
Tap! Tap! Tap!
Ivy menuruni tangga dengan terburu-buru hingga menimbulkan suara langkah yang begitu nyaring sepanjang anak tangga, Hal itu menarik perhatian para Michelle bersaudara dan Ray yang sedang bersantai di ruang tamu.
"Ivy, Kau mau kemana buru-buru begitu?" Revan mengalihkan perhatiannya dari game yang sedang ia mainkan. Menatap Ivy yang melangkah melewati ruang tamu.
"Kantor polisi," Ivy menghentikan langkah, Raut wajahnya terlihat cemas.
"Ada urusan apa kesana? Kau mau menemui mereka ya? Mereka sedang kerja sekarang, Jadi kau bisa menemui saat mereka pulang saja," Jelas Ray sembari tersenyum hangat, Menyesap tehnya beberapa saat.
"Bukan, Aku bukan ingin menemui mereka. Tapi menemui Chloe, Dia tertangkap dan saat ini sedang berada di kantor polisi bersama temannya. Aku tidak tahu dia terlibat masalah apa, Yang pastinya saat ini aku harus menemuinya dulu,"
Mendengar Chloe yang ditangkap polisi sontak semua penghuni menatap kaget Ivy (kecuali Revan). Ray refleks berdiri dari duduknya, Seketika perasaan gelisah menyelimuti hatinya, Meski Chloe masih mempertimbangkan permintaannya, Bagaimana pun Chloe tetaplah adik kandungnya.
"Bagaimana bisa dia tertangkap? Kau tahu dari mana?" Azura yang kaget sontak menghentikan aktivitas merajutnya.
"Aku tidak tahu dia terlibat masalah apa, Aku cuma tahu dia tertangkap saat menelponnya tadi," Jelas Ivy.
"Ray, Sepertinya kau harus ikut dengan Ivy," Elizabeth menoleh pada kekasihnya, Menatap raut wajah kekasihnya yang tampak agak pucat.
"Aku inginnya begitu, Tapi jika aku ikut apa dia akan menghindar lagi seperti saat itu?" Ray menunduk murung.
"Kakak ipar, Bukan saatnya kan kau berpikir begitu? Dia kan adikmu, Masa hal begini saja kau merasa ragu," Celetuk Al menatap Ray dihadapannya.
"Kak Ray, Kau ikut tidak? Nanti Chloe keburu diberi hukuman," Kata Ivy yang sudah tak sabar untuk pergi, Beberapa kali netra ungu mudanya melirik jam arloji yang terpasang di lengan kirinya.
"Ah! Iya, Aku siapkan mobil dulu," Ray agak tersentak dari lamunannya, Bergegas dirinya menuju pintu Mansion namun baru saja memegang gagang pintu. Pintu itu terbuka agak kencang, Untung saja Ray cepat menghindar sebelum pintu itu mengenai tubuhnya.
BRAK!
Sosok pria dengan topeng rubah berdiri tepat di ambang pintu Mansion, Raut lelah tergambar jelas di wajahnya dengan napas terputus-putus. Ia melangkah gontai memasuki Mansion, Pakaian yang dia kenakan basah dari ujung rambut sampai kaki, Tidak menyisakan tempat kering satu pun.
Netra pria bertopeng rubah itu menatap Ray yang berdiri tepat dihadapannya. Berkata lirih. "Kak Ray...,"
"Hei, Kau kenapa sampai basah begini?" Ray sontak memegangi kedua pundak sang pria, Menahan tubuh pria itu agar tak jatuh.
"Haha, Seperti biasa. Aku berhasil lolos dari kejaran para polisi," Meski tampak lelah pria itu masih bisa tertawa kecil. "Apa aku terlambat?"
"Lagi-lagi salah satu dari cucunguk Maximillian datang berkunjung, Pembawa sial seperti dia untuk apa menjejakkan kaki di Mansion Michelle ini?" Pikir Leon melirik sinis pria bertopeng itu.
"Aku tidak bisa membayangkan nanti akan satu keluarga sama para cucunguk Maximillian Brother. Cih! Kenapa juga kak Eli mau menikah dengan kak Ray. Aku bukannya tidak suka kak Ray, Tapi yang tidak kusuka itu para saudaranya Kak Ray yang lain!" Pikir Revan kesal setelah mengetahui pria tidak tahu sopan santun yang datang berkunjung adalah salah satu dari saudaranya Ray Maximillian.
"Benar, Kau sangat terlambat sampai-sampai kami ingin bubar hanya karna menunggumu. Black!" Sindir Revan dingin yang langsung ditatap tajam oleh pria bertopeng.
"Jangan panggil nama panggilan itu saat aku bersama kalian! Itu bukan nama asliku!" Desis Black tajam, Merasa tersindir mendengar panggilan Revan.
"Kenapa juga memakai nama itu kalau tidak ingin dipanggil begitu? Kerjaanmu hanya membuat Kak Ray terlibat masalah. Kau hanya akan mencoreng martabat keluarga Maximillian dengan kebiasaanmu yang tidak pernah berubah itu," Kata Rafael jengah, Melirik dingin pada Black yang masih berdiri diambang pintu.
"Kau....!" Black mendesis tajam, Menahan rasa jengkel dalam hatinya. Seakan perkataan Michelle bersaudara begitu menusuk baginya.
"Sudahlah, Tenangkan dirimu," Pinta Ray mengusap pundak adiknya, Berharap sang adik tidak termakan perkataan para Michelle bersaudara. Kemudian netra coklatnya menatap Leon.
"Leon, Tolong ambilkan handuk kering!"
"Ya, Tunggu sebentar," Dengan langkah malas Leon meranjak dari sana menuju kamarnya, Tak lama ia kembali dengan sebuah handuk kering di tangan. Menyerahkan pada Ray. "Nih!"
"Terima kasih," Ray meletakkan handuk itu tepat di atas kepala adiknya, mengusap perlahan. "Keringkan dirimu sendiri,"
"Iya iya," Black mengambil alih handuk sembari mengusap rambutnya sendiri.
Ivy teringat Black bilang tadi dia barusan lolos dari kejaran polisi, Mungkin ada hubungannya dengan polisi yang menangkap Chloe dan teman gadis itu.
"Kak, Barusan kakak bilang kakak baru lolos dari kejaran para polisi. Di mana tempat itu berada? Maksudku tempat yang kakak datangi, Sampai-sampai dikejar polisi," Tanya Ivy penasaran, Menatap Black yang balik menatapnya.
"Hm...Tanjakan 'S' soalnya tempat itu legal, Makanya setiap para anak-anak skate yang main disana langsung diburu oleh polisi. Karna kata mereka, Kami sudah melewati batas lebih dari 3 kali di surat peringatan," Jelas Black mengingat-ingat surat yang diterimanya dulu semenjak ia bermain di tanjakan itu.
"Kayaknya gara-gara itu deh Chloe ditangkap, Mungkin dia juga bermain di tempat itu," Celetuk Ash menduga-duga setelah mendengar cerita Black.
"Bisa jadi, Tapi katanya kan dia tertangkap sama temannya," Balas Al ikut nimbrung bersama Ash.
__ADS_1
"Ah! Sudahlah! Keburu telat. Kak Ray, Ayo!" Ivy yang sudah tak sabar bergegas pergi melewati Black yang masih di ambang pintu. Black refleks menyingkir menyadari Ivy yang terlihat buru-buru.
"Eh, Tunggu!" Ray sontak menoleh menatap Eli dan Michelle brother. "Kami pergi dulu,"
"Iya hati-hati dijalan," Balas Eli tersenyum manis dan ditanggapi anggukan oleh Ray.
Ray bergegas menyusul Ivy, Meninggalkan Black bersama Michelle Family.
Black berlahan melepas sepatunya dan meletakkan di rak sepatu, Tak lupa ia menutup pintu Mansion setelah Ivy dan Ray keluar.
BLAM!
"Mau pinjam bajuku dulu?" Tawar Ash ramah menyadari pakaian basah yang dikenakan Black.
"Hm...Boleh, Sekalian aku nginap dulu disini semalaman. Gak apa-apa kan?"
"Iya, Gak apa-apa. Masih banyak kamar tamu kosong kok di Mansion kami," Balas Eli ikut ramah.
Sedangkan Revan, Leon, Rafael, Dan Leo hanya mendengus jengkel. Merasa tak senang dengan kehadiran salah satu Maximillian brother di mansion mereka. Ke-4 nya memutuskan pergi menuju kamar masing-masing. Ash pergi membimbing Black menuju kamar tamu, Al kembali tidur dengan santainya, Azura melanjutkan aktivitas merajut miliknya, Dan Eli memilih sibuk dengan urusan kantornya.
******************
[Kantor polisi]
"Jadi ini surat hukuman untuk kalian, Selama seminggu lakukan pekerjaan sosial di taman kota dari pagi sampai sore. Kami sudah memberi keringanan untuk hukuman kalian, Jangan protes lagi!" Kata polisi bersurai silver acuh, Menyodorkan sebuah surat masing-masing pada Ezra dan Chloe.
Keduanya menerima dengan pasrah meski bagian Ezra, Ekspresi sang pemuda masih tertekuk tak senang mendapat hukuman yang jelas-jelas dirinya masih ingin protes. Namun karna tak ingin menerima hukuman yang lebih berat lagi, Ezra memilih bungkam walau hatinya masih merasa jengkel setengah mati.
"Bukankah taman kota jarang dikunjungi wisatawan? Hanya hari-hari tertentu saja taman kota akan penuh," Tanya Chloe heran, Mendongak memandang polisi bersurai silver dihadapan mereka.
"Itulah keringanan yang kumaksud, Kalian hanya akan sibuk dihari-hari tertentu. Yaitu minggu ini,"
Chloe ber'oh' ria sembari mengangguk paham, Netranya melirik Ezra yang masih memasang ekspresi tertekuk.
"Boleh kami pulang sekarang?" Ezra menatap jengah, Merasa dirinya sudah tak betah berlama-lama disana.
"Silakan,"
Baru saja Ezra ingin memegang gagang pintu, Tapi pintu itu sudah lebih dulu terbuka dari luar. Membuat langkah Ezra dan Chloe terhenti.
CKLEK!
"Vallen! Xavier! Hentikan introgasi ini sekarang!"
Kemunculan Ray dan Ivy yang mendadak membuat Chloe kaget dan refleks sang gadis menyembunyikan diri dibelakang Ezra, Ezra hanya mengerutkan alisnya heran tanpa berkata apa-apa.
Dua polisi yang tadinya mengurus berkas sontak menoleh pada Ray dan Ivy, Keduanya sama-sama bingung plus heran dengan kedatangan dua tamu yang tak diundang ini.
"Kak Ray, Ivy. Kenapa kalian kemari?" Kata polisi bersurai silver serius.
"Xavier, Dimana orang yang bernama Chloe Amberly," Tanya Ray tanpa menjawab pertanyaan Xavier.
Sejenak polisi bersurai silver yang dipanggil Xavier itu melirik sekilas sebelum membuka suara. "Bersembunyi tepat dibelakang pria itu," Katanya menunjuk dengan dagu.
Ivy menoleh diikuti Ray, Sedangkan Chloe mengintip dari balik punggung Ezra dengan ragu. Gadis itu tersenyum kikuk sesaat meski kini tangannya mencengkaram ujung pakaian Ezra agak kencang. Tanpa berlama-lama Ezra menarik Chloe keluar dari persembunyian sang gadis, Menunjukkan gadis itu sepenuhnya dihadapan Ray dan Ivy.
"Kalian mencari anak ini?" Tanya Ezra datar.
"Iya," Ivy mengangguk cepat, Dia langsung menubruk Chloe setelah melihat sang gadis. Memeluk erat disertai sesegukan kecil.
GREP!
"Kau membuatku khawatir Chloe, Kupikir kau terlibat masalah serius," Kata Ivy masih sesegukan, Chloe membalas pelukan Ivy sembari mengusap pelan.
"Aku gak apa-apa kok, Bukan masalah yang serius juga,"
"Syukurlah," Gumam Ray tersenyum lega.
Ezra mendengus kesal menatap Chloe yang memeluk orang lain tepat dihadapannya, Jujur saja entah kenapa dirinya merasa tak suka. Meski orang itu perempuan sekalipun.
__ADS_1
Pandangan Ray tertuju pada Xavier dan Vallen yang masih duduk di kursi masing-masing. Ia mendekati dua polisi itu.
Tap! Tap! Tap!
"Vallen, Xavier. Jelaskan pada kakak kenapa kalian menangkap Chloe dan temannya. Masalah apa yang telah mereka perbuat?" Tanya Ray serius.
"Kakak ini kenapa? Sudah tugas kami sebagai polisi untuk menangkap orang-orang yang bersalah. Kesalahan mereka itu adalah karna telah melanggar peringatan tertulis untuk tidak menggunakan tanjakkan 'S' lagi sebagai tempat bermain skate, Tapi mereka tetap saja melanggar peringatan itu. Ya sudah kami tangkap saja," Jelas Vallen mengerutkan alisnya bingung, Senyum dibibirnya luntur.
"Benar, Itu sudah tugas kami. Lagipula kami sudah memberikan hukuman pada mereka," Tambah Xavier cuek.
"Batalkan hukuman itu sekarang!"
"Apa maksud kakak?! Kakak ini kenapa sih?!" Xavier menatap serius, Saking seriusnya ia tak sadar telah menggenggam pulpen ditangannya begitu kuat hingga membuat pulpen itu hampir patah. "Kenapa kakak tiba-tiba peduli dengan salah satu pelaku pelanggaran yang kami tangkap? Biasanya kakak gak begini dan gak pernah ikut campur urusan pekerjaan kami,"
Ray menghembuskan napas pelan, Ia membenarkan letak kacamata hitamnya yang hampir melorot. "Dengar Vallen, Xavier! Aku peduli padanya karna dia ada hubungannya dengan keluarga kita. Aku akan menceritakan hal ini pada kalian nanti saat kita berada di Mansion Michelle. Tapi untuk sekarang batalkan hukuman itu dulu!"
"Mana bisa begitu! Mau dia ada hubungannya dengan keluarga kita atau tidak. Dia dan temannya tetap di cap sebagai pelaku pelanggaran! Tidak bisa diubah begitu saja! Mau tidak mau mereka harus tetap mejalani hukuman itu!" Vallen tak bisa menahan amarahnya, Tanpa sadar menggebrak meja dihadapannya. Ia sangat mencintai perkerjaannya ini, Mana mungkin dia mempertaruhkan pekerjaannya hanya untuk melepaskan dua pelaku begitu saja.
Gebrakan meja yang dibuat oleh Vallen menarik perhatian Ezra, Ivy, dan Chloe.
"Mereka akan bertengkar jika dibiarkan begitu," Kata Ezra datar, Memperhatikan interaksi antara Ray dan Vallen yang tampak sengit.
Ray kembali menghembuskan napas kini sembari memijit keningnya. "Baiklah, Baiklah. Begini saja, Bagaimana pembicaraan soal hukuman ini ditunda dulu. Kita bisa membicarakan lagi setelah menyelesaikan permasalahan keluarga kita, Bagaimana menurut kalian?" Usul Ray sebagai akhir dari obrolan mereka.
Vallen dan Xavier mendengus, Meski begitu keduanya mengangguk sepakat. Tak ada protesan lagi dari keduanya.
"Oke, Aku dan Vallen akan beres-beres dulu. Lalu ikut pulang dengan kakak. Kita perlu meluruskan kesalah pahaman ini," Kata Xavier membereskan berkas-berkas miliknya yang berserakan di meja dibantu Vallen.
Ray mengangguk pelan, Kemudian ia menoleh pada Ivy, Chloe, Dan Ezra yang menyimak obrolan mereka. Ray mendekati posisi Ivy dan Chloe berada.
"Ayo kita pulang ke Mansion Michelle, Kita akan meluruskan kesalah pahaman ini dulu," Ajak Ray ramah.
"Iya, Ayo Chloe," Ivy tersenyum lebar, Merangkul leher gadis disampingnya.
Chloe yang dirangkul diam tak menjawab, Netra biru bersitatap dengan netra hijau emerland milik Ezra. Tak lama Ezra mengalihkan tatapannya, Ia berbalik mendekati pintu keluar.
"Kalau begitu, Aku pergi dulu. Aku tidak ingin ikut campur urusan keluarga kalian," Kata Ezra dingin, Tangannya menggenggam gagang pintu.
"Tunggu!" Ray menahan pundak Ezra, Membuat langkah sang pria terhenti. Ray kembali menurunkan tangannya setelah memastikan Ezra tidak melangkah lagi. "Kau temannya Chloe kan? Kalau begitu, Kau juga ikutlah dengan kami. Kau juga terlibat masalah yang sama dengan Chloe, Jadi kami perlu kesaksianmu juga,"
"Aku tidak ada hubungannya dengan kalian, Jadi jangan minta apapun dariku," Balas Ezra melirik datar. Membuat Ray seketika bungkam, Berbeda dengan Ivy yang menatap punggung Ezra. Ia seolah merinding ketika hanya menatap pungggung pria itu.
"Uh...Aura pria ini suram sekali. Bahkan rasanya aku merinding sampai ke ubun-ubun meski hanya menatap punggungnya saja. Menakutkan," Pikir Ivy mengusap kedua lengannya yang merinding.
Mendengar hal itu, Chloe perlahan mendekati Ezra dan menepuk pelan lengan sang pria. Ia tersenyum lembut. "Pak, Kali ini saja ikuti kata Kak Ray. Mungkin Kak Ray bisa membantu kita lepas dari hukuman ini," Kata Chloe memelankan suaranya di kalimat terakhir.
Kening Ezra mengerut, Walau dalam hatinya ia merasa tak setuju. Tapi setelah berpikir dua kali, Apa yang dikatakan Chloe ada benarnya. Kalau dirinya bisa lepas dari hukuman, Ia tak perlu repot-repot melakukan kegiatan sosial yang akan mengganggu aktivitas sehari-harinya nanti termasuk pekerjaannya.
"Ya sudah, Untuk kali ini saja," Balas Ezra acuh.
Chloe seketika menatap Ray dengan senyum cerianya, Ray bahkan ikut membalas senyum sang gadis. Merasa senang karna Chloe membantunya membujuk Ezra.
"Kalau begitu, Chloe mau ikut dengan kakak–"
"Ivy ikut dengan Kak Ray, Dan aku akan ikut dengan Pak Ezra. Kami tunggu di mobil," Potong Chloe cepat, Senyum ceria masih tertampang di wajahnya sebelum menarik Ezra buru-buru keluar dari sana.
Senyum Ray luntur bahkan dirinya belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Ekspresi murung tergambar jelas di wajahnya. "Iya," Katanya lirih.
Ivy yang menyadari wajah murung Ray hanya bisa menatap iba dan menepuk pelan pundak kakak iparnya itu.
"Sabar kak, Chloe mungkin masih perlu waktu untuk menerima kakak. Gak perlu terburu-buru,"
"Iya, Kakak paham. Kakak baik-baik aja kok," Balas Ray memasang senyum palsu di bibirnya.
Vallen dan Xavier yang sudah selesai membereskan ruangan kerja mereka, Melangkah melewati Ivy dan Ray.
"Kak Ray, Ivy. Jangan diam saja disana, Cepatlah kita pergi," Kata Xavier yang bersiap mengunci pintu.
Ivy dan Ray pun bergegas keluar menyusul Chloe dan Ezra yang sudah pergi lebih dulu disusul Vallen dan Xavier.
__ADS_1
TBC