja otaknya mendadak lambat. Sadar akan terjadi sesuatu, Dirinya refleks berusaha menghentikan laju skateboardnya. Namun usahanya sia-sia saat Chloe sudah dekat.
Begitu juga dengan Chloe yang sudah terlanjur panik. Alhasil tabrakan keduanya tak terelakkan.
BBRRUUKK!
__ADS_1
TBC