System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Awal baru 3


__ADS_3

"Ian, Jangan pergi!" Chloe berusaha menggapai Ian, matanya terpejam erat. Tangannya tiba-tiba di genggam oleh seseorang.


"Loe...,"


"Chloe...,"


Samar-samar Chloe perlahan mulai mendengar suara seseorang yang sangat dikenalnya. Tangannya terasa hangat saat seseorang menggenggam tangan Chloe.


"Chloe, Aku disini,"


PATS!


Sontak Chloe membuka matanya, Memperlihatkan Netra biru jernih miliknya. Napasnya naik turun tak beraturan, Keringat membasahi tubuhnya sampai pakaian yang dikenakannya juga agak basah.


Sejenak Chloe terdiam memandangi langit-langit atap berwarna putih itu, aroma obat-obatan tercium di sekitarnya. Chloe terbaring di kasur dengan tubuhnya yang benar-benar kaku hampir tak bisa digerakkan. Kemudian perlahan dengan lemah, Chloe menoleh ke sampingnya dimana seseorang tengah menatapnya dengan tatapan tak terbaca tak lupa tangannya masih digenggam oleh sosok itu.


"Ian? Ini benar Ian kan?" Tanya Chloe dengan nada parau, Dia menyipitkan matanya untuk melihat sosok di sampingnya secara jelas.


"Iya, Ini aku. Jangan banyak bicara dulu. Kau baru saja siuman," Sahut Ian datar sambil meletakkan telapak tangan Chloe ke salah satu pipinya. Membuktikan pada Chloe bahwa itu benar-benar dirinya.


Sang gadis terdiam, Mengerjapkan matanya beberapa kali. Memilih untuk diam sesaat agar melihat dimana dia berada sekarang. Netra birunya melirik tembok bercat putih dengan sebuah sofa di sana, Lalu di atas nakas terdapat beberapa macam obat-obatan. Sebuah selang infus terpasang di punggung tangan kirinya. Tidak salah lagi dirinya sekarang berada di rumah sakit.


Ian melepaskan genggaman tangannya pada tangan Chloe, Pemuda bersurai hitam itu mengambil segelas air di nakas. Lalu menyodorkannya pada sang gadis.


"Minumlah," Pinta Ian datar.


Tanpa menunggu lama Chloe menerima air itu, Kebetulan dia juga sangat haus. Dia berlahan bangun dari rebahannya, Menyadarkan punggungnya pada sandaran kasur dengan di bantu Ian. Memakai bantal sebagai penyangga di punggungnya, Secara perlahan Chloe meminum air nya hingga habis. Lalu meletakkan gelas kosongnya di nakas.


"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Tanya Chloe.


"5 hari setelah kelulusan, Kata dokter kau mengalami pendarahan yang cukup hebat di bagian perut dan kepalamu. Luka di perutmu sangat dalam, Hampir merobek organ dalammu, Tapi untungnya masih bisa ditangani secepatnya, Dan kepalamu mengalami benturan yang sangat keras mengakibatkan hampir gegar otak,"


Chloe tersentak, Itu artinya dia masih berada dalam game!? Jadi apa maksudnya pertemuannya dengan Mama dan adik-adiknya serta Ian di dunia aslinya kalau dirinya masih terjebak dalam game ini? Apakah pertemuan itu hanya sebuah mimpi alam bawah sadarnya atau sebuah petunjuk baru tentang keluarganya serta teman masa kecilnya di dunia asli? Ah, Chloe benar-benar bingung sekarang.


"Jadi siapa yang membawaku ke rumah sakit?"


"Alice dan Evelyn, Mereka bilang setelah kerusuhan itu terjadi mereka melihatmu tak sadarkan diri dekat Lab. Komputer,"


"Hidupku benar-benar tragis, Untungnya aku masih diberi kesempatan untuk hidup," Kata Chloe bersyukur.


Ian hanya diam memperhatikan, Masih banyak yang harus dia jelaskan pada Chloe.


"Kau juga kehilangan banyak darah waktu itu, Tapi secara kebetulan ada seorang Wanita dermawan yang mau mendonorkan darahnya untukmu. Aku tidak tahu ini kebetulan atau tidak, Tapi yang kudengar golongan darah kalian sama,"


"Wanita dermawan!? Oh, dia sangat baik sekali mau mendonorkan darahnya untukku. Sepertinya kalau ketemu sama dia, Aku akan sangat berterima kasih padanya," Pikir Chloe sambil tersenyum tipis.


"Lalu apa kau tahu siapa nama wanita itu?" Chloe masih memandangi Ian penasaran.


"Tidak, Felix yang bagian mengurus administrasi biaya rumah sakitmu. Jadi kurasa mungkin dia tahu nama wanita itu,"


"Ah, Sayang sekali," Sahut Chloe agak kecewa.


"Kau ingin berterima kasih padanya?"


"Iya, Bagaimana pun juga dia sangat berjasa untukku,"


"Tapi sayangnya dia sudah pergi dari rumah sakit 4 hari yang lalu sebelum kau siuman, Kau bisa tanya pada Felix untuk mengetahui namanya," Kata Ian tenang, Menatap keluar jendela di belakang kasur Chloe.


"Akan kutanyakan nanti," Chloe mengangguk pelan. "Lalu kepalaku bagaimana? Kau bilang hampir gegar otak karna mengalami benturan yang sangat keras,"


"Iya, Awalnya memang terjadi pendarahan di kepalamu. Namun entah bagaimana setelah lewat 4 hari, Gegar otak di kepalamu berangsur-angsur pulih dan hilang. Aneh memang menurutku, Tapi kurasa tubuhmu seperti beregenerasi dengan cepat," Sahut Ian dingin.


"Hah, Masa sih!?" Sesaat Chloe tertawa kecil, Merasa tak percaya dengan perkataan Ian. "Moonshi, Yang namanya regenerasi itu cuma mengganti sel darah yang rusak atau mati dalam tubuh, Mana bisa menghilangkan gegar otak,"


"Hm...Seperti yang kubilang, Aneh tapi nyata. Ya kau contohnya," Jelas Ian dingin, Sama sekali tak terlihat bercanda dari raut wajahnya.


Seketika tawa kecil yang lolos dari bibirnya terhenti saat melihat raut wajah Ian yang tidak menunjukkan tanda-tanda bercanda dari perkataannya. Chloe terdiam, Menunduk merenungkan perkataan sang pemuda.


"Masa sih bisa langsung hilang begitu? Kan yang namanya gegar otak mana mungkin langsung hilang kalau enggak ditangani dulu sama pihak dokter. Apa ini ulah Program? Atau Holy?" Pikir Chloe bingung sekaligus menerka-nerka. Sesaat dia memegangi kepalanya yang terdapat perban yang melilit di sana.


Beberapa menit ruangan inap itu diliputi keheningan antara Ian dan Chloe, Pemuda bernetra merah itu sesaat melirik Chloe karna cukup penasaran kenapa sang gadis memanggil namanya sebelum siuman tadi.

__ADS_1


"Kenapa kau memanggil namaku saat sebelum kau siuman? Aku mendengarnya berkali-kali kau terus memanggil namaku dalam tidurmu,"


Chloe tersentak merasa malu karena ketahuan terus memanggil nama Ian dalam tidurnya, Karena mimpi (Mungkin) yang mempertemukannya dengan Ian di dunia asli nya, Membuat Chloe terus memanggil nama sang pemuda tanpa sadar. Tapi jika disebut sekedar mimpi pun akan aneh rasanya, Karna yang Chloe rasakan disana adalah nyata (Meski dia harus jadi roh gentayangan dan tidak bisa dilihat oleh keluarga nya termasuk Ian sendiri di dunia aslinya).


"Aku bermimpi bertemu dengan teman masa kecilku di alam bawah sadarku, Makanya aku terus memanggil namanya saat dia tidak meresponku," Elak Chloe sambil memandang keluar jendela rumah sakit untuk menghindari tatapan Ian padanya.


Sesaat Ian menatap Chloe datar. Kurang percaya dengan perkataan sang gadis. "Hanya itu? Yakin tidak ada yang lain?"


"Iya, Tentu saja. Aku hanya bermimpi tentangnya," Sahut Chloe mengangguk dengan mantab.


Ian menatap lekat Netra biru milik Chloe, Mencoba membaca mimik wajah sang gadis. Pancaran Netra biru itu sama sekali tidak memancarkan kebohongan, Akhirnya Ian memilih untuk percaya-percaya saja. Pemuda bernetra merah itu langsung menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Apa yang kita tunggu?"


"Felix dan Raizel, Mereka sepakat akan segera kesini setelah pekerjaan mereka selesai,"


Chloe manggut-manggut mengerti, Kemudian Netra nya beralih memeriksa setiap inci ruangan, Mencari keberadaan Holy.


"Holy, Dimana kau? Apa kau mendengarku?" batin Chloe masih mencari keberadaan Holy dengan Netra birunya.


Tak lama terdengar suara Holy yang baru saja bangun dari sofa, System itu terbang mendekati Chloe dengan mata bengkak habis menangis.


"Huhuhu! Chloe, Kupikir aku tidak akan pernah bertemu kau lagi. Hiks...Darahmu sangat banyak dimana-mana saat kejadian penusukan itu. Aku sampai-sampai menanyakan pada Program jiwa mu di bawa kemana," Kata Holy agak menangis lagi, Mengusap wajahnya yang kacau.


Chloe mengangkat satu alisnya heran, Walau sebenarnya tangannya gatal ingin nyentil kening Holy karna terlalu lebay menurutnya. Tapi dia menahan diri karna ingin tahu informasi dari Holy.


"Memangnya saat aku sekarat waktu itu, Program memindahkan jiwaku kemana?"


"Selama proses pemulihan raga Chloe Amberly, Jiwa mu dikirim untuk melihat kejadian dimana sebelum Ian di dunia asli mu ikut koma sama sepertimu. Makanya yang kau pikir saat kejadian itu hanya mimpi tapi sebenarnya kejadian itu nyata. Kau tidak bisa menyentuh keluargamu karna kau memang di perintahkan Program hanya untuk melihat kejadian sebelum Ian koma,"


Sesaat Chloe agak terkejut mendengarnya, Jadi sebenarnya Ian teman masa kecilnya ikut koma sama sepertinya gara-gara kecelakaan Maut beruntun yang terjadi di lampu merah itu!? Itu artinya Mimpi tadi adalah ingatan Ian sebelum pemuda bernetra merah itu koma, Dan Chloe hanya bisa melihat kejadian itu tanpa bisa menolong teman masa kecilnya. Sunggu nasib Ian sama tragisnya dengan Chloe.


"Lalu jiwa Ian kemana kalau dia di dunia asli saat ini sedang koma?"


"Entahlah Chloe, Aku pun tak tahu jiwanya pergi kemana. Yang pastinya kata Program, Jiwa Ian sedang berada di dimensi lain sama sepertimu," Jawab Holy setelah berhenti nangis.


"Kuharap jiwa Ian berada dalam game ini juga, Dengan begitu aku bisa bertemu dengannya," Harap Chloe dalam hati.


"Oh, Itu Program yang menyembuhkan gegar otakmu dan pendarahannya. Jadi tinggal menunggu raga Chloe Amberly pulih, Dan kau bisa beraktivitas kayak biasanya deh,"


"Hoh, Syukurlah. Kekuatan Program ternyata hebat juga,"


Tanpa sadar Chloe tersenyum tipis, Memandangi Holy yang perlahan mulai ceria kembali. Perutnya masih agak sakit karna bekas tusukan itu masih membekas, Kepalanya juga agak nyut-nyutan tapi untungnya gak terlalu parah.


"Loe...,"


"Chloe...,"


"Chloe!"


"Oi!" Balas Chloe malah ikut ngegas, Dia tersentak karna tiba-tiba ada yang memegang pundaknya. Makanya Chloe agak kaget.


Netra birunya beralih memandangi tiga orang pria yang kini berada di depannya, Dan salah satu dari mereka memegangi pundaknya.


"Kenapa tuh, Senyam-Senyum sendiri. Lagi mikiran apa?" Kata Raizel dengan ekspresi datarnya. Menatap heran Chloe yang salting karena ketahuan.


"Mantan pacar, Ups!" Karna salting Chloe jadi salah ngomong, Refleks dia menutup mulutnya kaget gara-gara perkataannya sendiri.


Raizel dan Ian mengerutkan alis mereka, Merasa tak senang mendengar perkataan Chloe. Sedangkan Felix tertawa kecil, Dia menepuk pundak adik angkatnya sedikit keras. Mengkode sang adik agar tidak bicara asal-asalan karna bisa membawa malapetaka untuk keadaan adiknya sendiri.


"Maksudku aku memikirkan keluargaku, Ya aku sedang memikirkan mereka. Makanya melamun tadi," Elak Chloe cepat, Tersenyum canggung sambil mengusap tengkuknya. Bukannya suasana nya membaik usai Chloe mengatakan itu, Ini suasananya malah jadi garing plus canggung.


Felix berdehem sejenak, Menghilangkan aura kecanggungan yang ada. Dengan tenang dia duduk di samping sang adik, Di kursi yang tersedia.


Raizel dan Ian memilih menjauh dan duduk di sofa, Membiarkan Felix yang akan menjelaskan semuanya pada Chloe.


"Bagaimana keadaanmu Chloe?" Tanya Felix lembut, Memandang Netra biru milik adiknya.


"Agak membaik, Meski perutku rasanya masih sakit dan kepalaku juga masih agak pusing," Jelas Chloe sambil tersenyum balik.


__ADS_1


Sejenak Felix menatap sendu adiknya ini, Netra aqua nya sesaat meredup seakan kehilangan cahayanya.


"Maaf, Kakak tidak ada disana saat Chloe membutuhkan bantuan kakak. Kakak bukan kakak yang baik bagi Chloe. Seharusnya kakak menyewa Bodyguard saja untuk menjaga Chloe," Kata Felix sedih dengan penuh penyesalan.


Chloe mengerjapkan matanya sesaat, Tangannya terulur menyentuh pipi kiri Felix dengan tangan kanannya. Membuat Felix mendongak, Menatap Netra biru Chloe yang jernih, Gadis itu juga tersenyum.


"Jangan minta maaf, Kakak gak salah. Chloe lah yang salah karna lengah, Chloe lupa banyak yang ingin membunuh Chloe. Tapi lihatlah sekarang, Chloe masih hidupkan?" Kata Chloe dengan senyum cerianya.


Felix masih memandang, Menggenggam tangan Chloe yang berada di pipinya. Tatapannya masih menunjukkan rasa sendu.


"Tapi tetap saja karna kakak tidak ada disana, Kau jadi terluka parah begini,"


"Ini tidak sebanding dengan dibandingkan harus ditinggalkan keluarga tersayang,"


Akhirnya Felix memilih bungkam mempertimbangkan perkataan Chloe. Ah, Ternyata Chloe bisa keras kepala juga. Felix tersenyum kecil dan mengangguk mengiyakan. Hingga suara Raizel mengintrupsi pembicaraan antara Kakak adik itu.


"Cepetan kasih tahu saja apa yang terjadi saat kerusuhan itu pada Chloe, Felix! Jangan kebanyakan drama kalian! Sebelum ruangan ini semakin panas," Kata Raizel dengan alis mengerut dan nada jengkel yang terdengar dari suaranya. Bersidekap kesal.


Ian yang duduk disamping Raizel hanya melirik pemuda bernetra ungu muda itu dengan datar, Tak berniat untuk ikut campur.


"Dasar Raizel perusak suasana," Pikir Ian dingin, Memilih untuk memainkan HP nya.


Sedangkan Felix menatap Raizel dengan tatapan tajam dan senyum penuh arti terpasang di bibirnya. Kalau aja mereka sekarang tidak berada di rumah sakit, Sudah Felix sleding tuh si Raizel. Ikut campur mulu kerjaannya.


"Baiklah, Akan kakak jelaskan kenapa anggota geng motor itu membuat keributan di sekolahmu sampai merusak fasilitas sekolah," Kata Felix menetralkan suaranya, Mengubah raut wajahnya menjadi serius.


Chloe dan Holy mempertajam pendengaran mereka agar tidak melewatkan satu pun informasi dari Felix.


"Menurut informasi mata-mata yang kakak dapat, Mereka sebenarnya memang sengaja menyerang saat hari kelulusan, Agar semua Siswa-Siswi dan para guru serta kepala sekolah tidak bisa keluar dari area sekolah. Para geng motor itu adalah Siswa-Siswa suruhan dari kepala sekolah Florion high school sendiri," Jelas Felix dengan serius.


"Sejak dulu Guard high school dan Florion high school tidak pernah akur meski bertetangga sekalipun, Sekolah mereka sering berlomba-lomba menjadikan sekolah mereka dalam bidang apapun untuk menjadi sekolah favorit paling elit nomor 1 di dunia. Makanya kepala sekolah Florion High School iri dan memutuskan untuk menghancurkan Guard high school,"


"Jadi memang benar karna ambisi ingin menjadi sekolah terbaik di antara sekolah lainnya ya," Chloe manggut-manggut kecil. "Lalu kenapa mereka juga menyerang para guru dan kepala sekolah serta Siswa-Siswi disana?"


"Karna selain untuk menghancurkan sekolah, Mereka ingin Semua yang berada di area sekolah itu mati agar nanti tidak ada yang bisa menyaingi sekolah mereka lagi," Felix menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


"Lalu semua yang ada di area sekolah itu? Bagaimana keadaan mereka?"


"Mereka terluka parah, kecuali temanmu Si Evelyn dan Alice karna mereka sempat membawamu secara sembunyi-sembunyi kabur dari sana,"


"Alice dan Evelyn baik-baik saja kan?" Tanya Chloe agak cemas.


"Iya, Mereka hanya mengalami luka kecil. Jadi masih bisa sembuh," Felix mengangguk mengiyakan.


"Jangan khawatir Sweety, Semua anggota geng motor itu sudah kami urus. Mereka sudah kami laporkan ke polisi bersama kepala sekolah Florion high school. Sisanya tugas para polisi itu," Kini Raizel yang angkat bicara.


"Lega, Mendengarnya," Kata Chloe sambil menghela napas lega, Dia berharap para anggota geng motor itu dihukum seberat-beratnya bersama kepala sekolah FHS.


"Untuk sementara Florion High School akan di tutup oleh para polisi hingga waktu yang tidak di tentukan, Kakak harap sih para geng motor itu dan kepala sekolah mereka. Dihukum mati!" Kata Felix sambil tersenyum, Penuh makna di senyumannya.


Chloe hanya bisa tersenyum canggung, Agak sedikit bergidik ngeri karna ngeliat senyum penuh makna milik Felix.


Tapi akhirnya Chloe merasa lega karna para anggota geng motor bersama kepala sekolah FHS mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka.


"Btw, Kudengar dari Ian. Ada seorang wanita dermawan yang mau mendonorkan darahnya untukku, Apa itu benar Kak Felix?" Tanya Chloe sambil menatap Felix yang tampak mengingat-ingat.


"Iya, memang benar kok. Dia sangat baik sekali mau mendonorkan sedikit darahnya untukmu,"


"Siapa namanya?"


"Dia tidak menyebutkan namanya, Dia hanya menyebutkan marga nya saja. Kalau tidak salah marganya Michelle, Dia memintaku memanggilnya Nona Michelle saat itu," Jelas Felix sambil menggeleng pelan.


"Oh, Begitu. Mungkin lain kali akan kucari alamat rumahnya untuk berterima kasih," Yah, Sekaligus Chloe ingin melihat rupa wajah wanita yang menyelamatkan nyawa itu.


Tak lama, Chloe menunduk memegangi perutnya itu.


"Btw, Aku rasanya pengen makan Seafood deh," Kata Chloe sambil menepuk perutnya pelan, Merasa lapar karna sejak bangun tadi gak makan.


"GAK BOLEH!" Seru ketiga pria itu bersamaan, Membuat Chloe agak kaget.


Yah, Walaupun Chloe gak jadi mati. Tapi dia senang bisa bertemu lagi dengan Raizel, Ian, Dan Felix. Meski dia masih berada dalam game, Chloe akui dia mulai merasa betah disana.

__ADS_1


TBC


__ADS_2