System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Pohon Dimensi (2)


__ADS_3

[Dimensi lain]


Samar-samar seorang gadis mendengar suara kicauan burung di sekitarnya membuat kesadarannya perlahan mulai kembali. Ia membuka kelopak matanya sembari menguap kecil, Sesaat ia melakukan olahraga kecil untuk merenggangkan otot-ototnya yang kaku.


Setelahnya gadis itu memandangi sekitar memastikan apakah tempat yang didatanginya adalah tempat yang familiar atau tidak.


"Ah, Ini taman bunga yang kudatangi pertama kali bersama Aiden," Gumam Chloe menyadari tempat itu familiar baginya.


Chloe mengalihkan pandangan mencari danau di dekatnya, Lantas Chloe segera menuju sebuah danau setelah menemukan danau itu.


Ia menatap pantulan dirinya di atas danau sembari menangkup kedua pipinya sendiri. Surai hitam dengan netra merah seperti ruby tampak berkilau terkena sinar mentari.



Senyum tipis terukir di bibir sang gadis, Melihat pantulan bayangannya. "Aku kembali ke raga asliku lagi,"


Tap! Tap! Tap!


"Senang melihat anak kecil yang kutemui dulu sudah setinggi ini sekarang,"


Aktivitas Chloe terhenti saat mendengar suara tak asing baginya, Ia berbalik mencari asal suara itu dan menemukan Aiden yang sudah berdiri beberapa meter dihadapannya.


"Aiden, Apa begini wujudku saat bertemu denganmu sewaktu aku kecil?"


Aiden mendekati sang gadis hingga berdiri tepat dihadapan Chloe, Senyum tipis mengembang di bibirnya sembari mengacak-acak surai hitam milik Chloe.


"Ya, Tapi versi kecilnya lebih imut dan menggemaskan. Sekarang pun dimataku kau masih terlihat imut meski sudah remaja sekarang,"


"Hehehe...Haruskah kupanggil kau paman atau kakek?" Canda Chloe terkekeh pelan, Mengingat umurnya dengan umur Aiden terpaut agak jauh (Tapi anehnya wajah Aiden tetap terlihat awet muda).


Seketika ekspresi Aiden berubah datar ia menarik tangannya kembali, Tatapannya terhadap sang gadis agak menusuk. "Apa aku terlihat setua itu?"


"Hee?! Aku cuma bercanda. Jangan diambil hati," Ringis sang gadis pelan, Mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Aiden hanya mendengus kecil, Kemudian pandangannya tertuju ke segala arah seolah sedang mencari sesuatu.


"Dimana Ezra?"


"Oh iya, Pak Ezra sejak tadi gak keliatan!" Sesaat Chloe menepuk keningnya menyadari tidak ada tanda-tanda kehadiran Ezra di sekitar mereka.


"Ayo cari dia," Ajak Aiden berjalan lebih dulu.


Chloe mengangguk mengiyakan ia dan Aiden berpencar mencari keberadaan Ezra disekitar taman.


"Aku bangun disini, Pasti Pak Ezra gak jauh dari sini," Pikir sang gadis sembari melengokkan kepalanya ke segala arah.


Beberapa menit Chloe memutari area taman hingga akhirnya ia menemukan Ezra yang sedang berbaring di rerumputan, Pemuda itu terlihat seperti sedang tidur. Perlahan Chloe mendekati Ezra dengan hati-hati.


Ia menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan posisi Ezra, Menatap dalam diam beberapa saat.


"Pak?"


Tidak ada sahutan dari Ezra entah pemuda itu mendengarnya atau tidak. Chloe memutuskan untuk menusuk-nusuk salah satu pipi Ezra dengan jari telunjuknya sambil kembali memanggil nama sang pemuda.


"Pak Ezra, Bangun pak! Jangan tiduran disini,"


"Ck! Jangan ganggu aku, Aku lelah sekarang," Decak Ezra tanpa membuka matanya dan melindungi matanya dengan lengan.


Chloe menghembuskan napas pelan, entah ini hanya perasaannya atau memang Ezra terlihat seperti memiliki beban hidup yang berat?


"Yak! Tapi setidaknya tidurlah di kasur, jangan disini!" Tanpa peduli Chloe kembali menusuk-nusuk pipi sang pemuda, Tujuannya agar tidur Ezra terganggu.


Grep!



"Diamlah!"


Aktivitas Chloe seketika terhenti karna Ezra secara tiba-tiba menahan tangannya. Kelopak mata itu terbuka menampakkan Netra berwarna hijau emerland, Sesaat keduanya saling pandang, Netra beriris hijau emerland bertemu Netra beriris Ruby.



Sejenak Chloe berkeringat dingin netra beriris ruby itu melirik tangannya yang masih di tahan Ezra.


"Um...Pak Ezra...Tangan ku...," Chloe kembali melirik-lirik tangannya memberi kode agar segera dilepas.


Kening Ezra mengerut sesaat setelah memperhatikan dengan teliti wajah gadis dihadapannya, Ia tak menghiraukan kode dari sang gadis dan belum melepaskan tangannya. Fokusnya hanya tertuju pada Chloe.


"Apa ada yang aneh dengan wajah ku, Pak?" Tanya Chloe heran menyadari Ezra terus menatap lekat wajahnya.


"Siapa kau?"


"Aku Chloe Watson, Ini raga asliku. Sedangkan raga di luar dimensi itu milik Chloe Amberly, Aku hanya pinjam raganya sementara waktu,"


Perlahan Ezra melepas tangan Chloe, Masih menatap lekat wajah sang gadis. "Jadi kau memang dari dimensi lain ya?"


"Ya...Bisa dibilang begitu,"


"Raganya disini sangat berbeda dengan raga nya yang kutemui di luar sana. Raga aslinya lebih terlihat seperti tipe cewek-cewek berandalan dan cool. Dan lagi sekilas rambut hitam dan netra merahnya sekilas mirip Ian," Pikir Ezra setelah memastikan wajah Chloe.


"Kau dan Ian kembar?"


"Hah?!"


Seketika Chloe terdiam tengah memproses perkataan Ezra sebelumnya. Butuh waktu beberapa detik untuknya menyadari maksud sang pemuda. Refleks kepalanya langsung menggeleng kaget.


"Hee...! Tentu saja tidak! Kami tidak kembar, Aku dan Ian bahkan tidak sedarah," Kata Chloe cepat membantah pertanyaan Ezra sembari menyilangkan kedua tangannya membentuk huruf 'X'.

__ADS_1


"Dari ekspresi dan sikapnya, Sepertinya dia memang si tengil yang kukenal di luar sana. Ternyata dia memang hanya meminjam raga orang lain sebagai inangnya," Ezra merenung sejenak, Kepalanya tertunjuk kecil menatap rumput yang dipijakinya. "Meski terdengar tidak masuk akal, Tapi aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri,"


"Ternyata hanya kebetulan," Sahut Ezra setelah ia mendongak menatap Chloe.


"Ya begitulah,"


Chloe menjauhkan dirinya dari Ezra sambil menatap danau di belakang nya, Hamparan rumput bergoyang kecil mengikuti arah angin. Sejenak mereka diam dalam keheningan, Sampai suara langkah kaki yang terdengar mendekat menarik perhatian Chloe dan Ezra.


Tap! Tap! Tap!


"Ternyata kalian disini, Kami mencari kalian hampir kesekeliling danau,"


Chloe memandang Aiden yang baru saja datang bersama Ian disampingnya, Netra biru lautnya mengerjap sesaat.


"Lho, Ian juga datang kesini?"


Ian bersidekap memandang dengan netra merahnya. "Aku tak sengaja melihat kalian datang kesini, Jadi aku menyusul kalian,"


"Dan kami kebetulan bertemu di dekat perbatasan hutan, Kupikir tidak ada yang ikut lagi kesini selain kita," Tambah Aiden datar, Melirik kecil Ian disampingnya.


Sejenak Ezra menghembuskan napas ia berdiri dari duduknya sambil membersihkan celananya yang terkena debu. Kemudian ia memandang Chloe dan Ian. "Kupikir yang dikatakan si tengil ini bohong, Ternyata kalian memang benar-benar bukan dari dunia ini. Apa tujuan kalian disini?"


Ian menggidikkan pundaknya acuh. "Tidak ada, Aku disini hanya untuk menemani Chloe. Yang punya urusan dengan orang yang mengirim jiwa kami kesini adalah Chloe,"


Chloe menghembuskan napas kecil. Ia berseru lirih. "Ian ikut terseret kesini karna perbuatanku, Seharusnya Holy tidak membawa jiwanya kesini, Cukup aku saja karna aku harus mempertanggung jawabkan semuanya,"


Ketiga pria di hadapan Chloe terdiam sesaat mereka saling pandang. Ian yang paling tidak terima mendengar perkataan Chloe, Seolah-olah Chloe menyalahkan dirinya sendiri karna insiden kecelakaan itu. Pemuda bersurai hitam itu menatap tajam sang gadis.


"Apa maksudmu!? Aku disini juga karna keinginanku, Saat itu aku bahkan sudah pasrah dengan takdirku. Aku di dunia asli sudah kehilangan keluargaku dan sekarang kau koma disana!" Ian melangkah mendekat dengan netra merahnya yang semakin menajam, Kedua tangannya mencengkeram kedua pundak Chloe.


"Kau tahu, Disaat yang bersamaan saat kau koma aku merasa seperti sendirian. Aku merasa hancur, Tidak memiliki siapa-siapa lagi. Dan aku berpikir lebih baik mati saja menyusul keluarga ku dibanding aku harus melalui penderitaan ini sendirian," Netra Ian meredup sendu, Cengkeramannya di pundak Chloe melonggar. Sedangkan Chloe hanya diam mendengarkan.


"Tapi setelah kecelakaan itu terjadi, Saat bangun aku sudah berada di tubuh ini dan akhirnya bisa bertemu kau lagi. Jadi jangan menyalahkan dirimu lagi, Holy membawaku kesini agar kau tidak sendirian di dunia ini,"


Chloe menunduk sedih bahkan ia tak berani memandang netra merah milik Ian. Sedangkan Aiden dan Ezra memilih menyimak perkataan Ian dan Chloe selanjutnya.


"Selama ini aku hanya bisa merepotkanmu Ian, Makanya saat Holy membawa jiwamu kesini sejujurnya aku merasa bersalah karna sudah melibatkanmu dalam masalahku ini," Chloe tertawa hambar merasa sedih. "Bahkan di dunia asli pun aku hanya bisa membuat masalah disana dan sepertinya di dunia ini juga begitu,"


Ian melepaskan cengkeramannya, Ia memberikan sentilan pelan di kening Chloe membuat sang empunya langsung meringis.


Ctak!


"Akh...!" Chloe mengusap keningnya sembari meringis kecil.


Ian mendengus pelan menatap datar tanpa merasa bersalah. "Bicara apa kau!? Kau tidak pernah merepotkanku, Kau memang kadang membuat masalah disana tapi sejak kau masuk dunia ini aku baru sadar kalau kemampuanmu berkembang pesat. Sekarang kau tidak pernah membuat masalah lagi seperti dulu,"


"Bahkan jika kau tidak bertemu kami di dunia ini, Mungkin kau akan tersesat dan kebingungan," Celetuk Aiden menambahkan.


"Kalian benar, Aku minta maaf jika kadang sikapku salah dimata kalian," Chloe kembali tertunduk.


Chloe hanya tersenyum hambar mendengar perkataan Ezra. "Jadi tidak ada lagi kan yang dilakukan disini? Apa kita pulang saja?"


"Itu lebih baik, Aku sudah lelah," Ezra mengangguk setuju diikuti Ian dan Aiden.


Mereka berempat ingin pergi menjauhi area danau namun langkah Chloe terhenti saat netra birunya tak sengaja menangkap siluet dua sosok anak kecil tengah melambai padanya, dua sosok itu berada di tengah-tengah hutan gelap dari kejauhan. Sesaat ia menyipitkan matanya agar bisa melihat dua sosok itu lebih jelas.


Hingga akhirnya dua sosok itu terlihat jelas dari pandangan Chloe mereka adalah adik kembar Chloe di dunia asli, Alvin dan Reina. Keduanya tengah tersenyum manis dengan tangan kecil mereka yang melambai-lambai pelan. Seolah menyuruh Chloe untuk mendekati mereka.


Tanpa sadar air matanya menetes mengenai tanah, Chloe menatap haru sekaligus gembira. Kerinduan yang selama ini ia pendam akhirnya memuncak saat melihat sosok kedua adik kembarnya.


"Alvin...Reina...," Lirih Chloe pelan masih memandang kedua sosok adiknya di kejauhan.


Samar-samar suara lembut Alvin dan Reina terdengar oleh Chloe. "Kakak, Kembalilah. Ikutlah dengan kami..."


"Ya...Kakak akan ikut dengan kalian," Kata Chloe pelan sembari tersenyum dan mengusap pipinya yang basah.


Perlahan langkah kakinya membawanya menuju hutan gelap gulita dimana sosok bayangan kedua adiknya berada. Sedangkan Ezra yang menyadari Chloe tidak berada dibelakangnya langsung menoleh dan menemukan sang gadis sudah hampir jauh dari rombongan mereka.


Sontak Ezra berseru pada sang gadis membuat perhatian Ian dan Aiden teralihkan ikut menatap Chloe. "Oi! Tengil! Kau mau kemana, Arah jalannya kesini tau!"


"Aku mau ikut dengan adik-adikku, Mereka menungguku disana," Balas Chloe tersenyum gembira ikut berseru sembari menoleh pada Ezra dan menunjuk tempat adik-adiknya berada.


Hal itu membuat ketiga pria tersebut bingung pasalnya mereka tidak melihat apa-apa selain hutan gelap gulita yang ditunjuk Chloe. Merasa ada yang tidak beres dengan tingkah Chloe, Aiden lantas menggunakan teleportasinya hingga berada disamping sang gadis sebelum Chloe semakin jauh dengan rombongan mereka.


Ia menahan tangan Chloe agar tak melangkah lebih jauh memasuki hutan itu, Tatapannya menajam. "Tidak ada siapa-siapa disana, Kau hanya merasa lelah itu membuatmu jadi berhalusinasi. Kita pulang sekarang,"


Mendengar dirinya disebut berhalusinasi membuat Chloe kesal dan geram, Ia mencoba melepaskan cengkeraman tangan Aiden. "Tidak mau! Bagaimana bisa kau tidak melihat mereka!? Adik-adikku disana! Mereka bahkan melambai padaku! Aku harus menjemput mereka,"


"Chloe, Dengarkan aku! Disana itu hutan gelap! Tidak ada siapa-siapa lagi di dimensi ini selain kita!" Aiden mempertegas ucapannya, Tak melepaskan cengkaraman tangannya.


"Jika yang kau maksud adalah Alvin dan Reina. Mereka tidak ada disini, Apa yang dikatakan Aiden benar. Tidak ada siapa-siapa disana selain hutan gelap," Sahut Ian menambahkan agar Chloe percaya pada mereka.


Namun Chloe tetap bersikeras dengan pendiriannya. "Tapi aku melihat mereka! Mereka bahkan memanggilku untuk ikut dengan mereka! Jadi lepaskan aku! Aku ingin bersama mereka seperti dulu,"


Chloe semakin memberontak bahkan Aiden merasa aura Chloe berubah asing, Tidak seperti aura yang ia kenal.


"Aiden, Lakukan sesuatu. Si tengil ini mulai berulah," Protes Ezra yang ikut memegangi pundak dan tangan Chloe agar tak lepas dari cengkeraman mereka.


"Aku sedang berusaha," Aiden mengaktifkan kekuatannya agar tahu apa yang membuat sikap Chloe berubah.


Sejujurnya Ian ingin ikut membantu, Namun niatnya terhenti saat samar-samar suara yang ia kenal menyapu pendengarannya.


"Ian, Tolong ibu nak..."


Deg!


"Ibu...,"

__ADS_1


Detak jantung Ian berpacu cepat dengan tubuhnya yang terdiam membeku, Lantas netra merahnya segera mencari-cari asal suara tersebut.


"ibu tidak ingin disini, Bawa ibu keluar dari sini nak...,"


"Ibu dimana? Ibu!" Seru Ian segera melangkah menjauhi Ezra, Aiden, Dan Chloe untuk mencari asal suara itu. "Ian akan kesana,"


"Astaga! Ian juga sama seperti si tengil ini," Ezra menatap kepergian Ian menyadari Ian menjauh dari rombongan mereka.


"Kejar Ian! Jangan biarkan dia pergi terlalu jauh. Biar aku yang akan mengatasi Chloe," Perintah Aiden masih fokus mencari penyebab kenapa sikap Ian dan Chloe menjadi berubah dalam sekejap.


Ezra berdecak kesal ia melepaskan cengkeramannya dan segera berlari menyusul Ian yang semakin jauh. Dalam hitungan detik Ezra sudah sangat dekat dengan Ian, Lantas ia segera mencengkeram pundak sang pemuda agar tak melangkah semakin jauh.


Grep!


"Ian berhenti! Sadarlah, Mereka sudah tidak ada!" Seru Ezra mencoba menyadarkan Ian, Namun Ian malah menatapnya tajam.


"Jangan halangi jalanku! Aku harus menolong ibuku!"


"Mereka sudah tiada, Jangan membuat semuanya semakin kacau!"


Buaak!


Tanpa peringatan Ian menendang perut Ezra membuat cengkeramannya terlepas, Disaat Ezra sedang kesakitan Ian memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur.


"Ian!"


Tap! Tap! Tap!


Ezra kembali mengejar Ian, Semakin dia memasuki hutan maka lama-kelamaan hutan itu semakin berkabut menghalangi pandangan Ezra. Pemuda bernetra hijau itu menghentikan larinya menyadari dirinya kehilangan jejak Ian.


Dengan kesal Ezra meninju pohon di dekatnya dengan keras melampiaskan rasa kesal.


Bugh!


"Sial!"


Sejenak netra nya memandang sekitar yang penuh kabut tebal, Bahkan Ezra tak bisa melihat apa-apa lagi selain hutan yang berkabut. Perlahan ia melangkah dengan hati-hati sembari bertumpu pada pohon di dekatnya.


"Dimana arah aku datang tadi? Tempat ini terlalu berkabut, Aku tidak bisa menemukan jejaknya," Pikir Ezra masih melangkah.


Setelah perjalanan yang cukup panjang beberapa menit, Ezra menyerah karna tidak menemukan jalan keluar dari hutan itu. Ia bersandar pada salah satu batang pohon, Mengistirahatkan diri dari rasa lelah yang menyelimuti.


Dirinya terdiam sejenak dalam keheningan sampai samar-samar Ezra mendengar suara bisikan tanpa wujud di sekitarnya.


"Kalian tidak pantas berada di sini, Orang-orang kotor seperti kalian seharusnya ikut merasakan penderitaan seperti kami!"


DEG!


Netra hijau emerland nya melebar kaget, Sontak Ezra berdiri memandang sekitarnya penuh waspada.


"Siapa kalian?! Jangan bermain-main denganku!" Teriak Ezra lantang.


Setelahnya hutan itu kembali sunyi dan sepi, Ezra masih memasang sikap waspada. Tak lama bisikan itu kembali muncul kali ini lebih banyak memenuhi pendengaran sang pemuda.


"Kalian tidak pantas disini!"


"Kalian harus ikut menderita!"


"Tidak ada jalan keluar dari sini!"


"Kau harus mati!"


"Apa kau merindukan keluargamu?"


"Bagaimana perasaan mereka saat melihat kau mati disini!"


"Tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian!"


"Akh....!" Ezra menutup kupingnya berusaha menghalau bisikan-bisikan yang terus terdengar. Ia menggeleng mencoba menyadarkan diri, Namun usaha nya sia-sia. Bisikan-bisikan itu masih terdengar meski Ezra menutup Kupingnya sekalipun.


"Teman-temanmu dan kau akan mati!"


"Tidakkan kau pikir disini lebih menyenangkan?"


"Hanya orang berjiwa suci saja yang bisa kesini,"


"Nikmatilah penyiksaanmu disini,"


"DIAM! KALIAN DIAMLAH! JANGAN MENGGANGGUKU!" Teriak Ezra sembari menjauhi tempat itu dengan tergesa-gesa.


Tiba-tiba sebuah sosok bayangan muncul menghalangi jalannya, Sosok itu tak terlihat karna terhalang kabut dan satu persatu sosok lainnya ikut bermunculan. Mereka mendekati Ezra membuat Ezra langsung berlari kearah berlawanan namun bayangan sosok lainnya muncul menghalangi langkah Ezra.


Mereka mengelilingi sang pemuda yang sudah terpojok, Hanya satu kalimat yang dikeluarkan sosok-sosok bayangan itu secara bersamaan dan berulang.


"Matilah kau!"


"Matilah kau!"


"Matilah kau!"


"Arrgghhh...!" Ezra kembali menutup kedua kupingnya sembari memejamkan mata erat, Suara-suara bisikan kembali terdengar menambah mental Ezra yang semakin down.


"Aku...Sudah...Tidak...Sanggup..."


Setelahnya tubuhnya tersungkur ke tanah tak sadarkan diri, Tidak sanggup menghalau suara-suara bisikan yang memenuhi kepalanya dan teror dari sosok-sosok bayangan yang mengelilinginya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2